BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
4.2 Hasil Penelitian
dengan rentang usia tertentu, atau yang lokasinya dekat dengan kita, Tinder pun menyediakan pengaturan untuk melakukan hal tersebut.
Selain itu sikap kurang memiliki rasa percaya diri pun terlihat dari Informan yang memang masih merasa takut dan tidak merasa nyaman jika harus bertemu dan berinterakasi dengan orang lain, terlebih dengan orang yang memang belum dikenal. Seperti yang terjadi kepada informan bahwa ia akan merasa tidak nyaman saat harus berkenalan secara langsung dengan orang yang baru dikenal lalu harus memulai sebuah topik pembicaraan secara langsung
Dari 3 Informan yang memiliki sifat introvert ini bisa menjadi salah satu penghambat bagi individu tersebut jika tidak bisa mengelolanya. Hal ini bisa menjadi masalah bagi individu tersebut terbiasa dengan rasa tidak percaya diri terlebih dalam mencari pasangan. Karena dalam penentuan atau pencarian pasangan atau lawan jenis tersebut pasti dibutuhkan kecocokan dari 2 individu yang terbangun dari komunikasi atau interaksi yang terjalin antara keduanya.
Dimana informan harus memiliki masa pendekatan terhadap lawan jenis untuk bisa menentukan atau mendapatkan kecocokan, tetapi dengan sifat introvert yang dimiliki oleh Informan, Informan cenderung mengurangi hal tersebut dikarenakan adanya rasa tidak percaya diri, rasa tidak nyaman saat berinteraksi dengan orang baru atau rasa takut dengan orang baru.
Tetapi kerena semakin berkembangnya zaman dan karena saat ini kita berada di era digital dimana segala hal pasti dilakukan melalui teknologi atau dipermudah oleh teknologi. Tidak terkecuali dalam metode pencarian pasangan, saat ini mencari pasangan tidak lagi harus dikenalkan oleh teman, saudara atau
kerabat yang lalu harus bertemu untuk memulai sebuah interaksi. Kini dengan semakin majunya teknologi komunikasi, pencarian pasangan bisa dilakukan di dunia maya atau media sosial. Ada beberapa media sosial yang berbasis aplikasi yang menawarkan jasa biro jodoh atau yang biasa disebut dengan kencan online, salah satunya adalah Aplikasi Tinder. Aplikasi ini akan sangat membantu individu-individu yang memiliki sifat Introvert tidak terkecuali 3 Informan peneliti dalam mencari pasangan atau teman kencan online.
Aplikasi Tinder adalah sebuah Aplikasi kencan online yang berbasis Android ataupun IOS. Aplikasi ini bisa diakses melalui Handphone/Smartphone para penggunanya, hadir sejak tahun 2012 membuat para pengguna sudah sangat akrab dengan fitur yang dimiliki dan telah digunakan di lebih dari 190 negara di dunia. Aplikasi Tinder ini memiliki kemudahan dalam pencarian pasangan, dimana pada aplikasi ini terdapat fitur pengaturan profile pengguna seperti foto profile ataupun foto-foto lain yang bisa terhubung ke media sosial lain. Atau seperti fitur dimana kita bisa melakukan penentuan kriteria lawan jenis sesama pengguna aplikasi Tinder dilihat dari range usia, jarak pengguna sampai dengan hobi pengguna. Selain itu adalah fitur swipe kanan yang menyukai lawan jenis ataupun swipe ke kiri untuk tidak menyukai lawan jenis tersebut.
Dengan adanya aplikasi Tinder ini pergeseran metode pencarian pasangan dari yang mendapatkan pasangan langsung di dunia nyata saat ini bisa dilakukan di dalam dunia maya atau sebuah aplikasi. Hal ini yang membuat para individu-
individu yang memiliki sifat Introvert memiliki kesempatan serta ruang untuk bisa mencari pasangan. Seperti ketiga Informan tersebut yang menggunakan aplikasi Tinder dengan berbagai faktor. Seperti pada Aplikasi Tinder Informan bisa menyesuaikan atau mengatur profile dirinya atau menentukan kriteria pengguna lain sesuai dengan keinginan Informan. Di sisi lain Informan bisa melihat sambil menimbang apakah lawan jenis tersebut sesuai dengan kriteria Informan dengan menggunakan fitur swipe ke kanan (love).
