Al-Qur’a>n memiliki banyak nama. Menurut Abu> al-Ma‘a>li>
Syaidzalah (w. 495 H/997 M), al-Qur’a>n memiliki 55 nama. Menurut Abu> al-H{asan al-Harali> (w. 647 H/1249 M), al-Qur’a>n memiliki lebih dari 90 nama.7 Banyaknya nama al-Qur’a>n menunjukkan bahwa kedudukan al-Qur’a>n sangat mulia. Banyak nama mengisyaratkan kemuliaan nama tersebut. Beberapa nama al-Qur’a>n di antaranya:
1. Al-Qur’a>n. Al-Qur’a>n (bacaan) disebut al-Qur’a>n, agar ia menjadi bacaan dan dibaca oleh umat Islam. Nama al-Qur’a>n disebut dalam surat al-Baqarah [2] ayat 185:
Bulan Ramadan (adalah bulan) yang Kami turunkan al-Qur’a>n (bacaan) sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan dari petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil).
2. Al-Furqa>n. Al-Qur’a>n disebut al-Furqa>n (pembeda), karena ia membedakan antara yang benar dan yang batil. Nama ini dapat ditemukan antara lain dalam surat al-Furqa>n [25] ayat 1:
Maha Suci Dzat (Allah) yang telah menurunkan al- Furqa>n kepada hambaNya, agar dia menjadi pemberi peringatan.
7 Ibid., 28.
3. Al-Kita>b. Al-Qur’a>n disebut al-Kita>b (kitab, buku), karena ia menjadi pegangan atau pedoman hidup bagi manusia.
Nama ini dapat ditemukan antara lain dalam surat al-Nah}l [16] ayat 89:
Dan Kami turunkan kepadamu al-Kita>b untuk menjelas- kan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (kepada Allah).
4. Al-Dzikr. Al-Qur’a>n disebut al-Dzikr, karena ia dijadikan peringatan untuk mengingat Allah. Nama ini dapat ditemu- kan dalam surat al-H{ijr [15] ayat 9:
Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Dzikr (al-Qur’a>n) dan sesungguhnya Kami (pulalah) yang memeliharanya.
Empat nama al-Qur’a>n tersebut, menurut Ibn Jazzi> al-Kila>bi>
(741-793 H) yang tepat. Dalam pandangannya, al-Qur’a>n hanya memiliki empat nama, yakni al-Qur’a>n, al-Kita>b, al-Furqa>n, dan al-Dzikr.8 Nama-nama selain empat itu adalah sifat seperti pensifatan al-Qur’a>n dengan al-‘Adhi>m (yang agung), al-Kari>m (yang mulia), al-Mati>n (yang kuat), al-‘Azi>z (yang perkasa), al- Maji>d (yang pemurah/mulia), dan lain sebagainya. Demikian pula sebutan yang mengarah pada julukan al-Qur‘a>n seperti al-H{abl (tali Allah), al-Baya>n (keterangan), al-H{aki>m (yang bijaksana), al-‘Adl (yang adil), dan lain sebagainya.
Dari beberapa nama, sifat dan julukan al-Qur’a>n, kata al- Qur’a>n yang paling banyak disebutkan dalam ayat-ayatnya,
8 Muh}ammad bin Ah}mad al-Jazzi> al-Kila>bi>, Kita>b al-Tashi>l li ‘Ulu>m al-Tanzi>l, jilid 1 (Beirut:
Da>r al-Fikr, t.t.), 5.
kemudian al-Kita>b, al-Dzikr, dan al-Furqa>n. Yang lainnya hanya disebut sesekali atau beberapa kali. Al-Qur’a>n disebutkan sebanyak 70 kali dalam 70 ayat dan 38 surat; al-Kitab—yang digunakan untuk maksud al-Qur’a>n—diulang 53 kali dalam 53 ayat dan 32 surat.; sedang al-Dzikr—yang digunakan dalam pengertian al-Qur’a>n—tersebut sebanyak 9 kali dalam 8 ayat dan 7 surat. Adapun al-Furqa>n—yang digunakan untuk maksud al-Qur’a>n—hanya didapat 2 kali dalam 2 ayat dan surat
Terlepas dari perbedaan ulama tentang nama, sifat dan julukan al-Qur’a>n, semuanya itu diarahkan pada isi dan fungsi al-Qur’a>n.
Sebagai ilustrasi, kitab Allah ini dinamakan al-Qur’a>n (bacaan, yang dibaca) menggambarkan bahwa al-Qur’a>n selalu dibaca oleh banyak orang; tidak hanya dibaca tapi dikaji secara ilmiah. Dalam serang- kaian kewajiban salat saja, setiap lima kali dalam sehari semalam oleh komunitas muslim sedunia, al-Qur’a>n selalu dibaca. Pengkajian terhadap al-Qur’a>n tidak hanya dilakukan oleh komunitas Muslim, tapi non-Muslim juga melakukan kajian terhadap al-Qur’a>n.
Penyebutan al-Qur’a>n dengan nama al-Kita>b (tulisan) memberi gambaran bahwa penulisan ayat-ayat al-Qur’a>n dalam lintasan sejarah selalu ada. Penulisan al-Qur’a>n tidak hanya da- lam bentuk penulisan secara normatif, tapi bentuk kaligrafi yang mengarah pada seni lukis bermunculan. Keindahan tulisan al- Qur’a>n yang diilhami oleh rangkaian ayat-ayat dan pesan-pesan suci yang terkandung di dalamnya menjadi spiritnya.
Penyebutan al-Qur’a>n dengan nama al-Dzikr juga memiliki akurasi nama. Al-Dzikr yang berarti mengingat atau menyebut mengaksentuasikan pada pengingatan dan penyebutan nama Allah.
Dengan selalu membaca al-Qur’a>n, menyebut nama Allah dan mengingatNya selalu dilakukan.
Penamaan al-Qur’a>n dengan penyebutan al-Furqa>n yang secara harfiyah pembeda membuktikan bahwa al-Qur’a>n membe- dakan antara yang halal dan yang haram, antara yang benar dan yang batil, antara yang bersih dan yang kotor, antara yang baik
dan yang buruk, antara yang benar dan yang salah, antara perintah dan larangan, antara yang manfaat dan mafsadat, demikian juga yang lainnya. Ketentuan ini terungkap dalam berbagai ayat yang mengaksentuasikan pada makna pembeda tersebut.
Nama-nama, sifat dan julukan al-Qur’a>n dapat dibuktikan ketepatan dan akurasinya dengan visi dan fungsi al-Qur’a>n itu sendiri. Dari sejumlah nama, sifat dan julukan al-Qur’a>n, se- muanya dapat dilacak keserasiannya baik dari segi nama maupun isi dan fungsinya.