Dalam referensi ilmu sosial, keadilan sesungguhnya tidak ber- kaitan langsung dengan perbuatan baik individu kepada orang lain, seperti perbuatan-perbuatan yang didasari oleh kasih sayang dan cinta, tetapi berkaitan dengan pemenuhan apa yang seharus- nya diterima oleh orang lain, baik karena hak-haknya, atau karena ia harus diperlakukan secara adil. Jadi, keadilan terdiri dari bebe- rapa dimensi (Adler, 1982) yaitu: Pertama, keadilan atau ketidak- adilan berkaitan dengan hak-hak individu. Hak-hak individu
adalah hak-hak yang di turunkan (derived) dari kebutuhan alami- nya sebagai manusia yaitu kebutuhan-kebutuhan yang secara in- heren melekat pada diri setiap individu. Individu akan berkem- bang dan mengalami kesempurnaan hanya apabila kebutuhan-ke- butuhan alaminya itu terpenuhi dengan baik; sebaliknya, perkem- bangan dan kesempurnaan dirinya akan terhambat bila kebutuh- an-kebutuhan alami tidak terpenuhi dengan baik. Usaha-usaha orang lain, baik sendiri maupun secara institusi, langsung mau- pun tidak langsung, yang menghambat, apalagi meniadakan ke- mungkinan bagi individu lain untuk memenuhi kebutuhan aza- sinya, adalah pelanggaran terhadap hak-hak alami individu terse- but.
Kedua, keadilan yang berkaitan dengan aspek distributif ada- lah perlakuan terhadap individu atau kelompok yang dikaitkan dengan individu atau kelompok lain. Keadilan, dilihat dari kaca- mata ini, memiliki makna relasional, dan tidak terkait dengan per- lakuan terhadap individu secara tersendiri. Dimensi keadilan ini berkaitan dengan ada tidaknya perlakuan diskriminatif yang dila- kukan terhadap kelompok tertentu, relatif dibandingkan dengan perlakuan terhadap kelompok-kelompok lain.
Ketiga, keadilan yang berkaitan dengan aspek kontributif. As- pek ini berkaitan dengan perlakuan seseorang atau institusi yang mempunyai pengaruh terhadap komunitas secara keseluruhan, dan tanpa mempengaruhi seseorang secara langsung. Seorang pe- jabat yang korup, misalnya, akibat tindakannya itu, tidak mem- pengaruhi orang-orang tertentu secara langsung, tetapi mempu- nyai dampak negatif terhadap kesejahteraan komunitas secara keseluruhan. Contoh lain, policy tertentu pemerintah bisa ber-
pengaruh terhadap kemaslahatan (atau sebaliknya) orang banyak, tanpa secara spesifik diarahkan pada kemaslahatan orang per orang.
Dengan demikian, maka seluruh kebijakan publik yang dike- luarkan pemerintah yang menyangkut hajat hidup orang banyak haruslah berdimensi keadilan sosial. Kebijakan publik harus membawa manfaat bagi kemaslahatan masyarakat secara keselu- ruhan tanpa diskiriminasi. Seluruh kebijakan publik, dengan de- mikian, harus bermuara pada terwujudnya kesejahteraan masya- rakat terutama masyarakat miskin dan termarjinalkan sehingga terhindar dari perangkap kemiskinan, derajat kesehatannya me- ningkat, serta dapat mengakses layanan pendidikan yang disedia- kan publik. Akses terhadap ketiga aspek tersebut merupakan hak asasi manusia yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945, dan oleh karena itu negara wajib memfasilitasi warganya untuk mendapatkan hak-hak tersebut.
Hak Asasi Manusia dalam UUD 1945:
n Hak sosial dan ketahanan pangan
v Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan peng- hidupan yang layak bagi kemanusiaan. Pasal 27 (2).
v Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi se- luruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang le- mah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanu- siaan. Pasal 34 (2).
n Hak terhadap rasa aman
v Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak memper- tahankan hidup dan kehidupannya. Pasal 28A.
v Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari ke- kerasan dan diskriminasi. Pasal 28B (2).
v Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, ke- luarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi.
Pasal 28G (1).
v Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memung- kinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai ma- nusia yang bermartabat. Pasal 28H (3).
n Hak asasi manusia dimiliki secara sama oleh setiap tanpa memandang kedudukan dan strata sosialnya.
n Hak terhadap Pendidikan
v Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pe- menuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendi- dikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan umat manusia. Pasal 28C (1).
v Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Pa- sal 31 (1).
v Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Pasal 31 (2).
n Hak terhadap Kesehatan
v Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, ber- tempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik, dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan ke- sehatan. Pasal 28H (1).
v Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pe- layanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Pasal 34 (3).
Perhatian terhadap hak azasi manusia terutama terkait dengan pemenuhan kebutuhan dasar semakin mendapatkan momentum ketika menengok kondisi riil tingkat kesejahteraan masyarakat di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Kondisi kesejahteraan ma- syarakat NTB relatif terkebelakang dibandingkan dengan daerah- daerah lainnya di Indonesia. Hal ini terlihat dari berbagai indika-
tor kesejahteraan seperti gizi buruk, indikator kesehatan, kemis- kinan, pendidikan dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Ka- sus gizi buruk dan busung lapar, misalnya, mencapai 10% dari total anak balita. Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) di NTB menunjukkan bahwa terdapat 498.000 anak balita dan 49.000 di antaranya menderita gizi buruk atau bahkan busung la- par. Angka ini jelas lebih tinggi dibandingkan dengan angka rata- rata nasional yang mencapai 8%. Jumlah anak usia 0-4 di Indo- nesia tahun 2005 berdasarkan proyeksi penduduk yang disusun Badan Pusat Statistik mencapai 20,87 juta. Itu berarti, pada tahun 2005 jumlah anak balita yang menderita gizi buruk dan busung lapar adalah 1,67 juta (Kompas, 27-5-2005).
