• Tidak ada hasil yang ditemukan

Setelah rumah dibangun telah jadi maka rumah tersebut siap ditempati, tetapi sebelum ditempati atau masyarakat Palembang

mengenalnya dengan nama sebelum rumah ditiduri oleh yang punya rumah maka terdapatlah lagi berbagai syarat yang dilakukan yaitu selametan yang dilakukan pada malam hari dan dihadiri oleh berbagai ulama dan mengundang warga sekampung untuk datang ke rumah baru dengan maksud untuk mengetahui bahwa telah ada rumah baru yang didirikan dan tahu siapa pemilik rumah tersebut dengan harapan sang pemilik rumah untuk di do‟akan dan bersilaturahmi mengenalkan keluarga yang akan menempati rumah baru tersebut.95

Di dalam kebudayaan orang Jawa, Slametan merupakan versi Jawa dari upacara keagamaan yang paling umum di dunia. Upacara ini melambangkan kesatuan mistis dan sosial mereka yang ikut serta di dalamnya misalnya tetangga, rekan sekerja, teman dekat, sanak keluarga, arwah setempat, nenek moyang yang sudah mati dan dewa–

dewa yang hampir terlupakan. Semuanya duduk bersama mengelilingi satu meja dan oleh karena itu terikat kedalam suatu kelompok sosial tertentu yang diwajibkan untuk tolong–menolong dan bekerja sama.

Slametan dapat diadakan untuk memenuhi semua hajat orang sehubungan dengan suatu kejadian yang sedang diperingati.96 Tetapi setelah acara ini selesai maka belum diperbolehkan untuk ditinggali orang yang punya rumah dan masyarakat Palembang memakai kebiasaan bahwa sebelum rumah ditiduri yang punya rumah maka harus ditinggali janda yang telah telah lama ditinggali suaminya sebanyak angka ganjil yaitu 3 orang janda dan 7 orang janda yang harus tinggal di rumah yang telah baru selesai di selametan dan segala persiapan yang diperlukan oleh sang janda telah dipersiapkan dengan matang oleh sang pemilik rumah. Biasanya mereka akan tidur paling sedikit hanya semalam saja dan paling banyak selama 7 malam berturut, kebiasaan ini bermakna untuk menghargai para janda yang ditinggali oleh suami yang biasanya suamilah yang bekerja dan menafkahi mereka di dalam rumah tangganya, menghibur para janda untuk tetap bersyukur atas karunia Allah yang telah diberikan. Barulah ketika sang janda pamit

95 Wawancara dengan Ibu Suryati pada tanggal 9 Desember 2019 di Kec.

Gandus Palembang.

96 “Tradisi Selametan Pendirian Rumah” Diakses melalui https://sipadu.isi- ska.ac.id/mhsw/laporan/ pada tanggal 10 Desember 2019 pukul 23.00 WIB.

pulang, yang pemilik rumah akan segera menempati rumah mereka yang telah dilalui beberapa proses.97

Konsep kearifan lokal atau kearifan tradisional adalah pengetahuan yang khas milik suatu masyarakat atau budaya tertentu yang telah berkembang lama sebagai hasil dari proses hubungan timbal- balik antara masyarakat dengan lingkungannya. Jadi, kearifan lokal berakar dari sistem pengetahuan dan pengelolaan lokal atau tradisional.

Oleh karena itu, konsep kearifan lokal atau tradisional mengakar pada tradisi masyarakat setempat.98 Tradisi siklus hidup dalam betegak rumah adat Palembang merupakan kearifan lokal yag patut kita lestarian dan tentunya menghargai apa yang diyakini oleh leluhur bangsa kita, islam masuk dengan nilai yang dimasukkan dalam budaya lokal ini, unsur sesajen diubah menjadi makanan yang disantap bersama dan merupakan suatu rasa syukur kita terhadap apa yang diberikan Allah kepada hambanya, dan salingnya menjaga ukhuwah islamiyah, tali persaudaraan islam yang dijaga dengan sifat saling membantu, bergotong royong, dan mendo‟akan menjadi nilai yang dimasukkan kedalam setiap budaya yang telah ada sejak ratusan tahun bahkan ribuan tahun yang lalu. Karenanya islam hadir dengan berbagai cara yang secara damai hadir ditengah-tengah kita masyarakat yang mempercayai sesuatu hal.

