• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perikanan Rumpon

Dalam dokumen Pembentukan Daerah Penangkapan Ikan (Halaman 36-51)

2.3.1 Definisi dan klasifikasi rumpon

Rumpon atau Fish Aggregating Device (FAD) adalah salah satu jenis alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dilaut, baik laut dangkal maupun laut dalam. Pemasangan tersebut dimaksudkan untuk menarik gerombolan ikan agar berkumpul di sekitar rumpon, sehingga ikan mudah untuk ditangkap.

Definisi rumpon menurut SK Mentan No. 51/Kpts/IK.250/1/97 adalah alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dan ditempatkan pada perairan laut. Selanjutnya dalam SK Mentan No. 51/Kpts/IK.250/1/97 tentang pemasangan dan pemanfaatan rumpon, yang menjelaskan bahwa terdapat 3 jenis rumpon, yaitu :

(1) Rumpon perairan dasar, yaitu alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dan ditempatkan pada dasar perairan laut.

(2) Rumpon perairan dangkal, yaitu alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dan ditempatkan pada perairan laut dengan kedalaman sampai dengan 200 meter (Gambar 2.2).

Gambar 2.2 Rumpon laut dangkal (BPPL 1991).

(3) Rumpon perairan dalam, yaitu alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dan ditempatkan pada perairan laut dengan kedalaman lebih dari 200 m (Gambar 2.3).

Gambar 2.3 Rumpon laut dalam (BPPL 1991).

Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) bersama beberapa Pemerintah Daerah (Pemda) saat ini sedang dan akan terus mengembangkan program rumponisasi di seluruh perairan Indonesia.

Program tersebut bertujuan untuk lebih mengefisiensikan usaha nelayan kecil, dengan cara menghemat biaya operasional penangkapan ikan.

Harapan pemerintah terhadap penggunaan rumpon sebagai alat bantu penangkapan ikan dapat memberikan keuntungan kepada nelayan, seperti nelayan tidak perlu melakukan penangkapan ikan dengan cara mengejar (mengikuti) kemana ikan bergerak, dengan menciptakan daerah penangkapan ikan buatan nelayan cukup menangkap ikan di sekitar rumpon, memberikan kepastian dalam menentukan daerah penangkapan, mendekatkan daerah penangkapan ikan (fishing ground) dengan nelayan, mampu menekan biaya operasional penggunaan BBM (solar) hingga sebesar 30%, dan meningkatkan produksi ikan hingga mencapai 300%.

Menurut Naamin dan Kee-Cahi Chong (1987), pada awal penggunaan rumpon laut dalam di Sorong antara tahun 1985 sampai 1986,

ternyata dapat meningkatkan hasil tangkapan total sebesar 105% dan hasil tangkapan per satuan upaya sebesar 142%. meningkatkan pendapatan pemilik rumpon sebesar 367%, mengurangi pemakaian bahan bakar minyak untuk kapal sebesar 64,3% serta mengurangi pemakalan umpan hidup sebesar 50%. Namun dengan bertambahnya penggunaan rumpon maka terlihat kecenderungan menurunnya hasil tangkapan per satuan upaya (CPUE).

2.3.2 Sejarah rumpon di Indonesia

Rumpon telah lama dikenal di Indonesia, terutama di daerah Sulawesi Selatan yang dikenal sebagai ‘rompong mandar”. Didaerah Indonesia Bagian Timur lain seperti di Sorong, Fakfak. Maluku Utara, Teluk Tomini, Laut Sulawesi, Sulawesi Tenggara berkembang dengan alat tangkap pancing huhate (pole and line) dan pancing ulur (handline) rumpon jenis ini biasanya dipasang di perairan laut dalam untuk menangkap ikan- ikan pelagis besar. Sedangkan rumpon laut dangkal berkembang penggunaannya di perairan Selat Malaka dan Laut Jawa dengan alat alat tangkap purse seine mini.