Indikator kesehatan khususnya di pulau Lombok menunjuk- kan situasi yang memprihatinkan. Data resmi menunjukkan bah- wa angka kematian bayi (AKB) per kabupatan di pulau Lombok pada tahun 1999 adalah tertinggi di Indonesia yaitu 78,18 per 1.000 kelahiran hidup. Angka ini menurun menjadi 72,5 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2005 sementara di tingkat nasional angka kematian bayi hanya 45 per 1000 kelahiran hidup. Estimasi angka kematian ibu (AKI) melahirkan pada tahun 1997 adalah 390 per 100.000 persalinan. Angka ini sedikit lebih tinggi diban- dingkan dengan rata-rata nasional sebesar 370 per 100.000 kela- hiran hidup. Ketika AKI di NTB menurun menjadi 370 per 100.000 persalinan pada tahun 2005, AKI nasional sudah menca- pai angka 307 per 100.000 persalinan.
Dengan menggunakan ukuran asupan 2100 kkal per kapita per hari, pada tahun 1990 jumlah penduduk miskin di NTB adalah 776.299 jiwa atau 23,18% dari total penduduk. Angka ini terus
menurun hingga pada tahun 1996 jumlah penduduk miskin men- jadi 653.026 atau 17,61% dari total penduduk. Akibat krisis eko- nomi (1997/98), jumlah penduduk miskin di NTB mengalami peningkatan yang cukup besar tetapi kemudian mengalami penu- runan pada tahun-tahun berikutnya. Jika pada tahun 2001 pro- porsi penduduk miskin sebesar 30,14% maka pada tahun 2004 turun menjadi 25,29% (1,03 juta jiwa). Dengan proporsi pendu- duk miskin sebesar itu, maka provinsi NTB termasuk dalam ke- lompok 5 besar provinsi di Indonesia yang mempunyai proporsi penduduk miskin terbesar. Kondisi kemiskinan ini diperparah oleh tingginya angka pengangguran yang mencapai 10,29% pada tahun 2005.
Indikator penting lainnya seperti indeks pembangunan manu- sia (human development index /HDI) menunjukkan bahwa kualitas sumber daya manusia di NTB mengalami sedikit perbaikan namun masih lebih rendah dibandingkan dengan provinsi lainnya di Indonesia. Pada tahun 1990 angka HDI NTB sebesar 52 me- ningkat menjadi 54 pada tahun 1999 dan 57,8 pada tahun 2002.
Walaupun terjadi peningkatan angka HDI, peringkat NTB masih yang terendah di antara 30 provinsi yang tercatat di Indonesia.
Daerah yang mempunyai angka HDI tertinggi di Indonesia ada- lah DKI Jaya dengan HDI sebesar 75. Dari 10 kabupaten dan kota yang memiliki HDI terendah di Indonesia, tercatat tiga ka- bupaten di pulau Lombok masuk dalam kategori tersebut yaitu kabupaten Lombok Timur (56,1), Lombok Barat (55,0) dan Lombok Tengah (53,9) (UNDP, 2004). Pada tahun 2005, walau- pun IPM NTB meningkat tetapi posisinya bergeser menjadi no- mor 32 di antara 33 provinsi yang ada di Indonesia. Pada saat
angka melek huruf secara nasional sudah di atas 90%, angka me- lek huruf di NTB baru mencapai 77,8% pada tahun 2005.
Oleh karena itu, pemerintah harus memberikan pelayanan publik yang memadai agar hak untuk mendapatkan penghidupan yang layak sebagai hak azasi setiap individu benar-benar dapat di- jamin oleh pemerintah. Berbagai pelayanan publik yang disedia- kan oleh Pemerintah Daerah antara lain adalah:
§ Perencanaan dan pengendalian pembangunan
§ Perencanaan, pemanfaatan dan pengawasan tata ruang
§ Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat
§ Penyediaan sarana dan prasarana umum
§ Penanganan bidang kesehatan
§ Penyelenggaraan pendidikan
§ Penanggulangan masalah sosial
§ Pelayanan bidang ketenagakerjaan
§ Fasilitasi pengembangan koperasi, usaha kecil dan me- nengah
§ Pengendalian lingkungan hidup
§ Pelayanan pertanahan
§ Pelayanan kependudukan dan catatan sipil
§ Pelayanan administrasi umum dan pemerintahan
§ Pelayanan administrasi penanaman modal
§ Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya
§ Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan.
Tugas pemerintah adalah menyelesaikan dan/atau memfasili- tasi masyarakat dalam upaya mengatasi persoalan mendasar yang
dihadapinya. Peran pemerintah dalam ikut mengatasi persoalan mendasar tersebut seharusnya tercermin dari kebijakan publik yang diambil oleh Pemerintah. Indikator dari adanya kebijakan publik yang mengarah kepada upaya mengatasi persoalan terse- but adalah kebijakan anggaran yaitu anggaran pendapatan dan be- lanja daerah (APBD).
F. Struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah