• Tidak ada hasil yang ditemukan

itu, hampir setengahnya (49,9%) digunakan untuk belanja pega- wai.

Lebih jauh, dari total 15 sampel proyek kesehatan untuk tahun 2006 senilai 21 milyar (Tabel 5), hampir tidak ada kaitannya dengan orang miskin. Ini menunjukkan bahwa kebijakan peng- anggaran belum konsisten dengan perencanaan sehingga priori- tas program di bidang kesejahteraan rakyat hanya sebatas sebagai hiasan dokumen perencanaan. Akibatnya, kinerja pembangunan yang diukur dengan IPM masih jauh dari harapan dan ini sekali- gus menunjukkan kualitas manajemen pemerintah daerah yang belum optimal.

Keberpihakan anggaran pemerintah terhadap rakyat miskin masih sangat memprihatinkan. Dari 16 sampel proyek kesehatan untuk kaum miskin pada tahun 2006, besaran anggaran yang dialokasikan sangat minim yaitu kurang dari 5% dari total ang- garan Dinas Kesehatan sebesar Rp 72,11 milyar (lihat Tabel 6).

Sementara itu, tunjangan kesehatan dan pengobatan 55 orang anggota DPRD mendapatkan alokasi anggaran sebesar Rp 990 juta, dan tunjangan kesehatan dan pengobatan Gubernur dan Wakil Gubernur adalah sebesar Rp 1,08 milyar per tahun.

Bandingkan dengan anggaran yang dialokasikan untuk peningkatan pelayanan rumah sakit kusta dan fogging massal yang hanya memperoleh anggaran secara berturut-turut sebesar Rp 10 juta dan Rp 329,9 juta.

ABK merupakan pendekatan yang tepat digunakan dalam penyusunan kebijakan publik khususnya kebijakan penganggaran karena ABK memberikan arah dan tujuan yang hendak dicapai secara konkrit. ABK semakin mendapatkan momentumnya keti- ka pembangunan daerah dihajatkan untuk meningkatkan kese- jahteraan masyarakat secara bersama-sama berlandaskan keadilan sosial. Oleh karena itu, menjadi tugas bersama seluruh elemen masyarakat untuk mendorong pemerintah menerapkan ABK da- lam proses penyusunan dan pengimplementasian APBD agar menjadi APBD yang efektif, efisien, dan memiliki nilai tambah.

Selain itu, agar tata kelola pemerintahan yang baik dan amanah (good governance) dapat terselenggara maka pemahaman terhadap anggaran secara umum, teknik analisis anggaran dan pemahaman terhadap celah-celah kebocoran mutlak diketahui dan dipahami tidak hanya oleh aparat penyelenggara negara tetapi juga oleh pa- ra praktisi, pemerhati dan pihak lain yang berkepentingan terha- dap sektor publik. Tujuannya adalah agar mereka (baca: elemen- elemen masyarakat sipil) dapat mengawal dan mengontrol pelak- sanaan kebijakan publik khususnya kebijakan penganggaran (APBD) sehingga sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai dengan hasil yang optimal.

Daftar Pustaka

Adler, Mortimer J, 1982: Six Great Ideas. New York, Touchstone.

Anggoro Dewo, Setio, 2002: Anggaran Berbasis Kinerja, Bahan Pela- tihan Regional Office Management BPK-RI, Jakarta.

Asian Development Bank dan The Asia Foundation, 2006: Pan- duan Analisis dan Advokasi Anggaran Pemerintah Daerah di Indo- nesia. ADB dan Asia Foundation, Jakarta.

Badan Pusat Statistik (BPS): Beberapa Indikator Penting Sosial-Eko- nomi Indoneisa. BPS Jakarta, 2006.

Departemen Dalam Negeri, Sekretariat Jenderal, 2001: Himpunan Peraturan Berkenaan dengan Otonomi Daerah, Jakarta.

Dollery, Brian E, dan Wallis, Joe L, 2001: The Political Economy of Local Government; Leadership, Reform and Market Failure. Edwar Edgar UK dan USA.

Dwiyanto, Agus (Ed), (2006): Mewujudkan Good Governance Melalui Pelayanan Publik. Edisi Revisi. JICA, UGM Press, Yogyakarta.

