• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengawasan Terintegrasi

Bab IV Pengembangan Pengawasan Terintegrasi

2. Pengawasan Terintegrasi

Sampai dengan triwulan II-2017, telah dilakukan beberapa kegiatan pengawasan terintegrasi, antara lain:

a) Integrated Supervisory Plan (ISP)

Telah diselesaikan Integrated Supervisory Plan (ISP) tahun 2017 terhadap 42 Grup KK;

b) Know Your Financial Conglomerate (KYFC) dan Integrated Risk Rating (IRR) Telah diselesaikan penyusunan Know Your Financial Conglomerate (KYFC) dan Integrated Risk Rating (IRR) untuk 42 Grup KK; dan

c) Mekanisme Koordinasi dan Komunikasi Telah dilakukan koordinasi dan komunikasi antara Pengawas Terintegrasi dengan Pengawas Individu dalam rangka memperoleh informasi yang lebih komprehensif mengenai konglomerasi keuangan.

d) Workshop Manajemen Likuiditas dan Permodalan Terintegrasi

Telah dilakukan workshop manajemen likuiditas dan permodalan terintegrasi kepada Konglomerasi Keuangan.

Pengawasan

Perbankan

Halaman ini sengaja dikosongkan

KP KC Jml.

Entitas KP KC Jml.

Entitas BUK 46 179 56 45 175 56 BUS 5 5 - 6 7 - UUS 6 4 3 5 3 3

BPR 956 51 956 882 45 882 BPRS 82 5 66 72 7 66 Total 1.095 244 1.081 1.010 237 1.007 Jenis Bank

Rencana Realisasi

TW I-II 2017 TW I-II 2017

Bab V

Pengawasan Perbankan

Pengawasan oleh OJK dilakukan secara berkala melalui pengawasan langsung (on-site supervision) dan pengawasan tidak langsung (off-site supervision). Selain itu, OJK juga melakukan beberapa pemeriksaan khusus serta terlibat dalam pemberian keterangan saksi/ahli dalam penanganan dugaan tindak pidana perbankan.

1. Pemeriksaan Umum dan Pemeriksaan Khusus

OJK wajib melakukan pemeriksaan umum setahun sekali secara berkala. Pada periode triwulan II-2017, telah dilaksanakan

pemeriksaan terhadap 1.007 entitas bank (56 BUK/BUS dan 948 BPR/S) yang mencakup 1.247 kantor bank (1.010 KP dan 237 KC) (Tabel 36).

Tabel 36 Pemeriksaan Umum Bank

Sumber: OJK

Selain melakukan pemeriksaan umum, pengawas juga melaksanakan pemeriksaan khusus. Pada triwulan II-2017 telah dilakukan pemeriksaan khusus yang mencakup antara lain pemeriksaan setoran modal, aktivitas operasional, GCG, teknologi dan informasi, fraud, joint audit, dan lainnya (Tabel 37). Sementara pemeriksaan khusus untuk Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU dan PPT) telah dilakukan oleh pengawas bersamaan dengan pemeriksaan umum.

Tabel 37 Pemeriksaan Khusus Bank

Sumber: OJK

Subjek Pemeriksaan TW I s.d II-2017

Setoran Modal 67

Aktivitas Operasional 88

Teknologi & Informasi 5

Aktivitas Treasuri

Joint Audit 3

GCG 1

Fraud 8

Penetapan pencabutan 1

Lainnya 18

Total 191

Produk/Aktivitas Baru TW I-II 2017

Reksadana 105

Bancassurance 63 E-Banking 14 Perkreditan/Pembiayaan 10 Surat Berharga

(Obligasi/MTN/Sukuk) 15 Pendanaan 14

APMK 6

Structured Product 10

LC 3

Cash Management 16 Fitur SMS Notifikasi 1 e-Commerce 1 Kepemilikan Logam Mulia 2

Lainnya 35

Total 295

2. Perizinan Produk dan Aktivitas Bank Dalam rangka penerbitan produk dan aktivitas baru, perbankan wajib mematuhi ketentuan yang berlaku. Hal ini mengingat produk dan aktivitas baru yang ditawarkan perbankan berkembang menjadi semakin kompleks dan bervariasi, sehingga eksposur risiko Bank dari aktivitas tersebut semakin tinggi.