Teknologi rumpon laut dalam baru dikembangkan di Indonesia sekitar tahun 1985 untuk penangkapan ikan pelagis besar. Metode pemasangan dan dua jenis rumpon tersebut hampir sama dan perbedaannya hanya pada daerah pemasangan serta bahan yang digunakan. Pada rumpon laut dangkal digunakan dari alam seperti bambu, rotan. daun kelapa dan batu kali.Sebaliknya pada rumpon laut dalam sebagian besar dari bahan seperti bahan sintetis, plat besi, ban bekas, tali baja, tali nylon dan semen

Penggunaan rumpon sebagai alat bantu penangkapan belum menyebar di seluruh wilayah perairan Indonesia terutama untuk rumpon laut dalam. Penggunaan rumpon laut dalam di wilayah Indonesia Bagian Barat atau Samudera Indonesia dapat dikatakan belum ada.

2.3.3 Konstruksi dan teknis pemasangan rumpon

Menurut Preston (1982), secara garis besar rumpon terdiri atas tiga bagian utama yang terdiri dan attraktor, mooring line dan pemberat.

Konstruksi rumpon, terdiri dan komponen-komponen yang sama bila dilihat berdasarkan fungsinya seperti pelampung, alat pengumpul ikan, tali-temali dan pemberat. tetapi untuk rumpon-rumpon yang dipergunakan oleh nelayan diberbagai lokasi di Indonesia mempunyai perbedaan bila dilihat dan material masing-masing komponen konstruksi rumpon tersebut.

Tim Pengkajian Rumpon IPB (1987) mengemukakan bahwa persyaratan umum komponen-komponen dan konstruksi rumpon adalah sebagai berikut :

(1) Pelampung,

Mempunyai kemampuan mengapung yang cukup baik (bagian yang mengapung di atas air 1/3 bagian).

Konstruksi cukup kuat .

Tahan terhadap gelombang dan air.

Mudah dikenali dari jarak jauh.

Bahan pembuatnya mudah didapat.

(2) Atraktor atau pemikat :

Mempunyai daya pikat yang baik terhadap ikan.

Tahan lama.

Mempunyai bentuk seperti posisi potongan vertikal dengan arah ke bawah.

Melindungi ikan-ikan kecil.

Terbuat dan bahan yang kuat, tahan lama dan murah.

(3) Tali-temali :

Terbuat dan bahan yang kuat dan tidak mudah busuk.

Harganya relatif murah mempunyai daya apung yang cukup untuk mencegah gesekan terhadap benda-benda lainnya dan terhadap arus.

Tidak bersimpul (less knot).

(4) Pemberat :

Bahannya murah, kuat dan mudah diperoleh.

Massa jenisnya besar, permukaannva tidak licin dan dapat mencengkeram.

Daya tahan rumpon yang dipasang di laut sangat bervariasi tergantung jenis material dari masing-masing komponen serta kondisi dan kedalaman perairan dimana rumpon tersebut dipasang. Tim Pengkajian Rumpon IPB (1987) mengemukakan bahwa berdasarkan hasil evaluasi rumpon yang dipasang PT. Usaha Mina di Perairan Utara Irian Jaya dan di perairan Maluku Utara dapat disimpulkan bahwa rumpon yang dipasang pada kedaan 600-1000 m dapat bertahan antara 10-17 bulan

Menurut Atapattu (1991) penggunaan rumpon sebagai alat bantu penangkapan mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan laju tangkap dengan pengurangan biaya produksi, mengurangi waktu untuk mencari gerombolan ikan sehingga mengurangi biaya operasi kapal, meningkatkan efisiensi penangkapan serta memudahkan operasi penangkapan ikan yang berkumpul di sekitar rumpon.

Rumpon sebagai alat bantu penangkapan dipasang di tengah laut.

Oleh sebab itu agar rumpon dapat berfungsi dengan dengan baik sesuai dengan tujuannya. maka dalam pemasangannya diperlukan adanya informasi tentang kedalaman, kecerahan air. arus. suhu, salinitas dan keadaan topografi dan dasar perairan dimana rumpon akan dipasang.

Informasi dasar tersebut sangat diperlukan untuk diketahui agar dalam pemasangan rumpon benar-benar tepat pada perairan yang diharapkan dan menghindari rumpon putus. Pemasangan rumpon harus pula memperhatikan aspek biologis dan ikan yang menjadi sasaran penangkapan. Hal ini bertujuan agar rumpon yang dipasang benar-benar pada perairan yang subur dan banyak ikannya.

