BAB III TINJAUAN KASUS
3.5 Evaluasi
nyeri : teknik relaksasi (napas panjang melalui mulut) dan distraksi (mengobrol dengan klien lain atau keluarga) dengan benar.
2. K.U : Cukup baik , kesadaran
composmetis, GCS 4- 5-6.
3. Skala 2 4. Wajah Rileks 5. TTV :
TD : 130/60 mmhg N : 80x/menit S : 36,9 ° C RR : 18x/menit A : Masalah teratasi sebagian P : Intervensi dilanjutkan 4- 5-6
1 Januari 2020 Resiko perdarahan b.d terputusnya
S :
jaringan, trauma bekas insisi.
1. Klien mengatakan paham penyebab dari perdarahan dan tanda- tanda perdarahan seperti BAB warna hitam dan nyeri tak tertahankan karena susah BAB.
O:
1. Klien mengikuti instruksi untuk membatasi aktivitas setelah pembedahan.
2. Tidak ada tanda hematuria dan hematemesis.
3. Irigasi kateter dilepas 4. TTV :
TD : 130/60 mmhg N : 80x/menit S : 36,9 ° C RR : 18x/menit A : Masalah teratasi P: Intervensi dihentikan
1 Januari 2020 Hambatan
mobilitas fisik b.d nyeri akut.
S:
1. Klien mengatakan memahami tujuan dari peningkatan
mobilitas.
2. Klien melaporkan mau melakukan mobilisasi sesuai kemampuan.
O:
1. Klien mampu meningkatkan
aktivitas fisiknya, mampu mengubah posisi,memenuhi kebutuhan ADL sehari-hari secara mandiri.
5. TTV :
TD : 130/60 mmhg N : 80x/menit S : 36,9 ° C RR : 18x/menit A: Masalah teratasi P : Intervensi dihentikan
Tabel 3.8 Evaluasi Keperawatan pada Tn. S dengan diagnosa medis Post Operasi (Trans Urethral Resection Prostat) di Ruang Mawar Kuning RSUD Sidoarjo
Tanggal Diagnosa Keperawatan
Evaluasi Keperawatan Paraf 2 Januari 2020 Nyeri akut b.d
agent injuri fisik (insisi pembedahan).
S :
1. Klien mengatakan nyeri sudah berkurang.
2. Klien memahami tentang teknik manajemen nyeri : teknik relaksasi (napas panjang melalui mulut) dan distraksi (mengobrol dengan klien lain atau keluarga) dan penyebab nyeri
O :
1. Klien mampu menunjukan ketrampilan dalam teknik manajemen nyeri Klien memahami tentang teknik manajemen nyeri : teknik relaksasi (napas panjang melalui mulut) dan
distraksi (mengobrol dengan klien lain atau keluarga) dan penyebab nyeri.
dengan benar.
2. K.U : Cukup baik , kesadaran composmetis, GCS 4-5-6
3. Skala 0 4. Wajah Rileks 5. TTV :
TD : 130/60 mmhg N : 80x/menit S : 36,9 ° C RR : 18x/menit A : Masalah teratasi
P : Intervensi dihentikan karena klien dijadwalkan pulang pukul 08.00 dini hari.
2 Januari 2020 Resiko
perdarahan b.d terputusnya jaringan,
S :
1. Klien mengatakan paham penyebab dari perdarahan.
O:
trauma bekas insisi.
1. Klien mengikuti instruksi untuk membatasi aktivitas setelah pembedahan.
2. Tidak ada tanda hematuria dan hematemesis.
3. Irigasi kateter (-) 4. TTV :
TD : 130/60 mmhg N : 80x/menit S : 36,9 ° C RR : 18x/menit A : Masalah teratasi
P: Intervensi dihentikan karena klien dijadwalkan pulang pukul 08.00 dini hari.
