• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab II Profil Risiko Perbankan

1. Risiko Kredit

Jun-16 Jun-17 Jun-16 Jun-17 1. Lancar 3.655 3.818 4.051 4.007 4.109 4,47% 2,54% 8,27% 7,61%

2. DPK 232 223 198 230 249 -4,12% 8,38% 9,60% 11,80%

3. Kurang Lancar 19 24 27 28 28 29,82% 2,51% 10,13% 15,33%

4. Diragukan 19 22 16 18 21 18,25% 19,40% 47,24% -2,73%

5. Macet 76 81 85 88 84 6,70% -4,58% 32,72% 3,51%

Nominal NPL 113 127 128 133 133 12,45% 0,12% 29,81% 4,71%

Rasio NPL % 2,83% 3,05% 2,93% 3,04% 2,96% 22 -8 49 -9

Nominal KKR 345 350 326 363 382 1,31% 5,35% 16,17% 9,23%

Rasio KKR % 8,64% 8,40% 7,44% 8,30% 8,51% -24 21 53 12

Total Kredit 4.000 4.168 4.377 4.370 4.491 4,20% 2,77% 8,89% 7,75%

Kolektabilitas

Kredit Mar-16 Jun-16 Mar-17 Jun-17 ∆ qtq ∆ yoy

Des-16

Jun-16 Jun-17

BUMN 2.97 3.05 2.97 48 0

BUSD 3.05 3.12 3.04 53 -1

BUSND 4.10 3.86 3.94 165 -16

BPD 3.84 3.67 3.54 1 -29

Campuran 2.76 2.49 2.23 25 -53

KCBA 2.40 1.82 1.66 73 -74

Total NPL 3.05 3.04 2.96 49 -9

Jun-17 ∆ yoy (bps) NPL Gross

% Jun-16 Mar-17 Tabel 20 Perkembangan Kualitas Kredit (Rp Triliun)

Sumber: SPI Juni 2017

Untuk mengantisipasi terjadinya kerugian dari penyaluran kredit, bank membentuk atau menyisihkan dana tertentu dalam bentuk impairment atau cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN). Sejalan dengan upaya bank memitigasi risiko kredit, CKPN tumbuh lebih tinggi dibandingkan nominal NPL. CKPN tumbuh 6,37% (yoy) sedangkan nominal NPL hanya tumbuh 4,71% (yoy).

Grafik 17 Pertumbuhan CKPN (NPL) dan Nominal NPL (yoy)

Sumber: SPI Juni 2017

1.2 Risiko Kredit berdasarkan Peer Bank Secara umum NPL gross menurun pada seluruh kelompok bank dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang mengalami kenaikan. Perbaikan rasio NPL gross utamanya terdapat pada BUSD yang secara nominal NPL hanya naik Rp4,21T, atau jauh lebih rendah dibandingkan Juni 2016 yang naik Rp12,79T. Hal ini membuat rasio NPL gross BUSD turun 1 bps (yoy) menjadi 3,04%.

Tabel 21 Rasio NPL Gross per Kepemilikan

Sumber: SPI Juni 2017

Jun-16 Jun-17 Jun-16 Jun-17 Kredit 1.620.874 1.778.465 1.825.878 228.269 205.004 16,39% 12,65%

NPL 48.220 54.214 54.253 13.440 6.033 38,64% 12,51%

Kredit 1.679.260 1.726.019 1.825.634 154.610 146.375 10,14% 8,72%

NPL 51.288 53.914 55.498 12.791 4.210 33,22% 8,21%

Kredit 65.700 51.162 54.577 (64.949) (11.123) -49,71% -16,93%

NPL 2.697 1.975 2.151 (507) (545) -15,83% -20,22%

Kredit 344.896 357.473 371.780 29.263 26.884 9,27% 7,79%

NPL 13.235 13.108 13.172 1.164 (63) 9,64% -0,48%

Kredit 208.583 216.029 211.669 10.815 3.085 5,47% 1,48%

NPL 5.749 5.390 4.722 794 (1.027) 16,03% -17,86%

Kredit 248.995 240.818 201.647 (17.746) (47.347) -6,65% -19,02%

NPL 5.967 4.384 3.347 1.516 (2.620) 34,06% -43,90%

Kredit 4.168.308 4.369.967 4.491.186 340.263 322.878 8,89% 7,75%

NPL 127.156 132.984 133.144 29.197 5.988 29,81% 4,71%

KCBA

Total Kredit

Rp Miliar Jun-17 ∆ Nominal yoy ∆ yoy (%)

