• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem Pengelolaan Daerah Penangkapan Ikan

Dalam dokumen Pembentukan Daerah Penangkapan Ikan (Halaman 95-101)

BAB IV PENGELOLAAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN DALAM

4.3 Sistem Pengelolaan Daerah Penangkapan Ikan

adalah tingkat pemanfaatan dimana jumlah yang ditangkap, sebanding dengan tambahan jumlah/kepadatan karena perkembangbiakan dan pertumbuhan serta penyusutan karena kematian alami.

Integrasi ini harus didukung oleh berbagai unsur, yaitu dari pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), organisasi masyarakat, perguruan tinggi, dan pengusaha (BUMN dan swasta). Khusus di kawasan Prigi, maka sektor perikanan, pariwisata, pertambangan dan kehutanan harus menjadi titik sentral dalam manajemen sumber daya alam di kawasan pantai.

4.3.2 Standarisasi penggunaan alat tangkap

Pada dasarnya dalam suatu operasi penangkapan ikan penggunaan bermacam-macam jenis alat penangkapan ikan sesuai dengan target ikan yang akan ditangkap diperbolehkan oleh pemerintah. Ini disesuaikan dengan peraturan pemerintah mengenai Undang-Undang Perikanan No. 31 Tahun 2004..

Dalam rangka mewujudkan tujuan pengelolaan perikanan seperti yang diamanatkan dalam UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan yaitu agar SDI tetap lestari, pemanfaatannya optimal dan berkelanjutan maka perlu dilakukan beberapa langkah yang berkaitan dengan penggunaan Alat Penangkapan Ikan di antaranya:

(1) Pembuatan ketentuan-ketentuan atau peraturan-peraturan yang mengatur tentang penggunaan Alat Penangkapan Ikan.

(2) Pencantuman jenis dan dimensi utama API yang digunakan dalam SIPI.

(3) Pengawasan penggunaan API di lapangan.

4.3.3 Pembentukan sistem pengelolaan DPI

Sistem pengelolaan daerah penangkapan ikan yang baik tentunya akan mereduksi kompleksitas permasalahan nelayan tradisional yang ada di daerah pesisir dan mengurangi pencurian ikan oleh para nelayan asing.

Pengelolaan daerah penangkapan ikan tentunya tidak dapat kita lakukan dalam waktu yang singkat. Sistem ini menerlukan beberapa tahapan, di antaranya :

(1) Motorisasi nelayan tradisional.

Pemberian bantuan berupa sarana penangkapan yang modern kepada nelayan tentunya mampu meperluas daerah penangkapan. Hal ini

harus menjadi pertimbangan kepada pemerintah bila ingin meningkakan taraf hidup nelayan dan menurangi over fishing pada satu daerah. Dengan adanya motorisasi penangkapan ikan, pertimabangan nelayan dalam menentukan daerah penangkapan ikan akan memberikan alternatif yang semakin banyak pula.

(2) Pemberdayan wadah koperasi.

Program ini dilaksanakan dengan tujuan terciptnya stabilitas harga hasil tangkapan nelayan. Di daerah pesisir Indonesia banyak ka temukan nelayan yang sangat bergantun pada juragannya, pola kemitraan ini sering sekali bersifat berat sbelah. Juragan sering memonopoli haraga hasil tangkapan nelayan, karena nelayan takut hasil tangkapan busuk dan terlilit utang maka hasil tangkapan tadi akan dijal kepada juragan. Dengan adanya wadah koperasi di kalangan masyarakat nelayan, maka ketergantungan terhadap para tengkulak atau juragan dapat dikurangi.

(3) Pola kemitraan intiplasma.

Pola kemitraan intiplasma ini adalah salah satu cara yang dapa dikembangkan ada masyarakat nelayan Indonesia. Banyak diantara para nelayan kita yang tdak memiliki modal untuk mempertahankan usahanya dibidang perikanan karena kendala modal. Dengan pola intiplasma maka diharapkan nelayan kita akan lebih terpacu untuk mengembangkan usaha perikanan tangkap. Sayangnya sampai saat ini pola Intiplasma yang dikembankan oleh pemerintah lebih banyak dilakukan di daerah perairan Indonesia Timur, sedangkan Pantai Barat Sumatera belum terlakasana.

(4) Pengaturan zonasi penangkapan ikan.

