Bab III Struktur Jurnalisme Politik
C. Sistem Politik Indonesia
4. Dewan Kehormatan Penyelenggaran Pemilu (DKPP)
Dari prestasi yang baik dan dengan menampilkan performa kelembagaan DK KPU yang produktif di mata publik inilah yang kemudian menjadi titik tolak lahirnya institusi DKPP. Pemerintah, DPR, lembaga yudikatif dan lembaga-lembaga pemantau Pemilu sontak mendorong misi mulia ini dengan meningkatkan kapasitas wewenang dan memastikan institusi ini jadi tetap dan tidak hanya menangani kode etik pada KPU tapi juga Bawaslu di tiap tingkatan lewat produk hukum Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011 Tentang Penyelenggara Pemilu.
DKPP secara resmi lahir pada tanggal 12 Juni 2012 dengan komposisi keanggotaan yang cukup membanggakan. Lima anggota DKPP periode 2012-2017 ini terdiri dari tiga perwakilan unsur DPR yakni Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH., Nur Hidayat Sardini, S.Sos., M.Si., dan Saut Hamonangan Sirait, M.Th., sedangkan unsur pemerintah Prof. Abdul Bari Azed dan Dr. Valina Singka Subekti, serta dari unsur penyelenggara KPU dan Bawaslu, Ida Budhiati, SH., MH., dan Ir. Nelson Simanjuntak.
Track record kelimanya tidak diragukan, Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH., misalnya, sejak 2008-2011 jadi ketua DK KPU, Nur Hidayat Sardini pernah jadi ketua Panwas Provinsi terbaik di Indonesia, dan pernah pula jadi ketua Bawaslu, sedangkan Saut Hamonangan Sirait pernah jadi anggota Panwas Provinsi Jateng dan sempat jadi anggota KPU Pusat, sementara Dr. Valina Singka Subekti merupakan mantan anggota KPU 2004, dan Prof. Abdul Bari Azed beberapa kali jadi Dirjen Kemenkumham RI, dan Ida Budhiati mantan anggota KPUD Provinsi Jateng serta Nelson Simanjuntak sebelumnya aktif sebagai tenaga asistensi di Bawaslu.
Sejak dibentuk, DKPP langsung aktif bergerak cepat, kreatif, profesional, dan produktif, namun tetap dalam bingkai amanat UU.Kelimanya menyadari betul betapa jalan terjal yang harus dilalui mereka dalam rangka menegakkan harkat dan martabat politik bangsa khususnya melalui penyelenggaraan Pemilu. Mereka
juga berkomitmen terus meningkatkan kapasitas penyelenggara Pemilu dari dimensi SDM dan infrastruktur guna terwujudnya kualitas bangsa dalam berdemokrasi dengan tujuan menghasilkan pemimpin bangsa yang amanah
Pemilihan Umum (Pemilu) merupakan sarana perwujudan kedaulatan rakyat dengan tujuan untuk menghasilkan pemerintahan yang demokratis. Sebagaimana diamanatkan di dalam UUD 1945, Pemilu diselenggarakan dengan pijakan asas-asas Pemilu, yakni Langsung, Umum, Bebas, dan Rahasia, serta Jujur dan Adil (Luber dan Jurdil).
Agar dapat terwujud Pemilu sebagaimana harapan kita tersebut, maka Pemilu menyaratkan adanya penyelenggara Pemilu yang memiliki integritas yang tinggi, memahami, dan menghormati hak- hak sipil dan politik dari warga negara. Sebaliknya, penyelenggara Pemilu yang lemah, besar potensinya untuk menghambat terwujudnya Pemilu yang berkualitas. Penyelenggara Pemilu yang dimaksud adalah terdiri atas anggota KPU, anggota Bawaslu, dan segenap jajaran di bawahnya.
Suatu Pemilu baru akan diakui keabsahannya (legitimate) apa- bila memenuhi 3 (tiga) prasyarat integritas. Pertama, integritas pada proses tahapan-tahapan Pemilu. Kedua, integritas pada hasil-hasil Pemilu. Dan ketiga, integritas proses dan hasil sangat tergantung pula pada bagaimana integritas para pelaksana di lapangan atau penyelenggara Pemilu-nya. Ketiga prasyarat integritas tersebut harus berjalan secara simultan satu dengan lainnya.
Sebagaimana diamanatkan di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Penyelenggara Pemilu memiliki tugas menyelenggarakan Pemilu dengan kelembagaan yang bersifat nasional, tetap, dan mandiri. Untuk mencapai maksud tersebut, salah satu faktor penting bagi keberhasilan penyelenggaraan Pemilu terletak pada kesiapan dan profesionalitas Penyelenggara Pemilu itu sendiri, yakni KPU dan Bawaslu, sebagai
satu-kesatuan fungsi penyelenggaraan Pemilu. Kedua lembaga penyelenggara Pemilu tersebut telah diamanatkan oleh undang- undang untuk menyelenggarakan Pemilu menurut fungsi, tugas, dan wewenang masing-masing.
Di samping itu, dari para pembentuk undang-undang yakni DPR RI dan Pemerintah terungkap kehendak untuk terus memperbaiki penyelenggaraan Pemilu yang lebih baik dan berkualitas. Untuk maksud tersebut, maka sejak diundangkannya Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilu, dibentuklah suatu lembaga yang dikhususkan untuk mengimbangi dan mengawasi (check and balance) kinerja KPU dan Bawaslu dengan jajarannya. Nama lembaga dimaksud adalah Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu atau disingkat DKPP.
