D
alam bidang pengajaran ilmu hukum, sosiologi hukum dapat dipandang sebagai satu bidang studi yang sifatnya hanya tambahan semata di fakultas-fakultas hukum di Indonesia, karena dipandang sebagai bidang studi yang lebih dekat dengan ilmu sosial dibanding dengan ilmu hukum.Demikian pula dengan peneliti di luar bidang
“hukum”, penelitian dengan hukum –dengan segala set definisinya- sebagai obyek studinya urung dilakukan dengan berbagai alasan.94 Padahal, studi hukum
94 Di universitas-universitas ilmu sosial di Inggris misalnya, pada umumnya memiliki ketertarikan yang minim saja pada bidang hukum. Entah karena tingkat “teknis” hukum yang tinggi, atau sebagai sesuatu yang tidak signifikan dalam perubahan sosial. Lihat dalam Roger Cotterrell. Socio-Legal Studies, Law Schools, and Legal and Social Theory. Queen Mary University of London, Legal Studies Research paper No. 126/2012. Hlm 6.
sesungguhnya tidak dapat dilepaskan dari konteks- konteks tempat hukum itu ada, bahwa hukum itu tidak hidup di ruang hampa. Di lain pihak, hukum (dalam berbagai definisinya) sendiri sesungguhnya penting atau setidaknya menjadi salah satu faktor yang tidak bisa dipisahkan dari tumbuh-kembang satu masyarakat tertentu.
I
Apakah sebenarnya barang bernama sosiologi hukum itu? Berikut adalah definisinya menurut Reza Banakar:
“[...] is an interdisciplinary field of research consisting of a large number of disparate approaches to the study of law in society.
These are brought together by a common epistemology that views law as a social construct and argues that law and all its manifestations should be studied empirically and contextually.
These approaches are, however, distinguished from each other by the way they conceptualize the ‘social’, how they employ the tools of social sciences and where they draw the boundaries of law and legality.”95
Jadi menurut Banakar, sosiologi hukum mempelajari hukum sebagai bagian dari gejala yang timbul, sebagai konstruksi sosial dengan pendekatan ilmu-ilmu sosial.
95 Reza Banakar. Sociology of Law. Sociopedia.isa, 2011. Hlm 1.
Karena menggunakan lensa dari ilmu sosial, maka sebagai konsekuensinya studi sosiologi hukum juga harus mengadopsi metode yang dipergunakan dalam ilmu sosial. Studi sosiologi hukum dengan demikian melihat hukum sebagai sebuah fenomena dan bagaimana dia hidup, akan tetapi, mempelajari bagaimana hukum itu hidup juga agaknya tidak dapat dipisahkan dari bagaimana ketentuan normatif dari hukum itu bekerja, untuk menunjukan sebagaimana dikatakan oleh Luhmann; “harapan normatif berhadapan dengan realitas faktual”-nya.96 Seorang penstudi sosiologi hukum, baik dari fakultas ilmu sosial maupun hukum, harus melihat pada satu sisi dimensi sosial dan pada sisi lain bagaimana sisi normatif hukum itu berjalan. Sekadar tambahan, studi mengenai dimensi sosial ini dalam bentuknya yang lebih mutakhir kini masuk dalam kategori besar socio-legal studies dimana sosiologi hukum bersama dengan antropologi hukum, sejarah hukum, marxisme hukum, feminisme hukum, dan lain sebagainya untuk membentuk perpaduan socio dan legal sebagai studi multi, inter, atau bahkan transdisiplin.97
96 Niklas Luhmann. Law as a Social System. Oxford University Press. 2004. Hlm 214.
97 Donny Danardono. Metode, Teori dan Ideologi dalam Studi Perempuan Interdisiplin terhadap Hukum. Pelatihan Metodologi Penelitian Sosio-Legal kerjasama Epistema Institute, AFHI, ASHI dan FH Undip 10-11 Mei 2013.,
Studi sosiologi hukum, sebagaimana diungkapkan di atas, berdiri dengan dua pijakan yang berbeda; studi sosiologi pada satu sisi, dan hukum pada sisi yang lain.
