• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab V Pengawasan Perbankan

5. Jaringan Kantor dan Kelembagaan Perbankan

5.3 BPR

5.3.1 Perizinan

Pada triwulan II-2017, terdapat sembilan BPR dalam pengawasan khusus dan dua pencabutan izin usaha BPR yang telah diselesaikan. Adapun dua pencabutan izin usaha dilakukan terhadap PT BPR Triharta Indah dan PT BPR Indomitra Mega Kapital

TW I TW II Pendirian BPR - - Merger BPR - - Konsolidasi BPR - - BPR dalam Pengawasan Khusus 12 9 Pencabutan Izin Usaha 3 2 Konversi Syariah - -

Total 14 11 Perijinan BPR 2017

Lulus Tidak

Lulus Total Lulus Tidak Lulus Total

Direksi 124 34 158 203 43 246

Komisaris 113 18 131 86 12 98

PSP 22 0 22 18 0 18

Pengurus 1 1 2 0 0 0

Jumlah 260 53 313 307 55 362

TW II 2017

New Entry TW I

pada PT BPR Triharta Indah dikarenakan adanya fraud yang dilakukan oleh pengurus BPR, sementara penutupan pada PT BPR Indomitra Mega Kapital dikarenakan pengelolaan manajemen BPR yang tidak berjalan dengan baik.

Tabel 46 Perizinan BPR

Sumber: OJK

5.3.2 Jaringan Kantor

Jumlah BPR pada triwulan II-2017 berkurang 11 dibandingkan triwulan sebelumnya menjadi 1.619 BPR. Jumlah jaringan kantor dari 1.619 BPR tersebut bertambah 45 kantor dibandingkan triwulan sebelumnya dari 6.110 menjadi 6.155 jaringan kantor.

Penyebaran jaringan kantor pada lima wilayah di Indonesia masih belum merata, yaitu masih terpusat di wilayah Jawa (74,97% atau 4.616 kantor), diikuti Sumatera (11,74% atau 723 kantor), Bali-NTB-NTT (7,24% atau 446 kantor), Sulampua (3,98%

atau 245 kantor), dan Kalimantan (2,06%

atau 127 kantor).

Grafik 32 Jaringan Kantor BPR

Sumber: OJK, Juni 2017

5.3.3 Uji Kemampuan dan Kepatutan (New Entry)

Pada triwulan II-2017, telah dilakukan FPT New Entry34 kepada 362 calon pengurus dan PSP BPR dengan hasil terdapat 307 calon Pengurus/PSP BPR yang mendapatkan persetujuan untuk menjadi Direksi, Komisaris dan PSP, serta 55 calon yang ditolak. Jumlah calon pengurus dan PSP BPR yang lulus tersebut meningkat sebesar 18%

dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.

Tabel 47 Daftar Hasil Fit and Proper Test New Entry BPR

Sumber: OJK

34 Fit and Proper New Entry adalah Uji Kemampuan dan Kepatutan yang dilakukan bagi Calon Pengurus baru (Pemegang Saham, Direksi, Dewan Komisaris) yang mengajukan permohonan untuk pertama kali. Ketentuan ini diatur dalam POJK Nomor 27/POJK.03/2016 tentang Penilaian Kemampuan dan Kepatutan Bagi Pihak Utama Lembaga Jasa Keuangan. Dengan ketentuan

pelaksanaan pada SEOJK Nomor

39/SEOJK.03/2016 tentang Penilaian Kemampuan dan Kepatutan Bagi Calon Pemegang Saham Pengendali, Calon Anggota Direksi, dan Calon Anggota Dewan Komisaris Bank.

Halaman ini sengaja dikosongkan

Koordinasi Antar

Lembaga

Halaman ini sengaja dikosongkan

Bab VI

Koordinasi Antar Lembaga

Dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan, dilakukan koordinasi dengan lembaga- lembaga terkait baik secara bilateral maupun melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Selain itu, OJK juga berkoordinasi dengan pemerintah dan lembaga terkait untuk meningkatkan fungsi pengawasan dan pengembangan industri perbankan.

1. Koordinasi dalam rangka Stabilitas Sistem Keuangan

1.1 Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK)

Pada 26 April 2017, telah dilaksanakan rapat berkala KSSK yang antara lain membahas:

a. Asesmen stabilitas sistem keuangan pada triwulan I-2017;

b. Implementasi Undang-Undang Nomor 9 tahun 2016 tentang Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan (UU PPKSK) antara lain terkait perkembangan penyusunan peraturan pelaksana UU PPKSK serta hasil pemutakhiran daftar Bank Sistemik; dan c. Laporan Pelaksanaan Financial Sector

Assessment Program (FSAP).

