• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dari Bintang-Bintang, Kitab Suci, ke HAM: Pengantar

Dalam dokumen BUKU PENGANTAR FILSAFAT HUKUM (Halaman 39-63)

Teori Hukum Alam/Kodrat

T

ulisan ini berisikan kilasan pengantar untuk memahami Teori Hukum Kodrat/Alam.

Sebelum menelisik lebih jauh, perlu kiranya untuk dipegang satu kata kunci yang kiranya menjadi inti dari seluruh Teori Hukum Kodrat/Alam, yaitu kebersatuan antara hukum dan moralitas. Bahwa hukum adalah moral dan hukum yang tidak bermoral bukanlah hukum.

Hal yang cukup menarik dari perkembangan dari aliran yang disebut sebagai Hukum Kodrat/Alam ini adalah persis dari sebutan namanya sendiri, yaitu

“kodrat/alam”. Pada dasarnya, Teori Hukum Kodrat/

Alam berpegang kepada premis bahwa ada satu entitas

yang “lebih tinggi” dari kode moral tertinggi yang lebih tinggi dari buatan manusia, dan gerak akal budi dalam menangkap keteraturan dari bintang-bintang untuk diterjemahkan dalam keutamaan-keutamaan hidup.

I

Teori hukum kodrat/alam berpendapat bahwa terdapat hukum yang lebih tinggi yang bersifat kekal, tak tergantikan, dan berlaku dimanapun. Argumen tersebut adalah mimesis dari hukum-hukum alam terutama matematika, gravitasi, termodinamika, dan lain sebagainya yang memiliki sifat serupa. Dalam filosofi Yunani, semesta atau cosmos terkandung kodratiahnya untuk masing-masing benda. Manusia, sebagaimana benda-benda, juga memiliki keutamaannya sendiri yang hanya dapat terwujud melalui hidup dalam polis.25 Apa yang dianggap “baik” adalah apabila sesuatu tersebut memenuhi suratan takdir kodratnya, yang selanjutnya

25 Costas Douzinas. Human Rights and Empire, The Political Philosophy of Cosmopolitanism. Routledge-Cavendish. New York. 2007. hlm 16. Douzinas merujuk pada catatan mengenai Antigone dan Raja Creon ketika Polynices, saudara dari Antigone, ditinggalkan meregang nyawa oleh Kreon di luar dinding kota untuk dimakan oleh burung bangkai. Antigone sendiri dikubur hidup-hidup. Keduanya tidak disemayamkan sesuai dengan tradisi yang berlaku saat itu. Creon kemudian mendapat tulah berupa kehancuran keluarganya. Inilah, menurut Douzinas, awal mula dari adanya tegangan antara hukum buatan manusia dengan sifat kodrati yang dianggap melampauinya.

fenomena tersebut diterjemahkan melalui akal budi untuk menentukan apa yang “baik” itu seharusnya.26 Demikian, aliran Hukum Kodrat/Alam agaknya dipengaruhi melalui kekaguman yang muncul dari pengamatan fenomena alam termasuk diantaranya adalah kilau bintang- bintang di angkasa, rumusan absolut dari proposisi- proposisi matematika dan geometri, yang menemukan momentumnya dari studi-studi yang dilakukan oleh para terpelajar pada masa itu. Dengan itu, rumusan mengenai moral diarahkan untuk menuju harmoni dari intrepretasi pengetahuan yang digapai terhadap perilaku-perilaku manusia, sebagai sesuatu yang disebut sebagai “kodrati/

Catatan tambahan, Masyarakat Yunani Kuno dan Romawi menggunakan kata dikaion, dike, dan jus sebagai kata hukum yang berarti keteraturan alamiah akan sesuatu. Begitupula kata nomoi dan thesmoi, maupun ethos yang berarti aturan-aturan yang mengikat seluruh cosmos, dari manusia hingga dewa-dewa.

