• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bermain Game, Baik Atau Buruk?

Dalam dokumen e-BinaAnak 2007 - MEDIA SABDA (Halaman 58-79)

e-BinaAnak 2007

58

e-BinaAnak 2007

59

Maressa Orzack, dosen fakultas psikologi di Harvard University, mengelola klinik pertama di Amerika yang melayani jasa konsultasi bagi pencandu game. Tempatnya di Rumah Sakit McLean.

Mengganggu Kesehatan!

Belakangan ini kritik bermunculan seputar pengendali (controller) yang bisa

menimbulkan rasa sakit di jari dan tangan. Pada tahun 2002, Jurnal Kesehatan Inggris memublikasikan artikel tentang seorang anak berusia lima belas tahun yang mengalami radang jari tangan setelah main Playstation selama tujuh jam non-stop. Dokter-dokter menganalisa kalau anak itu menderita "sindrom vibrasi lengan" karena terlalu lama memegang pengendali.

Menimbulkan kekerasan!

Kalau boleh dibilang, ini adalah salah satu alasan terbesar mengapa video game dianggap buruk. Kontroversi ini muncul tahun 1993 ketika senator Joseph Lieberman berkampanye menentang serial Mortal Kombat, sebuah game pertarungan yang penuh adegan kekerasan dan banjir darah. Ia juga menarik penayangan serial tv anak, Captain Kangaroo.

Menurut Lieberman, orang tua harus berjaga-jaga dengan "wabah penyakit" yang bisa menyerang anak-anak di rumah. Soalnya wabah yang satu ini dapat menimbulkan kekerasan. Sejak saat itu, para ahli bedah dan asosiasi psikologi Amerika "tergoda"

untuk menghubungkan kekerasan video game dengan kenyataan yang terjadi. Sayang, hasil penelitian itu belum juga ditemukan.

Video Game Itu Baik Membuat orang pintar!

Penelitian di Manchester University dan Central Lanchashire University membuktikan bahwa penggemar game yang bermain game 18 jam per minggu memiliki koordinasi yang baik antara tangan dan mata setara dengan kemampuan atlet. Dr. Jo Bryce, kepala penelitian menemukan bahwa hardcore gamer punya daya konsentrasitinggi yang memungkinkan mereka mampu menuntaskan beberapa tugas.

Penelitian lain di Rochester University mengungkapkan bahwa anak-anak yang memainkan game action secara teratur memiliki ketajaman mata yang lebih cepat daripada mereka yang tidak terbiasa dengan joypad.

NASA telah mengembangkan sistem biofeedback yang menggunakan game-game PS, seperti Spyro the Dragon dan Tony Hawk's Pro Skater untuk meningkatkan daya

konsentrasi pilot pesawat tempur. Lalu sebuah perusahaan bernama Attention Builders memasarkan home version-nya sistem yang dikeluarkan NASA itu untuk meningkatkan kinerja otak.

Rajin membaca!

Video game dibuat bukan untuk menggantikan buku. Jadi, keluhan soal bermain game

e-BinaAnak 2007

60

yang dapat menurunkan budaya membaca tidaklah beralasan. Justru kebalikannya.

Psikolog di Finland University menyatakan bahwa video game bisa membantu anak- anak dislexia untuk meningkatkan kemampuan baca mereka.

Begitu pula gamer yang hobi memainkan game berjenis role-playing game (RPG) di konsol modern. Dialog-dialog dalam RPG-RPG kenamaan seperti Final Fantasy dan Phantasy Star dapat memacu otak untuk mencerna cerita.

Membantu bersosialisasi!

Beberapa profesor di Loyola University, Chicago telah mengadakan penelitian dalam komunitas Counter Strike, game First Person Shooter PC yang telah dibuat versi Xbox- nya. Menurut mereka, game online dapat menumbuhkan interaksi sosial yang

menentang stereotip gamer yang terisolasi. Sama juga dengan komunitas game RPG EverQuest dan Phantasy Star Online. Game-game ini menyediakan sarana interaksi sosial di kalangan anak remaja.

