• Tidak ada hasil yang ditemukan

Inderaja dan SIG dalam Penelitian Ekosistem Pesisir

Dalam dokumen Pembentukan Daerah Penangkapan Ikan (Halaman 108-119)

BAB V PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

5.5 Inderaja dan SIG dalam Penelitian Ekosistem Pesisir

Sebagaimana yang telah disebutkan di atas bahwa aktivitas penangkapan dan hasil tangkapan nelayan skala kecil sangat bergantung kepada paling tidak tiga ekosistem utama pesisir yang telah disebutkan.

Oleh karena itu, untuk keperluan pengelolaan, maka informasi yang lengkap mengenai status sumberdaya ini sangat diperlukan.

Penginderaan jauh dan SIG telah digunakan dalam studi ekosistem pesisir penting yaitu hutan mangrove (Ramachandran et al., 1998), padang lamun (Dahdouh-Guebas et al. 1999; Ferguson dan Korfmacher 1997), dan terumbu karang (Hasyim dan Winarso, 1998; Holden dan Ledrew, 1999;

Lubin et al. 2001). Penelitian struktur vegetasi dalam hutan mangrove dan padang lamun dapat difokuskan pada genus tunggal, asosiasi dan zonasi dalam vegetasi (Dahdouh-Guebas 1999). Studi yang sama juga dapat

diterapkan kepada populasi cyanobacteria, alga atau diatom yang misalnya dalam kondisi melimpah (blooming) di sekitar perairan terumbu karang (Signorini, et al. 1999). Gambar 5.3 menyajikan salah satu contoh foto satelit tentang zonasi mangrove. Sementara itu, Gambar 5.4 mendeskripsikan zonasi terumbu karang teluk Kachchh, India.

Gambar 5.2 Segitiga keberlanjutan sistem perikanan (Charles 2001).

Di Indonesia sendiri pemetaan terhadap distribusi dan luasan terumbu karang telah mulai dilakukan. Hasyim dan Winarso (1998) melaporkan luasan terumbu karang yang terdapat di 16 titik pemantauan di Indonesia, meliputi Kepulauan Karimunjawa, Pulau Bintan, Teluk Lampung, Kepulauan Sepudi, Pulau Kangean, Pulau-pulau Makasar, Pulau Ternate, Pulau Haruku, Pulau Seram, Pulau Bali Utara, Pulau Pari, dan Situbondo.

Data klorofil yang mengindikasikan kandungan fitoplankton dan suhu permukaan air laut yang dideteksi satelit OCM dan NOAA AVHRR dapat diintegrasikan dan digunakan untuk memperoleh prakiraan daerah

ecological sustainability

economic sustainability

community sustainability Institutional

sustainability

penangkapan ikan. Data fitoplankton memberikan informasi ketersediaan makanan. Pada lokasi di mana terbentuk boundaries, fronts, atau gradients dari klorofil dan SPL merupakan lokasi yang ideal bagi berkumpulnya ikan.

Pada lokasi-lokasi tersebut terjadi proses biologis dan fisik yang menyebabkan ikan cenderung untuk berkumpul. Teknik prakiraan ini telah diaplikasikan di India dan ternyata hasilnya valid selama tiga hari dan diperbaharui pada setiap hari kedua (Gambar 5.5), sehingga sangat bermanfaat untuk perikanan pelagis dan perikanan demersal (Nayak 2008).

Gambar 5.3 Zonasi mangrove di sebagian wilayah Sunderbans, India menggunakan data gabungan antara IRS LISS III and PAN (Nayak 2008).

Prakiraan daerah penangkapan ikan berkembang pesat di negara lain, misalnya di India teknik ini telah dioperasionalkan bagi sekitar 240 pelabuhan perikanan secara terus menerus oleh the Indian National Centre for Ocean Information Service (INCOIS), Hyderabad. Sekitar 70-90%

prakiraan itu akurat dan hasil tangkapan nelayan meningkat 70-100%, baik perikanan pelagis maupun perikanan demersal (Solanki et al. 2003).

