• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil-Hasil yang Dicapai

Dalam dokumen Pembangunan Daerah - Antara Isu dan Kebijakan (Halaman 151-156)

tersebut dapat diatasi. Perubahan akan terjadi selama dalam pro- ses dialog rekognitif dan aksi bersama yang menyangkut per- ubahan individu, masyarakat dan institusi di mana individu pem- belajar tersebut berada.

tunjukkan dari meningkatnya jumlah kunjungan ke posyandu.

Komunikasi dan koordinasi antara Puskesmas dengan aparat de- sa menjadi semakin lancar. Dalam berdialog, anggota core team menjadi pendengar yang lebih baik. Mereka terbiasa dengan kri- tikan, kurang defensif, lebih terbuka, dan mampu melihat setiap orang dalam posisi kesejajaran dengan dirinya.

Pada level individu juga terjadi perubahan yang cukup signifi- kan. Mereka menjadi pribadi yang lebih ramah, lebih sabar, dan lebih terbuka. Mereka juga menjadi lebih bisa mendengar dan menerima kritikan. Para bidan desa menunjukkan perangai yang lebih ramah terhadap pasien, lebih terampil mengkoordinasikan aktivitas mereka dengan pihak-pihak terkait, dan lebih aktif serta lebih kreatif. Selain itu, para kepala desa kini memberikan perha- tian dan keterlibatan yang lebih besar pada masalah-masalah ke- sehatan seperti pemberian insentif untuk para kader, ikut mem- biayai posyandu, dan menggerakkan masyarakat untuk datang ke Posyandu.

Pada level institusi kesehatan, Puskesmas misalnya, telah terja- di perubahan-perubahan yang signifikan. Suasana kerja di Pus- kesmas semakin kondusif, lebih transparan dalam pengelolaan keuangan, dan muncul tim kerja yang lebih kuat. Pada aspek kebi- jakan terjadi perubahan di mana Puskesmas mau melakukan pe- ngembangan staf (capacity building) dan realokasi anggaran untuk menunjang kegiatan Puskesmas dan para stafnya. Pada level Pos- yandu, misalnya, tenaga kesehatan menjadi lebih kreatif dalam menggalang partisipasi masyarakat dengan melakukan berbagai inovasi seperti mengadakan arisan bagi ibu hamil dan menyusui,

menyantuni para kader, dan melakukan kunjungan ke rumah sa- saran.

Perubahan yang terjadi pada level masyarakat ditandai dengan muncul forum-forum dialog di level desa dan dusun. Forum dia- log ini muncul setelah diadakan pelatihan pembelajaran primer di level desa yaitu pada tanggal 9-10 Februari 2005 di desa Tanjung.

Anggota atau peserta dari forum dialog di level desa ini adalah kepala desa, kepala-kepala dusun, kader, dan tokoh masyarakat.

Mereka mulai mempercayai dialog sebagai kekuatan untuk meng- atasi persoalan bersama. Dari dialog yang dilakukan secara inten- sif muncul ide untuk mengembangkan badan amil zakat, infaq, dan sedekah (BAZIS), banjar sehat, banjar sekolah, TAPAS (Ta- man Pendidikan Anak Sholeh), dan lain-lain.

Di desa Teniga, misalnya, masyarakat secara bergotong ro- yong membangun kantor desa berlantai 2. Selain itu, masyarakat juga membangun fasilitas MCK (mandi, cuci, dan kakus) secara swadaya. Terakhir, masyarakat bersepakat melakukan penjagaan hutan untuk mencegah terjadinya illegal logging (perambahan hutan secara tidak sah). Kesepakatan tersebut muncul karena masyara- kat merasakan bahwa hutan desa yang ada harus dijaga mengingat arti pentingnya lingkungan yang baik bagi kehidupan bersama.

Di desa Sigar Penjalin, masyarakat melakukan pengerasan ja- lan setapak dengan semen untuk memfasilitasi ibu-ibu yang akan berkunjung ke Polindes atau Posyandu. Selain itu, masyarakat membangun pipa air bersih 7.012 m dan bak penampungan air (3x2x1,5m), menyewa kantor untuk Polindes, dan membentuk arisan yang dihajatkan untuk membantu kegiatan posyandu. Juga masyarakat bersepakat untuk membayar iuran dana sehat secara

teratur guna membantu masyarakat yang dalam kesulitan untuk membayar biaya pengobatan.