Berdasarkan penilaian KSSK dengan mempertimbangkan perkembangan moneter, fiskal, makroprudensial, sistem pembayaran, pasar modal, pasar Surat Berharga Negara (SBN), perbankan, lembaga keuangan non-bank, dan penjaminan simpanan, kondisi Stabilitas Sistem Keuangan triwulan I-2017 dalam kondisi normal.

Selanjutnya, stabilitas sistem keuangan diperkirakan masih akan terjaga seiring optimisme IMF yang melakukan revisi ke atas pertumbuhan ekonomi global serta

meredanya kekhawatiran atas tekanan politik di Uni Eropa pasca hasil pemilihan presiden Perancis tahap pertama. Namun demikian, masih terdapat potensi risiko eksternal maupun internal yang perlu dicermati.

Selain itu, Rapat KSSK juga membahas beberapa topik terkait implementasi UU PPKSK, antara lain:

a. Sebagian besar peraturan pelaksanaan UU PPKSK telah selesai disusun dan diterbitkan, namun demikian terdapat rancangan peraturan yang masih dalam proses pembahasan harmonisasi, yaitu Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Besaran Bagian Premi untuk Pendanaan Program Restrukturisasi Perbankan (PRP). Terkait peraturan pelaksanaan UU PPKSK, OJK telah menerbitkan beberapa ketentuan, yaitu:

 POJK tentang Penetapan Status dan Tindak Lanjut Pengawasan Bank Umum yang memuat aturan

mengenai penanganan

permasalahan bank, baik penanganan terhadap bank sistemik maupun penanganan terhadap bank selain bank sistemik. Dalam ketentuan ini diatur bahwa status pengawasan bank terdiri dari 3 (tiga)

tahap, yaitu pengawasan normal, pengawasan intensif, dan pengawasan khusus.

 POJK tentang Bank Perantara yang memuat aturan mengenai prosedur pendirian bank perantara, mulai dari proses pendirian, operasional, dan pengakhiran Bank Perantara. Bank Perantara hanya dapat didirikan dan dimiliki oleh LPS.

 POJK tentang Rencana Aksi (Recovery Plan) bagi Bank Sistemik yang memuat aturan mengenai kewajiban bank sistemik untuk mempersiapkan rencana dalam rangka mencegah dan mengatasi permasalahan keuangan yang mungkin terjadi di Bank Sistemik dengan cara menyusun suatu Rencana Aksi (Recovery Plan). Salah satu hal penting yang perlu dicatat dari ketentuan ini adalah adanya aturan agar dalam Rencana Aksi (Recovery Plan) memuat kewajiban pemegang saham pengendali dan/atau pihak lain untuk menambah modal bank dan mengubah jenis utang tertentu yang dapat di konversi menjadi modal bank (bail-in).

b. Update mengenai hasil pemutakhiran daftar Bank Sistemik yang ditetapkan oleh OJK setelah berkoordinasi dengan Bank Indonesia.

1.2 Koordinasi OJK dengan Bank Indonesia (BI)

Terdapat empat aspek kerjasama dan koordinasi antara OJK dan BI sesuai dengan UU PPKSK, yaitu:

a) Pemantauan dan pemeliharaan stabilitas sistem keuangan;

b) Penanganan krisis sistem keuangan;

c) Penanganan permasalahan (likuiditas dan solvabilitas) bank sistemik, baik dalam kondisi stabilitas sistem keuangan normal maupun kondisi krisis sistem keuangan; dan

d) Pertukaran data dan/atau informasi yang diperlukan dalam rangka pencegahan dan penanganan krisis sistem keuangan.

Sebagai tindak lanjut dari UU PPKSK, koordinasi yang dilakukan antara OJK dan BI pada triwulan II-2017 antara lain terkait koordinasi dalam rangka penyusunan ketentuan terkait pemberian Pinjaman Likuiditas Jangka Pendek (PLJP), yang mencakup: (i) penilaian pemenuhan persyaratan agunan serta perkiraan kemampuan bank mengembalikan PLJP (repayment capacity); dan (ii) pengawasan bersama terhadap bank yang menerima PLJP.