Mengusir stres!

Politikus dan orang tua meributkan kekerasan akibat video game. Sebetulnya, mereka tak mau mengakui kalau game itu salah satu cara yang tidak berbahaya untuk mengusir stres. Pertempurannya virtual, senjatanya palsu, dan darahnya juga bohongan. Bahkan

"first-person shooter" yang paling keras pun serba digital. Para peneliti di Indiana

University menjelaskan bahwa bermain game dapat mengendurkan ketegangan syaraf.

Memulihkan kondisi tubuh!

Game terbukti dapat digunakan untuk pasien yang sedang mendapat terapi fisik.

"Biarkan mereka main," kata Dr. Mark Griffiths, psikolog di Nottingham Trent University.

Ia melakukan penelitian sejauh mana manfaat game dalam terapi fisik.

"Latihan fisik yang berulang-ulang dan membosankan agak sulit menyembuhkan seseorang akibat luka parah." Pengenalan video game dalam terapi fisik ternyata sangat menguntungkan. Beberapa game digunakannya untuk membentuk otot sampai melatih anak-anak yang menderita diabetes sebagai pelengkap pengobatan medis.

) Penulis, Eko Ramaditya Adikara (Rama), adalah seorang tuna-netra

yang gemar menulis menggunakan komputer. Penulis tergabung dalam Yayasan Mitra Netra (MitraNetra.or.id). Blog pribadinya dapat dibaca di alamat www.ramaditya.com.

Bahan diambil dari sumber:

Nama situs : DetikInet

Penulis : Eko Ramaditya Adikara URL artikel:

www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/07/tgl/31/time/122559/idnews /646663/idkanal/399

e-BinaAnak 2007

61

Aktivitas: Aneka Permainan Alkitab

1. Menebak tokoh Alkitab

Seorang pemain diminta ke luar ruangan, sementara anggota kelompok menetapkan dan memilih untuk membicarakan tentang seorang tokoh Alktiab. Setelah diberi cukup waktu, pemain itu dipanggil masuk. Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk

mencoba menemukan siapa tokoh itu. Orang-orang lainnya mencoba menyembunyikan jawaban sedemikian rupa tanpa berbohong. Ketika nama tokoh itu akhirnya dapat diterka dengan tepat, maka anggota kelompok yang menyebabkan terkaan berhasil harus keluar ruangan. Kini ia menjadi penebak. Permainan dilanjutkan seperti tadi dan orang tersebut dipangil masuk.

2. Sandi Alkitab

Siapkanlah lima buah pernyataan mengenai suatu kota ataupun tokoh Alkitab. Bacalah pernyataan itu satu demi satu dan minta seorang peserta menebak tempat atau tokoh tersebut. Kalau ia berhasil menebak sesudah pernyataan pertama Anda bacakan, ia mendapat angka 100. Bila ia menebaknya dengan tepat sesudah pernyataan kedua Anda bacakan, ia mendapat angka 50. yang ketiga angkanya 25, yang keempat 10, dan yang kelima 5 angka. Susunlah pernyataan tersebut sedemikian rupa sehingga

kelihatannya semakin sukar.

3. Benda-benda Alkitab

Sebutkan nama benda penting dalam sebuah cerita Alkitab dan mintalah pemain

menebak setiap cerita itu. Sering sekali ada beberapa kemungkinan yang berhubungan denga suatu benda tertentu. Misalnya, "batu" berhubungan dengan cerita Musa, Daud, Stefanus, maupun peristiwa-persitiwa lain. Anda dapat dengan mudah memperoleh nama-nama benda dalam konkordansi.

Bahan diambil dan diedit dari sumber:

Judul buku: Belajar Alkitab Melalui Permainan Penulis : Ronald F. Keeler

Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta 1997 Halaman : 71 -- 72

Warnet Pena: TELAGA: Anak dan Video Game

==>http://www.telaga.org/transkrip.php?anak_dan_video_game.htm

Ingin mengetahui pendapat seorang konselor rohani senior mengenai anak dan video game? Silakan kunjungi alamat URL di atas. Dalam halaman tersebut Anda dapat membaca transkrip perbincangan dalam siaran radio Telaga mengenai dampak video

e-BinaAnak 2007

62

game terhadap anak. Bagaimana orang tua dapat menyikapi pengaruh tersebut?