Sehubungan dengan itu, Bank wajib menyampaikan laporan untuk setiap penerbitan produk atau aktivitas baru apabila memenuhi kriteria sebagai berikut:

a) Tidak pernah diterbitkan atau dilakukan oleh Bank sebelumnya; atau

b) Telah diterbitkan atau dilaksanakan sebelumnya oleh Bank namun dilakukan pengembangan yang mengubah atau meningkatkan eksposur risiko tertentu pada Bank. Pengembangan yang mengubah atau meningkatkan eksposur risiko tertentu pada produk atau aktivitas bank, antara lain meliputi:

1) Pengembangan produk Bank yang telah diterbitkan sebelumnya oleh Bank, misalnya:

a. Penerbitan obligasi dengan tingkat kupon dan/atau jangka waktu yang berbeda dari obligasi yang sudah diterbitkan sebelumnya.

b. Penerbitan principally protected structured product yang berubah jangka waktunya dan/atau underlying-nya dari yang pernah diterbitkan sebelumnya.

2) Pengembangan aktivitas Bank yang merupakan aktivitas kerjasama dengan pihak lain, yang dalam

pengembangannya memerlukan persetujuan dari atau pelaporan kepada otoritas pengawas yang berwenang, misalnya penambahan atau perubahan partner dalam melakukan aktivitas pemindahan dana (transfer).

Pada triwulan II-2017, variasi produk dan aktivitas baru yang diterbitkan oleh Bank dan telah disetujui OJK cukup beragam.

Produk dan aktivitas baru yang telah diterbitkan mencapai 295 produk yang sebagian besar terkait dengan reksadana dan bancassurance (Tabel 38).

Tabel 38 Produk dan Aktivitas Baru Perbankan

Sumber: OJK

3. Layanan Keuangan tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai)

Sampai dengan triwulan II-2017, terdapat 22 bank umum (dua diantaranya BUS) yang menjadi bank penyelenggara Laku Pandai.

Jumlah Agen Laku Pandai pada triwulan II- 2017 telah mencapai 368.214 agen (356.152

Perorangan Badan Hukum 356.152

12.062

Jumlah Rekening Outstanding Tabungan BSA 10.016.335

Rp1.120,6 milyar Agen Laku Pandai

Nasabah Laku Pandai

agen perorangan dan 12.062 outlet badan hukum) yang tersebar di 34 Provinsi dan 508 Kota/Kabupaten. Sementara itu, jumlah nasabah yang membuka tabungan berkarakteristik Basic Saving Account (BSA) sebanyak 10.016.335 nasabah dengan jumlah dana yang berhasil dihimpun sebesar Rp1.120,6 milyar. Dari 368.214 agen Laku Pandai tersebut, sebesar 66,11%

tersebar di wilayah pulau Jawa, diikuti pulau Sumatera (19,40%), pulau Sulawesi (4,80%), pulau Bali-NTB-NTT (4,07%), pulau Kalimantan (3,44%), dan sisanya pulau Maluku dan Papua (2,18%) (Grafik 29).

Tabel 39 Realisasi Laku Pandai Triwulan II- 2017

Sumber: OJK

Grafik 29 Wilayah Penyebaran Agen Laku Pandai

Sumber: OJK, Juni 2017

Selanjutnya, rencana pengembangan Laku Pandai yang akan dilakukan oleh beberapa bank penyelenggara, yaitu:

a) Pemasaran asuransi mikro melalui agen Laku Pandai;

b) Pemanfaatan agen laku pandai untuk menyalurkan bantuan sosial non tunai.

Saat ini yang sudah terimplementasi penyaluran bansos non tunai berupa Bantuan Pangan Non Tunai;

c) Penyaluran kredit melalui agen Laku pandai baik berupa kredit mikro maupun referral KUR Mikro;

d) Pembayaran zakat melalui agen Laku Pandai untuk mendukung Zakat Inclusion; dan

e) Kampanye nasional program Laku Pandai untuk memudahkan transaksi keuangan di daerah.