Saat ini penzonasian daerah penangkapan ikan sudah dilakukan di Indonesia. Ada tiga zonasi penangkapan ikan yang dikeluarkan oleh pemerintah berdasarkan UU No 31 Tahun 2004. dari hasil pemantauan pemerintah melalui Satker Pengawas Perikanan (P2SDKP) masih banyak pelanggaran zonasi yang terjadi di laut kita. Hal yang paling umum terjadi di sebagian besar laut kita adalah pencurian sumberdaya ikan oleh negara asing seperti yang terjadi di Perairan Nias dan Pantai Barat Sumatera lainnya. Kendala sarana pengawasan sering menjadi

alasan utama pengawas perikanan dalam menangkap para pencuri yang ada di perairan kita.

Masyarakat perikanan tradisional dewasa ini sering sekali mengalami konflik dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan khususnya masalah zonasi penangkapan. Pemerintah sudah mencoba mereduksi konflik ini melalui Peraturan Menteri Perikanan dan Kelautan namun realita yang terjadi di lapangan masih banyak pelanggaran yang dilakukan oleh para nelayan itu sendiri.

Salah satu model pengelolaan daerah penangkapan ikan yang dapat dikembangkan di Indonesia adalah dengan melakukan peremajaan pada sumberdaya ikan. Pola ini telah dikembangkan oleh negara-negara maju seperti Jepang dan Australia, dimana para nelayan diwajibkan untuk melakukan restocking pada daerah penangkapan yang mereka lakukan.

Dengan melakukan penebaran benih ke laut maka keberlanjutan sumberdaya lebih terjaga. Hala ini juga dikembangkan dengan melakukan kontrol terhadap ukuran hasil tangkapan nelayan. Di Jepang nelayan yang menangkap ikan dengan ukuran yang melanggar aturan yang ditetapkan akan diberikan sanksi. Bila pola pengelolaan daerah penangkapan ikan seperti ini dilakukan di Indonesia, maka kita berharap kelak sumberdaya perikanan kita akan terus terjaga.

4.3.4 Penerapan teknologi dalam penentuan DPI

Dalam pengelolaan daerah penangkapan ikan, pemerintah telah mencoba menerapkan teknologi melalui pengideraan jarak jauh yaitu melihat potensi keberadaan ikan berdasarkan kelimpahan fitoplankton.

Diharapkan dengan adanya data citra yang telah diolah tersebut akan memperluas daerah penankapan ikan. Sejauh ini usaha yang dilakukan oleh Departemen Kelautan dan Perikanan Indonesia belum memberikan dampak yang signifikan terhadap produktivitas hasil tangkapan nelayan sehingga model penentuan daerah penangkapan ikan ini sudah jarang digunakan oleh para nelayan. Untuk itu pemerintah juga sebaiknya memberikan sosialisasi pada masyarakat nelayan bagaimana pemanfaatan informasi daerah penangkapan ikan tersebut agar efisien.

4.4 Produktivitas Hasil Penangkapan Yang Berkelanjuan

Peningkatan produktivitas hasil perikanan tentunya dapat terjadi bila sistem pengelolaan sumberdaya ikan dan cara pemanfaatannya berjalan dengan baik. Untuk mewujdkan usaha perikanan tangkap yang berkelanjutan maka diperlukan harmonisasi usaha antara setiap stakeholder yang ada. Saat ini usaha perikanan tangkap di negara kita masih lebih didominasi oleh masyarakat tradislonal yang memiliki banyak keterbatasan.

Adanya sistem penzonasian usaha penangkapan adalah salah satu bentuk usaha pmerintah dalam membantu masyarakat perikanan tradisional.

Menurut Dahuri et al. (2001), dalam pemanfaatan sumberdaya yang bersifat milik bersama (common property), keseimbangan jangka panjang dalam usaha perikanan tidak dapat dipertahankan, karena adanya peluang untuk meningkatkan keuntungan (access profit) bagi usaha penangkapan ikan, sehingga terjadi ekstensifikasi usaha secara besarbesaran, dibarengi masuknya pengusaha baru yang tergiur dengan nilai rent yang cukup besar tersebut. Pemanfaatan sumberdaya perikanan harus memperhatikan aspek sustainability, agar dapat memberikan manfaat yang sama, dimasa yang akan datang, yang tidak hanya terfokus pada masalah ekonomi, tetapi juga masalah lain seperti teknis, sosial dam budaya. Tingkat pemanfaatan sumberdaya optimal melalui pendekatan Maximum Sustainable Yield (MSY) dan Maximum Economic Yield (MEY). Pendekatan MSY akan memberikan hasil lestari secara fisik, namun demikian dalam praktek pengelolaan sumberdaya perikanan, tingkat tangkapan MEY akan lebih baik, karena selain memberikan keuntungan secara ekonomi juga memberikan keuntungan secara ekologi, yang dapat

mempertahankan diversitas yang besar.

