Merupakan wujud penghargaan dan rasa terima kasih kita kepada alam, kepada bumi yang telah melimpahkan rejeki bagi manusia. Tanah yang subur, hutan yang menghijau, sungai-sungai mengalir jernih. Semua itu merupakan berkah agung dari , berkah yang masih mengalir karena perilaku dan sikap bijaksana para leluhur pendahulu bangsa yang hidup di masa lalu. Mereka tidak merusak dan mengeksploitasi hutan, gunung, sungai, lautan karena kesadaran super- egonya bahwa anak cucu keturunannya, dan generasi penerus bangsa kelak masih sangat membutuhkan semua itu.
Bahan berupa beras ketan, kelapa/santan, gula dan sedikit garam, serta bahan pengharum makanan. semua bahan dibuat adonan, kemudian dalam cetakan bundar-bundar. Semua itu memuat pesan yakni adanya proses dalam kehidupan dan pentingnya penyelarasan dan harmonisasi antara jagad kecil dengan jagad besar dalam kehidupan semesta ini.117
Nilai Sosial. Yang terakhir, di dalam tradisi ruwahan juga terdapat banyak nilai-nilai yang melambangkan hubungan antar manusia, dan etika-etika dalam hubungan antar manusia, yang juga banyak disimbolkan dalam pelaksanaan ritual-ritual dan makanan dapat dinikmati oleh generasi penerus, anak turunnya yang hidup di masa kini. Ketan bersifat lengket bermakna pula harapan adanya tali rasa yang akan menjadi perekat hubungan antara leluhur dengan anak cucu keturunannya dan semua orang yang menghaturkan sembah bakti kepadanya.
117 Purwanti R. Susila, Basic Books, hlm. 4
Ketan
“Ke-mut-an” artinya terkenang, teringat. Maksudnya teringat akan apa yang dilakukan di masa lalu. Jangan melupakan sejarah, yakni jasa kepahlawanan, pusaka warisan, dan peninggalan para leluhur yang hidup di masa lalu. Yang Apem Di dalam kue apem terdapat bahan - makanan yang disajikan, sebagai berikut :
Kenduri
Kenduri disini bukan hanya sebagai acara memanjatkan doa dan ritual-ritual saja, namun di dalam kenduri ini banyak berkumpul warga- warga yang kemudian saling berinteraksi dan mewujudkan suatu nilai sosial dalam kegiatan kenduri
Kolak Ubi Jalar
Kolak ubi jalar mewakili hasil bumi yang buahnya berada di dalam tanah. Dibuat untuk melambangkan adanya kesalahan para leluhur kepada sesama manusia. Selain itu, bahwa manusia hendaknya tetap berpijak di bumi. Memiliki sifat-sifat humanis, serta mulut laku jantraning bumi, yakni perilaku manusia yang anda tidak sombong, congkak, takabur, sikap mentang-mentang,Sebaliknya harus mencontoh sifat-sifat bumi yang selalu memberikan berkah sekalipun bumi diinjak- injak oleh manusia dan seluruh makhluk penghuninya. yang diolah menjadi makanan kolak ubi jalar, mengingatkan kita hendaknya menjadi orang selalu melakukan,yakni segala amal kebaikan yang pernah kita lakukan pada orang lain dari ingatan kita. Agar supaya tidak mencemari ketulusan kita dan di suatu saat tidak mengungkit-ungkit kebaikan kita pada orang lain.
Kesadaran Masyarakat Melayu Palembang Terhadap Tradisi Ruwahan
bahwa setiap proses kesadaran yang terarah pada sesuatu ini sebagai tindakan dan setiap tindakan manusia berada di dalam kerangka kebiasaan. menganalisis struktur dari presepsi, imajinasi, penilaian, emosi, pengalaman orang lain yang terarah pada sesuatu objek di luar.