Kuntadi, Cris, 2003: Analisis Anggaran Berbasis Kinerja. Makalah di- sampaikan dalam Lokakarya Nasional Kinerja Pemerintah dan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah. Hotel Wisata Jakar- ta, 22 – 24 Januari 2003.

Pemerintah Daerah (Pemda) NTB, 2004: Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah tahun Anggaran 2005. Pemda NTB, Mataram.

---, 2005: Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah tahun Anggaran 2006. Pemda NTB, Mata- ram.

---, 2006: Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur Nusa Tenggara Barat tahun 2005.

Pemda NTB, Mataram.

Pemerintah Republik Indonesia, 2000: PP No. 105 Tahun 2000 tentang Anggaran Berbasis Kinerja. Sekretariat Negara RI, Yakar- ta.

Syahroza, Achmad, 2002: Analisa Laporan Keuangan, Bahan Pelatih- an Regional Office Management BPK-RI, Jakarta.

WWF, “Dinamika Hubungan Kemiskinan dan Pengelolaan Sumberdaya Alam Pulau Kecil; Kasus Pulau Kecil”, WWF Indonesia, Program Nusa Tenggara, 2005.

Yustika, Ahmad Erani, 2003: Negara vs. Kaum Miskin. Pustaka Pe- lajar Yogyakarta, 2003.

BAB 5

Pengelolaan Pendapatan Asli Daerah (PAD)

A. Pendahuluan

Kebijakan dan penerapan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia sejak tahun 2001 memberikan kesempatan sekaligus mendorong pemerintah daerah dan pemangku kepentingan (sta- keholders) lainnya melakukan berbagai inovasi terutama dalam me- lakukan penyusunan perencanaan pembangunan daerah dengan mengutamakan pemanfaatan potensi dan sumber daya yang di- miliki daerah.

Selain itu, desentralisasi dan otonomi daerah diyakini akan da- pat meningkatkan kesejahteraan rakyat dan memupuk partisipasi dan demokrasi di tingkat lokal. Peningkatan kesejahteraan masya- rakat dapat dilakukan melalui peningkatan pelayanan publik, pemberdayaan dan peran serta masyarakat, pembangunan dae- rah, peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prin- sip demokrasi, pemerataan dan keadilan, keistimewaan atau ke- khususan suatu daerah dalam sistem NKRI. Dengan demikian, daerah mempunyai peluang seluas-luasnya untuk berkembang se- suai potensi alam dan sumber daya manusia yang ada di masing- masing daerah dan menciptakan suasana kompetisi antar daerah dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Selain itu, dengan otonomi daerah pemerintah kabupaten/ko- ta diberi keleluasaan untuk mencari sumber-sumber dana pem- bangunan daerah. Tumpuan harapannya adalah penggalian dan pengoptimalisasian Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun de- mikian, tidak semua daerah memiliki potensi PAD yang besar se- hingga dana perimbangan masih menjadi sumber utama pembia- yaan pembangunan di daerah. Di samping itu, berbagai persoalan terkait dengan manajemen PAD menyebabkan penerimaan pe- merintah daerah dari sektor ini kurang optimal. Oleh karena itu, diperlukan suatu terobosan dan strategi yang handal untuk meng- erek penerimaan daerah yang bersumber dari PAD.

Bab ini akan menganalisis persoalan yang berkaitan dengan PAD khususnya di kabupaten Sumbawa serta mengajukan bebe- rapa strategi guna meningkatkan nilai PAD. Pembahasan dimulai dengan melihat format dan struktur (postur) Anggaran Penda- patan dan Belanja Daerah (APBD), Pendapatan Asli Daerah (PAD), dan peluang optimalisasi PAD. Selain itu, juga disajikan studi kasus tentang strategi peningkatan PAD kota Palembang setelah penyelenggaraan PON XVI 2004. Studi kasus ini diharap- kan dapat memberikan gambaran tentang persoalan serta bebera- pa solusi alternatif yang ditawarkan untuk meningkatkan PAD kota Palembang yang kiranya dapat diterapkan di tempat lain ter- masuk juga di kabupaten Sumbawa.

Dalam dokumen Pembangunan Daerah - Antara Isu dan Kebijakan (Halaman 112-117)