Menurut Monintja (2000) diacu dalam Nurani (2002), kriteria yang digunakan untuk teknologi penangkapan yang secara teknis, ekonomis, mutu dan pemasaran menguntungkan adalah hemat biaya dan energi, meningkatkan produksi dan produktivitas, memperhatikan mutu produk, produk yang dihasilkan sesuai dengan permintaan pasar, meningkatkan wirausaha dan investor, meningkatkan devisa dan pengembangan daerah, serta meningkatkan kesejahteraan nelayan. Dengan terciptanya sistem ini

maka besar kemungkinan produktivitas penangkapan ikan akan tatap terpelihara dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Dahuri, R, 2002. Membangun Kembali Perekonomian Indonesia Melalui Sektor Perikanan dan Kelautan. Lembaga Informasi dan Studi Pembangunan Indonesia. Jakarta.

Keraf, A.S, 2002. Etika Lingkungan. Penerbit Buku Kompas. Jakarta.

Komisi Nasional Pengkajian Stok Sumberdaya Ikan Laut, 1998. Potensi dan Penyebaran Sumberdaya Ikan Laut di Perairan Indonesia.

LIPI. Jakarta.

Lawson. R.M, 1984. Economics of Fisheries Development. Fraces Pinter (Publisher). London.

Nasoetion, A.H, 1999. Pengantar Ke Filsafat Sains. PT. Pusaka Litera Antar Nusa. Bogor.

Nikijuluw, V.P.H, 2002. Rezim Pengelolaan Sumberdaya Perikanan. PT.

Pustaka Cidesindo. Jakarta.

Satria, A, A. Umbari, A. Fauzi, A. Purbayanto, E. Sutarto, I. Muchsin, I.

Muflikhati, M. Karim, S. Saad, W. Oktariza dan Z. Imran, 2002.

Menuju Desentralisasi Kelautan. PT. Pustaka Cidesindo. Jakarta.

Suparmoko, M, 1997. Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan.

(Suatu Pendekatan Teoritis). Ed.2. BPFE. Yogyakarta.

Widodo, J dan M. Nurhudah, 1995. Pengelolaan Sumberdaya Ikan.

Sekolah Tinggi Perikanan. Jakarta.

Widodo, J dan S. Nurhakim, 2002. Konsep Pengelolaan Sumberdaya Perikanan. Disampaikan dalam Training of Trainers on Fisheries Resource Management. 28 Oktober s/d 2 November 2002.

Hotel Golden Clarion. Jakarta.

BAB V

PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DALAM PENGELOLAAN PERIKANAN TANGKAP SKALA KECIL

5.1 Pendahuluan

Indonesia yang merupakan negara kepulauan, sudah pasti kehidupan penduduknya banyak yang tergantung pada sumberdaya dari laut, terutama sumberdaya ikan. Pada tahun 1984 saja tercatat ada 1,2 juta orang dari total jumlah penduduk 146,5 juta orang terlibat langsung sebagai nelayan. Murdiyanto (2004) menyebutkan bahwa perikanan pantai merupakan subsektor yang meliputi 90% dari seluruh nelayan Indonesia, dan kondisi ini Indonesia sudah selayaknya diperhatikan secara lebih serius.

Potensi sumberdya ikan laut di perairan Indonesia begitu besar (6,26 juta ton per tahun) sampai saat ini belum dimanfaatkan secara optimal dan lestari (baru mencapai 3,68 juta ton atau 58,80%) akibat pengelolaan potensi sumberdaya ikan yang kurang terpadu. Di beberapa wilayah perairan masih terbuka peluang besar untuk pengembangan pemanfaatannya, sedangkan di beberapa wilayah lain telah mencapai kondisi padat tangkap atau overfishing, terutama di perairan pantai.

