Untuk mengetahui secara utuh beberapa ragam kriteria yang terkandung dalam ayat Makki>yah dan Madani>yah sangat sulit. Di antara kesulitan itu adalah ayat yang diturunkan di Mekah masih diperselisihkan baik yang menyangkut susunan atau rangkaian yang diturunkan di Mekah dan di Madinah. Misalnya, ayat yang
22 Ibid., 189.
turun di Mekah tetapi diturunkan pada penduduk Madinah, de- mikian juga sebaliknya,23 ayat-ayat yang diturunkan di Juhfah, Baitul Maqdis, Thaif, Hudaibiyah, ayat yang diturunkan pada waktu siang, malam, musim dingin, musim panas; ayat yang turun pada saat Rasulullah berada di rumah, pada saat musa>fir, pada saat bersama sahabat, dan pada saat sendirian. Demikian juga ayat yang turun melalui ayat-ayat Madani>yah dalam surat Makki>yah, ayat-ayat Makki>yah dalam surat Madani>yah, dan ayat-ayat yang dibawa dari Madinah sampai ke Mekah.
Ayat-ayat yang turun di Mekah sebelum hijrah (Makki>yah) dan yang turun di Madinah sesudah hijrah (Madani>yah) mempunyai konteks yang berbeda. Masyarakat Mekah ada- lah masyarakat yang menolak risa>lah Rasulullah, sedangkan masyarakat Madinah adalah masyarakat yang menerima ajaran beliau. Karena itu, kedua kelompok ayat tersebut mempunyai beberapa perbedaan dan ciri-ciri khusus:
1. Ayat dan surat Makki>yah pada umumnya pendek, sedang ayat dan surat Madani>yah umumnya panjang.
2. Ayat dan surat Makki>yah pada umumnya dimulai dengan
(wahai manusia), sedang ayat dan surat Madani>yah dimulai dengan (wahai orang-orang yang beriman).
3. Ayat dan surat Makki>yah pada umumnya berbicara tentang masalah ketauhidan, sedang ayat dan surat Madani>yah pada umumnya berbicara tentang kemasyarakatan.
4. Setiap surat yang di dalamnya mengandung ayat sajadah adalah Makki>yah.
5. Setiap surat yang mengandung lafal kalla> adalah Makki>yah.
6. Setiap surat yang mengandung kisah para nabi dan umat terdahulu kecuali surat al-Baqarah [2] adalah Makki>yah.
7. Setiap surat yang dimulai dengan huruf-huruf muqa>tha‘ah kecuali surat al-Baqarah [2] dan A<li ‘Imra>n [3] adalah
23 Fahd bin Abdurrahman al-Rumi, Ulumul Qur’an: Studi Kompleksitas al-Qur’an, ter. Amirul Hasan dan Muhammad Halabi (Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1997), 165.
Makki>yah, sedang surat al-Ra‘d [13] masih diperselisihkan oleh para ulama.24
Terkait dengan ciri-ciri ayat Makki>yah dan Madani<yah, Abdul Djalal H.A. sangat rinci memberikan pemilihan antara keduanya. Menurutnya, ciri-ciri itu sebagai berikut:
1. Ciri-ciri Makki>yah
a. Dimulai dengan nida>’ (panggilan) seperti (wahai manusia) dan lain sebagainya.
b. Di dalamnya terdapat lafal kalla>. Lafal tersebut terdapat dalam al-Qur’a>n surat al-Furqa>n [25] bagian akhir mushhaf
‘Utsma>ni> sebanyak 33 kali.
c. Di dalamnya terdapat ayat-ayat sajadah (disunatkan sujud tila>wah jika membacanya).
d. Di permulaannya terdapat huruf-huruf tahajji> (huruf-huruf yang terpotong-potong).
e. Di dalamnya terdapat cerita-cerita para nabi dan umat ter- dahulu selain surat al-Baqarah [2] dan al-Ma>’idah [5].
f. Di dalamnya berisi cerita-cerita tentang kemusyrikan dan penyembahan-penyembahan terhadap selain Allah.
g. Di dalamnya berisi keterangan-keterangan adat kebiasaan orang-orang kafir dan orang-orang musyrik yang suka men- curi, marampok, membunuh, mengubur anak perempuan hidup-hidup, dan lain sebagainya.
h. Di dalamnya berisi penjelasan dengan bukti-bukti dan argumen- tasi dari alam ciptaan Allah yang dapat menyadarkan orang- orang kafir untuk beriman kepada Allah, percaya kepada para rasul, kitab-kitab suci, hari kiamat, dan sebagainya.
i. Di dalamnya berisi ajaran prinsip-prinsip akhlak dan pra- nata sosial, yang dijelaskan dengan sangat mengagumkan sehingga menyebabkan orang benci kepada kekafiran,
24 M. Quraish Shihab et.al, Sejarah & ‘Ulum al-Qur’an (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999), 74.
kemusyrikan, kefasikan, kekerasan, dan sebagainya; dan sebaliknya dapat menarik orang untuk beriman, taat, setia, kasih sayang, ikhlas, hormat, rendah diri, dan sebagainya.
