TRADISI ZIARAH KUBRO MASYARAKAT DI KOTA PALEMBANG
Oleh:
Akhmad Fikri Renaldi
Kebudayaan merupakan hasil cipta karya dan karsa manusia yang berupa gagasan suatu ide di dalam pikiran manusia.24 Adapun wujud dari kebudayaan manusia bersifat nyata yaitu berupa aktifitas manusia yang melakukan tradisi dan di dalam kelompok masyarakat. Kota Palembang merupakan kota yang memfokuskan pada daerah perdagangan maupun kewirausahaan serta mengandung nilai-nilai keislaman. Masuknya Islam di kota Palembang di bawa oleh para pedagang dari Timur Tengah hingga sampai akhirnya mendirikan suatu kesultanan yaitu Kesultanan Palembang Darussalam pada abad ke-17 sehingga kota Palembang dikenal sebagai pusat daerah perdagangan oleh pedagang dari Timur Tengah dan pusat pembelajaran Islam. Kondisi masyarakat di kota Palembang sangat kental dengan nilai-nilai religius yang merupakan ciri khas pada masyarakat di kota Palembang dan dapat dilihat pada Tradisi ziarah kubro.
Tradisi ziarah kubro dilakukan oleh masyarakat di kampung Arab Palembang, Tradisi ini dilakukan menjelang bulan Ramadhan tepatnya 10 hari terakhir bulan Sya‟ban/10 hari menjelang bulan Ramadhan. Hingga sampai saat ini tradisi ziarah kubro ini masih tetap ada dikarenakan sebuah bentuk kearifan lokal dan memberikan pengaruh dan daya tarik ekonomi bagi daerah sekitarnya sehingga memberikan dampak yang positif bagi perekonomian di kota Palembang.
Islam sudah kuat dan tidak ada kekhawatiran untuk berbuat syirik, Rasulullah SAW membolehkan para sahabatnya untuk melakukan ziarah kubur. Karena ziarah kubur dapat membantu umat Islam untuk mengingat saat kematiannya.
Dijelaskan di dalam hadist (HR. At-Tirmidzi) berziarahlah! Karena perbuatan itu dapat mengingatkan kamu kepada akhirat. Dengan adanya hadits ini maka ziarah kubur itu hukumnya diperbolehkan bagi kaum laki-laki dan kaum perempuan.
Berziarah ke makam para wali adalah ibadah yang disunnahkan. Demikian pula dengan perjalanan ke makam mereka. (Al-Fatawi al-Kubra al-Fiqhiyah, juz II, hal 24).
Ketika berziarah seseorang dianjurkan untuk membaca Al- Qur‟an atau lainya.
Ma‟qil bin Yasar meriwayatkan Rasululah SAW pernah bersabda: Bacalah surat Yasin pada orang-orang yang sudah meninggal di antara kamu lalu doakanlah. (HR Abu Daud) Maka, Ziarah kubur itu memang dianjurkan dalam agama Islam bagi kaum laki-laki dan kaum perempuan, sebab di dalamnya terkandung manfaat yang sangat besar, Baik bagi orang yang telah meninggal dunia maupun orang yang masih hidup dan nantinya berupa pahala. bacaan yang dibacakan di dalam tradisi ziarah kubur yaitu Al-Qur‟an, bagi orang yang berziarah itu sendiri, karena diyakini mengingatkan manusia akan kematian yang akan menjemputnya suatu saat nanti.
Masyarakat di kota Palembang terdiri dari berbagai etnis dan agama yang menjadi satu kesatuan di dalam masyarakat yang rukun dan damai. Di dalam kondisi masyarakat kota palembang yang beragam itu terdapat suatu sistem religi yang dilakukan oleh masyarakat di kampung Arab di kota Palembang dan diwariskan secara turun-temurun hingga sampai saat ini.
Secara harfiah, ziarah kubro berarti ziarah kubur.
Dalam pengertian secara umum yaitu berupa kunjungan ke makam, masjid, Tokoh agama yaitu raja-raja/sultan-sultan beserta keluarganya dan para wali penyebar Agama Islam.
Masyarakat di kota Palembang menyadari dan memahami bahwa besarnya peran para ulama dalam menyebarkan agama Islam yang begitu melekat hingga saat ini. Maka dari itu masyarakat kampung Arab di kota Palembang melaksanakan tradisi ziarah kubro dalam rangka menghormati serta mendoakan para ulama tersebut. Ziarah kubro ini merupakan tradisi masyarakat di kota Palembang dengan mengunjungi makam para ulama dan pendiri kesultanan Palembang Darussalam seminggu menjelang bulan Ramadhan.
