BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.2 Desain Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan paradigma konstruktivis, metode penelitian fenomenologi, pendekatan kualitatif, dan sifat penelitian deskriptif.
3.3.1 Paradigma Konstruktivis
Paradigma yang digunakan di dalam penelitian ini adalah paradigma konstruktivis. Paradigma konstruktivis, yaitu paradigma yang hampir merupakan antitesis dari paham yang meletakkan pengamatan dan objektivitas dalam menemukan suatu realitas atau ilmu pengetahuan.
Paradigma ini memandang ilmu sosial sebagai analisis sistematis terhadap socially meaningful action melalui pengamatan langsung dan terperinci terhadap perilaku sosial yang bersangkutan menciptakan dan memelihara atau mengelola dunia sosial mereka. (Hidayat, 2003: 3)
Menurut Patton (1978), para peneliti konstruktivis mempelajari beragam realita yang terkonstruksi oleh individu dan implikasi dari konstruksi tersebut bagi kehidupan mereka dengan yang lain. Dalam konstruktivis, setiap individu memiliki pengalaman yang unik. Dengan demikian, penelitian dengan strategi seperti ini menyarankan bahwa setiap cara yang diambil individu dalam memandang dunia adalah valid, dan perlu adanya rasa menghargai atas pandangan tersebut. Paradigma
konstruktivis memiliki beberapa kriteria yang membedakannya dengan paradigma lainnya, yaitu ontologi, epistemologi, dan metodologi. Level ontologi, paradigma konstruktivis melihat kenyataan sebagai hal yang ada tetapi realitas bersifat majemuk, dan maknanya berbeda bagi tiap orang.
Dalam epistemologi, peneliti menggunakan pendekatan subjektif karena dengan cara itu bisa menjabarkan pengkonstruksian makna oleh individu.
Dalam metodologi, paradigma ini menggunakan berbagai macam jenis pengkonstruksian dan menggabungkannya dalam sebuah konsensus. Proses ini melibatkan dua aspek: hermeunetik dan dialetik. Hermeunetik merupakan aktivitas dalam merangkai teks – percakapan, tulisan atau gambar. Sedangkan dialetik adalah penggunaan dialog sebagai pendekatan agar subyek yang diteliti dapat ditelaah pemikirannya dan membandingkannya dengan cara berpikiri peneliti. Dengan begitu, harmonitas komunikasi dan interaksi dapat dicapai dengan maksimal (Hidayat, 2003: 3).
Dalam penelitian ini, paradigma konstruktivis digunakan untuk melihat fenomena individu yang memiliki kepribadian introvert dalam aplikasi Tinder di kalangan Mahasiswa/Mahasiswi di Jakarta.
3.3.2 Pendekatan Kualitatif
Peneliti dalam melakukan penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif disebut metode penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting); disebut juga sebagai metode etnographi, karena pada awalnya periode ini lebih banyak digunakan untuk penelitian bidang antropologi budaya; disebut sebagai metode kualitatif, karena data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif. (Sugiyono, 2016: 12)
Penelitian Kualitatif merupakan metode-metode untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang oleh sejumlah individu atau sekelompok orang dianggap berasal dari masalah sosial atau kemanuisan.
Proses penelitian kualitatif ini melibatkan upaya-upaya penting, seperti mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan prosedur-prosedur, mengumpulkan data yang spesifik dari partisipan, menganalisis data secara induktif mulai dari tema-tema yang khusus ke tema-tema yang umum, dan menafsirkan makna data. Laporan akhir untuk penelitian ini memiliki struktur atau kerangka yang fleksibel. Siapa pun yang terlibat dalam bentuk penelitian ini harus menerapkan cara pandang penelitian yang bergaya induktif, berfokus pada makna individual, dan menerjemahkan kompleksitas suatu persoalan (Creswell, 2014:5)
Craswell mengemukakan beberapa karakteristik penelitian kualitatif sebagai berikut: (Creswell, 2014:247)
1. Lingkungan alamiah (natural setting); para peneliti kualitatif cenderung mengumpulkan data lapangan di lokasi dimana para partisipan mengalami isu atau masalah yang akan di teliti. Informasi yang dikumpulkan dengan berbicara langsung kepada orang-orang dan melihat mereka bertingkah laku dalam konteks natural inilah yang menjadi karakteristik utama penelitian kualitatif. Dalam lingkungan yang alamiah, para peneliti kualitatif melakukan interaksi face-to-face sepanjang penelitian.
