BAB VII DAMPAK GLOBAL WARMING DAN CLIMATE CHANGE
7.5 Dampak Global Warming dan Climate Change terhadap
Secara umum, perikanan dapat dikategorikan dalam perikanan rakyat, perikanan komersil dan perikanan rekreasi, dan ketiga kategori perikanan ini sangat rentan terhadap perubahan iklim. Dampak negatif dari perubahan iklim merupakan isu penting, karena sangat terkait dengan kondisi SDI dan daerah penangkapan yang menjadi sumber kegiatan ekonomi dan lahan usaha bagi sebagian besar masyarakat pesisir. Dengan demikian, kondisi tersebut akan mempengaruhi kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Jika perubahan terjadi pada stok perikanan, maka sumber protein dari laut akan semakin berkurang, dan akan sangat berpengaruh
pada situasi ketahanan pangan nasional, terutama untuk pemenuhan gizi masyarakat.
Belum banyak riset tentang dampak perubahan iklim global terhadap perikanan, termasuk kaitannya dengan kondisi daerah penangkapan.
Banyak para ilmuwan menduga bahwa menurunnya stok adalah akibat dari lebih tangkap (overfishing), padahal bisa saja terjadi karena migrasi jenis ikan akibat perubahan iklim. Diperkirakan beberapa lokasi di daerah temperate akan menjadi lokasi ruaya tetap dari ikan-ikan yang biasanya hidup di wilayah tropis. Akibat dari kejadian ini, maka stok perikanan akan menurun, namun di lain pihak pola migrasi tetap ini sekaligus juga akan menurunkan tingkat keanekaragaman biota laut dari tropis ke temperate.
Indonesia selayaknya waspada karena kondisi ini dapat saja terjadi, dengan demikian Indonesia dapat kehilangan status sebagai negara maritim dengan mega-biodiversity laut.
Perubahan iklim global akan mempengaruhi setidaknya tiga unsur iklim dan komponen alam (Las 2007), yaitu:
(1) naiknya suhu udara yang juga berdampak terhadap unsur iklim lain, terutama kelembaban dan dinamika atmosfer,
(2) berubahnya pola curah hujan dan semakin meningkatnya intensitas kejadian iklim ekstrim (anomali iklim) seperti El Nino dan La Nina, dan (3) naiknya paras laut akibat pencairan gunung es di kutub utara.
Naiknya suhu udara di bumi akibat pemanasan global, berdampak pada meningkatnya suhu air, dan secara tidak langsung menambah volume air di samudera. Implikasinya adalah semakin tingginya paras laut (sea level). Dalam 10 tahun terakhir paras laut meningkat setinggi 0,1-0,3 m, sedangkan lewat model prediksi diperkirakan ada perubahan paras laut antara 0,3-0,5 m, dan kemungkinan menutupi area seluas 1 juta km2 (Syahailatua 2008). Jika hal ini terus menerus terjadi, maka hutan mangrove yang sangat potensial sebagai spawning area berbagai spesies ikan tertentu akan semakin berkurang luasnya. Menurunnya luasan hutan mangrove akan berpengaruh terhadap :
(1) Tingkat produktifitas perairan semakin menurun.
(2) Kelangsungan hidup (survival rate) daripada biota laut, termasuk ikan yang berasosiasi dengan ekosistem pesisir akan menurun akibat meningkatnya salinitas perairan.
(3) Daerah penangkapan potensial akan semakin berkurang.
Selanjutnya Syahailatua (2008) menyatakan bahwa naiknya paras laut akan mempengaruhi formasi North Atlantic deep water (NADW) yang akan sangat berpengaruh langsung pada sirkulasi global air laut.
Meningkatnya stratifikasi air laut di Samudera Pasifik akan meningkatkan frekuensi kejadian El Nino Southern Oscillation (ENSO) dan variasi iklim lebih ekstrem (Syahailatua 2008). ENSO merupakan fenomena alam dengan dampak global terhadap iklim dunia. Sekitar setengah dar populasi dunia menderita ketika timbul fenomena ini. Kejadian berdampak negatif ini muncul ketika fenomena El-Nino yang berlangsung, yang terjadi ketika Southern Oscillation Index (SOI) bernilai negatif (Quinn 1974 diacu dalam Pariworo 1996).