Disebutkan bahwa BC rasio telah meningkat dari 1,3 menjadi 2,1 untuk

nelayan yang telah menggunakan satellite-based fishery forecast (Nayak et al. 2008). Informasi angin permukaan laut yang diintegrasikan juga menambah validitas prakiraan. Hasil awal mengindikasikan hasil yang sangat menjanjikan. Terlepas dari ini semua, sumberdaya yang baru melalui sea ranching dan budidaya laut (mariculture) pada beberapa daerah secara tertutup dan semi tertutup harus dimulai.

Gambar 5.4 Zonasi terumbu karang (Gulf of Kachchh, Western India), menggunakan data IKONOS (Nayak 2008).

Hasil yang serupa juga telah mulai dilakukan di Indonesia.

Tejasukmana et al (1998) menjelaskan keterkaitan antara sebaran suhu permukaan laut yang diperoleh dari data inderaja satelit NOAA-AVHRR di Selat Sunda dengan tangkapan ikan di perairan ini. Penelitian ini menggambarkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara jumlah tangkapan nelayan yang ditangkap pada bulan Mei dan Juni yang memiliki karakteristik fisik perairan (terutama suhu permukaan) yang berbeda. Hasil tangkapan pada bulan Mei adalah 46.833 kg, sedangkan pada citra SPL Selat Sunda antara 29o - 30o C. Hasil tangkapan pada bulan Juni adalah 0 kg, citra SPL pada bulan ini menunjukkan perairan Selat Sunda didominasi

oleh suhu 30oC - 32oC, sehingga kurang cocok untuk tempat hidup ikan layang yang membutuhkan suhu sekitar 29oC.

Gambar 5.5 Penggunaan OCEANSAT I OCM dan AVHRR SST untuk mengidentifikasi daerah tangkapan yang potensial (Nayak 2008).

Banyak publikasi yang ada tentang pengaruh perubahan global terhadap lingkungan laut. Sudah jelas bahwa wilayah delta, pulau-pulau kecil, karang atol dan lahan basah di pantai merupakan daerah yang peka terhadap perubahan iklim. Banyak upaya yang mestinya dilakukan untuk memprediksi apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang dan membangunan sistem peringatan dini (early warning system) untuk membantu menjamin keberlangsungan ekosistem yang lestari. Dahdouh- Guebas (2001) diacu dalam Dahdouh-Guebas (2002) merinci bagaimana struktur dan degradasi vegetasi mangrove dapat diprediksi berdasarkan sejarah dan kondisi terkini vegetasi mangrove di lapangan, dan bagaimana teknologi inderaja dapat dikombinasikan dengan analisis multivariat.

Sebagai contoh, penginderaan jauh yang berurutan dengan resolusi spasial yang sangat tinggi dapat digunakan untuk melihat apakah suatu hutan mangrve bersifat dinamis atau statis dan apakah sudah tergradasi atau belum. Wawancara dengan masyarakat setempat dapat membantu untuk memahami apa yang menjadi penyebab terjadinya degradasi.

Menurut Dahdouh-Guebas 2002, ada tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam sistem peringatan dini, yaitu (1) Kondisi keadaan terdahulu, berdasarkan remote sensing dan GIS, (2) Kondisi saat ini, berdasarkan remote sensing dan SIG, populasi biotik, faktor lingkungan, dan pendapat orang, dan (3) Prediksi untuk masa yang akan datang, berdasarkan kemiripan aktual antara, misalnya, distribusi elemen ekosistem tua, muda, dan juvenil untuk mengantisipasi rehabilitasi dan monitoring pada masa yang akan datang, baik di lapangan maupun dengan inderaja.

Gambar 5.6 menunjukkan bagaimana ketiga aspek di atas secara bersama- sama menghasilkan informasi tentang kemampuan regenerasi ekosistem tersebut dan bertindak sebagai sistem peringatan dini. Jika tanda-tanda degradasi terlihat, campur tangan manusia seperti rehabilitasi diperlukan.

Sama pentingnya untuk melakukan evaluasi upaya rehabilitasi, aspek suksesi dan pola migrasi biotik.

