• Tidak ada hasil yang ditemukan

Daftar Pemilih Tetap (DPT) Fiktif

Dalam dokumen IAIN KEDIRI PRESS 2018 (Halaman 68-75)

seharusnya masuk kemudian tidak masuk, karena itu kan total dari pemilih yang terdaftar di KPU. Ya dengan harapannya agar KPU tidak cepat-cepat menetapkan DPT, kemudian mari kita sama-sama perbaiki, kita sisir ulang bersama-sama kemudian

DPT yang ada itu menjadi sempurna”

(Sufmi Dasco Ahmad – Wakil Ketua Umum PartaiGerindra)

“ Monggo saja, kan itu yang saya sampaikan tadi, hal-hal seperti inilah sebaiknya memang disampaikan dalam bentuk aturan main, dalam bentuk aturan hukum, kalo bagi kita kan tidak ada masalah, silahkan saja untuk dilaporkan, silahkan saja untuk dilaporkan, silahkan saja untuk diragukan, kan sama seperti tadi kasus mahar, kalo ini tidak disampaikan saya tanya kembali, apakah masyarakat akan percaya,? Apakah masyarakat akan meyakini? Kalo hal itu tidak, kan alangkah sayangnya proses demokrasi kita ini menjadi proses demokrasi yang tanda tanya, nah ini yang saya katakan tadi, marilah apapun yang menjadi keberatan kita bawa dalam koridor hukum, seprti itu, jadi seperti tadi ada keberatan atau keraguan tidak masalah “ ( Eriko Sutarduga – Wasekjen PDI-P)

Review berita :

Penulisan berita dan penyiaran berita diatas dalam konteks keberimbangan sudah memenuhi dalam pengangkatan isu, serta narasumber yang diminta keterangan. Namun, dalam kasus ini, pengangkatan kedua narasumber yang berbeda pendapat serta berbeda sisi dapat menimbulkan seperti efek “perbandingan”, atau lebih parahnya “adu domba”.

Selain itu, pendapat dari salah satu narasumber yang menyebutkan data tentang DPT terkesan kurang relevan karena tidak menyertakan data yang diperoleh darimana dan dengan metode apa. Hal ini tentunya sangat merugikan publik sebagai yang mengkonsumsi berita ini.

Bawaslu Temukan 1.013.067 Identitas Pemilih Ganda Pada Pilpres 2019 (Kabar Pemilu – TV ONE, 11 September 2018)

Dari temuan Bawaslu, ada 1.013.067 identitas pemilih gan da pada pemilu 2019. Jumlah tersebut berdasarkan analisis Bawaslu terhadap 285 kabupaten kota dari 514 kabupaten kota di Indonesia.

Komite Independen Pemantau Pemilu/KIPP menyesalkan ada- nya kegandaan dalam daftar pemilih tetap Pemilu 2019. Menurut Sekjen KIPP, Kaka Suminta, seharusnya tidak ada lagi ruang untuk merevisi.

“ Melihat keuntungan dan kerugian, saya pikir yang paling dirugikan adalah bangsa Indonesia, dari korban dulu ya, bangsa Indonesia. Siapa yang diuntungkan? Sebenarnya kalo kita bicara secara jujur, ini bisa saja merugikan semua pihak, termasuk juga peserta, nah dalam hal ini pemerintah seharusnya, pemerintah membantu KPU, saya pikir ini sudah dilakukan, tetapi apakah maksimal, seperti memberikan DP4 yang akurat dan memberikan data pemilh tambahan berupa pemilih pemula juga secara akurat”

( Kaka Suminta – Sekjen KIPP )

Komisi Pemilihan Umum mengakui adanya daftar pemilih tetap ganda, sampai sekarang KPU masih menelusuri DPT ganda untuk dibersihkan.

“ Lha ini kan sedang kita telusuri, kegandaan itu maknanya bagaimana? Karena begini, orang yang sekedar namanya sama belum tentu ganda, orang yang namanya sama tapi tanggal lahirnya sama, tahun lahirnya sama belum tentu ganda. Sekarang bisa dibayangkan, dengan menggunakan rumus laju pertumbuhan penduduk, sangat mungkin ada ratusan ribu orang dengan nama yang sama, dengan tanggal, bulan, tahun yang sama,. Oleh karena itu, kita sangat hati-hati dalam rangka membersihkan kegandaan itu.”

(Wahyu Setiawan – Komisioner KPU RI)

KPU optimistis, bisa membersihkan data pemilih tetap melalui sistem

Review :

Penulisan berita dan penyiaran berita diatas dalam konteks keberimbangan sudah memenuhi dalam pengangkatan isu, serta narasumber yang diminta keterangan. Namun, dalam kasus ini, pengangkatan kedua narasumber yang berbeda pendapat serta berbeda sisi dapat menimbulkan seperti efek “perbandingan”, atau lebih parahnya “adu domba”.

Selain itu, beberapa alasan yang dikemukakan narasumber dari pihak KIPP malah memberikan efek seolah-olah pihak yang mengurus DPT dalam hal ini KPU tidak mampu. Penggunaan bahasa yang “melebih-lebihkan” justru membuat berita yang dikonsumsi yang awalnya ringan dan mudah dipahami menjadi berita yang berapi-api.