Dalam arti umum, DKPP memiliki tugas dan wewenang untuk menegakkan dan menjaga kemandirian, integritas, dan kredibilitas penyelenggara Pemilu. Secara lebih spesifik, DKPP dibentuk untuk memeriksa, mengadili, dan memutuskan pengaduan/
laporan dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan anggota KPU, anggota Bawaslu, dan jajaran di bawahnya.
Tugas DKPP adalah untuk: (1) menerima pengaduan/laporan dugaan pelanggaran kode etik oleh Penyelenggara Pemilu; (2) melakukan penyelidikan, verifikasi, dan pemeriksaan pengaduan/
laporan dugaan pelanggaran kode etik oleh Penyelenggara Pemilu;
(3) menetapkan Putusan; dan (4) menyampaikan Putusan kepada pihak terkait untuk ditindaklanjuti.
Sementara itu dalam rangka menjalankan tugas-tugasnya, DKPP memiliki kewenangan untuk: (1) memanggil penyelenggara Pemilu yang diduga melakukan pelanggaran kode etik untuk memberikan penjelasan dan pembelaan; (2) memanggil pelapor, saksi, dan/atau pihak-pihak lain yang terkait untuk dimintai keterangan termasuk dokumen atau bukti lain; dan (3) memberikan sanksi kepada penyelenggara Pemilu yang terbukti melanggar kode etik.
Menurut Ketua DKPP Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H., bahwa pentingnya etika di dalam penyelenggaraan Pemilu, mengingat etika Pemilu merupakan pangkal bagi perikehidupan kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan. Bahwa terbentuknya pemerintahan negara, baik di tingkat pusat maupun di daerah, terpilihnya para wakil rakyat dan wakil daerah, di seluruh jenjang, baik di tingkat pusat maupun di daerah, semuanya dimulai dan melalui proses Pemilu yang seharusnya beretika. Oleh karena itu penting artinya apabila Pemilu dilandasi dengan dasar etik yang jelas.Maka DKPP menjadi penting artinya karena tugasnya mengawal dasar-dasar etis atas terpilihnya para penyelenggara negara, kata Ketua dan pendiri Mahkamah Konstitusi (MK), menyatakan dalam suatu kesempatan.
Sejak dilantik pada 12 Juni 2012, DKPP telah merampungkan tugas-tugas awalnya.Demi menegakkan dan menjaga kemandirian, integritas, dan kredibelitas penyelenggara Pemilu, UU No 15 Tahun 2011 mengharus DKPP menyusun peraturan kode etik dan pedoman beracara. Bahwa pada 10 September 2012 lampau, kedua peraturan telah ditandatangani Ketua KPU, Ketua Bawaslu, dan Ketua DKPP, yang digelar di Kantor KPU, Jalan Imam Bonjol No 29 Jakarta Pusat.
Sekadar informasi, setiap rumusan dalam butir-butir kode etik dibahas, dirumuskan, dan disepakati antara KPU dan Bawaslu.
Pembahasannya juga melibatkan para pemangku kepentingan, dalam suatu Kelompok Kerja (Pokja) yang dibentuk DKPP. Anggota Pokja ini direkruit dari NGO pemantau Pemilu, akademisi, mantan anggota KPU dan Bawaslu, lembaga penegak etika profesi seperti Badan Kehormatan DPR RI, KPPU, KIP, Komisi Yudisial, Divisi Propam Mabes Polri, Bareskrim, MK, dan Kementerian Hukum dan HAM, di samping masukan dan konsultasi kepada publik, utamanya di Semarang dan Surabaya.
Untuk memenuhi ketentuan Pasal 121 ayat (2) UU No 15 Tahun 2011, peraturan kode etik dan pedoman beracara DKPP telah dikonsultasikan kepada DPR RI dan Pemerintah pada 4-5 September 2012 lampau. Dengan demikian, DKPP telah menunaikan tugasnya secara tepat waktu. Sejak dilantik per 12 Juni 2012, DKPP belum masuk tenggat waktu tiga bulan dari yang digariskan undang-undang.
Sistem politik di Indonesia ini menjadi menarik ketika dijadikan pemberitaan oleh media massa. Demokrasi di Indonesia mengenal pemilihan umum yang didalamnya terdapat partai politik. Komisi pemilihan umum sebagai penyelenggara pemilu tentu menjadi lembaga yang paling dicari oleh media sebagai sumber berita. Tahapan pencalonan Presiden dan Wakil Presiden beberapa waktu yang lalu misalnya, nampak sekali bagaimana media massa sangat konstruktif dalam menjadikan proses ini menjadi berita politik. Belum lagi perbedaan penafsiran tentang beberapa aturan pemilu yang dimaknai berbeda oleh KPU sebagai penyelenggara pemilu dan Bawaslu sebagai pengawas pemilu.
Proses perbedaan atas tafsir politik di atas seringkali menguntungkan bagi pemberitaan media. Artinya, ada nilai lebih jika fakta itu diungkap ke publik sebagai produksi jurnalistik sehingga jurnalisme politik pun menjadi dominan mempengaruhi khalayak. Beberapa pelanggaran proses politik yang dilakukan oleh penyelenggara pemilu oleh DKPP juga tak kalah menarik untuk dipublish menjadi sebuah headline berita politik pada media massa baik itu koran, radio, televisi maupun media online.