BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Paparan Data
1. Data Tentang Implementasi Metode Keteladanan Guru dalam Membentuk
Saat ini kehadiran guru sebagai pendidik sangatlah penting yang mana sebagian besar tugas orang tua dalam mendidik anak yang menjadi amanah dari Allah SWT sedikit lebih sudah terbantu dengan adanya seorang guru. Guru tidak hanya mentransfer ilmunya saja akan tetapi juga sebagai pendidik dan pemberi teladan yang baik. Teladan guru memberikan dampak yang cukup besar bagi perkembangan karakter anak. Sebagaimana pengertian keteladanan menurut pendapat Ibu Hanik Mas’adah selaku Kepala Sekolah:
“Keteladanan merupakan hal-hal yang dapat ditiru atau dicontoh, bisa berupa ucapan, sikap maupun perilaku. Bagi anak usia dini keteladanan sangat penting, karena salah satu ciri khas anak adalah peniru ulung, keteladanan paling utama yaitu dari guru dan orang tua.74
74 Lihat Transkrip Wawancara Nomor 01/W/24-3/2022
Apalagi untuk pendidikan anak usia dini, teladan guru menjadi perhatian khusus karena anak merupakan peniru ulung. Anak yang baru lahir diibaratkan sebagai kertas putih yang masih kosong atau sering dikenal dengan teori tabula rasa yang akan terisi oleh coretan-coretan dari berbagai faktor seperti lingkungan, keluarga dan pendidikan.
Salah satunya melalui teladan guru yang menjadi idola anak-anak dan role model dalam melakukan segala hal entah dari segi tingkah laku, cara berpakaian, sikap, dan lain sebagainya. Sebagaimana yang dituturkan oleh Ibu Hestri Wahyu Nurendah selaku wali kelas B8:
Guru merupakan sosok yang wajib memberikan teladan bagi anak didiknya atau role model karena sifatnya anak TK itu belajar dari keteladanan atau dari contoh.
Sehingga sebisa mungkin guru harus bisa memaksimalkan keteladannya tentang bagaimana guru itu bersikap karena anak-anak nantinya akan meniru dan mencontoh apa yang mereka lihat.75
Selain itu Ibu Hestri Wahyu Nurendah juga menuturkan betapa pentingnya keteladanan guru bagi anak didiknya:
Keteladanan guru sangatlah penting bagi anak didiknya karena anak TK itu belajarnya dari keteladanan atau role model guru. Di sekolah terutamanya, dengan melihat guru yang mereka jadikan idola. Kalau di rumah mereka melihatnya dari orang tuanya, tapi kebanyakan anak-anak tetap menjadikan gurunya sebagai teladanan. Terdapat satu contoh kasus ada anak yang dinasehati ibunya tidak terlalu nurut karena tidak sama dengan apa yang dilakukan gurunya sehingga anak lebih memandang dan mendengarkan gurunya daripada ibunya karena saking sukanya anak terhadap guru tersebut.76
Penanaman karakter religius pada anak dilakukan agar anak menjadi pribadi yang terbiasa selalu melakukan hal-hal baik dan menjauhi hal-hal buruk dalam setiap langkah kehidupannya. Menjadikan hidup anak lebih terarah, tertata dan memberikan manfaat bagi diri sendiri serta orang yang ada disekitarnya. Sebagaimana pengertian dari karakter religius itu sendiri yang dituturkan langsung oleh Ibu Hanik Mas’adah: “Karakter religius
75 Lihat Transkrip Wawancara Nomor 03/W/18-4/2022
76 Lihat Transkrip Wawancara Nomor 03/W/18-4/2022
adalah sikap atau perilaku yang mencerminkan rasa patuh serta taat dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya”.77
