VII
Perlawanan Terhadap Hukum
perlawanan dilancarkan untuk terhadap peminggiran tersebut, dan terakhir (iii) tulisan ini juga akan mengulas tentang bentuk-bentuk perlawanan terhadap hukum dengan bertolak dari Pidato Mohammad Hatta pada tahun 1928.
I
Bagaimana hukum sebagai bagian dari sarana kontrol sosial menyingkirkan “yang-lain”? Untuk menjelaskan hal ini, perlu kiranya untuk menilik pada beberapa perspektif teoritik yang diuraikan sebagai berikut.
Menurut Rancierre, terdapat dua domain yang berbeda namun sekaligus terhubung. Yang pertama adalah “polisi” [police] dengan mantra bahwa “tidak ada yang tak terhitung”. Domain kedua adalah “politik” yang mengajukan “ada yang tak terhitung”. Bagi Rancierre, politik berbagi locus dengan polis. Tujuan utama politik adalah untuk menunjukkan gegar dalam polisi, agar yang tak terhitung dapat terlihat dan terdengar. Rancierre menunjukkan bahwa setiap klaim dari polisi adalah untuk menunjukkan semua pihak telah terhitung. Sebaliknya, dari setiap klaim polisi tersebut sesungguhnya selalu
terdapat potensi akan adanya kelompok yang suara maupun eksistensinya tidak terdengar atau terlihat.130
Apakah yang sebenarnya hilang bagi orang atau kelompok yang terpinggirkan? Pengalaman kelam Nazisme, komunis yang digasak pada masa Soeharto maupun Pinochet, serta sejumlah peristiwa kelam lain menunjukkan bahwa apa yang hilang adalah suatu hal yang paling fundamental: yaitu hak untuk memiliki hak- hak [right to have rights].131 Hal ini bertalian dengan status keberanggotaan seseorang pada kelompok- politiknya. Ketika seseorang dilemparkan keluar dari kelompok politiknya, ia berada dalam ruang lingkup daya paksa kedaulatan. Agamben menyebutkan situasi ini dalam distingsi antara hidup yang penuh [bios] dan hidup semata hidup dalam arti biologi [zoe]. Agamben menyatakan ketika seseorang terlempar dari bios dalam zoe, ia berada dalam ketelanjangan [homo sacer] dimana yang bersangkutan bukan lagi diberlakukan sebagai subyek. Sebagai akibatnya, seseorang yang bukan lagi
130 Jacques Rancierre. Disagreement, Politics and Philosophy. University of Minnesota Press. Minneapolis, London. 1998.
131 Lihat Natalie Oman. Hannah Arendt’s “Right to Have Rights”: A Philosophical Context for Human Security. Journal of Human Rights. 2010. Lihat juga F. Budi Hardiman. Hak Untuk Memiliki Hak: Kritik Republikan atas Hak-Hak Asasi Manusia dalam F. Budi Hardiman. Hak-Hak Asasi Manusia; Polemik dengan Agama dan Kebudayaan. Kanisius. Yogyakarta. 2012.
subyek diperbolehkan untuk diperlakukan seperti apapun juga hingga pada titik tertentu, ia boleh dibunuh dengan impunitas terhadap pembunuhnya. Siapapun dan kapanpun dapat terbuang dalam zoe, sebagai suatu potensialitas atas suatu situasi genting yang diteguhkan oleh kedaulatan [state of exception].132
Yang ditawarkan pada bagian ini adalah suatu perkakas perihal bagaimana seseorang atau suatu kelompok tersingkirkan atau disingkirkan melalui hukum. Terdapat beberapa peristilahan teoritik mengenai hal tersebut. Rancierre menyebutnya sebagai “yang tak terhitung” dan Agamben menyebutnya sebagai “homo sacer”. Ragam peristilahan tersebut sebenarnya memiliki kesamaan perihal adanya peminggiran yang diterakan pada suatu kelompok tertentu. Selanjutnya akan diulas mengenai semangat emansipasi untuk mengatasi hukum positif yang menjadi alat bagi penguasa.