El-Nino pada awalnya merupakan fenomena alam lokal di perairan lepas pantai Amerika Latin di Samudera Pasifik, di mana jika muncul menyebabkan suhu perairan laut menghangat sekitar bulan Desember.
Fenomena southern oscillation adalah suatu siklus tekanan udara permukaan laut dengan tekanan udara tinggi di Samudera Pasifik Selatan (diwakili oleh tekanan udara permukaan di Tahiti) dan tekanan rendah di Samudera Hindia (diwakili oleh tekanan udara permukaan di Darwin). SOI adalah perbedaan tekanan udara permukaan rata-rata antara wilayah timur Pasifik dengan wilayah barat pasifik. Nilai SOI pada tahun berlangsungnya El-Nino yang kuat, yaitu tahun 1982-1983 dan tahun 1991-1992, berkisar antara -3,0 hingga -5,0 (Trenberth 1976 diacu dalam Pariworo 1996).
Ketika ENSO berlangsung, terjadi perubahan iklim yang mencolok di berbagai tempat di dunia. Sebagai contoh, pada waktu ENSO di Peru menyebabkan kondisi perikanan Peru anjlok, sedangkan Indonesia dan Australia mengalami kekeringan yang berkepanjangan yang pada gilirannya menyebabkan kerugian besar pada sektor pertanian (Pariworo 1996).
Pada awalnya orang berpendapat bahwa El-Nino hanya mempengaruhi perairan Peru namun kemudian diketahui bahwa El-Nino dapat berpengaruh pada daerah tropis di Pasifik dengan sekala global.
Umumnya El-Nino disertai dengan perubahan sirkulasi di astmosfir yang dikenal sebagai southern oscillation. Gabungan dari pengaruh El-Nino dan southern oscillation yang dikenal sebagai ENSO inilah yang memiliki pengaruh terhadap perikanan dan kehidupan biota laut serta secara umum
berpengaruh pada kondisi iklim global. Elemen kunci pada fenomena El- Nino adalah hasil dari interaksi antara kondisi permukaan air laut dan angin (sistem pada laut-atmosfir). Prosesnya angin mendorong lapisan permukaan air laut dan membawa massa air lapisan hangat dari Timur ke arah Barat daerah tropis Pasifik. Hal ini menyebabkan tinggi permukaan air laut lebih tinggi 0,5 m di Indonesia dibandingkan di Ekuador sedangkan suhu permukaannya lebih tinggi 8oC pada daerah Barat. Ketika lapisan permukaan air bergerak dari pantai Selatan Amerika, massa air dingin yang kaya nutrien dari lapisan bawah naik ke atas menggantikan massa air hangat di permukaan. Fenomena ini dikenal juga sebagai Upwelling. Ketika massa air hangat terus bergerak ke arah barat batas antara massa air hangat dan massa air dingin (termoklin) bergerak semakin ke atas permukaan air pada bagian timur dan bergerak semakin ke bawah (ke dalam) pada bagian barat. Akhirnya massa air yang kaya dengan nutrien dari lapisan dalam perairan bercampur dengan lapisan massa air pada permukaan sehingga memperkaya produktifitas primer perairan yang berdampak pada keragaman biota laut dan jenis ikan utama di wilayah yang dilalui El-Nino sehingga secara langsung mempangaruhi daerah penangkapan ikan (fishing ground).
Cushing (1982) diacu dalam Pariworo (1996) menyebutkan bahwa ENSO tahun 1972 merupakan penyebab penurunan drastis dari hasil perikanan anchovy di Peru. Vildoso (1972) diacu dalam Pariworo (1996) melaporkan bahwa ENSO 1972 menyebabkan suhu air laut meninggi hingga mencapai 30oC dan menurunnya salinitas perairan Peru hingga 3,3%. Lebih lanjut dilaporkan, hancurnya perikanan anchovy di Peru merupakan penyebab menurunnya populasi burung-burung laut secara mencolok (Valdivia 1974 diacu dalam Pariworo 1996). Pauly and Tsukayama (1987) diacu dalam Pariworo (1996) menyatakan bahwa rekrutmen dari anchovetta di Peru ditentukan oleh olakan frekuensi pendek di perairan yang disebabkan oleh kekuatan angina. Ini berarti bahwa keberadaan stok ikan ditentukan oleh kondisi lingkungan perairan di mana ikan hidup dan berkembang biak. Muck et al (1987) diacu dalam Pariworo (1996) membuktikan bahwa suhu perairan menentukan pola migrasi ikan mackerel, yang berarti menentukan distribusi biomassa ikan tersebut sepanjang pantai Peru. Selanjutnya dinyatakan bahwa jika suhu perairan pantai terlalu dingin,
maka pemijahan dari ikan mackerel dan horse mackerel akan berlangsung di perairan yang suhunya lebih hangat (sepanjang garis luar dari paparan benua).