2 Januari 2020 Hambatan mobilitas fisik b.d nyeri akut
S:
1. Klien mengatakan memahami tujuan dari peningkatan mobilitas.
2. Klien melaporkan mau melakukan mobilisasi sesuai kemampuan.
O:
1. Klien mampu
meningkatkan aktivitas
fisiknya, mampu mengubah
posisi,memenuhi kebutuhan ADL sehari- hari secara mandiri.
3. TTV :
TD : 130/60 mmhg N : 80x/menit S : 36,9 ° C RR : 18x/menit A: Masalah teratasi
P : Intervensi dihentikan karena klien dijadwalkan pulang pukul 08.00 dini hari.
BAB IV PEMBAHASAN
Pada bab ini penulis akan membahas proses asuhan keperawatan pada Tn.S dengan diagnosa medis Post Operasi TURP (Trans Urethral Resection Prostat) yang dilakukan pada tanggal 31 Januari 2019 sampai dengan tanggal 2 Januari 2020 di Ruang Mawar Kuning RSUD Sidoarjo. Melalui pendekatan studi kasus untuk mendapatkan kesenjangan antara teori dan praktek dilapangan. Pembahasan ini memfokuskan terhadap konsep keperawatan dimulai dari pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi keperawatan dan evaluasi keperawatan.
4.1 Pengkajian
Penulis melakukan pengkajian pada Tn. S dengan melakukan anamnesa pada klien dan keluarga, melakukan pemeriksaan fisik dan mendapatkan data dari pemeriksaan penunjang medis. Pembahasan dimulai dari :
4.1.1 Identitas
Pada identitas antara tinjauan kasus dengan tinjauan pustaka tidak ditemukan adanya kesenjangan karena pada tinjauan kasus Tn. S mengatakan sudah berumur 72 tahun dan ia seorang lelaki. Menurut Muttaqin (2012) BPH merupakan pembesaran progresif dari kelenjar prostat (secara umum pada pria lebih tua dari 50 tahun ) yang menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretral dan pembatasan aliran urinarius.
73
4.1.2 Keluhan Utama
Pada keluhan utama antara kasus dengan teori tidak ditemukan adanya kesenjangan antara teori dan kasus dilapangan karena Tn. S saat itu mengeluhkan nyeri setelah operasi prostat dibagian genetalianya. Menurut Muttaqin (2012) keluhan yang paling dirasakan oleh klien pada umumnya adalah nyeri pada saat kencing atau disebut dengan disuria , hesistensi yaitu memulai kencing dalam waktu yang lama dan seringkali disertai dengan mengejan disebabkan karena otot detrussor buli-buli memerlukan waktu beberapa lama meningkatkan tekanan intravesikal guna mengatasi adanya tekanan dalam uretra prostatika dan setelah post operasi TURP klien biasanya mengalami nyeri di bagian genetalianya
4.1.3 Riwayat Penyakit
4.1.3.1 Riwayat Penyakit Sekarang
Pada riwayat penyakit sekarang Tn. S mengatakan bahwa telah merasakan nyeri sebelum operasi karena adanya benjolan di bagian genetalianya sehingga susah untuk kencing dan saat kencingpun terputus-putus. Menurut Doengoes (2012) klien datang dengan keluhan adanya nyeri tekan pada kandung kemih, terdapat benjolan massa otot yang padat dibawah abdomen bawah (distensi kandung kemih). Sehingga antara tinjauan teori dengan tinjauan kasus tidak ditemukanya ada kesenjangan.
4.1.3.2 Riwayat Penyakit Dahulu
Pada riwayat penyakit dahulu tidak ditemukan ada kesenjangan antara teori dengan kasus dilapangan. Pada tinjauan kasus di temukan bahwa Tn. S sebelumnya tidak memiliki riwayat penyakit kronis, tidak pernah operasi dan tidak memiliki alergi obat namun sering mengkonsumsi obat flu dan antibiotic yang dijual bebas.