j. Di dalamnya berisi nasehat-nasehat berupa petunjuk dan ibarat-ibarat dari balik cerita yang dapat menyadarkan bahwa kekafiran, kedurhakaan, dan pembangkangan umat itu hanya mengakibatkan kehancuran dan kesengsaraan.
k. Di dalamnya berisi ayat-ayat nida>’ yang ditujukan kepada pen- duduk Mekah atau orang-orang kafir, musyrik dan sebagainya dengan ungkapan (wahai manusia), (wahai orang-orang kafir), dan (wahai anak-anak Adam).
l Kebanyakan surat atau ayat-ayatnya pendek. Bentuk terse- but ditujukan kepada orang-orang Quraisy Mekah yang umumnya pakar bahasa Arab.
2. Ciri-ciri Madani>yah
a. Di dalamnya berisi hukum-hukum (h}udu>d) seperti tindak pidana pencurian, perampokan, pembunuhan, penyerangan, perzinaan, kemurtadan, dan tuduhan zina.
b. Di dalamnya berisi hukum-hukum fara>’idl, dzawi> al-arh}a>m, dan dzawi> al-‘asha>bah.
c. Berisi izin jiha>d fi> sabi>l Alla>h dan hukum-hukumnya.
d. Berisi keterangan mengenai orang-orang munafik, sifat-sifat, dan perbuatan mereka kecuali surat al-‘Ankabu>t.
e. Berisi hukum-hukum ibadah seperti hukum salat, zakat, puasa, haji, dan sebagainya.
f. Beirisi hukum-hukum mu‘a>mala>t seperti jual beli, sewa- menyewa, utang-piutang, dan sebagainya.
g. Berisi hukum-hukum munakah}a>t, baik mengenai nikah, talak atau mengenai h{adla>nah.
h. Berisi hukum-hukum kemasyarakatan dan kenegaraan seper- ti masalah permusyawaratan, kedisiplinan, kepemimpinan, pendidikan, pergaulan, dan sebagainya.
i. Berisi dakwah (seruan) kepada orang-orang Yahudi dan Nas- rani serta penjelasan akidah mereka yang menyimpang.
j. Berisi ayat-ayat nida>’ yang ditujukan kepada penduduk
Madinah seperti .
k. Kebanyakan surat atau ayat-ayatnya panjang, karena ditu- jukan kepada penduduk Madinah yang kebanyakan mereka kurang terpelajar sehingga perlu dengan ungkapan yang luas agar jelas.25
Kategorisasi terhadap ciri-ciri ayat Makki>yah dan Madani>yah bukan sesuatu yang final dan tidak bisa direkonstruksi. Tujuan kategorisasi tersebut hanya untuk mengetahui ciri-ciri Makki>yah dan Madani>yah tersebut, yang antara satu dengan yang lain memiliki kelebihan dan kekurangan. Untuk itu, penangkapan terhadap pesan ayat al-Qur’a>n adalah penting. Respons al-Qur’a>n terhadap kehidupan masyarakat di Mekah dan di Madinah meru- pakan objek yang harus dikaji dengan menjelaskan pesan yang terkandung di dalam ayat tersebut.
Pandangan yang menetapkan bahwa ciri-ciri Makki>yah ada- lah dan , sedang ciri-ciri Madani>yah ada-
lah dan perlu dikembangkan kepada
situasi dan kendisi masyarakat Mekah dan Madinah pada saat itu. Dengan melihat redaksi yang berbeda, pemahaman terhadap pesan yang terkandung dalam ayat juga berbeda. Secara sosio- logis, inspirasi yang ditangkap bahwa mendekati orang-orang kafir dan orang-orang beriman dalam konteks kekinian tentu berbeda sebagaimana respons al-Qur’a>n pada saat Rasulullah di Mekah dan di Madinah, respons al-Qur’a>n sebelum Rasulullah hijrah dan sesudah hijrah, atau respons al-Qur’a>n dengan subjek yang menjadi sasaran (khitha>b).
Di antara ciri-ciri Makki>yah dan Madani>yah adalah bahwa setiap surat yang di dalamnya disebutkan kata sajdah (sujud)
25 Djalal, Ulumul Qur’an, 167.
itu pasti Makki>yah. Ungkapan sajdah lebih dekat pada Islam daripada iman. Sujud mengandung misteri besar yang berkaitan dengan misteri perjalanan menuju ke tangga penghambaan.26 Di dalam al-Qur’a>n surat al-‘Alaq [96] ayat 19 Allah berfirman:
Sekali-kali jangan. Jaganlah engkah patuh kepadanya;
bersujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).
Setiap surat yang diawali dengan huruf hija>’i>yah pasti Makki>yah selain al-Baqarah dan A<li ‘Imra>n, sebab keduanya merupakan surat Madani>yah. Menurut Thaha, seluruh rahasia al-Qur’a>n terkandang dalam ketentuan ini dalam rangka men- jelaskan dua perbedaan risalah Islam di Mekah dan Madinah.
