BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN
B. Model Bimbingan dan Konseling Islam Pada Anak
1. Bimbingan Kelompok
Bimbingan kelompok merupakan upaya mengelompokan anak- anak korban untuk saling mengenal, menyapa agar anak mau terbuka akan masalah yang dihadapi, dan memperoleh proses bentuk
51Achmad Farid, “Model Bimbingan Konseling Islam Anwar Sutoyo dalam Mengatasi Kenakalan Remaja”, konseling religi, vol. 6, no. 2, (2015), 386.
52Achmad Farid, “Model Bimbingan Konseling Islam Anwar Sutoyo dalam Mengatasi Kenakalan Remaja”, konseling religi, vol. 6, no. 2, (2015), 386.
46
bimbingan kelomok yang di padukan dengan bimbingan islami yaitu pengajian di Tempat Rehabilitasi Sementara Korban.
Pengajian yang dimaksud adalah pengajian yang dilakukan di hari Jumat yang dimana dipimpin langsung oleh pembimbing keagamaannya yang dimana dalam pengajian ini terdapat kegiatan ceramah, bimbingan Keagamaan agar anak-anak mampu mengenal agama, dan membaca Alqur’an yang disampaikan secara langsung di hadapan anak-anak Penerima manfaat atau korban trauma pelecehan seksual.
Pengajian berisi tentang dimana pembimbing memberikan siraman rohani atau ceramah kepada anak-anak korban yang bertema tentang bagaimana akhlak dan tingkah laku yg baik, esensi rukun iman dan islam dan penerapan nya, belajar melindungi diri sendiri dari yang bukan mahromnya, belajar merawat kebersihan diri, dan senantiasa menjaga hubungan antar sesama manusia. Tidak ketinggalan pula dalam pengajian tersebut anak-anak diberikan arahan tentang adab (budi pekerti), tata cara bergaul baik dengan orang tua, teman maupun orang yang tidak dikenal.
Dalam sebuah kitab Bidayatul Hidayah dijelaskan mengenai tata cara bergaul dengan orang yang tidak dikenal di antaranya bersikap sopan santun, bersikap ramah dan menjaga jarak jika orang tersebut adalah lawan jenis.53 Bimbingan agama ini diterapkan anak dapat belajar bertahap mengamalkan dan dapat mengambil beberapa manfaat melalui bimbingan agama. Kegiatan keagamaan ini dilaksanakan 3 kali dalam satu minggu yakni pada hari Senin, Kamis, dan jumat yang dilakukan di Musholla. Salah satu yang diungkapkan oleh ibu Tien Amalia, S.Pd pembimbing LPA Lombok Utara sebagai berikut:
“Saya juga selain melakukan pengajian saya juga mengajarkan mereka bagaimana cara mendekatkan diri kepada Allah, karena rata-rata anak-anak yang mengalami
53Abu Hamid Al-Ghozali, Bidayatul Hidayah, terj. Fadlil Sa’id An-Nawawi, (Surabaya: Al-Hidayah, 1418), hal. 188.
47
trauma akibat pelecehan seksual ini masih dibawah umur, jadi selain saya mengadakan pengajian yaitu siraman rohani dan membaca Al-Qur’an dengan bersama-sama,saya juga memberikan pelajaran bagaimana cara agar kita mampu mendekatkan diri pada allah swt, agar anak-anak ketika ia mengingat masalahnya dia mampu mengatasinya sendiri. Selain itu tata cara bergaul dan bersosialisasi juga diajarkan dalam bimbingan ini mengingat kita tau bahwa anak yang trauma akan merasa introvert dengan sekitar bahkan ada yang dari mereka masih merasa takut dan belum bisa welcome terutama dengan orang yang belum dikenal”.
Dari hasil wawancara di atas kegiatan bimbingan agama ini kami selaku pembina memberikan arahan ilmu agama yang bertujuan untuk membantu anak-anak korban belajar mengamalkan ilmu agama secara bertahap dan diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari. Mereka bisa menjaga diri dari orang-orang yang mau berbuat jahat bahkan bagaimana tingkah laku yg baik dalam pergaulan sehari-hari dan supaya mereka semakin taat mendekat kan diri kepada Allah SWT dan Rasul-nya.”54
Dari observasi yang peneliti lakukan, ibu Tien Amalia, S,Pd selaku pembimbing menjelaskan secara detail tentang tujuan dari bimbingan agama Islam tersebut. Dari penjelasan ibu Tien yang sangat antusias menunjukkan bahwa bimbingan agama memang lebih dibutuhkan bagi mereka korban pelecehan seksual. Asupan nilai-nilai agama lebih mereka butuhkan untuk mengobati trauma yang mereka alami. Selain itu melalui bimbingan agama mereka juga dapat pencerahan atas berbagai persoalan yang selama ini mereka tanggung.