Gambar 5.6 Skema langkah-langkah dalam sistem peringatan dini (early warning system) (Dahdouh-Guebas 2002).

Salah satu variabel kunci dalam pengembangan budidaya perairan dan perikanan berkelanjutan adalah kualitas air. Quansah et al. (2007) menyebutkan bahwa Teknologi SIG dan inderaja menghadirkan alat penting yang dapat digunakan untuk menilai secara cepat pengukuran kualitas air, membuat data dasar, memadukan informasi, memvisualisasikan skenario dan memecahkan permasalahan yang rumit (kompleks) polusi lingkungan.

Hal ini menunjukkan bahwa peranan teknologi inderaja dan SIG sangat penting dalam menyediakan informasi yang akurat tentang sumberdaya pesisir dan laut khususnya terkait dengan status sumberdaya ekosistem pesisir dan laut yang berpengaruh terhadap kegiatan perikanan tangkap, khususnya perikanan tangkap skala kecil. Jika informasi yang tersedia lengkap dan akurat, maka pengelolaannya relatif lebih mudah untuk diformulasikan.

Dalam aplikasinya, nelayan kita diharapkan tidak lagi memanfaatkan sumberdaya yang ada secara destruktif yang selama ini dituduhkan kepada mereka. Mereka juga diharapkan sudah mampu memanfaatkan jasa teknologi seperti yang dilakukan nelayan di negara maju dan tidak hanya mengandalkan naluri dan pengalaman. Syamsudin (2006) menyatakan bahwa bagi nelayan negara maju, pemakaian satelit oseanografi yang menampilkan citra suhu permukaan laut dan sebaran klorifil merupakan hal rutin dan baku untuk memudahkan mereka mencari daerah tangkapan ikan.

Apabila hal ini sudah dapat dilaksanakan di Indonesia, maka nelayan akan dapat melakukan kegiatan penangkapan ikan secara efektif dan efisien, tidak lagi terdengar nelayan pulang dengan tidak membawa hasil tangkapan, tanpa nilai tambah untuk perbaikan ekonomi keluarga mereka.

Dari kondisi yang demikian inilah baru dapat diharapkan pemanfaatan sumberdaya secara berkelanjuan dapat diwujudkan.

Walaupun memiliki berbagai keunggulan, penggunaan informasi melalui teknologi inderaja dan SIG juga memiliki kelemahan. Suatu tantangan yang penting dalam pengelolaan ekosistem secara berkelanjutan adalah penggunaan SIG dalam mengintegrasikan data yang berasal dari ekologi, geografi, sosiologi, dan displin yang lain. Sebagai contoh, penelitian dalam bidang biokompleksitas, etnobiologi, demografi, sosiologi, dan ekonomi yang tidak secara langsung berasosiasi dengan penggunaan

inderaja dan SIG, meskipun demikian sering dapat diintegrasikan ke dalam data dasar spasial tersebut.

Penyediaan informasi zona penangkapan ikan ini memiliki kelemahan-kelemahan. Dari sisi produksi informasi zona potensi penangkapan ikan (ZPPI), hambatan timbul dari faktor alam yaitu tingginya liputan awan di wilayah tropis, sehingga jumlah informasi yang dapat diproduksi tidak dapat mencapai target yang diharapkan yaitu informasi harian. Untuk permasalah ini diperlukan koreksi atmosperik (atmospheric coorection).

Pemanfaatan teknologi inderaja dan SIG di Indonesia juga masih masih terhambat dikarenakan belum adanya kerjasama yang baik diantara berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) terkait. Sebagai contoh, nelayan pada umumnya keberatan untuk menyampaikan daerah tangkapan (fishing ground) mereka kepada orang lain. Di sisi yang lain, pihak Departemen Kelautan dan Perikanan yang bertugas menginformasikan daerah tangkapan potensial sangat membutuhkan informasi pendukung dari lapangan sebagai “ground truth” dari pemetaan daerah tangkapan yang telah dihasilkan. Untuk itu, dalam rangka distribusi informasi dan perolehan data umpan balik (feedback), perlu ditunjuk petugas lapangan yang diangkat dari personil lokal baik dari Dinas Kelautan dan Perikanan, kelompok nelayan, atau stakeholders lain yang mempunyai kompetensi dalam bidang informasi perikanan.