4. Penegakan Kepatuhan Bank

4.1 Uji Kemampuan dan Kepatutan (Existing)

Dalam rangka melindungi industri bank dari pihak-pihak yang diindikasikan tidak memenuhi persyaratan kemampuan dan kepatutan, secara berkesinambungan terhadap pihak–pihak yang telah mendapat persetujuan untuk menjadi Direksi, Komisaris, Pemegang Saham Pengendali (PSP), dan Pejabat Eksekutif, dilakukan penilaian kembali atas kemampuan dan kepatutannya sebagai pemilik dan pengelola Bank (Fit and Proper Existing).

Penilaian kembali dilakukan dalam hal terdapat indikasi permasalahan integritas, reputasi keuangan dan/atau kompetensi.

Pada triwulan II-2017, terdapat satu Direksi bank yang telah menjalani proses Fit and Proper Test Existing.

Dalam melakukan penilaian FPT existing, kelayakan (calon) pengurus dan pegawai bank ditentukan oleh data track record yang menggambarkan history perilaku penyimpangan ketentuan perbankan yang pernah dilakukan selama menjabat. Selama

Objek Track Record TW II '17 Kepala Kantor Perwakilan 1

Direksi 3

Pejabat Eksekutif 1

Pejabat Non Eksekutif 5

TOTAL 10

triwulan II-2017, terdapat satu Direksi bank yang telah menjalani proses Fit and Proper Existing. Selain itu, untuk database track record (TR), selama triwulan II-2017 terdapat penambahan pencatatan 10 pelaku penyimpangan ketentuan perbankan yang dilakukan oleh Direksi, Dewan Komisaris, PSP, dan pegawai Bank pada database track record (TR) yang dilakukan pada periode maupun tahun sebelumnya. Adapun modus yang dilakukan sebagian besar terkait dengan penyalahgunaan wewenang, pelanggaran prinsip kehati-hatian dan asas pemberian kredit yang sehat, serta pelanggaran atau penyimpangan Standard of Procedure (SOP).

Tabel 40 Jumlah Track Record

Sumber: OJK

4.2 Penanganan Dugaan Tindak Pidana Perbankan (Tipibank)

Seiring dengan perkembangan industri perbankan, pelaku fraud juga terus berupaya memanfaatkan berbagai kelemahan bank, baik dalam ketentuan maupun pengawasan yang ditetapkan.

Selama triwulan II-2017, terdapat 11 Penyimpangan Ketentuan Perbankan (PKP) pada enam kantor bank. PKP tersebut selanjutnya dianalisis dan dikoordinasikan untuk memastikan apakah dapat ditindaklanjuti dengan investigasi. Apabila akan ditindaklanjuti dengan investigasi, maka dilakukan pembahasan dalam forum Quality Assurance yang bertujuan antara lain untuk memastikan langkah-langkah investigasi yang akan dilakukan dalam mengungkap penyimpangan yang terjadi.

Sebagai tindak lanjut dari 11 PKP yang diterima tersebut, telah dilakukan investigasi pada 3 PKP pada satu kantor bank (BPR).

Pada triwulan II-2017 tidak terdapat PKP yang dilimpahkan ke tahap penyelidikan/penyidikan (Tabel 41).

Tabel 41 Statistik Penanganan Dugaan Tindak Pidana Perbankan

Keterangan

Triwulan II – 2017

Bank Umum BPR TOTAL

Kantor Bank

PKP (Kasus)

Kantor Bank

PKP (Kasus)

Kantor Bank

PKP (Kasus)

A. PKP Yang Diterima dan Ditindaklanjuti 1 1 5 10 6 11

1. Telah Dilakukan Investigasi 0 0 1 3 1 3

2. Dikembalikan Kepada Pengawasan 1 1 3 6 4 7

3. Proses Analisis awal 0 0 1 1 1 1

B. Dilimpahkan Kepada Penyidikan OJK 0 0 0 0 0 0

Sumber: OJK

Mengingat penyebab dugaan tipibank pada umumnya bersumber dari internal bank seperti kelemahan pengawasan internal, kurangnya integritas pegawai, dan kelemahan sistem bank, maka bank perlu

peningkatan pengawasan manajemen bank melalui pelaksanaan independent review oleh SKAI, kaji ulang kebijakan internal, serta pengamanan teknologi informasi dan infrastruktur pendukungnya.

