BAB IV PENGELOLAAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN DALAM
4.2 Daerah Penangkapan dan Pemanfaatan Sumberdaya Ikan
Laut kita memiliki karakteristik yang sangat spesifik, karena memiliki keaneragaman biota laut (ikan dan vegetasi laut) dan potensi lainnya seperti
kandungan bahan mineral. Dalam definisi undang-undang no 31 tahun 2004 tentang perikanan, dikatakan bahwa ”ikan adalah segala jenis organisme yang seluruh atau sebahagian hidupnya berada dalam lingkungan perairan”.
Sumber daya perikanan, merupakan hasil kekayaan laut yang memiliki potensi besar untuk menambah devisa negara. Potensi pembangunan pesisir dan lautan Indonesia terbagi dalam tiga kelompok yaitu : (1) sumber daya dapat pulih (renewable recorces), (2) sumber daya tak dapat pulih (non-renewable recorces) dalam hal ini mineral dan bahan tambang, (3) jasa-jasa lingkungan (Environmental service). Sayangnya ketiga potensi ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Daerah penangkapan ikan merupakan wilayah perairan dimana alat tangkap (fishing gear) dapat dioperasikan secara sempurna untuk mengeksploitasi sumberdaya ikan yang ada didalamnya. Di perairan Indonesia banyak terdapat daerah pengangkapan ikan yang sangat potensial. Salah satu daerah potensial tersebut adalah Perairan Pantai Barat Sumatera yang kaya akan ikan domersalnya. Sangat disayangkan kalau saat ini daerah-daerah potensial penangkapan ikan tersebut sudah mulai mengalami degradasi. Ini dapat ditunjukkan dengan produktivitas nelayan yang samakin menurun dan ukuran individu ikan yang tertangkap semakin kecil.
Nelayan Indonesia sebagian besar merupakan nelayan tradisional, yaitu nelayan yang memiliki keterbatasan dalam penggunaan alat tangkap dan daerah penangkapan yang sempit. Rata rata nelayan tradisional ini hanya memiliki jangkauan daerah penangkapan 3 ml dari garis pantai. Bila mereka menggunakan alat tangkap yang sama maka dapat kita bayangkan kompetisi diantara para nelayan dalam melakukan penangkapan. Alat tangkap yang dominan digunakan oleh para nelayan tadisional kita adalah gillnet dan pancing, dimana produktivitas alat ini sangat kecil bila dibandaingkan dengan alat tangkap modern lainnya.
Bila nelayan kita mampu menentukan daerah penangkapan ikan secara baik tentunya akan berdampak kepada peningkatan pendapatan yang akan berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat kita.
Kebutuhan akan bahan bakar minyak saat menentukan fishing ground menjadi pertimbangan utama para nelayan dalam menentukan daerah pengoperasian alat tangkap. Kendala yang sering kita temukan di
masyarakat nelayan kita, mereka sering sekali bertumpuk pada satu area peangkapan sehingga sering menimbulkan friksi dan ketersediaan sumberdaya menjadi langka akibat eksploitasi secara terus menerus.
Dari sekian banyak permasalahan yang memerlukan perhatian mendesak adalah, pertama, proses perusakan dan kerusakan sumber daya perikanan yang semakin meluas. Kedua, ketimpangan pendapatan nelayan dan ketimpangan kepadatan penangkapan ikan. Ketiga, konflik sosial dalam pengelolaan sumberdaya perikanan. Keempat, belum terintegrasinya secara optimal sektor perikanan dalam arah kebijakan Pemerintah Provinsi maupun di tingkat kabupaten.
Salah satu ikan ekonomis peting yang perlu diketahui daerah penangkapannya adalah ikan tuna. Hasil eksplorasi ikan tuna di Indonesia baru mencapai 14% dari angka potensi lestari. Peningkatan upaya penangkapan yang lebih realistis pada saat ini adalah dengan memanfaatkan teknologi informasi spasial secara optimal. Pemerintah melalui Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) sedang mengembangkan suatu program kegiatan yang bertujuan untuk membentuk model basis data daerah penangkapan tuna yang mengelola data tangkapan ikan secara harian dan menghasilkan peta prakiraan daerah penangkapan dari citra satelit NOAA-AVHRR, sebagai hasil penerapan konsep teknologi informasi spasial yang spesifik untuk eksplorasi tuna.
Suhu permukaan laut (SPL) merupakan faktor penting yang mengatur proses kehidupan dan penyebaran ikan. Setiap spesies tuna mempunyai kisaran SPL tertentu untuk aktivitasnya. Estimasi SPL dapat dilakukan dari satelit NOAA-AVHRR melalui asumsi dasar bahwa setiap objek memancarkan energi elektromagnetik sesuai dengan suhu, panjang gelombang dan emisivitasnya
Ada beberapa parameter alam yang sering digunakan oleh para nelayan dalam menentukan daerah penangkapan ikan. Salah satu parameter yang sering digunakan nelayan tradisional adalah banyaknya burung di atas perairan dan riak-riak air akibat pergerakan ikan ditenggarai sebagai indikator banyaknya ikan di daerah tersebut. Namun keterbatasan sarana nelayan tradisional sering sekali menjadi faktor utama nelayan tidak dapat memperluas daerah penankapan ikan. Dengan pertimbangan ini
pemanfaatan teknologi melalui penginderaan jarak jauh sebagai salah satu upaya dalam memperluas daerah penangkapan ikan.