Menurut teori Dongoes (2012) klien dengan BPH biasanya sering mengkonsumsi obat-obatan seperti antihipetensif atau antidepresan, obat antibiotic urinaria atau agen antibiotik, obat yang dijual bebas untuk flu/alergi serta obat yang mengandung simpatomimetik( Dongoes, 2012). Tidak ada perbedaan antara teori dengan kasus.
4.1.3.3 Riwayat Kesehatan Keluarga
Ditemukan kesenjangan antara kasus dengan teori. Pada tinjauan kasus Tn.
S mengatakan bahwa tidak ada keluarganya yang memiliki riwayat sakit seperti prostat yang dialaminya ataupun penyakit lainya seperti hipertensi dan penyakit ginjal.Sedangkan menurut teori Dongoes (2012) adanya riwayat keluarga yang pernah mengalami kanker prostat, hipertensi dan penyakit ginjal.
4.1.4 Kebiasaan Yang Memengaruhi Kesehatan
Tidak ditemukan kesenjangan antara kasus dengan teori. Pada tinjauan kasus ditemukan bahwa Tn. S seorang perokok aktif , suka minuman energik, dan kurang istirahat karena sering begadang. Menurut Dongoes (2012) rata –rata seorang laki-laki terkena penyakit tumor prostat maupun kanker prostat memiliki kebiasaan merokok yang belebih dan sering mengkonsumsi minuman energik.
4.1.5 Pemeriksaan Fisik 4.1.5.1 Sistem Pernafasan (B1)
Sistem pernafasan pada tinjauan pustaka didapatkan bentuk hidung simetris keadaan bersih dan tidak ada secret, pergerakan dada simetris, irama nafas regular tetapi ketika nyeri timbul kemungkinan dapat terjadi nafas pendek dan cepat dan tidak ada retraksi otot bantu nafas, tidak ada nafas cuping hidung,frekuensi pernfasan dalam batas normal 18-20x/menit,taktil fermitus antara kanan dan kiri
simetris, thoraks didapatkan hasil sonor, suara nafas paru vesikuler (Mustika, dkk 2012).
Pada sistem pernafasan tinjauan kasus Tn. S ditemukan bentuk dada simetris kanan-kiri, susunan ruas tulang belakang normal, irama nafas teratur , retraksi otot bantu nafas (-), alat bantu nafas (-),tidak ada batuk (-), sputum (-), nyeri dada (- ),vocal fremitus kanan-kiri sama, thorax terdengar sonor, dan suara paru vesikuler.
Pada sistem pernafasan ditemukan kesenjangan antara tinjauan pustaka dengan tinjaun kasus yaitu Tn. S tidak mengalami nafas pendek dan cepat saat nyeri timbul dikarenakan rentang skala nyeri pada Tn. S masih dalam batas klasifikasi (sedang) sehingga Tn. S tidak terjadi masalah sedangkan pada tinjauan teori terjadi masalah pada sistem pernafasan akibat dari tingginya rentang skala nyeri pada klien dan mengakibatkan terjadinya nafas pendek dan cepat saat timbul nyeri.
4.1.5.2 Sistem Kardiovaskular (B2)
Pemeriksaan fisik sistem kardiovaskuler ditemukan tidak terdapat sianosis, tekanan darah meningkat, tidak ada varises, phelbritis maupun oedem pada ekstremitas, denyut nadi meningkat akibat nyeri setelah pembedahan, akral hangat,CRT < 3 detik, tidak ada vena jugularis dan tidak ada clubbing finger pada kuku,terdengar dullness pada jantung, BJ 1tunggal terdengar di ICS 2Mid klavikula kiri dan mid sternalis kiri , BJ 2 tunggal terdengar di ICS 5 sternalis kiri dan sternalis kanan (Mustika, dkk 2012).