Pendidikan karakter religius dilakukan sejak dini karena pendidikan karakter berbeda dengan pendidikan lainnya yang mana memerlukan waktu yang sangat lama dalam pembentukannya. Sehingga pendidikan karakter lebih baik dilakukan sedini mungkin yang mana akan lebih cepat melekat dan terbentuk karena usia tersebut merupakan masa keemasan atau golden age pada anak. Seperti yang dituturkan oleh Ibu Hanik:
“Penerapan pendidikan karakter sudah diterapkan. Karena pada anak usia dini ada golden age yaitu masa-masa dimana masa ini sangat penting untuk memberikan sebuah pendidikan yang nantinya akan membekas, yaitu anak diberi pendidikan sejak kecil hingga anak-anak dewasa”.78
Penerapan keteladanan guru di sekolah TK Muslimat NU 001 Ponorogo untuk membentuk karakter religius anak sudah dilakukan dengan berbagai upaya. Seperti yang diutarakan Ibu Hanik Mas’adah:
Pelaksanannya dilakukan dengan penanaman Nilai Agama dan Moral (NAM) hal ini masuk pada kurikulum selain itu hal ini diterapkan pada rencana pembelajaran mulai RPPM, RPPH NAM sudah masuk di dalamnya. Selain itu juga ada kegiatan pembiasaan-pembiasaan mulai dari berdo’a, kemudian anak-anak bersholawat dan lain sebagainya, dan hal itu dilaksanakan berulang-ulang setiap hari bersama guru sehingga anak-anak diharapkan tidak hanya hafal namun nanti akan menjadi pembiasaan yang baik.
Jadi karena basic kita adalah TK Muslimat dimana menganut ajaran ahlusunnah wal jama’ah dan ini juga tertuang pada tujuan sekolah. Kemudian ada visi, misi, dan tujuan sekolah, dimana tujuannya sekolah salah satunya meletakkan dasar dan nilai- nilai agama Islam ahlussunah wal jama’ah dalam jiwa anak sejak dini.
Bentuk pelaksanaan pendidikan karakter religius di TK Muslimat NU 001 tidak hanya diberikan kepada anak-anak saja namun juga kepada orang tua. Dimana ada beberapa program yang kaitannya dengan orang tua atau keorang tuaan salah satunya pada waktu kegiatan pertemuan itu selalu kita ajak orang tua untuk membacakan tahlil terlebih dahulu. Selain itu juga ada salah satu program khotmil qur’an atau simaan al-Qur’an yang melibatkan orang tua. Jadi untuk pelaksanaan pendidikan karakter ini tidak hanya sasarannya anak saja namun diharapkan orang tua juga
77 Lihat Transkrip Wawancara Nomor 01/W/24-3/2022
78 Lihat Transkrip Wawancara Nomor 01/W/24-3/2022
terlibat yang nantinya mereka dapat memberikan pendidikan karakter yang baik untuk anak-anak. 79
Selain adanya kegiatan di atas, sharing antar guru dan wali murid juga menjadi upaya yang ditempuh dalam pembentukan karakter religius anak melalui dua arah. Hal tersebut memudahkan kedua pihak dalam menyelesaikan hambatan yang ada agar pembentukan karakter religius berjalan maksimal. Sebagaimana yang dituturkan Ibu Hanik Mas’adah: “Melakukan kegiatan saling sharing terkait pendidikan religius, Nilai Agama dan Moral (NAM), dan segala sesuatu terkait pembelajaran anak didik. Biasanya kegiatan tersebut kami laksanakan pada akhir bulan dan untuk mempersiapkan kegiatan yang akan datang serta saling berbagi ilmu dan pengalaman”.80
