• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembentukan Daerah Penangkapan Ikan

N/A
N/A
John Karuwal

Academic year: 2024

Membagikan "Pembentukan Daerah Penangkapan Ikan"

Copied!
177
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

ISBN : 978-979-122517-5

Pembentukan

Daerah Penangkapan Ikan

Domu Simbolon Ririn Irnawati

Lucien P. Sitanggang Dwi Ernaningsih Victoria EN Manoppo Muslim Tadjuddah Karnan

Mohamad

Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Institut Pertanian Bogor

(3)

Pembentukan

Daerah Penangkapan Ikan

Domu Simbolon Ririn Irnawati Lucien P. Sitanggang

Dwi Ernaningsih Victoria EN Manoppo

Muslim Tadjuddah Karnan Mohamad

Desain Cover : Ririn Irnawati dan Joyce Kumaat Cetakan Pertama : Mei 2009

Hak Cipta Pada Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Institut Pertanian Bogor

Dilindungi Oleh Undang-Undang

Tidak diperkenankan memperbanyak penerbitan buku ini dalam bentuk cetak, stensil, offset, foto copy, microfis atau bentuk lain tanpa

izin tertulis dari penerbit

Diterbitkan oleh:

Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Institut Pertanian Bogor

ISBN : 978-979-122517-5

(4)

PENGANTAR

Wilayah Indonesia memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia

(megabiodiversity). Tingginya keanekaragaman hayati tersebut bukan hanya disebabkan oleh letak geografis yang sangat strategis melainkan juga dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti variasi iklim musiman, arus atau massa air laut yang mempengaruhi massa air dari dua samudera, serta keragaman tipe habitat dan ekosistem yang terdapat di dalamnya. Kondisi ini berpengaruh secara signifikan terhadap keberadaan sumberdaya ikan dan daerah penangkapan ikan.

Daerah penangkapan ikan adalah suatu wilayah perairan di mana suatu alat tangkap dapat dioperasikan secara sempurna untuk mengeksploitasi sumberdaya ikan yang terdapat didalamnya. Daerah penangkapan ikan merupakan salah satu faktor penentu dan penting yang harus diketahui untuk mendukung keberhasilan kegiatan operasi penangkapan ikan. Saat ini masih terjadi ketimpangan pemanfaatan wilayah perairan laut di Indonesia, hal ini disebabkan kurangnya informasi mengenai daerah penangkapan yang potensial.

Penulisan buku ini didorong pula oleh keinginan untuk menambah referensi tentang daerah penangkapan ikan di Indonesia yang masih sangat terbatas jumlahnya. Bagi para mahasiswa yang belajar tentang perikanan, khususnya operasi penangkapan ikan, atau pihak lain yang memerlukannya, kiranya buku ini dapat menjadi tambahan referensi untuk mengetahui dan memahami pentingnya daerah penangkapan ikan dalam kegiatan penangkapan ikan sehingga dapat mencapai hasil yang optimal.

Penulis menyadari bahwa tulisan pada buku ini masih jauh dari kesempurnaan, sehingga kritik dan saran konstruktif sangat diharapkan untuk perbaikan dan penyempurnaan buku ini.

Semoga buku ini dapat bermanfaat.

Bogor, Mei 2009 Penulis

(5)

DAFTAR ISI

Halaman

BAB I URGENSI PENDETEKSIAN DAN PERLUASAN DAERAH

PENANGKAPAN IKAN DI INDONESIA ... 1

1.1 Pendahuluan ... 1

1.2 Pendeteksian Daerah Penangkapan Ikan ... 3

1.3 Perluasan Daerah Penangkapan Ikan ... 14

1.4 Urgensi Pendeteksian dan Perluasan Daerah Penangkapan Ikan . 15 BAB II PEMBENTUKAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN DENGAN LIGHT FISHING DAN RUMPON ... 18

2.1 Pendahuluan ... 18

2.2 Perikanan Light Fishing ... 19

2.3 Perikanan Rumpon ... 27

BAB III PERANAN DAN APLIKASI TEKNOLOGI PENGINDERAAN JARAK JAUH DALAM PENDUGAAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN ... 42

3.1 Pendahuluan ... 42

3.2 Penginderaan Jarak Jauh (Inderaja) ... 43

3.3 Peranan Teknologi Penginderaan Jauh (Inderaja) dalam Pendugaan Parameter Oseanografi Perikanan ... 50

3.4 Aplikasi Teknologi Penginderaan Jarak Jauh (Inderaja) dalam Pendugaan Daerah Penangkapan Ikan ... 66

3.5 Sistem Informasi Geografis (SIG) ... 72

3.6 Penyebaran Informasi Perikanan ... 76

BAB IV PENGELOLAAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN DALAM MENJAMIN USAHA PERIKANAN TANGKAP BERKELANJUTAN . 80 4.1 Pendahuluan ... 80

4.2 Daerah Penangkapan dan Pemanfaatan Sumberdaya Ikan ... 81

4.3 Sistem Pengelolaan Daerah Penangkapan Ikan... ... 86

4.4 Produktivitas Hasil Tangkapan Yang Berkelanjutan ... 90

BAB V PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DALAM PENGELOLAAN PERIKANAN TANGKAP SKALA KECIL ... 92

5.1 Pendahuluan ... 92

(6)

5.2 Ekosistem Pesisir ... 93

5.3 Penginderaan Jauh (Inderaja) dan Sistem Informasi Geografis (SIG) ... 94

5.4 Perikanan Berkelanjutan ... 97

5.5 Inderaja dan SIG dalam Penelitian Ekosistem Pesisir ... 99

BAB VI KONFLIK PEMANFAATAN SUMBERDAYA DAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN ... 110

6.1 Pendahuluan ... 110

6.2 Definisi Perikanan Tangkap ... 111

6.3 Metode Penangkapan Ikan dan Dampaknya Terhadap Kondisi Daerah Penangkapan Ikan ... 111

6.4 Kondisi Sumberdaya dan Perairan Indonesia ... 123

6.5 Konflik Pemanfaatan Daerah Penangkapan Ikan di Indonesia dan Upaya Pengendalian ... 125

BAB VII DAMPAK GLOBAL WARMING DAN CLIMATE CHANGE TERHADAP PENYEBARAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN 136 7.1 Pendahuluan ... 136

7.2 Global Warming ... 137

7.3 Climate Change ... 141

7.4 Posisi Strategis Indonesia ... 142

7.5 Dampak Global Warming dan Climate Change terhadap Penyebaran Daerah Penangkapan Ikan ... 144

(7)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1.1 Warna dan panjang gelombang cahaya ... 7

Tabel 3.1 Konfigurasi spektral NOAA-AVHRR ... 46

Tabel 3.2 Spesifikasi MODIS ... 48

Tabel 3.3 Karakteristik kanal-kanal sensor MODIS ... 49

Tabel 3.4 Karakteristik satelit dan sensor SeaWiFS ... 51

Tabel 3.5 Data satelit ocean color dan spesifikasinya ... 52

Tabel 3.6 Spesifikasi satelit-satelit lain ... 53

Tabel 6.1 Dampak metode penangkapan terhadap kualitas daerah penangkapan 123 Tabel 7.1 Dampak pemanasan global bagi organisme laut ... 153

(8)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1.1 Proses penangkapan ikan dengan bagan ... 8

Gambar 1.2 Jenis lampu yang digunakan pada alat tangkap purse seine ... 10

Gambar 1.3 Komponen dan prinsip kerja akustik ... 11

Gambar 2.1 Light fishing pada bagan rambo (Sudirman 2003)... 21

Gambar 2.2 Rumpon laut dangkal (BPPL 1991) ... 27

Gambar 2.3 Rumpon laut dalam (BPL 1991) ... 28

Gambar 3.1 Sistem penginderaan jauh (Sutanto 1994) ... 44

Gambar 3.2 Konfigurasi satelit NOAA (JARS 1993) ... 46

Gambar 3.3 Skema peluncuran, orbit Satelit Seastar dan sensor SeaWiFS... 50

Gambar 3.4 Tipe jaring makanan di lautan yang dimulai dari fitoplankton (Nybakken 1992) ... 60

Gambar 3.5 Piramida makanan yang dimulai dari fitoplankton sebagai produsen primer di laut (Nontji 2005) ... 61

Gambar 3.6 Rantai makanan di lautan (Nybakken 1992) ... 62

Gambar 3.7 Skala nilai kandungan klorofil (mg/m3) ... 69

Gambar 3.8 Mekanisme penyebaran informasi zona potensi penangkapan ikan dari LAPAN ke nelayan ... 76

Gambar 5.1 Interkoneksi antara tiga ekosistem utama di wilayah pesisir ... 95

Gambar 5.2 Segitiga berkelanjutan sistem perikanan (Charles 2001) ... 100

Gambar 5.3 Zonasi mangrove di sebagian wilayah Sunderbans India menggunakan data gabungan antara IRS LISS III dan PAN (Nayak 2008) ... 101

