BAB IV PEMBAHASAN
4.5 Evaluasi
Evaluasi adalah penilaian dengan cara membandingkan perubahan keadaan pasien ( hasil yang diamati ) dengan tujuan dan kriteria hasil yang di buat (Rohmah, N. 2014). Evaluasi dilakukan selama 1x24 jam dengan harapan klien mampu mengontrol nyeri, skala nyeri berkurang atau dalam rentang 0-3, memahami penyebab nyeri dan memiliki keterampilan dalam teknik manajemen nyeri distraksi ( nafas panjang) dan relaksasi (ngobrol dengan klien lain atau keluarga) secara mandiri serta tanda vital dalam batas normal: tekanan darah : sistole : 100-120 mmhg ,diastole : 60-80 mmhg , nadi : 80 -100x/menit s,uhu : 36,4-37,4 °C, RR : 15-24x/menit
Evaluasi pada tinjauan kasus yang dilakukan oleh penulis didapatkan data subyektif dan obyektif , pada data subyektif untuk diagnosa nyeri akut berhubungan dengan agent injury fisik (insisi pembedahan) Tn.S mengatakan nyeri sudah berkurang, Tn. S memahami tentang teknik manajemen nyeri nyeri distraksi ( nafas panjang) dan relaksasi (ngobrol dengan klien lain atau keluarga) secara mandiri dan penyebab nyeri , pada data obyektif didapatkan keadaan umum cukup baik ,kesadaran composmetis, GCS 4-5-6 , skala 0, wajah rileks, tanda vital : tekanan darah 130/60 mmhg, nadi 80x/menit, suhu 36,9 ° C, frekuensi pernapasan 18x/menit. Masalah nyeri akut sudah teratasi untuk planning intervensi dihentikan karena klien direncanakan pulang pada jam 08.00 dapat terjadi kesenjangan antara tinjauan kasus dengan teori karena pada kasus penulis menyelesaikan kasus tersebut selama 2x24 jam sedangkan pada teori menyatakan evaluasi dapat dilakukan selama 1x24jam.
Pada diagnosa kedua yaitu resiko perdarahan b.d terputusnya jaringan, trauma bekas insisi dilakukan selama 1x24 jam diharapkan klien memahami penyebab perdarahannya, mengikuti anjuran untuk diet tinggi serat dan membatasi aktivitas klien agar tidak terjadi hematuria serta tanda vital dalam batas normal:
tekanan darah : sistole : 100-120 mmhg ,diastole : 60-80 mmhg , nadi : 80 - 100x/menit s,uhu : 36,4-37,4 °C, RR : 15-24x/menit dalam evaluasinya penulis didapatkan data subyektif yaitu Tn.S mengatakan paham penyebab dari perdarahan, Tn. S melaporkan mau melakukan diet makanan sesuai saran tenaga medis. Untuk data obyektif , Tn. S mengikuti instruksi untuk membatasi aktivitas setelah pembedahan, tidak ada tanda hematuria dan hematemesis, tanda vital: tekanan darah 130/60 mmhg, nadi 80x/menit, suhu 36,9 ° C, frekuensi pernapasan 18x/menit. Dan masalah Tn.S sudah teratasi penatalaksaan intervensi dihentikan karena klien dijadwalkan pulang pukul 08.00 dini hari serta pada tanggal 1 Januari 2020 irigasi dan traksi kateter Tn. S telah dilepas sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak adanya kesenjangan antara tinjauan kasus deng tinjauan pustaka.
Diagnosa ketiga yaitu hambatan mobilitas fisik b.d nyeri akut evaluasi dilakukan selama 1x24 jam diharapkan klien dapat beraktivitas secara mandiri dan klien memahami tentang pentingnya mobilasasi segera setelah masa operasi.