Adapun hasil wawancara peneliti dengan salah satu anak penerima manfaat bimbingan berinisial ESL,
“mengungkapkan saat pengajian kami sangat antusias mendengarkan karena diselingi dengan penyampaian yang
54Tien Amalia, S.Pd (pembina), Wawancara, Tanggal 2 Maret 2022
48
sangat asik karena adanya pengajian ini menambah ilmu tauladan kami diajarkan mengaji dan bagaimana gerakan sholat yang benar”55
Sementara hasil wawancara dengan penerima manfaat bimbinganyang ber inisial ARB,
“mengungkapkan saat melakukan kegiatan pengajian, kami merasa senang karena diikutkan orang tua juga dalam kegiatan tersebut. Sehingga kami merasakan kehadiran dan perhatian orang tua”56
Akan tetapi dalam selingan wawancara tersebut ARB juga mengungkapkan kesulitannya dalam mengikuti bimbingan agama:
“tetapi saya terkadang kurang memahami dalam mengikuti bimbingan konseling agama ini terlebih pada kegiatan mengaji. Saya masih kesulitan mengeja setiap huruf hijaiyah”.57
Dari hasil jawaban wawancara di atas peneliti menemukan salah satu cara yang bagus untuk di terapkan yaitu kegiatan pengajian yang diterapkan oleh LPA Lombok Utara sebagai mana falam membimbing akhlak yang baik harus secara perlahan dan istiqomah. Anak pun akan sadar atas esensi hidup nya dan bisa sedikit melupakan kejadian masa lalu yang dialaminya.
Pembina juga menyesuaikan dalam memberikan materi ceramah sesuai dengan keadaan psikologis anak, tidak lain tujuan akhirnya untuk membentuk akhlak anak yang terpuji.
Bentuk bimbingan ini dengan kelompok ada kontak ahli bersama dengan sekelompok klien yang agak besar, mereka mendengarkan ceramah, ikut aktif diskusi, serta menggunakan
55ESL (korban) , Wawancara, Tanggal 3 Maret 2022
56ARB (korban) , Wawancara, Tanggal 3 Maret 2022
57 ARB (korban) , Wawancara, Tanggal 3 Maret 2022
49
kesempatan untuk tanya jawab seputar Islam diselingi dengan sirahman rohani.
Pada bimbingan kelompok yang lain juga berupa menghafal surat-surat pendek dan artinya ini juga dilakukan sekali seminggu disela-sela kegiatan pengajian di hari jumat, Dengan adanya kegiatan menghafal surat-surat pendek dan artinya anak-anak bisa menghafal dan ini juga kegiatan ketika dia ada di Musholla seperti di ungkapkan oleh Pembina Agama dan Ibu Nurhayati, S.Pd :
“kita mengadakan kegiatan menghafal surat-surat pendek dan artinya ini dengan cara berkelompok mereka saling menyimak satu sama lain, karena anak-anak disini juga senang kegiatan menghafal karena nantinya akan menjadi bekal setelah mereka keluar dari tempat rehabilitasi.
Mereka juga akan diberikan hadiah apabila sudah menghafal surat-surat tertentu sehingga memotivasikan mereka dalam menghafal”58
Dari hasil wawancara di atas peneliti dapat simpulkan bahwa dengan adanya kegiatan ini anak-anak bisa menjadikan bekal ketika mereka selesai rehabilitas dan dapat mendekatkan diri karena mereka juga tahu apa arti dari surat-surat pendek yang mereka sudah hafal dan di Muroja’ahkan ketika mereka sudah di asrama, dan dengan murojaah itu Anak-anak bisa menjadikan kegiatan di musholla. Berdasarkan pengamatan peneliti terhadap penuturan Ibu Nurhayati melalui ekspresi dan gestur yang ditunjukkan menggambarkan bahwa kegiatan menghafal surat- surat pendek tersebut memang benar-benar memotivasi anak- anak untuk memperdalam ilmu agama.
Adapun hasil wawancara peneliti dengan anak penerima bimbingan di LPA Lombok Utara yang ber inisial ARB mengatakan,
58Nurhayati, S.Pd (Pembina), Wawancara, Tanggal 2 Maret 2022
50
“kami merasakan adanya orientasi hati kami ketika menghafal Al-Qur’an beserta artinya. Karena setiap arti dari Al-Qur’an yang kami baca dan hafal memiliki kisah- kisah yang bagus”
Penerima bimbingan berinisial ZAA juga mengungkapkan,
“saya kurang bisa menghafal Al-Qur’an karena pengaruh Gadjet, dan juga tidak adanya bimbingan atau disuruh dari orang tua. Akan tetapi saya merasa lebih tenang ketika membaca dan menghafal Al-Qur’an”.59
Dari hasil wawancara di atas peneliti dapat simpulkan bahwa dengan adanya kegiatan ini anak-anak bisa menjadikan bekal ketika mereka selesai rehabilitas dan dapat mendekatkan diri karena mereka juga tahu apa arti dari surat-surat pendek yang mereka sudah hafal dan di Muroja’ahkan ketika mereka sudah di asrama, dan dengan murojaah itu anak-anak bisa menjadikan kegiatan di Musholla. Namun diikuti dengan bimbingan dan dukungan orang tua agar setiap timbul rasa malas anak, orang tua bisa memberikan motivasi dan semangat.
Adapun dari hasil observasi saat melakukan wawancara dengan anak penerima bimbingan anak terlihat kurang menyukai bimbingan ini terlihat dari gerakan yang seperti memanyunkan bibirnya saat disuruh menghafal.
Jadi bimbingan menghafal Qur’an ini peneliti rasa kurang disukai oleh anak-anak korban di lembaga perlindungan anak Lombok Utara.