26 Costas Douzinas. The end of Human Rights, Critical Legal Thought at The Turn of The Century. Hart Publishing. Oxford. 2000. hlm 25 baik kaum Sophist, Sinis, Hedonis, maupun Stoik, secara garis besar menggariskan keutamaan berdasarkan pada pengamatan atas apa itu yang disebut sebagai kodrati. Untuk kaum Sophist, apa yang disebut sebagai fisik tidaklah suci melainkan secara konstan mengalami perubahan. Kaum Sinis dan Hedonis beranggapan bahwa yang disebut sebagai alamiah adalah hasrat hewaniah dari pemenuhan kebutuhan yang bersifat privat, baik melalui kemewahan maupun kesederhanaan. Argumen yang sama juga dianut oleh kaum Stoik, dengan anggapan bahwa nomos adalah berlaku secara universal kepada manusia yang penuh, dan bahwa fenomena keteraturan tersebut adalah suci sifatnya, yang selanjutnya menjadi pijakan penting bagi prinsip humanisme universal. Lihat dalam ibid hlm 29-30.

alamiah” untuk menggali apa itu keutamaan hidup. Dua pemikir yang paling berpengaruh pada masa ini, yang nantinya akan menjadi pijakan pada abad pertengahan, adalah Plato dan Aristoteles.

Pertanyaan utama dalam aspek filosofi Plato yang menjadi sorotan di sini adalah mengenai keadilan. Apakah keadilan itu identik dengan legalitas, dan bagaimana Plato melakukan analogi mengenai polis dengan anatomi tubuh manusia, dengan harmoni agar antar organ dapat berfungsi satu sama lain.27 Menurut Douzinas, Plato, melalui catatan atas dialog Socrates, memberikan beberapa kontribusi terhadap teori hukum kodrat/ alam.

Pertama, sebagaimana disebutkan, bahwa keutamaan bagi Plato adalah keutamaan akan hidup dalam polis melalui suum agere. Kedua, yang juga merupakan khas dari pemikiran Plato, bahwa dalam dialog-dialognya Plato tidak merumuskan secara kongkrit akan apa itu yang adil. Bahwa yang “Adil” tidaklah dapat ditemukan dalam hukum-hukum dan perjanjian, melainkan selalu

27 Leo Strauss, Joseph Cropsey (eds). History of Political Philosophy. The University of Chicago Press. Chicago & London. 1987. Hlm 77. Struktur anatomi tersebut dibagi menjadi berikut: kepala yang merujuk pada para Filsuf dengan nilai utama adalah kebajikan, dada yang merujuk pada prajurit dengan keutamaan keberanian, dan perut yang merujuk pada warga sipil dengan nilai keutamaan keugaharian. Masing-masing memiliki jebakanya sendiri, yaitu hasrat godaan, amarah, dan kebergantungan atas struktur hierarkis.

terletak di seberang sana (epekeina ousias), di luar gua dan penampakan bayangannya, dalam dunia ideal. Ia ada, namun selalu ada di seberang sana, dalam selubung aporia. Ketiga yang sekaligus ironik, bahwa keutamaan akan yang disebut sebagai “adil” dan “baik” adalah tidak semata-mata penampakan yang murni kodratiah, melainkan dirumuskan melalui terang akal budi yang penuh dengan tarikan politik28

Menurut Aristoteles, Hukum adalah sinonim dengan keadilan dan tugas dari seorang juris adalah selayaknya seorang botani maupun antropolog yang mengamati hubungan dari fenomena-fenomena yang muncul. Hasil dari pengamatan tersebut adalah kebersingkapan dikaion yang sayangnya, tidak akan pernah nampak secara penuh.29

28 Op Cit Costas Douzinas. The End of… hlm 34-7 Douzinas menyatakan sebagai berikut:

“Because justice is by definition critical of what exists, philosophy adopts nature as the source of its prescriptions and claims a natural “objectivity” for its right.

But this ideal is not given by God, revelation or even an immutable natural order. It is a construction of thought and its actualisation is deeply political.”

Aspek ketiga ini menunjukkan pokok dari cara kerja berpikir hukum alam/

kodrat, bahwa yang disebut sebagai “kodratiah” itu dalam tarikan sudut pandang yang lain adalah tidak ada dan bergantung dari situasi politik yang pun demikian, menjadi pendasaran yang seolah-oleh obyektif atas preskripsi dari yang diklaim sebagai kodrati itu.

29 Ibid hlm 40. Lebih jauh, penyingkapan dikaion adalah bersifat dialektis antara para pihak dengan berpedoman pada prinsip audem alteram partem. Dari dialektis antara para pihak itulah keputusan kongkrit dijatuhkan.