Gambar 5.4 Zonasi terumbu karang (Gulf of Kachchh, Western India) menggunakan data IKONOS (Nayak 2008) ... 102

Gambar 5.5 Penggunaan OCEANSAT I OCM dan AVHRR SST untuk mengindentifikasi daerah tangkapan yang potensial (Nayak 2008) . 103 Gambar 5.6 Skema langkah-langkah dalam sistem peringatan dini (early warning system) (Dahdouh-Guebas 2002)... ... 104

Gambar 6.1 Posisi trawl dasar saat dioperasikan ... 112

Gambar 6.2 Posisi alat pengeruk scallop saat dioperasikan ... 113

Gambar 6.3 Bentuk jaring insang hanyut saat dioperasikan... 114

Gambar 6.4 Bentuk jaring insang dasar saat dioperasikan ... 114

Gambar 6.5 Bentuk jaring lampara saat dioperasikan ... 115

(9)

Gambar 6.6 Bentuk purse seine saat dioperasikan ... 116

Gambar 6.7 Bentuk beach seine saat dioperasikan ... 116

Gambar 6.8 Bentuk drifting longline saat dioperasikan ... 117

Gambar 6.9 Bentuk bottom-set longlining saat dioperasikan ... 118

Gambar 6.10 Bentuk droplining saat dioperasikan ... 119

Gambar 6.11 Pots and trap ... 119

Gambar 6.12 Konstruksi trolling line ... 120

Gambar 6.13 Konstruksi squid jigging ... 121

Gambar 6.14 Dive fisheries ... 122

Gambar 6.15 Konstruksi hand line ... 122

Gambar 7.1 Efek rumah kaca (Harijono 2006) ... 138

Gambar 7.2 Proses terjadinya global warming (Harijono 2006) ... 139

Gambar 7.3 Kenaikan tinggi permukaan air laut (http:/www.environmentaldefense.org) ... 159

(10)

BAB I

URGENSI PENDETEKSIAN DAN PERLUASAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN DI INDONESIA

1.1 Pendahuluan

Keberhasilan suatu operasi penangkapan ikan sangat ditentukan oleh berbagai faktor, antara lain : (1) nelayan yang mengoperasikan alat tangkap;

(2) alat penangkap ikan; (3) kapal ikan dan perlengkapannya; (4) metode penangkapan ikan; (5) tingkah laku ikan; dan (6) daerah penangkapan ikan.

Yang dimaksud dengan daerah penangkapan ikan adalah wilayah perairan dimana alat tangkap dapat dioperasikan secara sempurna untuk mengeksploitasi sumberdaya ikan yang terdapat di dalamnya. Nomura and Yamazaki 1977, mengatakan bahwa kondisi daerah penangkapan ikan dikatakan catchable area apabila :

(1) Perairan sesuai dengan habitat yang disenangi ikan (dipengaruhi parameter oseanografi fisik, biologi dan kimiawi).

(2) Fishing gear mudah dioperasikan.

(3) Daerah penangkapan ikan ekonomis dan menguntungkan.

Penentuan daerah penangkapan ikan yang potensial saat ini di sebagian besar nelayan Indonesia masih menjadi kendala, sehingga usaha penangkapan ikan yang dilakukan masih penuh dengan ketidakpastian karena nelayan tidak langsung menangkap ikan tapi mencari-cari daerah penangkapannya. Dengan demikian hasil tangkapannya juga menjadi tidak pasti, disamping itu sebagai akibat ketidakpastian mengakibatkan kapal penangkap banyak menghabiskan waktu dan bahan bakar untuk mencari lokasi fishing ground, ini berarti terjadi pemborosan bahan bakar. Akibatnya hasil tangkapan yang diperoleh tidak sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan.

Keadaan ini diperparah dengan naiknya harga BBM, yang menyebabkan meningkatnya biaya operasional penangkapan ikan (30- 40%) terutama sangat dirasakan oleh nelayan kecil dengan kapasitas kapal di bawah 10 GT. Keadaan ini menyebabkan nelayan menjadi semakin miskin dikarenakan nelayan tidak bisa lagi melaut. Menurut Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap Departemen Kelautan dan Perikanan (2007),

(11)

rata-rata pendapatan 2,7 juta nelayan kecil di Indonesia hanya Rp 445 ribu per keluarga per bulan. Pendapatan ini jauh di bawah pendapatan standar hidup layak. Akibat selanjutnya adalah armada perikanan skala besar akan mengalihkan wilayah tangkapan ke wilayah pesisir dengan alasan untuk menghemat BBM. Padahal pesisir sudah mengalami tangkap lebih. Ini tak hanya mengancam sumber kehidupan nelayan tradisional, tapi juga berpotensi menimbulkan konflik horisontal karena penyerobotan wilayah perikanan tradisional. Akibatnya, konflik nelayan tradisional dengan armada perikanan besar semakin akut dan terbuka (Busyairi 2008).

Ciri khas perikanan Indonesia adalah didominasi perikanan rakyat, artisanal, subsisten, dan skala kecil. Dari satu sisi, ciri ini adalah kekuatan dimana rakyat dalam jumlah besar dapat ikut serta dan terlibat dalam kegiatan ekonomi. Dari sisi lain, ciri ini adalah kelemahan yang menunjukkan ketidakmampuan dan ketidaksanggupan Indonesia dalam memanfaatkan potensi sumberdaya ikan yang dimilikinya. Sumberdaya ikan yang ada memang betul harus dimanfaatkan oleh rakyat, namun ekonomi perikanan rakyat bercirikan usaha kecil, artisanal dan subsisten tidak membuat rakyat menjadi sejahtera dan tidak membuat sumberdaya perikanan dimanfaatkan secara optimal. Akibatnya, ikan yang tidak dimanfaatkan ditangkap secara ilegal atau dicuri oleh nelayan asing.

Dengan mengandalkan armada perikanan rakyat yang ada saat ini, Indonesia sulit memanfaatkan sumberdaya perikanan yang dimilikinya.

Jumlah armada yang ada saat ini sebanyak kurang lebih 600.000 armada perikanan. Sekilas dengan jumlah armada seperti ini, bisa dikatakan bahwa perairan Indoensaia akan mudah ditaklukkan oleh nelayan, tetapi ternyata tidak demikian adanya. Dari jumlah armada perikanan tersebut, sekitar 43%

adalah perahu kecil tanpa menggunakan motor, sekitar 28% adalah armada perahu motor tempel (dengan kekuatan paling besar 40 PK), dan sisanya sekitar 29% atau 127.000 unit adalah kapal bermotor (Nikijuluw 2008). Dari 127.000 kapal motor, 113.000 diantaranya adalah kapal motor < 10 GT dan sekitar 3.500 unit berukuran > 50 GT.

Dengan struktur armada sebagaimana disebutkan di atas, tentu saja sangat sulit bagi nelayan Indonesia memanfaatkan sumberdaya ikan yang dimilikinya. Nelayan Indonesia hanya bisa berkonsentrasi di sekitar perairan pesisir. Mereka sulit menjangkau perairan yang lebih jauh dan dalam.

(12)

Mereka sulit menjangkau perairan ZEE untuk menangkap ikan-ikan yang lebih tinggi nilai ekonominya. Ketidakmampuan nelayan Indonesia ini tentu saja adalah peluang dan kesempatan bagi nelayan asing untuk masuk dan menjarah sumberdaya yang tidak dimanfaatkan oleh Indonesia.

Untuk itu diperlukan adanya pengembangan teknologi dan alat bantu penangkapan yang dapat menghemat BBM dan kepastian tersedianya daerah penangkapan yang potensial serta perluasan daerah penangkapan sehingga konsentrasi kegiatan penangkapan tidak bertumpu pada daerah pesisir saja.

1.2 Pendeteksian Daerah Penangkapan Ikan

Penentuan atau pendeteksian daerah penangkapan ikan di perairan Indonesia dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya berdasarkan kebiasaan nelayan, menggunakan rumpon dan cahaya buatan sebagai alat bantu penangkapan, menggunakan teknologi satelit dan akustik.

Indikator keberadaan gerombolan ikan ditunjukkan dengan adanya perubahan warna permukaan air laut; ikan yang melompat-lompat di permukaan air; terlihat riak-riak kecil; adanya buih-buih di permukaan air laut; dan adanya burung-burung yang menyambar dan menukik ke permukaan air laut (Ayodhyoa 1981). Nelayan melakukan hal ini secara turun menurun berdasarkan kebiasaan yang telah dilakukan para pendahulunya.

(1) Rumpon sebagai alat bantu penangkapan

Rumpon adalah salah satu alat bantu penangkapan ikan yang dipasang di laut, baik laut dangkal maupun laut dalam. Pemasangan tersebut dimaksudkan untuk menarik gerombolan ikan agar berkumpul di sekitar rumpon, sehingga ikan mudah untuk ditangkap. Dengan pemasangan rumpon maka kegiatan penangkapan ikan akan menjadi lebih efektif dan efisien karena tidak lagi berburu ikan (dengan mengikuti ruayanya), tetapi cukup melakukan kegiatan penangkapan ikan di sekitar rumpon tersebut.

