Bab ini berisi uraian tentang permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan para nabi, yang merupakan bagian kedua dari dua bagian iman. Iman tersusun dari dua bagian. Pertama, iman kepada Allah Ta'ala, yakni haditsun-nafsi yang mengikuti pengenalan sifat yang wajib, yang mustahil dan yang mungkin bagi Allah Ta'ala.
Uraian tentang bagian iman yang pertama ini sudah kami jelaskan pada Bab I. Adapun bagian iman yang kedua adalah iman kepada para rasul, yakni haditsun-nafsi yang mengikuti pengenalan sifat yang wajib, yang mustahil dan yang mungkin bagi para rasul Allah. Yang dimaksud dengan haditsun-nafsi adalah penerimaan dan keyakinan hati akan apa yang diketahuinya walaupun kesombongan tidak bisa menghalangi dia untuk membenarkannya.
Ketahuilah bahwa rasul adalah manusia laki-laki yang merdeka (bukan budak) yang diutus oleh Allah Ta'ala kepada hamba-hamba-Nya, untuk menyampaikan hukum- hukum-Nya yang bersifat taklifi dan wadhi kepada mereka. Yang dimaksud dengan hukum taklifi dan wadhi ialah kewajiban syariat yang pasti, kenyataan sesuatu menjadi syarat, atau menjadi sebab, atau penghalang, atau sah, atau rusak, serta halhal lain yang menjadi ikutannya, seperti janji dan ancaman-Nya. Adapun nabi adalah manusia laki-laki merdeka yang diberi wahyu oleh Allah Ta'ala berupa syari'at yang harus diamalkannya, entah kemudian dia diperintah untuk menyampaikan syari'at yang diterimanya itu kepada yang lain maupun tidak.
Kerasulan para rasul merupakan kelembutan dan rahmat dari Allah Ta'ala yang dengannya Dia mengistimewakan hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Dan kenabian tidak bisa diupayakan, entah dengan riyadhah (latihan spiritual), dengan mujahadah (memerangi nafsu) maupun dengan upaya-upaya lainnya. Kenabian semata-mata merupakan anugerah dari Allah Ta'ala, yang mengandung hikmah dan kemaslahatan.
Adapun jalan untuk menegaskan kerasulan, dilakukan dengan mukjizat. Mukjizat ialah perkara luar biasa yang menyalahi kebiasaan, dimunculkan untuk membenarkan dan memperkuat pengakuan kenabian para nabi. Seperti peristiwa keluarnya air dari jari-
jari (Nabi Muhammad) dan peristiwa tidak terbakarnya Nabi Ibrahim saat dilempar ke dalam kobaran api. Mukjizat-mukjizat itu merupakan penegas yang amat jelas dari Allah Ta'ala akan kebenaran pengakuan kenabian para nabi.
Iman kita tidak akan sempurna sebelum kita mengenal para rasul Allah, dan iman kepada para rasul itu tidak akan didapat selain dengan mengetahui sifat-sifat yang wajib, yang mustahil dan yang jaiz bagi mereka. Karena itu di sini kami akan menguraikan sifat-sifat yang wajib, yang mustahil dan yang ja'tz adanya pada diri para rasul.
Ada empat sifat yang mesti ada dalam diri para rasul Allah, dan empat sifat pula yang mustahil adanya pada diri mereka. Pertama, ashshidgu (benar dan jujur) di dalam semua hal yang mereka sampaikan dari Allah Tabaraka wa Ta'ala. Para rasul mustahil bersifat al-kidzbu (tidak benar, bohong) di dalam semua itu. Karena al-kidzbu merupakan kebalikan dari ash-shidig.
Ash-shidg adalah kesesuaian berita yang disampaikan dengan kenyataan dan hakikat berita itu. Misalnya berita yang disampaikan mereka, “Sesungguhnya Allah Mahaesa, tidak ada Tuhan selain Dia.” Mereka telah berkata benar dan jujur, karena apa yang mereka sampaikan itu sesuai dengan kenyataan. Sedangkan al-kidzbu adalah ketidaksesuaian berita dengan kenyataan dan hakikat berita itu.
Dalil akal yang menunjukkan kemestian para rasul bersifat jujur dan mustahil bersifat bohong adalah, apabila para rasul itu berbohong di dalam berita menyampaikan kepada orang lain, berarti berita dari Allah yang berupa mukjizat itu juga bohong.