Di Indonesia, pemanfaatan inderaja dan SIG dalam pengelolaan perikanan tangkap masih relatif rendah jika dibandingkan dengan negara lain, seperti India. Salah satu penyebabnya adalah akurasi informasi (citra) yang tersedia belum didukung oleh hasil pengamatan lapangan (ground truth) yang memadai. Oleh karena itu, penelitian yang menggunakan teknologi inderaja ini harus disertai dengan pengamatan lapangan.

Formulasi pengelolaan perikanan tangkap skala kecil seyogyanya dilakukan secara terpadu (integrated) dengan memanfaatkan informasi yang terpercaya dan teknologi yang tersedia saat ini seperti inderaja dan SIG.

Jika peta daerah penangkapan yang dihasilkan didukung oleh data dan informasi yang lengkap dari lapangan, maka formulasi pengelolaan sumberdaya ini secara berkelanjutan akan lebih mudah dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Space solutions for The World’s Problems : How The United Nations Family Is Using Space Technology For Sustainable Development : http://www.uncosa.unvienna.org).

Charles. AT. 2001. Sustainable fisheries systems, Blackwell Science, London.

Dahdouh-Guebas. F. 2002. The use of remote sensing and GIS in the sustaibable management of tropical coastal ecosystem.

Environmental Development and Sustainability 4 : 93 -112

Dahdouh-Guebas F, Coppejans E, Van Speybroeck D. 1999. Remote sensing and zonation of seagrass and algae along of Kenyan coast.

Hydrobiologia 400 : 63-73.

Dahuri R. 2003. Keanekaragaman hayati laut : aset pembangunan berkelanjutan indonesia. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Ferguson. RI, Korfmacher K. 1997. Remote sensing and GIS analysis of seagrass meadows in Nort Carolina. USA. Aquatic Botany 58 : 241- 258.

Hasyim. B, Winarso G. 1998. Penyediaan informasi distribusi dan luasan terumbu karang menggunakan teknologi poenginderaan jauh satelit untuk mendukung kegiatan stok assesment. Widodo J, E.

Tampubolon. G. H. Naamin. N. dan Djamali. A (eds). 1998. Potensi dan penyebaran stok sumberdaya ikan laut di perairan Indonesia.

Komnaskajiskanlut–LIPI. Jakarta.

Holden H, Ledrew W. 1999. Hyperspectral identification of coral reef features. International Journal of Remote Sensing 20 (13) : 2545- 2563.

Kusumastanto T. 2008. Revitalisasi perikanan dan kelautan secara berkelanjutan.

(httpwww.box.netindex.phprm=box_v2_download_shared_file&blog&

file_id=f_901 (30 Oktober 2008).

Lillesand TM, Kiefer RW. 1994. Remote Sensing and Image Interpretation.

John Willey and Sons. New York.

Lubin D, Li W, Dustan P, Mazel CH, Stamnes KT. 2001. Spectral signature of coral reefs: feature ffrom space. Remote sensing of Environment 75 (1) : 127-137.

Murdiyanto B. 2004. Pengelolaan sumberdaya perikanan pantai. Proyek Pengembangan Masyarakat Pantai dan pengelolaan Sumberdaya Perikanan. Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap – Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.

Narain A, Beenakumari S, Raman M. 1992b. Observation of a persistent coastal upwelling off Gujarat by NOAA AVHRR and its implication on fisheries. Remote sensing applications and geographic information systems: Recent trends. Tata-McGraw Hill. New Delhi. pp. 337-341.

Nayak S. 2008. Role of remote sensing to integrated coastal zone management. Space Applications Centre (ISRO). Ahmedabad 380 015. India.

Prahasta E. 2001. Konsep-konsep dasar Sistem Informasi Geografis.

Informatika. Bandung.

Quansah. JE. Rochon GL, Quagrainie KK. Amisah S, Muchiri M, Ngugi C.

