BAB III METODE PENELITIAN
H. Teknik Analisis Data
Hasil tes yang digunakan adalah untuk mengukur kemampuan pemecahan masalah yang dianalisis secara kuantitatif deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel ditribusi frekuensi. Kategori kemampuan pemecahan masalah matematik siswa dapat dilihat pada Tabel 3.4.
Tabel 3.4 Kategori Kemampuan Pemecahan Masalah
Skor Kategori
0 X 20 Sangat Rendah
20 X 40 Rendah
40 X 60 Sedang
60 X 80 Tinggi
80 X 100 Sangat Tinggi
2. Hasil Observasi
Lembar observasi digunakan untuk menganalisis data keterlaksanaan pembelajaran. Untuk mengetahui sejauh mana rancangan pembelajaran yang telah disiapkan tercapai pada saat proses pembelajaran berlangsung. Peneliti mengukurnya dengan menggunakan lembar keterlaksanaan RPP. Untuk mengetahui porsentase ketercapaian keterlaksanaan RPP digunakan rumus sebagai berikut :
Pedoman penilaian keterlaksanaan RPP ditunjukkan pada Tabel 3.5
viii
Tabel 3.5 Kategori Keterlaksanaan RPP Pedoman Keterlaksanaan RPP Kategori
0% skor 20% Tidak baik
20% skor 40% Kurang baik
40% skor 60% Cukup baik
60 % skor 80% Baik
80 % skor 100% Sangat baik
3. Uji Hipotesis a. Uji Normalitas
Pengujian normalitas data dilakukan dengan menggunakan rumus Chi Kuadrat (
2), yaitu :
i i i
E E
O
22
( )
Dimana:
2 : Chi kuadrat Oi : Frekuensi observasi Ei : Frekuensi harapkan.35Dengan kreteria pengujian normalitasnya yaitu jika
2hitung
2tabelmaka data tersebut berdistribusi normal. Pada keadaan lain, data tidak berdistribusi normal.
b. Uji Homogenitas
Dari data hasil belajar dalam penelitian terlebih dahulu dianalisis dengan uji F (uji homogenitas), yaitu menentukan rumus t-tes yang mana akan digunakan untuk pengujian hipotesis, maka perlu diuji varians kedua sampel homogen atau tidak. Pengujian homogenitas varians digunakan uji F dengan rumus sebagai berikut:
Fhitung =
35Ibid.,hlm.61.
ix
Data dikatakan homogen apabila hasil Fhitung yang diperoleh dikonsultasikan Ftabel dengan dk pembilang (n1-1) dan dk penyebut (n2-1) pada taraf kesalahan 5% jika Fhitung ≤ Ftabel maka varians kedua kelompok adalah homogen. Apabila Fhitung > Ftabel maka varians dikatakan tidak homogen.36
c. Pengujian hipotesis menggunakan uji t.
Terdapat beberapa rumus uji t serta pedoman penggunaannya.
2 2 2 1 2 1
2 1
n s n s
X t X
1 ) 1 (1 2
) 1 ( ) 1 (
2 2
1
2 2 2 2 1 1
2 1
n n n
n
s n s n
X t X
1) Bila jumlah anggota sampel n1 n2, dan varian homogen ( ) maka dapat digunakan rumus t-test baik untuk seperated, maupun pooled varian. Untuk melihat harga t tabel digunakan derajat kebebasan (dk)
2
2
1
n n
dk
.2) Bila n1 n2, varian homogen ( ) maka dapat digunakan rumus t- tes dengan pooled varian.
dk n
1 n
2 2
3) Bila n1 n2, varian tidak homogen ( ) dapat digunakan rumus Separated Varian dan Polled Varian;
dk n
1 1
dk= n1-1 ataun
2 1
. Jadi dk bukandk n
1 n
2 2
.4) Bila n1 n2, varians tidak homogen ( ). Untuk ini digunakan t-tes dengan sparated varian, harga t sebagai pengganti t-tabel dihitung dari
36 Sugiyono, Metode Penelitian…hlm.199
Separated varian
Pooled varian
x
selisih harga t tabel dengan
dk n
1 1
dandk n
2 1
) dibagi dua, dan kemudian ditambahkan dengan harga t yang terkecil.5) Pengujian hipotesis digunakan analisis uji-t, jika thitung lebih besar dari ttabel, maka Ho ditolak.