Rumpon merupakan suatu sistem tropic level yang komplit, dapat ditemukan mulai dari produsen (phytoplankton) sampai predator (ikan-ikan

(13)

tuna besar) sebagai konsumen. Oleh karena itu berbagai jenis ikan tertarik untuk berkumpul di sekitar rumpon, mulai dari ikan-ikan pelagis kecil sampai berbagai jenis ikan pelagis besar yang didominasi oleh tuna dan cakalang (Monintja dan Zulkarnain 1995).

Rumpon berfungsi sebagai alat bantu menarik perhatian ikan agar berkumpul pada suatu tempat atau wilayah (fish agregating device), tempat berlindung, dan sumber makanan tambahan bagi ikan-ikan. Rumpon yang dipasang di suatu perairan akan dimanfaatkan sebagai tempat berlindung bagi ikan-ikan kecil atau lemah (pelagis kecil) dari predator. Kelompok ikan ini biasanya berenang dengan mengusahakan posisi tubuh selalu membelakangi rumpon (Subani 1986).

Sumberdaya ikan pelagis kecil yang banyak berkumpul di sekitar rumpon umumnya jenis-jenis layang (Decapterus ruselli), kembung (Rastrelliger sp) dan selar (Selaroides sp). Sedangkan sumberdaya ikan pelagis besar yang banyak berkumpul di sekitar rumpon adalah cakalang (Katsuwonus pelamis), madidihang (Thunnus albacores), tongkol (Euthynnus sp) dan tuna mata besar (Thunnus obesus) (Monintja dan Zulkarnain 1995).

De San (1982) dan Abidin (1987) menyatakan bahwa posisi rumpon yang terbaik adalah tempat yang dikenal sebagai lintasan ruaya ikan, daerah upwelling, water fronts dan arus eddy, dasar perairan yang datar, tidak dekat dengan karang dan berada di ambang suatu palung laut.

Di Indonesia dikenal dua jenis rumpon, yaitu rumpon laut dangkal, dipasang biasanya pada kedalaman kurang dari 100 m dan rumpon jenis kedua adalah rumpon laut dalam, dipasang pada kedalaman lebih dari 600 m bahkan bisa sampai pada kedalaman 1.500 m. Rumpon jenis pertama dikenal dalam perikanan pelagis kecil dengan alat tangkap yang digunakan adalah payang, purse seine, cantrang dan lain-lain. Sedangkan jenis rumpon yang kedua dikenal dalam perikanan tuna dan cakalang dengan alat tangkap yang digunakan adalah huhate dan pancing ulur (Monintja dan Zulkarnain 1995).

Menurut Keputusan Menteri Pertanian (Kepmentan) No.

51/Kpts/IK.250/97, rumpon dibedakan menjadi tiga jenis yaitu: rumpon perairan dasar, rumpon perairan dangkal dan rumpon perairan dalam.

Rumpon perairan dasar dipasang pada dasar perairan laut sampai dengan

(14)

jarak 3 mil laut yang diukur dari garis pasang surut terendah dan di atas 3 mil sampai 12 mil diukur dari garis pasang surut terendah pada waktu air surut. Rumpon perairan dangkal ditempatkan pada kedalaman sampai 200 m, sedangkan rumpon laut dalam ditempatkan atau dipasang pada perairan dengan kedalaman di atas 200 meter.

Rumpon merupakan suatu konstruksi bangunan yang dipasang di dalam air dengan tujuan untuk memikat ikan agar berasosiasi dengannya sehingga memudahkan penangkapan ikan tersebut (De San 1982 diacu dalam Monintja dan Zulkarnain 1995). Pada prinsipnya rumpon terdiri dari 4 komponen utama, yaitu: pelampung (float), tali panjang (rope), pemikat (attractor), dan pemberat (anchor).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih lokasi pemasangan rumpon adalah: (1) bukan merupakan alur pelayaran dan daerah suaka, (2) bukan merupakan daerah konsentrasi nelayan yang tidak menggunakan rumpon, dan (3) memperhatikan daerah perbatasan antar propinsi. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi konflik sosial antar nelayan pemilik rumpon dan tidak memiliki rumpon.

(2) Cahaya

Cahaya merupakan alat bantu penangkapan yang sudah lama digunakan nelayan Indonesia. Sebelum teknologi electrical light berkembang dengan pesat seperti sekarang ini, nelayan-nelayan di berbagai belahan dunia menggunakan cahaya lampu obor sebagai alat bantu penangkapan ikan. Pada mulanya penggunaan lampu untuk penangkapan, masih terbatas pada daerah-daerah tertentu dan umumnya dilakukan hanya di tepi-tepi pantai dengan menggunakan alat tangkap beach seine, serok (scoop net) dan pancing (hand line). Pada tahun 1953 perkembangan penggunaan lampu untuk tujuan penangkapan ikan tumbuh dengan pesat bersamaan dengan perkembangan bagan untuk penangkapan ikan. Saat ini pemanfaatan lampu tidak hanya terbatas pada daerah pantai saja, tetapi juga dilakukan pada daerah lepas pantai yang penggunaannya disesuaikan dengan keadaan perairan seperti alat tangkap payang, purse-seine dan sebagainya.

(15)

Penggunaan cahaya listrik dalam kegiatan penangkapan ikan pertama kali dikembangkan di Jepang sekitar tahun 1900, kemudian selanjutnya berkembang ke berbagai belahan dunia. Indonesia sendiri, penggunaan lampu sebagai alat bantu penangkapan ikan tidak diketahui dengan pasti. Diduga, perikanan dengan alat bantu lampu berkembang dari bagian timur perairan Indonesia dan menyebar ke bagian barat Indonesia.

Pemanfaatan cahaya sebagai alat bantu penangkapan ikan sesungguhnya sangat berkaitan dengan upaya nelayan dalam memahami perilaku ikan dalam merespon perubahan lingkungan yang ada di sekitarnya. Hampir semua ikan menggunakan matanya dalam aktivitas hidupnya, seperti memijah, mencari makan, dan menghindari serangan ikan besar atau binatang pemangsa lainnya. Cahaya merupakan faktor utama bagi ikan dalam rangka mempertahankan hidupnya. Atas dasar pengetahuan tersebut, maka nelayan menggunakan cahaya buatan untuk mendorong ikan melakukan aktivitas tertentu.

Tingkah laku ikan menurut He (1989) adalah adaptasi dari badan ikan terhadap lingkungan internal dan eksternal, sedangkan reaksi ikan merupakan respon yang berhubungan dengan tingkah laku ikan karena adanya rangsangan eksternal. Terdapat dua bentuk reaksi dari hewan terhadap cahaya yaitu fotokinesis dan fototaksis. Fotokinesis adalah respon dalam kecepatan perubahan arah gerakan terhadap suatu intensitas cahaya, sedangkan fototaksis adalah tindakan lokomotor dari suatu organisme mendekat (positif) atau menjauhi (negatif) dari suatu sumber cahaya (Ben-Yami 1987).

Menurut He (1989), terdapat teori tentang ikan berenang mendekati sumber cahaya (fototaksis) yaitu forced movement theory, adaptation theory dan feeding phototaxis theory, sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi fototaksis pada ikan adalah faktor internal seperti umur, jenis kelamin dan kepenuhan isi lambung serta faktor eksternal seperti temperatur air, level lingkungan cahaya (dini hari dan bulan pertama), intensitas dan warna dari sumber cahaya, ada tidaknya makanan dan kehadiran predator.

Ikan-ikan yang bersifat fototaksis positif secara berkelompok akan bereaksi terhadap datangnya cahaya dengan mendatangi arah datangnya cahaya dan berkumpul di sekitar cahaya pada jarak dan rentang waktu yang tertentu. Selain menghindar dari serangan predator (pemangsa), beberapa

(16)

teori menyebutkan bahwa berkumpulnya ikan di sekitar lampu adalah kegiatan untuk mencari makan. Namun demikian, tingkat gerombolan ikan dan ketertarikan ikan pada sumber cahaya bervariasi antar jenis ikan.

Perbedaan tersebut secara umum disebabkan karena perbedaan faktor phylogenetic dan ekologi, selain juga oleh karakteristik fisik sumber cahaya, khususnya tingkat intensitas dan panjang gelombangnya. Hasil kajian beberapa peneliti menyebutkan bahwa, tidak semua jenis cahaya dapat diterima oleh mata ikan. Hanya cahaya yang memiliki panjang gelombang pada interval 400-700 nanometer yang mampu ditangkap oleh mata ikan.

Ilustrasi pemanfaatan cahaya sebagai alat bantu penangkapan ikan dalam perikanan bagan disajikan pada Gambar 1.1.

Pemanfaatan cahaya untuk alat bantu penangkapan ikan dilakukan dengan memanfaatkan sifat fisik dari cahaya buatan itu sendiri. Masuknya cahaya ke dalam air erat hubungannya dengan panjang gelombang yang dipancarkan oleh cahaya tersebut. Semakin besar panjang gelombangnya maka semakin kecil daya tembusnya ke dalam perairan. Panjang gelombang masing-masing warna dapat dilihat pada Tabel 1.1.

