• Tidak ada hasil yang ditemukan

Opini Publik

Dalam dokumen IAIN KEDIRI PRESS 2018 (Halaman 173-179)

Bab III Struktur Jurnalisme Politik

G. Opini Publik

atau standar ganda. Ketiga, opinion leader (tokoh pembentuk opi- ni), seperti politisi atau akademisi, tertarik dengan isu tersebut.

Keempat, mendapat perhatian media (pers) hingga informasi dan reaksi terhadap isu tersebut dapat diketahui khalayak.

Kemunculan isu dalam masyarakat memang seringkali dicip - takan oleh kalangan tertentu. Isu diciptakan pasti dengan pe- rang kat yang bombastis sehingga dapat menarik perhatian public. Pembentuk opini yang dapat mempengaruhi public biasa- nya muncul dari kalangan politisi dan akademisi yang selalu mempunyai isu-isu baru dalam dinamika kehidupan masyarakat dan kemudian media massa menggunakan isu tersebut sebagai produk jurnalismenya.

Beberapa kejadian yang terjadi sewaktu presiden Susilo Bambang Yudhono menjabat misalnya ; pimpinan negara saat itu menghendaki setiap pembantunya di dalam pemerintahan (eksekutif), rata-rata dalam kondisi yang sehat dan memiliki kemampuan memimpin lembaga kementrian. Untuk itulah lahir kegiatan Fit and Proper Test ala Sang Presiden (Susilo Bambang Yudhoyono), 2009. Susilo Bambang Yudhoyono memiliki hak prerogatif sebagai presiden untuk menentukan calon menteri yang dianggap layak menjabat di bidang yang dikuasainya untuk membantu kinerja presiden.

Proses fit and proper test yang dilakukan terhadap calon menteri memang menarik. Sebab, cara ini ternyata cukup membuat para calon menteri, rakyat, serta insan pers memiliki keingintahuan yang besar. Apalagi fit and proper test tersebut dilaksanakan di kediaman pribadi sang presiden di Cikeas Bogor Jawa Barat.

Sehingga peristiwa ini menjadi ajang “Red Carpet” bagi sang menteri yang lolos verifikasi oleh presiden.

Presiden melakukan tes wawancara melalui seleksi internal dibantu oleh orang-orang kepercayaan beliau diantaranya Boediono selaku wakil presiden, Sudi Silalahi, serta Hatta Rajasa. Setiap calon

menteri yang dihubungi oleh Hatta Rajasa maupun Sudi Silalahi akan langsung diminta ke Cikeas guna diuji, diberi arahan dan kontrak politik kesiapan menjadi menteri. Proses fit and proper test ini berlangsung sejak Sabtu (17 Oktober 2009) hingga Senin (19 Oktober 2009) terhadap 36 calon menteri.

Hal menarik dalam proses fit and proper test ini adalah kabinet Indonesia Bersatu Jilid Dua yang dipimpin oleh Susilo Bambang Yudhoyono, akan melantik 34 menteri serta 2 posisi menteri yang masih dirahasiakan posisi serta jabatannya. Hal ini banyak mengundang spekulasi dan tanda tanya besar, namun akan sesegera mungkin diumumkan ketika pelantikan berlangsung.

Dua posisi menteri yang dipertanyakan tersebut berdasarkan Kepala Unit Kerja Presiden untuk Pengelolaan Program Kebijakan dan Reformasi (UP3R) dibentuk melalui Inpres Nomor 17/2006 tanggal 29 September 2006. Sehingga baik Presiden serta para menterinya akan siap bertugas untuk menyelesaikan berbagai masalah yang menimpa bangsa ini. Pelantikan menteri sendiri akan dilaksanakan pada tanggal 2 Oktober 2009 seusai pelantikan presiden Susilo Bambang Yudhoyono periode 2009-2014 pada sidang paripurna MPR Selasa 20 Oktober 2009 pukul 10.00 WIB.

Helena & Novi (2011: 138-146).