Distingsi ini adalah persis sebagaimana diutarakan oleh Leo Strauss, bahwa terdapat jejak dualisme Plato dalam pemikiran Aristoteles.30 Konsekuensinya, dari distingsi tersebut terdapat perbedaan antara “hukum alam” yang merupakan hasil penerjemahan akal budi atas fenomena yang kodrati tadi dan hukum alam dalam artian obyektifikasi. Yang disebut pertama merujuk pada suatu metode, yaitu dari pengamatan untuk mendapatkan satu keputusan atau solusi yang adil terhadap masalah yang muncul. Sedangkan yang disebut belakangan adalah satu yang ada namun selalu tersembunyi. Konsekuensinya, sebagaimana pula Plato, metode pemecahan masalah melibatkan pertimbangan tarikan politik. Sisi yang membedakan barangkali adalah penekanan Aristoteles terhadap konteks kasuistik atau dengan kata lain, mengubah klaim hukum kodrat dalam satu keputusan kongkrit alih-alih bersifat umum dan

30 Op Cit Leo Strauss, Joseph Cropsey (eds). History… hlm 128. Menunjukkan pula jejak dualisme Plato dalam pemikiran Aristoteles, antara dunia idea- hukum ideal dan dunia penampakan-konvensi hukum buatan manusia. Leo Strauss mengatakan:

“[...] According to Aristotle, political justice is divided into what is just by nature and what is just by law or convention (nomos). Aristotle registers his disagreement with the sophistic view that, because all just things are subject to variation or change, justice exists only by the condition; in his view, while it is indeed true that just things like all human things are subject to change, there are nevertheless things just by nature.”

luas. Jadi mengikuti distingsi sebagaimana disebutkan, terdapat dua jenis keadilan, yang pertama adalah keadilan yang umum yang berada diluar teritori manusia dan keadilan yang bersifat partikular untuk mencari solusi dari masalah yang muncul. Nantinya, pemisahan antara hukum alam/kodrat yang hasil terang akal budi dengan yang “ada di seberang sana” menjadi semakin penting pada masa abad pertengahan. Pemisahan ini pula yang nantinya akan menjadi titik pijak dalam teori hukum alam/kodrat modern.

II

Tradisi Teori Hukum kodrat Aristoteles -dengan juga pengaruh dari Stoik- bersambung pada masa Romawi sebagaimana diutarakan oleh Cicero, Natura initium juris, bahwa segala hukum maupun institusi bikinan manusia adalah bersumber pada satu kehendak alam sebagai fons legum et juris yang tersingkap dari logos.31 Kemiripan selanjutnya adalah penggunaan kata jus yang memiliki fungsi yang sama dengan dikaion pada masa Yunani. 32 Pengaruh penting lain dari pemikiran Yunani adalah makin condongnya doktrin hukum kodrat/alam

31 Lihat juga dalam Brian Brix. Natural Law, dalam Dennis Patterson (ed). A Companion to Philosophy of Law and Legal Theory. Wiley-Blackwell. West Sussex. 2010. Hlm 212.

32 Op Cit Costas Douzinas. The End of… hlm 49-51

dengan mengikuti pemisahan antara hukum alam dalam arti akal budi dan dalam arti yang “ada di seberang sana”.

Sebelumnya, perlu kiranya untuk terlebih dahulu menilik konteks bagaimana hukum alam bertautan dengan persaingan antara agama dan negara, yaitu melalui menguatnya posisi tawar politik Gereja pada masa itu. Ada beberapa situasi yang membuat pengaruh politik gereja menjadi demkian kokoh, antara lain bergesernya model Republik menjadi Imperium oleh Konstantin, raja pertamanya, yang juga menjadikan Agama Katolik menjadi agama kerajaan menggantikan pagan, dan pemindahan ibukota dari Roma ke Konstantinopel.33 Perubahan-perubahan tersebut mengakibatkan menguatnya pengaruh politik gereja yang selanjutnya masa ini dikenal sebagai abad pertengahan.34 Pemindahan ibukota tersebut berakibat pula pada rapuhnya pertahanan kota-kota di daratan Eropa dari serangan suku-suku Jerman, ancaman dari Selatan Eropa, dan suku Viking dari Utara. Dalam situasi terkepung, masyarakat abad pertengahan menjadi tertutup dengan kota-kota bergantung pada dinding benteng pertahanan dan melumpuhkan ekonomi. Dari

33 Op Cit Brian Z. Tamanaha. On The Rule… hlm 12 34 Ibid hlm 15-6.

sini, hanya Gereja Katolik Roma institusi yang mapan dengan gereja-gereja tersebar di kota-kota di Eropa.