4.3 Pemberian Keterangan Ahli dan/atau Saksi

Dalam rangka memenuhi permintaan aparat penegak hukum (APH), selama triwulan II- 2017 terdapat 74 permintaan keterangan ahli dan/atau saksi. Permintaan tersebut berasal dari Kepolisian Negara RI (Polri) sebanyak 60 permintaan keterangan dan dari Kejaksaan RI sebanyak 14 permintaan keterangan. Permintaan keterangan dari Kepolisian RI terdiri dari 46 keterangan sebagai ahli dan 14 keterangan sebagai saksi, sedangkan permintaan keterangan dari Kejaksaan RI terdiri dari 12 keterangan sebagai ahli dan 2 keterangan sebagai saksi (Tabel 42).

Tabel 42 Pemberian Keterangan Ahli/Saksi

Sumber: OJK

Keterangan ahli yang diberikan, meliputi kasus-kasus yang pernah ditangani OJK maupun terhadap kasus-kasus yang dilaporkan oleh pihak bank atau pihak lainnya kepada Polri atau Kejaksaan RI.

Pemberian keterangan ahli dilakukan sesuai dengan kompetensi terkait ketentuan perbankan dan pengawasan bank serta pengalaman pegawai dalam menangani kasus dugaan tipibank.

4.4 Sosialisasi

Dalam rangka peningkatan pemahaman terhadap dugaan tipibank, pada triwulan II-

2017 telah dilakukan sosialisasi kepada industri perbankan dan aparat penegak hukum di Jakarta, Jogjakarta, Mataram, dan Palembang. Kegiatan ini penting agar industri perbankan dikelola oleh bankir- bankir yang fit dan proper serta apabila ditemukan adanya fraud dapat segera diproses guna menimbulkan announcement effect.

5. Jaringan Kantor dan Kelembagaan Perbankan

5.1 Bank Umum Konvensional 5.1.1 Perizinan

Pada triwulan II-2017 telah diselesaikan 117 perizinan perubahan jaringan kantor bank umum yang terdiri dari pembukaan kantor, penutupan kantor, pemindahan alamat kantor, dan perubahan status.

Perizinan didominasi oleh penutupan KCP (23,08% - 27 perizinan), diikuti dengan penutupan kantor fungsional (17,95% - 21 perizinan), pemindahan alamat KCP (14,53%

- 17 perizinan), dan perubahan status KC menjadi KCP (9,40% - 11 perizinan).

5.1.2 Jaringan Kantor

Perkembangan jaringan kantor BUK pada triwulan II-2017 dibandingkan triwulan sebelumnya meningkat 756 jaringan kantor menjadi 136.700 jaringan kantor.

Peningkatan terbesar terjadi pada ATM/ADM sebanyak 713 unit. Sementara itu, kantor fungsional mengalami pengurangan terbesar sebanyak 18 kantor.

Saksi Ahli Total

1 Kepol i s i a n RI 14 46 60

2 Keja ks a a n RI 2 12 14

16 58 74

No. APH Permintaan

TOTAL

Perubahan

TW I TW II

Kantor Pusat Operasional 51 51 - Kantor Pusat Non Operasional 55 54 (1) Kantor Cabang Bank Asing 9 9 - Kantor Wilayah Bank Umum (konven+syariah) 169 175 6 Kantor Cabang (Dalam Negeri) 2.890 2.890 - Kantor Cabang (Luar Negeri) - 1 1 Kantor Cabang Pembantu Bank Asing 33 28 (5) Kantor Cabang Pembantu (Dalam Negeri) 16.800 16.850 50 Kantor Cabang Pembantu (Luar Negeri) - - -

Kantor Kas 10.682 10.680 (2)

Kantor Fungsional (konven+syariah) 1.641 1.623 (18)