II
132 Ini adalah bentuk ekstrim dari distingsi kawan-lawan dalam Carl Schmitt.
Agamben menarik pemikiran Schmitt dalam perspektif yang lebih jauh lagi, yaitu untuk menunjukkan bahwa ketika kedaulatan berkehendak, ia yang sekaligus adalah hukum dapat menjatuhkan penghukuman. Persis karena hukum adalah daya paksa, dan daya paksa adalah diterakan kepada mereka yang berada dalam ruang lingkup jangkauannya. Lihat dalam Giorgio Agamben. Homo Sacer, Sovereign Power and Bare Life. Stanford University Press. Stanford, California. 1998.
Rancierre mengajukan emansipasi melalui definisi tentang “politik”. Bagi Rancierre, tugas politik adalah untuk memperlihatkan gegar dari polis, untuk menunjukkan bahwa ada yang tidak terhitung. Politik adalah suatu upaya untuk membuat yang tadinya tak nampak menjadi terlihat dan yang tak bisa bersuara menjadi terdengar. Lantas apa modalitas yang kita miliki untuk itu? Jawabannya ada pada kesetaraan. Bagi Rancierre, kesetaraan sudah secara inheren ada dalam setiap orang. Adapun ketidaksetaraan adalah situasi yang terbentuk atau dibentuk, namun ia tidak bersifat asali.
Jadi kesetaraan bagi Rancierre adalah titik berangkat.
Selanjutnya tentang hak asasi yang melekat dalam kesetaraan tadi. Rancierre menyatakan hak asasi sebagai
“the Rights of Man are the rights of those who have not rights that they have and have the rights that they have not”.133 Ia melekat pada mereka yang tidak memilikinya [padahal mereka punyai], namun sekaligus yang mereka punyai [padahal mereka tak punya]. Contoh yang diajukan Rancierre adalah hukuman mati pada perempuan pada masa revolusi Perancis. Pada masa itu, perempuan tidak memiliki hak politik dan justru dihadapan guillotine ia mendapatkan kesetaraan dengan laki-laki. Contoh situasi
133 Jacques Ranciere. Who Is the Subject of the Rights of Man? South Atlantic Quarterly. Vol 103, Issue 2-3, 2004.
tersebut sesungguhnya menunjukkan poin yang hendak ditekankan oleh Rancierre, akan kesetaraan sebagai sesuatu yang inheren. Dengan demikian, politik bagi Rancierre adalah suatu perlawanan dengan bertolak pada kesetaraan.
Pembacaan optimis terhadap Agamben membawa pada argumen ini: apabila homo sacer adalah hasil keterlemparan dari bios kepada zoe, maka pada saat yang bersamaan ia menjadi setara dengan kedaulatan itu sendiri. Bahwa kedaulatan selalu mengandung dua sisi relasi dengan hukum. Sisi yang pertama, kedaulatan berada di luar hukum, karena ia adalah pencipta hukum.
