• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Islam Dengan Budaya Lokal

Agama yang benar itu bagaikan lampu yang menerangi umat untuk berjalan menuju ke arah kemajuan. Mengamalkan ajaran-ajaran agama adalah petunjuk jalan untuk seluruh umat manusia. Agama adalah ciptaan Allah, maka akan terasa janggal bagi akal sehat, jika sekiranya Allah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk berbuat kejahatan yang dapat menyebabkan mereka terhambat untuk mencapai kehidupan yang layak dan di ridhai-Nya. 56

Kita sadari bahwa agama dapat menjadi sumber moral dan etika serta bersifat absolut, tetapi pada sisi lain juga menjadi sistem kebudayaan, yakni ketika wahyu itu direspon oleh manusia atau mengalami proses transformasi dalam kesadaran dan sistem kognisi manusia. Di sinilah ketika agama (sebagai kebudayaan) difungsikan dalam masyarakat secara nyata maka akan melahirkan realitas yang serba paradoks. Islam tidak pernah membeda-bedakan budaya rendah dan budaya tinggi, budaya kraton dan budaya akar rumput yang

55 Ibid., Moch Syafi‟i, “Makna Tradisi Megengan Bagi Jamaah Masjid Nurul Islam Di Kelurahan Ngagel Rejo Surabaya”,hal.59

56 Ibid., hal. 28

dibedakan adalah tingkat ketakwaannya. Disamping perlu terus menerus memahami Al-Qur‟an dan Hadist secara benar, perlu kiranya umat Islam merintis Cross Cultural Understanding (pemahaman lintas budaya) agar kita dapat lebih memahami budaya bangsa lain. Islam memandang budaya, tradisi/adat yang ada di masyarakat sebagai hal yang memiliki kekuatan hukum.

Seperti dalam salah satu kaidah fiqh yang sering digunakan dalam menjawab berbagai pertanyaan mengenai hukum adat pada masyarakat, yaitu al-„adah al-muhakkamah (adat itu bisa dijadikan patokan hukum). Dari faktor itulah, Islam dalam berbagai bentuk ajaran yang ada didalamnya, menganggap adat-istiadat atau „urf sebagai patner dan elemen yang harus diadopsi secara selektif dan proposional, sehingga bisa dijadikan sebagai salah satu alat penunjang hukum- hukum syara‟, bukan sebagai landasan hukum yuridis yang berdiri sendiri dan akan melahirkan produk hukum baru, akan tetapi ia hanya sebagai suatu ornament untuk melegitimasi hukum-hukum syara‟ sesuai dengan perspektifnya yang tidak bertentangan dengan nash-nash syara‟.

Maka dari itu, para ahli hukum Islam menggunakan dua istilah

urf-adat. Nampak adanya konsep „urf sebagai salah satu dalil dari segi prakteknya, yang disitu jelas ada yang memberlakukannya sebagai salah satu patokan hukum. Kebanyakan antropolog yang mempelajari masyarakat Jawa sependapat bahwa selametan adalah jantungnya Jawa.

Dalam hal ini Geertz memulai uraiannya dengan mengatakan bahwa “di pusat keseluruhan sistem agama Jawa, terdapatlah suatu ritus yang sederhana, formal, jauh dari keramaian dan dramatis: itulah slametan”.

Geertz meneruskan uraian garis besar unsur-unsur yang esensial bagi slametan apa saja, apakah slametan untuk panenan, sunatan atau perayaan Islam. Dalam kebiasaannya, tuan rumah atau pengurus Masjid Nurul Islam menyampaikan sambutan dalam bahasa Jawa halus yang menjelaskan maksud acara tersebut kepada para tamunya. Hal senada juga diungkapkan oleh Andrew Beatty bahwa ia tidak dapat menemukan seorang pun yang menganggap tradisi ini adalah ritus Islami.

Meski tradisi ini mengandung unsur-unsur Islam, kebanyakan orang menganggap bahwa tradisi sangat berciri Jawa dan pra Islam atau bahkan diilhami oleh Hindu. Konsep-konsep Islam disesuaikan dan dalam hal tertentu diberi peringatan yang sepenuhnya berbeda dari yang

dikenal oleh Muslim, atau mungkin juga dikosongkan dari muatan Islam tertentu dengan mengubah pengertiannya menjadi simbol-simbol universal. Ada sebuah cara yng dipandang terbaik untuk mengetahui kemurnian nafas Islami adat dalam ritual, yaitu dengan mengamati perayaan hari besar atau bulan suci Islam.

