• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengasihi Murid Seperti Teladan Yesus

Dalam dokumen e-BinaAnak 2007 - MEDIA SABDA (Halaman 194-200)

Oleh: Davida Welni Dana

Selama Yesus melakukan pelayanan-Nya di dunia, banyak pelajaran kasih yang Dia berikan kepada kita. Kasih kepada Tuhan, sesama, saudara, murid-murid, anak-anak, dan lain sebagainya. Banyak hal dari tindakan kasih Yesus kepada anak-anak maupun murid-murid-Nya yang dapat kita terapkan dalam pelayanan. Berikut ini beberapa di antaranya.

Membiarkan anak-anak datang kepada-Nya

Kasih Yesus kepada anak-anak sungguh besar. Dia tidak menghalang-halangi anak- anak datang kepada Dia. Pengajaran, berkat, dan kasih-Nya bukan hanya untuk orang- orang dewasa saja, tetapi juga untuk anak-anak kecil. Dalam Markus 10:13-16 kita dapat melihat Yesus memeluk anak-anak itu dan memberkati mereka. Sebelumnya, Dia menegur murid-murid-Nya yang menghalang-halangi anak itu datang kepada Dia.

Yesus rindu setiap anak merasakan kasih dan mendapatkan berkat karena mengenal Dia. Melalui kisah di atas, Yesus mengajarkan agar kita membawa anak-anak datang kepada-Nya, tidak hanya secara fisik, tetapi agar mereka juga dapat bertumbuh dalam pengenalan akan Allah. Janganlah kita menjadi seperti para murid yang menghalangi anak-anak datang kepada Dia dengan tidak sepenuh hati melakukan pelayanan kita dan menganggap pelayanan anak tidaklah penting. Teladanilah kasih Yesus yang membiarkan anak-anak merasakan kasih dan mendapatkan berkat-Nya.

Memerhatikan keadaan dan kebutuhan murid-murid

Firman Tuhan juga mencatat beberapa peristiwa yang menunjukkan bahwa Yesus amat memerhatikan keadaan dan kebutuhan murid-murid-Nya. Dalam Matius 8:14-17 kita dapat melihat Yesus datang ke rumah Petrus dan menyembuhkan ibu mertuanya yang sedang sakit keras. Dalam Lukas 5:1-11 Yesus tahu bahwa seharian Petrus dan juga teman-temannya tidak mendapatkan hasil tangkapan ikan, lalu Dia meminta Petrus untuk pergi ke tengah dan menebarkan jala. dan ada mujizat! Ikan yang sangat banyak ditangkap oleh Petrus dan teman-temannya. Hasil tangkapan itu tentu saja bisa

memenuhi kebutuhan hidup mereka. Dalam Yohanes 14:15-31 Yesus mengatakan bahwa tidak lama lagi Dia tidak akan bersama murid-murid-Nya. Dia tahu perkataan itu akan sangat menyedihkan bagi mereka dan mungkin membuat gentar, oleh karena itu Dia berjanji memberikan Penolong yang lain sehingga mereka tidak akan sendirian dalam melanjutkan pekerjaan-Nya di bumi.

Memerhatikan keadaan dan kebutuhan anak-anak layan kita juga merupakan salah satu bukti bahwa kita mengikuti teladan Yesus dalam hal mengasihi. Perhatian tidak hanya kita tunjukan ketika berhadapan dengan anak di dalam kelas, tetapi mengenal mereka lebih pribadi lagi. Misalnya, mengenal keadaan keluarga, menjadi sahabat bagi anak yang membutuhkan bimbingan khusus, memerhatikan anak-anak dengan kebutuhan

e-BinaAnak 2007

195

khusus, menjenguk dan mendoakan mereka di kala sakit atau berduka, dan lain sebagainya. Program visitasi bisa menjadi salah satu aksi untuk menyentuh keadaan anak secara lebih pribadi lagi.

Mendoakan murid-murid.

Dalam Yohanes 17:1-26 ditulis bagaimana Yesus mendoakan murid-murid-Nya. Rasa kasih yang begitu dalam kepada mereka membawa Ia menyebutkan murid-murid-Nya tersebut di hadapan Bapa. Dalam doa-Nya, Dia bersyukur atas murid-murid-Nya yang percaya dan tahu benar bahwa Yesus adalah Anak Allah, Mesias yang dijanjikan itu.

Dalam doa-Nya, Dia juga memohon kepada Bapa agar Bapa memelihara mereka saat Dia sudah tidak bersama dengan mereka lagi di dunia.