Fenomena ENSO juga sangat berkaitan erat dengan populasi ikan di laut, khususnya di Laut Pasifik (Serra 1987 diacu dalam Dirjen Penataan Ruang 2005). Pada saat terjadi El Nino, populasi ikan khususnya jenis pelagis seperti sardine (Sardinops sagax), anchoveta (Engaulis ringens), jack mackerel (Tranchurus murphyi), dan Scomber japonicuperuanus) berkurang karena sedikitnya makanan yang tersedia. Diantara ke empat ikan ini, jenis sardine dan jack mackerel (Tranchurus murphyi) yang paling terpengaruh oleh fenomena ENSO.
Iklim berpengaruh nyata terhadap kondisi oseanografi dan akhirnya parameter-parameter oseanografi akan mempengaruhi tingkah laku ikan dalam proses reproduksi, pemijahan, dan migrasinya. Migrasi dari larva ikan sangat terkait dengan pola aliran arus laut. Cushing (1982) diacu dalam Pariworo (1996) menyatakan bahwa gangguan dari lingkungan perairan terhadap suatu rantai migrasi ikan akan menyebabkan ikan-ikan tersebut membentuk suatu kelompok terpisah dari kelompok yang membentuk stok ikan, atau mereka akan mati sebelum menjadi dewasa. Jika ini benar, maka diduga ENSO pun akan berdampak penting terhadap ikan-ikan tangkap di Indonesia (Pariworo 1996).
Tahun 1992 ketika ENSO yang paling kuat berlangsung, dikenang oleh para nelayan di Teluk Palabuhanratu sebagai tahun panan raya (hasil tangkapan ikan melebihi rata-rata). Menurut para nelayan tersebut, panen raya semacam ini terjadi sekitar lima tahun sekali (Fuadi 1985 diacu dalam Pariworo 1996). Fenomena ini sangat menarik, karena ENSO timbul sekitar lima tahun sekali dan memberikan indikasi bahwa ENSO berpengaruh terhadap penyebaran daerah penangkapan ikan, tetapi belum bisa dipastikan apakah hasil tangkapan yang meningkat tersebut disebabkan oleh meningkatnya populasi ikan di perairan Palabuhanratu atau karena cuaca baik yang memungkinkan para nelayan lebih sering melaut, ataukah karena kombinasi antara dua faktor tersebut (Pariworo 1996).
ENSO mengakibatkan suhu permukaan laut (SPL) meningkat dan lapisan termoklin menipis. Kondisi ini jika disertai dengan kenaikan paras laut, akan mengakibatkan menurunnya produksi primer di laut (Syahailatua
2008, Hader et al 2003). Hal ini berarti bahwa daerah penangkapan potensial juga akan semakin berkurang.
El Nino adalah fenomena alami yang telah terjadi sejak berabad- abad yang lalu, walaupun tidak selalu dengan pola yang sama, merupakan gelombang panas di garis ekuator Samudera Pasifik. El Nino muncul dewasa ini setiap 2–7 tahun, lebih kuat dan berkontribusi pada peningkatan temperatur bumi. Dampaknya dapat dirasakan di seluruh dunia dan menunjukkan bahwa iklim di bumi benar-benar berhubungan. Para ilmuwan menguji bagaimana pemanasan global yang diakibatkan oleh aktivitas manusia dapat mempengaruhi El Nino: akumulasi GRK di atmosfer membantu menyuntikkan panas ke Samudera Pasifik. Oleh karena itu, El Nino muncul lebih sering dan lebih ganas dari sebelumnya (UNDP Indonesia 2007).
