Tahap akhir Allah melarang secara totalitas terhadap ber- bagai minuman keras dengan menurunkan surat al-Ma>’idah [5]
ayat 90. Allah berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (memi- num) minuman khamer, berjudi (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuat- an keji. Jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapatkan keberuntungan.
Sesungguhnya Kami menurunkan al-Qur’a>n di malam Qadar.
Bulan Ramadan yang di dalamnya al-Qur’a>n diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai pe- tunjuk itu dan pembeda (antara yang h}aq dan yang batil).
Tiga ayat di atas menegaskan bahwa al-Qur’a>n diturunkan pada suatu malam yang dinamakan Lailah Muba>rakah dan Lailat al-Qadr, yang terjadi pada bulan Ramadan. Hal ini didukung oleh hadis dari Ibn ‘Abba>s bahwa Rasulullah bersabda:
Al-Qur’a>n diturunkan ke langit dunia secara menyeluruh sekaligus pada malam Qadar, kemudian setelah itu ia tu- run secara berangsur-angsur selama dua puluh tahun.11 Lailat al-Qadar adalah nama bagi suatu malam yang mulia di bulan Ramadan, yaitu malam turunnya para malaikat ke bumi yang membawa kedamaian dan ketenangan. Dalam hal ini, ulama berbeda pendapat tentang kedatangannya, apakah terjadi hanya sekali, yaitu pada malam diturunnya al-Qur’a>n atau datang setiap tahun di bulan Ramadan, atau justru pada tanggal 17 bulan Rama- dan? Apakah ia hadir pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan atau pada tanggal 17 Ramadan sebagaimana isyarat al-Qur’a>n surat al-Anfa>l [8] ayat 41?12
11 al-Zarqa>ni>, Mana>hil, jilid 1,44.
12 Lihat M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an (Bandung: Mizan, 1999), 536-544.
Menurut sebagian ahli sejarah, di antaranya Abu> Isha>q, al- Qur’a>n diturunkan pada tanggal 17 bulan Ramadan. Penetap an tanggal 17 Ramadan sebagai malam ayat al-Qur’a>n turun didasar- kan pada berbagai isyarat yang dilansir al-Qur’a>n yang meng- gambarkan bahwa hari turun al-Qur’a>n sama dengan peristiwa peperangan Badar yang diabadikan al-Qur’a>n dengan sebutan yaum al-furqa>n (hari yang membedakan antara muslim dan kafir) dan yaum al-taqa> al-jam‘a>n (hari bertemu dua pasukan muslim dan kafir). Allah berfirman dalam surat Ali> ‘Imra>n [3] ayat 155 dan 166 serta al-Anfa>l [8] ayat 42:
Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antara kalian pada hari bertemu dua pasukan itu, hanya saja mereka digelintirkan oleh syetan disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau) dan sesungguhnya Allah telah memberi maaf kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun).
Dan apa yang menimpa kalian pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan supaya Allah mengetahui siapa (sebe- narnya) orang-orang yang beriman.
Dan ketahuilah sesungguhnya apa saja yang kalian peroleh sebagai rampasan perang (ghani>mah), maka
sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat dan anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibn sabi>l jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan (beriman) kepada apa yang telah Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqa>n, yaitu hari bertemu- nya dua pasukan (muslim dan kafir). Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Menurut sebagian ulama, penetapan turunnya al-Qur’a>n pada malam tanggal 17 Ramadan dinilai kurang tepat. Hal ini didasarkan pada suatu hadis yang mengisyaratkan bahwa turunya malam Qadar jatuh pada tanggal ganjil akhir bulan Ramadan, yaitu malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29. Dalam suatu hadis Ra- sulullah bersabda:
Bersungguh-sungguhlah kalian mendapatkan malam Qadar pada tanggal ganjil di sepuluh akhir bulan Ra- madan.13
Pendapat ini didukung oleh beberapa riwayat yang menjelas- kan bahwa Nabi Muhammad membangunkan keluarga dekatnya pada malam-malam kesepuluh akhir bulan Ramadan dan men- ganjurkan kepada umatnya agar beribadah pada tanggal-tanggal tersebut. Tanggal sepuluh hari terakhir ini adalah bulan rahmat dan maghfirah.
Jika dua pendapat tersebut dianalisis, penentuan malam Qadar yang berkaitan dengan turunnya al-Qur’a>n berbeda de- ngan penentuan malam Qadar bagi orang yang berpuasa atau beribadah. Dengan demikian, awal al-Qur’a>n turun pada tanggal
13 Abu> ‘Abd Alla>h Muh}ammad bin Isma‘i>l al-Bukha>ri>, Shah}i>h} al-Bukha>ri> (Beirut: al-Maktabah al-‘Ashri>yah, 2012), 344. Bandingkan dengan Abu> al-H{usain Muslim bin H{ajja>j al-Qusyairi>
al-Naisa>bu>ri>, Shah}i>h} Muslim (Beirut: Da>r al-Fikr, 2010), 157.