Setiap tindakan manusia selalu melibatkan kesadaran atas suatu objek yang nyata di dunia. Di dalam kehidupan manusia memperoleh makna dan identitasnya sebagai manusia. Tradisi Ruwahan yang dilakukan oleh masyarakat Melayu Palembang tidak terlepas dari peran serta aktor (pelaksana tradisi tersebut) yang mengundang masyarakat lainnya untuk
turut serta menghadiri undangan yang punya hajatan. Undangan untuk melaksanakan tradisi ruwahan tersebut biasanya diberikan kepada keluarga, kerabat, teman dan tetangga sekitar pelaksana tradisi.
Pelaksanaaan tradisi ruwahan tersebut selalu diikuti dengan kesadaran dari masing-masing aktor yang terlibat dalam tradisi tersebut. Tradisi Ruwahan yang dilakukan oleh masyarakat Melayu Palembang ini dibentuk tidak hanya menguntungkan bagi yang hajatan saja tapi juga berdampak bagi orang-orang yang menghadiri undangan tersebut. Hal ini dikarenakan tradisi ruwahan ini selain mampu menjadi media bagi yang memilliki hajatan untuk dapat mengirimkan doa kepada arwah leluhur maupun sanak saudara, tradisi ini juga mampu membangun jaringan sosial dan menambah interaksi kekerabatan bagi masyarakat yang menghadiri acara tersebut.
Tradisi Ruwahan ini dapat sebagai sesuatu yang penting yang terbentuk dari masyarakat. Karena sebagaimana diketahui bahwa ketika masyarakat melakukan suatu maka akan terdapat sebuah kesepakatan dari interaksi tersebut. Kesepakatan inilah dapat berupa nilai,norma, aturan, bahkan tradisi dan adat istiadat sebagai bagian dari sebuah budaya yang diciptakan oleh masyarakat dari hasil kesepakatan interaksi tersebut. Dalam hal ini, ketika masyarakat melakukan suatu interaksi satu sama lain maka terdapat pemahaman dari masing-masing yang terlibat melalui komunikasi dan interaksi. Selain itu dengan adanya tradisi ini tidak hanya memberikan dampak agamis saja tapi juga dampak sosialnya yaitu sifat saling tolong menolong, kerjasama, saling percaya, integrasi sosial antar masyarakat. Sehingga dari bentuk kesadaran demikian yang dilakukan oleh masyarakat melalui tradisi Ruwahan dapat mengintegrasi masyarakat dan melestarikan nilai-nilai kebudayaan yang telah terakomodasi.
Istilah kesadaran sebagai hal yang bergandengan dengan pengalaman yang meliputi organisme yang peka dengan lingkungannya sejauh lingkungan tersebut masih eksis bagi organisme tersebut. Perilaku dikendalikan oleh bagaimana tersebut penilaian orang lain terhadap dirinya. Kesadaran diri ini bersifat kolektif/umum yang merupakan dasar dari solidaritas sosial. Kesadaran ini terkait dengan nilai-nilai dan norma- norma yang secara tidak langsung mengatur sikap dan perilaku, berdasarkan situasi dan kondisi masyarakat Melayu di Kota Palembang.
KESIMPULAN
Melayu Palembang merupakan suatu bentuk kebiasaan yang berasal dari proses kesadaran Berdasarkan uraian sebelumnya dapat disimpulkan tradisi Ruwahan yangdilakukan oleh Masyarakat Melayu Palembang merupakan tradisi dari hasil akulturasi dengan kebudayaan Jawa. Bagi masyarakat Melayu Palembang, Ruwahan memiliki makna tersendiri yang terbentuk dari proses kesadaran dan pemaknaannya, mulai dari medium pengajian, penyebaran informasi melalui undangan maupun media sosial, melalui penguatan dalam bentuk cerita, melalui akulturasi, dan penguatan melalui tindakan. Tradisi Ruwahan ini pun memiliki makna bagi masyarakat Melayu Palembang, yaitu menambah kesalehan dan kolektif. Untuk kesalehan, tradisi ini mampu mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan dengan adanya hajatan acara tradisi Ruwahan mampu menciptakan hubungan kesalehan sosial di masyarakat. Berdasarkan analisis fenomenologi yang ia melihat bahwa setiap proses kesadaran yang terarah pada sesuatu dianggap sebagai suatu tindakan dan setiap tindakan manusia akan berada dalam suatu kerangka kebiasaan. Tradisi Ruwahan yang dilakukan oleh masyarakat masyarakatnya dan diwujudkan melalui sebuah tindakan, yakni pelaksanaan Ruwahan baik yang bersifat untuk kesalehan sosial.
