BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Paparan Data
3. Data Tentang Capaian Perkembangan Karakter Religius Anak Setelah Guru
Tidak ada tindak lanjut di rumah dari orang tua mengenai keteladanan yang sudah diterapkan di sekolah. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Ibu Hestri Wahyu Nurendah:
Faktor penghambatnya tidak berkesinambungannya antara teladan guru di sekolah dengan di rumah karena tidak adanya keteladanan dari orang tua tadi. Anak melihat bu gurunya di sekolah seperti ini, teladannya bagus seperti ini, tapi kalau di rumah kosong sama saja. Tidak sinkronnya antara pendidikan di sekolah dengan pendidikan di rumah. Namanya orang berbeda-beda, kita juga tidak tahu tingkat pemahamannya seperti apa. Juga terdapat ketidak sesuaiannya dengan di rumah. Sebagus apapun program kita di sekolah, seheboh apapun kita menyampaikannya, sesemangat apapun saya memberikan, tapi kalau di rumah tidak sinkron maka akan kurang maksimal, hilang semua.100
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi di atas, dapat dipahami bahwa faktor pendukung implementasi metode keteladanan guru dalam membentuk karakter religius anak yaitu, usia anak yang sesuai dengan tingkat perkembangan, keserasian antara pendidikan di sekolah dengan pendidikan di rumah, Orang tua yang aktif, dan fasilitas sekolah yang memadai. Adapun faktor penghambat implementasi metode keteladanan guru dalam membentuk karakter religius anak adalah tingkat pemahaman anak yang berbeda-beda, tingkat kepedulian orang tua yang kurang, tidak setabilnya emosi guru, tingkat motivasi guru rendah, kurang konsisten dalam pemberian keteladanan oleh guru, dan tidak adanya tindak lanjut di rumah oleh orang tua mengenai keteladanan yang sudah diterapkan di sekolah.
3. Data Tentang Capaian Perkembangan Karakter Religius Anak Setelah Guru
Terdapat perbedaan yang cukup signifikan setelah anak mendapat teladan di sekolah.
Dari anak yang nol tidak tahu apa-apa, dengan bersekolah mendapat keteladanan guru dan penjelasan guru otomatis dia akan berubah. Jarang saya rasa anak itu di rumah diajarin praktik sholat. Berbeda dengan praktik sholat di sekolah. Karena di sekolah akan ditata bagaimana gerakannya yang betul, bagaimana bacaannya yang betul beda dengan di rumah hanya mengikuti ibu dibelakang sehingga tidak tahu apa yang dilafalkan dalam setiap gerakan sholat.101
Wawancara di atas sesuai dengan pengamatan yang dilakukan peneliti. Anak-anak sudah terbiasa untuk selalu beribadah kepada Allah SWT. Sebelum pelajaran dimulai anak-anak berdo’a, bersholawat dan menghafalkan Asmaul Husna yang telah diberikan contoh langsung oleh guru yang dilakukan secara berulang-ulang sehingga menjadi sebuah kebiasaan. Dilanjutkan menyanyikan beberapa lagu dan tepuk tangan untuk meningkatkan semangat anak-anak. Kemudian mereka diajak guru untuk sholat Duha berjama’ah dan dengan sigap mereka langsung membentuk shaf sholat yang mana laki- laki dishaf paling depan dan yang perempuan dishaf belakang. Salah satu murid menjadi imam sholat untuk teman-temannya. Anak-anak melaksanakan sholat dengan baik dan melafadzkan bacaan sholat bersama-sama dengan kompak. Akan tetapi anak-anak masih di dampingi oleh guru selama melakukan praktik sholat tersebut. Karena masih ada beberapa anak yang belum sepenuhnya hafal bacaan dan gerakan sholat sehingga guru menjadi pemandu yang mengarahkan anak ketika salah bacaan ataupun gerakannya.
Selesai sholat anak-anak berdo’a bersama dan saling bersalaman.
Bertepatan juga dengan hari jum’at anak-anak diajak untuk berinfaq yang mana sudah menjadi agenda mingguan sehingga para orang tua sudah menyiapkan uang untuk anak-anaknya berinfaq. Kemudian kegiatan belajar hari ini diakhiri dengan do’a bersama- sama.