Pada sisi yang lain, kedaulatan berada di dalam hukum, karena ia adalah sekaligus penegak hukum. Ketika seseorang terlempar dalam zoe, maka dua sisi relasi tersebut secara paradoksal juga melekat padanya. Ia berada di luar karena keterlemparan tersebut. Namun ia sekaligus berada di dalam karena ada dalam cakupan daya paksa hukum. Paradoks antara situasi di dalam/
luar oleh kedaulatan maupun homo sacer itu tadi justru menunjukkan satu potensialitas: bahwa homo sacer dapat menjadi kedaulatan itu sendiri. Lantas apa yang diperoleh oleh homo sacer bila merebut kedaulatan? Yang
ia peroleh adalah hak yang paling fundamental, yaitu hak untuk mendapatkan hak-hak [right to have rights].134
Selain uraian teoritik diatas, upaya perlawanan terhadap penguasa yang lalim sebenarnya termuat dalam beberapa dokumen hukum maupun pemikiran hukum.135 Biasanya dinyatakan bahwa hak untuk melawan ditempatkan sebagai jalan terakhir apabila sudah tidak adalagi upaya yang tersedia untuk melakukan perlawanan terhadap penguasa. Dalam deklarasi kemerdekaan Amerika 4 Juli 1776 disebutkan bahwa:
[…]. But when a long train of abuses and usurpations, pursuing invariably the same Object evinces a design to reduce them under absolute Despotism, it is their right, it is their duty, to throw off such Government, and to provide new Guards for their future security. […]
Demikian pula dalam deklarasi Hak Asasi Perancis 1789, dalam Pasal 2 dinyatakan:
134 Lihat dalam John Lechte, Saul Newman. Agamben and The Politics of Human Rights; Statelessness, Images, Violence. Edinburgh University Press. Edinburgh.
2013.
135 Lacakan tradisi pemikiran hukum tentang hak untuk melawan dapat dilihat dalam Tom Ginsburg, Daniel Lansberg-Rodriguez, Mila Versteeg. When to Overthrow Your Government: The Right to Resist in The World’s Constitutions.
Public Law and Legal Theory Working Paper No. 406. The Law School, The University of Chicago. November 2012.
The aim of all political association is the preservation of the natural and imprescriptible rights of man. These rights are liberty, property, security, and resistance to oppression.136
Semangat tersebut termaktub pula pada paragraf tiga Preamble Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia 1948 yang menyatakan:
Whereas it is essential, if man is not to be compelled to have recourse, as a last resort, to rebellion against tyranny and oppression, that human rights should be protected by the rule of law.
Mengapa suatu negara memasukkan norma hak untuk melawan dalam konstitusinya? Bukankah itu sama saja dengan mengancam eksistensi kedaulatan dari negara tersebut? Tom Ginsburg et al menyatakan terdapat
136 Ketentuan Hak untuk melawan terdapat pula dalam draft Deklarasi tahun 1793. Meskipun draft tersebut mendapatkan dukungan pada pemilihan Juli 1793 serta diadopsi pada 10 Agustus, namun tidak sempat berlaku. Terpelas dari polemik tersebut, draft 1973 tetap menjadi dokumen hukum maupun sejarah yang penting. Deklarasi Hak asasi Perancis 1973 lebih komplit dan lebih egaliter dibandingkan dengan tahun 1789. Hak untuk melawan dalam Deklarasi hak asasi Perancis tahun 1789 terdapat dalam:
Resistance to oppression is the consequence of the other rights of man. (Pasal 33)
When the government violates the rights of the people, insurrection is for the people and for each portion of the people the most sacred of rights and the most indispensable of duties.(Pasal 35
dua alasan: sebagai komitmen ancang bangun kedepan, dan dari pengalaman reflektif kebelakang.137 Alasan pertama, sebagai komitmen awal kedepan diajukan untuk memberikan jaminan sekaligus untuk meraih dukungan populis bahwa penguasa akan menggunakan kekuasaannya dengan sebaik-baiknya. Ia berguna untuk mengingat sekaligus membatasi agar kesewenangan tidak terjadi. Alasan kedua, untuk berangkat secara reflektif dari pengalaman kelam sebelumnya. Masuknya hak untuk melawan terhadap kesewenang-wenangan dimasukkan sebagai jaminan agar kelaliman yang pernah dialami tidak kembali terjadi.
Setelah pada bagian sebelumnya menunjukkan bagaimana suatu peminggiran atau penindasan dengan stempel hukum adalah mungkin, bagian ini menunjukkan adanya suatu keabsahan moral melawan penindasan yang sewenang-wenang tersebut. Sementara dua bagian ini adalah sekedar menampilkan etalase teoritik belaka, bagian selanjutnya akan mengangkat pledoi Muhammad Hatta untuk menunjukkan bagaimana perlawanan terhadap kesewenangan dapat dilangsungkan, bagaimana bentuknya, dan sampai batas apa perlawanan dengan menggunakan jalan hukum atau di luar hukum.
