• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab I Kinerja Industri Perbankan Nasional

B. Kinerja Perbankan Nasional

4. Kinerja BPR Syariah (BPRS)

4.5 Permodalan

Permodalan BPRS mengalami perbaikan, tercermin dari nilai CAR sebesar 20,62%

yang meningkat dibandingkan tahun sebelumnya 20,22%. Peningkatan didorong oleh meningkatnya laba dan setoran modal oleh pemilik. Hal ini menunjukkan kemampuan BPRS yang masih memadai dalam menyerap risiko yang dihadapi.

38

Box. 2 Kajian Capping Suku Bunga Perbankan

Sejak semester II-2013, suku bunga deposito meningkat secara signifikan sejalan dengan kenaikan BI Rate. Suku bunga deposito merupakan biaya dana (cost of fund) bagi perbankan dan merupakan komponen utama penetapan suku bunga kredit. Suku bunga kredit yang tinggi berimbas pada kemampuan bayar debitur, sehingga berpotensi meningkatkan risiko kredit yang pada akhirnya dapat berdampak negatif terhadap kegiatan investasi maupun stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan.

Untuk menahan persaingan suku bunga simpanan bank, OJK mengeluarkan supervisory action di bulan September 2014 kepada bank BUKU 3 dan BUKU 4 dengan menetapkan batas maksimum (capping) suku bunga DPK masing-masing sebesar 225 bps dan 200 bps di atas BI Rate.

Capping suku bunga tersebut kemudian direvisi pada Maret 2016 menjadi 100 bps dan 75 bps di atas BI Rate kepada bank BUKU 3 dan BUKU 4.

Tren Suku Bunga dan Capping Perbankan

Pasca capping suku bunga, tingkat suku bunga deposito cenderung turun dan disertai melambatnya pertumbuhan deposito di perbankan seperti terlihat pada grafik snail trail (bagian kiri) di bawah. Deposito bank BUKU 1 dan BUKU 2 bahkan sempat tumbuh negatif walaupun secara rerata penurunan suku bunga DPK pada BUKU 1 dan BUKU 2 relatif lebih rendah dibandingkan bank BUKU 3 dan BUKU 4.

Sementara itu, grafik snail trail (bagian kanan) menunjukkan bahwa secara umum pada paruh pertama pengamatan (8 triwulan pertama), suku bunga kredit dan pertumbuhan kredit memiliki korelasi negatif, dimana kenaikan suku bunga kredit diikuti dengan perlambatan pertumbuhan kredit. Namun demikian, korelasi keduanya cenderung positif di paruh kedua, dimana penurunan suku bunga kredit justru diikuti dengan perlambatan pertumbuhan kredit. Hal tersebut seiring dengan tren perlambatan pertumbuhan ekonomi pada paruh kedua periode pengamatan.

70 75 80 85 90 95

4.5 5 5.5 6 6.5 7 7.5 8 8.5 9

1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11

2012 2013 2014 2015 2016

BI Rate Deposit rate 7DRR LPS Rate LDR (RHS)

39 Snail Trail Pertumbuhan DPK dan SB Deposito 1 Bulan (kiri) dan Pertumbuhan Kredit dan SBDK

Korporasi (kanan)*

Untuk mengidentifikasi determinan tingkat suku bunga perbankan dan mengevaluasi dampak capping suku bunga, dilakukan kajian menggunakan pendekatan panel fixed effect dengan periode pengamatan Tw-I 2004 hingga Tw-IV 2016. Periode pengamatan yang panjang dipilih dengan tujuan untuk menangkap dinamika suku bunga historis yang lebih akurat dan menghilangkan bias pada model panel dinamis sesuai dengan Nickell (1981). Estimasi data panel menguji tingkat signifikansi pengaruh variabel efisiensi operasional, kondisi likuiditas bank dan capping suku bunga dengan variabel kontrol yang terdiri dari BI Rate, pertumbuhan PDB, dan tingkat inflasi. Analisis data panel juga memasukkan faktor interaksi variabel indikator perbankan dan ekonomi makro dengan capping suku bunga.