Selanjutnya, kerajaan dan gereja menjadi dua entitas yang saling bersaing sekaligus saling membutuhkan dengan hubungan saling-sandera antar keduanya.35 Pada titik ini, hukum alam bekerja dengan rumusan bahwa hukum gereja -menurut gereja tentu saja- adalah universal

35 Ibid hlm 19-22. Pada awalnya, Kuasa religius dan kerajaan menyatu dalam satu tubuh raja. Bahwa raja dapat memilih dan memberhentikan para romo dan petugas gereja, mengikuti eklesi dan membuat kebijakan religi. Hal ini diawali dari masa Konstantin yang berlanjut pada masa Justinian. Bahwa hukum buatan raja adalah selalu merupakan hasil dari kekuasaan tertinggi.

Gereja pada lain pihak, juga membikin legitimasinya sendiri. Paus Gregory VII menyatakan bahwa kekuasaan hukum gereja adalah universal dibandingkan dengan hukum buatan manusia. Bahwa hukum alam tersebut diterjemahkan oleh Paus dan berlaku bagi siapa saja, termasuk pada raja yang salah satunya dipicu juga dengan wabah lepra. Seiring waktu, Gereja memiliki posisi yang amat penting, dengan gereja tersebar di kota-kota di Eropa, dan jumlah besar penduduk yang memeluk Agama Katolik. Masih menurut Tamanaha, situasi bergeser pada masa kekuasaan Charlemagne dan Paus Leo III. Pada saat itu, Leo III secara tiba-tiba meletakkan mahkota pada kepala raja sehinga seolah- olah atas kuasa Pauslah kekuasaan raja mendapatkan legitimasinya. Preseden tersebut membuat seteru antara raja dan paus memanas. Puncaknya, pada masa kekuasaan Henry IV memaksakan kuasanya untuk penunjukan personil gereja yang bertentangan dengan deklarasi Paus Gregory VII yang selanjutnya menimbulkan perseteruan antara kerajaan dan gereja memburuk dengan Paus Gregory VII berakhir di pengasingan. Preseden peletakan mahkota tersebut menjadi dasar dari ritual koronasi kerajaan dan merupakan afirmasi bahwa monarki -yang dalam konteks hukum modern menjadi kedaulatan- tunduk oleh hukum yang sekaligus merupakan dasar supremasi hukum dalam konteks rule of law dikemudian hari.

dan berada diatas daripada hukum buatan raja.36 Pada intinya, masa pertengahan ini menggantikan keterarahan polis dari keutamaan-keutamaan Yunani yang kini diarahkan pada kerajaan Tuhan, serta mengubah pula makna “kodrat” dari penafsiran atas alam menjadi pada kitab suci.

Seiring dengan menguatnya pengaruh politik gereja, para pemikir Katolik mengadopsi pemikiran pagan Yunani dan dibahasakan ulang dalam konteks gereja.

Keutamaan pada polis misalnya, oleh St. Augustinus menjadi keutamaan pada pelayanan pada Tuhan.

Keadilan, mengikuti Aristoteles, adalah sinonim dengan hukum sebagai tribuere suum cuique dengan keutamaan ordo amoris atau kecintaan terhadap keteraturan. Pada Augustuinus, keadilan adalah keutamaan akan kebaikan tertinggi atau dengan kata lain, pada Tuhan. Kelekatan pada Tuhan dari versi pagan yang sebelumnya sekular ini berpengaruh pada dua jenis kota yang diajukan oleh Augustinus. Pertama adalah civitas diabolica dimana tujuan hukum pada kota ini adalah semata untuk menjaga perdamaian, untuk membatasi kekerasan dengan daya paksa hukum. Sebaliknya, civitas terrena – peregrubu atau kerajaan Tuhan setelah kehidupan adalah dimana kebenaran dan keadilan dalam bentuk sejatinya, dan

36 Ibid hlm 20

bahwa Kerajaan Tuhan adalah terang yang memandu dan diikuti oleh civitas diabolica.37

Satu nama yang paling sering disebut dan tidak dapat dilewatkan dalam teori hukum kodrat/alam adalah St.

