• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan Tentang Implementasi Metode Keteladanan Guru dalam Membentuk

Dalam dokumen SKRIPSI (Halaman 65-71)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan

1. Pembahasan Tentang Implementasi Metode Keteladanan Guru dalam Membentuk

Keterangan Indikator Pencapaian:

1. Mengenal agama yang dianut 2. Membiasakan diri beribadah

3. Memahami perilaku mulia (jujur, penolong, sopan, hormat, dsb) 4. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan

5. Mengenal ritual dan hari besar keagamaan 6. Menghormati agama orang lain

Keterangan :

BB : Anak Belum Berkembang MB : Anak Mulai Berkembang

BSH : Anak Berkembang Sesuai Harapan BSB : Anak Berkembang Sangat Baik

pesat atau sering disebut dengan golden age yang mana pendidikan yang diberikan sejak kecil akan membekas dalam dirinya hingga anak dewasa.

Menurut Mohammad Natsir ada dua kata kunci kemajuan bangsa adalah “guru” dan

“pengorbanan”. Maka, awal kebangkitan bangsa harus dimulai dengan mencetak “guru- guru yang suka berkorban”. Guru yang dimaksud Natsir bukan sekedar “guru pengajar dalam kelas formal”. Guru adalah para pemimpin, orang tua, dan juga pendidik. Guru adalah teladan. “Guru” adalah “digugu” (didengar) dan “ditiru” (dicontoh). Guru bukan sekedar terampil mengajar bagaimana menjawab soal Ujian Nasional, tetapi diri dan hidupnya harus menjadi contoh bagi murid-muridnya.112

Pembentukan karakter religius pada anak usia dini akan lebih efektif menggunakan metode keteladanan karena mereka merupakan seorang peniru ulung. Di TK Muslimat NU 001 Ponorogo guru ialah role model bagi anak didiknya, sehingga guru harus bisa mengkondisikan ucapan dan perbuatannya sebaik mungkin. Selaras dengan pendapat Salwa Shahab yang berbunyi, “ pendidikan yang diberikan secara teladan atau contoh pada anak-anak merupakan satu pendidikan yang paling berguna dan paling membekas pada pribadi seorang anak. Sebab orang tua atau para pendidik merupakan sosok figur yang paling utama dan menjadi satu tokoh dalam jiwa dan pribadi seorang anak, tiada seorang pun yang bisa menguasai jiwa atau kelakuan anak tersebut, kecuali seseorang yang dianggap figur paling disenanginya.”113

Implementasi keteladanan guru dalam membentuk karakter religius anak di TK Muslimat NU 001 Ponorogo dilakukan melalui tiga tahapan. Pertama dengan perencanaan yaitu guru merencanakan dan menentukan keteladanan apa yang harus dikembangkan dengan memperbaiki diri terlebih dahulu baik dari sikap, perbuatan, atau ucapan yang akan menjadi teladan anak didik, baru kemudian mengkomunikasikan atau mendiskusikan hal tersebut dengan kepala sekolah, guru ataupun dengan wali murid.

112 Sukiyat, Strategi Implementasi Pendidikan Karakter (Surabaya: CV. Jakad Media Publishing, 2020), 31.

113 Dedi Irwan, Daya Pikat Guru (Jakarta: Penerbit Zikrul Hakim, 2019), 13.

Perencanaan tersebut bisa berupa RPPH, RPPM, dan SOP yang dibuat berdasarkan indikator-indikator perkembangan anak. Tahap kedua pelaksanaan pemberian keteladanan dengan menanamkan pada diri anak kebiasaan-kebiasaan yang baik setiap harinya selama anak di sekolah seperti berdo’a dengan sungguh-sungguh, selalu mengucapkan kalimah toyyibah, membuang sampah pada tempatnya, dan lain sebagainya, yang dilakukan dengan terus menerus sehingga bisa menjadi sebuah kebiasaan baik bagi anak tanpa perlu adanya perintah. Pada tahap ini, kerjasama orang tua sangat diperlukan untuk konsistensi kebiasaan yang sudah ditanamkan di sekolah.

Tahap terakhir ialah dengan melakukan penilaian, berhasil tidaknya keteladanan yang diberikan kepada anak dapat dilihat dari sikap, perbuatan, dan ucapan yang baik. Hasil implementasi dapat dilihat secara langsung oleh guru ketika anak di sekolah ataupun lewat informasi yang disampaikan oleh orang tua mengenai anaknya selama di rumah.

Adapun langkah-langkah implementasi metode keteladanan guru sebagai berikut:

a. Guru memberi instruksi yang jelas

b. Guru memperingatkan dan menegaskan aturan yang dibuat c. Guru selalu mengawali aturan yang sudah dibuat

d. Guru dan anak-anak melakukan secara terus-menerus e. Anak-anak mengikuti setiap contoh aturan yang diberikan

f. Dan akhirnya menjadi sebuah kebudayaan dan kebiasaan yang tertanama dalam diri anak.