Karena, Allah menegaskan kebenaran seorang rasul dengan mukjizat yang Dia munculkan di tangannya. Penegasan kebenaran dengan pemunculan mukjizat ini menempati posisi penegasan kebenaran dengan firman yang tegas. Pemunculan mukjizat ini menempati posisi firman Allah Ta'ala, “hamba-Ku ini benar dan jujur di dalam setiap kabar yang disampaikannya dari-Ku.”
Apabila para rasul itu berbohong, berarti Allah Tabaraka wa Ta'ala juga berbohong dalam penegasan-Nya akan kebenaran diri mereka. Dan bohong, sungguh hal yang mustahil adanya pada Allah Ta'ala. Sebab, berita dari Allah itu sesuai dengan ilmu-
Nya, dan ilmu-Nya tidak mengandung sesuatu yang berlawanan dengan kenyataan, demikian pula firman-Nya. Maka nyatalah bahwa para rasul itu mustahil bersifat bohong. Karena itu mereka mesti bersifat benar dan jujur.
Selain dalil akal, ada banyak dalil naqli yang menunjukkan kemestian para rasul bersifat jujur dan mustahil bersifat bohong. Di antaranya adalah firman Allah Ta'ala,
“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” Allah Ta'ala berfirman, “Mereka berkata: Aduh celakalah kami!
Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya).”
Sifat kedua yang mesti adanya di dalam diri para rasul Allah adalah al-amanah (terpercaya), mustahil mereka bersifat al-khiyanah (khianat). Amanah ialah menjaga diri lahir batin dari hal-hal yang terlarang, yang haram maupun yang makruh, seringan apa pun larangan itu. Sedangkan khiyanah adalah kebalikannya.
Secara argumentatif akal menunjukkan kemestian para rasul bersifat amanah dan mustahil bersifat khiyanah. Kita tahu bahwa para rasul merupakan makhluk yang paling mulia dalam pandangan Allah Ta'ala, paling bertakwa kepada-Nya, paling mengenal-Nya dan paling takut kepada-Nya. Allah telah memilih dan mengistimewakan mereka lebih dari manusia lainnya. Allah menjadikan mereka sebagai duta untuk menyampaikan hukum-hukum syariat-Nya kepada umat manusia, disertai dengan penegasan kebenaran dari-Nya akan kebenaran hukum yang mereka sampaikan itu. Karena itu mereka mesti menjadi panutan bagi umat. Sungguh, Allah telah menegaskan kemestian mereka untuk diikuti tanpa komentar, dan kita diperintah untuk mengikuti semua perkataan, perbuatan dan perilaku mereka. Jika ternyata para rasul Allah itu berkhianat dengan melakukan perbuatan haram atau makruh, tentu perbuatan tersebut akan menjadi perbuatan yang diperintahkan sekaligus dilarang.
Menjadi diperintahkan karena perbuatan tersebut dilakukan rasul yang menjadi panutan dan mesti kita ikuti, sekaligus dilarang karena rasul telah menyampaikan
keterlarangannya. Dan ini sungguh batil, karena mengandung kontradiksi. Karena itu para rasul mestilah bersifat amanah, mustahil mereka bersifat khiyanah.
Dalil naqlinya adalah firman Allah Ta'ala, “Sesungguhnya aku adalah utusan (Allah) yang dipercaya kepadamu."
Allah Ta'ala berfirman, “Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.”' Sebagaimana Anda ketahui, para rasul adalah orang-orang yang dicintai Allah Ta'ala, dan tentunya mereka bukan pengkhianat.
Para ulama telah sepakat tentang keterpercayaan para nabi dan rasul Allah. Mereka juga sepakat bahwa para nabi dan rasul disucikan dari segala kekurangan dan dosa.
Karena itu kita wajib membenarkan keterpercayaan mereka.
Sifat ketiga yang wajib adanya dalam diri pada rasul adalah attabligh (menyampaikan semua yang diperintahkan Allah kepada mereka untuk mereka sampaikan kepada manusia). Mereka tidak menyembunyikan sesuatu pun dari semua yang telah Dia perintahkan kepada mereka untuk mereka sampaikan—sesuai perintah-Nya—kepada umat, entah dengan sengaja atau karena lupa, kepada sebagian umat ataupun kepada semua.
Dalil akal yang menunjukkan kemestian para rasul bersifat tabligh dan mustahil menyembunyikan sesuatu dari yang telah diperintahkan-Nya untuk mereka sampaikan, sudah sangat jelas dari argumen kemestian mereka bersifat amanah.
Sungguh, apabila mereka menyembunyikan sesuatu yang telah diperintahkan untuk disampaikan, berarti mereka telah berkhianat. Dan ini mustahil, sebab para rasul Allah sungguh terjaga dan terpelihara (ma 'shum) dari sifat khianat.
