• Tidak ada hasil yang ditemukan

Membangun Kecerdasan Lewat Musik

Dalam dokumen e-BinaAnak 2007 - MEDIA SABDA (Halaman 49-58)

e-BinaAnak 2007

49

e-BinaAnak 2007

50

Contohnya, musik dapat meningkatkan perkembangan motoriknya, meningkatkan kemampuan berbahasa, matematika, sekaligus kemampuan sosialnya, dan membangun rasa percaya diri.

Mengingat manfaat musik yang sungguh luas, kini juga mulai dikembangkan

penggunaan musik untuk terapi. Dalam berbagai penelitian, diperlihatkan bukti-bukti pemanfaatan musik untuk menangani berbagai masalah; dari kecemasan hingga kanker, tekanan darah tinggi, nyeri kronis, disleksia, bahkan penyakit mental.

Menjadi Mandiri

Terapi musik juga dapat digunakan untuk mengoptimalkan kemampuan dan potensi para tuna grahita, yaitu mereka yang mengalami keterbelakangan mental/"down

syndrome" (kategori "feeble minded"/ringan dengan IQ 50-77), gangguan emosi ringan, keterlambatan bicara, autisme, kekakuan otot ringan (cerebral palsy), "hydrocephaly", dan "asperger".

Beberapa sekolah musik, salah satunya Kawai Music School di Jakarta, telah

menyelenggarakan kursus musik untuk anak-anak yang kurang beruntung ini. Melalui program intervensi khusus yang didukung oleh pakar terapi musik, guru musik, musisi, neurolog, psikolog, serta dokter ahli gizi medik, anak-anak dengan kondisi

"handicapped" ini mampu berkembang menjadi pribadi mandiri. Bahkan mampu berkarya melalui keterampilan khusus di bidang musik.

Memilih Jenis Musik

Para ibu tidak harus selalu memperdengarkan musik klasik kepada bayi atau anak- anaknya. Musik klasik umumnya digunakan mengingat dasar-dasarnya sendiri

menyerupai ritme denyut nadi manusia. Jenis ini lebih dimungkinkan untuk bisa masuk dalam perkembangan otak, pembentukan jiwa, karakter, bahkan raga manusia. Menurut penelitian, musik klasik yang mengandung komposisi nada berfluktuasi antara nada tinggi dan nada rendah akan merangsang kuadran C pada otak. Sampai usia empat tahun, kuadran B dan C pada otak anak-anak akan berkembang hingga 80% dengan musik. Jika kurang menyukai musik klasik, musik yang berirama tenang dan mengalun lembut bisa diperdengarkan pada janin, bayi, dan anak-anak. Musik ini pasti tetap memberi pengaruh yang baik.

Bahan diringkas oleh Evie dari sumber:

Judul majalah : INTISARI: Kumpulan Artikel Psikologi Anak 3 Penulis : tidak dicantumkan

Dipublikasikan di: Info Orang Tua

==>http://www.bobby-bola.com/info%20ortu.htm

Karya Anda: Pendidikan Musik Pada ASM

Dear rekanrekan,

e-BinaAnak 2007

51

Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti seminar dan pelatihan di STT Jakarta (sekitar pertengahan September.) Mungkin ada di antara rekan-rekan yang mengikutinya. Ada beberapa hal yang menjadi catatan saya dan mungkin menarik buat dibagikan.

Temanya adalah "Pendidikan Musik Pada ASM".

Kadangkala, sebagai GSM kita tidak mau tahu sifat anak, dan sering kali kita mengajar mereka menyanyi sesuai keinginan kita saja. Itulah yang menyebabkan kita gagal mengajar mereka, terutama dalam bernyanyi. Anak itu sifatnya aktif, pintar, senang bergerak. Dengan demikian, kita juga harus kreatif dalam mengajar.

Bagaimana agar kita dapat kreatif?

1. Carilah lagu yang:

a. sederhana (baik dalam bahasa, ritmik, melodi, maupun artinya);

b. singkat, jelas, dan dapat dimengerti oleh mereka (jangan memberikan lagu yang kita sendiri sulit mengartikannya);

c. menarik iramanya, tetapi tidak sulit dalam ritmiknya.