Pada saat terjadi El Nino, kita biasanya lebih sering mengalami kemarau. Ketika terjadi La Nina kita lebih sering dilanda banjir. Memasuki musim hujan, indikasi munculnya kondisi ekstrem umumnya ditandai dengan hadirnya angin kencang, guntur, hujan deras, dipicu oleh awan jenis konveksi yang disebut awan Cb (cumulonimbus). Awan Cb terjadi karena adanya proses thermal (pemanasan udara basah yang naik ke atas) dan proses mekanis, yaitu pertemuan angin yang menimbulkan gerak vertikal udara basah ke atas. Proses thermal umumnya terjadi saat peralihan musim (kemarau ke hujan atau sebaliknya) sehingga indikasi ini akan mudah dijumpai saat ini di wilayah Indonesia. Proses thermal biasanya bersifat lokal dan kurang memberi dampak terhadap munculnya kondisi ekstrem (Dirjen Penataan Ruang 2005).
Dalam kurun waktu tahun 1844-2006 (UNDP Indonesia 2007), dari 43 kemarau panjang, sebanyak 37 kali berkaitan dengan El Nino. El Nino berkaitan dengan berbagai perubahan arus laut di Samudera Pasifik yang menyebabkan air laut menjadi luar biasa hangat. Kejadian sebaliknya, arus menjadi amat dingin, yang disebut dengan La Nina.
Berdasarkan penelitian Bahri (2002), yang meneliti kaitan antara ENSO dengan SPL hasil deteksi satelit NOAA-AVHRR di perairan Jawa- Bali, menyatakan bahwa pola distribusi SPL di perairan Selatan Jawa-Bali pada musim timur sewaktu berlangsungnya ENSO berkisar antara 24,5- 27,5oC (lebih rendah sekitar 0,5oC dari kondisi normal). Di mana suhu yang
tercatat lebih dominan pada suhu 26oC. Hasil sebaran SPL ini ternyata bertolak belakang dengan efek dari ENSO sendiri, di mana ENSO mengakibatkan pemanasan atau peningkatan SPL. Keadaan ini ternyata berkaitan dengan hasil penelitian Dr. Toshio Yamagata (University of Tokyo) dan Saji Hamid (National Space Development Agency of Japan dan the Japan Marine Science and technology Centre), yang menyatakan adanya fenomena alam yang disebut dengan dipole mode event (DME). DME merupakan perbedaan dua kutub (pole), di mana terjadi anomali positif SPL di Samudera Hindia bagian barat dan anomali negatif SPL di Samudera Hindia bagian timur. Gejala DME dicirikan dengan adanya angin tenggara yang bertiup intensif pada musim timur yang menyebabkan penurunan SPL (anomali negatif) di perairan Selatan Jawa-Bali. Hubungan antara DME dengan ENSO sendiri belum diketahui secara pasti, namun diduga adanya DME inilah yang menyebabkan SPL di perairan Selatan Jawa-Bali pada saat musim timur menjadi rendah. Kejadian DME bersamaan dengan kejadian ENSO pada 1997. DME dan ENSO juga bersamaan terjadinya pada tahun 1961 dan tahun 1994.
Saat musim timur sewaktu Non-ENSO (1999) menunjukkan adanya variasi SPL yang berkisar antara 25-29oC dan lebih dominan pada suhu 27oC. Hal ini berkaitan dengan penelitian Purba et al. (1997) diacu dalam Bahri (2002) yang menyatakan variasi SPL pada musim timur berkisar antara 26-28oC. Saat musim timur berlangsung (Juni-Agustus), daerah upwelling di perairan Selatan Jawa-Bali lebih tinggi intensitasnya di bagian timur Pulau Jawa dan Bali. Pada musim timur SPL tercatat lebih dingin dibandingkan musim lainnya dan merupakan musim yang tepat untuk menangkap tuna, di mana daerah penangkapan ikan tuna sendiri cenderung berada di sekitar daerah upwelling. Sebaran daerah penangkapan tuna mata besar dan albakor menurut PT. Samodra Besar (PSB) pada tahun 1997 saat ENSO dan DME berlangsung menyebar dari lintang 10-15o LS dan bujur 109-114oBT, dengan lokasi penangkapan potensial pada lintang 12-14oLS dan bujur 113-116oBT. Namun catatan hasil tangkapan pada musim ini juga menunjukkan beberapa penangkapan tuna dilakukan hingga lintang 15-17oLS dan bujur 107-108oBT serta 115-116oBT. Penangkapan tuna yang masih di dalam perairan Selatan Jawa-Bali diduga disebabkan intensitas upwelling yang tinggi dan merata di sepanjang perairan tersebut.
