• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebijakan dan Program Pemerintah

tinggi berarti bahwa secara fisik, stamina dan kesehatan mental- nya tidak mudah sakit, kapasitas kerja tinggi sehingga kemampu- an untuk menghasilkan penerimaan juga lebih besar.

Di samping persoalan kemiskinan dan kekurangan kemampu- an untuk mengadakan bahan pangan, terjadinya gizi buruk juga disebabkan oleh pengetahuan tentang kesehatan dan pangan ber- gizi rumah tangga miskin yang terbatas. Mereka tidak mengetahui bagaimana menyiapkan makanan yang berkualitas untuk ibu dan balita mereka. Selain itu, pola asuh yang keliru sehingga anak yang sakit tidak sembuh-sembuh mengakibatkan nafsu makan berku- rang. Asupan makanan yang kurang menyebabkan anak menderi- ta kekurangan gizi dan pada akhirnya anak menderita busung lapar.

Tantangan lain yang dihadapi oleh NTB adalah tingginya per- sentase balita dengan status gizi buruk dibandingkan dengan rata- rata nasional. Pada pertengahan tahun 2005, dari 490.000 orang Balita di NTB, 49.000 atau 10 persen di antaranya menderita gizi buruk. Angka ini jelas lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata- rata nasional persentase balita dengan status gizi buruk yang hanya 8,1 persen (Kompas, 26-5-2005).

c. Penggabungan PPK dan PPKP ke dalam Program Nasio- nal Pemberdayaan Masyarakat (PNPM).

d. Mengaitkan program pengembangan energi alternatif dengan penanggulangan kemiskinan.

e. Melipatgandakan anggaran untuk pendidikan dan kese- hatan (paradigma pembangunan manusia sebagai inti dari pembangunan nasional)

f. Melaksanakan program bantuan tunai bersyarat terkait dengan bidang pendidikan mulai tahun 2007.

Pemerintah Daerah NTB menempatkan persoalan kemiskin- an sebagai isu utama dalam kebijakan umum pembangunan dae- rah sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) NTB 2003-2008 di samping perso- alan kesehatan dan pendidikan. Komitmen pemerintah untuk menanggulangi masalah kemiskinan juga diwujudkan dalam Stra- tegi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD) NTB tahun 2004-2009. Kebijakan umum pembangunan yang termaktub RPJM dijabarkan setiap tahun dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) NTB. Dalam RKPD NTB penanggulangan ke- miskinan dan pengurangan kesenjangan dijadikan prioritas perta- ma pencapaian target kinerja tahunan sebagaimana tertuang da- lam RPJMD NTB.

Kebijakan penanggulangan kemiskinan dan pengurangan ke- senjangan akan ditempuh melalui beberapa program antara lain pemenuhan kebutuhan masyarakat miskin, penanganan gizi bu- ruk, revitalisasi pelayanan keluarga berencana dan kesehatan ibu, promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat, dan perbaik- an sistem bantuan dan jaminan sosial. Selain itu, pemerintah

mencanangkan program peningkatan kesempatan kerja, investasi dan ekspor serta program revitalisasi pertanian, perikanan, kehu- tanan dan perdesaan.

Pemerintah daerah dan lembaga swadaya masyarakat telah be- kerjasama melaksanakan berbagai program pemberdayaan ma- syarakat dalam rangka peningkatan kesejahteraan dan penanggu- langan kemiskinan. Semua pemerintah daerah beserta satuan ker- ja perangkat daerah (SKPD) baik ditingkat provinsi maupun ka- bupaten/kota mempunyai program penanggulangan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sebagai contoh, da- lam rencana kerja pemerintah daerah (RKPD) provinsi NTB ta- hun 2007 pemerintah daerah telah merencanakan program pe- menuhan kebutuhan masyarakat miskin yang terdiri dari: Pem- berdayaan ekonomi masyarakat pesisir; Penyempurnaan adminis- trasi badan hukum koperasi; Penanggulangan daerah rawan pangan; Pelatihan proses produksi bagi pondok pesantren bina- an; Diklat keterampilan teknik produksi bagi UKM; Bimbingan penerapan Gugus Kendali Mutu; Bantuan modal usaha; Fasilita- tor TOT Good Manufacturing Practice bagi UKM pangan; Ban- tuan mesin dan peralatan bagi UKM; Bantuan mesin pengolah minyak jarak; Bantuan mesin pengolah kelapa terpadu (kopra, sabut kelapa, dan tempurung); Pengembangan perumahan dan pemukiman; Penyediaan air bersih pedesaan dan perkotaan; dan Peningkatan sarana dan prasarana bagi masyarakat miskin.

Selain itu, dalam upaya menangani masalah gizi kurang, peme- rintah telah mencanangkan beberapa kegiatan yaitu pembentuk- an dewan ketahanan pangan, pemantauan dan analisis situasi

pangan, penanggulangan kekurangan yodium pada anak dan pemberian makanan tambahan untuk anak.

Program penanggulangan kemiskinan yang sedang dilaksana- kan oleh pemerintah daerah provinsi NTB saat ini adalah Ger- bang E-mas Bangun Desa. Program ini bertujuan mempercepat pembangunan di NTB dengan menggunakan dua pendekatan yaitu pendekatan penguatan kelembagaan dan pengembangan komoditi. Penguatan kelembagaan dimaksudkan untuk memper- kuat Lembaga Desa sebagai pelaksana program pelayanan kepada masyarakat. Satuan pelaksana (Satlak) desa yang ada saat ini akan diperluas keanggotaannya di samping lembaga dan aparat desa juga akan ditambah dengan tokoh informal/masyarakat.

Selain Satlak Desa, program ini juga membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). BUMDes berfungsi sebagai badan oto- nom yang bekerja secara profesional membina semua aktivitas produktif yang dilakukan oleh masyarakat menjadi aktivitas bis- nis. Oleh karena itu, kelembagaan BUMDes dilengkapi dengan unit pembiayaan dan unit pembinaan usaha. Pendekatan komo- diti dilakukan melalui strategi pengembangan perkebunan, kehu- tanan, dan peternakan dengan penyiapan bibit tanaman bernilai tinggi berbasis masyarakat serta penyiapan industri pakan rumi- nansia terutama sapi.

Selain itu, beberapa program penanggulangan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat lainnya adalah Program Pengembang- an Kecamatan (PPK), Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP), Program Pemberdayaan Masyarakat untuk Pembangunan Desa (P2MPD) dan program-program penguatan Lembaga Keuangan Mikro dan Usaha Koperasi melalui program

Bantuan Dana Bergulir. Sejak tahun 2001 pemerintah melaksana- kan program Beras Untuk Keluarga Miskin (Raskin). Program ini bertujuan menyediakan beras bersubsidi bagi keluarga miskin guna meringankan beban mereka dalam memenuhi kebutuhan pangan pokok. Sejak tahun 2005, pemerintah juga mengeluarkan program Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai bagian dari Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPS-BBM). Namun demikian, efektivitasnya masih belum op- timal mengingat masih tingginya angka kemiskinan dan malnut- risi.

F. Intervensi untuk Penurunan Angka Kemiskinan