2. Gunakan metode yang baik.

a. Untuk anak umur tertentu (balita ke bawah), menyanyi tidaklah harus selesai. Kita boleh memenggal nyanyian tersebut sesuai batas umur.

Namun, dengan diulangnya lagu tsb., otomatis mereka akan mengingatnya.

b. Untuk lagu baru, jangan paksa mereka untuk mengikutinya. Biarlah GSM dulu yang menyanyi dan biarkan mereka mengikutinya dengan senandung mereka sendiri.

c. Menyanyi tidak boleh dengan suara yang berteriak dan keras-keras karena akan merusak pita suara dan suara tidak akan terlatih dengan baik. (Ini juga berlaku pada orang dewasa.)

d. Untuk nada-nada tinggi, sebaiknya GSM menyanyi dengan diafragma (dengan perut dikecilkan.)

3. Irama suara kita juga perlu dimainkan (misalnya, untuk lagu yang berirama ceria, gunakan suara yang empuk dan ringan.)

4. Demikian juga dengan alat musik. Mereka akan lebih senang bila diiringi oleh bunyi-bunyian tertentu. Masalahnya, tidak semua kelas punya gitar/kibor.

Namun, kita dapat menggunakan gendang, perkusi, rebana, dan alat-alat lainnya. Itu tentu menarik buat mereka. Selain mereka belum pernah melihat sebelumnya, mereka dapat ikut memainkannya.

5. Guru yang bergerak aktif. Jangan malu dan malas untuk bergerak. Anak akan tertarik dan melihat gurunya. Dengan demikian, mereka akan senang menyanyi karena ada yang ditiru. Demikian juga dengan ekspresi wajah kita. Memang sebagai GSM kita harus ceria dan tersenyum, tapi tidak semua lagu diyanyikan dengan tersenyum.

6. Gunakan alat peraga untuk mendukung lagu. Akan lebih baik lagi jika kita

menggunakan tubuh kita sebagai peraga karena mereka akan melihat langsung.

Misalnya, lagu "Satu Orang Buta". GSM boleh duduk di lantai sebagai orang buta dengan wajah sedih dan tangan meminta-minta (sambil menyanyi tentunya.)

e-BinaAnak 2007

52

Atau lagu "Hosana Bagi Raja Daud". Bawalah palem dan ekspresikan wajah kita, seakan menyambut tamu terhormat, sambil menari kegirangan.

Dengan kreasi-kreasi di atas, diharapkan anak-anak tidak menganggap bahwa ke sekolah minggu hanyalah satu rutinitas saja. Biarkanlah mereka tertarik pada isi acara kebaktiannya. Jangan biarkan kondisi dan situasi sekolah minggu yang sekarang ini sama dengan pada waktu kita kecil dulu. Sifat anak adalah ingin tahu sesuatu yang baru dari lingkungan sekitar mereka .

Ada yang mau mencoba mempraktikkannya?

Sekian dulu topik kali ini, lain kali kita nyambung lagi ya. Tolong bagikan juga ke rekan yang lain, supaya dapat berguna buat yang lain juga, terutama para guru sekolah minggu. Salam dalam kasih Kristus,

Bahan diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama milis : Milis Diskusi GSM-GKI Pengirim : Monica

Tanggal kirim: 23 Oktober 2002

Warnet Pena: Dovecot Sunday School: The Music Room

==>http://myweb.tiscali.co.uk/dovecot/Framesets/MusicRoom.html

Situs yang satu ini baik sekali untuk dijadikan referensi dalam mengajarkan lagu-lagu rohani baru dalam bahasa Inggris kepada anak-anak sekolah minggu. Selain

menyediakan teks lagunya, ada pula audio yang bisa langsung dimainkan di setiap judul lagu. Jadi, sembari mendengarkan lagunya, kita juga dapat ikut bernyanyi bersama. Lagu-lagunya telah dibagi ke dalam berbagai kategori seperti, "Songs for Christmas Pageants and Nativity Plays", "Songs about the Angel's Message to Mary",

"Songs About Mary and Joseph in Bethlehem", "Songs about the Shepherds", "Songs about the Wise Men", dan "Songs Based on Various Bible Stories". Lebih dari empat puluh judul lagu dapat dipelajari dari situs ini. Tidak ada salahnya jika saat ini Anda lansung klik alamat di atas.