Polemik DPT Pemilu 2019 (Kompas Siang – Kompas TV, 16 September 2018) KPU pada 16 September 2018 mulai menggelar rapat pemu- takhiran data bersama KPU Provinsi. Salah satu agenda dalam rapat ini adalah membahas temuan daftar pemilih ganda. Sampai saat ini, KPU menyatakan dari 185 juta daftar pemilih tetap di dalam negeri, ada 795 ribu DPT ganda. Angka ini jauh dibanding temuan parpol pendukung Prabowo-Sandi yang mengklaim, ada 8 juta DPT ganda, serta temuan Bawaslu yang menyatakan ada 3 juta DPT ganda.

“ Data terakhir kami, data ganda dari 185 juta, insyaallah dibawah 1%, jadi nama yang mengalami kegandaan dibawah 1% atau dibawah 1 juta.”

( Viryan Aziz – Komisioner KPU )

Tentang DPT ganda, Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto mengatakan hal itu kerap jadi sorotan sejak tahun 2009. Hasto, yang juga sekretaris Tim Kampanye Nasional Jokomi-Ma’ruf Amin menyatakan terjadi manipulasi DPT untuk dijadikan alat pemenangan pada pemilu 2009. Hasto mengajak kubu Prabowo- Sandi bekerja sama menyelesaikan masalah DPT ganda ini

“ Semula 25 juta, sekarang 8 juta, mana yang benar? Tetapi persoalan DPT ganda itu dimulai dari tahun 2009, saat itu saya menjadi bagian dari inisiator untuk hak angket karena 2009

DPT menjadi alat pemenangan, DPT penuh dengan manipulasi, ini yang kami luruskan, jadi klaim dari Sandi agar menanya ke sebelahnya, menanyakan kepada tim yang 2009 berkuasa. “ ( Hasto Kristiyanto – Sekjen PDI-P)

Daftar pemilih ganda memang menjadi hal krusial dalam penye- lenggaraan Pemilu. Koalisi Prabowo-Sandi mengaku menemukan ada DPT ganda. Hasil temua tim khusus mereka ada sekitar 8,1 juta daftar pemilih ganda di daftar pemilih tetap KPU.

“ Yah, jadi belum 24 juta, belum selesai semuanya. Nah setelah 100% kami menelusuri dari 185 juta DPT yag dari KPU, maka hasilnya adalah 8.145.713 kegandaan ini.”

( Pipin Sopian – Ketua DPP PKS )

Tak cuma peserta pemilu yang menemukan pemilih ganda, Badan Pengawas Pemilu/Bawaslu juga menyampaikan temuan data ganda 2,2 juta pemilih. Angka itu merupakan hasil analisis Bawaslu terhadap 285 kabupaten kota dari 514 kabupaten kota di Indonesia.

Polemik daftar pemilih ganda memang harus segera diselesaikan segera, 7 bulan sebelum pencoblosan dalam pemilihan presiden dan pemilu legislatif 17 April tahun depan, sebab daftar pemilih tetap yang bersih serta transparant akan menentuka kualitas Pemilu 2019.

Review :

Pengangkatan berita DPT ganda ini nampaknya menimbulkan banyak polemic dalam prosesnya. KPU sebagai pihak yang mengatur dan mengelola DPT menjadi pihak yang paling banyak disoroti karena kinerjanya yang dinilai kurang maksimal.

Pengangkatan berita DPT ini nampaknya juga menimbulkan sedikit permasalahan, karena apakah pemberitaan DPT ini perlu dilakukan secara intens atau tidak? Selain itu pengamngkatan berita ini cenderung terkesan “mengadu domba” beberapa pihak.

Selain dari kedua belah pihak yang paling menonjol yaitu dari tim kampanye masing-masing calon presiden dan wakil presiden, polemic ini juga melibatkan Bawaslu yang seharusnya bekerjasama dengan KPU dengan masalah ini.

Isu DPT ini nampaknya akan menjadi isu yang akan menjadi senjata bagi masing-masing tim kampanye mengingat panasnya persaingan antara keduanya. Selain itu, hal menarik yang diperoleh yaitu adanya “hitungan lain” yang dilakukan oleh beberapa pihak yang amsing-masing mengklaim menemukan banyak data tentang DPT ini, khususnya dalam masalah DPT Ganda. Masing-masing pihak mengklaim menemukan DPT Ganda yang dilakukan oleh tim khusus mereka. Pertanyaannya, apakah hal itu relevan dan valid?

Ini yang masih menjadi perdebatan. Apalagi salah satu pihak bahkan mengklaim menemukan data yang cukup besar dalam DPT Ganda ini. Hal ini tentu membuat berita yang seharusnya bersifat informative, menjadi bersifat komparatif.

Kerawanan berita terutama mengenai politik di tahun politik tentunya sangat rawan akan berbagai kemungkinan yang terjadi.

Karena berita bisa menjadi salah satu senjata bagi salah satu pihak untuk menjatuhkan pihak lainnya.

Dalam dokumen IAIN KEDIRI PRESS 2018 (Halaman 68-75)