Dalil naqlinya adalah firman Allah Ta'ala, (yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-nsalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan."
Al-Quran suci telah menjelaskan kesempurnaan tabligh yang dila. kukan oleh Rasulullah saw. Allah Ta'ala berfirman, “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat- Ku, dan telah Ku-ridha: Islam itu Jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Sifat keempat yang mesti adanya dalam diri para rasul adalah alfathanah (cerdas dan tidak lupa). Mustahil para rasul bersifat ghaflah (lupa) dan baladah (idiot). Rasul diutus untuk menegakkan hujjah (argumen), untuk mengatasi musuh dan membatalkan pengakuan mereka yang batil. Seandainya para rasul tidak mempunyai sifat fathanah, tentu mereka tidak akan mampu menegakkan hujjah untuk mengatasi musuh. Dan hal ini adalah keliru.
Dalil naqli yang menunjukkan kemestian para rasul bersifat fathanah adalah firman Allah Ta'ala, “Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat.
Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.”
Allah Ta'ala juga berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” Membantah dengan cara yang terbaik hanya bisa dilakukan oleh orang yang cerdas, si tolol tentu tidak akan bisa melakukannya.
Kesimpulannya, sifat-sifat yang wajib ada dalam diri para rasul berjumlah empat sifat, yakni al-shidg, al-amanah, at-tabligh dan al-fathanah. Dan mereka mustahil tersifati dengan sifat-sifat kebalikannya, yakni alkidzbu, al-khiyanah, al-kitman dan al-baladah.
Adapun sifat yang wenang ada dalam diri para rasul adalah al-a radh al-basyariyyah, yakni sifat-sifat manusiawi yang tidak sampai menafikan keluhuran derajat mereka. Di antaranya adalah mengalami sakit, lapar, fakir, makan, minum dan tidur. Hanya saja, meski mata para rasul itu
kadang tidur, hati mereka tetap terjaga. Dalilnya sebagaimana disaksikan akal, sifat- sifat manusiawi itu nyata terjadi pada diri semua rasul Allah. Sedangkan dalil naqlinya adalah firman Allah Ta'ala, “Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.”“ Yakni,
“Engkau, wahai Muhammad, memiliki sifat manusiawi seperti mereka.”
Apa faedah kenyataan para rasul terkena sifat-sifat manusiawi layaknya manusia lain?
Faedahnya adalah untuk menambah kemuliaan mereka, menambah keluhuran derajat mereka dan menambah kebesaran pahala mereka. Hal ini didukung oleh kesaksian sabda Rasulullah saw., “Yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian para wali, kemudian mereka yang berderajat di bawahnya, lalu yang di bawahnya lagi.” Hadis ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani.
Rasulullah saw. juga bersabda, “Apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia akan menimpakan ujian berat kepadanya, untuk mendengar tadharru'-nya.” Hadis ini diriwayatkan oleh al-Baihagi di dalam Sya b aliman, dan oleh ad-Dailami di dalam Musnad al-Firdaus.
Faedah lainnya dari kenyataan para rasul terkena sifat-sifat manusiawi adalah penghiburan hati dan pelipur lara bagi kita saat kita ditimpa derita yang serupa menimpa para rasul. Selain itu juga untuk memperingatkan kita akan ke-hina-an dunia dan kerendahan nilai duniawi.
Apabila seorang berakal sehat merenungi keadaan yang dialami para rasul:
bagaimana rasa sakit yang mereka derita, bagaimana kemiskinan yang mereka alami
dan tindakan menyakitkan yang mereka terima dari para penentangnya, tentu dia akan tahu betapa semua derita itu tidak berarti di hadapan Allah Ta'ala. Lalu dia akan berpaling dengan hatinya dari dunia ini serta menggantungkan hatinya kepada Allah Ta'ala.
Kenyataan para rasul terkena sifat-sifat manusiawi juga merupakan petunjuk dari Allah Ta'ala bahwa mereka adalah hamba-hamba-Nya. Sehingga orang-orang yang lemah tidak merasa lemah hati melihat mukjizat-mukjizat agung yang muncul di tangan para rasul.
Kami mengatakan bahwa yang mungkin adanya dalam diri para rasul itu adalah sifat- sifat manusiawi yang tidak menafikan keluhuran derajat mereka, untuk mengecualikan sifat-sifat yang dapat menghilangkan keluhuran derajat mereka, seperti buta, lepra, gila dan sifat lain yang membuat orang lari dari mereka. Atau seperti makan di tengah jalan dan perbuatan-perbuatan lain yang dinilai rendah. Atau mimpi (ihtilam) yang muncul dari setan.