Selain itu, Undang-Undang Nomor 21 tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan mengamanatkan OJK dan BI untuk berkoordinasi dalam rangka pelaksanaan tugas dan kewenangan masing-masing Lembaga. Amanat UU dimaksud ditindaklanjuti dengan Keputusan Bersama (KB) BI-OJK. Pada triwulan II-2017 telah melakukan beberapa koordinasi, antara lain dalam bidang kebijakan/peraturan makroprudensial dan mikroprudensial, yang terkait dengan:

a) Rancangan Peraturan Bank Indonesia (RPBI) tentang Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu;

b) RPBI Transaksi Sertifikat Deposito;

TW II TW III TW IV TW I TW II

Penangkapan 2,55 2,77 3,05 3,33 4,02

Budidaya 3,37 2,63 1,96 2,41 2,18

Jasa sarana produksi 6,76 2,68 2,21 5,56 5,25

Industri Pengolahan 1,59 1,58 0,84 0,83 0,91

Perdagangan 2,03 2,11 1,93 2,51 2,56

NPL JARING 2,38 2,20 1,85 2,25 2,37

Kegiatan Usaha 2016 2017

c) Koordinasi lanjutan mengenai rencana pengaturan transaksi partisipasi risiko;

d) Kuesioner FSAP subtim Macroprudensial Policy; dan

e) Finalisasi Petunjuk Pelaksanaan kerjasama dan koordinasi OJK-BI.

Selanjutnya, dalam rangka memberikan pelayanan kepada industri, BI dan OJK melakukan koordinasi antara lain terkait Koordinasi dalam rangka rencana pemeriksaan bank oleh BI.

2. Upaya OJK dalam rangka Fasilitasi Pengembangan Sektor Riil dan Implementasi APU dan PPT

2.1 Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)

Sampai dengan triwulan II-2017, realisasi penyaluran kredit JARING mencapai 191,40% dari target yang disebutkan dalam RBB JARING Triwulan II-2017. Penyaluran kredit program JARING tumbuh 14,58%

(yoy) menjadi Rp26,07 triliun. Peningkatan kredit JARING utamanya terjadi pada sektor industri pengolahan (31,24%, yoy), perdagangan (19,56%, yoy) dan budidaya (18,65%, yoy).

Peningkatan kredit ini juga diiringi dengan sedikit peningkatan kualitas kredit yang tercermin dari turunnya NPL gross kredit JARING sebesar 1 bps (yoy) dari 2,38%

menjadi 2,37%. Perbaikan kualitas kredit ini

didorong oleh perbaikan NPL gross sektor budidaya, jasa sarana produksi dan industri pengolahan yang secara tahunan (yoy) masing-masing tumbuh sebesar 119 bps, 151 bps dan 67 bps.

Secara triwulanan penyaluran kredit program JARING juga tumbuh 6,52% (qtq), lebih baik dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya (1,07%, qtq).

Meskipun mengalami peningkatan dalam penyalurannya, pada triwulan II-2017 kualitas kredit program JARING menurun namun masih tergolong cukup baik. NPL gross kredit JARING naik 12 bps (qtq) dari 2,25% pada triwulan sebelumnya.

Penurunan kualitas kredit tersebut utamanya terjadi pada sektor hulu penangkapan ikan. Sementara itu, peningkatan NPL terbesar terjadi pada kegiatan usaha jasa sarana produksi perikanan yaitu dari 2,21% menjadi 5,56%

(Tabel 48).

Grafik 33 Realisasi dan NPL Program JARING

Sumber: OJK, diolah

Tabel 48 NPL Kegiatan Usaha Program JARING (%)

Sumber: OJK, diolah

2.2 Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK)

Kerjasama OJK dan PPATK dalam rangka pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang dan pendanaan terorisme terdapat dalam Nota Kesepahaman Nomor PRJ-03/D-01/2013.

Kerjasama meliputi pertukaran informasi, penyusunan ketentuan, koordinasi pemeriksaan, pendidikan, dan pelatihan.

Selanjutnya, OJK sebagai salah satu anggota Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme (Komite TPPU), berperan aktif dalam memenuhi Strategi Nasional TPPU 2017-2019 yang menjadi tanggung jawab OJK. Pada Triwulan II–2017, OJK telah memenuhi aksi terkait penerbitan pedoman penerapan program APU PPT berbasis risiko bagi PJK sebagai Pihak Pelapor yang berada di bawah pengawasan OJK melalui Surat Edaran OJK Nomor 32/SEOJK.03/2017 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme di Sektor Perbankan pada tanggal 22 Juni 2017.