Penulis dalam evaluasinya mendapatlkan data subyektif Tn.S mengatakan memahami tujuan dari peningkatan mobilitas, Tn. S melaporkan mau melakukan mobilisasi sesuai kemampuan. Sedangkan untuk data obyektif Tn.S mampu meningkatkan aktivitas fisiknya, mampu mengubah posisi,memenuhi kebutuhan ADL sehari-hari secara mandiri, tanda vital tekanan darah 130/60 mmhg, nadi 80x/menit, suhu 36,9 ° C, frekuensi pernapasan 18x/menit. Masalah hambatan
mobilitas fisik sudah teratasi planning dihentikan karena Tn. S dijadwalkan pulang pukul 08.00 dini hari. Dengan demikian tidak ada kesenjangan antara tinjaun kasus dengan tinjauan pustaka.
BAB V PENUTUP
Setelah melakukan pengamatan dan melaksanakan asuhan keperawatan secara langsung pada Tn.S dengan diagnosa medis Post Operasi (Trans Urethral Resection Prostat) di ruang mawar kuning RSUD Sidoarjo, maka penulis dapat menarik kesimpulan sekaligus saran yang dapat bermanfaat dalam meningkatkan mutu asuhan keperawatan pada klien dengan diagnosa medis Post Operasi (Trans Urethral Resection Prostat).
5.1 Simpulan
Dari hasil uraian yang telah diuraikan dalam bab 4 tentang asuhan keperawatan pada klien dengan diagnosa Post-TURP, maka peneliti dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut :
5.1.1 Penulis mendapatkan data fokus pengkajian pada klien yaitu keluhan utama dengan nyeri akut dan sistem perkemihan (B4) dengan data sebagai berikut bentuk alat kelamin normal,libido tidak terkaji,kebersihan kelamin tidak terkaji,frekuensi berkemih selama di rumah sakit tidak terkaji,kateter 3 way (+), irigasi kateter (+), jumlah urin 1000cc dengan bau khas dan berwarna kuning jernih tampak sedikit warna merah muda di dalam urin bag dan perhitungan balance cairan didapatkan 540 cc (excessive).
5.1.3 Untuk diagnosa keperawatan meliputi nyeri akut berhubungan dengan agent injury fisik (Insisi Pembedahan), resiko perdarahan berhubungan dengan trauma efek samping pembedahan dan hambatan mobilitas fisik b.d nyeri akut dan penulis mengangkat nyeri akut sebagai diagnosa prioritas.
88
5.1.4 Pada ketiga diagnosa keperawatan prioritas yang muncul pada klien dilakukan dengan dua tahap yaitu tindakan secara mandiri oleh perawat dan tindakan kolaborasi antara perawat dengan dokter dan ahli gizi.
5.1.5 Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapakan klien mampu mengontrol nyeri / nyeri berkurang dengan kriteria hasil :klien memahami tentang teknik manajemen nyeri dan tujuannya.,nyeri berkurang/dapat dikontrol bila timbul, mampu menunjukan ketrampilan dalam teknik manajemen nyeri distraksi (nafas panjang) dan relaksasi ( ngobrol dengan klien lain atau keluarga),wajah rileks , tanda vital dalam batas normal: tekanan darah : sistole : 100-120 mmhg ,diastole : 60-80 mmhg , nadi : 80 -100x/menit, suhu : 36,4-37,4
°C, RR : 15-24x/menit.
5.1.5 Implementasi keperawatan dilakukan selama 2 hari yaitu memberikan edukasi kepada Tn. S dan keluarganya tentang penyebab nyeri serta mengajarkan teknik manajemen nyeri seperti distraksi (nafas panjang) dan relaksasi ( ngobrol dengan klien lain atau keluarga), mengobservasi tingkat skala nyeri dan tanda-tanda vital.
5.1.5 Pada akhir evaluasi, semua tujuan yang telah direncanakan oleh penulis dapat tercapai dikarenakan adanya kerjasama yang baik antara klien, keluarga klien dan perawat. Hasil evaluasi akhir pada Tn. S yaitu nyeri yang dialami sudah berkurang ditandai dengan wajah Tn. S tampak rilex , hasil observasi rentang skala 0 serta Tn.S mengatakan bahwa nyeri dibagian genetalia sudah tidak timbul baik saat mau beraktivitas ataupun tidak,
5.2 Saran
Berdasarkan dari kesimpulan diatas penulis memberikan beberapa saran sebagai berikut :
5.2.1 Untuk mencapai hasil keperawatan yang diharapkan maka diperlukanlah hubungan yang baik dan kerja sama antara klien, keluarga klien dan perawat.