Hasil tangkapan tahun 1997 paling banyak terjadi pada Mei-Juli. Sebaran penangkapan tuna pada 1999 sewaktu Non-ENSO menyebar dari lintang 11-15oLS dan bujur 107-116oBT, dengan daerah tangkapan potensial pada lintang 12-14oLS dan bujur 113-115oBT. Dari catatan hasil tangkapan PSB juga menunjukkan pada tahun Non-ENSO penangkapan dilakukan hingga ke perairan Indonesia sebelah timur. Hasil tangkapan tuna mata besar dan albakor di perairan Selatan Jawa-Bali yang dilakukan oleh PSB pada saat ENSO berjumlah 26.002 ekor, lebih banyak dibandingkan saat Non-ENSO yang berjumlah 19706 ekor. Sebaran laju tangkap (hook rate) menunjukkan bahwa saat ENSO hook rate termasuk dalam kategori baik mendominasi hasil tangkapan PSB sebanyak 1.462 kali (44,13%) dari total setting (3.313 kali), sedangkan pada saat Non-ENSO hook rate dalam kategori buruk lebih banyak sekitar 1.730 kali (43,21%) dari total setting (4.004 kali).
Penelitian yang dilakukan oleh Syamsudin (2003), menunjukkan bahwa perubahan iklim regional sangat mempengaruhi variasi antar bulanan puncak musim penangkapan tongkol di Selat Sunda. Selama berlangsungnya El Nino, perairan Selat Sunda merupakan tempat ideal untuk menangkap tongkol. Puncak musim penangkapan adalah bulan Mei- Agustus. Rentang waktu ini sebulan lebih panjang dibandingkan kondisi normal yang mempunyai puncak musim penangkapan bulan Juni-Agustus.
Perubahan iklim regional La Nina yang dipicu dari Samudera Pasifik tidak memberikan lingkungan hidup yang kondusif untuk migrasi ikan tongkol ke Selat Sunda. Pada saat kejadian ini berlangsung, puncak musim penangkapan terjadi dalam waktu yang relatif lebih pendek, yaitu pada pertengahan bulan Mei-Juni.
Konsentrasi makanan dapat dipengaruhi oleh penyebaran suhu. Ikan seringkali melakukan migrasi musiman menuju kutub selama musim panas, dan menuju ekuator selama musim dingin. Dalam hal ini migrasi dapat dipengaruhi oleh suhu selain dipengaruhi keberadaan kelimpahan makanan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Tingkah laku schooling ikan terkait dengan pemijahan, mencari makan, dan lain-lain juga mungkin dikontrol oleh suhu, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Kenaikan suhu menyebabkan air laut yang lebih hangat sehingga dapat mencegah perkembangbiakan plankton dan mengurangi ketersediaan makanan ikan. Beberapa spesies ikan kemungkinan akan bermigrasi ke
wilayah lain yang menawarkan kondisi suhu dan makanan yang lebih baik.
Hal ini akan mempengaruhi perpindahan dan penyebaran daerah penangkapan ikan.
Suhu yang lebih tinggi dapat merusak atau memutihkan terumbu karang. Terumbu karang yang tidak bermasalah, kebanyakan mampu bertahan dengan naiknya paras laut yang telah diperkirakan kurang lebih 50 cm hingga tahun 2100 (IPCC 2001). Dataran terumbu yang terbuka pada saat surut, yang membatasi pertumbuhan ke atas, dapat mengambil keuntungan dari kenaikan itu. Akan tetapi karang yang telah melemah karena meningkatnya suhu atau faktor-faktor lain (peningkatan SPL, badai, tingkat CO2 dan sinar ultraviolet, perubahan pola arus) mungkin tidak dapat tumbuh dan membangun kerangka tulang mereka secara normal. Apabila hal ini terjadi, pulau-pulau yang rendah (low-lying) tidak mendapat perlindungan dari terumbu karang disekitarnya seperti saat ini terhadap energi gelombang dan badai (hal ini telah menjadi salah satu perhatian dari negara-negara seperti Maldiva di Samudera Hindia serta Kiribai dan Kepulauan Marshall di Samudera Pasifik, di mana kertinggian daratan rata- rata kurang dari 3 meter di atas paras laut). Dampak pemanasan global (peningkatan suhu air laut) bagi organisme menurut Norse (2001) disajikan pada Tabel 7.1.