Tabel 1. 1 Warna dan panjang gelombang cahaya

Warna Panjang Gelombang (nm)

Ultraviolet Violet Biru Hijau Kuning Orange Merah Inframerah

Lebih pendek dari 400 400-450

450-500 500-570 570-590 590-610 610-700

Lebih panjang dari 700 Sumber: Spotte (1992) diacu dalam Razak et al. (2005)

Faktor lain yang juga menentukan masuknya cahaya ke dalam air adalah absorbsi (penyerapan) cahaya oleh partikel-partikel air, kecerahan, pemantulan cahaya oleh permukaan laut, musim dan lintang geografis.

Dengan adanya berbagai hambatan tersebut, maka nilai iluminasi (lux) suatu sumber cahaya akan menurun dengan semakin meningkatnya jarak dari sumber cahaya tersebut.

(17)

Gambar 1.1 Proses penangkapan ikan dengan bagan.

Dengan sifat-sifat fisik yang dimiliki oleh cahaya dan kecenderungan tingkah laku ikan dalam merespon adanya cahaya, nelayan kemudian menciptakan cahaya buatan untuk mengelabuhi ikan dengan melakukan tingkah laku tertentu untuk memudahkan dalam operasi penangkapan ikan.

Tingkah laku ikan kaitannya dalam merespon sumber cahaya yang sering

(18)

dimanfaatkan oleh nelayan adalah kecenderungan ikan untuk berkumpul di sekitar sumber cahaya.

Untuk tujuan menarik ikan dalam luasan yang seluas-luasnya, nelayan biasanya menyalakan lampu yang bercahaya biru pada awal operasi penangkapannya. Hal ini disebabkan cahaya biru mempunyai panjang gelombang yang pendek dan daya tembus ke dalam perairan relatif paling jauh dibandingkan warna cahaya tampak lainnya, sehingga baik secara vertikal maupun horisontal cahaya tersebut mampu mengkover luasan yang relatif luas dibandingkan sumber cahaya tampak lainnya.

Setelah ikan tertarik mendekati cahaya, ikan-ikan tersebut kemudian dikumpulkan sampai jarak jangkauan alat tangkap (catchability area) dengan menggunakan cahaya yang relatif rendah frekuensinya secara bertahap.

Cahaya merah digunakan pada tahap akhir penangkapan ikan.

Berkebalikan dengan cahaya biru, cahaya merah yang mempunyai panjang gelombang yang relatif panjang diantara cahaya tampak, mempunyai daya jelajah yang relatif terbatas. Sehingga, ikan-ikan yang awalnya berada jauh dari sumber cahaya (kapal), dengan berubahnya warna sumber cahaya, ikut mendekat ke arah sumber cahaya sesuai dengan daya tembus cahaya merah. Setelah ikan terkumpul di dekat kapal (area penangkapan alat tangkap), baru kemudian alat tangkap yang sifatnya mengurung gerombolan ikan seperti purse seine, sero atau lift net dioperasikan dan mengurung gerakan ikan. Dengan dibatasinya gerakan ikan tersebut, maka operasi penangkapan ikan akan lebih mudah dan nilai keberhasilannya lebih tinggi.

Jenis lampu yang biasa digunakan pada alat tangkap purse seine dapat dilihat pada Gambar 1.2.

(3) Akustik

Hidro akustik merupakan suatu teknologi pendeteksian bawah air dengan menggunakan suara atau bunyi (gelombang ultrasonik) untuk melakukan pendeteksian, sebagaimana diketahui bahwa kecepatan suara di air adalah 1.500 m/s, sedangkan kecepatan suara di udara hanya 340 m/s, sehingga teknologi ini sangat efektif untuk deteksi bawah air. Teknologi hidro akustik dengan perangkat echosounder paling tepat digunakan untuk pendugaan stok ikan (fish stock assessment) pada suatu perairan, karena

(19)

dapat memberikan informasi yang detail mengenai: kelimpahan ikan (fish abundance), kepadatan (fish density), sebaran (fish distribution), posisi kedalaman renang (swimming layers), ukuran dan panjang (size and length), orientasi dan kecepatan renang, serta variasi migrasi diurnal-nokturnal ikan.

Adapun prinsip kerja dari komponen-komponen sistem akustik dapat dilihat pada Gambar 1.3.

Gambar 1.2 Jenis lampu yang digunakan pada alat tangkap purse seine.

Beberapa karakteristik akustik remote sensing adalah:

(1) Gelombang ultrasonik (suara), dengan peralatan akustik (fish finder, sonar, dan echosounder)

(2) Frekuensi rendah (ultrasonik): 20-500 KHz, umum 38-500 KHz (3) Attenuasinya rendah

(4) Daya jangkau tinggi: 5.000 m

(5) Tidak ada refraksi (mediumnya sama) (6) Efektif digunakan di bawah permukaan air.

(20)

Gambar 1.3 Komponen dan prinsip kerja akustik.

Metode akustik memiliki beberapa keunggulan komparatif dibandingkan dengan metode lain, yakni (Arnaya 1991) :

(1) Berkecepatan tinggi (great speed), sehingga sering disebut quick assessment method.

(2) Estimasi stok ikan secara langsung (direct estimation) karena tidak tergantung dari statistik perikanan atau percobaan tagging dan secara langsung dilakukan terhadap target survai.

(3) Memungkinkan memperoleh dan memproses data secara real-time, sehingga sangat membantu para pengambil keputusan atau penentu kebijakan dalam mempercepat pengambilan keputusan.

(4) Akurasi dan ketepatan (accuracy and precision).

(5) Tidak berbahaya atau merusak karena frekuensi suara yang digunakan tidak akan membahayakan baik si pemakai alat maupun target atau obyek survai dan dilakukan dengan jarak jauh (remote sensing).

(6) Bisa digunakan jika dengan metode lain tidak bisa atau mungkin dilakukan.

TIME BASE

TRANSMITTER (T)

TRANSDUCER (T/R)

DISPLAY - RECORDER RECEIVER

(R)

Gelombang suara Echo/gema

(21)

(3) Remote Sensing (Citra Satelit)

Remote sensing merupakan suatu teknologi yang memanfaatkan gelombang elektromagnetik untuk mendeteksi dan mengetahui karakteristik obyek di permukaan bumi, baik daratan maupun permukaan laut dan perairan tanpa melakukan kontak langsung dengan obyek yang diteliti tersebut (Lillesand and Kiefer 1979). Terdapat beberapa jenis satelit yang mampu melakukan observasi terhadap fenomena yang terjadi di permukaan bumi termasuk di permukaan laut. Saat ini terdapat 3 satelit yang banyak digunakan untuk keperluan identifikasi dan pemanfaatan fenomena oseanografi yaitu (Hasyim 2004) :

(1) Satelit NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration).

(2) Satelit Sea Star yang membawa sensor seaWIFs menghasilkan data konsentrasi klorofil yang berkaitan erat dengan konsentrasi plankton di laut.

(3) Satelit Feng Yung yang membawa sensor untuk mendeteksi suhu permukaan laut dan konsentrasi klorofil di laut.

Dengan menggunakan data dari satelit-satelit tersebut dapat dilakukan pemetaan suhu permukaan laut (SPL) dan kandungan klorofil secara real-time. Dari peta sebaran SPL dan klorofil tersebut dapat diperoleh informasi tentang fenomena oseanografi khususnya thermal front dan upwelling yang merupakan indikator daerah potensi penangkapan ikan.

Secara umum prinsip kerja satelit-satelit ini adalah dengan memancarkan pulsa gelombang elektromagnetik ke arah permukaan laut di bawahnya lalu menerima kembali pantulannya. Waktu perjalanan gelombang elektromagnetik tersebut, dikonversi untuk mendapatkan jarak antara satelit dan muka laut. Sejumlah koreksi harus diterapkan terhadap data mentah, sebelum dapat diterapkan dalam bidang oseanografi.

Parameter oseanografi (data suhu, salinitas dan arus) sangat penting dianalisis untuk penentuan fishing ground. Nontji (1987) menyatakan suhu merupakan parameter oseanografi yang mempunyai pengaruh sangat dominan terhadap kehidupan ikan khususnya dan sumberdaya hayati laut pada umumnya. Sebagian besar biota laut bersifat poikilometrik (suhu tubuh dipengaruhi lingkungan) sehingga suhu merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam mengatur proses kehidupan dan penyebaran

(22)

organisme (Nybakken 1988). Hampir semua populasi ikan yang hidup di laut mempunyai suhu optimum untuk kehidupannya, maka dengan mengetahui suhu optimum dari suatu spesies ikan, kita dapat menduga keberadaan kelompok ikan, yang kemudian dapat digunakan untuk tujuan perikanan (Hela dan Laevastu 1970).