Ada informan yang menggunakan aplikasi Tinder karena memang dirinya tidak bisa atau tidak nyaman apabila langsung bertemu dengan orang yang belum dikenal. Hal ini membuat informan cenderung menjadi membatasi interaksi dengan lawan jenis secara langsung karena sifat introvert yang dimiliki.
Sehingga timbul rasa takut atau tidak percaya diri jika harus berinteraksi secara langsung dengan orang asing.
Maka dari pada itu dengan adanya Aplikasi Tinder ini, interaksi yang tercipta antara Informan dengan lawan jenisnya apabila sudah match atau masing-masing tertarik bisa berkomunikasi lewat pesan singkat atau fitur chat yang dimiliki oleh Tinder. Pada fase ini Informan akan mencari tahu lebih tentang lawan jenisnya yang apabila keduanya cocok maka chat tersebut akan intens dan jika memang serius akan ke tahap masing-masing bertemu, sebaliknya apabila Informan tidak merasakan ketidak cocokan maka informan hanya tinggal mengakhiri chat tersebut tanpa harus bertemu terlebih dahulu.
Dengan adanya fitur atau aplikasi Tinder ini maka Informan yang memiliki kepribadian Introvert tetap bisa mencari pasangan sesuai dengan kriteria informan yang ada pada lawan jenis atau pengguna Aplikasi Tinder lainnya. Tetapi meskipun Informan telah merasa cocok, tidak jarang juga Informan akan mengajak temannya untuk ikut menemaninya bertemu dengan lawan jenis atau pengguna Aplikasi Tinder tersebut. Maka sebagai individu yang memiliki kepribadian introvert, Informan akan melakukan pendekatan secara online lewat chat antara keduanya tersebut sebagai pengganti dari pertemuan atau pendekatan secara langsung.
Berdasarkan 3 informan yang memiliki kepribadian Introvert ini bisa terjadi karena adanya faktor keturunan, lingkungan serta keturunan dan lingkungan. Faktor keturunan menurut. A. Schopenhaver menyatakan bahwa pada perkembangan anak, faktor keturunan yang lebih mempengaruhi dari pada faktor lingkungan, misalnya seorang bapak yang sifatnya jahat, kemungkinan besar anaknya pasti akan menjadi penjahat walaupun lingkungan tempat mereka tinggal merupakan lingkungan yang tergolong baik.
Sedangkan faktor lingkungan yaitu kepribadian yang terbentuk karena individu tersebut berada disuatu kelompok sosial yang akan membentuk norma atau sikap individu tersebut. Aliran emperisme dikemukakan oleh John Locke yang menyatakan bahwa pada perkembangan anak, faktor lingkungan lebih berperan dari pada faktor keturunan. Misalnya seorang anak yang memiliki
keturunan yang bersifat baik, tetapi lingkungan disekitarnya buruk atau teman- teman yang sering diajaknya bermain berprilaku buruk, pasti si anak akan meniru kebiasaan tersebut,
Serta Faktor keturunan dan lingkungan pun turut mempengaruhi, hal ini dikemukakan oleh William Stern yang menyatakan bahwa faktor keturunan sama besar pengaruhnya dengan faktor lingkungan. Disini keduanya sama-sama sangat berpengaruh pada perkembangan anak, jika anak dididik dengan baik, walaupun dari keturunan yang buruk, kemungkinan si anak dapat berprilaku baik.
Wawancara dengan informan 1
Anindya Tri Utami merupakan salah satu mahasiswa di salah satu Universitas negri di Jakarta yang sudah memasuki semester akhir dan sedang menyusun tugas akhir. Dea nama panggilannya yang bertempat tinggal dengan satu lingkungan dengan peneliti yang berada di Kawasan Cilandak Jakarta Selatan. Merupakan seorang anak perempuan dari 3 bersaudara dari golongan keluaraga yang sederhana.
“Di dalam keluarga saya anak ke 3 dari 3 bersaudara. Laki – laki 2.”
Dalam keluarga tersebut, Ayahnya merupakan seorang yang berprofesi sebagai supir pribadi, ibunya sebagai ibu rumah tangga, dan kakak – kakaknya dea juga sudah berumah tangga atau sudah menikah. Di
dalam keluarga hanya ibunya yang deket dengan dea. Karena ibunya selalu berada dirumah. Dibandingkan dengan ayah dan juga kakak-kakaknya.