OJK, PPATK, dan KPK telah menyelenggarakan Kick-Off Meeting Kajian Transparansi Beneficial Ownership (BO) dan Risk Assessment on Legal Persons pada tanggal 26 April 2017. Urgensi terhadap transparansi BO di Indonesia dibutuhkan mengingat hal tersebut diatur dan diwajibkan untuk dijelaskan secara terbuka sesuai Rekomendasi FAFT nomor 24 dan 25.

Selain itu, OJK dan PPATK secara intensif melakukan koordinasi penyusunan respon Indonesia terhadap kuesioner technical compliance (TC) dan kuesioner efektivitas

implementasi (immediate outcome/IO) dalam rangka persiapan Mutual Evaluation Review (MER) Indonesia.

OJK dan PPATK juga secara intensif melakukan koordinasi terkait pelaksanaan pengawasan program APU PPT sektor jasa keuangan. Pelaksanaan pengawasan program APU PPT yang dilakukan diharapkan dapat bersinergi dan mendukung pelaksanaan rezim APU PPT yang berlaku di Indonesia. Dalam rangka pelaksanaan pengawasan program APU PPT, OJK dan PPATK akan saling mendorong pelaksanaan joint audit terkait APU PPT.

2.3 Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU dan PPT)

OJK telah menerbitkan POJK No.12/POJK.01/2017 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme di Sektor Jasa Keuangan (POJK APU dan PPT). Sejalan dengan hal tersebut, OJK telah melakukan rangkaian kegiatan sosialisasi dalam rangka meningkatkan pemahaman dan penguatan penerapan program APU PPT di Sektor Jasa Keuangan kepada Penyedia Jasa Keuangan (PJK) dan satuan kerja internal OJK selama Bulan April hingga Mei 2017 dengan total peserta sebanyak 1.258 peserta.

Dalam rangka melakukan sinergi atas pelaksanaan tugas, meningkatkan efisiensi penggunaan anggaran satuan kerja, dan memperluas cakupan peserta kegiatan sosialisasi POJK APU PPT, OJK telah menyelenggarakan enam kegiatan sosialisasi POJK APU PPT di lima daerah (Bali, Medan, Semarang, Palembang,

Surabaya) selama Triwulan II-2017 yang dihadiri oleh 407 peserta perwakilan PJK.

Selanjutnya, Menteri Luar Negeri RI, Kepala Kepolisian Negara RI, Kepala PPATK, dan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir telah menerbitkan Peraturan Bersama tentang Pencantuman Identitas Orang atau Korporasi Dalam Daftar Pendanaan Proliferasi Senjata Pemusnah Massal, dan Pemblokiran Secara Serta Merta Atas Dana Milik Orang atau Korporasi yang Tercantum Dalam Daftar Pendanaan Proliferasi Senjata Pemusnah Massal pada tanggal 31 Mei 2017. Tujuan dari diterbitkannya peraturan

tersebut adalah dalam rangka pelaksanaan Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa Nomor 1718 terkait pencegahan proliferasi senjata pemusnah massal yang mewajibkan PJK untuk melakukan pemblokiran secara serta merta atas dana yang dimiliki atau dikuasai oleh orang atau korporasi yang identitasnya tercantum dalam daftar pendanaan proliferasi senjata pemusnah massal. OJK selaku LPP sektor jasa keuangan telah menyampaikan daftar proliferasi tersebut kepada seluruh PJK.

Halaman ini sengaja dikosongkan

Asesmen Lembaga

Internasional

Halaman ini sengaja dikosongkan

Bab VII

Asesmen Lembaga Internasional

Pada triwulan II-2017, hasil penilaian FSAP Indonesia 2016-2017 menunjukkan bahwa sistem keuangan Indonesia memiliki risiko sistemik yang rendah dan telah berhasil melalui krisis keuangan global. Selain itu, sistem perbankan terjaga kesehatannya serta memiliki kecukupan modal dan likuiditas yang sangat memadai. Lebih lanjut, dalam rangka persiapan menghadapi Mutual Evaluation Review, OJK telah bergabung dan berkontribusi aktif dalam Tim Lintas Instansi diantaranya dalam hal penyusunan kuesioner Technical Compliance (TC) dan kuesioner efektivitas implementasi (Immediate Outcome/IO).