2.3.4 Tingkah laku ikan di sekitar rumpon

Keberadaan ikan di sekitar rumpon karena berbagai sebab, antara lain :

(1) Rumpon sebagai tempat bersembunyi di bawah bayang-bayang daun rumpon bagi beberapa jenis ikan tertentu.

(2) Rumpon sebagai tempat berpijah bagi beberapa jenis ikan tertentu.

(3) Rumpon itu sebagai tempat berlindung bagi beberapa jenis ikan yang mempunyai sifat fototaksis negatif.

Samples dan Sproul (1985) mengemukakan teori tertariknya ikan yang berada di sekitar rumpon disebabkan karena:

(1) Rumpon sebagai tempat berteduh (shading place) bagi beberapa jenis ikan tertentu.

(2) Rumpon sebagai tempat mencari makan (feeding ground) bagi ikan-ikan tertentu.

(3) Rumpon sebagai substrat untuk meletakkan telurnya bagi ikan-ikan tertentu.

(4) Rumpon sebagai tempat berlindung (shelter) dan predator bagi ikan-ikan tertentu..

(5) Rumpon sebagai tempat sebagai titik acuan navigasi (meeting point) bagi i kan-ikan tertentu yang beruaya.

Gooding dan Magnuson (1967) melaporkan bahwa rumpon merupakan tempat stasiun pembersih (cleaning place) bagi ikan ikan tertentu. Dikemukakan bahwa dolphin dewasa umumnya akan mendekati bagian bawah floating objects seperti rumpon dan menggesekkan badannya. Breder (1949) juga mendukung hal ini dimana kadang-kadang dolphin mendekati ikan lain untuk membersihkan badannya. Tingkah laku ini sesuai dengan tingkah laku dan famili coryphaenids yang memindahkan parasit atau menghilangkan iritasi kulit dengan cara menggesekkannya.

Freon dan Dagom (2000) menambahkan teori tentang rumpon sebagai tempat berasosiasi (association place) bagi jenis ikan-ikan tertentu.

Rumpon yang dipasang. pada suatu perairan akan dimanfaatkan oleh kelompok ikan tertentu sebagai tempat berlindung dan serangan predator. Kelompok jenis ini akan berenang-renang dengan mengusahakan agar posisi tubuh selalu membelakangi bangunan rumpon. Selain sebagai tempat berlindung, rumpon diibaratkan sebagai pohon yang tumbuh di padang pasir yang merupakan wadah pemikat kelompok ikan (Subani 1972)

Ikan berkumpul di sekitar rumpon untuk mencari makan. Dugaan ini senada dengan pendapat Soemarto (1962) yang menyatakan bahwa dalam area rumpon terdapat plankton yang merupakan makanan ikan yang lebih banyak dibandingkan di luar rumpon. Diterangkan juga oleh Soemarto (1962) bahwa perairan yang banyak planktonnya akan menarik ikan untuk

mendekat dan memakannya. Subani (1972) mengemukakan bahwa ikan- ikan yang berkumpul di sekitar rumpon menggunakan rumpon sebagai tempat berlindung juga untuk mencari makan dalam arti luas tetapi tidak memakan daun-daun rumpon tersebut.

2.3.5 Pro-kontra pengoperasian rumpon

Program rumponisasi oleh Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP-RI) bersama beberapa Pemerintah Daerah (Pemda) mendapat respon positif dari berbagai pihak karena program tersebut bertujuan untuk lebih mengefisienkan usaha nelayan kecil, dengan cara menghemat biaya operasional penangkapan ikan. Beberapa keuntungan rumpon bagi nelayan, antara lain (www.depkominfo. go.id 2007) :

(1) Nelayan tidak perlu melakukan penangkapan ikan dengan cara mengejar (mengikuti) kemana ikan bergerak;

(2) Menciptakan daerah penangkapan ikan buatan sehingga nelayan cukup menangkap ikan di sekitar rumpon;

(3) Memberikan kepastian dalam menentukan daerah penangkapan;

(4) Mendekatkan daerah penangkapan ikan (fishing ground) dengan nelayan;

(5) Mampu menekan biaya operasional penggunaan BBM (solar) hingga sebesar 30%; dan

(6) Mampu meningkatkan produksi penangkapan ikan hingga mencapai 30%.

Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan dari Monintja et al (1990) yang menyatakan bahwa manfaat-manfaat yang diharapkan dengan penggunaan rumpon sebagai alat bantu penangkapan ikan adalah:

(1) Menghemat waktu dan bahan bakar dalam pengintaian ikan;

(2) Meningkatkan hasil tangkapan per satuan upaya;

(3) Meningkatkan mutu hasil tangkapan ditinjau dari spesies dan komposisi ukuran.

Berdasarkan hasil penelitian dari Nahib (2007) yang menggunakan pendekatan analisis dinamik, menunjukkan bahwa dampak keberadaan rumpon menyebabkan peningkatan laju pertumbuhan ikan sebesar 1,5–

5,6%, peningkatan kemampuan daya tangkap sebesar 7–10%, peningkatan

produksi hasil tangkapan sebesar 22%, dan peningkatan efisiensi penggunaan effort sebesar 16%.

Namun demikian program rumponisasi ini ternyata belum berhasil 100% walaupun beberapa penelitian telah menunjukkan manfaat rumpon bagi nelayan. Isu nasional konflik antara kelompok nelayan payang dengan kelompok nelayan rumpon sudah berlangsung sekitar tahun 2002, sejak diperkenalkannya rumpon kepada para nelayan di sekitar Teluk Palabuhanratu. Pada saat itu di perairan Teluk Palabuhanratu dibangun 5 unit rumpon yang pengelolaan dan pemanfaatannya diserahkan kepada kelompok nelayan pancing. Namun karena penempatan rumpon tersebut dianggap telah mengganggu jalur penangkapan ikan nelayan jaring, terutama nelayan payang dan gillnet maka keberadaan rumpon tersebut hanya bertahan selama 6 bulan. Menurut pengakuan nelayan jaring kepada pihak Dinas Kelautan dan Perikanan, keberadaan rumpon tersebut telah menyebabkan jaring mengalami kerusakan akibat tersangut pada rumpon.

Dan akhirnya para nelayan jaring tersebut “menebas” habis rumpon yang ada di sekitar perairan Teluk Palabuhan ratu tersebut.

Pada tahun 2005 Yayasan Anak Nelayan Indonesia (YANI) kembali memasang rumpon 2 unit di perairan Palabuhanratu, akan tetapi letaknya berada di luar teluk. Hal ini dimaksudkan selain untuk menghindari konflik dengan nelayan jaring juga untuk “menargetkan” sumberdaya ikan yang ada di perairan Samudera Hindia. Namun demikian ternyata keberadaan rumpon milik YANI tersebut juga diprotes oleh para nelayan jaring karena dianggap telah turut memperburuk hasil tangkapan nelayan jaring. Menurut aparat Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi konflik ini disebabkan karena adanya salah pemahaman dari kelompok nelayan jaring, khususnya nelayan payang yang beranggapan bahwa penurunan produksi penangkapan perahu payang akibat dari keberadaan rumpon di luar teluk.

Sehingga ikan-ikan yang seharusnya beruaya ke dalam teluk tertahan di rumpon yang ada di luar tersebut. Akhirnya pada akhir tahun 2005 sampai triwulan pertama tahun 2006 Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi melakukan sosialisasi rumpon kepada seluruh nelayan di Teluk Palabuhanratu. Hal ini dimaksudkan selain untuk menghindari kesalahpahaman, dan juga untuk memberikan pemahaman kepada para

nelayan agar mempu memanfaatkan rumpun guna mengefetifkan pencarian ikan dan meningkatkan produksi penangkapan.

Pada tahun 2006 Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi kembali memasang rumpon di dalam teluk sebanyak 4 unit guna memperpendek jarak jangkauan dan supaya dapat dimanfaatkan oleh perahu yang kecil sedangkan diluar teluk sebanyak 6 unit dari Anggaran Pembangunan Belanja Negara Propinsi (APBNP) Jawa Barat 1 Unit.

