• Tidak ada hasil yang ditemukan

Daftar Pustaka

Dalam dokumen Pembangunan Daerah - Antara Isu dan Kebijakan (Halaman 184-189)

H. Penutup

I. Daftar Pustaka

Afifi, Mansur: Perbaikan Daya Dukung Perikanan. Dalam, Yustika, AE (ed): Menjinakkan Liberalisme, Revitalisasi Sektor Pertanian dan Kehutanan. Pustaka Pelajar Yogyakarta, 2005.

Arifin, Bustanul: Kemiskinan, Bank Dunia, dan Revitalisasi Pertanian.

Kompas, Senin, 11 Desember 2006.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas): Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan. Bappenas, 2005.

---: Laporan Pembangunan Manusia Indonesia 2004. BPS, Bappenas dan UNDP, 2004.

Badan Pusat Statistik (BPS): Beberapa Indikator Penting Sosial-Eko- nomi Indoneisa. BPS Jakarta, 2006.

Badan Pusat Statistik (BPS): Survei Sosial Ekonomi Nasional (SU- SENAS)Provinsi Nusa Tenggara Barat; Beberapa tahun. BPS Mataram.

Badan Pusat Statistik (BPS): Indikator Kesejahteraan Rakyat Nusa Tenggara Barat; Beberapa tahun. BPS Mataram.

Badan Pusat Statistik (BPS) NTB: Tinjauan Perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Barat 2007. BPS NTB, Mataram, 2008.

Bank Indonesia: Statistik Ekonomi Keuangan Daerah Nusa Tenggara Barat; September 2006. Bank Indonesia, Mataram NTB, 2006

Bank Indonesia: Kajian Ekonomi Regional Provinsi Nusa Tenggara Ba- rat, Triwulan III 2006. Bank Indonesia, Mataram NTB, 2006.

Bappeda Provinsi NTB: Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2008-2013 Provinsi NTB. Bappeda NTB, Ma- taram, 2009.

Pemerintah Daerah (Pemda) NTB: Laporan Keterangan Pertang- gungjawaban Gubernur Provinsi NTB periode 2003-2008. Mataram, 2008.

UNDP: Meneropong Kebutuhan Pencapaian MDGs NTB. UNDP, Ja- karta, 2007.

Yustika, Ahmad Erani: Negara vs. Kaum Miskin. Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2003.

BAB 8

Model Pengembangan Ekonomi Lokal

A. Pendahuluan

Kebijakan dan penerapan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia sejak tahun 2001 memberikan kesempatan sekaligus mendorong pemerintah daerah dan pemangku kepentingan (sta- keholders) lainnya melakukan berbagai inovasi terutama dalam me- lakukan penyusunan perencanaan pembangunan daerah dengan mengutamakan pemanfaatan potensi dan sumber daya yang di- miliki daerah. Selain itu, desentralisasi dan otonomi daerah diya- kini akan dapat memperbaiki kualitas pelayanan publik, mening- katkan kesejahteraan rakyat dan memupuk partisipasi dan de- mokrasi di tingkat lokal. Hal ini akan memberi peluang seluas-lu- asnya bagi tiap daerah untuk berkembang sesuai potensi alam dan sumber daya manusia yang ada di masing-masing daerah dan menciptakan suasana kompetisi antar daerah dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Namun demikian, upaya peningkatan kesejahteraan masyara- kat hingga saat ini belum menunjukkan hasil yang menggembira- kan. Indikator tingkat kesejahteraan seperti tingkat kemiskinan justru menunjukkan tren yang semakin menurun. Data Susenas 2006 menunjukkan bahwa pada tahun 2006 proporsi penduduk miskin di Indonesia adalah 17,75% (39,05 juta) dari total pendu-

duk sebanyak 222 juta. Angka ini meningkat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2005) di mana proporsi penduduk miskin adalah 15,87% (35,10 juta) dari total penduduk sebanyak 220 juta jiwa (Kompas, Sabtu 2 September 2006). Angka ini mengindikasikan bahwa berbagai program pengentasan kemis- kinan masih belum efektif sehingga hasil yang dicapai jauh dari harapan.

Kondisi yang sama terjadi di Nusa Tenggara Barat. Dengan menggunakan ukuran asupan 2100 kkal per kapita per hari, pada tahun 1990 jumlah penduduk miskin di NTB adalah 776.299 jiwa atau 23,18% dari total penduduk. Angka ini terus menurun hing- ga pada tahun 1996 jumlah penduduk miskin menjadi 653.026 atau 17,61% dari total penduduk. Akibat krisis ekonomi (1997/

1998), jumlah penduduk miskin di NTB mengalami peningkatan yang cukup besar tetapi kemudian mengalami penurunan pada tahun-tahun berikutnya. Jika pada tahun 2001 proporsi pendu- duk miskin sebesar 30,14% maka pada tahun 2004 turun menjadi 25,29% (1,03 juta jiwa) (RKPD 2007, 2006 dan Susenas, 2005).