Thomas Aquinas. Aquinas membagi empat distingsi antara lex aeterna, lex natura, lex divina, dan lex humana.

Lex aeterna, adalah daya kreasi Tuhan yang menciptakan segalanya, yang menggariskan segala sesuatu. Lex Divina adalah petunjuk Tuhan yang tersingkap melalui kitab suci -Perjanjian Lama dan Baru- yang merupakan rujukan atas keutamaan-keutamaan manusia. Lex Natura, adalah partisipasi manusia dengan akal budinya pada Lex Aeterna. Lex Natura berpegang pada prinsip dasar

“melaksanakan yang baik, dan menghindari keburukan”

dimana seluruh aturan adalah berpegang pada prinsip dasar tersebut. Terakhir, Lex Humana adalah semacam entitas “tubuh publik” yang menciptakan hukum melalui intrepretasi dari moral dalam Lex Natura.38 Demikian, pengaturan hukum positif -yang merupakan bikinan

37 Op Cit Costas Douzinas. The End of… hlm. 55. Pemisahan antar keduanya ini adalah merupakan pengakuan dari “hukum negara” karena itulah hukum yang berlaku di dunia sembari masih mempertahankan sisi profetik utopisnya.

38 Simona Vieru. Aristotle’s Influnece on the Natural Law Theory of St. Thomas Aquinas. The Western Australian Jurist. Vol. 1, 2010. Hlm 119-120. Lihat juga dalam; John Finnis. Natural Law and Natural Rights. Oxford University Press.

New York. 2011. Hlm 285.

manusia- adalah derivasi dari prinsip moral diatasnya, sembari juga menyisakan ruang kebebasan bertindak sebagaimana konsep keadilan dari Aristoteles yang tebagi dari yang umum ke yang partikular.39

Ruang kebebasan tersebut pada satu sisi adalah bentuk relativisasi atas hukum alam yang absolut, akan tetapi pada sisi lain menimbulkan dua masalah, yaitu bagaimana menerjemahkan relativisasi tersebut dalam hukum alam oleh otoritas, dan kedua yang sekaligus merupakan akibat dari yang pertama, secara praktis bagaimana hukum alam/kodrat kehilangan dimensi kritisnya. Pertanyaan yang muncul seputaran dari Aquinas adalah mengenai lex iniusta non est lex, bahwa hukum yang tidak adil adalah bukan hukum. Maka yang menimbulkan multitafsir, bagaimana menentukan hukum yang valid itu adalah bukan hukum? Apakah sedari awal hukum yang tidak bermoral adalah bukan hukum, atau itu bukan hukum dalam artian yang sebenarnya?40 Lebih jauh, masalah timbul dalam hal keadilan retribusi dimana yang disebut sebagai adil adalah masuk dalam kategori hukum alam yang dalam

39 Op Cit Brian Brix. Natural Law… hlm. 213. Brix mencontohkan bahwa ruang kebebasan tersebut apabila misalkan ada aturan mengenai keselamatan berkendara, maka pengaturan positifnya adalah sampai dimana batas kecepatan, dan apakah menggunakan lajur kanan atau kiri.

40 Ibid hlm 214

praktiknya justru menguntungkan kepentingan gereja dan masyarakat feodal yang hierarkis pada masa itu.41 Apabila sebelumnya hukum kodrat/alam lebih sebagai alat untuk melakukan kritik terhadap otoritas, maka “masalah” yang muncul dari pemikiran Aquinas, menurut Douzinas, adalah justru memberikan legitimasi dari kepentingan otoritas.42 Secara ringkas, pemikiran Aquinas menjadi

41 Op Cit. Costas Douzinas. The End of… hlm 59-60. Lebih lanjut menurut Douzinas:

This type of justice represented the inauthentic and relative natural law which repressed sins and atoned for guilt. Classical natural law, on the other hand, was not about the just application of existing laws. It was a rational and dialectical confrontation of instituional and political common sense. […]

thus justice which completes relative natural law, as its highest virtue and ideal, is very different from classical natural law. Freedom, communal property and abundance ruled the Stoic edenic age, but for the Christian Father natural law became, after the fall, the law of retribution, accompanied necessarily by courts, punishments and the authority of the sword. Thus, the Church abandonded the Stoic positions on rational freedom and human dignity and “in this way the worst embarrassment of natural law, namely, oppression was founded upon natural law itself as something that had been relativised.