Dampak pemutihan karang bagi perikanan dapat mengikuti teori umum interaksi habitat ikan terhadap terumbu karang (Pet-Soede 2000).
Beberapa faktor memberi sumbangan terhadap komposisi komunitas ikan di terumbu, yang kesemuanya berhubungan dengan struktur fisik dan kompleksitas terumbu karang. Pertama, kompetisi untuk makan yang merupakan faktor penting dalam menentukan keanekaragaman dan kelimpahan. Pada terumbu karang sehat, keragaman dan kuantitas makanan adalah tinggi dan ini berdampak positif langsung pada keragaman dan kelimpahan ikan (Robertson and Gaines 1986). Pada terumbu karang yang kurang sehat, karang mati akan cepat ditumbuhi oleh alga secara berlebihan, alga kemudian dimakan oleh herbivora seperti ikan kakatua (Parrotfish, Scarus spp), dan populasi jenis-jenis ini dapat meningkat.
Pemakanan dalam jumlah besar oleh jenis-jenis ini kadangkala merusak struktur terumbu, menyebabkan erosi kerangka karang, tetapi mereka juga
membatasi pertumbuhan alga. Meningkatnya populasi ikan bernilai komersial ini juga merupakan keuntungan ekonomis.
Tabel 7.1 Dampak pemanasan global bagi organisme laut
No. Jenis Biota Dampak Hipotesis
1 Pasific sockeye salmon
Banyak kematian dan kerusakan habitat
Sockeye salmon sangat sensitif terhadap perubahan suhu
2 Phytoplankton Blooming pada perairan dekat dengan equator
Blooming nutrien karena peristiwa upwelling
3 Sockeye salmon Jumlah menurun di Sungai Fraser British Columbia
Peningkatan suhu
4 Alaska’s Pasific salmon
Turun drastis pada 1997 dan 1998
Peningkatan suhu 5 Ikan karang dan
invertebrata (anemones, crabs dan snails)
Berpindah dari California ke arah kutub
Respon akibat pemanasan global
6 Burung laut Reproduksi menurun
dan kematian
meningkat
Kelaparan karena sulit mendapatkan makanan dari laut 7 Coral reefs Bleaching, putih dan
mati
Tingginya suhu pada 1997 dan 1998 menyebabkan bleaching pada coral di daerah tropis termasuk Samudera Pasifik, S.
Hindia, Laut Merah, Teluk Persia, Laut Mediterania, Laut Karibia.
Hampir 90% coral di Samudera Hindia mati.