Mendoakan anak-anak layan merupakan hal yang harus dijalankan para pelayan anak dengan kasih yang tulus. Ucapan syukur atas setiap murid yang Tuhan percayakan untuk kita layani merupakan teladan yang dapat kita contoh dari doa Yesus untuk murid-murid-Nya. Kita boleh menyebutkan nama anak satu persatu di hadapan Bapa.

Begitu pula dengan memohon agar Anda diberi hikmat untuk membawa mereka lebih dewasa terhadap pengenalan akan Juru Selamat sejati.

Membawa murid-murid menerima keselamatan kekal

Tujuan utama Allah mengutus Anak-Nya yang tunggal adalah agar setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Setiap orang yang menerima dan mengaku Yesus adalah Mesias yang dijanjikan, akan menerima anugerah keselamatan kekal dari Allah. Melalui setiap peristiwa dan pengalaman selama pelayanan Yesus di dunia, murid-murid terus dibawa kepada kebenaran iman ini. dan mereka percaya bahwa Yesuslah Mesias. Dalam doa Yesus, kita dapat melihat betapa Yesus bersyukur karena murid-murid-Nya mengenal Bapa melalui Dia. Yesus juga bersyukur karena bukan hanya percaya, murid-murid-Nya juga membawa banyak orang mempercayai bahwa Yesus adalah Sang Mesias. Dalam Matius 16:13-20 kita juga dapat melihat Petrus dengan iman mengatakan, "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Ya, Yesus membawa murid-murid-Nya menerima anugerah keselamatan kekal dari Allah.

Kasih terbesar Allah kepada manusia tersebut hendaknya menjadi dasar bagi kita saat melayani Tuhan melalui anak-anak. Mengajar dan mendidik anak-anak layan kita

mengenai keselamatan, kemudian membawa mereka menerima anugerah keselamatan itu harus menjadi inti pelayanan kita. Sejak bereksistensi, anak sudah berdosa dan tidak memiliki keselamatan. Oleh karena itu, tanggung jawab kitalah untuk membimbing mereka, sehingga mereka pun mendengar Berita Anugerah dan menerima anugerah kekal itu.

Selalu memberikan nasihat

e-BinaAnak 2007

196

Dalam firman Tuhan kita bisa melihat Yesus selalu memberikan nasihat kepada murid- murid-Nya. Nasihat yang Dia berikan bertujuan agar murid-murid hidup dalam

kebenaran dan mengikuti kehendak Bapa. Yesus selalu memberikan nasihat dan didikan melalui setiap peristiwa yang terjadi selama pelayanan bersama murid-murid- Nya. Salah satu nasihat yang Dia berikan bisa dilihat di Lukas 17:1-7.

Mengikuti teladan Yesus, maka berikanlah nasihat kepada anak-anak Anda sesuai dengan firman Tuhan. Jika mereka dalam kesulitan atau sedang mengalami peristiwa tertentu, baik menyenangkan, maupun menyedihkan bagi mereka, gunakanlah

kesempatan itu untuk memberikan nasihat dan pelajaran hidup kepada mereka. Kita pasti dapat melakukannya karena Yesus telah terlebih dahulu melakukannya.

Tidak membeda-bedakan

Dalam mengajar Yesus tidak pernah membeda-bedakan. Kita dapat melihat murid- murid-Nya memiliki latar belakang yang berbeda. Semua mendapatkan kasih, didikan, perlakuan, nasihat, dan ajaran yang sama. Dia memiliki murid berlatar belakang seorang nelayan, pekerjaan yang dianggap rendah; pemungut cukai yang dianggap amat licik, dan profesi lainnya. Semuanya sama di hadapan Sang Guru Agung.

Mengasihi murid tanpa membeda-bedakan latar belakang dan kondisi anak merupakan salah satu syarat utama pula bagi para pelayan anak. Semua anak sama di mata

Tuhan. Semua dikasihi-Nya. Untuk itu, kita juga harus menyatakan kasih Tuhan tersebut melalui kasih tulus kita kepada mereka. Jangan ada pilih kasih, apalagi membedakan anak yang memiliki kelemahan.

Menegur murid jika melakukan kesalahan

Mengasihi bukan berarti tidak menegur mereka yang bersalah. Yesus kerap kali menegur murid-murid-Nya ketika melakukan kesalahan. Tetapi teguran yang Dia

berikan bukanlah teguran tanpa tujuan. Teguran-Nya bertujuan mengajar, memperbaiki kelakuan, mendidik, dan agar murid mengetahui kehendak Bapa di surga. Saat Petrus tenggelam ketika mencoba berjalan di atas air, Yesus menegur Dia karena kurang percaya. Walaupun begitu, Yesus tidak membiarkannya terjatuh, tetapi memegang tangan Petrus dan membimbingnya kembali ke perahu.