2007. Remote Sensing Application for Sustainable aquacultur in Africa. IEEE Journal : 1255-1259.

Ramachandran S, Sundaramoorthy S, Krisnamoorthy R, Devasenapathy J, Thanikachalam M. 1998. Application of remote sensing and GIS to coastal wetland ecology of Tamil Nadu and Andaman and Nicobar Group of Island with special reference to mangrove. Current Science (3) : 236-244.

Signorini SR, Murtugudde RG, McClain CR, Christian JR, Picaut J, Busalacchi AJ. 1999. Biological and physical signature in the tropical and subtropical Atlantic. Journal of Geophyisical Research Oeans 104 (C8) : 18367-18382.

Stafford-Deitsch J. 1996. Mangrove: The forgotten habitat. Immel Publishing Limited. London. UK.

Syamsudin S. 2006. Satelit oseanografi untuk nelayan. Inovasi vol 6/XVIII/Maret 2006.

Tejasukmana BS, Hasyim B, Priyono BE. 1998. Pemanfaatan data penginderaan jauh satelit untuk mendukung pengkajian potensi dan distribusi sumberdaya ikan laut dalam Widodo. J. Aziz. K. A. Priyono B. E. Tampubolon. G. H. Naamin. N. dan Djamali. A. 1998. Potensi dan penyebaran stok sumberdaya ikan laut di perairan Indonesia.

Komisi Nasional Pengkajian Stok Sumberdaya Ikan Laut – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta.

Zainuddin M. 2006. Aplikasi Sistem informasi geografis dalam penelitian perikanan dan kelautan. Makalah. disampaikan pada Lokakarya Agenda Penelitian COREMAP II Kabupaten Selayar. 9-10 September 2006.

BAB VI

KONFLIK PEMANFAATAN SUMBERDAYA DAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN

6.1 Pendahuluan

Menurut Undang-Undang Repulik Indnesia Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan, disebutkan bahwa tujuan pembangunan perikanan tangkap adalah : (1) meningkatkan kesejahteraan nelayan, (2) menjaga kelestarian sumber daya ikan dan lingkugannnya. Diktorat Jendral Perikanan Tangkap, DKP (2004) menenetapkan sasaran pembangunan sub-sektor perikaan tangkap yang ingin dicapai pada akhir 2009 sebagai berikut : (1) tercapainya produksi perikanan tangkap sebesar 5,472 juta ton, (2) meningkatnya pendapatan nelayan rata-rata menjadi Rp. 1,5 juta/bulan, (3) meningkatnya nilai eksport hasil perikanan menjadi US$ 5,5 milyar, (4) meningkatnya konsumsi dalam negeri menjadi 30 kg/kapita/tahun (5) penyerapan tenaga kerja perikanan tangkap (termasuk nelayan) sekiar 4 juta orang.

Indonesia merupakan negara terbesar dari 17 negara yang berbentuk kepulauan (Archipelago State) di dunia. Penduduk yang mendiami ribuan buah pulau tersebut lebih dari 200 juta jiwa. Sebagian besar dari pulau-pulau tersebut merupakan pulau kecil yang memiliki sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan (environmental services) yang sangat potensial untuk perekonomian bangsa. Beberapa sektor pembangunan yang terkait erat dengan sektor kelautan dan perikanan telah diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan, namun perlu diperjelas lagi agar tidak menimbulkan misinterpretation yang mengarah pada konflik pada tatanan pelaksanaan di lapangan.

Kebijakan atau peraturan perundang-undangan di sektor kelautan dan perikanan memerlukan landasan yang kokoh, yaitu suatu konsep dan strategi pengelolaan yang berbasis pada prinsip-prinsip kelestarian pemanfaatan sumberdaya laut, yang mendukung perwujudan pelaksanaan prinsip good governance. Pengembangan teknologi dan alat penangkapan ikan harus ramah lingkungan (enviromental friendly fishing technology) yaitu suatu alat tangkap yang tidak memberikan dampak negatif terhadap

lingkungan, dampak terhadap bio-diversity dan target resources serta sesuai dengan daerah penangkapan ikan masing-masing wilayah di Indoesia.