Kearifan lokal terbentuk sebagai keunggulan budaya masyarakat setempat maupun kondisi geografis dalam arti luas. Meskipun bernilai lokal tetapi nilai yang terkandung di dalamnya dianggap sangat universal. Dengan demikian, sistem pengetahuan lokal masyarakat tersebut dapat diintegrasikan dalam analisis risiko lingkungan dan mitigasi bencana alam berlandaskan kajian ilmu pengetahuan atau pandangan etik.99

Di samping itu baik properti (peralatan yang digunakan) maupun prosesi yang dilakukan, sarat akan simbol-simbol yang sesungguhnya menyimpan banyak makna berupa pesan moral,

97 Wawancara dengan Sari Oktarini pada tanggal 13 Desember 2019 di Ke.

Gandus Palembang.

98 Rosyadi, Tradisi Membangun Rumah Dalam Kajian Kearifan Lokal (Studi Kasus Pada Masyarakat Adat Kampung Dukuh), Jurnal Patanjala Vol. 7 No. 3 September 2015, hal. 428.

99 Ibid., Rosyadi, Tradisi Membangun Rumah Dalam Kajian Kearifan Lokal (Studi Kasus Pada Masyarakat Adat Kampung Dukuh), hal. 429.

khususnya nilai-nilai pendidikan Islam. Pesan moral atau nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam upacara adat pendirian dan pindah rumah tersebut perlu untuk dieksplorasi dan disampaikan ke publik agar dapat dipahami dan dimengerti, baik oleh yang punya rumah maupun masyarakat dalam arti luas. Dengan demikian diharapkan bagi si pemilik rumah dapat menjadikannya sebagai semangat hidup untuk berumah tangga, dan bagi masyarakatselain untuk terus menghidupkan tradisi lokal juga akan memiliki sikap yang arif (bijak) dalam berkehidupan di tengah-tengah masyarakat, terutama dalam memandang dan memahami tradisi yang berbeda, khususnya tradisi masyarakat Melayu ketika mendirikan dan pindah rumah.100

Dengan seiring zaman yang semakin modern dan praktis maka tradisi dalam siklus hidup betegak rumah adat Palembang semakin jarang terlihat dan tak ayal mengesampingkan ajaran islam dalam tata cara menempati rumah baru. Masyarakatlah yang bisa merubah kebiasaan ini menjadi langk dan bahkan hilang ditelan zaman, akulturasi antara suku Melayu dan Jawa yang menghadirkan nilai Islam didalamnya harus hilang dalam kemodernisasi hidup dan sistem sosial akan tak terlihat. Upaya masyarakat yang menghargai tradisi ini melestarikannya dari generasi ke generasi agar tak hilang begitu saja, banyak nilai moral yang diajarkan pada tradisi ini. Keberagaman budaya yang membuat Indonesia bersatu.

KESIMPULAN

Di samping itu baik properti (peralatan yang digunakan) maupun prosesi yang dilakukan, sarat akan simbol-simbol yang sesungguhnya menyimpan banyak makna berupa pesan moral, khususnya nilai-nilai pendidikan Islam. Pesan moral atau nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam upacara adat pendirian dan pindah rumah tersebut perlu untuk dieksplorasi dan disampaikan ke publik agar dapat dipahami dan dimengerti, baik oleh yang punya rumah maupun masyarakat dalam arti luas. Dengan demikian diharapkan bagi si pemilik rumah dapat menjadikannya sebagai semangat hidup untuk berumah tangga, dan bagi masyarakatselain untuk terus menghidupkan tradisi lokal juga akan memiliki sikap yang

100 Ibid,. Moh. Haitami Salim, Kontribusi Upacara Adat Mendirikan Dan Pindah Rumah Terhadap Nilai Pendidikan Islam, hlm. 335.

arif (bijak) dalam berkehidupan di tengah-tengah masyarakat, terutama dalam memandang dan memahami tradisi yang berbeda, khususnya tradisi masyarakat Melayu ketika mendirikan dan pindah rumah.

Dengan seiring zaman yang semakin modern dan praktis maka tradisi dalam siklus hidup betegak rumah adat Palembang semakin jarang terlihat dan tak ayal mengesampingkan ajaran islam dalam tata cara menempati rumah baru. Masyarakatlah yang bisa merubah kebiasaan ini menjadi langk dan bahkan hilang ditelan zaman, akulturasi antara suku Melayu dan Jawa yang menghadirkan nilai Islam didalamnya harus hilang dalam kemodernisasi hidup dan sistem sosial akan tak terlihat. Upaya masyarakat yang menghargai tradisi ini melestarikannya dari generasi ke generasi agar tak hilang begitu saja, banyak nilai moral yang diajarkan pada tradisi ini. Keberagaman budaya yang membuat Indonesia bersatu.