137 Op Cit. Tom Ginsburg, Daniel Lansberg-Rodriguez, Mila Versteeg. When to Overthrow Your Government… Hlm 23-30.
III
Dalam suatu kadar tertentu, perlawanan terhadap hukum adalah sesuatu yang secara moral dapat dibenarkan. Perlawanan terhadap hukum yang dzhalim adalah bentuk dari perjuangan akan kesetaraan, akan pengakuan, serta untuk merebut kembali hak untuk memiliki hak-hak. Namun perlawanan itu sendiri memiliki kadar tingkatannya tersendiri. Secara garis besar, sejauh mekanisme hukum yang ada menyediakan ruang untuk memperoleh keadilan tersebut, maka perlawanan dalam jalur hukum tentu sudah cukup. Lain halnya apabila memang seluruh sistem telah terkooptasi oleh suatu rezim yang korup, lalim, lagi repressif, tentu perlawanan juga harus dilancarkan dalam kadar yang berbeda. Mengenai kadar tingkatan perlawanan/
pembangkangan hukum ini sudah bukan lagi persoalan pelanggaran hukum semata, namun juga moral. Ia sudah masuk dalam persoalan peneguhan kedaulatan. Disini, pledoi Mohammad Hatta menjadi contoh yang menarik untuk diulas.
Hatta menyampaikan pledoi dengan judul “Indonesia Merdeka” dalam pengadilan di Den Haag, Belanda, pada tahun 1928. Ia disidangkan atas keterlibatannya dalam Perhimpunan Indonesia (PI) serta harian yang mereka terbitkan: Indonesia Merdeka. Dalam pledoi tersebut,
Hatta menyatakan bahwa Indonesia akan terus berjuang untuk mencapai kemerdekaan melawan kekuasaan represif pemerintah kolonial. Bahwa rezim kolonial Belanda telah membentuk suatu perlakuan yang tidak adil yang didasarkan atas rasialisme antara Belanda dan Bangsa Indonesia.
Tuan Ketua! Ada lagi faktor lain ang mempercepat munculnya cita-cita pada pemuda Indonesia. Angkatan muda Indonesia mengalami sejak dari kecil betapa mereka secara nasional dan rasial diterbelakangkan. Sudah sejak Sekolah Dasar mereka merasakan pukulan dari pertentangan kolonial dan rasial. Ini bukan mereka pelajari dari buku-buku ilmiah, ini mereka rasakan pada kulit mereka sendiri. Pada kulit mereka terasa pertentangan tajam antara kaum kulit putih dan kulit berwarna, antara kaum penjajah dan yang dijajah.138
Hatta menyatakan:
[…] Ah Tuan Ketua, sampai muak kami mendengar dan membaca berbagai penamaan rendah bagi bangsa kami yang diucapkan atau ditulis oleh orang-orang yang katanya
“beradab”, yang menganggap diri sendiri sebagai tuan besar- tuan besar di negeri kami, tapi juga memperkaya diri dengan harta yang dihasilkan dengan keringat dan darah si Kromo yang miskin.[…] Ketua, dapatlah dimengerti kalau hinaan yang
138 Mohammad Hatta. Indonesia Merdeka. Penerbit Bulan Bintang. Jakarta. 1976.
Hlm 15-6.