Langsung saja simak transkrip lengkapnya.

Kiriman: Ratri <ratri(at)xxxx>

Mutiara Guru

Musuh terbesar dari lapar akan Allah bukanlah racun,

tetapi makanan enak. Bukan sekumpulan dosa yang akan melemahkan hasarat kita akap perkara surgawi, tetapi tanggapan kita yang tak habis-habisnya terhadap

hal-hal yang dunia tawarkan.

—John Piper

e-BinaAnak 2007

63

e-BinaAnak 316/Februari/2007: Pelayanan Anak dalam Keluarga

Salam dari Redaksi

Pelayanan Anak dalam Keluarga Salam kasih,

Benarkah pendidikan rohani untuk anak harus lebih intensif diberikan lewat gereja? Jika jawabannya ya, dapat kita bayangkan betapa lambatnya pertumbuhan rohani mereka mengingat waktu yang mereka habiskan justru lebih banyak di luar lingkungan gereja.

Patut disadari, pelayanan anak bukan hanya tugas dan tanggung jawab gereja, dalam hal ini sekolah minggu. Pelayanan ini menjadi tugas semua orang yang menjadi bagian hidup dari anak tersebut.

Bulan ini e-BinaAnak akan menyajikan bagaimana pelayanan anak di luar gereja dapat dilakukan. Berikut topik-topik yang akan diulas sepanjang bulan ini.

1. Pelayanan Anak dalam Keluarga 2. Pelayanan Anak di Sekolah Kristen 3. Pelayanan Anak di Rumah Sakit 4. Pelayanan Anak Jalanan.

Keluarga merupakan tempat di mana anak menghabiskan waktu terbanyak. Oleh karena itu, dalam keluargalah pendidikan rohani terbesar yang seharusnya didapatkan anak. Bagaimana kita dapat menjadi pelayan anak dalam keluarga kita? Silakan simak artikel dan juga tips yang disajikan minggu ini.

Selamat melayani!

Redaksi e-BinaAnak Davida Welni Dana

Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah

di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat

Tuhan.

— (Efesus 6:4)

< http://sabdaweb.sabda.org/?p=Efesus+6:4 >

e-BinaAnak 2007

64

Artikel: Pelayanan Anak Dalam Keluarga

Berbagai Peran Orangtua

Untuk menjalankan pelayanan anak dalam keluarga, orang tua tentu saja harus berperan penuh untuk memberikan pengaruh yang baik bagi anak-anaknya. Ketika Anda memikirkan peran-peran berikut, coba pertimbangkan peran apa yang paling menolong ketika dulu Anda sendiri bertumbuh.

1. Pengajar/Pembimbing

Menjadi pengajar/pembimbing bagi anak berarti membantu anak-anak

mengembangkan keahlian baru sambil meningkatkan kemampuan yang telah ia miliki. Orang tua diminta untuk banyak memberi bantuan saat dibutuhkan dan memberi kesempatan pada anak untuk belajar melakukannya sendiri. Tidak perlu menjadi seperti pelatih olahraga yang berteriak dengan keras. Seperti sedang membantu orang melahirkan, Anda sedang membantu proses berlangsungnya sesuatu yang hanya terjadi secara alami. Temukanlah hal-hal yang ingin dipelajari anak. Ketika Anda berhubungan dengan mereka, perhatikan hal-hal yang telah ia ketahui dan yang ingin ia ketahui. Mintalah anak memperlihatkan hal yang telah ia ketahui, tanyakan apa yang ingin atau perlu mereka ketahui, tunjukkanlah pada mereka, beri mereka kesempatan untuk belajar melalui

kesalahan, dan sambutlah pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan anak Anda.