Perikanan skala kecil (small scale fisheries) di Indonesia perlu mendapatkan perhatian serius karena jumlah anggota masyarakat yang terlibat di dalamnya sangat besar jika dibandingkan dengan jumlah nelayan yang terlibat dalam perikanan skala besar atau skala industri. Sampai saat ini jumlah nelayan yang mengandalkan layar dan mesin bertenaga kecil sebagai penggeraknya masih sangat besar. Akibatnya, para nelayan menangkap ikan tidak jauh dari kampungnya sehingga pola eksploitasinya pun relatif tidak berubah. Pola penangkapan ikan seperti ini disertai dengan kondisi pengetahuan nelayan yang masih relatif rendah akan mendorong terjadinya tekanan penangkapan berlebihan terhadap sumberdaya ikan di perairan pantai. Sehubungan dengan lokasi penangkapan dan teknologi yang dimiliki nelayan skala kecil, maka jenis ikan yang ditangkap juga terkait erat dengan ekosistem pesisir yaitu, hutan mangrove (mangrove forest), padang lamun (seagrass beds), dan terumbu karang (coral reef). Kegiatan

penangkapan ikan dan hasil tangkapan nelayan skala kecil ini sangat tergantung pada kondisi ketiga ekosistem utama tersebut.

Pengelolaan perikanan tangkap skala kecil di beberapa wilayah Indonesia dilakukan secara tradisional oleh masyarakat setempat dan juga dilakukan secara partisipatif antara masyarakat nelayan dengan beberapa unsur lain yang terlibat (stakeholders) termasuk pemerintah. Formulasinya pengelolaan tersebut umumnya kurang didukung oleh informasi ilmiah yang akurat. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, informasi terutama yang terkait dengan daerah penangkapan ikan yang potensial dan status sumberdaya pesisir lainnya sudah dapat ditentukan. Tulisan ini akan menguraikan peranan penginderaan jauh dan sistem informasi geografis dalam pengelolaan perikanan tangkap skala kecil secara berkelanjutan.

5.2 Ekosistem Pesisir

Berdasarkan sifatnya, ekosistem pesisir dapat bersifat alami (natural) atau buatan (man made). Ekosistem alami yang terdapat di wilayah pesisir antara lain terumbu karang hutan mangrove, padang lamun, pantai berbasir, pantai berbatu, formasi pescaprae, formasi barringtonia, estuaria, laguna, delta, dan ekosistem pulau kecil. Ekosistem buatan antara lain adalah tambak dan sawah pasang surut (Dahuri 2003). Dari sejumlah ekosistem pesisir tersebut, tiga ekosistem pantai tropis yang paling dikenal terkait dengan perikanan tangkap skala kecil meliputi hutan mangrove, padang lamun, dan terumbu karang. Setiap habitat ini dibentuk oleh spesies yang dalam jumlah tertentu beradaptasi dengan kehidupan intertidal atau kehidupan laut.

Hutan mangrove merupakan hutan intertidal daerah tropis dan subtropis yang tersusun dari spesies tumbuhan “halotolerant” (toleran terhadap garam). Seringkali hutan mangrove dijumpai di daerah berlumpur, tanah “anoxic” di estuari, laguna, dan delta sungai, dimana dengan sistem perakaran nafasnya yang kompleks menjadi penyokong dan pertukaran gas, dan sifatnya yang vivipar mendukung kemampuannya untuk cepat tumbuh dan berkembang pada pohon induknya, atau terapung dan berkoloni pada daerah baru (Dahdouh-Guebas 2002).

Pada bagian yang lebih ke arah laut, di daerah infralittoral, sepanjang kawasan mangrove biasanya ditemukan padang lamun. Padang lamun merupakan tumbuhan laut berbunga yang sering tumbuh pada substrat berpasir. Padang lamun dapat menyelesaikan siklus hidupnya pada ekosistem berair asin (laut) yang tergenang secara terus menerus. Sama seperti perakaran yang kompleks pada mangrove, padang lamun juga menstabilkan substrat. Terumbu karang yang terletak lebih tengah lagi, tergolong di antara ekosistem alam yang memiliki produktivitas dan keanekaragaman biologis tertinggi. Berbeda dengan spesies yang membangun habitat di mangrove dan padang lamun, hewan karang yang membangun terumbu adalah hewan-hewan laut (polip-polip anthozoa) yang secara bersama-sama mendeposit kalsium karbonat untuk membangun suatu struktur koloni yang menyediakan habitat bagi berbagai organisma lain.