Payment Point 1.688 1.700 12

Kas keliling/kas mobil/kas terapung 1.520 1.530 10 Kantor dibawah KCP KCBA yg tidak termasuk 11,12,13,14 *) 23 13 (10) Kantor Perwakilan Bank Umum di Luar negeri 2 2 -

ATM/ADM 100.381 101.094 713

TOTAL 135.944 136.700 756

STATUS KANTOR 2017

Tabel 43 Jaringan Kantor Bank Umum Konvensional*

Sumber: LKPBU (* hanya Jabodetabek)

Berdasarkan wilayah penyebaran jaringan kantor, 63,50% jaringan kantor BUK berada di pulau Jawa dengan jumlah sebanyak 86.801 jaringan kantor, diikuti 16,60% di pulau Sumatera (22.699), 8,24% di Sulampua (11.261), 6,47% di Kalimantan (8.851), dan 5,19% di Bali-NTB-NTT (7.088). Peningkatan jumlah jaringan kantor terjadi pada seluruh wilayah dengan peningkatan terbesar berada di pulau Jawa yaitu bertambah 374 jaringan kantor.

Grafik 30 Penyebaran Jaringan Kantor BUK di Lima Wilayah di Indonesia

Sumber: LKPBU, Juni 2017

5.1.3 Uji Kemampuan dan Kepatutan (New Entry)

Dalam rangka menciptakan sistem perbankan yang sehat, selain dilakukan melalui perbaikan kondisi keuangan perbankan, juga dapat dilakukan dengan penerapan tata kelola serta pemenuhan prinsip kehati-hatian.

Bank sebagai lembaga intermediasi setiap saat harus menjaga kepercayaan masyarakat. Oleh karena itu, lembaga perbankan perlu dimiliki dan dikelola oleh pihak-pihak yang memiliki integritas, komitmen, dan kemampuan yang tinggi untuk pengembangan operasional bank yang sehat.

Selain itu, dalam pengelolaan bank diperlukan SDM yang berintegritas tinggi, kompeten, dan memiliki reputasi keuangan yang baik. Sehubungan dengan hal tersebut, diperlukan proses uji kemampuan dan kepatutan terhadap calon pemilik dan

calon pengelola bank melalui penelitian administratif yang lebih efektif dan proses wawancara yang lebih efisien, dengan tetap memperhatikan pemenuhan persyaratan yang ditetapkan Fit and Proper Test New Entry (FPT New Entry).

Pada triwulan II-2017, terdapat sembilan pemohon FPT New Entry yang lulus

mengikuti proses wawancara, terdiri dari tiga Dewan Komisaris dan enam anggota Direksi. Dari sembilan yang lulus proses wawancara tersebut, 20 peserta mendapatkan Surat Keputusan Lulus yang mencakup carry over dari triwulan sebelumnya (Tabel 44).

Tabel 44 FPT Calon Pengurus dan Pemegang Saham Bank Umum

Sumber: OJK

5.2 Bank Syariah 5.2.1 Perizinan

Pada triwulan II-2017, terdapat 59 permohonan perizinan perbankan syariah yang terdiri dari 3 perizinan produk baru, 41 perizinan pengembangan jaringan kantor dan 15 perizinan lainnya. Dari 59 permohonan tersebut, terdapat 29 (49,15%) permohonan perizinan yang disetujui.

Sebagian besar dari perizinan yang disetujui merupakan perizinan pengembangan jaringan kantor (26 perizinan), yang antara lain terdiri dari pemindahan alamat kantor (15 perizinan), penutupan kantor (7 perizinan), dan pembukaan kantor baru (4 perizinan).

5.2.2 Jaringan Kantor

Jaringan kantor BUS bertambah sebanyak 114 jaringan kantor, yaitu dari 9.815 kantor pada triwulan sebelumnya menjadi 9.929 kantor. Peningkatan utamanya terdapat pada payment point sebanyak 104 unit, diikuti kas keliling/kas mobil/kas terapung Syariah sebanyak 42 unit, dan ATM/ADM syariah sebanyak 5 unit.