xi BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian
1. Validitas dan Reliabilitas Instrumen a. Validitas Instrumen
Pada penelitian ini, instrumen yang digunakan berupa tes essay yang berjumlah 5 soal. Adapun hasil analisis uji validitas instrumen penelitian tersebut disajikan pada tabel 4.3 berikut.
Tabel 4.3 Analisis Uji Validitas Instrumen Penelitian No. Item
soal
Rhitung Rtabel Keputusan Kesimpulan
1. 0,9802 0.878 Valid 2. 0,8783 0.878 Valid 3. 0,9649 0.878 Valid 4. 0,9558 0.878 Valid 5. 0,9369 0.878 Valid
Berdasarkan Tabel 4.3, hasil analisis lima butir soal diperoleh masing- masing harga . Sehingga instrumen penelitian terdahulu tersebut dinyatakan valid dan dapat dilanjutkan pada uji reliabilitas.
b. Reliabilitas Instrumen
Reliabilitas mengacu pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Hasil analisis uji reliabilitas instrumen pada
xii
penelitian terdahulu diperoleh harga koefisien reliabilitas, diperoleh nilai rhitung= 0,9369 > ttabel= 0,878 maka dari 5 butir soal dapat digunakan sebagai instrument dalam penelitian.
c. Data hasil penelitian 1) Pengumpulan data
Pengumpulan data dilakukan untuk mendapatkan data yang diperlukan untuk menjawab masalah penelitian sehingga diketahui tentang adanya pengaruh model pembelajaran berbasis masalah terhadap kemampuan pemecahan masalah di tinjau dari gaya kognitif..
Dalam teknik pengumpulan data, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yakni, observasi dan tes.
1) Data Observasi
Observasi dilakukan untuk memperoleh data mengenai keterlaksanaan kegiatan belajar mengajar dengan mengetahui adanya pengaruh pembelajaran berbasis masalah terhadap kemampuan pemecahan masalah ditinjau dari gaya kognitif.
2) Data Hasil Tes
Penelitian ini dilaksanakan di MTs Nurul Hakim Putri Kediri di kelas VII, yaitu kelas VII B sebagai kelas eksperimen dan kelas VII C sebagai kelas kontrol. Kelas VII B melakukan pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis masalah dan kelas VII C melakukan pembelajaran matematika dengan pembelajaran konvensional. Materi matematika yang
xiii
diajarkan adalah himpunan. Adapun penyajian data (posttest) kelas eksperimen dan kontrol. Disajikan pada tabel 4.4 berikut.
Tabel 4.4 nilai post-test siswa kelas eksperimen
Berdasarkan Tabel 4.4 di atas, data hasil test 33 siswa kelas eksperimen diperoleh banyak kelas yaitu 7, minimum data 47, maksimal data 97, rentang data 50, panjang kelas 8, rata-rata sebesar 74.3939 dan standar deviasi sebesar 10.6241.
Adapun penyajian data hasil tes kelas kontrol disajikan pada Tabel 4.5 berikut:
Tabel 4.5 Penyajian Data Kelas Kontrol
Banyak data (n) 30
Banyak kelas (k) = 1 + 3.3 log(n) 6
Minimum data 29
Maksimal data 82
Rentang data (R) 53
Panjang kelas (p) = R/k 9
Mean (m) 54.6
Standar deviasi (s) 12.1644
Berdasarkan Tabel 4.5 di atas, data hasil test 30 siswa kelas kontrol diperoleh banyak kelas yaitu 6, minimum data 29, maksimal data 82, rentang data 53, panjang kelas 9, rata-rata sebesar 54.6 dan standar deviasi sebesar 12.1644.