Ketiga ekosistem ini mempunyai peranan yang sangat besar kepada manusia baik langsung maupun tidak langsung. Mangrove dan terumbu karang melindungi pantai terhadap erosi. Lamun dan mangrove sebagai tempat melangsungkan perkawinan, bertelur, menetaskan, memelihara anak bagi berbagai macam spesies. Banyak spesies laut yang melakukan migrasi secara teratur antara mangrove dan terumbu karang seperti hiu dan kuda laut (Stafford-Deitch 1996). Beberapa jenis ikan komoditas penting yang memiliki keterkaitan dengan ekosistem ini adalah ikan baronang, cumi-cumi atau sotong, kerapu dan sebagainya. Dengan demikian, jika salah satu dari ekosistem tersebut terganggu akan menimbulkan dampak yang berarti terhadap ekosistem yang lainnya. Keterkaitan antara ketiga ekosistem utama pesisir tersebut dapat diillustrasikan dengan Gambar 5.1.

5.3 Penginderaan Jauh (Inderaja) dan Sistem Informasi Geografi (SIG) Kegiatan survei pemetaan dewasa ini sudah tidak dapat dilepaskan dari dua macam teknologi, yaitu penginderaan jauh dan sistem informasi geografi. Penginderaan jauh merupakan ilmu dan seni dalam interaksi informasi mengenai suatu obyek, wilayah atau fenomena yang dikaji tersebut (Lillesand dan Kiefer 1987). Sistem informasi geografis (SIG) adalah suatu sistem, pada umumnya berbasis komputer, yang digunakan

untuk menyimpan, mengelola, menganalisis dan mengaktifkan kembali data yang mempunyai referensi keruangan, untuk brbagai tujuan yang berkaitan dengan pemetaan dan perencanaan. Kedua macam teknologi tersebut sangat bermanfaat dalam pengelolaan informasi keruangan mengenai kondisi permukaan (dan dekat permukaan) bumi. Oleh karena itu, pada perkembangan selanjutnya, keduanya cenderung diintegrasikan demi peningkatan efisiensi pemerolehan serta akurasi hasil pemetaan.

Gambar 5.1Interkoneksi antara tiga ekosistem utama di wilayah pesisir.

5.3.1 Penginderaan jauh (Inderaja)

Istilah penginderaan jauh (inderaja) secara luas didefinisikan sebagai teknik pengumpulan gambar atau data lain tentang suatu obyek dari pengukuran-pengukuran yang dibuat pada suatu jarak tertentu dari obyek, dan dapat merujuk misalnya kepada penggambaran satelit, foto udara atau batimetri laut dari kapal dengan menggunakan data radar (Dahdouh-Guebas

2002). Akan tetapi, dalam konteks ini hanya akan dibahas gambar optik yang diperoleh melalui sensor angkasa luar (space-borne sensors).

Penginderaan jauh (inderaja) digunakan untuk memantau permukaan lahan, laut dan bahkan atmosfer, dan bagaimana perubahan- perubahan terjadi pada semua ini. Cakupan sebagian besar satelit penginderaan jauh meliputi seluruh permukaan bumi, membuatnya menjadi penting untuk fenomena berskala luas seperti sirkulasi air laut, iklim dan penebangan hutan global, juga pada daerah terpencil. Pemotretan satelit yang berulang-ulang pada daerah yang sama dapat dilakukan dalam jangka waktu yang lama. Kemampuan ini membuatnya memungkinkan untuk memantau perubahan lingkungan, meliputi dampak kegiatan manusia dan proses alami, dan mensimulasi bagaimana kecenderungan dari apa yang telah diamati pada masa lampau akan terjadi pada masa yang akan datang (Anonim 2008).