8 Clams and oysters
Memerlukan suhu yang sedang (moderate)
Suhu yang hangat 9 Ikan estuarin Menurun jumlahnya Oksigen terlarut rendah 10 Bluefish, tuna,
mackerel
Melakukan migrasi Bermigrasi ke daerah yang lebih hangat
11 Udang karang, lobster
Menurun jumlahnya di Mexico
Bermigrasi ke daerah yang lebih dingin suhunya di perairan teluk di Alabama, Mississippi, dan Florida
12 Paus Kehilangan sumber
makanan
Hilangnya udang rill
No. Jenis Biota Dampak Hipotesis 13 Tuna Ukuran menurun
14 Western Alaskan salmon
Populasi menurun drastis sejak 1997 dan 1998 bersamaan dengan El-Nino
Tidak mampu beradaptasi dengan suhu tinggi
15 Ikan karang Berpindah ke arah kutub
Hilangnya habitat yang bersuhu tepat
16 Zooplankton, copepoda
Menurun jumlahnya 70% sejak 1950an
Hilangnya habitat yang bersuhu tepat
17 Kepiting Meletakkan telur pada daerah pantai berpasir
Hilangnya daerah pantai berpasir 18 Anjing laut dan
kura-kura
Bermukim di pulau pasir Erosi karena kenaikan ketinggian air laut
19 Organisme daerah estuarin
Membutuhkan salinitas rendah
Salinitas meningkat 20 Pemangsa
oyster
Membutuhkan salinitas tinggi
Salinitas menurun karena kenaikan tinggi paras laut
21 Udang Bergantung pada
daerah pasang surut di pantai
Hilangnya habitat pasang surut karena kenaikan paras laut 22 Udang krill
(makanan favorit paus dan pinguin)
Menurun populasinya Efek pemanasan global
Kedua, terumbu karang menyediakan lingkungan yang tepat untuk kegiatan reproduksi dan penempatan larva ikan dan ini akan turut menentukan struktur komunitas ikan dewasa nantinya (Medley et al 1983, Eckert 1987, Lewis 1987). Terumbu karang berstruktur kompleks yang sehat akan memaksimalkan jumlah keragaman dan kuantitas ruangan guna kesuksesan reproduksi. Ketiga, terumbu karang menyediakan naungan dan perlindungan dari para predator, khususnya bagi ikan berjenis kecil dan ini mempengaruhi pola kelangsungan hidup dan kelimpahannya saat dewasa (Eggleston 1995). Secara garis besar, terumbu karang sehat berdampak positif bagi ketiga faktor tersebut (makanan, reproduksi dan naungan) dan imbalannya adalah peningkatan keragaman dan kelimpahan ikan.
Kenaikan suhu laut sebesar 1-20C diperkirakan akan terjadi tahun 2100 (Bijkma et al 1995). Bahkan telah terjadi kenaikan 0,50C di beberapa daerah tropis selama 2 dekade terakhir (Strong et al 2000). Walaupun hanya mengalami perubahan kecil, tetapi hal tersebut dapat diartikan bahwa selama periode yang lebih hangat dari fluktuasi musim yang normal, suhu akan melebihi batas toleransi dari hampir semua jenis karang. Akibatnya, frekuensi pemutihan karang akan semakin meningkat. Suatu kenaikan suhu dapat berarti daerah yang saat ini berada di luar wilayah terumbu karang akan menjadi tempat pertumbuhan karang, menghasilkan perpindahan geografis dari distribusi populasi pembangun terumbu karang. Memang membutuhkan waktu sebelum hal ini terbukti dan bilamana hal ini terjadi, faktor-faktor lingkungan lain dengan posisi lintang yang lebih tinggi mungkin tidak kondusif untuk pertumbuhan terumbu karang. Lebih lanjut lagi, naiknya SPL mempengaruhi kepekaan zooxanthellae, contohnya sinar yang diperlukan untuk fotosintesis malah merusak sel-selnya (Hoegh-Guldberg 1999). Karang dapat menjadi rapuh karena kenaikan radiasi sinar UV akibat menipisnya lapisan ozon.
Emisi global dari GRK meningkatkan konsentrasi CO2 di atmosfir dan di lautan ke tingkat yang akhirnya mengurangi kemampuan terumbu karang untuk tumbuh dengan proses pengapuran normal. Tingginya konsentrasi CO2 meningkatkan keasaman air, yang menurunkan tingkat pengapuran karang. Tingkat pengapuran diperkirakan dapat menurun sekitar 14–30%
tahun 2050 (Hoegh-Guldberg 1999). Ini akan mengurangi kemampuan terumbu untuk pulih kembali, dan akan mempersulit kemampuan terumbu karang untuk menyesuaikan diri dengan kenaikan paras laut dan perubahan geologi.
Perubahan pada suatu terumbu karang sebagai hasil kematian karang dapat mempengaruhi hasil perikanan, jenis perikanan dan ruang distribusi dari usaha perikanan, yaitu:
(1) Penurunan tingkat reproduksi ikan dan tempat berlindung sebagai akibat menurunnya sumber makanan dan lingkungan yang kurang sesuai.
Konsekuensinya dapat bervariasi sesuai dengan jenis perikanan.
(i) Dalam perikanan yang bergantung sepenuhnya pada ikan terumbu karang, jumlah tangkapan mungkin berkurang dan komposisi tangkapan dapat berubah menjadi jenis herbivora. Ikan-ikan ini