Selanjutnya:

This ideal city of the future, which for the Greeks and Romans would be built through rational contemplation and political action, was replaced by non-negotiable other-worldly city of God. God, the lawgiver, infuses his commands with absolute certainty; natural law is no longer concerned with the construction of the ideal moral and political order and the just legal solution, but with the interpretation and confirmation of God’s law. After Aquinas, justice largely abandoned its critical potential for jurisprudence.

42 Loc Cit.

legitimasi dari otoritas dalam menerjemahkan hukum tuhan dalam hukum manusia. Namun pada sisi lain, menurut Strauss & Cropssey, cara berpikir Aquinas ini adalah jembatan yang menghubungkan antara masa abad pertengahan dengan gerakan modernisme yang lebih sekuler dikemudian hari.43

Jadi dapat dikatakan bahwa Teori Hukum Kodrat/

Alam menemukan momentumnya pada masa abad pertengahan, dimana gereja memiliki kekuasaan yang besar. Filsuf-filsuf hukum alam terkemuka pada masa itu, seperti St. Thomas Aquinas dan St. Agustinus selanjutnya menjadi rujukan utama dalam teori hukum kodrat/alam.

Ironisnya, justru pada saat yang bersamaan, William Ockham, seorang Fransiskan, mengawali gerakan pemisahan antara urusan “dunia” dan “akhirat” yang belakangan mengerucut sebagai “sekulerisme”, dimana selanjutnya menjadi poin penting pada masa pencerahan eropa.44 Nominalisme Ockham akan memberi dampak

43 Op Cit Leo Strauss & Cropssey. The History of…. hlm 271, bahwa:

“The delicate balance that he was able to establish between the extremes of faith and reason was disrupted less than three centureies later by two revolutionary developments of which he would have disapproved but which he remotely prepared or facilitated.”

44 Heronimus Y. Dei Rupa. Desakralisasi Kekuasaan Sekular Menurut William Ockham. Bahan ajar Short Course STF Driyarkara. Ockham adalah seorang Fransiskan yang mengikuti pemikiran akan sine proprio, atau cara hidup asketis. Menurut Ockham, kekuasaan Sri Paus adalah semata bersifat spiritual,

besar pada pemikiran hukum yang selanjutnya diiringi dengan kemunculan “individu” sebagai subyek, semakin

“menggeser” tuhan dalam “urusan duniawi”.45 Penolakan lebih jauh terhadap dominasi gereja juga muncul dalam bentuk yang semakin jelas seperti misalnya Marsilius dari Padua dengan pandangan antiklerik-nya adalah salah satu contoh akan hal itu yang nantinya berlanjut dalam bentuk gerakan “anti-teologi” lainya pada masa pencerahan.46 Perubahan cara berpikir tersebut turut pula mempengaruhi pemikiran hukum, bahwa pemisahan antara “adil yang di seberang sana” dengan “adil yang di sini” semakin mengalami pergeseran dimana apabila keadilan yang di sana adalah sesuatu yang tak mungkin tergapai, maka sesungguhnya adalah lebih penting untuk mengukur keadilan yang “ada di sini” saja, yaitu semata

sedangkan urusan duniawiah yang bersifat sementara adalah teritori dari penguasa seperti Raja. Ia berseberangan dengan para penganut Hierokratis yang berpendapat bahwa kekuasaan sekular adalah bersumber dari Paus sedangkan menurut Ockham, bersumber dari masyarakat yang memilihnya.

45 Ibid. Lihat juga dalam Op Cit Costas Douzinas. The End of… hlm 63 46 Op Cit Leo Strauss, Joseph Cropsey (eds). History of… hlm 294. Reaksi terhadap

dominasi gereja ini dibayar mahal melalui tindakan represi. Orang-orang seperti Copernicus, Gelileo, Bruno adalah beberapa nama yang kerap dijadikan contoh bagaimana pemikiran saintifik menjungkirbalikan dogmatisme gereja. Tapi agaknya gerakan pemikiran sekularisasi yang melepaskan diri dari dogmatisme gereja tidak terbendung, terutama pada masa modernisme pencerahan Eropa.

Dalam dokumen BUKU PENGANTAR FILSAFAT HUKUM (Halaman 39-63)

Dokumen terkait