Teknologi satelit inderaja beserta sensor-sensor yang menyertainya dewasa ini telah mengalami kemajuan sedemikian rupa sehingga menyebabkan resolusi spasial setiap piksel data citra hasil perekaman sensor-sensor yang bersangkutan dapat mencapai puluhan meter, seperti citra Landsat dan Spot, bahkan mencapai satu meter di muka bumi, seperti citra IKONOS pankromatik (Prahasta 2001). Selain itu, proses perekaman data citra dijital satelit ini dapat dilakukan dengan efektif dan efisien dalam waktu yang relatif singkat. Dengan demikian, pengguna yantg membutuhkannya hanya perlu mengirimkan permohonan perekaman citra pada agen-agen citra satelit yang bersangkutan, dengan menentukan waktu perekaman yang diinginkan beserta batas-batas koordinat wilayah yang akan diliput, menentukan jumlah scenes citra yang diperlukan, dan tak lama kemudian citranya akan diperoleh pengguna.

5.3.2 Sistem informasi geografis (SIG)

Sistem informasi geografis (SIG) adalah alat dengan sistem komputer yang digunakan untuk memetakan kondisi dan peristiwa yang terjadi di muka bumi. Teknologi ini dapat mengintegrasikan sistem operasi database seperti query dan analisis statistik dengan berbagai keuntungan analisis geografis yang ditawarkan dalam bentuk peta. Dengan kemampuan

pada sistem informasi pemetaan (informasi spasial) yang membedakannya dengan sistem informasi lain seperti database, maka SIG banyak digunakan oleh masyarakat, pengusaha dan instansi untuk menjelaskan berbagai peristiwa, memprediksi hasil dan perencanaan strategis. SIG memiliki kapabilitas menghubungkan berbagai lapisan data di suatu titik yang sama pada tempat tertentu, mengkombinasikan, menganalisis data tersebut dan memetakan hasilnya. Teknologi ini juga dapat mendeskripsikan karakteristik obyek pada peta dan menentukan posisi koordinatnya, melakukan query dan analisis spasial serta mampu menyimpan, mengelola, mengupdate data secara terorganisir dan efisien (Zainuddin 2006).

SIG secara luas telah digunakan secara luas sebagai alat untuk mendigitasi data penginderaan atau cartographic jarak jauh yang dilengkapi dengan data hasil pengukuran lapangan (ground-truth data), yang posisi geografisnya (geocoded) ditentukan menggunakan global positioning system (GPS) (Dahdouh-Guebas 2002). SIG dapat digunakan untuk menganalisis karakteristik spasial dari data yang terdiri dari beberapa lapis digital (digital layers). Jika tersedia data yang beruntun (sequential data) penghitungan perubahan spasial dapat dilakukan melalui analisis tumpang susun (overllay analysis). SIG merupakan teknologi informasi yang sedang berkembang untuk membuat data dasar (database) dengan informasi spasial, yang dapat diterapkan baik kepada pemukiman penduduk (seperti data dasar kependudukan) maupun untuk lingkungan alami (seperti penyebaran populasi dan faktor-faktor lingkungan). Yang paling penting adalah kombinasi kedua data dasar dapat menjamin pengelolaan berkelanjutan. SIG akan terus disempurnakan sebagai suatu alat bantu yang penting dan alat analisis secara berturut-turut tidak hanya dalam deskripsi analisis subyek spasial, tetapi juga perencanaan lingkungan, penilaian dampak, pengelolaan bencana dan secara sederhana mengendalikan penginderaan jauh.

5.4 Perikanan Berkelanjutan

Walaupun isu-isu pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang terkait dengan ilmu dan teknologi yang sesuai telah muncul sejak lama, namun kenyataan empiris membuktikan bahwa masih

banyak hal yang harus dilakukan khususnya pentingnya integrasi keilmuan dan riset guna mewujudkan konsep operasional pembangunan. Dalam konteks ini, definisi pembangunan berkelanjutan menjadi sangat penting.

Definisi yang banyak diketahui adalah versi dokumen Burtland, Our Common Future, yaitu pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya (WCED 1987 diacu dalam Kusumastanto 2008). Lebih lanjut, keberlanjutan ini membutuhkan pemahaman yang luas (wide recognition) dalam sebuah bentuk integrasi yang mencakup aspek ekologi, sosial, ekonomi dan institusi (Charles 2001). Oleh karena itu, Clark dan Dickson (2003) diacu dalam Kusumastanto (2008) menegaskan pentingnya “sustainability science” sebagai ilmu yang memfokuskan pada interaksi dinamis antara alam dan manusia. Dalam konteks ini, pendekatan sistem dan teori keberlanjutan perikanan menjadi sangat tepat sebagai dasar platform pembangunan perikanan dan kelautan.