Pemeriksaan fisik sistem kardiovaskuler pada kasus ditemukan Inspeksi : nyeri dada (-),sianosis (-),clubbing finger (-), pembesaran, JVP (-), ictus cordis kuat
, (Posisi ICS V midclavikula sinistra, ukuran : 1 Cm ), terdengar suara redup / pekak, letak jantung dalam batas normal di ICS II sternalis dextra sinistra sampai dengan ICS V mid clavicula sinistra, terdengar suara jantung: S1 , S2 tunggal dan denyut nadi dalam batas normal 80 x/menit dengan tensi normal 120/60 mmhg.
Pada sistem kardiovaskuler terjadi kesenjangan antara tinjuan pustaka dengan tinjauan kasus karena tinjauan pustaka didapatkan nadi dan tekanan darah meningkat akibat dari respon klien merasakan adanya nyeri yang timbul pada saat pengkajian pemeriksaan fisik penulis menemukan denyut nadi dan tekanan darah pada Tn. S masih dalam batas normal yaitu untuk nadi 80x/menit, tekanan darah 120/60mmhg karena klien tidak dalam kondisi kecemasan yang berlebih.
4.1.5.3 Sistem Persyarafan (B3)
Pemeriksaan fisik sistem persyarafan ditemukan kesadaran composmentis, GCS 4-5-6 ,bentuk wajah simetris, pupil isokor, dan tidak ada nyeri kepala. Pada kasus Tn. S ditemukan kesadaran composmentis GCS 4-5-6, orientasi cukup baik, kejang (-), kaku kuduk (-), brudinsky (-), nyeri kepala (-),pusing (- ),istirahat/tidur kurang lebih siang selama 2 jam/hari dan malam 8 jam/hari, serta tidak ada kelainan nervus kranialis, pupil isokor, reflek terhadap cahaya normal dan tidak ada nyeri tekan pada kepala (Mustika, dkk 2012).
Pada sistem persyarafan tidak terjadi kesenjangan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus.
4.1.5.4 Sistem perkemihan (B4)
Pemeriksaan fisik sistem perkemihan pada tinjauan pustaka ditemukan terdapat bekas luka post operasi TURP di daerah genetalia, bisa terjadi retensi urin
karena adanya kloting (post-op), terpasang kateter DC yang terhubung urin bag, warna urin bisa kemerahan akibat bercampur dengan darah ( hematuria), umumnya klien juga terpasang drainase dibawah umbilicus sebelah kanan dan klien merasakan nyeri di bagian genetalia (Mustika, dkk 2012).
Pada tinjauan kasus Tn. S ditemukan bentuk alat kelamin normal,libido tidak terkaji,kebersihan kelamin tidak terkaji,frekuensi berkemih selama di rumah sakit tidak terkaji,kateter 3 way (+), irigasi kateter (+), jumlah urin 1000cc dengan bau khas dan berwarna kuning jernih tampak sedikit warna merah muda di dalam urin bag dan balance cairan dengan jumlah 540cc cairan terexessive.
Pada sistem perkemihan tidak ada kesenjangan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus.
4.1.5.5 Sistem Pencernaan (B5)
Pemeriksaan fisik sistem pencernaan ditemukan nafsu makan klien baik,bentuk abdomen simetris, tidak ada asites,terdapat luka jahit di area supra pubic (kuadran VIII), tidak mual muntah, tonsil tidak oedem dan mukosa bibir lembab, anus tidak terdapat hemoroid.tidak terdapat massa dan benjolan, tidak ada nyeri tekan pada abdomen dan tidak ada pembesaran organ,terdengar suara tympani bising usus normal 15- 35x/menit (Mustika, dkk 2012).
