BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Paparan Data
2. Data Tentang Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi Metode
gerakana sholat, bagaimana mereka mengatahui bacaan-bacaan sholat dengan memberikan dan ikut melaksanakannya.91
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi di atas dapat dikatakan bahwa implementasi keteladanan guru dilakukan melalui dua cara yaitu yang pertama secara langsung dengan melalui teladan guru baik ucapan, sikap dan perilaku yang disampaikan kepada anak-anak seperti praktik wudlu, tata cara sholat, bacaan sholat, bacaan surat- surat pendek, dan lain sebagainya. Selain dari guru langsung, dari pihak sekolah juga bekerja sama dengan wali murid dalam memaksimalkan keteladanan yang sudah dilakukan guru di sekolah. Yang kedua implementasi keteladanan secara tidak langsung melalui kisah-kisah teladan yang disampaikan oleh guru baik dari al-Qur’an ataupun Hadits. Adapun metode keteladanan guru dapat dibedakan menjadi dua yaitu yang pertama pengaruh yang disengaja seperti guru memberi contoh tata cara sholat, adab ketika berdo’a, dan lain-lain. Yang kedua pengaruh yang tidak disengaja seperti tampilan fisik, pribadi guru, suasana kelas, dan lain-lain.
2. Data Tentang Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi Metode
Dimasa kanak-kanak atau usia Pra sekolah sangat tepat untuk memberikan landasan atau pondasi religius, dimana masa-masa ini merupakan golden age masa berkembangnya otak secara pesat. Selain itu pendidikan agama perlu diperkenalkan dan diajarkan pada anak sejak usia dini. Ini mempunyai tujuan supaya kelak saat dewasa, anak dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, termasuk belajar pendidikan agama Islam yang mana menjadi bekal utama mereka ketika dewasa.”92
Ditambah dengan pribadi guru yang baik. Seperti ungkapan dari Ibu Hestri Wahyu Nurendah:
Kelebihan: anak TK belajarnya secara nyata atau secara langsung. Kalau dengan abtrak hanya cerita saja dia tidak akan masuk, tapi kita imbangi dengan keteladanan guru juga. Jadi apa yang dimaksudkan langsung masuk langsung mengena.93
Kemudian keserasian antara pendidikan di sekolah dengan pendidikan di rumah juga mempengaruhi pembentukan karakter religius anak. Seperti penjelasan dari Ibu Hestri Wahyu Nurendah:
Tugas guru yang pertama adalah mensinkronkan dahulu, mengkomunikasikan dahulu dengan orang tua melalui kelas parenting. Di kelas saya juga akan memberikan edukasi keorang tua, seperti bagaimana karakteristik anak TK, indikator apa yang akan dicapai dalam perkembangan anak, stimulus apa yang bisa dilakukan orang tua.
Jadi nanti akan nyambung dengan di rumah dan di sekolah.94
Orang tua yang aktif juga berpengaruh terhadap keberhasilan keteladanan yang sudah dilakukan di sekolah oleh guru. Sebagaimana yang diungkapkan Ibu Hestri Wahyu Nurendah:
Pendukungnya jika orang tuanya pro aktif akan jadi motivasi kita. Kalau kita mempunyai motivasi diri yang tinggi kita mengajarinya juga akan mudah. Didukung juga dengan sarana prasarana di sekolah Alhamdulillah bagus. Kita punya yayasan yang sangat mendukung, punya tim work atau teman sejawat yang sangat mendukung, sangat bagus sekali.95
Fasilitas sekolah yang memadai sebagai penunjang dalam pembentukan karakter religius anak karena akan mempermudah guru dalam penyampaian keteladanan selama anak di sekolah.