Pengelolaan sepuluh rumpon tersebut diserahkan kepada sepuluh kelompok pengelola rumpon. Pembagian sepuluh pengelola tersebut tidak hanya didominasi oleh nelayan pancing, tetapi juga melibatkan kelompok nelayan payang dan beleketek. Kesepuluh kelompok tersebut membentuk sebuah forum pengelola rumpon yang diberi nama Perkumpulan Nelayan Bahtera.

Pemasangan rumpon dewasa ini masih menyisakan konflik di lapangan. Menurut sebagian besar nelayan bahwa konflik yang timbul akibat penggunaan rumpon lebih disebabkan tidak dilibatkannya seluruh nelayan dalam pembangunan rumpon di perairan. Akibatnya masih ada dari para nelayan yang tidak menerima keberadaan rumpon, dan mereka melakukan penebasan jangkar rumpon yang menyebabkan rumpon hilang terbawa arus. Selain itu, sebagian nelayan terpaksa memindahkan rumpon yang dikelolanya ke lokasi lain karena rumpon tersebut dijadikan tempat bersandarnya bagan apung milik nelayan bagan.

Menurut Asosiasi Tuna Indonesia (ASTUIN), pemasangan rumpon sangat mengancam keberlangsungan ikan tuna. Hal ini disebabkan ikan tuna yang ditangkap di sekitar areal rumpon adalah baby tuna dengan ukuran 3 sampai 10 kg. Padahal idealnya tuna yang layak ditangkap adalah yang berukuran 20 sampai 60 kg per ekor. Sementara rumpon yang dipasang hanya dapat mengumpulkan dan menangkap tuna-tuna kecil yang nota bene masih produktif bertelur. Dengan demikian apabila program rumpon tersebut terus dikembangkan maka 5 tahun ke depan populasi ikan tuna akan terancam.

Kekhawatiran pengusaha ikan tuna tersebut sangat beralasan, karena sampai saat ini pemasangan rumpon di perairan Indonesia tidak dibarengi dengan sistem kelembagaan yang kuat. Misalnya sampai saat ini belum ada aturan mengenai jenis dan ukuran ikan yang boleh ditangkap oleh para nelayan rumpon, berapa jumlah ikan yang boleh ditangkap oleh

setiap kelompok nelayan rumpon, dan bagaimana tanggung jawab nelayan rumpon dalam menjaga kelestarian sumberdaya ikan. Selama ini pemerintah hanya mengatur tentang bagimana mendapatkan ijin pemasangan rumpon saja, tanpa dibarengi dengan beberapa aturan (Suhana 2008)

Keberadaan rumpon juga menyebabkan penurunan kapasitas daya dukung 3-10%. Hasil analisis dinamik menunjukkan hubungan stok dan effort dalam pengusahaan ikan tuna kecil di perairan Teluk Palabuhanratu termasuk dalam sistem pengelolaan kuadran 3 (peningkatan effort, akan menyebabkan penurunan stok ikan). Trajektori (perilaku) biomass ikan dan effort pada kondisi sebelum dan setelah adanya rumpon memiliki pola yang sama. Peningkatan biomass hanya bisa dicapai, jika effort dikurangi. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat effort yang ada saat ini dapat dikatagorikan berlebih (Nahib 2007).

Isu internasional tentang rumpon sebagai alat bantu dalam penangkapan ikan mengancam kelestarian sumberdaya ikan di perairan berkembang sejak Konferensi Internasional tentang FAD di Martinique, Perancis pada tahun 1999. Tentu saja isu ini berdasarkan pada Code of conduct for Responsible Fisheries yang dikeluarkan oleh FAO pada tahun 1995. Hal ini dikarenakan alat tangkap purse seine yang berkembang dengan pesat di Samudera Pasifik bagian Timur yang dioperasikan pada drifting fish aggregating device menangkap ikan-ikan tuna berukuran kecil yang belum matang gonad. Terdapat pro dan kontra tentang hal itu karena FAD merupakan alat bantu yang diyakini sangat efektif dalam menangkap ikan dengan menggunakan alat tangkap purse seine, payang dan pancing.