Hal di atas juga didukung dengan adanya edukasi tentang parenting untuk wali murid. Masih sedikit sekali wali murid yang mengetahui tentang parenting. Adanya kegiatan tersebut di sekolah, menjadikan wali murid semakin melek akan pentingnya pola asuh yang tepat bagi anak-anak. Melalui program ini wali murid mendapatkan bimbingan dan arahan dalam pemberian pengasuhan yang tepat, seperti tentang kebutuhan tumbuh kembang anak. Wali murid akan belajar tentang gizi dan makanan, kesehatan anak, pendidikan karakter, penyakit pada anak, dan sebagainya. Seperti yang diungkapan Ibu Hestri Wahyu Nurendah: “Adanya keterkaitan karena orang tua sebagai pusat informasi guru, terutama guru TK. Guru TK itu muridnya ada dua, murid sesungguhnya dan orang tuanya. Jadi yang diedukasi tidak hanya muridnya tetapi juga orang tuanya lewat komunikasi WA (WhatsApp) group”.81
Guru juga menjadi penggerak atas keberhasilannya pelaksanaan keteladanan di sekolah maupun dirumah. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan Ibu Hestri Wahyu Nurendah:
Upaya saya, dari yang paling dekat saya motivasi anak itu sendiri. Saya motivasi, saya kasih cerita keteladanan. Solusi diupayakan dan kita menyemangati dari
79 Lihat Transkrip Wawancara Nomor 01/W/24-3/2022
80 Lihat Transkrip Wawancara Nomor 01/W/24-3/2022
81 Lihat Transkrip Wawancara Nomor 01/W/24-3/2022
anaknya itu. Nanti kalau ada walinya terbuka bertanya pada mereka, kalau saya kasih tahu duluan saya otomatis tidak berani karena masalahnya bersangkutan soal akidah itu sangat sensitif. Kalau walinya terbuka baru saya bisa mengkomunikasikannya dengan kepala sekolah, kita diskusikan dengan teman sejawat bagaimana penyelesaiannya. Kita juga akan memberi motivasi di grup kelas. Selain itu parenting sedikit kita berikan ke orang tua meskipun kita tidak nyata dengan ajakan ayo sholat, ayo sedekah karena tidak mungkin, sehingga dengan memberikan pemahaman bahwa di sekolah menginginkan seperti ini, anak-anak nanti keluarnya maunya konsepnya religius. Bagi orang tua yang memiliki pemikiran terbuka maka dengan sendirinya akan membenahi dirinya sendiri. Kita mengadakan komunikasi, terutama memberikan motivasi kepada anak dan mengkomunikasikan dengan wali murid yang terbuka pemikirannya melalui kelas parenting dan secara tidak langsung kita memberikan motivasi juga ke mereka.82
Pendidikan karakter religius tidak hanya diberikan kepada anak dan orang tua, guru pun dituntut harus paham dan mampu mengamalkannya sehingga dapat menjadi teladan yang ideal bagi anak-anak di sekolah. Misalnya, seorang guru menghendaki anak didiknya melakukan yang dia inginkan, jika guru menginginkan bacaan surat pendek anak-anak baik dan benar sesuai dengan kaidah tajwid, guru harus mencontohkannya langsung. Bagaimana perilaku anak tergantung bagaimana guru memberikan teladan yang baik pada mereka. Seperti penjelasan dari Ibu Hanik Mas’adah:
Dengan cara guru harus paham dan mengetahui tentang pendidikan keagamaan, misalnya do’a-do’a, bacaan surat pendek, gerakan dan bacaan sholat, wudlu, dan sebagainya yang merupakan materi dasar untuk anak PAUD. Kemudian saat guru memberikan pembelajaran agama tersebut guru harus memberi contoh terlebih dahulu, misalnya pada pembelajaran gerakan sholat, gerakan wudlu, dan kegiatan berdo’a guru harus terlibat di dalamnya tidak hanya menyuruh saja. Dalam bertutur kata dan bersikap guru juga harus berhati-hati dan memahami bahwa apa yang dilakukan dan diucapkannya akan menjadi teladan bagi anak didiknya.83