Sementara itu, penurunan terdapat pada layanan syariah/office chanelling (26 unit), KCP dalam negeri syariah (7 kantor) dan KC dalam negeri syariah (4 kantor) (Tabel 45).

Lulus Tidak Lulus Lulus Tidak Lulus

PSP/PSPT 0 0 2 0 1 3

Dewan Komisaris 3 1 5 1 5 15

Direksi 6 1 13 0 8 28

Total 9 2 20 1 14 46

New Entry

Wawancara Surat Keputusan (SK) FPT

Jumlah Tidak ditindaklanjuti

TW II - 2017

Kantor Pusat Bank Umum Syariah 13 13 Kantor Cabang (Dalam Negeri) Syariah 613 609

Kantor Cabang (Luar Negeri) - -

Kantor Cabang Pembantu (Dalam Negeri) Syariah 1.333 1.326 Kantor Cabang Pembantu (Luar Negeri) Syariah - -

Kantor Kas Syariah 239 239

Unit Usaha Syariah 21 21

Payment Point 1.821 1.925

Kas keliling/kas mobil/kas terapung Syariah 107 149

ATM/ADM Syariah 2.672 2.677

Layanan Syariah/Office Channeling (di KC/KCP Konvensional) 2.996 2.970

TOTAL 9.815 9.929

TW I - 2017 TW II - 2017 STATUS KANTOR

Tabel 45 Jaringan Kantor Bank Umum Syariah*

Sumber: LKPBU (*hanya Jabodetabek)

Sebaran jaringan kantor BUS sebagian besar berada di wilayah Jawa (57,66% - 5.725 kantor), diikuti Sumatera (25,07% - 2.489 kantor), Kalimantan (7,68% - 763 kantor), Sulampua (7,07% - 702 kantor), dan Bali- NTB-NTT (2,52% - 250 kantor).

Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, terdapat penurunan jumlah jaringan kantor BUS yang terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Penurunan terbesar berada di wilayah Jawa yang turun 131 kantor. Di sisi lain, Sumatera adalah satu-satunya daerah yang mengalami peningkatan jumlah jaringan kantor yaitu bertambah 297 kantor (Grafik 31).

Grafik 31 Penyebaran Jaringan Kantor BUS di Lima Wilayah di Indonesia

5.2.3 Uji Kemampuan dan Kepatutan (New Entry)

Pada triwulan II-2017, telah dilaksanakan FPT new entry terhadap 47 calon PSP, Pengurus Bank Syariah (Komisaris dan Direksi), dan Dewan Pengawas Syariah (DPS). Dari 47 calon tersebut, terdapat empat calon yang dinyatakan memenuhi syarat (lulus), terdiri dari tiga calon pengurus bank syariah dan satu calon DPS. Sementara sisanya, yaitu satu permohonan dibatalkan, 14 permohonan belum memenuhi persyaratan/ketentuan yang berlaku (dikembalikan), dan 28 lainnya masih dalam proses penyelesaian.

5.3 BPR

5.3.1 Perizinan

Pada triwulan II-2017, terdapat sembilan BPR dalam pengawasan khusus dan dua pencabutan izin usaha BPR yang telah diselesaikan. Adapun dua pencabutan izin usaha dilakukan terhadap PT BPR Triharta Indah dan PT BPR Indomitra Mega Kapital

TW I TW II Pendirian BPR - - Merger BPR - - Konsolidasi BPR - - BPR dalam Pengawasan Khusus 12 9 Pencabutan Izin Usaha 3 2 Konversi Syariah - -

Total 14 11 Perijinan BPR 2017

Lulus Tidak

Lulus Total Lulus Tidak Lulus Total

Direksi 124 34 158 203 43 246

Komisaris 113 18 131 86 12 98

PSP 22 0 22 18 0 18

Pengurus 1 1 2 0 0 0

Jumlah 260 53 313 307 55 362

TW II 2017

New Entry TW I

pada PT BPR Triharta Indah dikarenakan adanya fraud yang dilakukan oleh pengurus BPR, sementara penutupan pada PT BPR Indomitra Mega Kapital dikarenakan pengelolaan manajemen BPR yang tidak berjalan dengan baik.