Oleh: Redaksi

Mutiara Guru

Musik dapat berfungsi sebagai corong

yang mengalirkan firman Tuhan ke dalam hati manusia.

e-BinaAnak 2007

53

e-BinaAnak 315/Januari/2007: Video Game

Salam dari Redaksi

Video Games Salam kasih,

Mainan elektronik saat ini bertebaran bak jamur di musim hujan. Mungkin anak-anak akan sangat menyenangi kecanggihan permainan- permainan itu. Tetapi kesenangan anak tidak jarang membawa kekhawatiran tersendiri bagi para pendidik dan orang tua.

Betapa tidak? Apa pun bentuknya, mainan elektronik membawa dampak bagi

kehidupan anak. Dampak itu bisa baik, tapi bisa juga buruk. Namun, mainan elektronik anak sekarang ini, banyak dinilai para pendidik sebagai alat yang justru membawa dampak negatif pada anak. Lalu, apa yang harus pendidik dan orang tua lakukan untuk menyikapinya?

Silakan simak kupasan mengenai video game dalam edisi kali ini. Dua artikel yang disajikan akan membawa Anda melihat bahwa selain dampak negatif ada pula hal-hal positif yang ditimbulkan. Tetapi untuk mendapatkan manfaat positif tersebut tentu saja diperlukan keterlibatan para pendidik dan orang tua.

Selamat membaca!

Redaksi e-BinaAnak Davida Welni Dana

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini,

tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang

sempurna.

—(Roma 12:2)

< http://sabdaweb.sabda.org/?p=Roma+12:2 >

e-BinaAnak 2007

54

Artikel: Jika Anak Telah Kecanduan Video Game

Oleh : Kristina Dwi Lestari

Panas terik tidak dirasakan oleh Wahid dan Budi. Tanpa pulang terlebih dulu, langkah mereka segera bergegas menuju tempat penyewaan play station 2 (PS 2) dan video game. Lapar sepertinya tidak menjadi alasan mereka untuk menyelesaikan game konsol (video game console) terbaru, yang keluaran terbarunya selalu diburu oleh para pencandu video game. Jari mereka memencet-mencet tombol konsol yang ada di tangannya. Sementara matanya tak lepas dari layar monitor yang tengah menayangkan gerak akrobatis tokoh yang dikendalikannya. Mengatasi rintangan sambil menghadapi musuh-musuhnya. Begitu tokohnya mati dan permainan berakhir, dia segera

mengulang dari awal dengan rasa penasaran. Tidak cukup satu atau dua jam, Wahid dan Budi bisa sampai berjam-jam sebelum dia benar-benar bisa memecahkan rasa penasaran akan permainan itu.

Ilustrasi di atas adalah kejadian nyata yang mungkin juga pernah Anda temui pada saudara, teman, atau bahkan anak didik Anda di sekolah minggu. Disadari atau tidak, dewasa ini video game bak candu bagi anak-anak kita. Masalah ini bisa menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan jika tidak ada kontrol atau perhatian yang serius dari orang tua, sekolah, atau pihak lain seperti sekolah minggu.

Kata candu diasumsikan sebagai sesuatu yang menjadi kegemaran (KBBI 2001: 191).

Candu video game ibarat sesuatu kegiatan yang amat disukai oleh seseorang dan menyebabkan seseorang menjadi ketagihan sehingga melakukannya secara terus- menerus. Kecanggihan game di abad 21 ini dirasa berkembang pesat dan semakin banyak dibuat. Anda bisa membuktikannya manakala Anda sedang berkunjung di

sebuah pusat perbelanjaan dan melewati sebuah toko yang menyediakan peranti-piranti video game dan play station. Para konsumen berjubel mulai dari orang dewasa sampai anak-anak mengantri hanya untuk membeli game-game terbaru.

Mark Griffiths, seorang pakar video game, mengungkapkan bahwa game bisa membuat orang lebih bermotivasi. "Video game abad ke-21 dalam beberapa segi lebih memberi kepuasan psikologis daripada game tahun 1980-an." Untuk memainkannya perlu ketrampilan lebih kompleks, kecekatan lebih tinggi, serta menampilkan masalah yang lebih relevan secara sosial dan gambar yang lebih realistis. Kata kunci dari pernyataan tersebut adalah "kepuasan psikologis", di mana anak terdorong untuk menuntaskan dan memenangkan permainan yang berada di video game tersebut.