Tradisi ziarah kubro mulai dikenal luas ketika Islam di kota palembang berkembang pesat pada abad ke-16 yang ditandainya dengan meningkatnya peran warga keturunan Arab yang menjadi penasihat ataupun guru spiritual raja. Puncaknya terjadi pada awal abad ke 19 palembang yang menjadi pusat komunitas Arab di pulau Sumatera,seperti layaknya Aceh.
Kondisi ini terjadi karena kebijakkan sultan mahmud baddarudin sebagai sultan Palembang Darussalam memberikan ruang bagi komunitas warga keturunan Arab untuk menetap di wilayah Palembang dan menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat lokal.25
Sejak saat itu tradisi Ziarah Kubro mulai menjadi ritual bersama warga keturunan Arab dan warga Palembang. Hal ini terjadi ketika Palembang berada pada masa Kesultanan Palembang Darussalam (1659-1823). Artinya telah terjadi akulturasi budaya Arab dan Palembang seperti dengan adanya pawai diiringi prajurit berpakaian khas Melayu Palembang dan mengunjungi makam pendiri ataupun penguasa Palembang terdahulu. Tradisi ini bukan hanya tradisi keagamaan melainkan juga merupakan tradisi untuk menghormati jasa para ulama ataupun pendiri kesultanan Palembang Darussalam.
Tradisi Ziarah Kubro ini dimaknai sebagai upaya untuk introspeksi diri dan mengingatkan para peserta ziarah akan besarnya peran ulama dan para pemimpin Kesultanan Palembang Darussalam dalam menyebarkan Agama Islam
25 Berg, L. W. C. V. d., 1989, Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara, INIS, Jakarta, hal. 72-77.
hingga pada masanya Palembang dapat menyaingi Aceh sebagai pusat pembelajaran Agama Islam. Palembang pada masa itu mengalami perekonomian yang sangat maju dengan berbekal ekspor lada dan timah sebagai komoditas utama dalam mendorong laju perekonomian.26
Tradisi Ziarah Kubro diyakini hanya ada di Palembang dan tidak ada di daerah lain. Puncak Ziarah Kubro tersebut dilakukan di kompleks pemakaman Kesultanan Palembang Darussalam, khususnya di kampung Arab. Meskipun realitasnya warga keturunan Arab yang menetap dan membentuk suatu komunitas tidak hanya di Kota Palembang, karena faktanya pada daerah lain termasuk Kota Palembang juga terdapat perkampungan warga keturunan Arab. Hal ini tidak lepas pula dari kebijakan Belanda untuk mengantisipasi meningkatnya populasi warga keturunan Arab dengan membangun perkampungan khusus bagi mereka.27
Rangkaian acara pada tradisi Ziarah Kubro sudah dimulai sejak Jumat pagi setelah salat Subuh. Diawali dengan pembacaan Burdah dan Haul di rumah panggung yang telah berusia ratusan tahun, dikenal dengan sebutan Rumah Bari.
Lalu ribuan peziarah itu akan berangkat bersama-sama melakukan ziarah kubur ke pemakaman para ulama dan auliya yang terdapat di kota Palembang. Ziarah ke makam para ulama dan auliya ini berlangsung secara bertahap selama tiga hari berturut-turut. Di hari pertama, para peziarah mengunjungi Gubah Al-Habib Ahmad bin Syech Shahab, tempat sebagian besar kaum alawiyyin dimakamkan dan pemakaman Habib Aqil bin Yahya. Di akhir kegiatan tersebut, para peziarah diharapkan akan mendapatkan ilmu dan teladan dari para ulama dan auliya yang telah mendahului, dan menambah ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam di Indonesia dan mancanegara.
26 Kersten, Carool, 2017, A History of Islam in Indonesia, Edinburgh University Press, Edinburgh, hal. 47.
27 Qurtuby, S. A., 2017, Arabs and "Indo-Arabs" in Indonesia: Historical Dynamics, Social Relations and Contemporary Changes dalam International Journal of Asia Pacific Studies, Vol. 13, No.2, hal. 51.
Jema‟ah dan ulama tersebut kemudian disambut keturunan kesultanan, yakni Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin. Mereka berdoa bersama untuk para ulama, pendiri, dan pemimpin kesultanan terdahulu. Setelah itu, rangkaian kegiatan ditutup dengan makan bersama. Menu yang disajikan antara lain, nasi minyak dengan daging kambing bakar. Kegiatan ini juga sudah menjadi agenda wisata religi dan wisata budaya di Kota Palembang. Tidak hanya menarik peziarah dari Kota Palembang saja, para peziarah dari Pulau Jawa, Kalimantan, dan daerah lain di Indonesia juga ikut memeriahkan. Bahkan para tokoh ulama dan tamu dari mancanegara juga ikut meramaikan, seperti dari Malaysia, Singapura, Thailand, Brunai Darussalam, Kuwait, Yaman, serta Arab Saudi.
Bukan tanpa alasan ketika tradisi Ziarah Kubro pada masyarakat Palembang dilaksanakan menjelang bulan suci Ramadan. Tradisi ini bagi masyarakat Kota Palembang merupakan sarana untuk mengingat kembali jasa para ulama serta media untuk mendoakan para ulama tersebut. Selain itu, tradisi Ziarah Kubro juga merupakan wujud syukur kepada Sang Pencipta yang kemudian dilakukan melalui berbagai doa yang dilantunkan.
Melalui tradisi Ziarah Kubro, kebersamaan umat Islam terus terpelihara dan terjalin dengan erat. Masyarakat yang melaksanakan tradisi ini berbondong-bondong berjalan kaki dari jarak yang jauh dengan harapan agar Kota Palembang khususnya dan kehidupan mereka lebih diberkahi lagi serta dijauhkan dari segala musibah yang akan menimpa kehidupannya. Selain beberapa hal yang sudah disebutkan di atas, tradisi Ziarah Kubro juga sekaligus menjadi ajang introspeksi diri terhadap segala perbuatan yang telah dilakukan dalam satu tahun yang telah lalu.
Ziarah Kubro merupakan tradisi sebagian masyarakat keturunan Arab Yaman yang tinggal di kota Palembang, yaitu mengunjungi makam para ulama satu minggu sebelum datangnya bulan suci Ramadan. Ziarah Kubro kali ini berlangsung selama tiga hari berturut-turut, mulai jumat.
Foto kegiatan tradisi ziarah kubro di Kota Palembang
Sumber :Palembang.tribunnews.com.
Dalam pelaksanaan ziarah yang rutin dilakukan setiap tahunnya itu, para jemaah melakukan kegiatan sehabis salat subuh hingga menjelang malam hari. Makam yang dikunjungi, antara lain, kompleks pemakaman Al-Habib Ahmad bin Syech Shabab, pemakaman Auliya dan Habaib Telaga Sewidak, makam Babus Salam As-Seggaf, dan berakhir di pemakaman Kesultanan Palembang Darussalam Kawah Tengkurep.
Beberapa fakta dalam pelaksanaan kegiatan ziarah kubro di Palembang dapat dijelaskan sebagai berikut :
1) Ziarah Kubro dipercaya hanya ada di kota Palembang.
Hingga hari ini masyarakat di kota Palembang masih mempercayai pelaksanaan Ziarah Kubro. Ini dibuktikan dengan rangkaian kegiatan yang salah satunya adalah mengunjungi makam-makam Kesultanan Palembang. Barisan para jemaah yang melakukan parade kegiatan ziarah kubro pada hari Jum‟at dengan membawa bendera beraksara Arab.
2) Ziarah kubro ditetapkan sebagai wisata religi.
Ziarah Kubro yang rutin dilaksanakan setiap tahun, mampu menarik perhatian para wisatawan baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Karena hal ini jugalah Kementerian Pariwisata RI menetapkan kegiatan tersebut sebagai wisata religi yang hanya dimiliki Kota Palembang.
Para Jemaah membawa bendera beraksara Arab yang dibawa dalam arak-arakan menuju kompleks Pemakaman Gubah.
3) Ziarah Kubro hanya dilakukan oleh kaum laki-laki.
Kegiatan Ziarah Kubro yang dilakukan setiap tahun satu minggu menjelang bulan suci Ramadan hanya dilakukan untuk kaum pria, baik anak-anak maupun orang dewasa. Sedangkan kaum perempuan hanya bertugas menyediakan makanan dan minuman di setiap sisi jalan yang dilalui oleh para peziarah.
4) Kerap didatangi oleh para ulama dari Yaman.
Kegiatan Ziarah Kubro selalu menjadi daya tarik tersendiri tak hanya bagi warga Kota Palembang melainkan warga yang tinggal di luar kota. Bahkan, kegiatan ini juga masih sering didatangi oleh ulama dari berbagai negara mulai dari Malaysia hingga Yaman.
5) Ziarah Kubro merupakan tradisi kuno zaman Kesultanan Palembang Darussalam.
Ziarah Kubro merupakan tradisi yang dilakukan sejak zaman Kesultanan Palembang Darussalam. Namun saat itu kegiatan tersebut hanya dilakukan oleh kerabat kesultanan dan baru terbuka untuk umum pada tahun 1970-an. Pada saat itu kegiatan hanya dilakukan selama satu hari.
B. Nilai-nilai yang terkandung dalam Tradisi Ziarah Kubro