2. Pemimpin/Penuntun

Di sini Anda diminta membantu anak-anak melakukan sesuatu yang tidak dapat mereka lakukan sendiri. Dengan dukungan Anda ia akan dapat menyelesaikan tugas ini. Dalam memimpin mereka, jangan lalai memberi pujian dan sanjungan positif di saat anak Anda mengalami kemajuan. Tanyakan apa saja yang ia pelajari dan arti hal-hal tersebut bagi dirinya.

3. Penasihat

Orang tua bertindak sebagai penasihat ketika mencoba mencari jalan untuk membantu anak Anda memahami apa yang sebetulnya ia alami. Kebanyakan orang tua ingin segera menolong anak-anak ketika mereka sedang berjuang atau seolah-olah tidak dapat melalui suatu masalah. Kadang-kadang kita justru

mengungkapkan perasaan frustrasi dan kejengkelan kita. Jika ini terjadi, anak Anda malah menjadi malas untuk belajar dari pengalamannya. Aturan yang berlaku di sini ialah kendalikan diri! Biarkan anak Anda belajar menjadi cakap.

Anda mungkin berkeinginan untuk segera membetulkannya dan memaksa mereka memercayai apa yang menurut Anda lebih baik. Namun, jangan lakukan itu! Cara ini tidak akan berhasil. Peran Anda adalah membantu anak Anda mencari tahu sesuatu dengan bertanya. Bantulah ia menemukan kebenaran.

4. Teman/Pendamping

Teman/pendamping adalah peran yang akan berkembang secara perlahan seiring tumbuhnya kedewasaan anak Anda. Dengan peran ini, Anda dapat menikmati hal-hal yang Anda lakukan bersama-sama. Sebenarnya, sejak masa kanak-kanak pun aktivitas bersama ini dapat mulai dikembangkan. Kita perlu menikmati tiap kesempatan yang ada bersama anak-anak. Dalam hal ini, Anda

e-BinaAnak 2007

65

dapat memunculkan kembali sisi kanak-kanak Anda. Anak Anda mungkin ingin Anda memainkan peran ini lebih lama dari yang Anda inginkan atau pikirkan. Ya, Anda perlu menjalankan peran ini.

5. Konselor/Sahabat Karib

Terkadang Anda perlu memainkan peran yang sangat berpengaruh. Orang tua dipercaya karena setia mendengar dan juga memegang rahasia. di sini Anda tak perlu memberi nasihat. Namun, Anda dapat mengulang pernyataan anak Anda sesuai dengan cara Anda mendengar atau menerimanya. Anda tak perlu selalu memberikan tanggapan ketika ia menceritakan kesedihannya. Biarkan anak mengungkapkan kesedihannya saat ia memerlukannya.

6. Pelindung/Pembela

Orang tua adalah pelindung anaknya, terutama di masa sukar. Menjadi pembela berarti Anda percaya pada anak dan hal-hal yang akan dilakukannya. Anda dapat menunjukkan bahwa keraguan juga sekali waktu diperlukan dengan membiarkannya mengalami akibat dari tindakannya. Jangan lindungi mereka ketika berbuat salah atau salah menilai. Sebaliknya, bantulah mereka untuk belajar dari kesalahan tersebut dan percayalah bahwa mereka tidak akan

melakukannya lagi. Anda harus melindungi mereka dari rasa bersalah yang terus menghantui mereka dan dari orang-orang yang tidak mau memberi kesempatan pada mereka.

7. Pemberi Nafkah/Pendukung

Orang tua merupakan pemberi nafkah utama yang harus memenuhi semua kebutuhan dasar anak, seperti makanan, pakaian, rumah, dan perawatan kesehatan. Dalam beberapa hal, orang tua memang selalu menjadi pemberi nafkah. Namun sebagai pendukung, Anda harus mempersiapkan anak untuk tidak selalu bergantung pada Anda. Anda harus melakukannya saat anak Anda berusaha menumbuhkan kepercayaan diri. Percayalah pada kemampuannya sehingga ketika ia memasuki masa muda, Anda telah membantunya untuk siap memasuki masa dewasa.