5.2.2 Peneliti
Untuk peneliti harus mampu meningkatkan skill ataupun pengetahuan dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan diagnosa Post-TURP yang lebih berkualitas.
5.2.3 Rumah Sakit
Bagi institusi pelayanan kesehatan, diharapkan rumah sakit khususnya RSUD Sidoarjo dapat memberikan pelayanan dan mempertahankan hubungan kerja sama yang baik antara tim kesehatan dan klien serta keluarga yang ditujukan untuk meningkatkan mutu pelayanan asuhan keperawatan yang optimal pada klien baik klien dengan BPH dengan menyediakan fasilitas yang mendukung kesembuhan klien.
5.2.4 Profesi keperawatan
Dapat digunakan sebagai referensi dan pengetahuan dengan berpedoman pada perkembangan ilmu pengetahuan yang mampu dikembangkan untuk memberikan pelayanan yang lebih berkualitas pada klien dengan post-TURP.
DAFTAR PUSTAKA
Agung, dkk.2017..Hubungan Obesitas, merokok dan konsumsi alkohol dengan benigna prostat hyperplasia (BPH) Di Poliklinik Bedah RSU Bina Sina Bukit Tinggi.Bukit Tinggi: RSU Bina Sina Bukit Tinggi.
Ali, Zaidin.2014 .Dasar-Dasar Dokumentasi Keperawatan. Jakarta : EGC Dongoes, E Marlyn , dkk . 2012. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC Haryono, R. (2012). Keperawatan Medikal Bedah Kelainan Bawaan Sistem
pencernan.Yogyakarta: Goesyen Publishing
Khamriana, dkk.2015.Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Prostat Benigna Hiperplasia Di Ruang Poli Urologi RSUD Labung Baji Makasar.
Makasar: RSUD Labung Baji Makasar
Mustika, dkk.2012.Asuhan Keperawatan Pada Tuan B Dengan Post Operasi Prostatektomi Hari Ke-1 Di Ruang Mawar III RSUD DR.MOEWARDI SURAKARTA.Https://id.scribd.com/doc/98489855/Askep-Bph-fix-Bngett2 di akses pada hari Jum’at, 12 September 2019, Pukul 20.00 WIB.
Muttaqin, Arif. 2011. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Perkemihan. Jakarta : Salemba Medika
Muttaqin,A & Sari,K. 2014. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Perkemihan.Jakarta :Salemba Medika
Nurarif & Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan Nanda Nic-Noc. Edisi Revisi Jilid 2. Jogjakarta. Mediaction Jogja.
Prabowo,Eko, dkk.2016.Asuhan Keperawatan Sistem Perkemihan.Yogyakarta:
Nuha Medika
Purnomo, Basuki.2011.Dasar-Dasar Urologi .Edisi 3.Jakarta: CV Infomedika Samsuhidajat.2010. Buku Ajar Ilmu Bedah.Edisi 3. Jakarta: EGC Purwanto, Hadi.2016. Keperawatan Medikal Bedah II .Jakarta : Kemenkes RI
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia 2013.
Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS). 2018. Riset Kesehatan Dasar RISKESDAS 2018 : Badan Litbangkes, Depkes RI 2018.