Isu regional dan nasional tentang perkembangan penggunaan rumpon yang pesat menimbulkan berbagai masalah di antaranya:

(1) Ketidakseimbangan produktivitas alat tangkap yang digunakan nelayan di Philippina dengan nelayan plasma di Maluku dan Irian Jaya, di mana produktivitas purse seine Philippina jauh lebih tinggi daripada pancing ulur nelayan plasma di Maluku dan Irian Jaya.

(2) Lokasi pemasangan rumpon laut dalam tidak mencerminkan komposisi yang seimbang antara kepentingan perikanan Industri (Philippina) yang menguasai hampir seluruh kawasan ZEE Laut Sulawesi dan Pasifik, sedangkan BUMN dan plasmanya terbatas di beberapa tempat perairan

Maluku dan sebagian kecil di Samudera Pasifik yaitu Utara Irian jaya dan Maluku.

(3) Pemasangan rumpon oleh nelayan Philippina bahkan semakin cenderung tidak terkontrol, walaupun pembatasannya sudah dilakukan oleh Direktorat jenderal Perikanan, sehingga menimbulkan situasi padat rumpon yang menimbulkan keresahan nelayan-nelayan pole and line di Sulawesi Utara dan Maluku karena rumpon tersebut diduga telah menghalangi ruaya ikan dan Laut Sulawesi dan Pasifik yang menuju ke perairan Maluku dan Laut Banda.

(4) Pemasangan rumpon laut dalam oleh perusahaan perikanan di lepas pantai Jawa Barat dan lepas pantai Flores dan Timor telah menimbulkan gejolak sosial (konfik sosial) karena telah mengganggu produktivitas nelayan setempat.

Permasalahan di atas terjadi karena kebijakan rumponisasi oleh pemerintah tidak dibarengi dengan sistem kelembagaan yang kuat, aturan yang ada hanya sebatas lokasi pemasangan, dan bagaimana mendapatkan ijin pemasangan rumpon. Hal-hal yang terkait dengan berapa jumlah ikan yang boleh ditangkap oleh setiap kelompok nelayan rumpon, jenis dan ukuran ikan yang boleh ditangkap, dan bagaimana tanggung jawab nelayan rumpon dalam menjaga kelestarian sumberdaya ikan belum diatur secara rinci. Untuk itu perlu ada sistem kelembagaan yang mengatur secara rinci seperti tersebut di atas.

Untuk menanggulangi konflik baik secara internasional, regional dan nasional di atas diperlukan peraturan-peraturan dalam skala nasional, regional maupun internasional. Pemerintah Indonesia telah membuat beberapa peraturan secara nasional tentang rumpon yaitu SK Mentan No.

51/Kpts/IK.250/1/97. Selain itu peraturan internasional tentang “Code of Conduct for Responsible Fishing (CCRF)” (FAO, 1995) telah mulai disiapkan untuk diimplementasikan, yang memuat beberapa aspek yaitu :

(1) Aspek pengelolaan perikanan (Fisheries Management).

(2) Aspek operasi penangkapan ikan (Fishing Operations).

(3) Aspek pembangunan akuakultur (Aquaculture Development).

(4) Aspek integrasi perikanan ke dalam pengelolaan kawasan pesisir (Integration of Fisheries into Coastal Area management).

(5) Aspek praktek-praktek pasca panen dan perdagangan (Post-Harvest Practices and Trade).

2.3.6 Pengelolaan rumpon

Pengaturan dan pengendalian rumpon di Indonesia saling berkaitan antara aspek operasi penangkapan ikan dengan ke-lima aspek lainnya dalam Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF), rumpon sebagai salah satu alat pengumpul ikan secara khusus di jelaskan pada Pasal 9.3 dan Anneks III pada pedoman teknis untuk perikanan bertanggung jawab aspek operasi penangkapan ikan. Pasal 9.3 mencakup beberapa peraturan, antara lain :

(1) Teknologi pengumpulan ikan sebaiknya dikembangkan lebih jauh untuk memperbaiki kinerja alat-alat pengumpul ikan yang dijangkar dan terapung.

