• Tidak ada hasil yang ditemukan

TRADISI SEDULANG SETUDUNG

menjadi sebuah tindakan yang dilakukan dalam sebuah kemasyarakatan, kemasyarakatan inilah yang akan menjadiakan upaya yang dilakukan sebuah kegiatan budaya yang akan diperbuat menjadi sebuah kebiasaana atau tradisi, biasanya tradisi dilakukan secara turun terumun atau dari generasi ke generasi dalam setiap wilayah tersebut.

Indonesia adalah wilayah yang terkenal dengan beribu pulaunya, kaya akan sumber daya alam dan termasuk juga rempah rempahnya.

Indonesia juga memiliki tradisi yang begitu banyak, dari mulai setiap wilayah bagian bagiannya seperti yang telah diketahui, Indonesia terbagi dalam sebuah pulau-pulau besar yang membentang di wilayah Indonesia yaitu: Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

Sedulang Setudung adalah sebuah tradisi yang berada di pulau Sumatera, yaitu provinsi bagian Sumatera selatan, yang beribu kota Palembang. Lebih tepatnya tradisi ini berada di sekitaran kota Palembang, yaitu Kabupaten Banyuasin. kota Banyuasin memiliki beragam budaya, adat istiadat dan benda peninggalan sejarah yang harus dilestarikan, seperti hal nya yang dimiliki dalam sebuah tradisi, yaitu tradisi Sedulang Setudung yang masih dilakukan masyarakat kota Banyuasin yang berada di Kecamatan Rambutan, Desa Gelebak Dalam.

Kisah adat ini muncul sekitar tahun 1940-an di Desa Gelebak Dalam. Waktu itu para nenek moyang isitrahat kebiasaan masyarakat yang di adakan persedekahan setiap hari- hari besar Islam seperti Isro Mikraj, Nuzul Quran, Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha. Jika sedekahan itu dilaksanakan di rumah masing-masing tentu saja sedikit berat.

Makannya orang-orang dahulu menciptakan adat sedulang setudung agar semua warga apakah dia kaya atau miskin bisa melakukan sedekah hari-hari Islam secara rutin dan bersama-sama di masjid.121

Sedulang Setudung dalam sebuah pelaksanaannya yaitu dengan dilakukan ketika hari hari besar Islam, seperti Isra Mi‟raj, Nuzul Qur‟an, Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha. Yang paling khas dalam tradisi Sedulang Setudung ini adalah dulang dan tudung, yang mana dulang adalah sebuah nampan yang berbentuk lingkarang yang lebar, dan lalu isi dengan makanan kemudian di tutup dengan tudung. Dulang dan Tudung ini juga masih yang berbahan kayu. Karena itulah tradisi ini disebut dengan tradisi Sedulang Setudung. Dan warna biru dengan sedikit garis warna merah di setiap ujung tudung yang menghiasin tudung tersebut juga bukan asal asal, warna yang sama berguna memberikan kesan kesamarataan tanpa adanya tingkatan yang membedakan/ yang biasa disebut kasta dalam bermasyarakat.

Dulang yang sudah diisi dengan berbagai macam makanan lalu ditutup dengan tudung. Dalam hal ini yang sangat berpartisipasi dalam tradisi adalah setiap kepala keluarga yang mana masyarakat adalah inti dalam sebuah pelaksanaanya, karena makanan tersebut adalah bentuk partisipasi agar berjalannya setiap kegiatan tersebut. Dengan di bawa oleh setiap kepala keluarga menuju masjid. Masjid menjadi tempat berkumpul, karena tradisi ini sangat melekat dengan Islam, hampir sepenuhnya tradisi tersebut tidak bertentangan Islam. Melihat hal tersebut, bagaimana Islam mempengaruhi tradisi Sedulang Setudung itu, dengan diawali sebuah hal hal kecil yang sebagai pemicunya, seperti hal sedekah.

121 Academia. Banyuasin Memukau: Melestarikan Tradisi Sedulang

Setudung. 2017. Diakses dari

Https:www.academia.edu/37514795/BANYUASIN_MEMUKAU_Melestarikan_Trad isi_Sedulang_Setududng Pada tanggal 19 Desember 2019.