demikian dan segala cemooh, yang besar maupun yang kecil, yang setiap hari kami alami, tidak lain hanyalah membentuk pada diri kami sikap yang bermusuhan terhadap si penjajah.139
Jadi menurut Hatta, sikap perlawanan terhadap kekuasaan kolonial memang sudah tidak dapat terhindarkan lagi. Bahwa bangsa Indonesia sebagai bangsa terjajah mengalami diskriminasi dari bangsa kulit putih yang memandangnya rendah, namun disisi lain mendapatkan kekayaan dari keringat kerja bangsa yang dijajahnya. Hatta juga menyatakan adanya perlakuan yang tidak adil di muka hukum antara warga kulit putih dengan yang berwarna. Atas dasar itulah kemudian, lahir Indhische Vereniging pada tahun 1918 dan Indonesisch Verbond pada tahun 1917, dan menjadi Indonesische Vereniging pada tahun 1922. Pada tahun 1918, Pemerintah Belanda sempat berjanji akan melepaskan Indonesia yang kemudian dikenal sebagai “janji november”. Namun janji tersebut urung terlaksana hingga memunculkan ketidakpercayaan Belanda akan menepati janji tersebut.140 Atas alasan tersebut, Indonesische Vereniging berubah haluan menjadi non-kooperasi dan mengganti namanya menjadi Perhimpunan Indonesia.
139 Ibid hlm 16.
140 Ibid hlm 33, 41.
Apa yang terjadi pada tahun-tahun bergejolak tersebut adalah tindakan represif dari penguasa. Suara rakyat Indonesia dibungkam melalui sensor pers, pengekangan atas larangan berkumpul serta teror dari penguasa terutama melalui penggunaan pasal karet 161 bis KUHP. Hatta menyatakan:
[…] Orang yang faham tentang hukum pidana Hindia yang elastis itu dan orang-orang yang juga sadar akan amat luasnya penafsiran pasal-pasal undang-undang yang dilakukan oleh Pemerintah dan Pengadilan di Indonesia, mengerti bahwa dengan adanya pernyataan ini, pemerintah dengan leluasa dapat menjalankan kesewenang-wenangan dan mempraktekan ketidakadilan, dengan secara resmi berpegang pada “undang- undang”!141
[…] maka termuatnya pasal ini dalam undang-undang adalah pangkal dari segala kesengsaraan, permulaan dari segala pembatasan dan penyelewengan dan kekerasan. […]142
Jadi, hukum menjadi alat penguasa untuk melegitimasi ketidakadilan yang mereka terakan kepada rakyat negara jajahan. Hatta menyatakan bahwa suatu penguasa dengan sikap yang sewenang-wenang
141 Ibid hlm. 46. Pada bagian lain Hatta juga menyatakan bahwa “adalah sifat daripada sistim kolonial, bahwa hanya kemauan sipenguasa sajalah yang berlaku sebagai hukum”. Dalam ibid hlm 80.
142 Ibid hlm 47.
tersbeut tidaklah layak untuk dihormati.143 Karena adanya perilaku yang demikianlah, terdapat gerak balik perlawanan. Hatta mengumpamakannya sebagai
“banteng Sentot” yang karena terus menerus menerima kedzaliman penguasa lantas “mempertajam tanduknya, melemparkan gembalanya ke udara dan meremukkan badannya dengan injakan kaki kuatnya”.144 Pada tahun 1926, penguasa kembali mengeluarkan peraturan yang semakin mengekang: Pasal 153 bis dan 153 ter KUHP.
Pada pokoknya, ketentuan tersebut hendak membatasi kehidupan politik dari warga Indonesia.
Selain teror dengan stempel hukum serta praktik hukum yang berat sebelah, sulitnya kehidupan di Indonesia juga diperburuk dengan krisis ekonomi.
Sementara warga kolonial mengalami penghisapan, hasil keringat tersebut menjadi kekayaan yang dinikmati oleh negara penjajah. Jadi ketika rakyat sulit makan dan tidak menikmati kerja keras mereka, alih-alih, setiap protes yang mereka lancarkan akan berbalas dengan tindakan represif berupa kekerasan.145 Hatta kemudian menyatakan
“Pengalaman pahit telah mengajarkan kepada mereka
143 Dalam Ibid hlm. 49 Hatta menyatakan:
Tuan Ketua, suatu pemerintah yang dalam kesewenang-wenangan mencari alat untuk membuat lelucon, benar-benar tidak berhak dihormati oleh penduduk.