(2) Sistem manajemen alat pengumpul ikan sebaiknya mengemukakan tanggung jawab otoritas yang berwenang dan pengguna untuk standar desain yang minimum, operasi dan pemeliharaan alat pengumpul ikan tersebut.

(3) Otoritas yang berwenang juga sebaiknya menetapkan suatu sistem persetujuan untuk penempatan alat pengumpul ikan dan memelihara dokumen pemilik. Dokumen harus berisikan sebagai suatu persyaratan minimum, yaitu tanda yang ditetapkan otoritas yang berwenang untuk identifikasi kepemilikan; nama dan alamat pemilik; tipe alat pengumpul ikan, dan lokasi dan posisi geografis yang dialokasikan.

(4) Otoritas yang berwenang sebaiknya memastikan bahwa otorisasi menangkap ikan di sekitar alat pengumpul ikan berisikan rincian metoda penangkapan yang digunakan dan juga persyaratan untuk pelaporan hasil tangkapan.

(5) Alat pengumpul ikan, apakah dijangkar atau terapung, sebaiknya mempunyai alat-alat untuk mengidentifikasi posisi alat pengumpul ikan pada siang dan malan hari.

(6) Otoritas yang berwenang juga sebaiknya menetapkan suatu sistem untuk pelaporan alat pengumpul ikan yang hilang dan penemuan kembali alat pengumpul ikan yang dianggap membahayakan navigasi.

Sejalan dengan upaya pemerintah untuk peningkatan produksi perikanan maka sangatlah tepat apabila penggunaan rumpon dikembangkan. Akan tetapi dalam perkembangannya, pemasangan rumpon selain menimbulkan efek positif juga menimbulkan beberapa masalah, antara lain akibat pemasangan rumpon yang tidak teratur dan lokasi yang berdekatan dapat merusak pola ruaya ikan yang berimigrasi jauh sehingga mengganggu keseimbangan dan konflik antar nelayan, kemudahan penangkapan ikan dengan menggunakan rumpon dapat menimbulkan overfishing, dan lain-lainl.

Apabila dilihat dan tingkat pengusahaan sumberdaya perikanan pelagik besar yang masih rendah maka peningkatan usaha penangkapan ikan masih sangat diperlukan. Pengelolaan rumpon harus memperhatikan aspek-aspek biologi, lokasi lingkungan perairan, alat penangkapan. sosial budaya dan ekonomi. Dalam pengelolaan ini harus pula memperhatikan aspek legal yang menyangkut lokasi, jumlah, pemanfaatan dan izin pemasangan dari instansi yang berwenang.

Guna terciptanya penataan pemasangan rumpon agar terjaga kelestarian sumberdaya ikan; terciptanya Pedoman Pembinaan Sarana Perikanan Tangkap khususnya rumpon; untuk menghindarkan konflik sosial antara nelayan pemilik rumpon dan yang tidak memiliki rumpon; terbinanya pengelolaan rumpon yang melibatkan unsur-unsur terkait baik pusat maupun daerah, antara perusahaan perikanan dengan nelayan sehingga tercapai kesinambungan dan keserasian usaha dilapangan dan tujuan untuk kelestarian sumberdaya ikan; tersusunnya mekanisme pendataan, penandaan dalam pemasangan rumpon serta mekanisme evaluasi produktifitas penangkapan ikan di sekitar rumpon.

Kepmen Kelautan dan Perikanan No. Kep 30/MEN/2004 tentang Pemasangan dan Pemanfaatan Rumpon mengatur tentang tata cara pemasangan rumpon. Dalam hal ini rumpon dapat dioperasikan di wilayah perairan :

(1) Perairan 2 mil laut sampai dengan 4 mil laut, diukur dari garis pantai pada titik surut terendah.

(2) Perairan diatas 4 mil laut sampai dengan 12 mil laut, diukur dari garis pantai pada titik surut terendah

(3) Perairan diatas 12 mil laut dan ZEE Indonesia.

Dalam dokumen Pembentukan Daerah Penangkapan Ikan (Halaman 36-51)