Pemerintah Daerah NTB menempatkan persoalan kemiskin- an - di samping kesehatan dan pendidikan - sebagai isu utama da- lam kebijakan umum pembangunan daerah sebagaimana ter- tuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) NTB 2003-2008. Komitmen pemerintah untuk me- nanggulangi masalah kemiskinan juga diwujudkan dalam Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD) NTB tahun 2004- 2009. Setiap tahun, kebijakan umum pem-bangunan yang ter- maktub dalam RPJMD dijabarkan dalam Rencana Kerja Peme- rintah Daerah (RKPD) NTB di mana penanggulangan kemiskin- an dan pengurangan kesenjangan menjadi prioritas pertama pen- capaian target kinerja tahunan.
Kebijakan penanggulangan kemiskinan dan pengurangan ke- senjangan ditempuh melalui beberapa program antara lain pe- menuhan kebutuhan masyarakat miskin, penanganan gizi buruk, revitalisasi pelayanan keluarga berencana dan kesehatan ibu, dan perbaikan sistem bantuan dan jaminan sosial. Selain itu, peme- rintah mencanangkan program peningkatan kesempatan kerja,
investasi dan ekspor serta program revitalisasi pertanian, perikan- an, kehutanan dan perdesaan.
Pemerintah daerah dan lembaga swadaya masyarakat telah be- kerja sama melaksanakan berbagai program pemberdayaan ma- syarakat dalam rangka peningkatan kesejahteraan dan penang- gulangan kemiskinan. Semua pemerintah daerah beserta satuan kerja perangkat daerah (SKPD) baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota mempunyai program penanggulangan kemiskin- an dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Sebagai contoh, dalam rencana kerja pemerintah daerah (RKPD) provinsi NTB tahun 2007 pemerintah daerah telah me- rencanakan program pemenuhan kebutuhan masyarakat miskin yang terdiri dari: Pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir; Pe- nyempurnaan administrasi badan hukum koperasi; Penanggu- langan daerah rawan pangan; Pelatihan proses produksi bagi pondok pesantren binaan; Diklat keterampilan teknik produksi bagi UKM; Bimbingan penerapan Gugus Kendali Mutu; Bantuan modal usaha; Fasilitator TOT Good Manufacturing Practice bagi usa- ha kecil menengah (UKM) pangan; Bantuan mesin dan peralatan bagi UKM; Bantuan mesin pengolah minyak jarak; Bantuan mesin pengolah kelapa terpadu (kopra, sabut kelapa, dan tempu- rung); Pengembangan perumahan dan pemukiman; Penyediaan air bersih pedesaan dan perkotaan; dan Peningkatan sarana dan pra-sarana bagi masyarakat miskin.
Selain itu, dalam upaya menang-ani masalah kurang gizi, pe- merintah telah mencanangkan beberapa kegiatan yaitu pemben- tukan dewan ketahanan pangan, pemantauan dan analisis situasi
pangan, penanggulangan kekurangan yodium pada anak dan pemberian makanan tambahan untuk anak.
Program penanggulangan kemiskinan yang sedang dilaksana- kan oleh pemerintah daerah provinsi NTB saat ini adalah Ger- bang E-mas Bangun Desa. Program ini bertujuan mempercepat pembangunan di NTB dengan menggunakan dua pendekatan ya- itu pendekatan penguatan kelembagaan dan pengembangan ko- moditi. Penguatan kelembagaan dimaksudkan untuk memper- kuat Lembaga Desa sebagai pelaksana program pelayanan kepada masyarakat. Satuan pelaksana (Satlak) desa yang ada saat ini akan diperluas keanggotaannya di samping lembaga dan aparat desa juga akan ditambah dengan tokoh informal/masyarakat.
Selain Satlak Desa, program ini juga membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). BUMDes berfungsi sebagai badan oto- nom yang bekerja secara profesional membina semua aktivitas produktif yang dilakukan oleh masyarakat menjadi aktivitas bis- nis. Oleh karena itu, kelembagaan BUMDes dilengkapi dengan unit pembiayaan dan unit pembinaan usaha. Pendekatan komo- diti dilakukan melalui strategi pengembangan perkebunan, kehu- tanan, dan peternakan dengan penyiapan bibit tanaman bernilai tinggi berbasis masyarakat serta penyiapan industri pakan, teruta- ma sapi.
Lebih dari itu, bekerja sama dengan lembaga internasional – dengan memanfaatkan utang dan/atau hibah – dilakukan prog- ram penanggulangan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat lainnya, seperti Program Pengembangan Kecamatan (PPK), Pro- gram Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP), Program Pemberdayaan Masyarakat untuk Pembangunan Desa (P2MPD)
dan program-program penguatan Lembaga Keuangan Mikro dan Usaha Koperasi melalui program Bantuan Dana Ber-gulir. Sejak tahun 2001 pemerintah melaksanakan program Beras Untuk Ke- luarga Miskin (Raskin). Program ini bertujuan menyediakan beras bersubsidi bagi keluarga miskin guna meringankan beban mereka dalam memenuhi kebutuhan pangan pokok. Sejak tahun 2005, pemerintah juga mengeluarkan program Bantuan Langsung Tu- nai (BLT) – yang saat ini menjadi BLT Terbatas - sebagai bagian dari Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPS-BBM) (UNDP, 2007).