Pada kasus Tn. S ditemukan mulut bersih tidak ada lesi, mukosa bibir lembab, bentuk bibir normal, gigi bersih, kebiasaan gosok gigi selama di rumah 2 x sehari di rumah sakit tidak pernah, tenggorokan tidak ada kesulitan menelan, tidak ada kemerahan dan tidak ada pembesaran tonsil, BAB 1 kali sehari dengan konsistensi padat, warna kuning , bau khas , memakai pampers, masalah eleminasi
alvi (-), pemakaian obat pencahar (-), abdomen tegang (-), asites (-), kembung (-), nyeri tekan (-) ,suara tympani dan bising usus 15x/menit.
Pada sistem pencernaan untuk tinjauan kasus dengan tinjauan pustaka tidak ditemukan adanya kesenjangan.
4.1.5.6 Sistem Muskuloskeletal dan Integument (B6)
Pemeriksaan fisik sistem musculoskeletal dan integument terdapat luka insisi di bagian supra pubis akibat operasi prostat klien umumnya tidak memiliki gangguan pada sistem musculoskeletal tetapi tetap perlu dikaji kekuatan otot ekstremitas atas dan bawah dengan berdasarkan pada nilai kekuatan otot 0-5, di kaji juga adanya kekuatan otot atau keterbatasan gerak, warna kulit normal,rambut warna hitam keturanan asia, kaji keadaan luka apa terdapat pus atau tidak, kaji ada tidaknya infeksi, dan kaji keadaan luka bersih atau tidak, turgor kulit elastis, akral teraba hangat (Mustika, dkk 2012).
Pada tinjaun kasus Tn. S ditemukan ROM bebas,kekuatan otot 5-5-5-5, fraktur (-). dislokasi (-), kulit sawo matang, kemampuan ADL parsial karena klien mengeluhkan susah beraktivitas diakibatkan rasa nyeri, akral hangat, CRT ≤ 3 detik, lembab (+), aktivitas klien yang sebagian dibantu oleh keluarga ialah menyeka , mengganti pampers dan makan.
Pada pemeriksaan fisik sistem musculoskeletal dan integument antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus ditemukan adanya kesenjangan karena pada tinjauan kasus Tn. S ditemukan mengalami kesulitan dalam beraktivitas akibat luka operasinya dan Tn.S masih terpasang irigasi kateter sehingga dianjurkan untuk membatasi aktivitasnya dan mengakibatkan perlunya bantuan dalam pemenuhan kebutuhan ADLsnya sedangkan menurut tinjauan pustaka tidak ditemukan adanya
masalah klien dalam beraktivitas tetapi masih tetap perlu dikaji lebih dalam jika menemukan permasalahan di sistem muskuloskeletal.
4.1.5.7 Pemeriksaan fisik sistem penginderaan (B7)
Pada sistem penginderaan ditemukan kelima panca indera yaitu penglihatan hanya terjadi sedikit berkurang dalam sistem penglihatan karena faktor usia, pendengaran juga mulai berkurang karena faktor usia, perasa dalam keadaan normal, peraba juga dalam keadaan normal dan penciuman juga dalam keadaan batas normal, pada telinga tidak ditemukan nyeri tekan dan tidak terdapat luka serta pada hidung tidak ada nyeri tekan maupun luka (Mustika, dkk 2012).
Pada tinjauan kasus Tn. S ditemukan pupil isokor, reflek cahaya sensitif, mengecil saat terkena cahaya,konjungtiva merah muda, sklera putih ,tidak ada ikterik,palpebra simetris, strabismus tidak ada , ketajaman penglihatan baik alat bantu (-), hidung : bentuk normal , mukosa hidung lembab, sekret (-),ketajaman penciuman normal, telinga : bentuk simetris kanan dan kiri, ketajaman pendengaran cukup baik, alat bantu (-), Tn. S mampu merasakan manis,pahit, asam, asin dengan baik, respon Tn. S cukup baik terhadap sentuhan.