Menurut Gunarso (1985) bahwa fluktuasi suhu dan perubahan geografis merupakan faktor penting dalam upaya merangsang dan menentukan pengkonsentrasian gerombolan ikan. Hela dan Laevastu (1970) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi SPL adalah kondisi meteorologi, arus permukaan, ombak, upwelling, divergensi dan perubahan bentuk es di daerah kutub. Faktor-faktor meteorologi yang mempunyai peranan dalam hal ini adalah curah hujan, penguapan, kelembaban udara, suhu udara, kecepatan angin dan intensitas matahari, dengan demikian SPL biasanya mengikuti pola musiman. Widodo (1999) menyatakan bahwa pengamatan dan monitoring fenomena oseanografi dan sumberdaya hayati laut mengharuskan penggunaan banyak data dalam selang waktu observasi tertentu (harian, mingguan, bulanan atau tahunan).

Citra SPL dari suatu perairan yang luas dapat digunakan untuk mengetahui pola distribusi SPL, arus di suatu perairan dan interaksinya dengan suatu perairan lain serta fenomena upwelling dan front di perairan tersebut yang merupakan daerah potensi penangkapan ikan (Hasyim dan Priyanti 1999).

Pola kehidupan ikan tidak dapat dipisahkan dari adanya berbagai kondisi lingkungan. Fluktuasi keadaan lingkungan mempunyai pengaruh yang besar terhadap periode migrasi musiman serta keberadaan ikan.

Keadaan perairan serta perubahannya akan mempengaruhi kehidupan dan pertumbuhan ikan. Selain itu faktor musim serta berbagai keadaan lainnya akan mempengaruhi penyebaran serta kelimpahan suatu jenis ikan pada suatu daerah penangkapan ikan. Hal tersebut diduga karena terjadinya perubahan kelimpahan makanan (Gunarso 1985).

Gunarso (1985), mencatat beberapa hal mengenai pengaruh suhu perairan terhadap ikan, antara lain bahwa pada umumnya suhu dipergunakan sebagai indikator untuk menentukan perubahan ekologi.

Dinyatakan bahwa ikan sangat peka terhadap perubahan suhu walaupun hanya sebesar 0,03°C sekalipun. Demikian pula suhu merupakan faktor penting untuk penentuan dan penilaian suatu daerah penangkapan ikan.

(23)

Kedalaman kelompok ikan-ikan pelagis tergantung pada struktur suhu secara vertikal. Apabila suhu permukaan laut menjadi lebih tinggi, maka jenis-jenis ikan pelagis akan berenang semakin dalam. Pada umumnya, hampir semua jenis ikan pelagis akan naik ke lapisan permukaan sebelum matahari terbenam dan biasanya berada dalam satu kelompok.

Setelah matahari terbenam ikan-ikan tersebut menyebar di lapisan pertengahan perairan dan saat matahari terbit akan turun ke lapisan yang lebih dalam (Hela dan Laevastu 1970).

1.3 Perluasan Daerah Penangkapan Ikan

Perluasan daerah penangkapan sangat diperlukan dalam rangka meningkatkan jumlah hasil tangkapan dan menghindarkan terjadinya konflik antar nelayan yang saling memanfaatkan daerah pesisir sebagi fishing ground mereka. Di satu sisi adalah untuk melindungi sumberdaya ikan yang hidup di daerah peisisir. Untuk itu diperlukan langkah strategis untuk mencapai hal tersebut sekaligus sebagai langkah untuk mencegah terjadinya illegal fishing oleh nelayan asing pada daerah-daerah yang tidak terjangkau nelayan Indonesia.

Langkah-langkah penting dalam rangka perluasan daerah penangkapan ikan adalah sebagai berikut :

(1) Mengembangkan kekuatan dan kemampuan dalam memanfaatkan sumberdaya perikanan dalam bentuk pengembangan kapal perikanan skala besar. Pengembangan armada perikanan skala besar berukuran

> 50 GT dilakukan untuk mengisi kekosongan armada perikanan Indonesia di Laut Natuna, Selat Karimata, Laut Cina Selatan, Laut Sulawesi, dan Laut Maluku serta di ZEE Arafura, ZEE Samudera Hindia, ZEE Pasifik, dan ZEE Laut Cina Selatan. Adanya armada perikanan yang besar ini diharapkan dapat menjadi penghalang bagi armada perikanan asing masuk ke perairan Indonesia.

(2) Pengembangan industri perikanan. Pengembangan industri perikanan diarahkan pada industri perikanan terpadu dari hulu hingga hilir, yaitu adanya kesatuan atau keterkaitan antara sub-sistem penyedia sarana dan prasarana produksi, kegiatan penangkapan ikan, kegiatan pengolahan, dan kegiatan pemasaran yang dilakukan secara terintegrasi

(24)

atau oleh satu entitas usaha yang berada pada satu lokasi. Pada kondisi demikian diharapkan dapat melibatkan penduduk lokal, sehingga mereka dapat merasakan manfaat adanya kegiatan industri terpadu.

(3) Motorisasi dan modernisasi armada perikanan rakyat. Dengan adanya motorisasi dan modernisasi armada perikanan akan mengakibatkan semakin luasnya jangkauan operasi penangkapan yang dilakukan, dengan demikian daerah penangkapannya menjadi semakin luas.

(4) Pengaturan zonasi penangkapan disertai dengan pengawasan dan penegakan hukum di tengah laut.

1.4 Urgensi Pendeteksian dan Perluasan Daerah Penangkapan Ikan Pendeteksian daerah penangkapan ikan secara dini sangat diperlukan dalam menunjang keberhasilan operasi penangkapan ikan, karena akan menghemat waktu, kepastian keberadaan ikan hasil tangkapan dan menghemat biaya operasional penangkapan ikan. Yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan nelayan. Perluasan daerah penangkapan sangat diperlukan dalam rangka menjaga kelestarian sumberdaya ikan terutama di daerah pesisir dan merupakan usaha untuk mendapatkan hasil tangkapan dalam jumlah banyak dengan nilai ekonomis yang tinggi. Untuk itu diperlukan kemampuan armada penangkapan yang lebih besar.

Berdasarkan paparan di atas jelas bahwa pendeteksian dan perluasan daerah penangkapan ikan sangat urgen dilakukan di perairan Indonesia, dengan sasaran sebagai berikut :

(1) Memberikan kepastian kepada nelayan tentang lokasi potensi penangkapan, sehingga meningkatkan efisensi biaya operasional (efisiensi penggunaan bahan bakar), memperpendek operasi penangkapan dan meningkatkan jumlah hasil tangkapan.

(2) Mencegah atau memperkecil kemungkinan terjadinya konflik pemanfaatan daerah penangkapan antara nelayan kecil atau tradisional dengan kapal-kapal besar.

(3) Mengurangi konsentrasi penangkapan ikan pada daerah pesisir, melalui upaya motorisasi nelayan tradisional.

(4) Pelestarian sumberdaya ikan secara berkelanjutan.

(25)

(5) Peningkatan kesejahteraan nelayan dan (6) Mencegah terjadinya illegal fishing

DAFTAR PUSTAKA

Abidin Z. 1987. Payaos (Fish Aggregating Device) For Tuna. Sorong:

Usaha Mina (Persero).

Arnaya I.N. 1991. Akustik Kelautan II (Diktat Kuliah). Bogor: Proyek Peningkatan Perguruan Tinggi. Institut Pertanian Bogor.

Ayodhyoa, A. U. 1981. Metode Penangkapan Ikan. Bogor: Yayasan Dewi Sri.

De San. 1982. Fish Aggregating Device (FAD) or Payaos. Rome: FAO.

Ben-Yami, M. 1987. Fishing with Light . Food and Agriculture Organization of The United Nation-Fishing News Book Ltd. Surrey-England 122 p.

Busyairi M.A. 2008. BBM, Nelayan, dan Pencurian Ikan. Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Kendari.

http://www.p2sdkpkendari.com. (24 November 2008)

Gunarso W. 1985. Tingkah Laku Ikan (Dalam Hubungannya dengan Alat, Metoda, dan Teknik Penangkapan). Bogor: Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan. Institut Pertanian Bogor.

Hasyim B. 2004. Penerapan Informasi Zona Potensi Penangkapan Ikan (ZPPI) untuk Mendukung Usaha Peningkatan Produksi dan Efisiensi Operasi Penangkapan Ikan. Paper Matakuliah Pengantar Falsafah Sain.

He, P, 1989. Fish Behaviour and its Aplication in Fisheries. Canada:

Newfoundland and Labrador Institute of Fisheries and Marine Technology. p 157.

Hela dan Laevastu. 1970. Fisheries Oceanography. London: Fishing News Book Ltd.

http://www.depkominfo.go.id/portal/bow/modules/portalweb/sendmail/frontpa ge. (17 Desember 2008)

(26)

http://beritajember.wordpress.com. (24 November 2008).

Lillesand, T.M. and R.W. Kiefer. 1987. Remote Sensing and Image Interpretation. USA: John Wiley and Sons. New York.