92 Lihat Transkrip Wawancara Nomor 02/W/25-3/2022
93 Lihat Transkrip Wawancara Nomor 04/W/19-4/2022
94 Lihat Transkrip Wawancara Nomor 05/W/20-4/2022
95 Lihat Transkrip Wawancara Nomor 05/W/20-4/2022
Selain adanya faktor pendukung di atas, dari hasil wawancara dan observasi juga terdapat faktor penghambat dalam implementasi keteladanan guru, diantaranya tingkat pemahaman anak yang berbeda-beda dan tingkat kepedulian orang tua yang kurang. Hal ini seperti yang diungkapkan Ibu Hestri Wahyu Nurendah:
Kesulitannya dari pribadi anak. Kesulitan yang saya dapat itu tingkat pemahaman anak yang berbeda meskipun kita sudah menyesuaikan dengan walinya. Ada beberapa wali murid kurang aktif dalam artian guru sudah memberikan pembelajaran di kelas tapi tidak berkelanjutan di rumah, itu kesulitannya. Meskipun kita sudah berusaha untuk menyingkronkan seperti apa, namanya wali murid juga beragam, ada yang super sibuk sampai lupa kadang dengan barang bawaan anak. Jadi kesulitannya tingkat pemahaman anak dan tingkat kepedulian orang tuanya itu.96
Tidak setabilnya emosi guru dan tingkat motivasi guru rendah mempengaruhi dalam pembentukan karakter religius anak yang dilakukan melalui metode keteladanan guru.
Sebagaimana ungkapan Ibu Hestri Wahyu Nurendah: “Banyak faktor, dari pribadi guru, tingkat motivasi guru di dalam diri sendiri. Tingkat kepedulian orang tua, mungkin acuh atau karena sibuk”.97
Hal ini juga sama seperti ungkapan Ibu Hestri Wahyu Nurendah yang lain:
Kekuranga metode keteladanan kalau dari anak didiknya sendiri saya rasa sangat sedikit. Mungkin kekurangna dari pribadi guru. Guru juga manusia, kadang emosinya tidak setabil dan dikhawatirkan saat emosi guru tidak setabil entah karena masalah apa dan dilihat oleh anak maka akan mencontoh sehingga meanset mereka juga marah-marah karena melihat guru berbicara dengan keras, akan tetapi maksudnya tidak marah. Kadang yang kita maksud itu tidak marah, karena suaranya tinggi anak pahamnya guru sedang marah.98
Menjaga konsistensi dalam pemberian teladan guru sedikit mengalami kesulitan.
Sebagaimana penuturan dari Ibu Hanik Mas’adah: “Kesulitannya ialah menjaga konsistensi untuk anak didik, karena saat dengan sesama guru maupun anak yang sudah sangat akrab terkadang sikap santun terlupakan”.99
96 Lihat Transkrip Wawancara Nomor 06/W/21-4/2022
97 Lihat Transkrip Wawancara Nomor 06/W/21-4/2022
98 Lihat Transkrip Wawancara Nomor 04/W/19-4/2022
99 Lihat Transkrip Wawancara Nomor 02/W/25-3/2022
Tidak ada tindak lanjut di rumah dari orang tua mengenai keteladanan yang sudah diterapkan di sekolah. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Ibu Hestri Wahyu Nurendah:
Faktor penghambatnya tidak berkesinambungannya antara teladan guru di sekolah dengan di rumah karena tidak adanya keteladanan dari orang tua tadi. Anak melihat bu gurunya di sekolah seperti ini, teladannya bagus seperti ini, tapi kalau di rumah kosong sama saja. Tidak sinkronnya antara pendidikan di sekolah dengan pendidikan di rumah. Namanya orang berbeda-beda, kita juga tidak tahu tingkat pemahamannya seperti apa. Juga terdapat ketidak sesuaiannya dengan di rumah. Sebagus apapun program kita di sekolah, seheboh apapun kita menyampaikannya, sesemangat apapun saya memberikan, tapi kalau di rumah tidak sinkron maka akan kurang maksimal, hilang semua.100
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi di atas, dapat dipahami bahwa faktor pendukung implementasi metode keteladanan guru dalam membentuk karakter religius anak yaitu, usia anak yang sesuai dengan tingkat perkembangan, keserasian antara pendidikan di sekolah dengan pendidikan di rumah, Orang tua yang aktif, dan fasilitas sekolah yang memadai. Adapun faktor penghambat implementasi metode keteladanan guru dalam membentuk karakter religius anak adalah tingkat pemahaman anak yang berbeda-beda, tingkat kepedulian orang tua yang kurang, tidak setabilnya emosi guru, tingkat motivasi guru rendah, kurang konsisten dalam pemberian keteladanan oleh guru, dan tidak adanya tindak lanjut di rumah oleh orang tua mengenai keteladanan yang sudah diterapkan di sekolah.
3. Data Tentang Capaian Perkembangan Karakter Religius Anak Setelah Guru