Menurut Banakar, sosiologi hukum dapat dirunut setidaknya melalui dua akar; studi para sosiolog tentang hukum dan ketertarikan para juris untuk mempekerjakan ilmuwan sosial untuk mempelajari hukum.98 Pada pokoknya, keduanya mendasarkan pada kesenjangan antara hukum dan kenyataanya dalam pengertianya yang bervariasi. Sosiologi Hukum kemudian berubah bentuk setelah perang dunia II dengan mewarisi tradisi realisme hukum amerika, dimana pada saat itu sosiologi hukum menjadi bagian dari gerakan sipil dan reformasi sosial.99 Barangkali pula, dapat dikatakan bahwa paham
“perubahan sosial” ini kemudian masuk ke Indonesia melalui sarjana hukum seperti Satjipto Rahardjo,
Lihat juga Sulistyowati Irianto. Memperkenalkan Kajian Sosio-Legal dan implikasi Metodologisnya dalam Adriaan W. Bedner et al (eds). Kajian Sosio- Legal. Pustaka Larasan, Universitas Indonesia, Universitas Leiden, Universitas Groningen. 2012. Hlm 5. Menurut Banakar, perbedaan antara Sosiolegal dan sosiologi hukum terletak pada penekananya terhadap bagian “hukum”nya lihat dalam op cit Banakar. Sociology of Law... hlm 4
98 Ibid hlm. 2
99 Ibid hlm 3. Tapi tidak seluruh tren berjalan demikian. Pada masa USSR maupun di Jerman Timur, mempelajari sosiologi hukum dilarang dan bahkan dianggap sebagai subversif.
Soetandyo Wignyosoebroto, dan lain sebagainya sebagai bagian dari gelombang tren sosiologi hukum tersebut.
Karena berdiri dari dua pijakan yang berbeda, sosiologi dan hukum, sosiologi hukum memiliki
“tegangan” antara keduanya. Yang pertama adalah dari perspektif bagaimana hukum memaknai non- hukum dengan memberikan keputusan-keputusan yang berdasarkan pada definisi yang diberikan dalam aturan formalnya melalui logika internal dari hukum itu sendiri. Pandangan kedua, bagaimana hukum muncul sebagai bagian atau sub-kategori dalam satu sistem sosial yang bekerja dengan sub-sistem yang lain.100 Sementara dalam studi hukum terdapat keputusan yang otoritatif, sosiologi berisikan konsep, asumsi, ide, metode yang terbuka.101 Meski berbeda, keduanya dapat bersifat saling melengkapi, dimana hukum membutuhkan asupan dari data sosiologis, dan sosiologi juga dapat melihat hukum untuk dapat merumuskan fenomena masyarakatnya maupun dari internal bekerjanya hukum itu sendiri.
Selain saling melengkapi, baik sosiologi maupun hukum dapat pula menjadi satu kesatuan ilmu sendiri, yaitu
100 Reza Banakar. Normativity in Legal Sociology, Methodological Reflections on Law and Regulation in Late Modernity. Springer. 2015. Hlm 35.
101 Ibid hlm 31, 34.
sosiolegal. Berikut adalah bagan dari Banakar mengenai cabang ilmu sosial dalam studi ilmu hukum:102
Dari bagan tersebut terlihat bahwa sosiologi hukum termasuk pada bagian penelitian sosiolegal murni yang menurut Banakar lebih kepada teori, dibandingkan dengan gugus sebelahnya lebih bersifat terapan yang lebih menitik beratkan pada hukum dan kebijakan.
Sosiologi Hukum, menggunakan konsep dan kerangka dari sosiologi, konsep hukum dari bagian dari sistem sosial, kemudian sosiologi hukum mengadopsi pendekatan empiris untuk melakukan analisanya.103 Menurut Banakar, kecenderungan dari sosiologi hukum adalah fokusnya untuk memahami suatu peristiwa terjadi dari sisi sosialnya atau manifestasi eksternalnya
102 Ibid hlm 42.
103 Ibid hlm 43
alih-alih untuk melakukan intrepretasi dari dalam faktor hukumnya.104 Lebih jauh lagi menurut Banakar:
“Looking at the sociologist’s neglect of legal ideas in a positive light, we could argue that it frees him or her from the internal culture of the legal system and the normative and epistemological assumptions about the law and legality, which are often taken for granted by officers of the law and academic lawyers, as well as by many laymen. [...] the sociologist’s method of questioning the way law is conceptualised internally, enables him/her to identify the sources of law in social formations and associations which have come about and exist independently of the state (Ehrlich’s ‘living law’ exemplifies this point). It also makes it possible to ask questions which fall outside the paradigm legal studies regarding, for example, the objectivity of legal reasoning. This is partly why many sociologist and social anthropologists regard social interactions and relations as the primary focus of their study while treating the law as a
‘residual category’.”105
Dalam gugus yang lain dalam bagan tersebut, disebutkan mengenai sociological jurisprudence.
Sebagaimana sosiologi hukum, sociological jurisprudence juga mengenakan teori-teori sosiologi. Faktor pembedanya adalah, sociological jurisprudence biasanya
104 Loc cit 105 Loc cit
lebih condong pada studi hukumnya secara praksis.106 Sejauh ini, dapat dikatakan bahwa sosiologi hukum adalah studi yang menggunakan teori dan metode ilmu sosial dalam mempelajari hukum dimana studi tersebut dilakukan untuk memahami realitas hukum sebagai salah satu sub-sistem dalam kehidupan sosial.