Monintja D.R. dan Zulkarnain. 1995. Analisis Dampak Pengoperasian Rumpon Tipe Philipine di Perairan ZEE terhadap Perikanan Cakalang di Perairan Teritorial Selatan Jawa dan Utara Sulawesi (Laporan Penelitian). Bogor: Fakultas Perikanan. Institut Pertanian Bogor.

Murdiyanto B. 2004. Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Pantai. Proyek Pembangunan Masyarakat Pantai dan Pengelolaan Sumberdaya Perikanan. Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. Jakarta:

Departemen Kelautan dan Perikanan.

Nahib I. 2007. Analisis Dinamik Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Tuna Kecil (Studi Kasus di Perairan Teluk Palabuhanratu Kabupaten Sukabumi). Proceeding Geo-Marine Research Forum 2007.

Nikijuluw V.P.H. 2008. Blue Water Crime (Dimensi Sosial Ekonomi Perikanan Ilegal). Jakarta: Cidesindo.

Nomura M and Yamazaki T. 1977. Fishing Techniques I. Tokyo: Japan International Cooperation Agency.

Nybakken J.W. 1988. Biologi Laut (Suatu Pendekatan Ekologis). Cetakan I. Jakarta: Gramedia.

Razak A., Anwar K., dan Baskoro M.S. 2005. Fisiologi Mata Ikan. Bogor:

Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

Subani dan Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut. Jakarta:

Jurnal Penelitian Perikanan Laut No 50 tahun 1988/1989 (edisi khusus).

Subani W. 1986. Telaah Penggunaan Rumpon dan Payaos dalam Perikanan Indonesia. Jakarta: Jurnal Penelitian Laut No. 35.

Suhana. 2008. Rumponisasi, Konflik Nelayan dan Kelestarian Sumberdaya Ikan. http://suhana-ocean.blogspot.com. (24 November 2008).

(27)

BAB II

PEMBENTUKAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN DENGAN LIGHT FISHING DAN RUMPON

2.1 Pendahuluan

Indonesia memiliki wilayah perairan yang luas, yaitu sekitar 3,1 juta km² wilayah perairan territorial dan 2,7 juta km² wilayah perairan zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia. Wilayah perairan Indonesia memiliki potensi sumberdaya ikan yang cukup besar. Pemanfaatan sumberdaya ikan di perairan Indonesia cenderung mengalami peningkatan, mengikuti permintaan konsumen yang terus bertambah, baik jumlah maupun jenisnya.

Teknik dan taktik penangkapan ikan (fishing technique and fishing tactics) juga mengalami perkembangan yang pesat untuk dapat memeperoleh hasil tangkapan yang banyak dengan kualitas yang memadai sesuai dengan permintaan konsumen.

Nelayan seringkali memanfaatkan tanda-tanda alami dalam mendeteksi daerah penangkapan ikan (fishing ground), yang diperoleh berdasarkan pengalaman dan tradisi yang turun-temurun dari nenek moyang, di antaranya : warna perairan lebih gelap dibandingkan perairan sekitarnya, keberadaan burung beterbangan dan menukik-nukik ke permukaan air, riak-riak perairan di permukaan air, dan sebagainya. Ikan juga seringkali ditemukan nelayan bergerombol di sekitar batang-batang kayu yang hanyut di perairan.

Salah satu faktor penentu keberhasilan operasi penangkapan ikan adalah tersedianya informasi daerah penangkapan ikan yang potensial, disamping faktor lainnya seperti kapal perikanan, metode dan teknologi penangkapan ikan, alat tangkap dan kemampuan sumberdaya manusia (nelayan). Faktor-faktor opearsi penangkapan ikan tersebut tentu saja memiliki keterkaitan yang sangat erat satu dengan lainnya. Berhasil tidaknya suatu alat tangkap dalam operasi penangkapan ikan sangatlah tergantung pada bagaimana mendapatkan daerah penangkapan yang baik, dan bagaimana operasi penangkapan ikan dilakukan. Beberapa cara dapat dilakukan dalam upaya optimalisasi hasil tangkapan, di antaranya dengan menggunakan alat bantu penangkapan. Macam-macam alat bantu

(28)

penangkapan yang umum digunakan dalam operasi penangkapan ikan di Indonesia diantaranya dengan menggunakan rumpon dan cahaya lampu (light fishing).

Dengan adanya rumpon dan penggunaan cahaya lampu di suatu perairan maka daerah penangkapan ikan dapat dibentuk, sehingga nelayan dan unit kapal penangkap ikan tidak tergantung lagi dengan tanda-tanda fisik daerah penangkapan ikan yang bergantung pada kondisi lingkungan alami perairan. Oleh karena itu, dengan penggunaan rumpon dan cahaya (light fishing) dapat dikatakan sebagai pembentuk daerah penangkapan ikan buatan (artificial fishing ground).

2.2 Perikanan Light Fishing

2.2.1 Sejarah perikanan light fishing di Indonesia

Beberapa alat tangkap dalam pengoperasiannya menggunakan bahan dan alat tertentu untuk memberikan rangsangan guna menarik perhatian ikan. Salah satu alat yang digunakan untuk memberikan rangsangan pada ikan adalah cahaya. Cahaya digunakan untuk menarik perhatian ikan-ikan yang bersifat fototaksis positif dan akan direspons dengan berkumpulnya ikan pada sumber cahaya atau catchable area tertentu untuk kemudian ditangkap dengan menggunakan jaring maupun alat pancing lainnya. Penangkapan ikan dengan memanfaatkan cahaya sebagai alat bantu umumnya disebut dengan light fishing.

Menurut Brandt (1984) light fishing atau penangkapan ikan dengan cahaya adalah suatu bentuk dari umpan yang berhubungan dengan mata (optical bait) yang digunakan untuk menarik dan untuk mengumpulkan ikan.

Light fishing oleh Brant (1984) diklasifikasikan ke dalam kelompok attracting concentrating and fringhting fish, karena dalam hal ini cahaya digunakan untuk mengumpulkan (concentrating) ikan pada suatu daerah tertentu sehingga mudah untuk dilakukan operasi penangkapan.

Pada awalnya penggunaan cahaya lampu untuk penangkapan ikan di Indonesia belum diketahui secara pasti siapa yang memperkenalkannya.

Namun yang jelas sekitar tahun 1950-an di pusat-pusat perikanan Indonesia Timur, dimana usaha penangkapan cakalang dengan pole and line marak dilakukan, penggunaan cahaya (lampu) untuk penangkapan ikan telah

(29)

dikenal secara luas. Penggunaan cahaya listrik dalam skala industri penangkapan ikan pertama kali dilakukan di Jepang pada tahun 1900 untuk menarik perhatian berbagai jenis ikan, kemudian berkembang dengan pesat setelah Perang Dunia II. Di Norwegia penggunaan lampu berkembang sejak tahun 1930 dan di Uni Soviet baru mulai digunakan pada tahun 1948 (Nikonorov 1975).

2.2.2 Prinsip dasar perikanan light fishing

Peristiwa tertariknya ikan di bawah cahaya dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu :

(1) Peristiwa langsung, yaitu ikan tertarik oleh cahaya lalu berkumpul. Ini tentu berhubungan langsung dengan peristiwa fototaksis, seperti pada jenis-jenis sardinella, kembung dan layang.

(2) Peristiwa tidak langsung, yaitu karena ada cahaya maka plankton, ikan- ikan kecil dan lain-lain sebagainya berkumpul, lalu ikan yang dimaksud datang berkumpul dengan tujuan mencari makan (feeding). Beberapa jenis ikan yang termasuk dalam kategori ini seperti ikan tenggiri, selar dan lain-lain.

(3) Ikan tertarik pada cahaya sebagai hasil dari reflex defensive ikan terhadap predator.

Ikan pada umumnya akan membentuk schooling pada saat terang dan menyebar saat gelap. Dalam keadaan tersebar, ikan akan lebih mudah dimangsa predator dibandingkan saat berkelompok. Adanya pengaruh cahaya buatan pada malam hari akan menarik ikan ke daerah iluminasi, sehingga memungkinkan mereka membentuk schooling dan lebih aman dan incãran predator. Ikan yang tergolong fototaksis positif akan memberikan respon dengan mendekati sumber cahaya, sedangkan ikan yang bersifat fototaksis negatif akan bergerak menjauh.

Aspek-aspek fisika yang perlu diperhatikan terkait dengan altivitas light fishing adalah :

(1) Cahaya : kuat cahaya (light intensity.), warna cahaya (light colour), merambatnya cahaya ke dalam air laut, pengaturan cahaya, dan lain- lain.

(2) Gelombang, kekeruhan (turbidity), kecerahan (transparancy), dan arus.

(30)

(3) Hubungan cahaya dengan air laut : refraction, penyerapan (absorption), penyebaran (scattering), pemantulan dan lain-lain sebagainya.

Aspek-aspek biologi yang perlu diperhatikan, terkait dengan perikanan light fishing adalah :

(1) Jenis cahaya yang disenangi ikan (volume rangsangan atau stimuli) yang harus diberikan, supaya ikan terkumpul dan tidak berusaha untuk melarikan diri dalam jangka waktu tertentu. Sehubungan dengan berjalannya waktu, pengaruh rangsangan akan lenyap, karena ikan menjadi terbiasa (accustomed) dengan kondisi sekitarnya.