Berbagai macam kegiatan positif yang sudah dicontohkan langsung oleh guru sehingga telah menjadi suatu kebiasaan baik bagi anak-anak seperti berdoa diawal dan
101 Lihat Transkrip Wawancara Nomor 05/W/20-4/2022
akhir pelajaran, bersholawat, menghafal Asmaul Husna, dan masih banyak lagi. Anak juga dibiasakan untuk selalu sholat jama’ah seperti praktik sholat Duha yang dilakukan bersama-sama dengan teman sekelas. Kegiatan ini mengajarkan anak untuk saling menghormati, sabar, ikhlas. Lalu juga ada kegiatan berinfaq yang mengajarkan anak untuk ikhlas beramal, peduli dengan orang lain, jujur dan amanah.102
Anak sudah bisa mengenali agama yang dianutnya yaitu agama Islam. Seperti yang terlihat dalam pengamatan peneliti di kelas B8, anak-anak dengan antusias belajar mengenai agama yang dianutnya yakni agama Islam melalui nyanyian-nyanyian dan berbagai macam tepuk tangan agar mudah diterima oleh anak. Hal yang pertama kali dikenalkan kepada anak yaitu mengenai iman dan islam yang mana menjadi dasar dari agama Islam. Tidak hanya teori saja anak-anak juga diberi contoh langsung oleh guru bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, misalnya pengamalan dari rukun Islam Syahadat, guru meyakinkan anak-anak untuk selalu menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya karena setiap perbuatan yang dilakukan oleh manusia pasti diketahui Allah SWT.103
Anak-anak sudah mampu mengenali ritual dan hari-hari besar agama Islam yang mana anak-anak dapat mengambil teladan dari peristiwa-peristiwa dibaliknya. Seperti pengamatan yang dilakukan peneliti di kelas B6, guru mengenalkan beberapa hari besar agama Islam. Guru menjelaskan bagaimana cara memperingati hari-hari besar Islam.
Misalnya ketika memperingati hari raya Idul Adha anak-anak diajak untuk meneladani kisah nabi Ibrahim dan nabi ismail yang mana nabi Ibrahim diperintahkan Allah SWT untuk menyembelih putra kesayangannya yaitu nabi Ismail. Dari kisah tersebut anak- anak bisa meneladani dan mencontoh sikap sabar, tawakal dan ikhlas dari kedua nabi tersebut. Dibuktikan dengan perilaku anak-anak sabar mengantri saat akan berpamitan pulang dengan guru. Anak-anak nampak berjajar rapi dan tertib. Anak-anak telah
102 Lihat Transkrip Observasi Nomor 04/O/14-X/2022
103 Lihat Transkrip Observasi Nomor 03/O/11-X/2022
dikenalkan dengan hari-hari besar agama Islam seperti hari raya Idul Fitri, hari raya Idul Adha, Isro’ Mi’roj, Maulid Nabi serta bagaimana cara memperingatinya. Pada hari ini anak-anak dijelaskan mengenai perayaan hari raya Idul Adha yang mana anak-anak diajak untuk meneladani kisah nabi Ibrahim dan nabi Ismail yang menjadi asal usul terjadinya hari raya Idul Adha. Anak-anak diajak untuk meneladani kisah dari kedua nabi tersebut agar selalu sabar, ikhlas, ridho, menaati perintah Allah SWT, dan berbakti kepada orang tua.104
Anak mengalami perubahan yang cukup signifikan mengenai karakter religiusnya setelah mereka mendapatkan pendidikan dan keteladanan yang baik dari guru-guru di sekolah. Apa lagi anak-anak yang sudah lama belajar di sekolah TK Muslimat NU 001 Ponorogo, karakter religius mereka sudah mengalami perkembangan sangat baik yang mana karakter tersebut sudah melekat dalam diri anak dan telah menjadi sebuah kebiasaan yang telah dilakukan dalam kesehariannya. Hal ini sejalan dengan ungkapan Ibu Hestri Wahyu Nurendah:
Sangat bagus karena kelompok B8 itu rata-rata karakter religiusnya sudah bagus, praktik sholatnya sudah bisa sendiri, terus aplikasinya ke lingkungan sudah ada.