Akan tetapi, apakah pembedaan gugus tersebut sesungguhnya memang benar diperlukan? Menurut saya jawabannya bisa saja tidak, karena perbedaan dalam gugus-gugus tersebut lebih kepada titik beratnya saja maupun runtutan historisnya,107 namun tidak pada
106 Ibid hlm 46
107 Tentang pembeda dari sosiologi hukum dan sosio legal misalnya:
“In that sense it should not be confused with legal sociology of many West European countries or the Law and Society scholarship in the US, which foster much stronger disciplinary ties with social sciences. The Annual Conference of the SocioLegal Studies Association in 2003 was attended by 370 UK academics, 87% of whom were based in law departments.This shows that lawyers, and not social scientists, are the main actors in the field of socio-legal research in the UK. [...] The sociology of law receives its intellectual imputes mainly from mainstream sociology and aims to transcend the lawyer’s focus on legal rules and legal doctrine by remaining ‘exogenous to the existing legal system’, in order to ‘construct a theoretical understanding of that legal system in terms of the wider social structures’. That is why ‘the law, legal prescriptions and legal definitions are not assumed or accepted, but their emergence, articulations and purpose are themselves treated as problematic and worthy of study’. Socio-legal studies, on the other hand, often employs sociology (and other social sciences) not so much for substantive analysis, but as a tool for data collection.”
prinsip paling dasarnya; yaitu penggunaan metode ilmu sosial dalam melihat ilmu hukum. Secara teknis penelitian, terlebih pada masa semakin “kabur” nya batas ilmu pengetahuan, sesungguhnya hal tersebut bergantung dari minat dan kreativitas dari peneliti yang bersangkutan.
II
Terdapat dua pendekatan untuk melihat
“kesenjangan” antara hukum dan masyarakatnya;
melalui pendekatan dari top-down, ataupun pendekatan bottom-up.108 Pandangan yang pertama melihat bagaimana hukum –biasanya hukum negara- bekerja, melihat jarak antara hukum yang diharapkan dengan realitanya, ataupun bagaimana hukum dibuat dan kemudian ditafsirkan secara berbeda kemudian hari, implementasi, maupun pola kepatuhanya. Pandangan yang kedua berangkat dari bagaimana hukum itu sendiri hidup di masyarakatnya. Sementara yang pertama
Dalam Reza Banakar & Max Travers. Introduction. Dalam Reza Banakar &
Max Travers (eds). Introduction to Theory and Method in Socio-Legal Research.
Oxford, Hart. 2005. Hlm xi. Pada konteks lain, di Amerika misalnya, sosiologi hukum bersinonim dengan critical legal studies, critical race theory, feminist jurisprudence, criminology, dan gay and lesbian studies. Lihat dalam Richard A. Posner. The Sociology of the Sociology of Law: A View From Economics.
European Journal of Law and Economics, 2, 1995. Hlm 265.
108 Ibid hlm 50.
berpijak lebih pada “hukum negara” atau hukum yang
“otoritatif”, yang kedua berpijak pada tempat dimana hukum itu hidup dan dihidupi. Kemudian, apakah studi sosiologi hukum harus bersifat empiris? Apabila empiris yang dimaksud adalah studi lapangan, maka jawabanya adalah tidak selalu karena obyek dari sosiologi hukum itu sendiri mengikuti obyek dari kajian sosiologi, yang mana sejauh yang saya tahu, tidaklah selalu bersifat penelitian lapangan. Perkembangan kajian sosiologi seperti historikal sosiologis, analisa wacana, sosiologi politik, sosiologi ekonomi, sosiologi teknologi, maupun perpaduan antar semuanya sekalipun dapat menjadi obyek dari penelitian sosiologi. Hal dan konsekuensi yang lebih penting disini adalah mengenai metodologi dan metodenya.
Metodologi, disini adalah framework atau cara pandang dari penggunaan konsep, set definisi, maupun teori yang dipergunakan untuk melihat suatu fenomena dalam perspektif tertentu. Jadi pengunaan sosiologi dalam melihat suatu fenomena haruslah dihasilkan melalui koherensi berpikir dan penyampaian yang jernih atasnya. Kemudian dari konsep tersebut, turut serta pula metodenya, yaitu mengenai teknikalitas perolehan data. Sebagaimana disebutkan di awal, sosiologi hukum menggunakan metode sosial dalam melihat ilmu hukum.
Maka kaidah yang dipergunakan adalah kaidah metode sesuai dengan metodologi yang dipergunakan untuk menjawab permasalahan dari penelitian atau hal yang hendak diketahui darinya.