“Ibu, karena ibu selalu ada waktu untuk saya, dibandingkan dengan ayah ataupun kakak saya yang memang sudah sibuk bekerja”
Dea menjelaskan bahwa dalam kondisi keluarganya, dea menuturkan bahwa kondisi keluarganya sama halnya dengan keluarga lain pada umumnya, berkomunikasi dengan baik, antara orang tua dengan anak, anak dengan orang tua
“Untuk kondisi keluarga atau suasana pada keluarga saya sama seperti keluarga lainnya, berinteraksi dengan baik.”
Dalam berinteraksi di dalam lingkup keluarga, dea menjelaskan cukup baik, dea tidak tidak sungkan untuk menceritakan kegiatan sehari – harinya kepada keluarga, mulai dari kegiatan perkuliahan, tetapi dia juga tidak bisa menceritakan hal-hal yang menurutnya tidak untuk di ceritakan kepada keluarga terutama kepada orang tua, lantaran dea tidak ingin orang tuanya merasa khawatir.
“Saya bercerita tentang hal – hal kegiatan sehari – hari seperti kuliah, namun memang ada beberapa hal yang tidak saya ceritakan kepada orang tua. Mengenai kegiatan kuliah biasanya ibu saya suka bertanya bagaimana kegiatan saya dikampus. Sedangkan yang tidak saya ceritakan adalah kesulitan saya dikampus, jadi selama ini saya hanya menceritakan kegiata pada umunya. Saya tidak berani untuk menceritakan kesulitan saya tentang
kuliah dan lingkungan pertemanan, karena khawatir orang tua akan ikut memikirkannya.”
Tidak hanya bercerita kepada keluarga maupun orang tua, dea juga membagikan cerita kepada teman, karena dea tidak ingin menceritakan kesulitannya kepada orang tua, takut orang tua memikirkan hal tersebut.
Ada hal hal yang dea ceritakan kepada teman, dan dea juga tidak ingin membuat khawatir para temannya atas kesulitan yang di alaminya.
“Ada beberapa hal yang saya ceritakan ke teman, karena saya tidak ingin menceritakan kepada orang tua. Misalnya kesulitan saya selama kuliah, lesulitan saya untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar, itu pun saya hanya meceritakan secara garis besar saja, tidak menceritakan detailnya seperti apa. Biasanya karna ditanya oleh teman, kalo tidak ditanya saya jarang menceritakan sesuatu, saya tidak ingin orang lain khawatir karena saya, setiap orang punya kesulitan masing – masing. Saya tidak mau membebani orang lain tentang cerita saya dan mungkin saya juga tidak terlalu pada orang lain”
Setiap manusia pasti pernah menjalin suatu hubungan yang sepesial, baik itu teman dekat ataupun pacar sekalipun, dea pernah menjalin suatu hubungan di usia yang memasuki masa remaja, di masa remajanya dea tidak telalu lama menjalin suatu hubungan, karena di masa remaja tersebut masa masa membentuk jati diri dan belum cukup untuk berkomitmen dalam suatu hubungan.
“Saya mulai menjalin hubungan saat kuliah semester awal, sekitar 2015 akhir sepertinya, saat itu ketika usia saya 18 tahun. Saya jarang menjalin hubungan yang serius dengan lawan jenis, terakhir kali menjalin bertahan sampai 6 bulan saja.”
Dalam menjalin suatu hubungan, biasanya dea menentukan kriteria yang dia tetapkan untuk calon pasangannya, biasanya dia melihat dari kesan yang di tampilkan oleh lawan jenisnya tersebut, lalu melihat dari hobi.
“Biasanya saya melihat dari first impression, kalau penilain pertamadi awal bagus saya akan memulai tertarik. Dari topik pembicaraan, hobi dan punya kertarikan yang sama. Itu kunci saya jika menentukan pasangan”
Saat menjalin suatu hubungan, orang tua dea pun mengatahuinya, bahwa sang anak sedang menjalin suatu hubungan dengan seseorang, sikap orang tuanya pun tidak melarang sang anak untuk pacaran, asalkan masih di batas normal dan tidak melakukan hal-hal yang dapat merugikan anaknya
“Keluarga hanya tau saya punya pacar tapi tidak tahu orangnya yang mana, Orang tua saya tidak pernah melarang saya untuk melakukan hal – hal yang saya inginkan, selagi itu masih normal dan sesuai norma, jadi mereka tidak terlau banyak komentar mengenai hubungan saya. Sesekali saya bercerita, tentang siapa pacar saya, atau ketika izin ingin pergi. Keluarga selalu mendukung hal positif yang saya lakukan, selagi itu tidak merugikan.”