Jangan ragu untuk menegur anak-anak jika mereka melakukan kesalahan, apalagi jika kesalahan itu bisa berakibat fatal bagi mereka. yang harus diperhatikan adalah

hendaknya teguran yang diberikan bersifat mendidik dan tidak menyakiti hati anak.

Jika kita menggali Alkitab lebih dalam lagi, pasti masih banyak teladan-teladan kasih Yesus kepada murid-murid-Nya yang dapat kita contoh sebagai pedoman kita dalam mengasihi murid-murid kita. Mari berkomitmen untuk menjadi alat-Nya agar melalui kita anak-anak dapat melihat kasih Yesus.

Selamat mengajar!

e-BinaAnak 2007

197

Bahan Mengajar: Kasih Itu Sabar

Uraian pelajaran:

Banyak terjemahan modern menyertakan ayat ini, "Kasih itu sabar ...." Secara teknis, hal itu benar. Sayangnya, banyak orang modern tidak memiliki pandangan yang sama tentang kesabaran seperti orang-orang zaman dulu. Kita mengartikan sabar itu seperti mengantri selama lima menit tanpa meneriaki orang lain. Namun, tidak demikian dengan makna kata sabar dalam bahasa Yunani. Sabar bukan berarti kemampuan untuk menunggu sesuatu terjadi. Kata sabar dalam bahasa Yunani adalah

"makrothumia" yang secara harafiah berarti 'panjang/lama' (makro), dan 'menderita' (thumia). Jadi, kesabaran berarti memikul penderitaan dalam jangka waktu yang lama dan bertahan menghadapi kelakuan orang lain yang mungkin bertentangan dengan kita.

Jika kita ingin mengasihi dengan kasih Tuhan, kita harus memulainya dengan

kesabaran. Ada dua bagian dalam kesabaran tersebut. Bersabar terhadap penderitaan yang disebabkan oleh orang lain dan bersabar dalam menanggung penderitaan

bersama orang lain.

Banyak orang, termasuk orang Kristen, sepertinya bangga jika mereka mudah marah.

Terdapat beberapa kalimat dalam masyarakat seperti, "Aku tidak mau dikritik", "Hei, seseorang mengkritikku, tapi itu semua hanyalah masa lalu", "Aku tidak marah, aku akan membalasnya". Bahkan banyak orang Kristen tertawa dan berkata, "Aku rasa aku berhasil melukainya."

Semua itu bukanlah sifat Guru kita yang dikenal sebagai Penebus dosa. Dia sabar saat dikritik, dihina, dipukul, dicambuk, disalib, bahkan di masa-masa terakhirnya pun masih berkata, "Bapa ampuni mereka." Itu adalah penderitaan yang panjang. "Tentu saja,"

kata Anda, "Karena Dia Yesus, Anak Allah." Jika kita adalah orang Kristen, kita

seharusnya menjadi anak-anak Allah. Tapi mari kita lewatkan hal itu dulu. Mari kita lihat Stefanus yang meminta Allah mengampuni orang-orang yang melemparinya dengan batu. Lihat juga Paulus, dia dipukuli, dilempari batu, dicambuk seperti Yesus, dan dijebloskan ke penjara. di penjara, dia menulis kata-kata yang sedang kita pelajari ini.

Apakah Tuhan mengindahkan seseorang? Jika Dia mampu memberi Stefanus dan Paulus kasih yang cukup untuk memikul hinaan, siksa, dan kematian, tidak bisakah Dia membantu kita mengasihi rekan kerja yang mencoba menjelek-jelekkan kita di depan atasan?

Tapi ada makna lain di balik penderitaan panjang yang baru saja saya pelajari dari Tuhan. Kita tidak hanya bersabar terhadap derita yang diakibatkan oleh orang lain, tapi kasih juga memanggil kita untuk menderita bersama orang lain. Pikirkan keluarga Anda.

Saat anak atau pasangan, saudara, ayah atau ibu Anda sedang sakit atau dalam kesulitan, apakah Anda tidak merasakan penderitaan yang mereka alami itu seolah- olah adalah penderitaan Anda sendiri? Jadi, kita harus ikut merasakan penderitaan keluarga gereja dan orang-orang yang dekat dengan kita. Seberapa sering kita mendengar rekan kerja atau teman gereja berkata seperti, "Saya ada janji bertemu dokter besok dan saya sangat khawatir." Apakah kita menanggapinya dengan berkata,

e-BinaAnak 2007

198

"Sayang sekali. Aku akan mendoakanmu"? Apa kita benar-benar berdoa? Saat kita berdoa, apakah kita merasakan sesuatu? Apakah kita menawarkan bantuan seperti mengantar ke dokter, berbelanja, atau membawakan makanan? Kita memiliki banyak alasan untuk tidak melakukan semua itu. "Aku benar-benar tidak mempunyai waktu.