Tabel 46 Perizinan BPR

Sumber: OJK

5.3.2 Jaringan Kantor

Jumlah BPR pada triwulan II-2017 berkurang 11 dibandingkan triwulan sebelumnya menjadi 1.619 BPR. Jumlah jaringan kantor dari 1.619 BPR tersebut bertambah 45 kantor dibandingkan triwulan sebelumnya dari 6.110 menjadi 6.155 jaringan kantor.

Penyebaran jaringan kantor pada lima wilayah di Indonesia masih belum merata, yaitu masih terpusat di wilayah Jawa (74,97% atau 4.616 kantor), diikuti Sumatera (11,74% atau 723 kantor), Bali-NTB-NTT (7,24% atau 446 kantor), Sulampua (3,98%

atau 245 kantor), dan Kalimantan (2,06%

atau 127 kantor).

Grafik 32 Jaringan Kantor BPR

Sumber: OJK, Juni 2017

5.3.3 Uji Kemampuan dan Kepatutan (New Entry)

Pada triwulan II-2017, telah dilakukan FPT New Entry34 kepada 362 calon pengurus dan PSP BPR dengan hasil terdapat 307 calon Pengurus/PSP BPR yang mendapatkan persetujuan untuk menjadi Direksi, Komisaris dan PSP, serta 55 calon yang ditolak. Jumlah calon pengurus dan PSP BPR yang lulus tersebut meningkat sebesar 18%

dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.

Tabel 47 Daftar Hasil Fit and Proper Test New Entry BPR

Sumber: OJK

34 Fit and Proper New Entry adalah Uji Kemampuan dan Kepatutan yang dilakukan bagi Calon Pengurus baru (Pemegang Saham, Direksi, Dewan Komisaris) yang mengajukan permohonan untuk pertama kali. Ketentuan ini diatur dalam POJK Nomor 27/POJK.03/2016 tentang Penilaian Kemampuan dan Kepatutan Bagi Pihak Utama Lembaga Jasa Keuangan. Dengan ketentuan

pelaksanaan pada SEOJK Nomor

39/SEOJK.03/2016 tentang Penilaian Kemampuan dan Kepatutan Bagi Calon Pemegang Saham Pengendali, Calon Anggota Direksi, dan Calon Anggota Dewan Komisaris Bank.

Halaman ini sengaja dikosongkan

Koordinasi Antar

Lembaga

Halaman ini sengaja dikosongkan

Bab VI

Koordinasi Antar Lembaga

Dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan, dilakukan koordinasi dengan lembaga- lembaga terkait baik secara bilateral maupun melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Selain itu, OJK juga berkoordinasi dengan pemerintah dan lembaga terkait untuk meningkatkan fungsi pengawasan dan pengembangan industri perbankan.

1. Koordinasi dalam rangka Stabilitas Sistem Keuangan

1.1 Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK)

Pada 26 April 2017, telah dilaksanakan rapat berkala KSSK yang antara lain membahas:

a. Asesmen stabilitas sistem keuangan pada triwulan I-2017;

b. Implementasi Undang-Undang Nomor 9 tahun 2016 tentang Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan (UU PPKSK) antara lain terkait perkembangan penyusunan peraturan pelaksana UU PPKSK serta hasil pemutakhiran daftar Bank Sistemik; dan c. Laporan Pelaksanaan Financial Sector

Assessment Program (FSAP).

Berdasarkan penilaian KSSK dengan mempertimbangkan perkembangan moneter, fiskal, makroprudensial, sistem pembayaran, pasar modal, pasar Surat Berharga Negara (SBN), perbankan, lembaga keuangan non-bank, dan penjaminan simpanan, kondisi Stabilitas Sistem Keuangan triwulan I-2017 dalam kondisi normal.

Selanjutnya, stabilitas sistem keuangan diperkirakan masih akan terjaga seiring optimisme IMF yang melakukan revisi ke atas pertumbuhan ekonomi global serta

meredanya kekhawatiran atas tekanan politik di Uni Eropa pasca hasil pemilihan presiden Perancis tahap pertama. Namun demikian, masih terdapat potensi risiko eksternal maupun internal yang perlu dicermati.