17 Ramadan tidak menafikan bahwa malam Qadar jatuh pada tanggal sepuluh akhir bulan Ramadan.
Ketiga, al-Qur’a>n diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui perantaraan Malaikat Jibril dari bait al-‘izzah. Allah berfirman dalam surat al-Syu‘ara>’ [26] ayat 193-194:
Dia dibawa turun oleh al-Ru>h} al-Ami>n (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.
Tentang wahyu yang dibawa oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad, al-Zarkasyi> menukil tiga pendapat al-Samar- qandi>. Pertama, Jibril membawa lafal dan makna sekaligus karena ia telah melafalkannya dari lauh} mahfu>dh. Kedua, Jibril hanya menurunkan maknanya, sementara verbalisasi wahyu dilakukan oleh Nabi Muhammad. Pandangan ini berdasarkan ayat 193-194 surat al-Syu‘ara>’. Ketiga, Jibril menerima hanya maknanya ke- mudian memverbalisasikannya ke dalam bahasa Arab, dan para penghuni langit juga membacanya dengan bahasa Arab, kemu- dian Jibril menurunkannya sebagaimana mereka membaca.14
Menurut Rahman, surat al-Syu‘ara>’ ayat 193-194 adalah gambaran wahyu Allah yang disampaikan kepada Nabi Muham- mad oleh Ru>h} Suci (Ru>h} al-Quds), utusan spiritual. Ru>h}, yang oleh al-Qur’a>n diidentikkan dengan Jibril, merupakan malaikat yang paling mulia dan paling dekat dengan Allah, bahkan dalam beberapa ayat ia dibedakan dengan malaikat. Ru>h} yang bersifat spiritual ini dipahami oleh Rahman sebagai kekuatan, kemampuan atau agensi yang berkembang di dalam hati Nabi Muhammad dan dapat berubah menjadi operasi wahyu yang nyata jika dibutuh- kan, tetapi pada mulanya Ru>h ini “turun dari atas.” Kata Ru>h di
14 Badr al-Di>n Muh}ammad bin ‘Abd Alla>h al-Zarkasyi>, al-Burha>n fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n, juz 1 (Beirut: Mansyu>ra>t al-Maktabah al-‘Ashri>yah, 1972), 228.
dalam al-Qur’a>n seringkali diasosiasikan dengan amr, yang bagi Rahman diartikan dengan lauh} mah}fu>dh atau induk segala kitab.
Dari esensi primordial ini Ru>h Suci datang dan masuk ke dalam hati Nabi Muhammad menyampaikan wahyu, atau Ru>h} tersebut dibawa masuk malaikat ke dalam hati Nabi Muhammad.15
Implikasi konsep wahyu dan proses pewahyuan Rahman adalah penolakannya terhadap faktor eksternal yang terlibat dalam pewahyuan al-Qur’a>n, seperti pemahaman kebanyakan ulama yang menggambarkan Jibril datang dalam bentuk manusia menyampaikan wahyu di muka umum, sehingga para sahabat Nabi Muhammad dapat menyaksikannya. Bahkan secara tegas Rahman menolak hadis-hadis yang bercerita tentang ini dan menganggapnya sebagai fiksi belaka.16 Dalam konteks ini, Rah- man berpandangan bahwa wahyu memiliki makna inspirasi yang di dalamnya terdapat perasaan-ide-kata yang membentuk satu- kesatuan oraganik dengan sistem kehidupannya sendiri.17
15 Fazlur Rahman, Tema Pokok al-Qur’a>n, ter Anas Mahyuddin (Bandung: Pustaka, 1996), 142-143.
16 Taufik Adnan Amal, Islam dan Tantangan Modernitas (Bandung: Mizan, 1993), 154.
17 Ibid., 151
A. Penilisan Mushaf Pra ‘Utsma>n
Ketika Nabi Muhammad menerima wahyu, beliau menyampai- kan kepada para sahabat dan membacakannya kepada mereka. Mereka dengan tekun membaca, menghafal, dan memahami makna serta rahasia yang terkandung di dalamnya. Nabi Muhammad menjelaskan maksud ayat kepada mereka melalui sabda, perbuatan, dan persetu- juan. Oleh karena itu, para sahabat jarang bertanya kepada Nabi Muhammad tentang maksud suatu ayat. Kalau mereka menghadapi ayat-ayat al-Qur’a>n yang sulit dipahami, mereka langsung bertanya kepada Rasulullah. Misalnya, sahabat pernah bertanya kepada Nabi Muhammad tentang arti dhulm dalam surat al-An‘a>m [6] ayat 82:
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuraduk- kan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itu- lah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.