Anak sudah bisa bersikap sopan dalam kegiatan sehari-hari baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan rumah. Dari awalnya yang tidak mau mengaji di TPQ, dengan bimbingan guru anak sudah mulai ikut mengaji di TPQ. Untuk capaian perkembangan sendiri menggunakan STTPA, yang mana rata-rata di kelas B8 sudah tamat untuk STTPA tersebut. 105
Wawancara di atas sesuai dengan pengamatan yang dilakukan peneliti. Anak-anak sudah mampu memahami perilaku mulia baik disekolah maupun di rumah. Sebelum memasuki ruang kelas anak-anak bersalaman dengan guru-guru serta mengucapkan salam. Kemudian langsung meletakkan tas di atas bangku masing-masing. Proses belajar diawali dengan do’a bersama. Anak-anak belajar mengenai hewan peliharaan bersama guru. Mereka mendapatkan tugas untuk mewarnai gambar ikan. Ada seorang anak nampak murung raut mukanya karena crayon warnanya tertinggal di rumah. Kemudian
104 Lihat Transkrip Observasi Nomor 07/O/15-X/2022
105 Lihat Transkrip Wawancara Nomor 05/W/20-4/2022
ada salah satu temannya yang mengetahui hal tersebut lalu diajaklah untuk bergantian dalam menggunakan crayon warna milik temannya. Anak-anak sudah memahami dan melakukan perilaku-perilaku mulia serta sudah menjadi kebiasaan dalam diri anak.
Terlihat dari sikap dan perilaku anak ketika berjumpa dengan guru mereka bersalaman dan mengucapkan salam dengan santun yang mencerminkan rasa hormat mereka terhadap guru. Meletakkan tas dengan tertib dan rapi di atas bangku masing-masing.
Selalu mengawali kegiatan dengan do’a agar selalu diberi kelancaran dalam belajar dan diberkahi ilmunya. Di sekolah anak juga belajar berbagi, memiliki rasa belas kasih, dan saling tolong-menolong antar teman seperti mengajak temannya yang tidak membawa crayon warna untuk bergantian memakai crayon miliknya.106
Anak-anak sudah mampu menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Dibutikan dengan pengamatan yang dilakukan peneliti di kelas B6. Saat pelajaran sedang berlangsung nampak seorang anak membuang sisa-sisa potongan kertas dari hasil menggunting.
Setelah digunting hasilnya ditempel di kertas tugas. Karena terkena lem, anak-anak mencuci tangannya di wastafel. Jam istirahat tiba, anak-anak langsung mengambil mainan kesukaan masing-masing. Akan tetapi nampak dua orang anak sedang berebut dan berteriak-teriak merebutkan mainan. Guru yang mengetahui hal tersebut langsung menegur agar saling bergantian dan berbicara dengan baik saat meminjam mainan. Dua anak tersebut langsung saling bermaaf-maafan dan bermain bersama dengan bergantian.
Ketika waktu pulang tiba, anak-anak dengan sigap merapikan alat tulis masing-masing.
Dari hasil observasi tersebut terlihat anak sudah mampu menjaga kebersihan diri dan lingkungan yang dibuktikan dengan adanya inisiatif dari diri anak sendiri untuk membuang sampah sisa-sisa hasil menggunting ke tempat sampah. Hal ini menunjukkan bahwa anak paham akan perilaku tersebut merupakan perilaku baik yang mana
106 Lihat Transkrip Observasi Nomor 05/O/13-X/2022
menjadikan kelas lebih bersih dan nyaman untuk digunakan anak-anak belajar. Kemudian anak juga dengan kesadarannya masing-masing mencuci tangannya di wastafel yang membuktikan bahwa kesadaran akan kebersihan diri sendiri. Tetapi juga ada sebagian anak masih berperilaku kurang baik yakni saling berebut mainan dan berteriak satu sama lain namun akhirnya mereka menyadari perbuatan mereka yang salah sehingga saling meminta maaf dan bergantian dalam memainkan mainan tersebut. Ketika akan pulang anak-anak tanpa diminta guru juga segera merapikan alat tulis masing-masing.107
Anak-anak sudah mampu menghormati agama orang lain. Seperti pernyataan dari bu Hastri:
Anak-anak diajarkan untuk toleransi atau menghargai agama orang lain dengan cara ketika ada sebuah event seperti natal atau imlek guru memberikan pengertian sederhana melalui penjelasan singkat, APE atau melalui sebuah vidio. Akan tetapi guru tidak menjelaskan begitu rinci mengenai agama orang lain, hanya sekedar pengetahuan dasar. Disini anak lebih ditekankan dengan agamanya yaitu agama Islam namun tetap diajarkan mengenai toleransi. Selain itu di sekolah juga ada kegiatan sijum yaitu nasi jum’at yang mana anak-anak diminta untuk membagi- bagikan nasi kepada orang yang lewat disekitar sekolah mereka tanpa terkecuali.108 Anak-anak sedari dini sudah dikenalkan dengan toleransi atau menghormati agama orang lain. Diharapkan anak terbiasa dengan adanya perbedaan dan menjadi peribadi yang penuh dengan kasih saya sesama makhluk, menghargai, menghormati dan toleransi dengan semua apa yang dilakukan agama lain kecuali dalam hal akidah.