Aku harus bekerja, mengurus keluarga ...." Tapi apakah kita punya waktu untuk menonton acara favorit kita di TV? Apakah kita mempunyai cukup waktu untuk

komunitas, olahraga, atau hobi kita? Semuanya itu baik, tapi jika kita mempunyai waktu untuk semua itu, mengapa kita tidak mempunyai waktu bagi orang yang membutuhkan?

Mengapa? Itu karena kita tidak merasakan penderitaan mereka.

Kasih itu adalah perbuatan. Perbuatan itu bisa dalam bentuk penderitaan panjang, memaafkan, dan memberikan bantuan. Jika semua itu belum dilakukan, kita harus terus berjuang mendapatkan kesabaran sejati.

Pertanyaan:

1. 1 Korintus 12:31

a. Apakah cara yang lebih luar biasa yang dikatakan oleh Paulus?

b. Mengapa cara itu lebih luar biasa daripada karunia Roh?

2. 1 Korintus 13:1-3

a. Seberapa pentingkah karunia Roh Kudus dibandingkan dengan kasih?

b. Apa yang akan terjadi jika seseorang hidup dalam karunia Roh, tapi dia tidak mempunyai kasih?

3. 3 Yohanes 4:7-8

a. Bagaimana kita tahu kita "lahir dari Allah"?

b. Bagaimana jika kita tidak mempunyai kasih? Apa yang dikatakan ayat ini tentang kekristenan kita?

4. Efesus 4:1-3

a. Apakah "pekerjaan" atau "panggilan" yang diberikan kepada kita?

(Yohanes 13:34-36)

b. Apakah arti "saling sabar satu sama lain dalam kasih"?

c. Bagaimana penderitaan panjang bisa menghasilkan "kesatuan roh"?

5. Ibrani 5:7-9

a. Bagaimana Kristus belajar taat?

b. Apakah hasil dari ketaatan itu?

6. Galatia 6:2

a. Bagaimana kita memenuhi hukum Kristus?

b. Apakah pernah ada seseorang yang membantu memikul beban hidup Anda? Ceritakan. (t/Dian)

Bahan diterjemahkan dari sumber:

Nama situs : Free Bible Study Resources

URL artikel: http://www.biblestudycentral.net/long.htm

e-BinaAnak 2007

199

Warnet Pena: Free Bible Study Resources: The Love Chapter

==>http://www.biblestudycentral.net/

Para pelayan anak tentunya harus selalu memiliki waktu dan juga banyak bahan untuk mempelajari Alkitab. Salah satu sumber bahan yang dapat dimanfaatkan adalah situs internet. Free Bible Study Resources, sebuah situs berbahasa Inggris dengan desain yang sederhana menawarkan berbagai bahan studi Alkitab dengan beragam topik bisa Anda dapatkan secara cuma-cuma. Salah satu bahan studi Alkitab yang bisa Anda gali adalah tentang ajaran terbesar Yesus, yaitu kasih. Dapatkan sebelas artikel seputar kasih dengan mengarahkan penjelajah Anda ke menu "Bible Study Series" yang ada di halaman utama dan pilihlah menu "The Love Chapter". Setiap pelajaran mengenai kasih dalam menu tersebut dilengkapi dengan ayat-ayat Alkitab dan beberapa pertanyaan yang akan membantu Anda dalam merenungkan dan memahami maksud ayat tersebut.

Tunggu apalagi? Segera pergi ke tautan di atas dan dapatkan "kasih Tuhan" untuk diteruskan kepada sesama kita.

Kiriman dari: Lanny Kusumawati

Mutiara Guru

Karena cinta seorang guru akan mengajarkan

apa yang benar, melayani anak-anak dengan lebih sungguh, dan mampu melihat

kebutuhan anak yang dididiknya.

Dari Anda Untuk Anda

Dari: zanny irayati aunalal <zanny_ira(at)xxxx>

>Terima kasih, ini sangat membantu saya dalam pelayanan untuk anak

>sekolah minggu. Tuhan berkati..

Redaksi:

Puji Tuhan! Kiranya kita semua juga dapat membagikan setiap berkat yang kita dapatkan kepada rekan-rekan lain. Rekan-rekan dapat mengambil bahan dari e- BinaAnak untuk dibagikan kepada teman sepelayanan. Atau mendiskusikan metode dan artikel tertentu, agar wawasan semakin bertambah dan kita semakin diperlengkapi dalam pelayanan anak yang Tuhan percayakan kepada kita saat ini. Selamat melayani!

Dalam dokumen e-BinaAnak 2007 - MEDIA SABDA (Halaman 194-200)