Mari bersama-sama melihat sejauh mana dampak negatif video game yang bisa sampai menjadi candu bagi anak-anak kita. Dampak di sini tidak bersifat sementara, namun dapat bersifat jangka panjang. Dalam jangka panjang, salah satu dampaknya adalah banyaknya waktu yang sedikit banyak berpengaruh pada perkembangan aspek pendidikan, kesehatan, keadaan psikis anak, dan kehidupan sosial anak.

e-BinaAnak 2007

55 1. Aspek Pendidikan

Mohammad Fauzil Adhim, dalam artikelnya, berpendapat bahwa anak yang gemar bermain video game adalah anak yang sangat menyukai tantangan. Anak- anak ini cenderung tidak menyukai rangsangan yang daya tariknya lemah,

monoton, tidak menantang, dan lamban. Hal ini setidaknya berakibat pada proses belajar akademis. Suasana kelas seolah-olah merupakan penjara bagi jiwanya. Tubuhnya ada di kelas tetapi pikiran, rasa penasaran, dan keinginannya ada di video game. Sepertinya sedang belajar, tetapi pikirannya sibuk mengolah bayang-bayang game yang mendebarkan. Kadangkala anak juga jadi malas belajar atau sering membolos sekolah hanya untuk bermain game.

Uniknya, beberapa penelitian mengatakan bahwa anak yang fanatik bermain game biasanya merupakan individu yang berintelijensi tinggi, bermotivasi, dan berorientasi pada prestasi. Namun, kecanggihan game yang terus berkembang dan makin bertambah banyak pada abad 21 ini, masih menimbulkan tanda tanya apakah game berpengaruh pada orientasi prestasi seseorang.

2. Aspek Kesehatan

Dari sisi kesehatan, pengaruh kecanduan video game bagi anak jelas banyak sekali dampaknya. Untuk menghabiskan waktu bermain game, anak yang telah kecanduan ini tidak hanya membutuhkan waktu yang sedikit. Penelitian Griffiths pada anak usia awal belasan tahun menunjukkan bahwa hampir sepertiga waktu digunakan anak untuk bermain video game setiap hari. "Yang lebih

mengkhawatirkan, sekitar 7%-nya bermain paling sedikit selama 30 jam per minggu." Selama itu anak kita hanya duduk sehingga memberi dampak pada sendi-sendi tulangnya. Seperti dikemukakan Rab A.B., di London terdapat fenomena "Repetitive Strain Injury" (RSI) yang melanda anak berusia tujuh tahun. Penyakit ini semacam nyeri sendi yang menyerang anak-anak pecandu video game. Jika tidak ditangani secara serius dampak yang terparah adalah menyebabkan kecacatan pada anak. Hal semacam inilah yang seharusnya patut kita perhatikan.

3. Aspek Psikologis

Berjam-jam duduk untuk bermain video game berdampak juga pada keadaan psikis anak. Anak dapat berperilaku pasif atau sebaliknya anak akan bertindak sangat aktif atau agresif. Perilaku pasif yang biasa muncul adalah anak jadi apatis dengan lingkungan sekitar, kehidupan sosialisasi anak agak sedikit terganggu karena anak jauh lebih senang bermain dengan game-gamenya daripada bergaul dengan teman-temannya. Video game dapat juga

menyebabkan anak dapat berperilaku aktif bahkan bisa agresif. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh game-game yang dewasa ini banyak menghadirkan adegan kekerasan. Dalam waktu selama itu anak hanya berinteraksi dengan kekerasan, gambar yang bergerak cepat, ancaman yang setiap detik selalu bertambah besar, serta dorongan untuk membunuh secepat- cepatnya. "Anak mengembangkan naluri membunuh yang impulsif, sadis dan ngawur," tambah Fauzil Adhim. Sangat mengerikan sekali jika tidak ada kontrol dari orang tua untuk menyikapi hal tersebut.

e-BinaAnak 2007

56

Adalah tugas semua pihak, baik dari institusi sekolah, orang tua maupun guru sekolah minggu untuk lebih memerhatikan fenomena video game yang terlalu dalam

mempengaruhi anak. Jika anak kita belum terlanjur kecanduan video game ambillah langkah yang bijak dalam menangani masalah ini. Berikut langkah yang bisa diambil.