Menjadi Teladan Bagi Anak

Pelayanan anak dalam keluarga tidak dapat berhasil jika orang tua tidak dapat menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya. Bagaimana kita dapat menjadi teladan bagi mereka?

1. Ada Saat Dibutuhkan

Untuk mengasuh anak secara sehat, kita perlu selalu ada saat mereka

membutuhkan. Bila anak pulang dan mendapati rumah dalam keadaan kosong, ia akan mengalami sesuatu yang sangat buruk, merasa diabaikan atau

mengalami kesulitan besar karena kurangnya pengarahan. Bahkan di tengah kesibukan kerja, orang tua harus meluangkan waktu yang cukup untuk anak- anaknya.

2. Melindungi

Orang tua perlu melindungi anak-anak dari bahaya yang biasa terjadi, juga

e-BinaAnak 2007

66

terhadap informasi serta pengalaman yang belum dapat dipahami anak.

Kebebasan media perlu dicermati, dibatasi, dan diawasi.

3. Pertimbangkan Keunikan Anak

Orang tua yang bijak dapat menentukan tingkat perkembangan anak sehingga anak tidak dituntut terlalu banyak atau terlalu sedikit. Mereka dapat memahami dan menerima perilaku yang sesuai dengan usia anak dan mampu mengenali serta mengoreksi hal-hal yang tidak pantas. Pemberian hak atau tanggung jawab dalam proses pendidikan anak harus dilakukan dengan mempertimbangkan tingkat usia dan perkembangannya. Amsal 22:6 mendesak agar orang tua

"mendidik orang muda menurut jalan yang patut baginya [sesuai karunia atau bakat pribadinya], maka pada masa tuanya pun ia tidak akan meyimpang daripada jalan itu". Kitab Suci tidak menyarankan tindakan pilih kasih.

4. Perlihatkan Kasih Sayang

Kasih sayang yang diperlihatkan, baik secara fisik maupun dengan kata-kata, merupakan ungkapan rasa cinta dan penerimaan. Apa pun latar belakang dan pengalaman mereka, orang tua yang baik akan berusaha memberi teladan melalui hubungan pernikahan yang sehat dan mengasihi anak-anaknya tanpa pamrih. Anak-anak sangat senang jika melihat orang tuanya saling

mengungkapkan kasih melalui tindakan, seperti ciuman ataupun pelukan yang hangat. Juga bila anak-anak melihat orang tuanya saling berbaikan kembali setelah terjadi silang pendapat yang tak terhindarkan. Melalui hal-hal itu mereka akan mendapat pelajaran yang sangat berharga mengenai hidup.

5. Tetapkan Panduan

Orang tua yang baik akan menetapkan aturan dan panduan bagi anak-anak mereka, sekaligus mengajar mereka bagaimana menerapkannya ketika orang tua tidak ada. Untuk menjalankan aturan-aturan ini, kemampuan dan kepribadian setiap anak perlu dipertimbangkan.

6. Pupuk Kemandirian

Dalam keluarga yang sehat, yang dikembangkan ialah kemandirian, bukan ketergantungan. Secara bertahap orang tua harus melepas kekuasaan dan perannya sebagai pengambil keputusan. Dengan begitu, anak akan mengubah sikap ketergantungan menjadi sikap kemandirian. Artinya, kita harus menerima kenyataan bahwa anak kita akan bertumbuh dan berubah. Demi terwujudnya tujuan tersebut, anak menuntut kita untuk menjadi teladan.