144 Ibid hlm 54.
145 Ibid hlm 71.
apa artinya “menaruh kepercayaan kepada penjajah”.146 Rasa tidak percaya itulah yang mendorong sikap non- kooperasi serta upaya untuk meraih kemerdekaan dari diri sendiri. Dan bagi Hatta, dorongan untuk lepas dari jerat kekuasaan kolonial memang sudah tidak lagi dapat dibendung.
Namun, walaupun “Indonesia Merdeka” disita, gagasan Persatuan Indonesia merembes terus dan mencapai berbagai lapisan penduduk. Tiada terdengar tumbuhnya padi!
Masyarakat memang sudah penuh dengan Gagasan Baru!147
Hatta juga menyatakan bahwa persoalan kolonial dan upaya untuk meraih kemerdekaan adalah pertama-tama dengan mengajukan pertanyaan mengenai kekuasaan.148 Ungkapan Hatta soal mengajukan pertanyaan mengenai kekuasaan itu penting, karena dari situlah akan terbuka bahwa pada hakikatnya manusia yang ada dalam kekuasaan kolonial adalah setara dengan penguasanya!
Bahwa adanya ketidaksetaraan adalah dikarenakan dari sistem itu sendiri.
Terakhir, tulisan ini hendak menggarisbawahi soal antisipasi Hatta akan tindak perlawanan melalui jalan konfrontasi fisik. Tindakan perlawanan melalui
146 Ibid hlm 73.
147 Ibid hlm 99.
148 Ibid hlm 118.
kekerasan ini oleh Hatta ia letakkan sebagai jalan terakhir apabila jalan-jalan yang lain mengalami kebuntuan.
Mengenai Perhimpunan Indonesia, dalam anggaran dasarnya atau dalam program prinsipnya tidak ada disebutkan unsur kekerasan. Kekerasan bukanlah suatu prinsip baginya, tetapi soal kegunaan. Bangsa Indonesia yang berdasarkan kebudayaan yang bersifat suka damai juga tidak mau menggunakan kekersan yang asal kekerasan saja. Namun bila bangsa yang lembut ini beralih pada tindakan kekerasan, maka hal itu disebabkan oleh karena tidak ada jalan lain, oleh karena kekerasan itu dipaksakan padanya oleh pihak atas, seperti yang dilakukan oleh pemerintah Fock. […]149
[…] Dalam perjoangan Perhimpunan Indonesia, kekerasan tidaklah merupakan unsur yang menentukan. Ia hanya mengenal satu macam kekerasan dan itu adalah cara yang akan dipakai oleh rakyat Indonesia sebagai suatu kesatuan yang tersusun pada suatu saat untuk merebut kembali kemerdekaannya.150
Hatta menyatakan adanya kemungkinan kekerasan itu sebagai suatu hal yang tidak terelakkan apabila terdapat dua kehendak yang saling bertentangan: antara penguasa kolonial dengan negara jajahannya yang hendak merdeka. Hatta juga membandingkan bahwa
149 Ibid hlm 131.
150 Ibid hlm 138.
yang terjadi di Indonesia tidaklah jauh berbeda dengan yang menjadi semangat dalam revolusi Perancis:
“Apabila suatu pemerintah memperkosa hak-hak rakyat, maka revolusi untuk rakyat itu dan untuk setiap bagian dari rakyat itu adalah hak yang paling suci dan kewajiban yang paling mendesak”.