Banyak data (n) 33
Banyak kelas (k) = 1 + 3.3 log(n) 7
Minimum data 47
Maksimal data 97
Rentang data (R) 50
Panjang kelas (p) = R/k 8
Mean (m) 74.3939
Standar deviasi (s) 10.6241
xiv 2. Analisis data
Analisis data merupakan salah satu syarat utama dalam mengelola data hasil penelitian setelah semua data dari responden terkumpul. Adapun langkah-langkah yang dilakukan peneliti sebelum melakukan uji beda (uji-t), terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat analisis hipotesis yaitu:
a. Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui data yang diperoleh di lapangan berdistribusi normal atau tidak. Adapun rumus yang di gunakan untuk menguji data dalam pengujian ini adalah dengan uji chi square. Kemudian untuk memperoleh hasil pengujian dapat dilakukan dengan cara menggunakan Ms.
Excel.
1) Uji Normalitas Tes Kelas Eksperimen
Adapun data uji normalitas tes kelas eksperimen disajikan pada Tabel 4.6 berikut.
Tabel 4.6 Rangkuman Uji Normalitas Tes Kelas Eksperimen Banyak Data 2hitung
2
tabel Keputusan Kesimpulan
33 siswa 5.1247 9.4877 2hitung < 2tabel Normal
Berdasarkan Tabel 4.6 di atas, diperoleh harga chi square 2hitung = 5.1247. Harga tersebut dibandingkan dengan harga 2tabel dengan dk (derajat kebebasan) = , dengan taraf signifikan 5 % adalah 0.878. Karena harga 2hitung < 2tabel maka data yang didapatkan untuk tes kelas eksperimen berdistribusi normal.
2) Uji Normalitas Tes Kelas Kontrol
xv
Adapun data uji normalitas tes kelas kontrol disajikan pada Tabel 4.7 berikut.
Tabel 4.7 Rangkuman Uji Normalitas Tes Kelas Kontrol Banyak Data 2hitung
2
tabel Keputusan Kesimpula
n 30 siswa 0.37201 7.81470 2hitung < 2tabel Normal
Berdasarkan Tabel 4.7 di atas, diperoleh harga 2hitung = 0.37201.
Harga tersebut dibandingkan dengan harga 2tabell dengan dk (derajat kebebasan) = 6 – 3 = 3, dengan taraf signifikan 5 % adalah 7.81470. Karena harga 2hitung < 2tabell maka, data yang didapatkan untuk tes kelas kontrol berdistribusi normal. (lihat lampiran 15).
Hasil kedua data kelas eksperimen maupun kelas kontrol berdistribusi normal, maka perhitungan dapat dilanjutkan untuk uji homogenitas data.
3) Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah varians data dari sampel yang dianalisis homogen atau tidak. Selanjutnya, dari hasil uji normalitas tersebut, dilanjutkan dengan uji homogenitas kedua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Adapun rumus yang digunakan untuk menguji data dalam pengujian ini adalah dengan uji F, yaitu:
Fhitung = .
Adapun data uji homogenitas tes kelas eksperimen dan kelas kontrol disajikan pada Tabel 4.8 berikut.
Tabel 4.8 Rangkuman Uji Homogenitas Data
xvi Banyak
Data Varians hitung tabel Keputusan Kesimpulan 33 112.8712
1.3109 1.8233
hitung < table Homogen 30 147.9724
Berdasarkan Tabel 4.8 di atas, diperoleh hasil perhitungan nilai varians kelas terbesar adalah 112.8712 dan varians kelas terkecil adalah 147.9724. Selanjutnya mencari nilai homogenitas varians dengan menggunakan uji Fhitung sehingga menghasilkan 1.3109. Berikutnya, hasil perhitungan homogenitas varians di atas dibandingkan dengan harga Ftabel
dengan dk penyebut (33 – 1 = 32) dan dk pembilang (30 – 1 = 29) dengan taraf signifikan 5% atau F(o.o5,33,30) = 1.8233. Karena harga Fhitung < Ftabel, maka dapat dinyatakan bahwa varians data yang digunakan homogen..