DAFTAR PUSTAKA

Anggraini, Maya. Dkk. Persepsi Masyarakat Kelurahan 26 Ilir Palembang Terhadap Nilai-Nilai Suap-Suapan Dan Cacap- Cacapan Dalam Upacara Adat Perkawinan Palembang. Jurnal Bhinneka Tunggal Ika. Volume 4, Nomor 1, November 2017.

Budiharjo, Eko. Percikan Masalah Arsitektur, Perumahan, Perkotaan.

Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1987.

Budhisantoso, Subur, Term of Reference Perekaman Upacara Tradisional. Jakarta. Depdikbud, 1990.

Koentjaraningrat. Pengantar Antropologi II. Jakarta: Rineka Cipta, 2005.

Rosyadi, Tradisi Membangun Rumah Dalam Kajian Kearifan Lokal (Studi Kasus Pada Masyarakat Adat Kampung Dukuh), Jurnal Patanjala Vol. 7 No. 3 September 2015,

Rostiyati, Ani. Tipologi Rumah Tradisional Kampng Wana Di Lampung Timur, jurnal Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung, Vol. 5 No.3 September 2013.

Suryanegara, Erwan. Dkk. Ragam Hias di Sumatra Selatan, Palembang:

Dinas Pendidikan Sumatra Selatan , 2009.

Sartini. Menggali Kearifan Lokal Nusantara Sebuah Kajian Filsafati, Jurnal Filsafat, Jilid 37, Nomor 2, Agustus 2004.

Soerjono Soekanto, Sosiologi - Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1990.

Salim, Moh. Haitam. Kontribusi Upacara Adat Mendirikan Dan Pindah Rumah Terhadap Nilai Pendidikan Islam, jurnal Walisongo, Volume 21, Nomor 2, November 2013.

Zairin Zain dan Indra Wahyu Fajar, Tahapan Konstruksi Rumah Tradisonal Suku Melayu Di Kota Sambas Kalimantan Barat, jurnal Langkau Betang, Vol. 1/No. 1/2014.

“Tradisi Selametan Pendirian Rumah” Diakses melalui https://sipadu.isi-ska.ac.id/mhsw/laporan/pada tanggal10 Desember 2019 pukul 23.00 WIB.

Sumber Wawancara:

Wawancara dengan Ibu Suryati pada tanggal 9 Desember 2019 di Kec.

Gandus Palembang.

Wawancara dengan Sari Oktarini pada tanggal 13 Desember 2019 di Kec. Gandus Palembang.

Wawancara dengan Bapak Doni, pada tanggal 11 Desember 2019 di Kec. Gandus Palembang.

Wawancara dengan Bapak Mgs. Arsyad pada tanggal 9 Desember 2019 di Kec. Gandus Palembang

TRADISI NGOBENG DAN NGIDANG DI KOTA PALEMBANG

Oleh:

Aldy Hidayat Pratama

Kota Palembang merupakan daerah perkotaan yang sedang berkembang sesuai dengan fungsinya sebagai ibu kota Sumatra Selatan dan menjadi pusat perkotaan dan pusat pemerintahan daerah. Seiring dengan perkembangan pada umumnya, terutama perkembangan daerah pemukiman dan pusat perekonomian, kota Palembang juga mengalami permasalahan yang komplek seperti daerah berkembang lainnya yaitu masalah drainase. Keragaman penduduk juga menimbulkan perbedaannya perilaku yang ada pada masyarakat terhadap sarana dan prasarana umum.

Kota Palembang ini juga terdapat banyak tradisi budaya yang masih kental untuk di kembangkan atau dilestarikan. Dengan perkembangannya zaman budaya-budaya Palembang terasa sudah hilang atau tidak banyak dikembangkan lagi karena faktor zaman yang mempengaruhi dalam budaya Palembang yang kental itu.

Salah satu nya pembahasan yang kami angkat ini mengenai Tradisi Ngobeng dan Ngidang di Kota Palembang. Tradisi ini sangat menarik sekali dan perlu dikaji dengan baik untuk penelitian yang kami telitikan. Karena Tradisi ini unik banyak unsur-unsur budaya yang terkandung dalam Tradisi Ngobeng dan Ngidang ini.101