4.1.5.8 Pemeriksaan fisik sistem endokrin (B8)
Pada tinjauan pustaka ditemukan postur tubuh klien proposional sesuai jenis kelamin dan usianya, tidak terlihat hiperpigmentasi kulit, terdapat jakun pada klien, tidak ada pembesaran payudara klien, tidak terdapat pembesaran abdomen karena lemak, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, GDS dalam batas normal, tidak ada nyeri tekan kecuali pada supra pubis akibat insisi (Mustika, dkk 2012).
Pada kasus Tn. S ditemukan tidak ada luka ganggren, pembesaran kelenjar thyroid (-),pembesaran kelenjar parotis (-).
Pada sistem endokrin tidak ada kesenjangan antara tinjauan pustaka dengan tinjaun kasus.
4.2 Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh (Nurarif & Kusuma 2015) beberapa diantaranya ialah :
4.2.1 Gangguan eleminasi urin berhubungan dengan obstruksi mekanikal: bekuan darah, edema.
4.2.2 Nyeri akut berhubungan dengan agent injury fisik (Insisi Pembedahan).
4.2.3 Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan sebagai efek sekunder dari prosedur pembedahan.
4.2.4 Resiko perdarahan berhubungan dengan trauma efek samping pembedahan.
4.2.5 Hambatan mobilitas fisik b.d nyeri akut.
Pada diagnosa keperawatan ditemukan adanya kesenjangan antara tinjauan kasus dengan tinjauan pustaka. Pada tinjauan kasus Tn. S diperoleh tiga diagnosa yaitu nyeri akut berhubungan dengan agent injury fisik (Insisi Pembedahan). resiko perdarahan berhubungan dengan trauma efek samping pembedahan, hambatan mobilitas fisik b.d nyeri akut. Sedangkan pada tinjaun pustaka ada beberapa diagnosa yang tidak muncul yaitu gangguan eleminasi urin berhubungan dengan obstruksi mekanikal: bekuan darah, edema, resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan sebagai efek sekunder dari prosedur pembedahan.
4.3 Rencana Tindakan Keperawatan
Pada perumusan tindakan keperawatan antara tinjauan kasus dengan tinjauan pustaka tidak ditemukan adanya kesenjangan karena sudah seuai dengan kebutuhan pasien dan pustaka yang ditemukan dalam buku NANDA NICNOC jilid 3 tahun 2015.
Pada diagnosa keperawatan yang pertama yaitu nyeri akut berhubungan dengan agent injury fisik (Insisi Pembedahan) untuk tinjaun pustaka menurut ( Nur arif & Kusuma, 2015) merencanakan tindakan mandiri keperawatan yaitu menjelasakan penyebab nyeri , teknik manajemen nyeri seperti distraksi (napas panjang) dan relaksasi ( mengajak ngobrol klien lain), dan tindakan dalam kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat antispasmodic dan analgesik.
Sedangkan penulis merencanakan untuk memberikan penjelasan kepada Tn.S dan keluarga tentang penyebab nyeri , membantu memberikan posisi semi fowler serta mengajarkan teknik distraksi ( nafas panjang) dan relaksasi ( mengobrol dengan klien lain atau keluarga) serta berkolaborasi dengan tim medis lain dalam pemberian obat analgesik dan antibiotik.Sehingga antara tinjauan kasus dengan tinjauan pustaka tidak ditemukan adanya kesenjangan.
Pada diagnosa keperawatan yang kedua yaitu resiko perdarahan berhubungan dengan trauma efek samping pembedahan tidak ditemukan kesenjangan antara tinjaun pustaka dengan tinjaun kasus karena pada tinjauan pustaka menurut ( Nurarif & Kusuma, 2015) klien akan mendapat edukasi tentang penyebab perdarahan ,dianjurkan untuk diet makan tinggi serat dan sementara waktu membatasi aktivitasnya serta perawat harus mencatat waktu traksi kateter baik pemasangan dan pelepasanya. Pada tinjauan kasus penulis membuat rencana
sama halnya seperti yang dijabarkan oleh tinjauan pustaka dengan memberikan edukasi kepada Tn. S tentang penyebab perdarahan, memberikan anjuran pada klien untuk makan makanan yang memiliki serat cukup baik untuk memudahkan dalam defekasi sehingga mengurangi resiko terjadinya perdarahan berulang serta mencatat kapan waktu traksi dan irigasi kateter akan dilepas.