Dalam tradisi masyarakat Islam di Jawa, megengan dilakukan untuk menyambut datangnya bulan suci ramadhan. Pada kenyataannya, tradisi megengan ini merupakan salah satu bentuk tradisi dan ritual yang dilaksanakan untuk memohon kepada Allah agar diberi kekuatan lahir dan batin dalam menghadapi dan melaksanakan puasa di bulan ramadhan, serta untuk mengirim doa atau mendoakan para leluhur yang telah meninggal dunia. Masyarakat Muslim seperti itu, yang masih betingkah laku seperti tradisi Jawa kuno atau tradisi Hindu-Budha menurut Koentjoroningrat dianggap sebagai masyarakat yang masih setia pada The Javanese Religion (agama Jawa). Sedangkan menurut Clifford Geertz disebut abangan yang dihubungkan dengan sinkritisme.

Ada sebuah pendapat mengatakan bahwa tidak ada kejelasan mengapa bulan Sya‟ban yang dipilih untuk melakukan tradisi ini. Akan tetapi yang jelas, tradisi ini sudah berjalan bertahun-tahun bahkan bisa jadi ratusan tahun yang kemudian menjadi tradisi, dan sampai sekarang mereka tetap menjaga, melestarikan tradisi tersebut. Islam dan kebudayaan memiliki keterkaitan antara yang satu dengan yang lain.

Ajaran Islam memberikan aturan-aturan yang sesuai dengan kehendak Allah SWT, sedangkan kebudayaan adalah realitas keberagaman umat Islam tersebut. Sehingga dapat dikatakan bahwa 103 nyata dari pengalaman ajaran agama Islam itu mampu dilihat dari kebudayaan dan kehidupan nyata para pemeluk agama Islam tersebut.

KESIMPULAN

Tradisi selamatan Megengan dapat meningkatkan kekeluargaan tiap anggota satu dengan anggota yang lainya.

Kekeluargaan disini mengandung banyak manfaat bagi masyarakat. Melalui peringatan atau perayaan itu keterkaitan atau identitas sebagai muslim di ekspresikan melalui simbol- simbol tertentu. Perilaku seperti itu dapat di lihat pada kebanyakan masyarakat di Desa Telang Jaya kecamatan Muara

Telang. Meraka melakukan sebuah tradisi megengan yang biasanya menggunakan sistem selamatan dimasjid desanya.

Seiring berjalanya waktu tradisi megengan sendiri sudah mulai sedikit ditinggalkan dan mengalami perubahan.

Perubahan itu disebabkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi dan pengaruh dari luar (asing). Megengan sebagai sebuah perayaan dan rasa antusias dalam menyambut bulan yang penuh barokah, bulan yang di tunggu-tunggu dan bulan yang di dalamnya terdapat malam

lailatul qodar” yaitu satu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan. Berdasarkan uraian di atas dan mengingat keistimewaan bulan Ramadhan inilah, Jika dilihat perkata yang di maksud dengan tradisi adalah warisan atau norma adat istiadat, kaidah-kaidah, harta-harta. Tetapi tradisi bukan suatu yang tidak dapat diubah. Tradisi justru diperpadukan dengan aneka ragam perbuatan manusia dan diangkat dalam keseluruhnnya. Manusia yang membuatkan ia yang menerima, ia pula yang menolaknya atau mengubahnya. Itulah sebabnya mengapa kebudayaan merupakan cerita perubahan-perubahan manusia yang selalu memberi wujud baru kepada pola-pola kebudayaan yang sudah ada.

DAFTAR PUSTAKA Sumber Buku :

Adi, Dhahana, “Surabaya Punya Cerita”. Jogjakarta : Perum Buana Asrri Village, 2014.

nasyi‟ah, Siti, “Niat Mengabdi Berbuntut Bui”. Jakarta : Pt Elex Media Komputindo, 2017.

Qolbu , Wahyu, “Islam On The Spot”. Jakarta : Fakta agama, 2015 Sumber Non Buku :

Indahsari, Harlinvia Maulitha, “ Megengan : Tradisi Masyarakat Dalam Menyambut Ramadhan Didesa Boro Kecamatan Kedungwaru Kabupaten Tulungagung ”, Simki Pedagogja Vol.

01 No. 04 Tahun (2017)

Syafi‟i, Moch. “Makna Tradisi Megengan Bagi Jamaah Masjid Nurul Islam Di Kelurahan Ngagel Rejo Surabaya”, (Skripsi S1 Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, 2018).

TRADISI RUMPAK-RUMPAKAN ARAB-PALEMBANG

Oleh:

Muhammad Abdullah

Palembang memiliki keindahan yang menakjubkan. Anak-anak sungai musi yang masuk pada sekitar Kota merupakan hal yang menarik dari keindahan pada daerah tersebut, sungai musi yang membelah Kota serta anak-anak sungai di sekitar yang mengalir serta menjadi kebutuhan hidup bagi masyarakat sekitar kota Palembang.