Sejalan dengan keanggotaan Indonesia di beberapa fora internasional (a.l. G-20, Financial Stability Board (FSB), dan Basel Committee on Banking Supervision (BCBS)), Indonesia berkomitmen untuk mengadopsi standar internasional berbagai inisiatif reformasi sektor keuangan global. Terkait dengan itu, FSB dan BCBS melakukan review dan pemantauan secara reguler terhadap sistem keuangan seluruh negara anggota untuk menilai tingkat kepatuhan terhadap kerangka pengaturan dan rekomendasi reformasi sektor keuangan global tersebut.

Beberapa proses review yang dihadapi oleh Indonesia adalah Financial Sector Assessment Program (FSAP) dan Mutual Evaluation Review (MER).

1. Financial Sector Assessment Program (FSAP)

FSAP merupakan joint program yang dikembangkan oleh IMF dan World Bank pada tahun 1990 untuk menilai stabilitas dan pengembangan sistem keuangan suatu negara secara komprehensif. FSAP melibatkan berbagai otoritas dan instansi di

sektor keuangan di Indonesia. FSAP fokus pada sinkronisasi peraturan di suatu negara terhadap prinsip internasional yang antara lain ditetapkan dalam Basel Core Principles (BCP) untuk perbankan, IOSCO Principles untuk pasar modal, dan Insurance Core Principles (ICPs) untuk Industri Keuangan Non Bank (IKNB).

Sebagai anggota IMF dan World Bank, penilaian FSAP terhadap Indonesia pertama kali dilakukan pada tahun 2009-2010 dan berulang secara berkala dengan tenggat waktu 5 s.d 7 tahun (FSAP updates).

Peniliaian FSAP yang dilakukan pada 2016- 2017 adalah FSAP update pertama bagi Indonesia. Dalam FSAP 2016-2017, penilaian meliputi pemenuhan otoritas terhadap standar internasional yang mencakup antara lain kewenangan berdasarkan Undang- Undang, kewenangan untuk mengeluarkan ketentuan dan kebijakan, dan praktik dalam pelaksanaan fungsi/amanat yang dimiliki.

Selain kebijakan dan ketentuan yang ada, dokumentasi terkait pelaksanaan pengawasan menjadi hal yang sangat krusial bagi asesor dalam melakukan asesmen terhadap praktik pengawasan. Rencana

pengembangan ke depan juga menjadi krusial dalam asesmen untuk memahami arah perbaikan ke depan.

Pada triwulan II-2017, penilaian FSAP Indonesia 2016-2017 yang dimuat dalam laporan Financial Sector Stability Assessment (FSSA) telah dibahas dalam Executive Board (EB) Meeting IMF pada 24 Mei 2017 dan hasil penilaian telah dipublikasikan oleh IMF pada 12 Juni 2017. Sejalan dengan hal tersebut, anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) juga telah mengeluarkan Joint Press Release atas hasil FSAP pada 13 Juni 2017 yang terdapat pada website masing-masing lembaga KSSK.

Secara umum IMF mengapresiasi keberhasilan Indonesia dalam melaksanakan reformasi di sektor jasa keuangan sehingga kinerja makroekonomi dan stabilitas sistem keuangan dapat terjaga dengan baik. Hasil penilaian FSAP menunjukkan bahwa sistem keuangan Indonesia memiliki risiko sistemik yang rendah dan telah berhasil melalui krisis keuangan global. Sistem perbankan terjaga kesehatannya serta memiliki kecukupan modal dan likuiditas yang sangat memadai.

Bahkan hasil stress test yang dilakukan otoritas dan perbankan secara periodik menunjukkan sektor perbankan tetap dapat bertahan meskipun dalam tekanan yang besar.

Kondisi tersebut terutama didukung oleh banyaknya kemajuan yang telah dicapai oleh Indonesia sejak dilaksanakannya FSAP pertama tahun 2010, di antaranya penguatan pengawasan sektor keuangan, jaring pengaman keuangan dan protokol manajemen krisis, serta pendalaman pasar keuangan dan inklusi keuangan.

