• Tidak ada hasil yang ditemukan

Cara Penurunan Wahyu al-Qur’a>n

Dalam dokumen 'ULU<M AL-QUR'A<N - repo uinsa (Halaman 71-77)

Nabi Muhammad sebagai manusia biasa menerima bisikan dari Allah yang disebut dengan wahyu. Bisikan itu berisi misi atau risa>lah ila>h}i>yah yang disampaikan kepadanya melalui Jibril.

Artinya, pewahyuan al-Qur’a>n kepada Nabi menggambarkan terjadinya perumpamaan antara makhluk material (jasmani), yaitu Nabi Muhammad dengan makhluk immaterial (rohani), yaitu Jibril. Diterimanya wahyu oleh Nabi Muhammad dari Allah, berarti interaksi antara makhlu>q dengan Kha>liq.

Al-Qur’a>n menyebutkan, ada tiga cara penyampaian misi ila>hi>yah itu kepada para nabi dan rasul, yaitu melalui wahyu, pembicaraan di balik hijab, dan atau Allah mengirim seorang

utusanNya. Allah berfirman dalam surat al-Syu>ra> [42] ayat 51:

Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata dengannya kecuali dengan perantaraan wahyu, atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizinNya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.

Berdasarkan ayat di atas, wahyu Allah yang turun kepada para nabi bervariasi. Pertama, pemberitahuan Allah dengan cara wahyu diturunkan tanpa perantaraan. Termasuk dalam kategori ini adalah mimpi yang tepat dan benar, misalnya Nabi Ibrahim pernah men- erima perintah menyembelih putranya, yakni Nabi Isma‘il. Peristiwa ini diungkap oleh Allah dalam surat al-Shaffa>t [37] ayat 102:

Maka tatkala anak itu mencapai umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?”

Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang di- perintahkan kepadamu, insya Allah engkau mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Turunnya wahyu yang berkaitan dengan mimpi yang benar juga pernah dialami Rasulullah. Allah menurunkan surat al- Kautsar [108] ayat 1-3 berdasarkan mimpi. Allah berfirman:

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tu- hanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membencimu, dialah yang terputus.

Terkait dengan penerimaan wahyu berdasarkan mimpi yang benar adalah firman Allah surat al-Fath} [48] ayat 27:

Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul- Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya, yaitu bahwa sesungguhnya engkau pasti akan memasuki Masjid al-H{ara>m, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang engkau tidak merasa takut. Maka Allah mengeta- hui apa yang tidak engkau ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan.

Kedua, Allah menyampaikan wahyu di balik tabir. Pembi- caraan di balik tabir adalah salah satu cara Allah menyampaikan risa>lah. Nabi tidak melihat Allah, tetapi ia dapat menerima hida>yah atau risa>lah tersebut, misalnya wahyu Allah kepada Nabi Musa yang diceritakan dalam surat Tha>ha> [20] ayat 11-13, al-A‘ra>f [7] ayat 143 dan al-Nisa>’ [4] ayat 164:

Ketika Nabi Musa datang ke tempat api itu, ia dipanggil oleh Tuhan: “Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu. Karena itu, lepaskanlah terompahmu; ses- ungguhnya engkau berada di lembah yang suci, yakni

Thuwa>. Dan Aku telah memilihmu, maka dengarkanlah apa yang diwahyukan.”

Dan tatkala Musa datang (bermunajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, Musa berkata: “Ya Tuhan, tampakkanlah (diriMu).” Tuhan berfirman:

“Engkau sekali-kali tidak sanggup melihatKu.”

Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami ceritakan tentang mereka kepadamu da- hulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung.

Ketiga, penyampaian wahyu dengan perantaraan Malaikat Jibril. Dalam hal ini, Malaikat Jibril terkadang menampakkan wajah atau bentuknya yang asli. Penyampaian wahyu dalam ben- tuk ini jarang terjadi. Nabi Muhammad hanya dua kali melihat Jibril dalam bentuknya yang asli, yaitu ketika Nabi Muhammad diisra’kan di Sidrat al-Muntaha> dan ketika Nabi Muhammad menerima wahyu yang pertama. Untuk kasus yang terakhir ini Allah berfirman dalam surat al-‘Alaq [96] ayat 1-5:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang men- ciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Maha Pemurah, yang men- gajari (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia menga-

jarkan kepada manusia apa yang tidak diketahui.

Ketentuan wahyu Allah yang turun dalam bentuk ini adalah surat al-Najm [54] ayat 1-14:

Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muham- mad) tidak sesat dan tidak pula keliru dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur’a>n) menurut kemauan hawa nafsu. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepa- danya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat (pada Muham- mad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kalian (orang-orang musyrik Mekah) hendak membantunya tentang apa yang telah dilihatnya.

Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, yaitu di Sidrat al-Muntaha>.

Secara utuh al-Qur’a>n tidak memaparkan bentuk asli malai- kat secara sempurna. Hanya sedikit gambaran yang diilustrasikan al-Qur’a>n tentang bentuk asli malaikat, misalnya firman Allah surat Fa>thir [35] ayat 1:

Segala puji bagi Allah pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap; masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat.

Allah menambahkan pada ciptaanNya apa yang dike- hendakiNya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Selain menampakkan wajah atau bentuknya yang asli, dalam penyampaian wahyu Malaikat Jibril menjelma sebagai manusia. Dia juga menjelma sebagai seorang laki-laki yang bernama Dluhyah bin Khali>fah, seorang laki-laki yang sangat tampan. Peristiwa penjel- maan malaikat dalam bentuk manusia antara lain juga dialami oleh Nabi Luth sebagaimana diungkap oleh Allah dalam surat Hu>d [11]

ayat 77 dan surat al-‘Ankabu>t [29] ayat 33:

Dan tatkala datang kepada Luth utusan-utusan Kami (para malaikat), dia berduka cita dan merasa sesak dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata:

“Inilah hari yang sangat sulit.”

Dan tatkala utusan-utusan Kami (para malaikat) datang kepada Luth, dia merasa susah karena (kedatangan) mereka, dan (merasa) tidak mempunyai kekuatan untuk melindungi mereka dan mereka berkata: “Janganlah engkau cemas dan janganlah engkau berduka cita. Ses- ungguhnya Kami akan menyelamatkanmu dan pengikut-

pengikutmu kecuali istrimu. Dia termasuk orang yang tertinggal (dihancurkan).”

Dalam dokumen 'ULU<M AL-QUR'A<N - repo uinsa (Halaman 71-77)