Undang-undang dari hati nurani adalah jauh lebih unggul daripada semua undang-undang dari suatu negara. Pada hati nurani itulah orang harus tunduk, dan bukan pada negara, apabila kedua-duanya berbentur. “Keamanan dan (hak) menentang penindasan adalah hak-hak asasi manusia yang berlaku sepanjang masa. Dari Declaration des Droit de I’Homme” (Pernyataan hak-hak manusia). 151
Contoh Hatta di atas menjadi suatu refleksi tentang bagaimana hukum menjadi alat penindas. Selain itu, rangkuman pidato pledoi Hatta di atas juga bermanfaat untuk melihat bagaimana tingkatan perlawanan tersebut dilancarkan. Hatta melalui pledoinya pada pokoknya menyatakan bahwa perjuangan dalam ranah legal telah dan terus dilangsungkan. Melalui pers, melalui kelompok- kelompok legal, dan lain sebagainya. Akan tetapi, Hatta juga mengatakan bilamana langkah-langkah tersebut tersumbat, maka terbuka kemungkinan akan adanya
151 Ibid hlm 144-5.
“banteng Sentot” yang kelak akan menghancurkan gembalanya sendiri. Dengan demikian Hatta tidak mengesampingkan adanya jalan kekerasan apabila upaya untuk meraih keadilan tidak dapat diperoleh melalui jalan-jalan hukum. Dengan menilik pada semangat revolusi Perancis, Hatta melihat bahwa perlawanan terhadap penindasan adalah bagian dari hak paling suci yang mengatasi hukum-hukum negara.
Sebagai tambahan, nasib yang sama juga dialami oleh Soekarno pada 1930. Soekarno yang dihadapkan dalam persidangan atas keterlibatannya pada Partai Nasional Indonesia (PNI) dituding hendak menggulingkan kekuasaan pemerintah kolonial. Dalam persidangan di Landraad Bandung tersebut, Soekarno menyampaikan pledoinya yang termahsyur, “Indonesia Menggugat”.
Secara substantif, pledoi Soekarno tersebut sama dengan apa yang disampaikan oleh Hatta di Belanda. Pada pokoknya Soekarno mengutarakan perihal bagaimana penindasan kekuasaan kolonial, ketidakpercayaan atas
“janji november”, serta upaya-upaya yang dilakukan untuk memperoleh kemerdekaan, dan bahwa adalah suatu kewajaran bangsa yang dijajah memiliki keinginan untuk merdeka. Soekarno memang menyatakan bahwa PNI tidak bekerja dengan cara kekerasan. Akan tetapi dalam bagian pledoinya yang lain ia juga menyatakan
bahwa PNI berkeinginan untuk memantik gelombang yang tidak akan mungkin dapat dibendung -termasuk oleh kekuasaan kolonial. Bahwa semangat kesadaran nasional inilah yang sesungguhnya merupakan
“candrabirawa dan pancasona,-mahhakuasa, kekal abadi, tiada terkalahkan!”.
[…] PNI mengetahui, PNI insaf, PNI yakin, bahwa jika semangat rakyat itu sudah tersusun serta menyala-nyala berkobar-kobar, tidak ada satu kekuasaan duniawi yang bisa membinasakannya […]152
Dalam bagian yang lain:
[…] idam-idaman PNI ialah suatu pergerakan massa yang sehebat-hebatnya, suatu massa-aksi, yang membangkitkan ribuan, laksaan, ketian, ya, milyunan rakyat tua muda, laki- perempuan, pandai-bodoh, menak dan somah! Hanya dengan massa-aksi yang demikian itulah, menurut keyakinannya, pembentukan kekuasaannya bisa menjadi sempurna. Hanya dengan massa-aksi yang sebagai banjir yang mahakuasa yang tidak dapat dicegah majunya, massa-aksi yang sebagai gelombang melimpahi seluruh Indonesia, dari Aceh sampai ke Fak-fak, hanya dengan massa-aksi yang begitu, pembentukan kekuasaannya bisa menjadi kekuasaan yang sebenar-benarnya.
[…] Dengan badan lahir yang sebagai raksasa itu, dengan
152 Soekarno. Indonesia Menggugat. Departemen Penerangan Republik Indonesia.
Tanpa Tahun. Hlm. 103.