2. Penliti sebagai instrumen kunci (researcher as kay intrumen). Para peniliti kualitatif mengumpulkan sendiri data melalui dokimentasi, obervasi perilaku, atau wawancara dengan para partisipan. Mereka pada umumnya tidak menggunakan kuesioner atau intrumen yang dibuat oleh peneliti lain.
3. Beragam sumber data (multiple sources of data): para peneliti kualitatif biasanya memilih mengumpulkan data dari beragam sumber, seperti wawancara, obeservasi, dokumentasi, dan informasi audiovisual ketimbang hanya bertumpu pada suatu sumber data saja.
Kemudian, peneliti mereviu semua data tersebut, memberikannya
makna, dan menelolahnya ke dalam katagori atau tema yang melintasi semua sumber data.
4. Analisis data induktif dan deduktif (inductive and deductive data analysis): para peneliti kualitatif membangun pola, katagori, dan temanya dari bawah ke atas (induktif), dengan mengelola data ke dalam unit-unit informasi yang lebih abstrak. Proses induktif ini mengilustrasikan usaha peneliti dalam mengelola secara berulang- ulang tama dan database peneliti sehingga peneliti berhasil membangun serangkaian tema yang utuh. Kemudian secara deduktif, para peneliti melihat kembali data mereka dari tema-tema untuk menentukan apakah lebih banyak bukti dapat mendukung setiap tema dan apakah mereka perlu menggabungkan informasi tambahan.
Dengan demikian, ketika prses dimulai secara induktif, pemikiran deduktif juga berperan penting ketika analisis bergerak maju.
5. Makna dari para partisipan (participants’ meaning): dalam keseluruhan proses penelitian kualitatif, penelit terus fokus pada usaha mempelajari makna yang disampaikan para partisipan tentang masalah atau isi penelitian, bukan makna yang disampaikan oleh peneliti atau penulis lain dalam lteratur0literatir tertentu.
6. Rancangan yang berkembang (emrgent design); bari para peneliti kualitaif, proses penelitian selalu berkembang dinamis. hal ini berati bahwa rencana awal penelitian tidak bisa secara ketat di patuhi.
Semua tahap dalam proses ini bisa saja berubah setalah penlti masuk ke lapangan dan mulai mengumpulkan data. Misalanya, pertanyaan- pertanyaan bisa saja berubah, strategi pengumpulan data juga bisa berganti, dan individu-individu yang diteliti serta lokasi-lokasi yang dikunjungi juga bisa berubah sewaktu-waktu. Gagasan uatama di balik penelitian kualitatif sebenarnya adalah mengkaji masalah atau isu dari partisipan dan melakukan penelitian untuk memperoleh informasi mengenai masalah tersebut.
7. Refleksivitas (reflexivity): dalam penelitian kualitatif, peneliti merefleksikan bagaiaman peran mereka dalam penelitian dan latar belakang pribadi, budaya, dan pengalamannya berpotensi membentuk interpretasi, seperti tema-tema yang mereka kembangkan dan makna- makana yang mereka anggap sebagai sumber data. Aspek metode ini lebih dari sekedar bias dan nilai yang berkembang dalam penelitian, tetapi bagaiaman lata belakang peneliti sebetulnya dapat membentuk arah penelitian.
8. Pandangan menyeluruh (holistic account); para penelti kualitatif berusaha membuat gamabar kompleks dari suatu masalah atau isu yang diteliti. Hal ini melibatkan usaha pelaporan perspektif-perspektif pengidentifikasian faktor-faktor yang terkait dengan sitausi tertentu, dan secara umum usaha membuat sketsa atas gambaran besar yang muncul.
3.3.3 Metode Penelitian Fenomenologi
Penelitian ini peneliti juga menggunakan pendekatan fenomenologi.
Dalam penelitian fenomenologi melibatkan pengujian yang teliti dan seksama pada kesadaran pengalaman manusia.