Gambar : Prosesi makan-makan dalam tradisi tersebut Sumber : Dokumen Pribadi

Untuk makanan apa yang buat atau isi yang ada di tradisi Sudulang Setudung, biasanya isinya tidak dapat disamakan, dikarenakan dulang tersebut sebelum menuju ke masjid telah ditutup, dibuka hingga acara penutup yaitu makan bersama. Dengan tudung yang sama, sehingga sulit untuk membedakan, siapa saja yang menjadi pemiliknya. Karena ini juga berguna agar tidak membebankan setiap kepala keluarga dalam memenuhi kebutuhannya setiap kemampuan masing masing dengan isi tersebut, inilah yang disebut dengan sedekah bersama dalam tradisi Sedulang Setudung. Tetapi pada umumnya makanan yang sering ditemukan yaitu: nasi gemuk, ayam panggang, dan buah buahan.

Dahulu pernah ada gagasan untuk mengubah wadah membawa makanan ke masjid pada setiap acara tradisi Sedulang Setudung menggunakan rantang bertingkat karena membawa makanan dengan dulang dianggap terlalu berat. Usulan itu ditolak perangkat pemerintahan desa karena, jika tidak menggunakan dulang lagi sebaiknya sedekahnya diadakan di rumah masing-masing karena bukan lagi dinamakan sedekah Sedulang Setudung. Oleh karena masyarakat tetap menginginkan sedekah bersama dengan sebutan Sedulang Setudung maka tradisi ini tetap diteruskan menggunakan dulang yang ditutup tudung berwarna sama seperti gagasan awal nenek moyang warga.122

122 Academia. Banyuasin Memukau: Melestarikan Tradisi Sedulang

Setudung. 2017. Diakses dari

Selain semua masyarakat bisa mengikuti sedekah dengan biaya ringan, baik orang kaya atau miskin, tetap bisa bersedekah pada hari- hari besar Islam melalui tradisi Sedulang Setudung. Ibu-ibu desa juga tidak terlalu direpotkan apabila ingin memasak untuk sedekah hari-hari besar Islam di masjid. Jika sedekah di rumah masing-masing, tentunya persiapan yang dilakukan ibu-ibu akan lebih berat dan membutuhkan banyak biaya. Sebaliknya jika menyediakan makanan satu dulang untuk dibawa ke Masjid, tidak terlalu menyulitkan seorang ibu rumah tangga untuk mengadakannya.

Tempat duduk acara Adat Sedulang Setudung di masjid desa juga diadakan menurut syariat Islam, atau dibedakan antara tempat pria dan wanita. Khusus pada hari Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha acara Sedulang Setudung dilakukan setelah Sholat ied. Warga setelah Sholat Ied pulang dulu ke rumah masing-masing mengambil dulang yang sudah disiapkan baru pergi lagi ke masjid.

Susunan acara tradisi Sedulang Setudung umumnya diawali sambutan kepala desa, lalu sambutan panitia pelaksana, ceramah dan pembacaan doa oleh tokoh Agama, kemudian makan.

Sambutan yang disampaikan kepala desa umumnya mengenai hal- hal yang dicapai dan rencana masa depan desa, sedangkan sambutan ketua panitia pembangunan masjid biasanya mengumumkan kelompok warga yang selama ini menghimpun dana peningkatan pembangunan masjid seperti di Desa Gelebak Dalam terdapat 28 kelompok. Setiap anggota kelompok mengumpulkan uang sukarela. Pada tradisi Sedulang Setudung nama-nama penyumbang dan jumlah uang setiap kelompok itu diumumkan. Sementara pembacaan doa dibawakan oleh khatib untuk mendoakan arwah para orang tua, memohon keselamatan bagi keluarga, keselamatan desa dari bencana dan kemakmuran setiap warga masyarakat desa untuk setahun ke depan.