Berubah dan Bertumbuh

1. Bangunlah Tanggung Jawab Dua Arah

Dunia menjalin hubungan dengan membentuk serangkaian sistem tanggung jawab satu arah yang berisi satu garis komando. di bagian bawah ada orang yang bertanggung jawab terhadap atasannya. Atasan ini selanjutnya akan bertanggung jawab kepada atasannya lagi, demikian seterusnya. Rangkaian ini membentuk tangga hingga ke tingkat paling atas. Kebanyakan keluarga juga menggunakan sistem tanggung jawab satu arah. Anak-anak mutlak bertanggung jawab kepada orang yang lebih dewasa, terutama orang tua, tetapi tidak

sebaliknya.

e-BinaAnak 2007

67

Dalam tanggung jawab dua arah, seorang ayah akan berkata kepada anaknya,

"Nak, Ayah sedang berusaha untuk tidak khawatir dan memercayakan segala sesuatu kepada Allah dalam doa. Ayah ingin memberitahumu setiap sore kemajuan yang Ayah capai. Ayah ingin kamu sesekali menanyakan

perkembangannya. Ayah juga ingin kamu memberi saran agar Ayah dapat belajar lebih cepat. Setiap kali kamu mulai mengkhawatirkan sesuatu, tolong ingatkan Ayah untuk memercayakannya kepada Tuhan saat itu juga. Setuju?"

Ketika orang tua mulai menjalankan tanggung jawab dua arah ini, mereka mempersiapkan beberapa tahapan untuk terjadinya beberapa peristiwa:

a. anak akan mendapat teladan tentang perubahan sehingga perubahan dan pertumbuhan lebih mudah dilalui;

b. anak akan mendapat teladan tentang bertanggung jawab secara sukarela dan dapat meningkatkan disiplin diri anak;

c. komunikasi antara orang tua dan anak lebih mendekati komunikasi

antarorang dewasa daripada komunikasi antara orang dewasa dan anak.

2. Berikan Pertumbuhan Rohani

Dimensi rohani dari kehidupan dapat diwujudkan dalam perkataan dan perbuatan. Orang tua yang bijak senantiasa memberi petunjuk agar setiap anaknya bertumbuh secara rohani. Tuntunan rohani ini harus nyata dalam kehidupan, tujuh hari seminggu, bukan pada hari Minggu saja. Anak-anak akan lebih mudah belajar atau "mencerna" praktik kehidupan rohani melalui

pengamatan terhadap apa yang terjadi dalam keseharian orang tua mereka. dan orang tua yang paling bijaksana akan menuntun anaknya untuk menerima

keselamatan dari Yesus Kristus.

3. Bekerjalah Sebagai Satu Tim

Untuk mengasuh anak secara sehat dibutuhkan kerja sama seperti layaknya sebuah tim. Orang tua harus saling mendukung dan mengatasi perbedaan mereka tidak di hadapan anak-anak. Orang tua sebaiknya tidak membangun kubu dengan anak-anak.

John White meringkasnya dengan mengatakan bahwa anak-anak butuh penerimaan.

Mereka butuh pujian dan penghargaan. Mereka perlu belajar percaya bahwa orang tua mereka tidak akan berbohong atau melanggar janji. Mereka butuh sikap yang konsisten dan jujur. Mereka perlu diyakinkan bahwa setiap ketakutan, keinginan, perasaan,

dorongan yang tak dapat dijelaskan, frustrasi, dan ketidakmampuan mereka dipahami oleh orang tua mereka. Mereka perlu mengetahui secara pasti batas-batas yang dilarang dan yang diperbolehkan. Mereka perlu mengetahui bahwa rumah adalah tempat yang aman yang menjadi perlindungan mereka. Mereka butuh diakui setelah melakukan suatu yang baik dan koreksi yang tegas saat berbuat salah. Mereka perlu belajar tentang keseimbangan. Mereka perlu mengetahui bahwa orang tua lebih kuat dari mereka sehingga mereka dapat mengatasi badai dan bahaya dalam dunia ini, juga dapat tetap berdiri tegak ketika menghadapi kemarahan atau keinginan yang tak masuk akal dari anak-anak mereka. Mereka perlu yakin bahwa orang tua menyukai mereka dan mau meluangkan waktu untuk mendengarkan mereka. Mereka butuh tanggapan yang tepat akan semakin meningkatnya kebutuhan mereka akan kemandirian. </cl>

Bagaimana pengalaman Anda dalam melakukan pelayanan anak dalam keluarga Anda? Apakah anak Anda bertumbuh dalam keluarga yang mencerminkan paparan di

e-BinaAnak 2007

68

atas? Dapatkah Anda melakukan suatu perubahan agar unsur-unsur pengasuhan dan pelayanan anak yang sehat ini dapat menjadi lebih nyata dalam keluarga Anda?