(2) Kemampuan daya tarik (attracting intensity) dari cahaya yang dipergunakan haruslah sedemikian rupa sehingga dapat mengalahkan (mengeliminir) pengaruh intimidasi dari beradanya jaring, kapal, suara mesin dan lain-lain.

(3) Faktor kondisi sekeliling (environmental condition factor) yang berubah- ubah akibat gelombang, arus, suhu, salinitas, sinar bulan dan stimulus seperti cahaya akan mempengaruhi tingkah laku ikan. Dalam hal ini, spesies yang berbeda umumnya akan menunjukkan pola tingkah laku yang berbeda terhadap kondisi tersebut.

(4) Dengan penggunaan cahaya sebagai stimulus, maka berbagai spesies ikan termasuk ikan kecil dan larva akan berkumpul di perairan sekitar sumber cahaya. Untuk itu diperlukan alat tangkap yang selektif untuk mengeliminir tertangkapnya ikan yang belum layak tangkap.

Gambar 2.1 Light fishing pada bagan rambo (Sudirman 2003).

(31)

Agar cahaya dalam kegiatan light fishing dapat memberikan daya guna yang maksimal, diperlukan berbagai syarat-syarat antara lain :

(1) Mampu mengumpulkan ikan-ikan yang berada pada jarak yang jauh, baik secara horizontal maupun vertikal.

(2) Ikan-ikan tersebut hendaklah berkumpul ke sekitar sumber cahaya, di mana alat tangkap mudah dioperasikan.

(3) Setelah ikan berkumpul, hendaklah ikan-ikan tersebut tetap senang berada di sana dalam jangka waktu tertentu.

(4) Ikan yang telah berkumpul di sekitar sumber cahaya hendaklah tidak berusaha menjauhkan diri ataupun menyebar (escape, disperse).

Faktor yang cukup krusial dalam kegiatan light fishing adalah kekuatan dari cahaya lampu yang digunakan, di mana keberadaan cahaya lampu sendiri yang masuk atau menembus perairan akan dipengaruhi kondisi cuaca saat penangkapan. Verheyen (1959) mengemukakan bahwa mekanisme tertariknya ikan pada cahaya belum diketahui dengan jelas, namun diduga berkumpulnya ikan-ikan disebabkan oleh keinginan mencari intensitas cahaya yang sesuai.

Dalam rangka meningkatkan efektivitas dan efisiensi penggunaan cahaya dalam pembentukan daerah penangkapan ikan, maka perlu kajian- kajian mendalam, antara lain :

(1) Kajian tentang cahaya lampu dalam kegiatan light fishing sebagai suatu sumber cahaya (light resources).

(2) Kajian tentang peristiwa fisika, seperti pemantulan, penyerapan, refraction, pemadaman cahaya dalam perikanan light fishing.

(3) Hubungan antara jumlah cahaya (light intensity, brightness, lux) terhadap jumlah dan cepatnya ikan berkumpul serta jarak schooling ikan dari sumber cahaya. Ikan-ikan ini hendaklah berada dalam keadaan alamiahnya dan hubungan tersebut hendaklah dapat diungkapkan dengan satuan tertentu (besar attracting intensity, besar intimidation effect, besar stimulus, dan lain-lain sebagainya).

(4) Pola pergerakan ikan terhadap cahaya dalam aktivitas light fishing, serta motivasi ikan berada di sekitar cahaya tersebut.

(32)

2.2.3 Cahaya sebagai alat bantu penangkapan

Yami (1988) mengemukakan bahwa perikanan light fishing sudah dilakukan dengan berbagai cara dan berbagai teknik. Pilihan metode, tentunya tergantung pada besarnya faktor pengembangan setiap tingkat teknologi pada suatu tempat dan pengembangan investasi pada peralatan dan sebagainya. Ada berbagai laporan tentang penangkapan ikan dengan cahaya pada zaman dahulu dan masih tetap digunakan dewasa ini sebagai informasi dalam proses perkembangannya. Seperti halnya di Jepang, dimana penggunaan lampu untuk menangkap ikan sudah dilakukan sejak tahun 1990-an (Nomura dan Yamazaki, 1977).

Penggunaan light fishing di Norwegia, telah dilakukan sejak tahun 1885, tetapi untuk perikanan komersial baru digunakan sejak tahun 1930.

Penggunaan petromaks yang berkekuatan 150-500 candela sudah diperkenalkan pada tahun 1924 di Filipina dan lampu generator listrik (8-16 kW) pada pertengahan tahun 1950-an. Bangsa Yunani telah memperkenalkan jenis alat tangkap purse seine dengan cahaya pada tahun 1954 di perairan Mediterania. Penggunaan cahaya sudah dilakukan sejak tahun 1963 di beberapa negara pantai Afrika Barat (Yami, 1987). Soviet telah melakukan penyelitian melalui suatu ekspedisi pada tahun 1957 di Atlantik, dan di dalam ekspedisi tersebut diketahui adanya reaksi yang positif dari ikan terhadap cahaya, yang mana hasil tangkapan yang pertama adalah jenis ikan Sardinella. Di beberapa negara seperti Jepang dan Norwegia, penggunaan lampu mulai berkembang setelah perang dunia II.

Penggunaan cahaya sebagai alat bantu penangkapan di Indonesia dewasa ini hampir merata di seluruh wilayah. Nelayan tradisional di perairan Indonesia lebih banyak menggunakan lampu strongking dan petromaks dalam operasi penangkapan, sedangkan lampu listrik lebih sering digunakan oleh kapal-kapal penangkapan yang lebih modern. Pada usaha penangkapan cakalang di Indonesia bagian timur, cahaya digunakan untuk menangkap umpan hidup (life bait fish). Pemakaian lampu yang bersumber dari tenaga listrik lebih mudah, efektif dan efisien, sebab penempatannya dapat diatur sesuai dengan keinginan, sedangkan penggunaan lampu listrik bagi nelayan kecil di Indonesia masih sangat terbatas. Hal ini karena membutuhkan biaya yang cukup besar dalam pemakaiannya.

(33)

Kini semakin banyak masyarakat yang menggunakan lampu listrik dengan intensitas yang tinggi dalam upaya penangkapan. Lampu listrik selain lebih efektif juga memiliki lebih banyak keunggulan dibandingkan lampu petromaks. Lampu listrik dapat ditempatkan pada berbagai posisi di atas kapal maupun di perairan, memiliki daya iluminasi yang tetap dan tidak terganggu oleh keadaan lingkungan seperti angin atau hujan. Dalam perkembangannya beberapa sumber cahaya telah yang digunakan sebagal alat bantu penangkapan ikan di Indonesia dewasa ini.

Obor dibuat dari bambu yang kemudian diisi dengan minyak tanah dan diberi sumbu pada bagian ujung atasnya. Pada waktu operasi penangkapan ikan, obor ditempatkan pada sisi perahu sedemikian rupa sehingga pancaran cahayanya dapat menerangi permukaan air.

Penggunaan alat ini memiliki beberapa kelemahan yaitu cahayanya mudah berubah oleh tiupan angin dan bila turun hujan alat ini tidak dapat digunakan. Dahulu alat ini banyak digunakan untuk penangkapan ikan di Selat Bali, namun sekarang penggunaanya sudah jarang ditemukan.

Lampu petromaks umumnya memiliki kekuatan cahaya 200 lilin atau sekitar 200 watt. Terdapat dua jenis lampu yang digunakan oleh nelayan yaitu lampu petromaks dengan bola gelas yang berada pada bagian bawah dan tabung lampu yang berada di atas, sedangkan yang satu lagi adalah petromaks dengan tabung minyak pada bagian bawah dan lampu berupa kaos lampu pada bagian atas. Di perairan Indonesia bagian timur penggunaan petromaks jenis kedua biasa dilakukan dalam penangkapan ikan di pinggiran pantai dengan cara menombak. Penggunaan lampu umumnya dipengaruhi oleh cahaya bulan dan biasanya lampu petromaks kurang efisien jika digunakan pada saat terang bulan (purnama). Keadaan ini disebabkan karena pada kondisi demikian ikan-ikan akan cenderung menyebar di dalam kolom air dan tidak naik ke atas permukaan air.

2.2.4 Pembentukan daerah penangkapan ikan dengan alat bantu cahaya

Operasi penangkapan dengan menggunakan alat bantu cahaya tidak dapat dilakukan pada setiap kondisi, akan tetapi mempertimbangkan aspek lingkungan, biologi dan penangkapan. Dalam penggunaan cahaya

(34)

lampu sebagai alat bantu penangkapan ikan dalam menciptakan daerah penangkapan, kondisi lingkungan perlu diperhatikan agar peran dan fungsi cahaya menjadi lebih efektif dan efisien. Fase bulan menjadi faktor yang menentukan gelap dan terang di perairan. Light fishing hanya akan efektif dilaksanakan pada bulan gelap, dengan demikian cahaya lampu tidak dapat dioperasikan pada siang hari. Pada saat bulan terang penggunaan cahaya sebagai alat bantu penangkapan menjadi sangat tidak efektif. Akibat adanya cahaya lain yang turut mempengaruhi tingkah laku ikan di perairan.