Setelah doa selesai, seluruh masyarakat baik tua maupun muda bersama-sama makan makanan yang dibawa warga menggunakan dulang yang jumlahnya bisa mencapai ratusan dulang. Setelah makan bersama selesai, seluruh masyarakat yang mengikuti tradisi Sedulang

Https:www.academia.edu/37514795/BANYUASIN_MEMUKAU_Melestarikan_Trad isi_Sedulang_Setududng

Pada tanggal 19 Des ember 2019

Setudung ini berjabatan tangan saling maaf-memaafkan, baru kemudian pulang ke rumah masing-masing.

KESIMPULAN

Tradisi Sudalang Setudung adalah tradisi yang berada di Kecamatan Rambutan Kabupatan Banyuasin lebih tepatnya berada di Desa Gelebak Dalam, Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan.

Desa Gelebak Dalam adalah salah satu yang masih melakukan tradisi tersebut.

Tradisi Sudalang Setudung adalah sebuah tradisi yang disebut dengan kegiatan sedekah bersama. Melihat asal usulnya yaitu Kisah adat ini muncul sekitar tahun 1940-an di Desa Gelebak Dalam. Waktu itu para nenek moyang isitrahat kebiasaan masyarakat yang di adakan persedekahan setiap hari- hari besar Islam seperti Isro Mikraj, Nuzul Quran, Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha. Jika sedekahan itu dilaksanakan di rumah masing-masing tentu saja sedikit besat.

Makannya orang-orang dahulu menciptakan adat sedulang setudung agar semua warga apakah dia kaya atau miskin bisa melakukan sedekah hari-hari Islam secara rutin dan bersama-sama di masjid. Masjid dipilih menjadi tempat adalah sebuah pengaruh dalam Islam tesebut, terlebih lagi Islam mempengaruhi tradisi Sudalang Setudung tersebut.

Yang paling khas dalam tradisi Sedulang Setudung ini adalah dulang dan tudung, yang mana dulang adalah sebuah nampan yang berbentuk lingkarang yang lebar, dan lalu isi dengan makanan kemudian di tutup dengan tudung. Dulang dan Tudung ini juga masih yang berbahan kayu. Karena itulah tradisi ini disebut dengan tradisi Sedulang Setudung. Dan warna biru dengan sedikit garis warna merah di setiap ujung tudung yang menghiasin tudung tersebut juga bukan asal asal, warna yang sama berguna memberikan kesan kesamarataan tanpa adanya tingkatan yang membedakan/ yang biasa disebut kasta dalam bermasyarakat.

Untuk makanan apa yang buat atau isi yang ada di tradisi Sudulang Setudung, biasanya isinya tidak dapat disamakan, dikarenakan dulang tersebut sebelum menuju kemasjid telah ditutup, dibuka hingga acara penutup yaitu makan bersama. Dengan tudung yang sama, sehingga sulit untuk membedakan, siapa saja yang menjadi pemiliknya. Karena ini juga berguna agar tidak membebankan setiap kepala keluarga dalam

memenuhi kebutuhannya setiap kemampuan masing masing dengan isi tersebut, inilah yang disebut dengan sedekah bersama dalam tradisi Sedulang Setudung. Tetapi pada umumnya makanan yang sering ditemukan yaitu: nasi gemuk, ayam panggang, dan buah buahan.

DAFTAR PUSTAKA

M. Coomans.. 1987. Manusia Daya: Dahulu Sekarang Masa Depan.

Jakarta: PT Gramedia.

Van Reusen. 1992. Perkembangan Tradisi dan Kebudayaan Masyarakat. Bandung: Tarsito.

Suwaji Bastomi. 1986. Kebudayaan Apresiasi Pendidikan Seni.

Semarang: FKIP.

Raden Gunawan. Banyuasin Memukau: Melestarikan Tradisi Sedulang Setudung. Banyuasin: Dinas Pendidikan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Banyuasin. 2017. diakses dari https:www.academia.edu/35714795/Banyuasin_

Memukau_Melestarikan_Tradisi_Sedulang_Setudung. Pada tanggal 19 Desember 2019.

BAB III

ISLAM DAN BUDAYA LOKAL DI OI, OKI, OKU DAN