Guru melihat tercapai atau tidaknya perkembangan karakter religius anak dari informasi-informasi wali murid juga. Karena capaian perkembangan akan terlihat lebih jelas ketika anak sudah berada di rumah. Seperti yang dituturkan oleh Ibu Hestri Wahyu Nurendah:
Anak TK belajar dari hal yang nyata. Di sekolah yang dilihat dan dipandang anak didik yaitu guru sehingga menjadikan mereka teladan atau role model bagi anak didik. Ada tidaknya perubahan setelah anak mendapatkan teladan di sekolah terlihat dari cerita orang tuanya atau dari cerita orang-orang yang ada disekitarnya. Hasil atau adanya perubahan jika di kelas kurang bisa terlihat jelas, karena di kelas
107 Lihat Transkrip Observasi Nomor 06/O/12-X/2022
108 Lihat Transkrip Wawancara Nomor 06/W/21-4/2022
praktiknya bersama-sama sehingga agar terlihat jelas hasilnya kita melihat tingkah laku anak selama di rumah. Ada banyak sekali cerita tentang perubahan pada anak, contohnya ada seorang anak yang sedikit-sedikit sudah hafal surat-surat pendek, sudah rajin berangkat ke masjid dan melaksanakan sholat Subuh berjama’ah.109 Berdasarkan hasil wawancara dan observasi di atas mengenai implementasi keteladanan guru, capaian perkembangan karakter religius anak usia 5-6 tahun di TK Muslimat NU 001 Ponorogo rata-rata sudah berkembangan sangat baik diantaranya anak sudah mengenal agama yang dianut, membiasakan diri beribadah, memahami perilaku mulia (jujur, penolong, sopan, hormat, dsb), menjaga kebersihan diri dan lingkungan, mengenal ritual dan hari besar keagamaan. Berikut tabel dari hasil capaian perkembangan karakter religius anak usia 5-6 tahun di TK Muslimat NU 001 Ponorogo110:
Tabel 4.4 Hasil Capaian Perkembangan Karakter Religius Anak Usia 5-6 Tahun di TK Muslimat NU 001 Ponorogo
No. Nama
Indikator Pencapaian Perkembangan Karakter
Religius Ket
1 2 3 4 5 6
1. Adiba Rasyuqa Ma’arif BSB BSH BSB BSB BSB BSH BSB 2. Akio Satrio Seto W BSB BSH MB BSB BSH BSH BSH 3. Alika Meylaputri BSB BSH BSB BSB BSB BSH BSB 4. Beryl Aryasathya Arziki BSB BSH BSH BSB BSH BSH BSH 5. Clarabelle Anindhita P BSB BSH BSB BSB BSB BSB BSB 6. Dherryl Reyner Phoan A BSB BSH BSH BSB BSH BSH BSH 7. Faqien Fadillah Muhammad R BSB BSH BSH BSB BSH BSH BSH 8. Farza Naufalin Ayunindya BSB BSH BSH BSH BSH BSH BSH 9. Humaira Nuralita Azzahra BSB BSB BSH BSB BSB BSH BSB 10. Ibnu Azka Fatachul Mubarok BSB BSH BSB BSB BSB BSH BSB 11. Irzaldi Rakha Rosyadi BSB BSH MB BSB BSB BSH BSB 12. Muhammad Ammar Al-Faruq BSB BSH BSB BSH BSH BSH BSH 13. Nadhif Arganta Monoarfa BSB BSH BSB BSB BSB BSH BSB 14. Narendra Respati Daniswara BSB BSB BSH BSB BSB BSH BSB 15. Nisrina Nibras Shohwa BSB BSH BSB BSB BSH BSB BSB
109 Lihat Transkrip Wawancara Nomor 05/W/20-4/2022
110 Lihat Transkrip Dokumentasi Nomor 03/D/22/XI/2022
Keterangan Indikator Pencapaian:
1. Mengenal agama yang dianut 2. Membiasakan diri beribadah
3. Memahami perilaku mulia (jujur, penolong, sopan, hormat, dsb) 4. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan
5. Mengenal ritual dan hari besar keagamaan 6. Menghormati agama orang lain
Keterangan :
BB : Anak Belum Berkembang MB : Anak Mulai Berkembang
BSH : Anak Berkembang Sesuai Harapan BSB : Anak Berkembang Sangat Baik