Namun demikian, dengan menggunakan data yang dikumpulkan oleh program PKBS BBM8 dengan melakukan Pendataan Sosial Ekonomi Penduduk (PSEP) ditemukan bahwa jumlah keluarga miskin dan hampir miskin di NTB tercatat sebesar 1,99 juta jiwa atau 47,72% total penduduk (RKPD 2007, 2006). Angka tersebut bisa digunakan untuk melihat kecenderungan angka kemiskinan mengingat bahwa masyarakat yang memperoleh bantuan terse-

8 Dana yang dikumpulkan digunakan untuk penyaluran dana Bantuan Langsung Tunai kepada kelompok miskin dan rentan miskin.

but tidak hanya kelompok miskin tetapi juga kelompok yang ren- tan menjadi miskin.

Indikator lainnya yang mencakup aspek kesehatan, pendidik- an dan ekonomi yaitu indeks pembangunan manusia (human deve- lopment index/HDI) menunjukkan bahwa kualitas sumber daya manusia di NTB mengalami sedikit perbaikan namun masih lebih rendah dibandingkan dengan provinsi lainnya di Indonesia. Pada tahun 1999 angka HDI NTB sebesar 54 meningkat menjadi 57,8 pada tahun 2002 dan 62,4 pada tahun 2005 (Tolomundu, 2007).

Walaupun terjadi peningkatan angka HDI, peringkat NTB masih yang terendah yaitu 32 di antara 33 provinsi yang tercatat di Indo- nesia. Dari 10 kabupaten dan kota yang memiliki HDI terendah di Indonesia, tercatat tiga kabupaten di pulau Lombok masuk da- lam kategori tersebut yaitu kabupaten Lombok Timur, Lombok Barat dan Lombok Tengah, (UNDP, 2004).

Untuk mengatasi persoalan kemiskinan dan keterbelakangan tersebut diperlukan suatu sistem atau strategi yang tepat, efektif dan efisien diwujudkan dalam berbagai program pemberdayaan yang terpadu dan berkesinambungan. Program pemberdayaan hendaknya melibatkan masyarakat miskin sehingga aspirasi dan kebutuhan riil mereka dapat diakomodasi. Program pemberdaya- an (empowerment program) tidak hanya memberikan ikan dan pan- cing yang tidak dapat menjamin keberlanjutan program (lack of exit strategy) tetapi lebih dari itu, masyarakat dapat membuat ‘pan- cing’ sendiri, mampu menemukan ‘senar’ alternatif dan berhasil membangun kolam sendiri. Hal pertama yang harus dilakukan adalah meyakinkan mereka bahwa mereka dapat keluar dari jerat kemiskinan sehingga mereka mulai berpikir bahwa kemiskinan

adalah titik awal menuju kesejahteraan yang didambakan. Peng- embangan ekonomi lokal (PEL) sebagai sebuah strategi pengen- tasan kemiskinan memandang masyarakat miskin sebagai aset yang berpotensi menjadi kekuatan besar dalam memacu perkem- bangan ekonomi daerah jika potensi insaniahnya dapat dimobili- sasi dan dikembangkan. Pengalaman yang diperoleh dalam mela- kukan pemberdayaan masyarakat dengan pendekatan PEL di ka- bupaten Dompu NTB yang relatif berhasil meningkatkan kese- jahteraan masyarakat pembudidaya rumput laut dapat dijadikan pelajaran yang berharga (lessons learned) untuk kemudian direplika- sikan dalam pengembangan ekonomi lokal di Nangroe Aceh Da- russalam dengan mengembangkan komoditas unggulan setem- pat.

Bab ini membahas beberapa hal berkaitan dengan upaya pem- berdayaan masyarakat melalui PEL, dimulai dari konsep dan pengertian PEL, pendekatan PEL, elemen strategi PEL, prinsip operasional PEL, forum PEL dan diakhiri dengan studi kasus pengembangan budidaya rumput laut di kabupaten Dompu NTB. Studi kasus ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi dan memahami faktor-faktor pendukung berkembangnya usaha bu- didaya rumput laut dan pengaruhnya terhadap pengentasan ke- miskinan.

B. Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL)

Dalam dokumen Pembangunan Daerah - Antara Isu dan Kebijakan (Halaman 184-189)