Jumlah huruf yang dijadikan pegangan sebagai permulaan surat ada 14 huruf, setengah dari jumlah abjad Arab. 29 surat diawali dengan huruf-huruf ini, dengan 14 macam variasi, yaitu alif la>m mi>m, alif la>m mi>m sha>d, alif la>m ra>’, alif la>m mi>m ra>’, ka>f ha> ya>
‘ain sha>d, tha> ha>, tha> si>n mi>n, tha> si>n, ya> si>n, sha>d, ha> mi>m, ‘ain si>n qa>f, qa>f, dan nu>n. Semua bentuk ini diikuti dengan pesan yang maknanya mengacu pada al-Qur’a>n. Contoh paling jelas dalam hal ini adalah firman Allah surat al-Baqarah [2] ayat 1-3:
Alif la>m mi>m. Kitab (al-Qur’a>n) ini tiada keraguan di dalamnya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.
Ayat tersebut dapat bermakna secara variatif. Makna alif la>m mi>m seperti terjemahan di atas jika bacaan berhenti pada kata . Jika bacaan berhenti pada kata , makna alif la>m mi>m adalah “kitab yang tidak diragukan. Di dalamnya terdapat
26 Thaha, Arus, 145.
petunjuk bagi orang yang bertakwa.” Meskipun dapat dibaca dengan dua cara, namun tetap saja yang ditunjuk (dengan makna tersebut) sama, yaitu alif la>m mi>m.27
Setiap ungkapan dan pasti Makki>yah kecuali surat al-Nisa>’ [4] dan al-Baqarah [2], sebab keduanya adalah Madani>yah. Surat al-Nisa>’ [4] diawali dengan ung- kapan , sementara bagian akhir adalah
.28 Menurut Thaha, ayat-ayat yang menyim- pang dari kaidah-kaidah tersebut, antara yang Makki>yah dan Madani>yah, disebabkan adanya tumpang tindih antara iman dan Islam. Setiap orang mukmin adalah muslim di fase permulaan dan ia bukan muslim di fase peghujung. Setiap yang muslim pasti mukmin dan tidak akan dipisahkan.29
Di antara karakteristik ayat Madani>yah adalah ayat tentang jihad. Setelah Rasulullah hijrah, orientasi dakwah Rasulullah berbeda, sehingga ayat-ayat persuasif dinasakh. Karena tuntutan waktu, wahyu yang mengarah pada dialogis bergeser pada ayat pedang. Di dalam surat al-Taubah [9] ayat 5 Allah berfirman:
Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana saja kalian jumpai mereka; tangkaplah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat, mendirikan salat, dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
27 Ibid., 145.
28 Ibid., 143.
29 Ibid.
Ketika Rasulullah berada di Mekah, dakwah yang dijalankan adalah persuasif dan dialogis. Target yang akan diraih, komu- nitas masyarakat Mekah tidak lari dan tidak takut pada Islam.
Islam menjelma sebagai agama yang memberi perlindungan dan mengarahkan umat pada nilai-nilai kemanusiaan secara universal, tidak parsial. Dalam hal ini, Rasulullah di Mekah disarankan bersabar menghadapi berbagai ujian dan cobaan.
Cacian dan makian yang dilakukan oleh kepala suku ditanggapi oleh Rasulullah dengan bijak. Di Mekah Rasulullah seringkali ditentang. Masyarakat Mekah mendustai, mencela kenabian, menuduh sebagai tukang sihir, peramal, dan penyair. Dalam hal ini, al-Qur’a>n surat al-Muddatstsir [74] ayat 7 turun:
Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.
Dua dakwah Rasulullah yang dikembangkan di Mekah dan di Madinah menghasilkan kualitas yang berbeda. Komunitas yang diislamkan Rasulullah di Mekah, tingkat keimanan dan komitmen- nya sangat kuat pada Islam. Di antara mereka, ada yang menjadi khalifah, mufassir, dan juru dakwah yang tangguh. Sebaliknya ko- munitas yang diislamkan Rasulullah di Madinah, tingkat keimanan dan komitmennya relatif rendah. Di atara mereka, ada yang mem- bangkang membayar zakat setelah Rasulullah wafat dan menjadi munafik. Perbedaan ini terletak pada metode dakwah Rasulullah.
Ketika beliau di Mekkah dakwah yang dikembangkan ada- lah Islam primer, sedang Islam yang dikembangkan di Madinah adalah Islam sekunder. Thaha berpandangan, masyarakat pada saat itu terbagi menjadi dua kategori besar, yaitu masyarakat beriman dan masyarakat berislam. Masyarakat yang dikem- bangkan dengan menggunakan ayat-ayat Madani>yah disebut masyarakat mukmin, sedang masyarakat yang dikembangkan dengan menggunkan ayat-ayat Makki>yah adalah komunitas
muslim yang pada saat itu belum menerima Islam paripurna.
Dengan demikian, Madani>yah merupakan fase iman, sedang Makki>yah adalah fase Islam.