1. Berikan waktu luang dan perhatian yang banyak kepada anak-anak Anda. Ada kesan bahwa orang tua yang sibuk bekerja dengan mudah menyediakan perangkat video game hanya karena alasan tidak mau repot dengan anak.

Mereka mau membelikan apa pun asalkan dapat membuat anak diam.

Seharusnya, orang tua boleh memberikan mainan yang anak minta asalkan ada kendali juga dari orang tua. Padahal cara ini bisa berdampak pada lemahnya ketrampilan emosi anak. Mereka tidak belajar bagaimana mengelola keinginan atau mengambil pertimbangan, tegas Fauzil Adhim.

2. Orang tua harus lebih selektif dalam mencarikan mainan buat anak-anaknya.

Sebisa mungkin permainan yang mempunyai unsur edukatif bukan permainan yang mempertontonkan adegan kekerasan.

3. Buatlah sebuah peraturan yang dibuat oleh Anda dengan anak Anda secara bersama-sama. di antaranya perihal batasan waktu antara anak bermain game, belajar, dan kegiatan sosialisasi anak dengan teman-temannya.

4. Orang tua harus menanamkan pemahaman keagamaan kepada anak dengan baik. Dari segi kerohanian, orang tua dapat melibatkan anak secara aktif dalam kegiatan sekolah minggu, mengadakan doa atau saat teduh bersama anak di rumah. Sebab hal ini akan berpengaruh kepada moral anak. Singgih D. Gunarsa menegaskan bahwa moral anak dipengaruhi dan dibentuk oleh lingkungan rumah, lingkungan sekolah, lingkungan teman-teman sebaya, segi keagamaan, juga aktivitas-aktivitas rekreasi (2003: 40-45). Aktivitas rekreasi di dalamnya meliputi film, radio, televisi, video game, dan buku-buku.

Bagaimana jika Anda saat ini sedang menghadapi anak yang telah terlanjur kecanduan dan sulit sekali mengubah kebiasaan bermain gamenya? Bahwa anak jadi

mengorbankan kegiatan sosialnya, enggan mengerjakan PR, dan ingin mengurangi ketergantungannya tapi tak bisa adalah beberapa indikasi anak kecanduan video game.

Memang perlu usaha yang keras untuk dapat mengembalikan keadaan anak seperti semula. Apakah anak perlu diterapi? Mungkin saja jika tarafnya sudah sedemikian parahnya. Orang tua harus melibatkan ahli-ahli lain untuk mengembalikan anak pada kondisi normal, bisa belajar berpikir dengan baik, mampu beradaptasi dengan

lingkungan sosial dan sekolah, serta dapat mengikuti proses belajar-mengajar di sekolah dengan wajar. Menurut Fauzil Adhim, terapi juga diarahkan agar anak bisa belajar mengelola emosinya, mampu menghidupkan perasaannya dengan baik dan sehat, serta belajar menumbuhkan inisiatif positif.

Sudah saatnya kita sebagai pembimbing anak untuk mengambil bagian dari usaha meminimalisir serangan teknologi yang semakin berkembang ini. Selamat melayani anak-anak Anda dan selamat membentengi mereka dengan norma-norma yang sesuai dengan perintah Tuhan kita Yesus Kristus.

e-BinaAnak 2007

57 Sumber bacaan:

Gunarsa, D. Singgih. 2003. "Psikologi Perkembangan". Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2002. Jakarta: Balai Pustaka.

Adhim, Mohammad Fauzil. 2006. "Memenjarakan Anak dengan Kebebasan".

Dalam http://www.mail-archive.com/daarut-tauhiid(at)yahoogroups.com/msg01826.html A.B., Rab. 2006. "Dampak Video Games Pada Anak Perlu Diwaspadai".

Dalam http://www.pembelajar.com/wmview.php?ArtID=491&page=2

e-BinaAnak 2007

58

Dalam dokumen e-BinaAnak 2007 - MEDIA SABDA (Halaman 49-58)