Menjaga keseimbangan antara stok ikan dan upaya penangkapan adalah kegiatan-kegiatan untuk mengendalikan intensitas dan teknik penangkapan ikan sesuai potensi lestari. Fenomena tangkap lebih (overfishing), disebabkan oleh persepsi keliru tentang sumberdaya ikan oleh nelayan, pengusaha perikanan dan pejabat pemerintah, yaitu beranggapan bahwa ikan adalah sumberdaya dapat pulih (renewable resources), maka sumberdaya ikan dapat dieksploitasi secara tarus menerus (infinite) dan anggapan sumberdaya ikan di laut sebagai sumberdaya milik umum (common property resources), sehingga berlaku rejim open acces dalam pemanfaatannya dengan pengertian bahwa siapa saja, kapan saja, dapat mengeksploitasi sumberdaya ikan sebanyak-banyaknya.
Untuk mewujudkan perikanan tangkap berkelanjutan (sustainable fisheries), maka rejim (pola) pemanfaatannya harus segera diubah dari rejim open acces menjadi rejim perikanan tangkap yang bertanggung jawab (responsible fisheries) seperti yang dianjurkan oleh Kode Etik Perikanan Yang Bertanggung Jawab (Code Conduct of Responsible Fisheries, FAO 1995b). Satu diantara unsur dari Kode Etik ini adalah praktek perikanan angkap secara terkendali (Dahuri 2002)
Sumberdaya wilayah pesisir dan laut, merupakan sumberdaya yang bersifat open ccess dan common property, sehingga setiap orang/stakeholder berhak memanfaatkannya dengan tujuan memperoleh economic rent. Pola pemanfaatan yang demikian cenderung mengarah kepada deplesi sumberdaya, sehingga jika tidak ada upaya untuk menjaga kelestariannya seperti konservasi dikhawatirkan terjadi scarcity sumberdaya yang mengarah kepada kepunahan.
Selain itu dampak utama dari sifat yang “open access dan common property” terhadap pemanfaatan dan pengelolaannya sumberdaya adalah tingginya tingkat Kesulitan dalam pengontrolan dan estimasi jumlah stok dari ikan pada setiap musim/periode karena dipengaruhi oleh faktor biologi dan ekologi dari sumberdaya perikanan sebagai faktor alami (makanan, mangsa dan habitatnya), serta berbagai upaya eksploitasi yang dilakukan manusia (yang bertujuan untuk memaksimumkan resource rent untuk meningkatkan kesejahteraan) sebagai faktor non alami.
Usaha penangkapan ikan di wilayah perairan mengandung resiko dan ketidakpastian (uncertainty) yang relatif besar. Dalam hal ini sumberdaya perikanan bersifat mobile/fugitive, sehingga resikonya adalah kehilangan sejumlah penangkapan dan risiko-risiko penyerta lainnya.
Timbulnya pemanfaatan sumberdaya yang economic overfishing dan biology overfishing. Economic overfishing terjadi jika input (effort) yang digunakan dalam pemanfaatan sumberdaya ikan (fishing), melebihi kapasitas produksi, dengan kata lain untuk menangkap ikan dengan jumlah kecil dalam suatu usaha dibutuhkan input yang besar (effort). Implikasinya adalah hasil tangkapan (catch) yang diperoleh, dan dinilai dengan uang (total revenue) < biaya input yang dikeluarkan (TC). Sedangkan biology overfishing terjadi jika hasil tangkapan telah melebihi potensi lestarinya, sehingga kemampuan ikan bertahan pada keseimbangan produksinya terancam.
Menurut Dwiponggo (1982) dalam Parerung (1996), tingkat pemanfaatan atau pengusahaan sumberdaya perikanan dibagi menjadi empat kategori, yaitu :
(1) Pengusahaan yang rendah, hasil tangkapan hanya merupakan sebagian kecil dari potensinya.
(2) Pengusahaan yang moderat (sedang), hasil tangkapan merupakan sebagian yang nyata dari potensi, namun penambahan upaya penangkapan masih memungkinkan.
(3) Pengusahaan yang tinggi, hasil tangkapan sudah mencapai sebesar potensinya, penambahan upaya penangkapan tidak akan menambah hasil tangkapan.
(4) Pengusahaan yang berlebih (overfishing), terjadi pengurangan dari stok udang/ikan, karena penangkapan yang tinggi, sehingga hasil tangkapan per satuan upaya penangkapan akan jauh berkurang.
Untuk mengusahakan agar sumberdaya perikanan dapat dimanfaatkan terus-menerus secara maksimal, dalam waktu yang tak terbatas, maka laju kematian karena penangkapan (tingkat pemanfaatan), perlu dibatasi sampai pada suatu tingkat tertentu. Induk-induk ikan atau udang dalam jumlah tertentu harus disisakan dan diberi kesempatan untuk berkembang biak, sehingga mampu menghasilkan anakan dalam jumlah cukup untuk kelestarian. Tingkat eksploitasi atau pemanfaatan yang optimal
adalah tingkat pemanfaatan dimana jumlah yang ditangkap, sebanding dengan tambahan jumlah/kepadatan karena perkembangbiakan dan pertumbuhan serta penyusutan karena kematian alami.