Ketika ada awal pasti ada akhir, begitu pun yang dialami oleh dea saat menjalin hubungan, ada hal hal yang dapat membuat dia mengakhiri hubungannya dengan pasangannya, mulai dari ketidak cocokan dan juga rasa tidak nyamannya yang membuat dea sulit untuk mempercayai orang lagi, atau lawan jenis.
“Ketika saya sudah tidak merasa ada kecocokan antara saya dan pasangan.
Ataupun ketika ternyata kepercayaan saya selama ini tidak dianggap serius,
kebanyakan bohong. Saya sulit percaya terhadap orang, ketika orang tersebut melakukan kebohongan maka saya tidak percaya lagi, lebih baik diakhiri dari pada punya hubungan toxic.”
Melihat dari pengalaman yang kurang mengenakan yang pernah di alami oleh dea, mulai dari rasa di bohongi maupun tidak di anggap, dea memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang di bangun dengan mantan pasangannya, dea memutuskan untuk berahli ke sebuah aplikasi Tinder yang merupakan aplikasi kencan online yang beroprasi lewat telepon gengam atau smartphone. Di aplikasi tersebut dea merasa berani membuka diri, lebih percaya, dan berani berinteraksi tanpa harus bertatap langsung dengan lawan jenis.
“Melalui Tinder ini, saya tidak perlu untuk berinteraksi secara langsung dengan orang lain. Saya pemalu untuk berinterasi dengan orang sekitar, harus butuh keberanian lebih. Mungkin dengan adanya tinder ini, saya dapat lebih membukadiri dengan orang baru, tanpa orang tersebut tahu keadan saya yang sebenernya.”
Dea berpendapat dengan perbedaan yang dialami dalam mencari jodoh atau pasangan baik secara langsung maupun melalui dunia maya, di dalam pencarian jodoh secara langsung dia menuturkan bahwa proses yang dilaluinya cukup panjang. Namun untuk di dunia maya, khususnya di Tinder dea merasa bebas dalam mengutarakan sesuatu tanpa harus bertemu langsung. Bagi dea baik didalam dunia nyata maupun dunia maya sama sama harus mempunyai kepercayaan dalam menjalin suatu hubungan.
“Perbedaanya mungkin jika dunia nyata, saya harus melalui proses yang Panjang. Orang lain akan tahukalau saya sedang dengan dengan sesorang.
Banyak orang lain yang akan memberikan penilaian tentang seperti apa calon pasangan saya tersebut. Saya menjadi tidak yakin untuk dapat mempercayai dia, padahal mungkin terdapat kecocokan. Dan juga saya malu ketika banyak orang yang akhirnya memberi perhatian pada hubungan saya. Namun jika di tinder, orang lain tidak tahu saya sedang dekat dengan seseorang. Saya bebas untuk berekspresi dan menguatarakan pendapat saya. Saya lebih percaya diri untuk untuk menjelaskan bagaimana hidup saya dan apa yang menjadi ketertarikan saya, tanpa harus berinteraksi dengan langsung. Walaupun baik dala dunia nyata maupun tinder, sama – sama dibutuhkan kepercayaan untukdapat menjalin hubungan. Sekarang ini banyak contoh pasangan yang bertemu melalui tinder, tinder dapat menjadi opsional bagi orang – orang yang pemalu seperti saya.”
Setelah mengatahui kepribadian yang telah dea tuturkan kepada penulis, Dea lebih memilih dekat dengan seorang ibunya, dari pada ayah dan kedua kakanya, karena ibunya selalu ada dirumah, berbeda dengan ayah dan kedua kakanya yang sibuk bekerja. Hal tersebut membuat dea merasa bahwa ibunya yang selalu ada untuknya, tidak hanya itu dea juga tidak sungkan untuk bercerita kepada sang ibu. Biasanya yang selalu di ceritakan yaitu tentang perkuliahan, dimana dea menceritakan aktivitas perkuliahannya kepada sang ibu.