Kegiatan sosial yang dilakukan masyarakat secara bersama-sa- ma di desa Sokong adalah membangun “berugaq”’ untuk memfa- silitasi dialog, membersihkan lingkungan 2 (dua) kali seminggu, dan memfasilitasi kegiatan posyandu. Di samping itu, masyarakat membentuk kelompok-kelompok untuk membantu pendidikan dan kesehatan di beberapa dusun seperti banjar4 sehat, TAPAS, dan banjar sekolah.

Salah satu hasil yang signifikan dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan di desa Kediri adalah adanya kesepakatan melaku- kan diversifikasi dan realokasi dana BAZIS. Selama ini, dana BAZIS dipergunakan untuk menyantuni fakir miskin pada waktu tertentu saja. Setelah pembelajaran primer masyarakat berupaya melakukan reformasi terkait dengan penggunaan dan alokasi da- na BAZIS sehingga dana BAZIS dapat dibelanjakan dalam ber- bagai bentuk sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dana BAZIS kemudian dialokasikan untuk pembangun 1 (satu) lokal Polindes, beasiswa untuk anak sekolah dari keluarga miskin, dan santunan untuk anak yatim dan orang tua jompo. Selain itu, dana BAZIS diperuntukkan untuk menunjang program pemberian makanan tambahan (PMT) untuk Balita, bantuan modal bagi pedagang ba- kulan, perbaikan fasilitas-fasilitas umum seperti perbaikan mu-

4 Banjar adalah institusi yang bangun oleh masyarakat dimana anggota banjar tersebut bersepakat untuk memberikan kontribusi kepada anggota yang membutuhkan bantuan pada saat tertentu. Banjar sekolah, misalnya, setiap anggota banjar berkewajiban membantu anggota yang membutuhkan dana untuk membayar biaya sekolah anaknya pada periode waktu yang disepakati.

sholla, dan pemagaran kubur, serta perbaikan rumah bagi warga miskin.

F. Penutup

Hasil uji pembelajaran primer yang dilakukan di 2 (dua) keca- matan dalam waktu yang cukup lama memberikan pelajaran yang sangat berarti (lesson learned) terutama terkait dengan pembangun- an pedesaan khususnya kesehatan. Pembangunan apapun yang dilakukan di level grass root tidak akan berhasil tanpa partisipasi masyarakat. Oleh karena itu, partisipasi masyarakat merupakan prasyarat (pre requirement) bagi keberhasilan pembangunan. Hasil kajian empiris dan kaji tindak (research action) menyimpulkan bah- wa partisipasi masyarakat akan dapat ditumbuhkan apabila ada kesepahaman dan kesaling-berterimaan di antara para pemangku kepentingan.

Kesepahaman dan sikap saling berterima dapat diwujudkan melalui dialog terus-menerus yang dilakukan dengan penuh keju- juran dan keikhlasan dalam rangka membangun nilai-nilai kebe- naran yang diterima secara bersama. Dari kesepahaman tersebut dan melalui aktivitas dialog muncul kesepakatan bersama yang kemudian diwujudkan dalam aksi bersama. Berbagai kesepakatan bersama yang dihasilkan tersebut pada akhirnya dihajatkan untuk memenuhi kebutuhan bersama.

Partisipasi masyarakat muncul setelah terjadi perubahan di le- vel individu akibat dari aktivitas dialog yang dilakukan secara te- rus-menerus dengan dilandasi oleh kejujuran dan keikhlasan.

Agar program pembangunan kesehatan yang dilaksanakan oleh pemerintah berhasil maka pembelajaran primer harus diberikan

terlebih dahulu sebelum berbagai kegiatan yang bersifat teknis di- laksanakan. Dengan demikian, pembelajaran primer harus men- jadi bagian yang inheren (tidak terpisahkan) dari setiap program pembangunan yang dicanangkan agar tercapai efektivitas, efisien- si, dan keberlanjutan program.

Dalam dokumen Pembangunan Daerah - Antara Isu dan Kebijakan (Halaman 151-156)