Pada diagnosa keperawatan yang ketiga yaitu hambatan mobilitas fisik b.d nyeri akut antara tinjaun pustaka dengan tinjauan kasus tidak ditemukan kesenjangan karena pada tinjauan pustaka menurut ( Nurarif & Kusuma, 2015) perawat harus memberikan edukasi pentingnya mobilasasi sesegera mungkin setelah masa operasi dan memotivasi klien untuk segera mobilisasi agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Pada tinjauan kasus penulis membuat rencana untuk memberikan edukasi pada Tn.S dan memotivasi agar segera mungkin melakukan mobilasai agar mempercepat proses penyembuhan.
4.4 Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan ( Setiadi,2012).
Implementasi yang dilakukan oleh penulis sama seperti rumusan rencana tindakan keperawatan yang telah disusun sebelum melakukan tindakan keperawatan pada klien berdasarkan pada data yang diperoleh dari pengkajian dan perumusan diagnosa keperawatan.
Pada diagnosa keperawatan yang pertama yaitu nyeri akut berhubungan dengan agent injury fisik (Insisi Pembedahan), pertama penulis melakukan bina hubungan saling percaya kepada klien dan keluarganya, kemudian menjelaskan tentang penyebab nyeri dan teknik dalam mengontrol nyeri yang timbul yaitu distaraksi (
menarik nafas panjang ) dan relaksasi ( ngobrol dengan klien lain atau keluarga), memberikan posisi semi fowler agar merasa nyaman, mengobservasi selalu tanda- tanda vital serta intensitas dan rentang skala nyeri juga berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat analgesik (antrain 1gr) dan antibiotik (anbacim 1gr).
Pada diagnosa keperawatan yang kedua yaitu resiko perdarahan berhubungan dengan trauma efek samping pembedahan semua perencanaan tindakan keperawatan dimana penulis memberikan penjelasan pada klien dan keluarganya tentang penyebab terjadi perdarahan setelah pembedahan dan tanda-tanda perdarahan ialah nyeri, feses berwarna hitam karena susah dalam defekasi, menganjurkan pada klien untuk diet makanan tinggi serat dan rutin minum obat vitamin K untuk memudahkan defekasi dan mengurangi perdarahan, menginstruksikan klien untuk membatasi aktivitas,memantau traksi kateter : catat waktu traksi dipasang dan kapan traksi akan dilepas, mengobservasi adanya hematuria dan hematemesis, mengobservasi tanda vital serta observasi masukan dan haluaran urin juga tidak lupa untuk berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat pengendalian perdarahan yaitu asam tranexamat 500mg.
Pada diagnosa keperawatan yang ketiga yaitu hambatan mobilitas fisik b.d nyeri akut perencanaan tindakan keperawatan yang telah dilakukan oleh penulis seperti menjelaskan tujuan dari meningkatkan mobilitas fisik untuk proses penyembuhan., memberikan motivasi klien untuk berlatih dalam memenuhi kebutuhan ADLs secara mandiri, mendampingi dan bantu klien dalam mobiliasi dan bantu penuhi kebutuhan ADL klien dan mengkaji tanda vital klien setelah melakukan latihan tersebut.