Pemerintah daerah Kota Mataram mengembangkan strategi pengentasan kemiskinan dengan melibatkan masyarakat melalui mekanisme yang disebut MPBM (Musyawarah Pembangunan Berbasis Masyarakat). Kegiatan musyawarah ini dilakukan mulai level kelurahan hingga kota. Selain itu, agar program pengentasan kemiskinan dapat dilaksanakan dengan efektif dan efisien, maka proses perencanaan dilakukan dengan pendekatan perencanaan tindakan bersama masyarakat (community action plan) atau CAP.
CAP adalah instrumen atau teknik untuk merangsang proses pe- rencanaan dengan keterlibatan aktif penduduk dari level RT/RW atau lingkungan.
Hasil proses tersebut adalah rencana tindakan bersama masya- rakat yang berorientasi pada hasil, berjangka waktu, menunjuk pelaksana kegiatan, serta strategi pada pelaksanaan yang disepa- kati oleh seluruh pihak. CAP berfungsi memberikan kerangka partisipatif dari pihak-pihak yang berkepentingan, seperti wakil pemerintah daerah, organisasi swasta, atau individu yang mem- punyai dinas dalam mengontrol/menguasai sumber daya, serta
LSM dan asosiasi profesi dari berbagai disiplin dan kegiatan usa- ha yang mempunyai minat di lingkungan tertentu sehingga dapat memberikan bimbingan dan bantuan teknis.
Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, peme- rintah daerah provinsi Gorontalo menetapkan tiga strategi pem- bangunan yaitu: Pertama, menciptakan budaya kerja yang inovatif (innovative), kerjasama tim (teamwork), kepercayaan (trust), kesejah- teraan masyarakat (community welfare), dan cepat (sprint). Kedua, mengembangkan program pokok unggulan yang terdiri dari pengembangan sumber daya manusia, pengembangan budidaya tanaman jagung, pembangunan prioritas sektor perikanan dan kelautan. Ketiga, sinkronisasi perencanaan dengan penganggaran melalui realokasi sumber daya finansial (APBD) yang dominan untuk mendukung program pokok unggulan.
Pemerintah daerah Kabupaten Sumbawa Barat mencanang- kan program sejuta pohon. Setiap rumah tangga harus menanam 10 pohon agar dibebaskan dari biaya pendidikan dan pelayanan kesehatan. Selain itu, pemerintah daerah juga telah mencanang- kan program wajib belajar 12 tahun, program pembangunan ber- basis RT (rukun tetangga) dan Sistem Informasi Orang Susah (SIOS). Semua program ini dimaksudkan untuk mempercepat proses peningkatan kesejahteraan masyarakat sehingga dapat me- ngurangi jumlah penduduk miskin.
Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) Universitas Mata- ram telah melakukan uji coba pembelajaran primer pada tiga bi- dang yaitu bidang ekonomi (kelompok tani sekitar hutan), pendi- dikan (SMP, PP, SMK), dan kesehatan (Puskesmas Tanjung dan Puskesmas Kediri). Kegiatan yang dilakukan dimulai dari pelatih-
an kelompok sasaran di level desa dan kecamatan. Setelah selesai pelatihan, kelompok sasaran membentuk kelompok pembelajar- an masyarakat (community learning) di level desa. Kelompok pem- belajaran masyarakat ini kemudian melakukan dialog bersama (community dialogues) baik di level desa maupun di level dusun. Pe- serta dialog terdiri dari kepala-kepala dusun, kader, tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat lainnya. Melalui dialog yang dila- kukan secara terus-menerus dihasilkan berbagai kesepakatan yang kemudian direalisasikan melalui tindakan sosial (collective action). Beberapa hasil dari tindakan bersama ini antara adalah membangun kantor desa, membangun tempat mandi, cuci, dan kakus (MCK), dan menjaga hutan dari aktivitas perambahan hu- tan ilegal (illegal logging) di desa Teniga.
Di desa Sigar Penjalin masyarakat melakukan pengerasan jalan setapak dengan semen untuk memfasilitasi ibu-ibu yang akan berkunjung ke Polindes/Posyandu. Selain itu, masyarakat mem- bangun pipa air bersih 7.012 m dan bak penampungan air (3x2x1,5m), menyewa kantor untuk Polindes, dan membentuk arisan yang dihajatkan untuk membantu kegiatan Posyandu.
Kegiatan sosial yang dilakukan masyarakat secara bersama- sama di desa Sokong adalah membangun “berugaq”’ untuk mem- fasilitasi dialog, membersihkan lingkungan 2 kali seminggu, dan memfasilitasi kegiatan posyandu. Di samping itu, masyarakat membentuk kelompok-kelompok untuk membantu pendidikan dan kesehatan di beberapa dusun.