Fenomenologi menganalisis struktur dari imajinasi, penilaian, emosi, pengalaman orang lain yang terarah pada sesuatu objek di luar. Proses kesadaran dalam perspektif fenomenologi ini terbagi menjadi tiga pola, yaitu kesadaran yang bersifat subjektif, kesadaran yang bersifat objektif, dan kesadaran yang bersifat intersubjektif. Kesadaran yang bersifat subjektif berasal dari pengalaman dan kesadaran aktor, yang dalam hal ini dilakukan oleh masyarakat Melayu Palembang yang melaksanakan tradisi Ruwahan. Kesadaran objektif didapatkan oleh aktor melalui pemahaman yang didapatnya dari faktor eksternal,
Misalnya pemahaman si aktor yang menganggap Ruwahan sebagai tradisi turun temurun dari nenek moyang. Selanjutnya kesadaran intersubjektif didapat oleh aktor melalui proses antar aktor yang memiliki pemahaman dan kesadaran yang sama. fenomenologi sebagai suatu paradigma yang besar memiliki ruang lingkup analisis yang lebih spesifik melalui teori konstruksi sosial. Dalam melihat tradisi Ruwahan yang dilakukan oleh masyarakat Melayu Palembang, teori konstruksi sosial memiliki tiga konsep penting sebagai poin
analisis, yaitu proses eksternalisasi, proses objektivasi, dan proses internalisasi. Proses eksternalisasi merupakan proses penyesuaian diri seorang aktor dalam dunia sosio-kulturalnya, dalam hal ini aktor menyesuaikan dengan teks sesuai dengan interpretasi terdahulu dimana semua tindakan memiliki historis, ajaran dan nilai. Proses eksternalisasi tradisi Ruwahan masyarakat Melayu Palembang menyesuaikan keyakinan dan kebiasaan yang dicontohkan oleh ulama. Proses objektivasi merupakan proses interaksi diri dengan dunia sosiokultural dimana penyadaran bahwa Ruwahan mampu mengirimkan doa kepada arwah leluhur dan hal ini terus menerus dilakukan hingga menjadi sebuah habit (kebiasaan). Untuk proses internalisasi, pelaku melakukan identifikasi diri dengan dunia sosiokultural, yakni mengidentifikasi diri dalam sebuah penggolongansosial yang berbasis historis dan teologis- ideologi.
DAFTAR PUSTAKA
AG, Muhaimin. 2002. Islam dalam Bingkai Budaya Lokal: Potret dari Cirebon.
Agus, Bustanuddin. 2006. Agama dalam Kehidupan Manusia. Jakarta:
PT. RajaGrafindo Persada.
Geertz, Clifford 1970. The Interpretation of Culture. New York: Basic Books.
Isjoni. 2007. Orang Melayu di Zaman yang Berubah. Yogyakarta:
Pustaka
Kuswarno, Engkus. 2009. Fenomenologi Konsep, Pedoman A, Ahmad Qodhi. 1992. Nur Muhammad, Menyingkap Asal-usul Kejadian Majelis Diktilitbang dan LPI PP Muhammadiyah. 2010. 1 Abad
Muhammadiyah.
Moleong, Lexy J. 1998. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:
Remaja
Pranowo, Bambang Pranowo. 1998. Islam Faktual: Antara Tradisi dan Relasi
Rasyid, S. 1988. Fiqih Islam. Bandung: Masa Baru.
Ritzer, George. 2002. Sosiologi IlmuPengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta:
Tradisi Ruwahan Desember 15 Accessed 2019 http://dekgeeta.blogspot.co.id/2010/11/tradisi-ruwahan-plg html Purwanti, Rosalia Susila. 2014. "Tradisi Ruwahan dan Pelestariannya." 2-5.a. 2019
Desember 15. Accessed desember 15, 2019.
http://palembang.com/2019/12/15/ruwahan-dan -tradisi- masyarakat -menjelang-bulan-Ramadhan.