Kondisi ini biasanya diantisipasi oleh nelayan dengan menggunakan cahaya yang lebih terang, namun hal ini hanya akan sedikit membantu dalam operasi penangkapan.

Selain fase bulan, keadaan tingkat kekeruhan dalam perairan juga akan mengurangi daya tembus cahaya di perairan pada akhirnya hal ini mempengaruhi efisiensi penggunaan cahaya. Dalam keadaan cuaca yang baik dan arus laut yang tidak terlalu kencang, operasi penangkapan dengan menggunakan lampu akan memberikan pengaruh positif terhadap hasil tangkapan. Arus yang terlampau kencang akan mempengaruhi posisi alat tangkap di dalam air.

Selain faktor-faktor lingkungan di atas, ada beberapa syarat lain yang menentukan keberhasilan penggunaan cahaya untuk membentuk daerah penangkapan, antara lain :

(1) Cahaya yang akan digunakan harus tepat untuk jenis ikan yang akan ditangkap dengan mengetahui tingkah laku ikan yang hendak ditangkap terhadap jenis cahaya.

(2) Cahaya yang digunakan juga harus mampu menarik ikan pada jarak yang jauh, baik secara vertikal maupun horisontal. Untuk syarat ini biasa digunakan cahaya berwarna biru atau hijau.

(3) Ikan-ikan diusahakan untuk berkumpul pada area penangkapan tertentu.

(4) Waktu yang tepat untuk menentukan mulai penangkapan terhadap ikan- ikan yang telah berkumpul, setelah ikan mulai berkumpul diusahakan ikan tetap tenang berada pada area penangkapan sampai batas waktu tertentu sebelum dilakukan penangkapan, untuk itu diusahakan agar ikan tidak melarikan diri atau menyebar.

(35)

Dalam hubungannya dengan keberhasilan operasi penangkapan dengan menggunakan cahaya, perlu kiranya diketahui kebiasaan dari ikan- ikan yang akan ditangkap. Salah satu kebiasan ikan yang perlu diperhatikan dalam penangkapan adalah ruaya vertikal harian ikan tersebut.

Berdasarkan ruaya vertikal hariannya, ikan dan hewan laut lainnya dapat dibagi atas 6 kelompok, yaitu :

(1) Jenis ikan pelagis yang muncul sedikit di atas termoklin pada siang hari. Jenis ikan ini akan beruaya ke lapisan permukaan pada sore hari, sedangkan saat malam hari, akan menyebar pada lapisan antara permukaan dan termoklin. Kemudian pada pagi harinya ikan akan menghindar dari lapisan diatas termoklin tersebut.

(2) Jenis ikan pelagis yang muncul dibawah termoklin pada waktu siang hari. Ikan ini beruaya melalui lapisan termoklin ke lapisan permukaan pada sore hari lalu menyebar pada lapisan antara permukaan dengan dasar perairan selama malam hari, dan sebagian besar dari ikan tersebut berada diatas termoklin. Pada waktu matahari terbit ikan akan turun ke lapisan yang lebih dalam.

(3) Jenis ikan pelagis yang muncul dibawah termoklin selama waktu sore hari. Malam hari ikan tersebut akan menyebar antara lapisan termoklin dan dasar perairan, bahkan mungkin turun ke lapisan yang lebih dalam pada waktu terbit matahari.

(4) Jenis ikan dasar (demersal fish) berada dekat dasar perairan pada waktu siang hari, beruaya dan menyebar di bawah termoklin, terkadang berada diatas termoklin pada sore hari kemudian turun ke dasar atau lapisan yang lebih dalam pada waktu pagi hari.

(5) Jenis-jenis ikan yang menyebar melalui kolom air selama siang hari, sedangkan pada waktu malam ikan tersebut akan turun ke dasar perairan.

(6) Jenis ikan pelagis maupun demersal yang tidak memiliki migrasi harian yang jelas.

Pada umumnya ikan pelagis akan naik ke lapisan permukaan sebelum matahari terbenam dan akan membentuk kelompok yang besar.

Sesudah matahari terbenam ikan-ikan tersebut menyebar ke kolom air dan mencari lapisan air yang lebih dalam pada siang hari. Ikan-ikan demersal biasanya menyebar ke dalam kolom air selama malam hari, Dengan

(36)

mengetahui pola kebiasaan harian ikan, akan memudahkan menentukan waktu dan alat yang tepat sehingga keberhasilan penangkapan menjadi lebih besar.

2.3 Perikanan Rumpon

2.3.1 Definisi dan klasifikasi rumpon

Rumpon atau Fish Aggregating Device (FAD) adalah salah satu jenis alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dilaut, baik laut dangkal maupun laut dalam. Pemasangan tersebut dimaksudkan untuk menarik gerombolan ikan agar berkumpul di sekitar rumpon, sehingga ikan mudah untuk ditangkap.

Definisi rumpon menurut SK Mentan No. 51/Kpts/IK.250/1/97 adalah alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dan ditempatkan pada perairan laut. Selanjutnya dalam SK Mentan No. 51/Kpts/IK.250/1/97 tentang pemasangan dan pemanfaatan rumpon, yang menjelaskan bahwa terdapat 3 jenis rumpon, yaitu :

(1) Rumpon perairan dasar, yaitu alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dan ditempatkan pada dasar perairan laut.

(2) Rumpon perairan dangkal, yaitu alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dan ditempatkan pada perairan laut dengan kedalaman sampai dengan 200 meter (Gambar 2.2).

Gambar 2.2 Rumpon laut dangkal (BPPL 1991).

(37)

(3) Rumpon perairan dalam, yaitu alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dan ditempatkan pada perairan laut dengan kedalaman lebih dari 200 m (Gambar 2.3).

Gambar 2.3 Rumpon laut dalam (BPPL 1991).

Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) bersama beberapa Pemerintah Daerah (Pemda) saat ini sedang dan akan terus mengembangkan program rumponisasi di seluruh perairan Indonesia.

Program tersebut bertujuan untuk lebih mengefisiensikan usaha nelayan kecil, dengan cara menghemat biaya operasional penangkapan ikan.

Harapan pemerintah terhadap penggunaan rumpon sebagai alat bantu penangkapan ikan dapat memberikan keuntungan kepada nelayan, seperti nelayan tidak perlu melakukan penangkapan ikan dengan cara mengejar (mengikuti) kemana ikan bergerak, dengan menciptakan daerah penangkapan ikan buatan nelayan cukup menangkap ikan di sekitar rumpon, memberikan kepastian dalam menentukan daerah penangkapan, mendekatkan daerah penangkapan ikan (fishing ground) dengan nelayan, mampu menekan biaya operasional penggunaan BBM (solar) hingga sebesar 30%, dan meningkatkan produksi ikan hingga mencapai 300%.

Menurut Naamin dan Kee-Cahi Chong (1987), pada awal penggunaan rumpon laut dalam di Sorong antara tahun 1985 sampai 1986,

Gambar

Gambar 1.1  Proses penangkapan ikan dengan bagan.
Gambar 1.3  Komponen dan prinsip kerja akustik.
Gambar 2.1  Light fishing pada bagan rambo (Sudirman 2003).
Gambar 2.2  Rumpon laut dangkal (BPPL 1991).
+7

Referensi

Dokumen terkait

Selain menyebabkan penurunan ukuran tangkapan dan kepadatan klorofil-a di perairan pertambangan menyebabkan kerusakan daerah penangkapan ikan dimana DPI yang

Dalam tulisan ini, dibentuk suatu model mangsa pemangsa pada kegiatan penangkapan ikan yang dipengaruhi konservasi, sehingga daerah penangkapan dibagi menjadi daerah

Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Februai 2015 ini ialah daerah penangkapan ikan lemuru, dengan judul Pendugaan Daerah Penangkapan

(2013) membahas karakteristik daerah potensial penangkapan ikan cakalang ( Katsuwonus Pelamis ) selama musim timur di Teluk Bone dan Laut Flores berbasis data

Pada Bab 5, Penulis mencoba mengelaborasi seluruh isi Bab 2, 3, dan 4 untuk menformulasikan suatu konsep pengelolaan daerah penangkapan ikan yang berbasis ekosistem

Perlu penelitian eksploratif untuk mendeskripsikan dengan jelas batas-batas wilayah pasi sebagai daerah penangkapan nelayan tradisional dengan perairan umum, jenis ikan dan

1) Sumberdaya ikan, yaitu target utama dalam operasi penangkapan ikan dimana untuk mendeteksi keberadaan sumberdaya ikan tersebut dapat menggunakan metode

1 Judul Peta “ Peta Prakiraan Daerah Penangkapan Ikan Wilayah Perairan Indonesia Tanggal 06-08 Agustus 2007” dari judul tersebut maka dapat diketahui bahwa peta yang tergambar