4.5 Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah penilaian dengan cara membandingkan perubahan keadaan pasien ( hasil yang diamati ) dengan tujuan dan kriteria hasil yang di buat (Rohmah, N. 2014). Evaluasi dilakukan selama 1x24 jam dengan harapan klien mampu mengontrol nyeri, skala nyeri berkurang atau dalam rentang 0-3, memahami penyebab nyeri dan memiliki keterampilan dalam teknik manajemen nyeri distraksi ( nafas panjang) dan relaksasi (ngobrol dengan klien lain atau keluarga) secara mandiri serta tanda vital dalam batas normal: tekanan darah : sistole : 100-120 mmhg ,diastole : 60-80 mmhg , nadi : 80 -100x/menit s,uhu : 36,4-37,4 °C, RR : 15-24x/menit
Evaluasi pada tinjauan kasus yang dilakukan oleh penulis didapatkan data subyektif dan obyektif , pada data subyektif untuk diagnosa nyeri akut berhubungan dengan agent injury fisik (insisi pembedahan) Tn.S mengatakan nyeri sudah berkurang, Tn. S memahami tentang teknik manajemen nyeri nyeri distraksi ( nafas panjang) dan relaksasi (ngobrol dengan klien lain atau keluarga) secara mandiri dan penyebab nyeri , pada data obyektif didapatkan keadaan umum cukup baik ,kesadaran composmetis, GCS 4-5-6 , skala 0, wajah rileks, tanda vital : tekanan darah 130/60 mmhg, nadi 80x/menit, suhu 36,9 ° C, frekuensi pernapasan 18x/menit. Masalah nyeri akut sudah teratasi untuk planning intervensi dihentikan karena klien direncanakan pulang pada jam 08.00 dapat terjadi kesenjangan antara tinjauan kasus dengan teori karena pada kasus penulis menyelesaikan kasus tersebut selama 2x24 jam sedangkan pada teori menyatakan evaluasi dapat dilakukan selama 1x24jam.
Pada diagnosa kedua yaitu resiko perdarahan b.d terputusnya jaringan, trauma bekas insisi dilakukan selama 1x24 jam diharapkan klien memahami penyebab perdarahannya, mengikuti anjuran untuk diet tinggi serat dan membatasi aktivitas klien agar tidak terjadi hematuria serta tanda vital dalam batas normal:
tekanan darah : sistole : 100-120 mmhg ,diastole : 60-80 mmhg , nadi : 80 - 100x/menit s,uhu : 36,4-37,4 °C, RR : 15-24x/menit dalam evaluasinya penulis didapatkan data subyektif yaitu Tn.S mengatakan paham penyebab dari perdarahan, Tn. S melaporkan mau melakukan diet makanan sesuai saran tenaga medis. Untuk data obyektif , Tn. S mengikuti instruksi untuk membatasi aktivitas setelah pembedahan, tidak ada tanda hematuria dan hematemesis, tanda vital: tekanan darah 130/60 mmhg, nadi 80x/menit, suhu 36,9 ° C, frekuensi pernapasan 18x/menit. Dan masalah Tn.S sudah teratasi penatalaksaan intervensi dihentikan karena klien dijadwalkan pulang pukul 08.00 dini hari serta pada tanggal 1 Januari 2020 irigasi dan traksi kateter Tn. S telah dilepas sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak adanya kesenjangan antara tinjauan kasus deng tinjauan pustaka.
Diagnosa ketiga yaitu hambatan mobilitas fisik b.d nyeri akut evaluasi dilakukan selama 1x24 jam diharapkan klien dapat beraktivitas secara mandiri dan klien memahami tentang pentingnya mobilasasi segera setelah masa operasi.
Penulis dalam evaluasinya mendapatlkan data subyektif Tn.S mengatakan memahami tujuan dari peningkatan mobilitas, Tn. S melaporkan mau melakukan mobilisasi sesuai kemampuan. Sedangkan untuk data obyektif Tn.S mampu meningkatkan aktivitas fisiknya, mampu mengubah posisi,memenuhi kebutuhan ADL sehari-hari secara mandiri, tanda vital tekanan darah 130/60 mmhg, nadi 80x/menit, suhu 36,9 ° C, frekuensi pernapasan 18x/menit. Masalah hambatan