BUMN

BUSD

BUSND

BPD

Campuran

Jun-16 Mar-17

Jun-16 Jun-17 KMK 1,961,581 2,007,858 2,103,048 7.30% 7.21%

KI 1,058,634 1,138,236 1,126,847 12.03% 6.44%

KK 1,148,093 1,223,873 1,261,291 8.84% 9.86%

Total Kredit 4,168,308 4,369,967 4,491,186 8.89% 7.75%

Jun-16 Mar-17 Jun-17

Kredit (Rp M) ∆ yoy

Tabel 22 Perkembangan Nominal Kredit dan NPL per Kepemilikan

Sumber: SPI Juni 2017

1.3 Risiko Kredit berdasarkan Jenis Penggunaan

Kredit produktif (Kredit Modal Kerja/KMK dan Kredit Investasi/KI) tumbuh melambat dengan disertai penurunan NPL. Pada periode laporan, KMK tumbuh 7,21% (yoy), melambat dibandingkan 7,30% (yoy) pada Juni 2016. Melambatnya KMK juga diiringi penurunan NPL sebesar 25 bps (yoy) menjadi 3,49%, atau lebih rendah dibandingkan Juni 2016 sebesar 3,74%.

Sementara itu, KI tumbuh 6,44% (yoy) atau melambat dari 12,03% (yoy) pada Juni 2016.

Perlambatan KI juga dibarengi kenaikan NPL KI sebesar 10 bps (yoy) menjadi 3,36%, lebih tinggi dibandingkan 3,26% pada Juni 2016.

Berbanding dengan kredit produktif yang tumbuh melambat, pertumbuhan kredit konsumsi (KK) justru meningkat sebesar 9,86% (yoy), atau lebih tinggi dari 8,84%

(yoy) pada Juni 2016. NPL KK relatif terjaga rendah yaitu sebesar 1,72% yang mengindikasikan kemampuan bayar debitur KK masih cukup baik ditengah tanda-tanda daya beli masyarakat yang belum solid.

Tabel 23 Perkembangan Kredit berdasarkan Jenis Penggunaan

Sumber: SPI Juni 2017

Jun-16 Jun-17 NPL KMK 3.74 3.71 3.49 76 -25 NPL KI 3.26 3.35 3.36 54 10 NPL KK 1.67 1.67 1.72 -1 5 Total NPL 3.05 3.04 2.96 49 -9

Mar-17 Jun-17 ∆ yoy NPL Gross

% Jun-16

Kredit

Porsi Kredit Thdp JP

NPL Kredit

Porsi Kredit Thdp JP

NPL Kredit

Porsi Kredit Thdp JP

NPL BUMN 823,052 45.08% 4.11% 493,755 27.04% 2.24% 509,072 27.88% 1.85%

BUSN Devisa 892,934 48.91% 2.96% 498,707 27.32% 4.14% 433,993 23.77% 1.95%

BUSN Non Devisa 31,887 58.43% 3.03% 11,666 21.38% 7.88% 11,024 20.20% 2.41%

BPD 70,099 18.86% 10.22% 39,696 10.68% 8.85% 261,985 70.47% 0.95%

Campuran 135,589 64.06% 2.47% 49,108 23.20% 1.59% 26,971 12.74% 2.21%

KCBA 149,486 74.13% 1.22% 33,915 16.82% 3.02% 18,246 9.05% 2.77%

TOTAL 2,103,048 46.83% 3.49% 1,126,847 25.09% 3.36% 1,261,291 28.08% 1.72%

KMK KI KK

Kredit JP berdasarkan peer

Tabel 24 NPL Gross berdasarkan Jenis Penggunaan

Sumber: SPI Juni 2017

Sesuai kelompok kepemilikan bank, NPL tertinggi tercatat pada BPD. NPL gross KMK dan KI BPD masing-masing tercatat sebesar 10,22% dan 8,85%, atau jauh di atas threshold 5%. Tingginya NPL KMK dan KI