Sehingga dapat dilanjutkan pada uji hipotesis.
4) Uji Hipotesis
Setelah mengetahui bahwa data terdistribusi normal dan homogen, selanjutnya dilakukan uji hipotesis untuk mengetahui apakah hipotesis diterima atau ditolak. Adapun hasil perhitungan uji hipotesis disajikan pada Tabel 4.9 berikut.
Tabel 4.9 Hasil Pengujian Hipotesis
Hipotesis hitung tabel Keputusan Kesimpulan Ho= Model
pembelajaran berbasis masalah tidak ada pengaruh terhadap kemampuan pemecahan
6.8936 1.9996
hitung < tabel H0 ditolak
xvii masalah
ditinjau dari gaya kognitif siswa.
Ha=Model
pembelajaran berbasis masalah berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah ditinjau dari gaya kognitif siswa.
Sebelum melakukan uji hipotesis peneliti terlebih dahulu melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
(1) Memformulasikan hipotesis
Ho = Model pembelajaran berbasis masalah tidak ada pengaruh terhadap kemampan pemecahan masalah ditinjau dari gaya kognitif siswa.
Ha = Model pembelajaran berbasis masalah berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah ditinjau dari gaya kognitif Siswa.
(2) Arah pengujian (dua arah)
(3) Menentukan Level Of Significance sebesar 5% dan derajat kebebasan , dimana n adalah banyak sampel.
(4) Daerah penolakan H0
xviii
; 1 2 2 0 . 05 ; 63 2 1 . 9996
t
t t
t n n
(5) Statistik hitung menggunakan t-test Polled Varians
1 ) 1 (1 2
) 1 ( ) 1 (
2 2
1
2 2 2 2 1 1
2 1
n n n
n
s n s n
X t X
30 1 33
1 2
63
12.1644 29
10.6241 32
54.6 74.3939
t 6.8936 (6) Keputusan
Karena thitung(6.8936)ttabel(1.9996) , maka H0 ditolak (7) Kesimpulan
Jadi dapat disimpulkan bahwa panggunaan model pembelajaran berbasis masalah berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah ditinjau dari gaya kognitif siswa.
B. Pembahasan
Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui adanya pengaruh model pembelajaran berbasis masalah terhadap kemampuan pemecahan masalah ditinjau dari gaya kognitif siswa. Dalam penelitian ini sampel yang diambil sebanyak 63 siswa yaitu 33 siswa untuk kelas eksperimen dan 30 siswa untuk kelas kontrol.
Pembelajaran yang diberikan pada kelas eksperimen menggunakan model pembelajaran berbasis masalah (PBM) dan pada kelas kontrol menggunakan pembelajaran konvensional. Pada bagian ini diuraikan deskripsi dan interpretasi data
xix
hasil penelitian. Deskripsi dan interpretasi dilakukan terhadap kemampuan pemecahan masalah yang diajar menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran konvensional.
Sesuai dengan data yang diperoleh, nilai rata-rata pre-test kemampuan pemecahan masalah kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki kondisi yang hampir sama. Nilai rata-rata pre-test kemampuan pemecahan masalah kelas eksperimen adalah 63,3846 dan kelas kontrol adalah 53,2248. Dapat disimpulkan bahwa antara nilai rata-rata pre-test kemapuan pemecahan masalah kelas eksperimen dan kelas kontrol tidak jauh berbeda.
Kelas eksperimen dan kelas kontrol mempunyai kemampuan pemecahan masalah yang hampir sama.
Selanjutnya nilai rata-rata post-test kemampuan pemecahan masalah kelas eksperimen 74.3939 dan kelas kontrol 54.6. nilai rata-rata post-test kemampuan pemecahan masalah eksperimen lebih besar dari pada kelas kontrol. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran berbasis masalah (PBM) lebih berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah.