Misalkan apabila seseorang hendak melakukan penelitian mengenai rekonsiliasi akar rumput atas kekerasan negara pada rezim sebelumnya yang otoriter, dan ancangan teoritik yang dipergunakanya adalah teori mengenai rekognisi dan redistribusi, maka ia harus menjelaskan bagaimana rezim hukum dipergunakan atau disingkirkan untuk membenarkan kekerasan tersebut.
Selanjutnya ia pula harus menjelaskan bagaimana hukum pada masa rezim yang baru, apakah sama saja, berubah, atau berubah untuk sebagian saja. Kemudian ia menjelaskan pula bagaimana kondisi situasi dari sub- sistem sosial yang lain, serta bagaimana kondisi sosial berjalan bersamaan dengan perubahan hukumnya, dan sejauh mana keduanya saling mengintervensi, untuk menjelaskan bagaimana rekonsiliasi akar rumput oleh aktor non-negara dapat berlangsung. Apa kendalanya, dan bagaimana aktor sosial berjalan, dan lain sebagainya.
Contoh kedua, apabila seseorang hendak melakukan penelitian mengenai kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dengan menggunakan perspektif teori feminis.
Maka sebagai peneliti ia harus melihat bagaimana
hukum yang ada mengaturnya dan dalam konteks apa hukum yang demikian muncul, dan bagaimana pula dia diterapkan. Jalan lain adalah melihat bagaimana masyarakat itu sendiri memaknai perempuan dan posisinya dalam ruang privat, untuk melihat dari bawah guna memahami bagaimana fenomena kekerasan itu dapat terjadi. Atau dari perspektif lain, seorang peneliti KDRT bisa pula mencermati perempuan korban KDRT dari dekat dengan menggunakan metode etnografi, atau mungkin pula wawancara mendalam untuk memahami perspektif personal tersebut bersinggungan dengan hukum mengenai perlindungan terhadap KDRT.
Contoh terakhir apabila melakukan penelitian terhadap bagaimana hukum yang baru dipatuhi oleh masyarakatnya, atau bagaimana dirinya merepresentasi nilai yang hidup, maka penelitian kuantitatif mengenai persepsi yang didasarkan pada aspek-aspek masyarakat yang ditentukan dapat dipergunakan untuk menilainya.
Masing-masing contoh tersebut dapat pula dilihat berdasar studi perbandingan, atau pendekatan- pendekatan lain yang memungkinkan.
Terakhir, sebagai catatan, studi mengenai sosiologi hukum dalam tulisan ini atau yang menjadi rujukan disini adalah tradisi yang berkembang di barat. Namun pertanyaanya, dapatkah teori yang berangkat dari situasi
dan kondisi di barat tersebut dipergunakan di dunia ketiga seperti Indonesia? Dalam artian, apabila sosiologi hukum menggunakan teori dan perspektif barat, maka sangat mungkin muncul gap antara penggunaan perspektif teoritik beserta dengan metodologinya untuk kemudian diarahkan dalam setting masyarakat Indonesia. Akan tetapi tantangan ini sesungguhnya bukanlah suatu hambatan, melainkan justru menjadi pembahasan yang menarik melalui penelitian yang bersifat induktif. Kemudian pula untuk kedepan, bagaimana gap tersebut menjawab situasi globalisasi belakangan ini?109 Pertanyaan-pertanyaan dari Reza Banakar tersebut dapat kiranya untuk dilakukan jawaban melalui suatu grounded research. Penelitian yang berangkat dari realitet-realitet yang ada untuk kemudian dikembangkan guna melihat, apakah terdapat suatu corak khusus yang tidak dapat terjembatani dalam penggunaan perspektif pascakolonial.
Penggunaan perkakas baik metode maupun metodologi dari bidang ilmu lain menjadi tantangan tersendiri dalam studi sosiologi hukum. Para penstudi sosiologi hukum dituntut untuk dapat menggunakan teori, memberikan sumbangsih terhadap perdebatan teoritik yang diusung, atau dalam suatu tingkatan tertentu,
109 Op Cit Reza Banakar. Sociology of Law... hlm 6-9.
mengajukan suatu teori tersendiri. Studi sosiologi hukum diminta untuk tidak hanya dapat menjelaskan bagaimana hukum sebagai suatu gejala muncul bersama dengan aspek kehidupan lain, melainkan juga untuk dapat mengetahui kenapa ia muncul dengan coraknya yang demikian. Secara garis besar, studi sosiologi hukum adalah untuk memahami hukum dalam masyarakat yang kompleks, hukum sebagai suatu gejala dengan kelit kelindan dengan aspek kehidupan yang lain.