TRADISI SEDULANG SETUDUNG DI DESA GELEBAK DALAM, KABUPATEN BANYUASIN
Oleh:
Wira Darma Albaja A. PENDAHULUAN
Tradisi atau kebiasaan merupakan suatu gambaran sikap dan perilaku manusia yang telah berproses dalam waktu lama dan dilakukan secara turun temurun dimulai dari nenek moyang. Tradisi yang telah membudaya akan menjadi sumber dalam berakhlak dan berbudi pekerti seorang. Selain itu tradisi juga dapat diartikan sebagai kebiasaan bersama dalam masyarakat yang secara otomatis akan mempengaruhi aksi dan reaksi dalam kehidupan sehari-hari para anggota masyarakat.118 Tetapi tradisi bukan suatu yang tidak dapat diubah.
Tradisi justru diperpadukan dengan aneka ragam perbuatan manusia dan diangkat dalam keseluruhannya. Manusia yang membuatkan ia yang menerima, ia pula yang menolaknya atau mengubahnya. Itulah sebabnya mengapa kebudayaan merupakan cerita perubahan-perbuhan manusia yang selalu memberi wujud baru kepada pola-pola kebudayaan yang sudah ada.119 Bila tradisi dihilangkan maka ada harapan suatu kebudayaan akan berakhir di saat itu juga. Setiap sesuatu menjadi tradisi biasanya telah teruji tingkat efektifitas dan tingkat efesiensinya.
Efektifitas dan efesiensinya selalu mengikuti perjalanan perkembangan unsur kebudayaan. Berbagai bentuk sikap dan tindakan dalam menyelesaikan persoalan kalau tingkat efektifitasnya dan efesiensinya rendah akan segera ditinggalkan pelakunya dan tidak akan pernah menjelma menjadi sebuah tradisi. Tentu saja sebuah tradisi akan pas dan cocok sesuai situasi dan kondisi masyarakat pewarisnya.120
Tradisi dapat dikatakan suatu kebiasaan, yaitu kebiasaan yang dilakukan oleh setiap peran individu dalam sebuah rangka keseluruhan, yang menjadi sebuah peran masyarakat di dalamnya. Biasanya tradisi
118 Coomans, M. 1987. Manusia Daya: Dahulu Sekarang Masa Depan.
Jakarta: PT Gramedia. hal.73.
119 Van Reusen. 1992. Perkembangan Tradisi dan Kebudayaan Masyarakat.
Bandung: Tarsito. hal 115.
120 Bastomi, Suwaji. 1986. Kebudayaan Apresiasi Pendidikan Seni.
Semarang: FKIP. hal 14
menjadi sebuah tindakan yang dilakukan dalam sebuah kemasyarakatan, kemasyarakatan inilah yang akan menjadiakan upaya yang dilakukan sebuah kegiatan budaya yang akan diperbuat menjadi sebuah kebiasaana atau tradisi, biasanya tradisi dilakukan secara turun terumun atau dari generasi ke generasi dalam setiap wilayah tersebut.
Indonesia adalah wilayah yang terkenal dengan beribu pulaunya, kaya akan sumber daya alam dan termasuk juga rempah rempahnya.
Indonesia juga memiliki tradisi yang begitu banyak, dari mulai setiap wilayah bagian bagiannya seperti yang telah diketahui, Indonesia terbagi dalam sebuah pulau-pulau besar yang membentang di wilayah Indonesia yaitu: Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
Sedulang Setudung adalah sebuah tradisi yang berada di pulau Sumatera, yaitu provinsi bagian Sumatera selatan, yang beribu kota Palembang. Lebih tepatnya tradisi ini berada di sekitaran kota Palembang, yaitu Kabupaten Banyuasin. kota Banyuasin memiliki beragam budaya, adat istiadat dan benda peninggalan sejarah yang harus dilestarikan, seperti hal nya yang dimiliki dalam sebuah tradisi, yaitu tradisi Sedulang Setudung yang masih dilakukan masyarakat kota Banyuasin yang berada di Kecamatan Rambutan, Desa Gelebak Dalam.