Berdasarkan hasil analisis hipotesis pertama memberikan kesimpulan bahwa model pembelajaran berbasis masalah (PBM) mempunyai pengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh yang dikemukakan oleh Yatim Riyanto bahwa model pembelajaran berbasis masalah memfokuskan pada peserta didik dengan mengarahkan peserta didik menjadi pembelajar yang mandiri dan terlibat langsung secara aktif. Dalam pembelajaran model ini dapat membantu peserta didik dalam mencari pemecahan masalah. Adapun pendapat oleh Komalasari bahwa model pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi
xx
siswa untuk belajar tentang kemampuan pemecahan masalah serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari mata pelajaran matematik. Dalam hal ini siswa terlibat dalam penyelidikan untuk pemecahan masalah yang mengintegrasikan keterampilan dan kosep dari berbagai isi materi pelajaran.
Model pembelajaran ini tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada pesarta didik. Pembelajaran berbasis masalah dikembangkan untuk membantu peserta didik mengembangkan kemampuan berfikir, pemecahan masalah dan keterempilan intelektual belajar berbagai peran orang dewasa melalui keterlibatan mereka dalam pengalaman nyata atau stimulasi; dan menjadi pembelajaran yang otonom dan mandiri.
Dalam model pembelajaran ini siswa ditempatkan sebagai fokus utama dalam kegiatan pembelajaran dan siswa didorong agar lebih kreatif dalam memecahkan permasalahan-permasalahan yang dihadapinya. Permasalahan-permaslahan ini tentunya yang ada kaitannya antara materi yang diajarkan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Disamping itu, guru sebagai fasilitator bertanggung jawab penuh dalam mengidentifikasi tujuan pembelajaran, struktur materi dan keterampilan dasar yang diajarkan. Kemudian membantu peserta didik untuk memecahkan masalah dalam pelaksanaan dan penerapan model pembelajaran berbasis masalah (PBM).
Berdasarkan hasil analisis hipotesis kedua memberikan kesimpulan bahwa pembelajaran konvensional mempunyai pengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Djamarah bahwa pembelajaran konvesional merupakan sebuah metode belajar tradisional atau bisa juga disebut metode ceramah. Dalam hal ini seorang guru melakukan pengajaran kepada
xxi
murid dengan cara ceramah yang diselingi dengan penjelasan mengenai materi yang diberikan serta memberikan latihan soal dan tugas. Adapun pendapat menurut Sanjaya menyatakan bahwa pada pembelajaran konvensional siswa ditempatkan sebagai obyek belajar yang berperan sebagai penerima informasi secara pasif. Jadi pada umumnya penyampaian pelajaran menggunakan metoden ceramah, Tanya jawab, dan penugasan.
Berdasarkan analisis temuan hipotesa ketiga memberikan kesimpulan bahwa, terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah antara yang diajari dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dan pemebelajaran konvensional.
Hal ini sesuai dengan teori belajara Vigotsky yang melandasi pendekatan pembelajaran berbasis masalah bahwa perkembangan intelektual siswa terjadi pada saat siswa berhadapan dengan masalah, dimana masalah itu menjadi pengalaman baru untuk diri siswa sekaligus menjadi suatu hal yang menantang ketika siswa melakukan pemecahan masalah yang dimunculkan. Tentunya siswa dalam memperoleh pengetahuan berupa pemahaman konsep siswa akan berusaha untuk mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah dimilikinya untuk membangun informai berupa pengertian baru terhadap suatu konsep tertentu. Sehingga ketika siswa pada saat diajarkan menggunakan pembelajaran konvensional siswa hanya akan lebih banyak mendengarkan penjelasan dari gurunya, mengerjakan soal yang diberikan tanpa harus siswa menggalih kemampuan pemecahan masalah yang ada dalam dirinya.
Penelitian ini memilki perbedaan kemampuan pemecahan masalah yang diajarkan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran konvensional.
Berdasarkan hasil penelitian bahwa model pembelajaran berbasis masalah lebih berpengaruh dari pada pembeajaran konvensional yang terlihat jelas bahwa dari selisih
xxii
nilai rata-rata kemapuan pemecahan masalah yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran konvensional.