Kota Palembang terpisah menjadi dua bagian yaitu bagian Uluan (Kawasan Seberang Ulu) dan bagian Iliran (Kawasan Seberang Ilir) yang dipisahkan oleh Sungai Musi pada masa Kesultanan Palembang.57 Selain itu kota Palembang memliki berbagai macam etnis dan budaya yaitu etnis Arab, Cina dan India. Pada era Kesultanan Palembang terdapat aturan dalam hal bertempat tinggal terutama bagi etnis-etnis yang dikatagorikan sebagai penduduk datangan seperti Arab dan Cina58. Bagi etnis Cina mereka hanya diperbolehkan tinggal di rumah rakit, rumah rakit adalah rumah terapung yang berada diatas aliran sungai Musi. Sedangkan bagi etnis Arab diperbolehkan tinggal disekitar kawasan Kesultanan Palembang. Hal ini dikarenakan kelompok ini secara religi dianggap memiliki kelebihan dalam pandangan pihak Kesultanan Palembang.

Ada beberapa perkampungan Arab dinamai sesuai nama pendiri yang menjadi marga dalam keturunannya, misalnya di 12 Ulu di Lorong BBC, Lorong Al-Munawar di Kelurahan 13 Ulu, Lorong Al-Hadad, Lorong Al-Habsy dan Lorong Al-Kaaf di Kelurahan 14 Ulu dan Kompleks Assegaf di Kelurahan 16 Ulu. Salah satu hunian tertua warga etnis Arab adalah Kampung Al-Munawar tepatnya di 13 Ulu Palembang. Kampung Arab Al-Munawar merupakan sebuah kampung lama yang berdiri sekitar 250 tahun alau, terletak di kelurahan 13 Ulu.

Warga di kampung ini merupakan keturunan dari Habib Abdurrahman

57 Ki Agoes Mas‟oed, Sedjarah Palembang Moelai sedari Seri-widjaja sampai Kedatangan Balatentara Dai

Nippon” (Palembang: Meroeyama, 1941), hal. 19.

58 Nor Huda, Sejarah Sosial Intelektual Islam di Indonesia (Jakarta:

RajaGrafindo, 2015), hal. 27.

atau dikenal dengan Abdullah Al-Munawar, yaitu seorang saudagar yang datang ke Palembang dari Kota Hadramaut (Yaman Selatan).59

Seluruh penduduk Al-Munawar didominasi oleh keturunan Arab, dan tanpa ada etnis lain yang menetap disana, hal itu terjadi karena terdapat paham yang diyakini oleh masyarakat keturunan Arab bahwa setiap keturunannya harus menikah dengan sesama etnis mereka, atau dibolehkan menikah dengan orang-orang pribumi namun hal itu berlaku pada kaum laki-laki. Jika itu terjadi perkawinan antara wanita Arab dan laki-laki dari etnis lain maka hal tersebut merupakan aib bagi mereka dan merekapun akhirnya dikucilkan dari komunitasnya. Jika terjadi demikian maka wanita Arab ini dengan sendirinya keluar dari kampung karena harus menanggung beban aib tersebut. Sebenarnya hal ini merupakan salah satu bentuk kearifan lokal dari masyarakat keturunan Arab untuk tetap menjaga keberadaan mereka sebagai kelompok yang tergolong kaum minoritas dalam masyarakat. Sistem kekeluargaan yang patrilineal60 menempatkan laki-laki pada posisi sangat penting dalam hal pewarisan dari keturunan sebagai sebuah tradisi yang kuat yang diterapkan dan membuat komunitas keturunan Arab di Indonesia tetap terjaga terus hingga sampai sekarang. Dalam ajaran Islam yang merupakan agama yang mendominasi tanah Timur Tengah seperti Yaman, sistem patrilineal yang juga diterapkan.61 Indonesia adalah negara yang memiliki berbagai keanekaragaman didalamnya, khususnya keanekaragaman budaya dari Sabang hingga Merauke. Banyak sekali Budaya Indonesia yang dijadikan potensi wisata untuk menarik wisatawan lokal maupun internasional untuk berkunjung, mempelajari, dan sekaligus untuk dilesatarikan, namun sayangnya belum semua budaya Indonesia dikenal secara luas, baik dari masyarakat dalam negeri maupun dari segi internasional, salah satunya adalah Budaya “Sanjo” atau dikenal sebagai budaya Rumpak- Rumpakan Arab dari Palembang, Sumatra Selatan.62

59 Aan Suriadi dan Ida Suryani, Kampung al-Munawar 13 Ulu Palembang Sebagai Sumber Pembelajaran Sejarah Lokal, Jurnal Historia,Vol.7 No.1, 2019, hal 46.

60 Patrilineal ialah hal-hal yang mengenai hubungan keturunan melalui garis kerabat pria saja. Lihat https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/patrilineal (diakses tanggal 5 Desember 2019 Pukul 11:03).

61 Ibid., hal 47.

62 Lihat Artikel (Sharlene Sylviana Kumala, Cok Gde Raka Swendra, Hen Dian Yudani, Perancangan Media Ilustrasi Budaya Sanjo Komik Platform Line Webtoon, 2017. hal.2).