Studi fenomenologis mendeskrispsikan pemaknaan umum dari sejumlah individu terhadap berbagai pengalaman hidup mereka terkait dengan konsep atau fenomena. Para fenomenolog memfokuskan untuk mendeskripsikan apa yang sama/umum dari semua partisipan ketika mereka mengalami fenomena. Tujuan utama dari fenomenologi adalah untuk mereduksi pengalaman individu pada fenomena menjadi deskripsi yang khas dari sesuatu. (Creswell, 2014: 105).
Menurut Husserl, fenomenologi membimbing kita agar dapat memberikan dan memahami makna terhadap pengalaman orang lain yang bersifat intersubjektivitas. Dalam bahasa Van Manen (1990), dari fenomenologi pula kita dapat menggambarkan bagaimana sesorang berorientasi kepada pengalaman hidup, dan selalu mempertanyakan cara bagaiaman dia mengalami dunia, memuaskan rasa ingin tahu dia tentang dunia di mana kita semua hidup sebagai manusia. (Sobur, 2013: v)
Untuk tujuan ini, para peneliti kualitatif mengidentifikasi fenomena (“objek” dari pengalaman manusia; van Manen, 1990, hlm. 163).
Pengalaman manusia ini dapat berupa fenomena, misalnya insomnia, kesendirian, kemarahan, dukacita, atau pengalaman oprasi bypass pembuluh koroner (Moustakas, 1994). Peneliti kemudian mengumpulkan data dari individu yang telah mengalami fenomena tersebut, dan mengembangkan deskripsi gabungan tentang esensi dari pengalaman tersebut bagi semua individu itu. Deskrispi ini teridiri dari pengalaman tersebut bagi semua individu itu. Deskripsi ini terdiri dari “apa” yang mereka alami dan bagaimana mereka mengalaminnya.(Creswell, 2013:
105).
Riset fenomenologi (phenomenological research) merupakan rancangan penelitian yang berasal dari filsafat dan psikologi dimana peneliti mendeskripsikan pengalaman kehidupan manusia tetang suatu fenoemena tertentu seperti yang dijelaskan oleh partisipan. Deskripsi ini berujung pada inti sari pengalaman berupa individu yang telah menagalami semua fenomena fenomena tersebut. Rancangan ini memiliki landasan filsofis yang kuat dan melibatkan pelaksanaan wawancara. (Creswell, 2014:18)
Tradisi fenomenologi memfokuskan perhatiannya terhadap pengalaman sadar seorang individu. Teori komunikasi yang masuk dalam tradisi fenomenologi berpandangan bahwa manusia secara aktif menginterprestasikan pengalaman mereka, sehingga mereka dapat
memehami lingkungannya melalui pengalaman personal dan langsung dengan lingkungan. Tradisi fenoemenologi memberikan penekanan sangat kuat pada persepsi dan interprestasi dari pengalaman subjektif manusia.
(Morissan, 2013:38)
3.3.4 Tipe penelitian Deskriptif
Tipe penelitian ini adalah secara deskriptif, penelitian deskritif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata kata tertulis atau lisan dari orang – orang dan perilaku yang dapat diamati.
Dengan demikian, laporan peneliti akan berisi kutipan – kutipan data untuk memberikan gambaran penyajian laporan tersebut. Data tersebut mungkin berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, foto, videootape, dokumen pribadi, catatan atau memo, dan dokumen resmi lainnya.
(Moleong, 2006: 4)
Sifat penelitian deskriptif menggambarkan realitas yang sedang terjadi tanpa menjelaskan hubungan antara variabel. Peneliti telah mempunyai konsep (biasanya satu konsep) dan kerangka konseptual.
Melalui kerangka konseptual (landasan teori), peneliti melakukan opersionalisasi konsep yang akan menghasilkan variabel beserta indikatornya. (Kriyantono, 2008:67)
Dalam penelitian ini, penulis bertindak sebagai pengamat untuk mendeskripsikan bagaimana individu pengguna tinder dengan objek mahasiswa & mahasiswi yang memiliki kepribadian introvert dalam aplikasi Tinder.