Bagaimana hal-hal ini dapat membantu anak Anda untuk semakin serupa dengan Yesus?

Bahan diringkas oleh Evie dari sumber:

Judul buku: Raising Kids to Love Jesus 2: Mengoptimalkan Pertumbuhan Karakter Anak Sesuai dengan Keunikan Pribadinya.

Penulis : H. Norman Wright dan Gary J. Oliver Penerbit : Gloria Graffa, Yogyakarta 2003 Halaman : 72 -- 82

e-BinaAnak 2007

69

Tips: Pelayanan Anak Melalui Ibadah Keluarga

Kita mungkin sering berpikir bahwa ibadah keluarga itu berarti setiap orang harus duduk bersama, membaca Alkitab dan berdoa. Tetapi bagi anak-anak yang masih kecil,

ibadah keluarga tidaklah harus dalam bentuk yang selalu formal. Kita bisa mengajarkan kepada mereka bahwa setiap saat adalah waktu yang indah untuk belajar tentang Tuhan tanpa membuat mereka menjadi jenuh. di bawah ini ada beberapa tips atau ide praktis yang bisa kita gunakan atau kembangkan sesuai dengan kebutuhan iman anak kita masing-masing.

1. Tema : Pengenalan Diri

Tujuan : Agar lebih saling mengenal antara anak dan orang tua.

Aplikasi:

Ceritakan kepada anak seperti apa Anda saat seusia mereka. Kita juga bisa gunakan kesempatan ini untuk lebih mengenal anak kita, misalnya dengan mengatakan, "Dulu, lagu favorit Papa adalah ..., kalau kamu apa?"; "Waktu kecil papa bercita-cita menjadi seorang ..., kalau cita-citamu apa?"

Jadikan waktu ini sebagai kesempatan untuk saling bertanya dan untuk lebih saling mengenal.

2. Tema : Hadiah dari Tuhan

Tujuan : Agar anak mengerti bahwa talenta yang mereka miliki adalah hadiah dari TUHAN.

Aplikasi:

Berikanlah sebuah hadiah kecil untuk anak Anda seperti stiker atau buku.

Tanyakan, "Apakah kamu suka mendapat hadiah?" Kemudian jelaskan bahwa Tuhan juga memberikan kita hadiah yang dinamakan talenta. Buatlah daftar talenta apa saja yang dimiliki anak termasuk juga karakter baik seperti

kemurahan hati, kesabaran, kebaikan. Doronglah anak untuk mengembangkan talentanya dan memakainya untuk memuliakan Tuhan.

3. Tema : Makanan

Tujuan : Anak mengerti bahwa firman Tuhan adalah makanan bagi hati kita.

Aplikasi:

Sediakan sereal, lalu ajak anak untuk membuat kata-kata pendek menggunakan sereal tersebut dari firman Tuhan seperti "IMAN" atau "TUHAN" di piring mereka sebelum mereka memakannya. Buatlah beberapa pertanyaan yang merangsang anak berpikir bagaimana caranya agar kita bisa merasakan kelezatan makanan ini. Misalnya, "Mengapa sekali pun kamu sudah menggigit makanan, tapi belum terasa enak sampai kamu mengunyahnya?" Lalu kaitkan hal itu dengan firman Tuhan.

4. Tema : Bersyukur dan Merasa Cukup

Tujuan : Anak belajar bahwa jika ia hanya memikirkan hal-hal yang tidak dimilikinya, dia akan merasa tidak bahagia.

Aplikasi:

Ambil sebuah kertas, mintalah anak untuk menggambarkan sebuah gelas yang

Dalam dokumen e-BinaAnak 2007 - MEDIA SABDA (Halaman 58-79)