6.2 Definisi Perikanan Tangkap

Menurut UU No. 31 tahun 2004, bahwa perikanan tangkap adalah semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran, yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan. Aktivitas penangkapan ikan didefinisikan sebagai kegiatan untuk memperoleh ikan di perairan yang tidak dalam keadaan dibudidayakan dengan alat atau cara apapun, termasuk kegiatan yang menggunakan kapal untuk memuat, mengangkut, menyimpan, mendinginkan, menangani, mengolah, dan/atau mengawetkannya.

Perikanan tangkap dapat diklasifikasikan berdasarkan habitat, yaitu : perikanan demersal, perikanan pelagis, dan perikanan karang.

Klasifikasikan menurut spesies target, yaitu : perikanan tuna, perikanan cakalang, perikanan udang, dan sebagainya. Klasifikasi berdasarkan alat tangkap, yaitu : perikanan purse seine, perikanan gillnet, perikanan pole and line, dan sebagainya. Klasifikasi berdasarkan tujuan, yaitu : perikanan komersial, sport atau rekreasi.

6.3 Metode Penangkapan Ikan dan Dampaknya Terhadap Kodisi Daerah Penangkapan Ikan

1. Bottom trawl/trawl dasar

Trawl dioperasikan dengan cara menarik alat tangkap dari belakang kapal dengan kecepatan tertentu. Trawl dilengkapi dengan otterboard, beam atau pair trawls. Trawl umumnya dioperasikan di dasar perairan untuk menangkap ikan dasar (demersal) dan/atau invertebrata seperti udang.

Trawl dasar dapat digunakan pada perairan dalam atau sangat dangkal dengan habitat yang berpasir, lumpur, endapan lumpur, bahkan pada daerah lamun. Pada jaring trawl udang dilengkapi dengan rantai yang bergerak sepanjang dasar, sehingga dapat mengejutkan udang keluar dari substrat dan masuk dalam jaring. Roller atau bobbinis sering digunakan

untuk mengangkat dasar katrol dari dasar. Bobbinis dapat digunakan untuk mengurangi dampak pada dasar laut tetapi pada prinsipnya digunakan untuk mengangkat jaring melewati karang atau dasar yang keras.

Gambar 6.1 Posisi trawl dasar saat dioperasikan.

Trawling sangat luas digunakan sebagai metode penangkapan ikan yang sangat efektif untuk menangkap spesies ikan dalam jumlah besar dalam sekali setting. Trawling pada umumnya dianggap sebagai salah satu bentuk penangkapan ikan yang destruktif karena memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap habitat dasar laut, spesies non-target atau by- catch dan spesies yang dilindungi. Trawling telah menyebabkan menurunnya beberapa spesies termasuk orange roughy, eastern gemfish, redfish, silver trevally dan beberapa hiu laut dalam. Hasil samping atau sampah dari perikanan trawl bisa mencapai sekitar setengah dari total tangkapan (berdasarkan berat), tergantung pada jenis kegiatan perikanannya. Hasil samping dapat berupa penyu, anjing laut, ular laut, sejumlah ikan bernilai ekonomis rendah dan invertebrata. Banyak ilmuwan dan ahli konservasi percaya bahwa perikanan trawl tidak berkelanjutan dan akan berhenti.

2. Scallop dredge/pengeruk scallop

Cara kerjanya pengeruk scallop adalah : potongan gerigi logam menggali ke dalam dasar laut dan mengangkat scallop (jenis molusca) ke dalam jaring baja yang kuat atau tebal. Walaupun tidak digunakan secara luas, pengeruk scallop secara efektif mengeruk dasar laut, memindahkan sebagian kehidupan laut dan habitanya. Sedikit saja pemahaman tentang dampak dari pengerukan terhadap stok scallop.

Gambar 6.2 Posisi alat pengeruk scallop saat dioperasikan.

3. Drifting gillnets/jaring insang hanyut

Alat tangkap gillnet hanyut mengikuti arus dekat permukaan atau pertengahan atau kolom perairan. Jaring dapat mencapai panjang 2,5 km dan umumnya digunakan untuk menangkap ikan pelagis. Alat tangkap ini juga mampu untuk menangkap hiu tropis.