Robinson J. & Saputra , Lyndon.2014.Organ System Visual Nursing Genitoouria.Tangerang: Binarupa Aksara
Setiadi.2012.Konsep & Penulisan Dokumentasi Asuhan Keperawatan (Teori &
Praktik). Yogyakarta: Graha Ilmu
Sukesih, S.2016.BAB II Tinjauan Pustaka Landasan Teori. Diakses pada hari Senin, 12 Agustus 2019 pukul. 19.00 WIB.Web:respiratory.umy.ac.i Wantonoro,M.Dahlan. 2015. Jurnal Kebidanan & Keperawatan
Aisisyah.Yogyakarta. Diakses pada hari sabtu, 14 September 2019 Pukul 15.00 WIB. Web : ejournal.unisayogya.ac.id
Wijaya, S.A & Putri, M.Y.2013.Keperawatan Medikal Bedah: Keperawatan Dewasa, Teori, Contoh Askep.Yogyakarta: Nuha Medika
World Health Organization. 2015. Diakses pada tanggal 9 Juli 2019 pukul 15.00 WIB.Https://www.who.int/ncds/governance/policies/Bhutan-NCD- MAP2015-2020.pdf
Lampiran 2
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
EDUKASI PERAWATAN DI RUMAH PASCA OPERASI TURP BPH
Dosen Pembimbing Ns. Faida Annisa ,S.Kep, MNS
Disusun Oleh :
Febriany Carla Prameswary (1701052)
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN AKADEMI KEPERAWATAN KERTA CENDEKIA
SIDOARJO
2020
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
Bidang Studi : DIII keperawatan
Sub Topik : Edukasi perawatan di rumah pasca operasi TURP BPH Sasaran : Tn. S dan keluarga Tn.S
Hari / Tanggal : Kamis, 2 Januari 2020
Jam : 08.00 - selesai
Tempat : Ruang Mawar Kuning RSUD Sidoarjo I. LATAR BELAKANG
Benigna Prostate Hiperplasia (BPH) merupakan penyakit prostat jinak yang dapat menekan uretra dan menyebabkan obstruksi urin yang hebat (Robinson dan Saputra, 2014). Masyarakat umumnya tidak mengetahui apa penyebab dari BPH salah satunya ialah kebiasaan merokok masyarakat yang beresiko sangat besar terkena BPH(
Khamriana et al, 2015). Penyebab lain pemicu munculnya BPH ialah masyarakat dengan memiliki berat badan berlebihan dan sering mengkonsumsi alkohol berlebihan yang mana akan menghilangkan kandungan zink dan vitamin b6 yang penting untuk prostat yang sehat ( Agung, 2017).
Data statistik yang dilaporkan World Health Organization (WHO) diperkirakan jumlah penderita BPH di dunia mencapai 36 juta orang meninggal termasuk 14 juta orang yang berusia 30-70 tahun yang mana banyak diderita oleh laki-laki dari pada wanita , tiga perempat dari
kematian akibat BPH 28 jutanya di negara-negara yang berpenghasilan rendah dan menengah (WHO, 2015) . Di Indonesia penyakit BPH menjadi urutan kedua setelah penyakit batu saluran kemih yakni kurang lebih 13 juta penderita dan dinyatakan kira-kira 0,8 juta pria atau 2,5%
menderita penyakit BPH ( Riskesdas, 2013 ). Menurut Riskesdas Provinsi Jawa Timur pada tahun 2019 berdasarkan survei di Rumah Sakit Provinsi Jawa Timur didapatkan sebanyak 1.5 % juta jiwa menderita BPH dibanding dengan jumlah penduduk saat ini yaitu 267 juta jiwa.
Etiologi dari BPH secara pasti masih belum dipastikan namun hingga saat ini diyakini berhubungan dengan proses penuaan dan penurunan kadar hormon testosterone meskipun mekanisme timbulnya gejala dan komplikasi dari BPH masih belum tuntas dan jelas ( Mc.Nicholas dan Kirby, 2012 ) Tanda dan gejala iritatif meliputi peningkatan frekuensi kencing, nokturia dan inkontinensia, sedangkan gejala obstruksi yakni aliran kemih yang buruk, hesistansi ketika ingin berkemih, adanya sisa urin setelah berkemih , sensasi kencing belum tuntas dan sesekali retensi urin akut yang memerlukan tindakan darurat ( Martinez dan Satheesh, 2012). Komplikasi dari BPH adalah UTIs ( Urinary Tract Infection) berulang, hematuria, gagal ginjal, retensi urin dan memerlukan operasi ( Barkin, 2011). Pembesaran prostat menyebabkan rangsangan pada kandung kemih atau vesika , sehingga vesika sering berkontraksasi meskipun belum penuh dan disaat vesika terjadi dekompensasi, akan terjadi retensi urin sehingga pada akhir
miksi akan ditemukan sisa urin didalam kandung kemih yang akan menyebabkan terbentuknya batu endapan didalam kandung kemih atau vesicolithiaisis (Samsuhidajat & Jong, 2010)
Oleh karena itu sebagai tenaga kesehatan perawat mempunyai peran penting dalam pencegahan dan pengobatan BPH untuk pencegahan BPH yaitu dengan menerapkan pola hidup sehat serta melakukan pemeriksaan secara berkala (Prabowo dan Pranata, 2016 ). Dalam upaya kuratif perawat harus memberikan obat yang tepat sesuai kebutuhan klien, pemberian antikolinergik mengurangi spasme kandung kemih, untuk gangguan eleminasi diperlukan pemantauan dalam pemasangan kateter ( Prabowo & Pranata, 2016 ). Peran keluarga juga diperlukan untuk merawat klien setelah post- TURP sehingga perawat harus memberikan edukasi kepada keluarga ( Prabowo & Pranata, 2016 ).