Langkah-langkah implementasi metode keteladanan guru sesuai dengan yang dikemukakan oleh Istarani, akan tetapi terdapat perbedaan yaitu:

a. Guru menyampaikan aturan yang jelas pada siswa

b. Guru memperingatkan aturan tersebut bahwa aturan yang dibuat itu memang benar- benar dilaksanakan.

c. Guru langsung mempraktikkannya.

d. Guru selalu terlebih dahulu melakukan apa yang dia buat dalam aturan itu.

e. Secara terus-menerus tanpa henti melakukannya.

f. Siswa mengikuti apa yang dilakukan guru, dan

g. Akhirnya menjadi budaya dalam proses belajar-mengajar dan melekat dalam diri siswa.114

Implementasi metode keteladanan guru dapat dilakukan melalui dua cara, diantaranya:

a. Secara langsung dengan melalui teladan guru baik ucapan, sikap dan perilaku yang disampaikan kepada anak-anak seperti praktik wudlu, tata cara sholat, bacaan sholat, bacaan surat-surat pendek, dan lain sebagainya. Selain dari guru langsung, dari pihak sekolah juga bekerja sama dengan wali murid dalam memaksimalkan keteladanan yang sudah dilakukan guru di sekolah.

b. Secara tidak langsung melalui kisah-kisah teladan yang disampaikan oleh guru baik dari al-Qur’an ataupun Hadits.

Implementasi metode keteladanan guru sesuai dengan yang dikemukakan Elfan Fanhas Fatwa Khomaeny ada dua cara, diantaranya:

a. Keteladanan secara langsung (direct Exemplary), yaitu keteladanan yang langsung dilaksanakan dan dicontohkan oleh guru yang bersangkutan.

b. Keteladanan secara tidak langsung (undirect Exemplary), yaitu keteladanan yang mana guru memberikan contoh mengenai keteladanan melalui kisah atau cerita orang lain.115

114 Istarani, Kumpulan 40 Metode Pembelajaran (Bandar Selamat Medan: Media Persada, 2014), 148.

115 Elfan Fanhas Fatwa Khomaeny, 91-92.

Adapun metode keteladanan guru dapat dibedakan menjadi dua macam pengaruhnya, yaitu:

a. Pengaruh yang disengaja ketika guru memberikan teladan kepada anak-anak yang sifatnya formal, misalnya tata cara sholat, adab ketika berdo’a, tata cara wudlu, cara bersikap kepada orang yang lebih tua dan lain sebagainya.

b. Pengaruh yang tidak disengaja ketika anak melihat guru dalam kesehariannya yang sifatnya informal seperti tampilan fisik, pribadi guru, suasana kelas yang agamis, dan lain-lain.

Adapun bentuk metode keteladanan guru di atas sesuai dengan yang dikemukakan oleh Abdurrahman An-Nahlawi ada dua macam, yaitu:

a. Pengaruh yang disengaja adalah ketika pendidik memberi contoh yang baik kepada anak didik agar ditiru oleh mereka. Misalnya pendidik memberi contoh kepada anak bagaimana tata cara sholat yang baik dan benar, adab ketika membaca do’a, sikap tolong-menolong dan lain-lain.

b. Pengaruh yang tidak disengaja adalah keteladanan yang tergantung pada kualitas kesungguhan realitas karakteristik pendidik yang diteladani, seperti dari segi keilmuan, kepemimpinan, tampilan fisik dan pribadi pendidik, suasana kelas yang agamis dan lain sebagainya. Keteladanan ini dilakukan secara informal yang mana semakin tinggi kualitas pendidik semakin tinggi pula tingkat keberhasilan.116

2. Pembahasan Tentang Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi Metode Keteladanan Guru dalam Membentuk Karakter Religius Anak di TK Muslimat NU 001 Ponorogo

Di TK Muslimat NU 001 Ponorogo terdapat fakor pendukung yang mempengaruhi kelancaran implementasi metode keteladanan guru dalam membentuk karakter religius anak, antara lain:

116 Abdurrahman An-Nahlawi, 272.

a. Usia anak

b. Pribadi guru yang baik c. Kesadaran orang tua

d. Fasilitas sekolah yang memadai.

Faktor pendukung yang mempengaruhi kelancaran implementasi metode keteladanan guru dalam membentuk karakter religius anak sesuai dengan faktor pendukung yang dikemukakan oleh Apriani, yaitu:

a. Kesadaran dari orang tua b. Kerja sama orang tua dan guru c. Faktor lingkungan.117

Di TK Muslimat NU 001 Ponorogo juga terdapat faktor penghambat yang menjadi permasalahan dalam implementasi metode keteladanan guru dalam membentuk karakter religius anak, diantaranya:

a. Tingkat pemahaman anak yang berbeda-beda b. Tingkat kepedulian orang tua yang kurang

c. Kurangnya konsistensi guru dalam pemberian teladan

d. Tidak adanya tindak lanjut dari orang tua mengenai keteladanan yang sudah diterapkan di sekolah.

Adapun faktor-faktor penghambat implementasi metode keteladanan guru dalam membentuk karakter religius anak sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Apriani, akan tetapi terdapat perbedaan antara lain:

a. Teman sepermainan

b. Tayangan di media elektronik c. Kesibukan orang tua.118

117 Apriani, 76.

118 Ibid,. 76.

3. Pembahasan Tentang Capaian Perkembangan Karakter Religius Anak Setelah

Dalam dokumen SKRIPSI (Halaman 65-71)