Hasil samping relatif cukup untuk ukuran industri saat ini. Jaring insang dapat mencapai panjang 2,5 km, sehingga sering disebut dengan istilah ghost nets, telah dilarang pengoperasiannya di Australia sejak pertengahan tahun 1990-an. Australian Marine Conservation Society (AMCS) tetap peduli tentang ikan hiu yang menjadi target penangkapannya, karena penangkapan hiu yang berlebihan telah mengganggu keseimbangan ekolologi. Ghost nets dapat membahayakan (destruktif), terutama terhadap dolphin, penyu, ikan paus, hiu, dan ikan lain pada saat jarring hilang di laut.

Ikan yang terperangkap pada jaring yang hilang seringkali ditemukan mengapung kembali di perairan dalam kondisi sudah mati dan menimbulkan

kerugian pada nelayan. Hal ini tentu saja tidak berwawasan lingkungan karena dapat mengancam terhadap keberlanjutan populasi sumberdaya ikan tersebut di atas.

Gambar 6.3 Bentuk jaring insang hanyut saat dioperasikan.

4. Bottom set gillnets/jaring insang dasar tetap

Alat tangkap ini mirip dengan jaring insang hanyut akan tetapi pengoperasiannya (setting) dilakukan dekat atau pada dasar perairan.

Panjangnya antara 175 - 420 m dan disebut juga jaring hiu atau grail nets.

Alat tangkap ini dapat dioperasikan di wilayah lepas pantai, pesisir dan sungai. Gilnet di lepas pantai umumnya digunakan untuk menangkap hiu dan bebepara ikan bersirip seperti snapper tropis.

Gambar 6.4 Bentuk jaring insang dasar saat dioperasikan.

Metode penangkapan ikan dengan jaring insang hanyut sangat luas digunakan. Metode ini telah dilarang di perairan Australia karena hasil tangkapan sampingan (by-catch) yang relatif banyak. AMCS tetap peduli tentang dampak jangka panjang terhadap populasi hiu dan paus. Gilnet juga diketahui menjerat dan membunuh dolphin, penyu dan dugong di beberapa area perairan Australia.

5. Lampara nets/Jaring Lampara

Alat ini termasuk dalam kategori jaring lingkar, dan bentuknya seperti dipan dengan dua sayap bercabang (Gambar 6.5). Biasanya digunakan unutk menangkap ikan umpan, seperti garfish, pilchard dan anchovy. Dalam perikanan lampara ini, nelayan seringkali membung spesies non-target kembali ke laut, termasuk juga ikan-ikan kecil karena nilai ekonomisnya rendah. Ikan ukuran kecil banyak tertangkap karena alat tangkap ini tidak selektif. Tindakan tersebut tentu saja tidak berwawasan lingkungan.

Gambar 6.5 Bentuk jaring lampara saat dioperasikan.

6. Purse seine

Alat tangkap ini umumnya digunakan untuk menangkap ikan yang membentuk schooling di lapisan permukaan perairan. Dinding jaring digunakan untuk menghadang schooling ikan meloloskan diri secara horizontal dari cakupan alat tangkap. Dengan menarik tali bagian bawah jaring atau sering disebut dengan istilah tali kolor, maka jaring bagian bawah

akan tertutup dan akibatnya ikan tidak akan bisa meloloskan diri secara vertikal ke bawah. Semakin panjang ukuran jaring, maka volume perairan yang dapat dilingkar akan semakin banyak pula. Akibatnya schooling ikan yang dapat dilingkari juga semakin banyak. Beach seine juga merupakan jaring yang dioperasikan dengan cara melingkari gerombolan ikan di dekat pantai dengan menggunakan perahu, kemudian jaring di tarik menuju pantai oleh nelayan.

Gambar 6.6 Bentuk purse seine saat dioperasikan.

Gambar 6.7 Bentuk beach seine saat dioperasikan.

Dalam dokumen Pembentukan Daerah Penangkapan Ikan (Halaman 108-119)