Selain itu, Rapat KSSK juga membahas beberapa topik terkait implementasi UU PPKSK, antara lain:

a. Sebagian besar peraturan pelaksanaan UU PPKSK telah selesai disusun dan diterbitkan, namun demikian terdapat rancangan peraturan yang masih dalam proses pembahasan harmonisasi, yaitu Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Besaran Bagian Premi untuk Pendanaan Program Restrukturisasi Perbankan (PRP). Terkait peraturan pelaksanaan UU PPKSK, OJK telah menerbitkan beberapa ketentuan, yaitu:

 POJK tentang Penetapan Status dan Tindak Lanjut Pengawasan Bank Umum yang memuat aturan

mengenai penanganan

permasalahan bank, baik penanganan terhadap bank sistemik maupun penanganan terhadap bank selain bank sistemik. Dalam ketentuan ini diatur bahwa status pengawasan bank terdiri dari 3 (tiga)

tahap, yaitu pengawasan normal, pengawasan intensif, dan pengawasan khusus.

 POJK tentang Bank Perantara yang memuat aturan mengenai prosedur pendirian bank perantara, mulai dari proses pendirian, operasional, dan pengakhiran Bank Perantara. Bank Perantara hanya dapat didirikan dan dimiliki oleh LPS.

 POJK tentang Rencana Aksi (Recovery Plan) bagi Bank Sistemik yang memuat aturan mengenai kewajiban bank sistemik untuk mempersiapkan rencana dalam rangka mencegah dan mengatasi permasalahan keuangan yang mungkin terjadi di Bank Sistemik dengan cara menyusun suatu Rencana Aksi (Recovery Plan). Salah satu hal penting yang perlu dicatat dari ketentuan ini adalah adanya aturan agar dalam Rencana Aksi (Recovery Plan) memuat kewajiban pemegang saham pengendali dan/atau pihak lain untuk menambah modal bank dan mengubah jenis utang tertentu yang dapat di konversi menjadi modal bank (bail-in).

b. Update mengenai hasil pemutakhiran daftar Bank Sistemik yang ditetapkan oleh OJK setelah berkoordinasi dengan Bank Indonesia.

1.2 Koordinasi OJK dengan Bank Indonesia (BI)

Terdapat empat aspek kerjasama dan koordinasi antara OJK dan BI sesuai dengan UU PPKSK, yaitu:

a) Pemantauan dan pemeliharaan stabilitas sistem keuangan;

b) Penanganan krisis sistem keuangan;

c) Penanganan permasalahan (likuiditas dan solvabilitas) bank sistemik, baik dalam kondisi stabilitas sistem keuangan normal maupun kondisi krisis sistem keuangan; dan

d) Pertukaran data dan/atau informasi yang diperlukan dalam rangka pencegahan dan penanganan krisis sistem keuangan.

Sebagai tindak lanjut dari UU PPKSK, koordinasi yang dilakukan antara OJK dan BI pada triwulan II-2017 antara lain terkait koordinasi dalam rangka penyusunan ketentuan terkait pemberian Pinjaman Likuiditas Jangka Pendek (PLJP), yang mencakup: (i) penilaian pemenuhan persyaratan agunan serta perkiraan kemampuan bank mengembalikan PLJP (repayment capacity); dan (ii) pengawasan bersama terhadap bank yang menerima PLJP.

Selain itu, Undang-Undang Nomor 21 tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan mengamanatkan OJK dan BI untuk berkoordinasi dalam rangka pelaksanaan tugas dan kewenangan masing-masing Lembaga. Amanat UU dimaksud ditindaklanjuti dengan Keputusan Bersama (KB) BI-OJK. Pada triwulan II-2017 telah melakukan beberapa koordinasi, antara lain dalam bidang kebijakan/peraturan makroprudensial dan mikroprudensial, yang terkait dengan:

a) Rancangan Peraturan Bank Indonesia (RPBI) tentang Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu;

b) RPBI Transaksi Sertifikat Deposito;

Dokumen terkait