PARA NABI DAN RASUL ALLAH YANG WAJIB DIKETAHUI
Salah satu bagian dari kewajiban orang mukallaf adalah mengetahui para nabi yang diriwayatkan secara rinci juga berkenaan dengan para nabi yang ditutur secara rinci, mengetahui para nabi yang tidak diriwayatkan secara rinci. Secara umum kita mesti meyakini bahwa Allah Ta'ala mempunyai para rasul dan nabi. Tetapi kita tidak wajib mengetahui nama dan bilangan mereka secara keseluruhan, karena Allah Ta'ala berfirman, “Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak dapat bagi seorang rasul membawa suatu mukjizat, melainkan dengan seizin Allah, maka apabila telah datang perintah Allah, diputuskan (semua perkara) dengan adil. Dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil.” Ada hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban di dalam kitab shatah-nya, dari Abu Dzarr al-Ghifari, yang mengisahkan bahwa Abu Dzarr pernah bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, berapa banyak jumlah para nabi?” Rasulullah saw. menjawab, “Seratus dua puluh empat ribu.” Kemudian Abu
Dzarr bertanya lagi, “Berapa banyak jumlah rasul?” dan Rasulullah saw. menjawab,
“Tiga ratus tiga belas.”
Namun hadis ini tidak cukup untuk dijadikan dalil di sini. Karena kabar dari satu orang yang kesahihannya masih disangsikan dan hanya bisa sampai para derajat zhann.
Lagi pula hadis ini diungkapkan bukan dalam masalah-masalah akidah, melainkan di dalam bab amaliah. |
Para rasul yang wajib kita ketahui secara rinci ada dua puluh lima. Mereka itu adalah, Adam, Idris, Nuh, Hud, Shalih, Ibrahim, Lath, Ism'il, Ishaq, Ya'qub, Yusuf, Ayyub, Syu'aib, Musa, Harun, Dzul-Kifli, : Dawud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa', Zakariyya, Yahya, Isa dan baginda Rasulullah Muhammad saw.
Adapun para rasul yang termasuk “lul-'azmi, yakni yang memiliki tingkat kesabaran yang lebih dalam menanggung cobaan berat dari para penentangnya, ada lima.
Penyebutan mereka terangkum dalam bait syair salah seorang “arif berikut ini:
Muhammad, Ibrahim, Masa Kalimullah, "Isa dan Nuh adalah alulazmi. ketahuilah!
Tingkatan keutamaan dari kelima rasul tersebut secara gradual sesuai dengan urutan penyebutan namanya. Al-MuHaqqig al-Amir berpendapat dalam komentarnya terhadap kitab al-Jauhar, setelah merinci nama-nama nabi yang wajib diimani, “Ihwal Nabi Ilyasa', kebanyakan orang awam tidak mengetahui namanya, apalagi kerasulannya. Secara lahir, dia seperti nabi-nabi lainnya yang diriwayatkan secara mutawatir. Tidak mengetahuinya tidak dihukumi kafir. Tetapi menjadi kafir jika seseorang menentang kenyataan Ilyasa' sebagai rasul setelah dia diberitahu.” Ini adalah hasil penelitian yang berharga, camkanlah!
KERASULAN NABI MUHAMMAD SAW.
Kenyataan yang tak terbantahkan bahwa Nabi Muhammad saw. telah mengaku diutus oleh Allah Ta'ala kepada semesta alam sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan. Kebenaran pengakuannya didukung oleh banyak mukjizat agung yang nampak pada diri beliau dan tidak seorang pun mampu menolaknya. Setiap orang
yang mempunyai mukjizat demikian tentu dia adalah rasul Allah. Dan itu secara tegas membuktikan bahwa Sayyidina Muhammad saw. adalah rasul Allah.
Ada banyak sekali mukjizat Nabi Muhammad saw. Di antaranya, beliau memberitahukan hal-hal ghaib yang akan terjadi di masa depan, seperti di dalam firman Allah Ta'ala, “Telah dikalahkan bangsa Romawi di negeri yang terdekat, dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang.” Apa yang dikhabarkan itu benar-benar terjadi. Kerajaan Romawi mengalahkan kerajaan Persia setelah Romawi pernah dikalahkan oleh Persia. Atau seperti di dalam firman Allah Tal'ala, “Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Quran benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali”, yakni ke Mekkah. Dan ternyata di kemudian hari memang Allah mengembalikan Nabi Muhammad ke kota Mekkah.