Hal ini dikarenakan pembelajaran berbasis masalah (PBM) adalah suatu model pembelajaran yang didasarkan pada prinsip menggunakan masalah sebagai titik akuisisi dan integasi pengetahuan baru. Oleh karena itu model pembelajaran berbasis masalah menciptakan kegiatan yang merangsang keingintahuan siswa yaitu dengan memberikan masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari siswa, kerja kelompok, membuat karya atau laporan dan mempresentasikannya. Dengan kegiatan tersebut menjadikan model pembelajaran berbasis masalah disukai oleh siswa sehingga siswa lebih termotivasi untuk mengikuti proses pembelajaran.
Pembelajaran konvensional adalah pembelajaran langsung yang lebih didominasi oleh guru yang menyebabkan siswa lebih banyak mendengar, menyimak, dan menghafal dari pada menemukan sendiri suatu konsep, sehingga siswa sulit untuk memahami materi yang diajarkan dan hanya aktif dalam mendengar penjelasan guru kemudian mencatat di buku setelah apa yang disampaikan oleh guru.
xxiii BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa adanya pengaruh model pembelajaran berbasis masalah terhadap kemampuan pemecahan masalah ditinjau dari gaya kognitif siswa kelas VII tahun pelajaran 2018/2019. Hal ini terlihat dari hasil analisis menggunakan uji-t Polled varians dengan menggunakan Ms. Excel bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas ekperimen yang diberikan perlakuan dengan kelas kontrol yang tidak diberikan perlakuan, dengan harga thitung = 6.8936 pada taraf signifikan 5%. Harga ini lebih besar dari harga ttabel = 1.9996 pada taraf signifikan 5%, sehingga dapat disimpulkan Ho ditolak dan Ha diterima.
B. Saran
Adapun saran-saran yang dapat diberikan yaitu:
1. Kepala sekolah MTs Nurul Hakim Kediri agar terus membimbing dan memotivasi guru bidang studi agar dapat menggunakan serta menguasai model atau strategi yang tepat dalam pembelajaran.
2. Guru mata pelajaran matematika agar memilih model atau strategi pembelajaran yang paling sesuai dengan materi pokok yang diajarkan , seperti model pembelajaran berbasis masalah (PBM) yang digunakan untuk materi yang membutuhkan keaktifan siswa dalam berfikir kreatif dan pemecahan masalah sehingga sehingga nantinya dapat menunjang proses pembelajaran yang lebih aktif, efektif, dan efisien.
xxiv
3. Peneliti selanjutnya, penelitian ini dapat dijadikan sebagai tolak ukur atau perbandingan untuk penelitiannya yang berhubungan dengan model pembelajaran berbasis maslah dalam hal meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan.
xxv
DAFTAR PUSTAKA
Agus N Cahyo, panduan aplikasi teri-teori belajar mengajar, Yogyakarta:DIVA pess,2013
B.R. Hergenhahn Matthew H. Olsom, Theories Of Learning, Jakarta: Prenada Media Group, 2009.
Budi Usodo, profil intuisi mahasiswa dalam memecahkan masalah matematika dari gaya kognitif field dependent dan field independent, (jurnal FKIP UNS, 2011)
Dharma Andreas Ngilawajan, Proses Berfikir Siswa SMA Dalam Memecahkan Masalah Matematika Materi Turunan Di Tinjau Dari Gaya Kognitif Field Dependent Dan Filed Independent, (jurnal FKIP Pattimura, 2003).
Djemari Mardapi, Teknik Penyusunan Instrumen Tes dan Nontes, yogyakarta, Mitra Cendikian Press, 2008.
Dokumentasi Data Arsip Guru Kelas VII MTs Nurul Hakim tahun Pelajaran 2016/2017. Diambil tanggal 8 Desember 2017
Habibi Ratu Perwira Negara, Eksperimentasi Model Pembelajaran Kooperatife Tipe Think Pair Share (TPS) Dengan Assessment For Learning (AFL) Terhadap Prestasi Belajar Dan Kemampuan Komunikasi Matematis Pada Materi Segiempat Ditinjau Dari Gaya Kignitif Siswa, Tesis, (Universitas sebelas Maret surakarta :2014).