TK Muslimat NU 001 Ponorogo merupakan sekolah yang berbasis agama sehingga pendidikan karakter religius sangat ditekankan, salah satunya dengan menggunakan metode pembiasaan dan keteladanan di sekolah. Hal ini sesuai dengan penuturan dari Ibu Hestri Wahyu Nurendah:
Karena kita basisnya memang sekolah agama, jadi pendidikakan karakter itu memang benar-benar kami tekankan dengan melalui pembiasaan-pembiasaan dan keteladanan. Pembiasaan masuk kelas, pembiasaan ketika istirahat jadi kita benar-
82 Lihat Transkrip Wawancara Nomor 06/W/21-4/2022
83 Lihat Transkrip Wawancara Nomor 02/W/25-3/2022
benar menanamkan pendidikan karakter religius yang memang basiknya juga keagamaan.84
Metode pembiasaan dan keteladanan dilakukan untuk membentuk karakter religius anak, mulai dari kegiatan anak datang ke sekolah hingga anak pulang ke rumah. Seperti yang di ucapkan Ibu Hestri Wahyu Nurendah: “Pendidikan karakter religius sudah diterapkan pada anak. Melalui pembiasaan-pembiasaan ketika anak di kelas. Mulai anak datang, mulai anak di kelas mulai anak nanti SOP ketika istirahat seperti apa, dan juga melalui teladan guru-guru, anak mendapatkan contoh konkrit dalam pembelajarannya”.85
Hasil pengamatan di kelas B8 sejalan dengan wawancara di atas bahwa terlihat anak- anak sudah di dalam kelas dan akan berdo’a, guru memberikan instruksi kepada anak- anak untuk persiapan berdo’a. Mereka diminta untuk khusu’ saat berdo’a begitu pula guru terlihat khusu’ saat berdo’a yang mana sebagai contoh langsung agar ditirukan oleh anak-anak. Ketika terdapat anak yang kurang baik sikapnya saat berdo’a, guru langsung menegurnya setelah waktu berdo’a selesai agar anak tahu kesalahan yang ia perbuat. Hal ini dilakukan guru setiap harinya untuk membentuk kebiasaan baik bagi anak-anak.86
Pendidikan karakter sendiri sejalan dengan tujuan dari sekolah TK Muslimat NU 001 Ponorogo yang mana ingin mewujudkan generasi muda yang berakhlak mulia.
Sebagaimana yang dututurkan oleh Ibu Hestri Wahyu Nurendah:
Tujuannya mewujudkan anak-anak yang berakhlak mulia sesuai dengan yang tercantum dalam indikator kita di TK Muslimat NU 001 Ponorogo. Dari bagaimana mereka bersikap, jadi tidak hanya mereka bersikap di kelas atau disekolah, nanti diharapkan tujuannya yaitu bagaimana mereka bisa bersikap di rumah utamanya, bagaimana dia bersikap dengan orang tuanya, dengan orang yang lebih tua seperti dengan kakaknya. Dengan adanya kerjasama antar anggota keluarga, mereka bisa menjalin hubungan yang baik dengan teman sebayanya di rumah.87
84 Lihat Transkrip Wawancara Nomor 03/W/18-4/2022
85 Lihat Transkrip Wawancara Nomor 03/W/18-4/2022
86 Lihat Transkrip Observasi Nomor 01/O/29-IV/2022
87 Lihat Transkrip Wawancara Nomor 03/W/18-4/2022
Di TK Muslimat NU 001 Ponorogo pendidikan karakter melalui keteladanan guru sudah termuat dalam RPPH yang mana ikut dalam aspek nilai agama dan moral.88 Seperti halnya kata Ibu Hestri Wahyu Nurendah:
Semua perencanaan sudah tercantum dalam RPPH. RPPH itu secara tidak langsung di dalamnya sudah tersirat mengenai keteladanan karena ada indikator NAM.