Namun ada hal – hal yang dea tidak pernah ceritakan kepada orang tuanya, yaitu tentang kesulitannya dalam mengikuti kegiatan dikampus.
Dea beranggapan kalau dia menceritakan kesulitannya karena takut sang ibu memikirkan hal tersebut. Dengan begitu dea menjaga informasi yang sifatnya dapat membuat orang yang dia ceritakan merasa menjadi terbebani dengan informasi tersebut.
Dea juga tak jarang menceritakan hal tentang perkulihaan kepada sang teman, hal yang dea ceritakan kepada sang teman terutama yaitu tentang kesulitannya dalam mengikuti kegiatan perkulihaan. Biasanya dea hanya menjelaskan kesulitannya dalam garis besarnya saja tidak menjelaskan secara keseluruhannya. Lagi-lagi dea tidak ingin membuat temannya merasa terbebani dengan cerita tersebut.
Dari informasi yang tidak di ceritakan secara detail kepada keluarga, baik sang ibu maupun teman membuat dea menjaga batasan informasi, dea tidak ingin menceritakan kesulitannya kepada siapapun secara detail, dengan alasan tersebut dea tidak menginginkan orang-orang tersebut merasa khawatir dan terbebani dengan cerita tersebut.
Begitu pula dalam menjalin hubungan, ketika menginjak usia yang ke 18 tahun, dea memulai menjalin hubungan dengan lawan jenis saat memasuki perkulihaan di tahun 2015. Dimana saat memasuki usia remaja dea tidak terlalu berkomitmen dalam menjalin hubungan, terbukti dari hubungan yang dia bangun hanya bertahan selaman 6 bulan saja.
Namun begitu dea pun mempunyai kriteria dalam menentukan pasangan, kriteria awal yaitu kesan pertama yang di tampilkan oleh lawan jenis, biasanya ketika kesan pertama yang di tampilkan bagus, dea mulai tertarik dengan lawan jenis tersebut. Berlanjut dengan kriteria selanjutnya
yaitu hobby dan kesukaan yang sama, dengan begitu dea merasa mempunyain kecocokan yang sama dalam hal tersebut.
Saat menjalin suatu hubungan, orang tuanya pun lantas mengatahuinya bahwa anaknya tersebut sedang menjalin suatu hubungan dengan lawan jenis. Dengan begitu orang tuanya pun tidak melarang anaknya dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis, dan tidak terlalu banyak komentar atas apa yang dea inginkan dan lakukan. Semua itu balik lagi kepada norma dan aturan yang ada, dimana orang tuanya tidak ingin anaknya melakukan hal yang tidak diinginkan.
Banyak faktor yang membuat hubungan yang dea bangun waktu itu harus berakhir dan tidak begitu bertahan lama, pertama faktor keseriusan menjadi salah satunya. Di sisi lain faktor kebohongan juga menjadi pengaruh dalam berahkirnya hubungan tersebut. Dea merasa kepercayaan yang dibangun lantas di kecewakan dengan kebohongan, maka dengan itu dea tidak pernah mempercayai lagi dan lebih selektif dalam mempercayai lawan jenis.
Dengan berakhirnya hubungan yang dibangun selama 6 bulan lamanya, dengan berbagai alasan membuat dea menyudahi pencarian jodoh secara langsung. Aplikasi Tinder menjadi pelarian atas gagalnya dea dalam menjalin hubugan. Tidak perlu untuk bertemu secara langsung untuk
melakukan interaksi dengan lawan jenis membuat dea menggunakan aplikasi tersebut. Terlebih dengan sifat pemalu yang dipunyai oleh dea.
Dengan adanya aplikasi Tinder, dea membuat perbedaan dalam pencarian jodoh baik secara dunia nyata maupun dunia maya atau lewat aplikasi Tinder. Mencari pasangan lewat dunia nyata membuat dea merasa mengalami proses yang Panjang dan rumit, dimana dia harus menyesuaikan terlebih dahulu dengan pasangan tersebut. Berbeda halnya dengan pencarian lewat aplikasi Tinder, dimana dea tidak perlu melewati proses yang rumit. Dan bebas dalam berekspresi, dea juga tidak perlu berinterkasi secara langsung cukup dengan aplikasi tersebut yang membuat dea merasa menjadi lebih percaya diri.