pada BPD antara lain karena infrastruktur monitoring kredit produktif BPD yang belum memadai, kemampuan sumber daya manusia dalam melakukan analisis penyaluran KMK dan KI masih dalam tahap pengembangan, serta fokus BPD yang mengutamakan KK terutama kepada pegawai Pemda. Dalam hal ini, penyaluran KK pada kelompok BPD mencapai Rp261,98T yaitu 70,47% dari total kredit BPD, sedangkan KMK dan KI masing-masing hanya sebesar 18,86% dan 10,68%.

Tabel 25 NPL Gross Peer Bank berdasarkan Jenis Penggunaan

Sumber: SPI Juni 2017

1.4 Risiko Kredit berdasarkan Sektor Ekonomi

Terdapat beberapa sektor lapangan usaha yang menjadi perhatian pemerintah terkait program Nawacita dan juga menjadi proksi kondisi ekonomi secara umum, yaitu sektor pertanian, pertambangan, industri pengolahan, konstruksi, perdagangan besar

dan eceran, serta listrik, gas dan air. Sektor- sektor tersebut cukup vital bagi perekonomian karena mampu menyerap tenaga kerja dalam kuantitas yang cukup besar, menciptakan multiplier effect yang besar, serta menjadi kontributor bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Grafik 18 Tren Pertumbuhan Kredit Sektor Ekonomi (yoy)

Sumber: SPI Juni 2017 Sumber: SPI Juni 2017

Grafik 19 Tren NPL Gross Sektor Ekonomi

Sumber: SPI Juni 2017 Sumber: SPI Juni 2017

Kredit sektor pertanian tumbuh relatif tinggi sebesar 11,49% (yoy) menjadi Rp296,65T, meskipun melambat dibanding Juni 2016 yang tumbuh 20,09% (yoy). Porsi kredit terbesar sektor pertanian berada pada subsektor Buah-buahan, Kelapa Sawit dan Rempah-Rempah yang mencapai 78,49% dari total kredit pertanian. Risiko kredit sektor pertanian masih tergolong rendah dan stabil dengan NPL 1,92%.

Untuk mendorong pembiayaan terhadap sektor pertanian, OJK mengeluarkan Program AKSI Pangan (Akselerasi-Sinergi- Inklusi Keuangan untuk Dukung Kedaulatan Pangan) sejak Maret 2017.

Kredit ke sektor pertambangan mulai tumbuh setelah disepanjang tahun 2016 terkontraksi. Kredit ke sektor ini tumbuh 2,10% (yoy) menjadi Rp122,47T, membaik dibanding Juni 2016 yang kontraktif sebesar 14,47% (yoy). Meskipun kredit sudah tumbuh, NPL sektor pertambangan masih relatif tinggi dan naik 156 bps (yoy) menjadi 7,84%. Peningkatan NPL sektor pertambangan mengindikasikan bahwa debitur pada sektor ini masih tertekan akibat proses pemulihan harga komoditas yang masih terbatas. Secara khusus, NPL subsektor pertambangan batubara tercatat masih tinggi sebesar 13,51%, sejalan dengan

Harga Batubara Acuan (HBA) yang kembali turun ke level U$75,46/ton setelah sempat membaik pada awal tahun 2017.

Sementara itu, kredit ke sektor konstruksi tumbuh signifikan seiring dengan meningkatnya pembiayaan proyek infrastruktur Pemerintah. Kredit ke sektor konstruksi tumbuh 21,54% (yoy) menjadi Rp234,15T, lebih tinggi dari Juni 2016 sebesar 18,03% (yoy). Sejalan dengan tren positif pertumbuhan kredit, NPL sektor konstruksi turun -62 bps (yoy) menjadi 3,93%. Meskipun demikian, prinsip kehati- hatian tetap perlu diperhatikan oleh perbankan mengingat terdapat subsektor konstruksi dengan NPL relatif tinggi, yaitu subsektor instalasi gedung dan bangunan sipil (4,10%) dan penyiapan lahan (10,16%).