Rasulullah saw. juga mengabarkan, sesuai firman Allah Ta'ala, “Katakanlah kepada orang-orang Badui yang tertinggal: “Kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar, kamu akan memerangi mereka atau mereka menyerah (masuk Islam). Maka jika kamu patuhi (ajakan itu) niscaya Allah akan memberikan kepadamu pahala yang baik dan Jika kamu berpaling sebagaimana kamu telah berpaling sebelumnya, niscaya Dia akan mengazab kamu dengan azab yang pedih.” Apa yang dikabarkannya itu benar-benar terjadi. Yang dimaksud dengan kaum yang mempunyai kekuatan besar di dalam ayat ini adalah Bani Hanifah. Abi Bakar telah mengajak kaum Muslimin untuk memerangi mereka.
Contoh lainnya adalah penyampaian kabar yang diungkapkan oleh Rasulullah saw.
tentang kekhalifahan. Rasulullah saw. bersabda, “ke. khalifahan setelah aku selama 30 tahun.” Hadis ini diriwayatkan oleh al. Imam Ahmad di dalam Musnad-nya. Di kemudian hari sepeninggal Ra. sulullah saw., kekhalifahan Khulafa' ar-Rasyidin memang berlangsung selama tiga puluh tahun.
Rasulullah saw. bersabda, “Ikutilah dua orang sesudah aku, Abu Bakr dan “Umar.” Ini adalah berita dari Rasulullah saw. bahwa Abu Bakr dan “Umar r.a. masih akan hidup setelah beliau wafat. Dan nyatanya memang Abu Bakr dan “Umar masih hidup saat Rasulullah saw. wafat. Apa yang dikabarkan oleh Rasulullah saw. nyata terjadi.
Rasulullah saw. bersabda kepada “Umar r.a., “Nanti yang akan membunuhmu adalah golongan penentang.”? Yang dimaksud sebagai golongan penentang adalah yang menyalahi kebenaran, meski mereka bukan merupakan pendosa.
Rasulullah saw. bersabda kepada al-'Abbas r.a. saat para sahabat menawan al-Abbas sebelum dia masuk Islam, “Tebuslah dirimu, engkau mempunyai harta yang banyak.”
Al-'Abbas berkata, “Aku tidak mempunyai harta.” Rasulullah saw. bersabda, “Lalu di mana hartamu yang kau titipkan pada Ummu al-Fadhl, saat tidak ada orang selain kalian berdua dan engkau berpesan kepadanya, Apabila aku mendapat musibah dalam perjalananku, maka sebagian dari harta itu untuk al-Fadhl dan sebagian lagi untuk “Abdullah.” Al-'Abbas berkata, “Demi Dia Yang telah mengutusmu dengan kebenaran, tidak ada yang mengetahui hal itu selain aku sendiri. Engkau sungguh Rasulullah.” Kemudian akhirnya al-Abbas masuk Islam.
Mukjizat Rasulullah saw. yang lainnya adalah terbelahnya bulan di Mekkah ketika kaum Ouraisy meminta beliau menunjukkan tanda kenabiannya. Bulan itu terbelah menjadi dua. Yang sebelah berada di atas gunung dan yang sebelah lagi di lereng gunung. Kejadian ini disaksikan tidak hanya oleh kaum Ouraisy, tetapi oleh semua penduduk bumi. Tentang ini Allah Ta'ala berfirman, “Telah dekat Hari Kiamat dan bulan terbelah.”
Dalam sebuah riwayat dari Anas disebutkan bahwa suatu hari, penduduk Mekkah meminta Rasulullah saw. memperlihatkan tanda kenabiannya. Kemudian Rasulullah saw. memperlihatkan keterbelahan bulan menjadi dua bagian. Hadis ini dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Kita mesti percaya dan yakin bahwa peristiwa itu benar- benar terjadi, karena kesaksian Al-Quran agung tentang kejadiannya. Kesaksian itu merupakan dalil yang paling kuat yang menegaskan terjadinya peristiwa tersebut.
Orang beriman tidak akan meragukan kemungkinan terjadinya peristiwa tersebut setelah dikabarkan oleh orang yang paling jujur dan terpercaya. Sebab, bulan adalah makhluk Allah, Dia kuasa memperlakukannya sesuka Dia, sebagaimana Dia juga kuasa untuk menghilangkannya di akhir zaman. Tidak ada yang akan mengingkari kenyataan ini selain si pelaku bid'ah yang sesat dan menyesatkan, yang menyalahi agama yang lurus. Allah membutakan hati mereka sehingga mereka mengingkari kebenaran Al-Quran agung dan hadis Nabi saw.