Sejak FSAP terakhir, OJK bersama dengan otoritas lainnya telah menerapkan kerangka permodalan Basel III dan Undang-Undang Asuransi yang baru, serta meningkatkan kualitas pelaksanaan pengawasan lintas sektoral. Selain itu, pengembangan dan penguatan kerangka makroprudensial juga telah dilakukan melalui pengembangan alat analisis untuk menilai risiko sistemik serta implementasi sejumlah instrumen kebijakan makroprudensial. Indonesia juga telah mengeluarkan Undang-Undang yang secara khusus bertujuan untuk pelaksanaan, pencegahan dan penggulangan krisis sistem keuangan (UU Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan/ UU PPKSK).

Dengan hasil asesmen yang positif, IMF mendorong OJK dan otoritas lainnya untuk mengimplementasikan rekomendasi atas beberapa isu yang perlu mendapat perhatian dalam rangka melanjutkan penguatan sektor keuangan serta meningkatkan pendalaman pasar keuangan dan inklusi.

Ke depan, OJK dan anggota KSSK lainnya secara bersama-sama menyampaikan komitmen untuk tetap menjaga stabilitas sistem keuangan dan pertumbuhan ekonomi, dan mengharapkan hasil asesmen atas sektor keuangan Indonesia tersebut tidak saja semakin menumbuhkan kepercayaan masyarakat domesik dan internasional terhadap kondisi perekonomian Indonesia namun juga dapat menjadi angin segar bagi negara-negara lain di tengah kondisi perekonomian global yang masih belum pulih pasca krisis 2008.

2. Mutual Evaluation Review

Dalam rangka menilai kepatuhan suatu negara terhadap penerapan 40 Rekomendasi Financial Action Task Force (FATF), maka akan dilakukan pelaksanaan Mutual Evaluation Review (MER) terhadap Indonesia yang akan berlangsung selama tahun 2017 hingga 2018. Proses penilaian MER meliputi Technical Compliance Assessment (TCA) dan efektifitas penerapan APU dan PPT oleh OJK dan industri perbankan (Immediate Outcome/IO). OJK telah bergabung dan berkontribusi aktif dalam Tim Lintas Instansi yang dikoordinasikan oleh PPATK dalam rangka persiapan MER.

Pada triwulan II-2017, OJK dan PPATK telah melakukan koordinasi penyusunan respon Indonesia terhadap kuesioner Technical Compliance (TC) dan kuesioner efektivitas

implementasi (Immediate Outcome/IO) secara intensif. Respon Indonesia terhadap kuesioner TC telah disampaikan kepada pihak evaluator Asia Pacific Group on Money Laundering (APG) pada tanggal 8 Mei 2017.

Selanjutnya, OJK bekerjasama dengan PPATK telah melakukan penyusunan respon Indonesia terkait kuesioner IO (efektivitas) untuk IO3 dan IO4. Respon Indonesia terhadap kuesioner IO disampaikan kepada pihak evaluator APG pada tanggal 4 Juli 2017. Agenda MER Indonesia yang harus dipersiapkan berikutnya yaitu penyampaian komentar Indonesia terhadap tanggapan evaluator terkait respon TC Indonesia, dan kedatangan seluruh pihak evaluator Indonesia pada pre-onsite visit MER Indonesia pada 12 s.d 15 September 2017.

Halaman ini sengaja dikosongkan

Perlindungan Konsumen,

Literasi, dan Inklusi Keuangan

Halaman ini sengaja dikosongkan

Bab VIII

Perlindungan Konsumen, Literasi, dan Inklusi Keuangan

Dalam rangka edukasi dan perlindungan konsumen terkait sektor jasa keuangan, pada triwulan II-2017, OJK telah menerima 1.960 layanan terkait dengan sektor Perbankan, yang terdiri dari 61,28% layanan pertanyaan, 37,60% layanan informasi, dan 1,12%

layanan pengaduan. Selain itu, terdapat 279 bank yang tergabung dalam program SimPel OJK untuk mendorong inklusi dan literasi keuangan.

A. Perlindungan Konsumen

Salah satu tujuan pembentukan OJK adalah agar keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan mampu melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat (Pasal 4 UU Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan). Untuk mencapai tujuan tersebut, OJK diberikan kewenangan memberikan perlindungan bagi konsumen (Pasal 28, 29, 30, dan 31 UU OJK). Dalam hal ini, OJK dapat meminta LJK menghentikan kegiatannya, apabila merugikan masyarakat.

Sehubungan dengan itu, OJK melakukan edukasi dan diseminasi informasi kepada masyarakat. OJK menyediakan fasilitas bagi konsumen untuk mengadukan permasalahan LJK kepada OJK. Selain melayani pengaduan konsumen, OJK juga berwenang untuk melakukan pembelaan hukum dalam rangka penyelesaian sengketa antara konsumen dengan LJK.