Dalam sejarahnya, wacana keberlanjutan perikanan diawali dengan munculnya paradigma konservasi (conservation paradigm) yang dipelopori sejak lama oleh para ilmuwan biologi. Dalam paradigma ini, keberlanjutan perikanan diartikan sebagai konservasi jangka panjang (long-term conservation) sehingga sebuah kegiatan perikanan akan disebut

“berkelanjutan” apabila mampu melindungi sumberdaya ikan dari kepunahan. Konsep ini memberikan sedikit perhatian pada tujuan manusia dalam melakukan kegiatan perikanan tersebut.

Kemudian pada tahun 1950-an, dominasi paradigma konservasi ini mendapat tantangan dari paradigma lain yang disebut sebagai paradigma rasionalitas (rationalization paradigm). Paradigma ini memfokuskan pada keberlanjutan perikanan yang rasional secara ekonomi (economically rational or efficient fishery) dan mendasarkan argumentasinya pada konsep pencapaian keuntungan maksimal dari SDI bagi pemilik sumberdaya.

Charles (2001) mengkritisi secara sistematik konsep keberlanjutan perikanan konvensional yang selama ini hanya bergantung pada konsep keberlanjutan secara biologi-ekologi lewat ikon MSY (maximum sustainable yield) dan keberlanjutan ekonomi lewat ikon MEY (maximum economic yield) dan OSY (optimum sustainable yield). Ikon pertama pada dasarnya merupakan representasi dari paradigma konservasi dan dua ikon berikutnya

mewakili paradigma rasionalitas yang telah lama mendominasi konsep keberlanjutn perikanan. Di sini Charles menambahkan wacana baru tentang perlunya paradigma sosial dan komunitas (community paradigm).

Dalam paradigma baru ini, keberlanjutan perikanan dicapai melalui pendekatan “kemasyarakatan”. Artinya, keberlanjutan perikanan diupayakan dengan memberi perhatian utama pada aspek keberlanjutan masyarakat perikanan sebagai sebuah sistem komunitas. Konsep-konsep traditional fisheries yang terbukti mampu melakukan self-control terhadap hasil tangkap, penggunaan teknologi yang sesuai, tingkat kolektivitas yang tinggi antara anggota komunitas perikanan, dan adanya traditional knowledge yang mencerminkan upaya ketahanan perikanan dalam jangka panjang (long-term resilience) menjadi variabel yang penting dalam paradigma ini.

Dengan demikian, perikanan yang berkelanjutan bukan semata-mata ditujukan untuk kepentingan kelestarian ikan itu sendiri (as fish) atau keuntungan ekonomi semata (as rents) tapi lebih dari itu adalah untuk keberlanjutan komunitas perikanan (sustainable community) yang ditunjang oleh keberlanjutan institusi (institutional sustainability) yang mencakup kualitas keberlanjutan dari perangkat regulasi, kebijakan dan organisasi untuk mendukung tercapainya keberlanjutan ekologi, ekonomi dan komunitas perikanan (Gambar 5.2).

5.5 Inderaja dan SIG dalam Penelitian Ekosistem Pesisir

Sebagaimana yang telah disebutkan di atas bahwa aktivitas penangkapan dan hasil tangkapan nelayan skala kecil sangat bergantung kepada paling tidak tiga ekosistem utama pesisir yang telah disebutkan.

Oleh karena itu, untuk keperluan pengelolaan, maka informasi yang lengkap mengenai status sumberdaya ini sangat diperlukan.

Penginderaan jauh dan SIG telah digunakan dalam studi ekosistem pesisir penting yaitu hutan mangrove (Ramachandran et al., 1998), padang lamun (Dahdouh-Guebas et al. 1999; Ferguson dan Korfmacher 1997), dan terumbu karang (Hasyim dan Winarso, 1998; Holden dan Ledrew, 1999;

Lubin et al. 2001). Penelitian struktur vegetasi dalam hutan mangrove dan padang lamun dapat difokuskan pada genus tunggal, asosiasi dan zonasi dalam vegetasi (Dahdouh-Guebas 1999). Studi yang sama juga dapat

Dalam dokumen Pembentukan Daerah Penangkapan Ikan (Halaman 95-101)