Hamzah B. Uno, orientasi baru dalam psikologi pembelajaran, Jakarta : Bumi Aksara, 2006.
Heruman , Model Pembelajaran Matematika, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007.
http.www//:bolehsaja.net/kemampuan-pemecahan-masalah/. Diakses pada hari kamis tanggal 22 februari 2018. Jam 12.05 WITA
http://madfirdaus.bolehsaja.net/2009/11/23/kemampuan-pemecahan-masalah-
matematika/amp/. Diakses pada hari kamis tanggal 22 Februari 2018. Pukul 12.30 WITA.
I Ketut Reta, “ Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Masalah Terhadap
Keterampilan Berfikir Kritis Di Tinjau Dari Gaya Kognitif Siswa ” .
xxvi
Mahmud, Metodologi Penelitian Pendidikan, Bandung: CV Pustaka Setia, 2011.
Ni Nyoman Sri Lestari, “ Pengaruh Model Pembelajaran Dan Motivasi Belajar Tehadap Prestasi Belajar Siswa Kelas VII SMP ”.
Nuharini, Dewi dan Tri Wahyuni. Matematika Konsep dan Aplikasinya. Jakarta:
Pusat Perbukuan, 2008
Observasi, MTs Nurul Hakim Putri, 17-18 November 2017, Pukul 08.00 – 10.30 WITA
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 21 Tahun 2016 Tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah
S. Nasution, Berbagai pendekatan dalam proses belajar dan mengajar, Jakarta : PT.
Bumi Aksara, 1992.
Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D Suharismi Arikunto, Prosedur Penelitan Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: PT
Rineka Cipta, 2010.
Syofian Siregar, Statistik Parametrik Untuk Penelitian Kuantitatif, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2014.
Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif- Progresif, Jakarta: perdana media
group, 2009.
xxix
Lampiran 2
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Sekolah / Madrasah : MTs PP Nurul Hakim Putri
Mata Pelajaran : Matematika Materi / Topik Bahasan : Himpunan Kelas / Semester : VII / Ganjil
Waktu / Jam Pertemuan : 5 Jam Pelajaran (5 40 menit)
Kompetensi Inti : KI- 1 Menghargai dan meghayati ajaran agama yang dianutnya.
KI- 2 Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan social dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya.
KI- 3 Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni budaya, terkait fenomena dan kejadian tampak mata .
KI- 4 Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (mengunnakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang di pelajari di sekolah dan sumber lain hal yang sma dalam sudut pandang/teori.
A. Kompetensi Dasar : 1. 1 Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutya
2. 1 Memiliki rasa ingin tahu, percaya diri, dan
ketertarikan pada materi matematika serta
xxx
memiliki rasa percaya pada daya dan kegunaan matematika, yang terbentuk malalui pengalaman belajar.
4. 14 Menggunakan konsep himpunan dan diagram Venn dalam penyelesaian masalah
B. Indikator : 1.1.1 Bersemangat dalam mengikuti pelajaran matematik.
2.1.1 2.1.2
Suka bertanya selama proses pembelajaran.
Berani presentasi didepan kelas 4.14.1
4.14.2
Menyelesaikan masalah menggunakan konsep himpunan dan diagram Venn.
Menyelesaikan masalah kontekstual menggunakan konsep himpunan dan diagram Venn
C. Tujuan : 1.1.1 Bersemangat dalam mengikuti pembelajaran matematka
2.1.1 Suka bertanya dalam proses pembelajaran, baik kepada guru ataupun saling bertanya antara teman sendiri.
2.1.2 Berani presentasi di depan kelas.
4.14.1 Untuk memecahkan masalah menggunakan konsep himpunan dan diagram Venn
4.15.1 Untuk memecahkan masalah kontekstual menggunakan konsep himpunan dan diagram Venn
D. Materi
1. Materi Pokok : 1. Himpunan
2. Materi Pembelajaran
xxxi