Di dalam diri dea yang pemalu, dan juga mempunyai rasa kurang percaya diri ketika harus berinteraksi dengan lawan jenis dan juga lingkungan sekitar, membuat dea memilih menggunakan aplikasi Tinder, dalam penggunaanya dea cukup lama menggunakan aplikasi Tinder, mulai dari tahun 2017 hingga sekarang.
“Saya menngunakan aplikasi Tinder dari saya semester 5, waktunya itu sekitar tahun 2017 akhir atau awal 2018. Sekitar 2 tahunan.”
Mengetahui aplikasi Tinder dari teman – temannya yang sebelumnya juga menggunakan aplikasi Tinder, dea memutuskan untuk
menggunakannya dengan tujuan dengan bermain Tinder, dea mendapatkan teman kencan online.
“Karena sebenernya aplikasi Tinder aja juga sudah lama, sekitar dari tahun 2012 dan aplikasi Tinder ini cukup lama. Dan teman – teman saya punya juga pakai aplikasi ini, jadinya saya juga menggunakan aplikasi ini. Kalau aplikasi yang lain saya baru mengatahuinya akhir – akhir ini.”
Dalam waktu penggunaan, dea biasanya mangakses aplikasi Tinder pada malam hari, dan juga diwaktu yang senggang, dan biasanya juga dia mengaksesnya hingga tengah malam.
“Biasanya saya menggunakan aplikasi Tinder kalau sedang ada waktu luang dan saya sedak tidak sibuk, Untuk waktu pemakaianya dalam sehari biasanya saya menggunakan itu di malam hari untuk menggunakannya lebih intens atau lebih sering. Untuk penggunaanya dari waktu senggang biasanya saya gunakannya sampai dengan tengah malam.”
Dalam menggunakan aplikasi Tinder, dea harus mengatur foto profile untuk menjadi daya tarik lawan jenisnya di Tinder, dea biasanya memasang foto yang tidak terlalu mencolok dengan menunjukan barang berharga, dea lebih memilih menggunakan foto yang di nilainya sopan untuk di jadikan foto profile di Tinder.
“Saya itu orangnya jarang foto, jadi foto yang saya tampilkan tidak banyak.
Untuk foto yang ada di profile itu yang memang layak untuk dipasang, seperti foto yang sopan dan tidak aneh-aneh.”
Selanjutnya, untuk penentuan umur di aplikasi Tinder sangat perlu dilakukan, karena umur dapat menentukan topik pembahasan yang membuat penggunanya merasa nyambung untuk membahas suatu topik,
Dea menentukan kriteria umur di dalam aplikasi Tinder, umurnya di tentukan oleh dea yaitu umur yang sesuai dengan dia atau yang seumuran dengan dea.
“Dalam penentuan kriteria umur biasanya itu sekitar 20-25 tahun. Karena saya tidak mencari lawan jenis yang umurnya tidak terlalu jauh dengan saya, karena kalau umurnya masih sekitaran dengan umur saya maka pembahasan kami pun masih nyambung dan kalau terlalu jauh beda umur takutnya pembahasan kami jadi berbeda.”
Selain menentukan kriteria umur yang ingin di cari, aplikasi Tinder juga meminta penggunanya untuk menenghubungkan dengan aplikasi lain yaitu Instagram, tetapi dea lebih memilih untuk tidak menghubungkan Instagramnya ke Tinder, dea beralasan bahwa dia ingin mengenal orang- oang baru, dan dia juga mengatakan bahwa setiap media sosial mempunyai porsinya masing masing.
“Kalau saya sih tidak mengoneksikannya dengan media sosial lain, karena dengan saya menggunakan aplikasi Tinder ini saya ingin kenal dengan orang – orang baru dan untuk media sosial lain untuk orang yang sudah kenal dengan saya. Karena menurut saya setiap media sosial memiliki porsinya masing – masing.”
Lanjut, untuk mencari lawan jenis atau pasangan di Tinder, dimana dea harus mengikuti aturan yang ada di aplikasi tersebut, ada mekanisme cara untuk tertarik kepada pengguna lain atau lawan jenis, pertama ada fitur love atau menggeser ke kanan yang tandanya dea tertarik akan orang tersebut, dan ada fitur dislike atau menggeser ke kiri yang tandanya dea tidak tertarik dengan orang tersebut, ada faktor yang membuat dea untuk