Agar terdapat standardisasi perlindungan konsumen di seluruh sektor jasa keuangan, menghindari arbitrase yang merugikan konsumen, dan antisipasi inovasi produk dan layanan di sektor jasa keuangan, maka

diterbitkan POJK Nomor 1/POJK.07/2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan.

1. Pelaksanaan Kebijakan Perlindungan Konsumen

Berdasarkan amanah UU OJK dalam Pasal 55 ayat (2), tugas dan wewenang pengaturan dan pengawasan kegiatan jasa keuangan di sektor perbankan (termasuk pelayanan pengaduan konsumen) beralih dari BI kepada OJK sejak tanggal 31 Desember 2013. Dalam menjalankan fungsi tersebut, OJK memiliki Layanan Konsumen OJK yang menyediakan 3 (tiga) layanan utama, yaitu Layanan Informasi (laporan), Layanan Pertanyaan (pertanyaan), dan Layanan Pengaduan.

Pada triwulan II-2017, Layanan Konsumen OJK menerima 4.822 layanan yang terdiri dari 1.102 informasi, 3.689 pertanyaan dan 31 pengaduan. Jumlah ini mengalami penurunan sebesar 26,62% (1.749 layanan) dibandingkan triwulan sebelumnya.

Grafik 34 Layanan Konsumen OJK per Sektor

Sumber: Sistem Layanan Konsumen Terintegrasi OJK

Dari total 4.822 layanan, sebesar 40,65%

(1.960 layanan) terkait dengan sektor Perbankan. Dari 1.960 layanan tersebut, 61,28% (1.201 layanan) merupakan pertanyaan, 37,60% (737 layanan) merupakan informasi, dan 1,12% (22 layanan) merupakan pengaduan. Pada

triwulan II-2017, penerimaan seluruh layanan pada sektor perbankan menunjukkan penurunan dari triwulan sebelumnya sebesar 19,97% (489 layanan) yaitu dari 2.449 layanan menjadi 1.960 layanan.

5.147 78,33%

1.403 21,35%

21 0,32%

Penerimaan Layanan Triwulan I-2017 Total layanan: 6.571

Pertanyaan Informasi Pengaduan

Tabel 49 Total Layanan Per Sektor

Sektor 2017

qtq Porsi

TW I TW II

Perbankan 2.449 1.960 -19,97% 40,65%

IKNB - Asuransi 1.111 863 -22,32% 17,90%

IKNB - Lembaga

Pembiayaan 706 487 -31,02% 10,10%

IKNB - Dana Pensiun 39 16 -58,97% 0,33%

IKNB - Lainnya 95 45 -52,63% 0,93%

Pasar Modal 354 231 -34,75% 4,79%

Lainnya 1.817 1.220 -32,86% 25,30%

Total 6.571 4.822 -26,62% 100%

Sumber : Sistem Layanan Konsumen Terintegrasi OJK Tabel 50 Layanan Konsumen OJK Sektor Perbankan

Sektor 2017

qtq Porsi

TW I TW II

Pertanyaan 1.579 1.201 -23,94% 61,28%

Informasi 855 737 -13,80% 37,60%

Pengaduan 15 22 47% 1,12%

Total 2.449 1.960 -19,97% 100%

Sumber : Sistem Layanan Konsumen Terintegrasi OJK

1.1 Layanan Informasi

Secara total, layanan informasi perbankan mencapai 37,60% (737 layanan). Layanan Informasi yang paling banyak adalah terkait restrukturisasi kredit/pembiayaan (27,14% - 200 Layanan) dan Keberatan Lelang (10,04%

- 74 Layanan) (Grafik 35).

Pada triwulan II-2017, substansi terbanyak untuk Layanan Informasi pada jenis permasalahan restrukturisasi

kredit/pembiayaan adalah terkait permohonan keringanan pembayaran kredit/pembiayaan sebagai dampak dari penurunan kondisi keuangan konsumen.

Sementara itu, substansi terbanyak untuk jenis permasalahan keberatan lelang adalah terkait ketidakmampuan konsumen dalam memenuhi kewajibannya dan menyampaikan keberatan lelang atas jaminan.

Grafik 35 Lima Layanan Informasi Terbanyak Sektor Perbankan berdasarkan Jenis Permasalahan

Dokumen terkait