Sektor industri pengolahan/manufaktur merupakan penerima kredit perbankan kedua terbesar setelah sektor perdagangan.

Kredit ke sektor ini naik 5,25% (yoy) menjadi Rp784,68T, sedikit melambat dibanding Juni 2016 yang tumbuh 6,01% (yoy). Kredit ke sektor ini didominasi oleh subsektor industri makanan dan minuman disusul dengan subsektor industri kimia dan barang-barang dari bahan kimia yang memiliki porsi masing-masing 21,37% dan 13,63%

terhadap total kredit industri pengolahan.

Perlambatan kredit sektor industri pengolahan juga diikuti dengan perbaikan NPL. NPL sektor ini turun 62 bps (yoy) menjadi 3,23%. Beberapa subsektor industri

pengolahan yang memiliki NPL relatif tinggi masih terkait dengan sektor lainnya yang relatif stagnan seperti subsektor industri barang-barang dari batubara (8,03%) dan industri tekstil (4,30%).

Sektor perdagangan besar dan eceran merupakan sektor ekonomi dengan porsi penyaluran kredit terbesar, yaitu sebesar Rp845,29T atau 18,82% dari total kredit.

Kredit sektor ini tumbuh 3,09% (yoy), melambat dari Juni 2016 yang tumbuh 7,90% (yoy). Perlambatan kredit sektor ini diiringi dengan kenaikan NPL sebesar 34 bps (yoy) menjadi 4,39%. Relatif tingginya NPL sektor ini disumbang oleh subsektor perdagangan besar bahan konstruksi (9,74%).

1.5 Risiko Kredit berdasarkan Lokasi (Spasial)

Secara spasial, NPL pada setiap wilayah mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya, kecuali pada wilayah Bali &

Nusa Tenggara. NPL terbesar berada pada Kalimantan yang turun 38 bps (yoy) menjadi 4,58%. Tingginya NPL di Kalimantan utamanya disumbang oleh NPL pada sektor Pertambangan (26,73%), Transportasi (11,16%) dan Konstruksi (8,84%), terkait dengan aktivitas pertambangan yang cukup besar di Kalimantan. Selanjutnya, NPL kredit di Jawa juga didorong oleh pemburukan sektor pertambangan dengan NPL yang mencapai 7,62%.

Pertanian Pertamba ngan

Industri Pengolahan

Listrik, Gas

dan Air Konstruksi Perdagangan

Besar Transportasi Lainnya Total

Jawa 2.15% 7.70% 3.43% 1.47% 3.19% 4.17% 4.14% 1.84% 2.92%

Sumatera 2.05% 9.45% 1.77% 4.76% 7.87% 4.90% 2.44% 2.02% 2.88%

Kalimantan 0.36% 26.73% 3.89% 5.18% 8.84% 6.41% 11.16% 3.00% 4.58%

Sulawesi 1.78% 1.61% 2.31% 1.50% 5.93% 4.75% 2.39% 2.03% 2.93%

Bali & Nusa Tenggara 2.28% 0.16% 2.93% 5.89% 5.48% 3.56% 2.08% 2.18% 2.66%

Papua & Maluku 2.41% 0.08% 1.36% 0.29% 10.09% 4.54% 5.09% 1.58% 2.39%

Total 1.92% 7.84% 3.23% 1.56% 3.93% 4.39% 4.27% 1.93% 2.96%

Grafik 20 Tren NPL Gross berdasarkan Lokasi (Spasial)

Sumber: SPI Juni 2017 Sumber: SPI Juni 2017

Tabel 26 NPL Gross Lokasi (Spasial) berdasarkan Sektor Ekonomi

Sumber: SPI Juni 2017

Dokumen terkait