Meskipun tidak khusus akan tetapi otomatis sudah termuat di dalamnya, karena NAM itu biasanya mengikut ia tidak bisa berdiri sendiri untuk pembelajaran di kelas dia akan merangkum semuanya. Contohnya ada pelajaran praktik sholat Duha, NAM nya sudah masuk dan sudah terangkum disitu. Lalu ada pembelajaran mewarnai ciptaan Allah (alam semesta), NAM nya juga sudah masuk. Jadi kalau khusus harian tidak ada, tapi kalau kita ada hari besar nasional kita akan adakan rencana khusus contohnya keteladanan lewat cerita. Misalnya kegiatan memperingati maulid nabi, dengan memberikan safari dongeng untuk keteladanan anak-anak.89
Pelaksanaan implementasi keteladanan guru dalam membentuk karakter religius anak menggunakan SOP. Yang mana akan memudahkan guru dalam mencapai tujuan dari keteladanan itu sendiri. Seperti ungkapan dari Ibu Hestri Wahyu Nurendah:
Membuat Standar Operasional Prosedur (SOP), dari SOP itu kita berikan pengertian dan keteladanan. Otomatis dari langkah-langkah pembuatan SOP itu mereka akan paham dari yang kita terangkan dan dari keteladanan kita dikelas ataupun di luar kelas karena SOP ada yang di dalam kelas (SOP belajar, SOP berdo’a) dan di luar kelas (SOP kegiatan istirahat).90
Dalam SOP tersebut memuat berbagai materi yang mengandung pendidikan karakter religius untuk anak didik. Seperti kegiatan praktik sholat Duha, anak-anak belajar tentang gerakan dan bacaan dalam setiap gerakan sholat. Selain itu dengan sholat berjama’ah anak-anak juga belajar untuk disiplin waktu, tanggung jawab, saling menghargai, kebersamaan dan keikhlasan. Juga menanamkan dalam diri anak jiwa religius yang selalu dihiasi dengan keimanan dan ketaqwaan sejak dini. Sebagaimana yang dituturkan oleh Ibu Hestri Wahyu Nurendah:
Dalam SOP pembelajaran awal dimasing-masing hari kita melaksankan dan mengenal hadits. Contoh di hari senin menyampaikan sebuah hadits. Selain anak menghafal, kita juga merevieu dan menceritakan hadits itu serta menjelaskan bagaimana kandungan didalam haditsnya tersebut. Dihari lain juga ada. Ada lagi pada hari jum’at kita praktik sholat Subuh atau hari rabu kita praktik sholat Duha.
Hal tersebut termasuk pendidikan karakter religius agar anak mengetahui bagaimana
88 Lihat Transkrip Dokumentasi Nomor 02/D/21/XI/2022
89 Lihat Transkrip Wawancara Nomor 04/W/19-4/2022
90 Lihat Transkrip Wawancara Nomor 04/W/19-4/2022
gerakana sholat, bagaimana mereka mengatahui bacaan-bacaan sholat dengan memberikan dan ikut melaksanakannya.91
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi di atas dapat dikatakan bahwa implementasi keteladanan guru dilakukan melalui dua cara yaitu yang pertama secara langsung dengan melalui teladan guru baik ucapan, sikap dan perilaku yang disampaikan kepada anak-anak seperti praktik wudlu, tata cara sholat, bacaan sholat, bacaan surat- surat pendek, dan lain sebagainya. Selain dari guru langsung, dari pihak sekolah juga bekerja sama dengan wali murid dalam memaksimalkan keteladanan yang sudah dilakukan guru di sekolah. Yang kedua implementasi keteladanan secara tidak langsung melalui kisah-kisah teladan yang disampaikan oleh guru baik dari al-Qur’an ataupun Hadits. Adapun metode keteladanan guru dapat dibedakan menjadi dua yaitu yang pertama pengaruh yang disengaja seperti guru memberi contoh tata cara sholat, adab ketika berdo’a, dan lain-lain. Yang kedua pengaruh yang tidak disengaja seperti tampilan fisik, pribadi guru, suasana kelas, dan lain-lain.
2. Data Tentang Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi Metode