Opini publik dalam konteks jurnalisme menjadi dominan karena konstruksi berita dari media massa selalu memberikan dampak terhadap khalayak. Beberapa contoh berita politik yang ada di bab sebelumnya tentu dapat dijadikan tolak ukur bagaimana berita-berita politik dapat mempengaruhi opini masyarakat. Implikasi dari berita politik dapat berbuah positif meski konstruksi media cenderung menayangkan nilai-nilai keburukan. Fakta ini terjadi pada berita kasus bupati Tulungagung di Jawa Timur yang disinyalir dapat merugikan pencalonannya, namun realitasnya bupati petahana ini justru memenangkan kontestasi dalam pemilukada.

Jurnalisme politik menjadi obyek kajian menarik ketika media dan jurnalis telah mengabaikan kode etik jurnalistik. Problem media di Indonesia yang dulu dikebiri oleh orde baru sekarang menjadi bebas tanpa kontrol yang kuat dari negara. Dalam sistem demokrasi, era keterbukaan menjadi penting tetapi dengan tidak mengindahkan aturan hukum yang berlaku di negara ini.

Secara politis, media dalam demokrasi Pasca-1998 Indonesia hampir tidak menantang dominasi institusi dan aktor politik, oleh karena itu tidak sepenuhnya mempromosikan logikanya sebagai ranah demokrasi keempat dan cenderung berkompromi dengan partai politik dan aktor oligarki yang terkait dengan Warisan pasca otoriter sebagai gantinya (Brewin, 2002).

Dari data di atas tentu kita harus berpikir bagaimana meng- hadirkan jurnalisme politik dengan benar. Produk jurnalisme politik yang baik akan menghasilkan informasi sehat kepada khalayak. Kenyataannya, bagaimanapun, adalah bahwa media dalam demok rasi baru dan yang dipulihkan tidak selalu sesuai dengan cita-cita. Mereka tertatih-tatih oleh hukum yang ketat, kepemilikan monopoli, dan terkadang, ancaman kekerasan.

Kontrol negara bukan satu-satunya kendala. Pelaporan serius sulit dipertahankan di pasar media kompetitif yang meletakkan suatu keunggulan yang dangkal dan sensasional. Selain itu, media kadang-kadang digunakan sebagai proxy dalam pertempuran

Bab IV

Problem Jurnalisme Politik

antara kelompok politik yang bersaing, dalam proses menabur perpecahan daripada konsensus, ucapan kebencian, bukan debat yang menyedihkan, dan kecurigaan daripada kepercayaan sosial (Holmes, 1991). Dalam kasus ini, media berkontribusi pada sinisme publik dan pembusukan demokrasi.

Susah untuk memahami Indonesia kontemporer tanpa memahami bagaimana oligarki media bekerja. Pangkalnya, ia juga berefek pada pemberitaan media-media yang setiap hari dikonsumsi publik. Berita-berita semakin bias dan partisan dengan cara yang sedemikian dangkal. Contoh yang paling tampak bisa dilihat dalam pemberitaan pemilu 2014. Media yang terbelah menjadi cermin dari polarisasi masyarakat.

Kepemilikan media menjadi momok menakutkan dalam penggelolaan media di Indonesia. Kontestasi politik selalu mendatangkan kompetisi baru dalam penyelenggaraan media massa, namun sebenarnya sudah ada langkah pemerintah untuk membentuk Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang dibentuk untuk mengawasi pelaksanaan UU. No. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat dan bertanggungjawab langsung kepada Presiden.

Keberadaan KPPU ternyata belum menyentuh praktik usaha media massa. Selain itu, independensi jurnalis menjadi faktor penentu dalam pemberitaan politik di Indonesia. Jurnalis yang masih memiliki independensi pun serasa dihempaskan oleh kalangan mayoritas yang mendukung pola kapitalisme media, mengingat realitasnya banyak jurnalis yang hanya bisa pasrah atas situasi yang dia hadapi dalam kapasitasnya sebagai pekerja.

Belum lagi dinamika politik yang semakin tajam menjelang pemilu dengan munculnya faksi-faksi baru jurnalis yang berpihak pada golongan tertentu. Perkembangan ini diperparah dengan perubahan teknologi yang cepat seolah tanpa bisa dikendalikan oleh regulasi maupun regulator media.

Dalam dokumen IAIN KEDIRI PRESS 2018 (Halaman 173-179)