Model: Agregat BUKU 4 BUKU 3 BUKU 2 dan 1

SB Deposito (t-1) 0,51*** 0,53*** 0,58*** 0,50***

Efisiensi Operasional 0,005*** 0,01*** 0,01*** 0,01***

Likuiditas Perbankan (LDR) 0,002* 0,01*** 0,0004 0,002 Policy Rate 0,32*** 0,39*** 0,24*** 0,33***

PDB -0,16** -0,16** -0,07 -0,16***

Ekspektasi Inflasi 0,04** 0,04 0,07*** 0,03*

Kebijakan Capping -0,24 0,48 -0,28 0,37

Efisiensi Op x Capping -0,0003 -0,001 -0,001 -0,004**

LDR x Capping 0,0006 -0,001 0,001* -0,001

Policy Rate x Capping 0,02 -0,07 0,04 -0,01

Konstanta 1,40*** -0,64** 0,52*** 1,52***

Adj. R squared 0,72 0,91 0,82 0,69

N 4.633 200 854 3.579

Keterangan: p-value: *p < 0,1; **p < 0,05; dan ***p < 0,01.

*Ket: Titik pada grafik snail trail menunjukkan posisi tingkat pertumbuhan kredit dan suku bunga pada satu periode.

Titik berwarna kuning menunjukkan data awal pengamatan, sedangkan titik berwarna hitam menunjukkan periode kebijakan capping diterapkan pada Tw-III 2014 dan Tw-I 2016. Tanda panah menunjukkan arah pergerakan data sepanjang periode pengamatan Tw-I 2014 – Tw-IV 2016.

4 4.5 5 5.5 6 6.5 7 7.5 8 8.5

-5 5 15 25

SB deposito 1 bulan (% p.a.)

Pertumbuhan DPK (% yoy)

BUKU 4 BUKU 3 BUKU1 & 2

10 10.5 11 11.5 12

0 5 10 15 20 25

SBDK korporasi (%p.a)

Pertumbuhan kredit (% yoy)

BUKU 4 BUKU 3 BUKU1 & 2

40

Hasil estimasi menunjukkan bahwa pergerakan suku bunga deposito dalam periode pengamatan lebih dapat dijelaskan dengan kondisi ekonomi makro dan efisiensi operasional bank. BI Rate terbukti menjadi faktor pendorong utama yang mempengaruhi suku bunga deposito. Dari sisi internal/operasional perbankan, bank yang tidak efisien dan/atau memiliki kondisi likuiditas yang relatif rendah cenderung memberikan suku bunga yang lebih tinggi. Sementara itu, korelasi pertumbuhan PDB yang negatif dengan suku bunga deposito sesuai dengan teori dimana peningkatan kegiatan ekonomi akan mendorong jumlah uang beredar dan permintaan deposito sehingga bank dapat selanjutnya menurunkan tingkat suku bunga deposito.

Pada penerapan pertama capping di Tw-III 2014, tren penurunan suku bunga deposito dapat dijelaskan oleh perbaikan likuiditas seiring dengan tingkat inflasi yang rendah dan pertumbuhan PDB yang mulai stabil. Pada fase kedua capping di Tw-I 2016, batas yang lebih ketat mampu menekan suku bunga deposito agar tidak meningkat lebih lanjut. Namun demikian, pergerakan tingkat suku bunga deposito setelah penerapan capping kedua cenderung berada di sekitar batas capping.

Penurunan selanjutnya mengikuti pergerakan BI Rate yang menjadi acuan implementasi capping suku bunga perbankan.

Pergerakan Tingkat Suku Bunga dan Batas Capping

Hasil kajian menyimpulkan bahwa penurunan suku bunga kredit dan deposito secara umum lebih disebabkan oleh faktor ekonomi makro dibandingkan penetapan interest rate capping. Dengan demikian, upaya penurunan suku bunga kredit dan deposito lebih lanjut akan dapat dilakukan melalui upaya peningkatan efisiensi operasional bank.

Sumber:

Gilbert, R. Alton, 1986, “Requiem for Regulation Q: What It Did and Why It Passed Away”, Federal Reserve Bank of St. Louis.

Hellman, Thomas F., Murdock, Kevin C., dan Stiglitz, Joseph E., 2000, “Liberalization, Moral Hazard in Banking, and Prudential Regulation: Are Capital Requirement Enough?”, The American Economic Review, vol. 90, No 1, pp 147-165.

Nickell, Stephen, 1981, “Biases in Dynamic Models with Fixed Effects”, Econometrica, 48, 1399-1416.

Yusgiantoro, Inka dan Raymond, Andre, 2017, “Dampak Kebijakan Capping Bunga Perbankan”, Catatan Riset Grup Riset dan Database Sektor Keuangan No. CR/17/01.

5 6 7 8 9 10

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

2012 2013 2014 2015 2016

BI Rate Deposit Rate Capping BUKU 4 SBI 1Y

Profil Risiko

Perbankan

Halaman ini sengaja dikosongkan

Dokumen terkait