Sebagai perawat juga penting dalam memberikan upaya perawatan rehabilitative kepada keluarga maupun klien tentang cara mengontrol nyeri bila timbul serta pentingnya cara berkemih yang benar setelah post- TURP (Gupta A, 2010).
II. TUJUAN a) UMUM
Setelah mengikuti penyuluhan ini, diharapkan Keluarga klien mampu memberikan perawatan terbaik kepada Tn. S saat di rumah dan klien mampu merubah pola hidup yang lebih baik .
b) KHUSUS
Setelah dilakukan penyuluhan, keluarga klien mampu :
1. Menjelaskan pengertian BPH (Benigna Prostat Hiperplasia).
2. Menjelaskan penyebab dari BPH (Benigna Prostat Hiperplasia).
3. Menjelaskan tanda dan gejala dari BPH (Benigna Prostat Hiperplasia.
4. Menjelaskan komplikasi BPH (Benigna Prostat Hiperplasia).
5. Menjelaskan perawatan di rumah post operasi III. PENGORGANISASIAN
Penyaji : Febriany Carla Prameswary IV. MATERI
` Terlampir
V. MEDIA Leaflet
VI. KEGIATAN PEMBELAJARAN
No Waktu Kegiatan
1. 5 menit Pembukaan:
1. Memberi salam pembukaan 2. Memperkenalkan diri
3. Menjelaskan tujuan penyuluhan 4. Membagikan leaflet
2. 10 menit Pelaksanaan:
1. Menjelaskan pengertian BPH (Benigna Prostat Hiperplasia).
2. Menjelaskan penyebab dari BPH (Benigna Prostat Hiperplasia).
3. Menjelaskan tanda dan gejala dari BPH (Benigna Prostat Hiperplasia).
4. Menjelaskan komplikasi BPH (Benigna Prostat Hiperplasia) 5. Menjelaskan perawatan post
operasi.
3. 3 menit Evaluasi:
1. Memberi waktu untuk peserta bertanya
4. 2 menit Penutup:
1. Memberikan ucapan terimakasih dan salam
VII. SETTING TEMPAT
Keterangan :
= Sasaran
= Mahasiswa/I perawat VIII. EVALUASI KEGIATAN 1. Evaluasi Struktur
a. Persiapan Media
Media yang akan digunakan dalam penyuluhan semuanya lengkap dan siap digunakan. Media yang digunakan adalah leaflet
2. Evaluasi Proses
a. Kegiatan penyuluhan yang akan diberikan diharapkan berjalan lancar dan sasaran memahami tentang penyuluhan yang diberikan
b. Peserta diharapkan memperhatikan materi yang diberikan 3. Evaluasi Hasil
a. Jangka Pendek
- Sasaran mengerti sekitar 80% dari materi yang diberikan
- Sasaran memahami tentang perawatan di rumah post operasi TURP BPH.
- Meningkatkan pengetahuan sasaran mengenai pentingnya perawatan di rumah post operasi TURP BPH.
- Dapat menjadi agen perubahan dengan cara membagikan pesan tentang pentingnya perawatan di rumah post operasi TURP BPH.
X. LAMPIRAN MATERI
1. Pengertian BPH (BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA )
Benigna Prostat Hiperplasia (BPH) adalah keadaan kondisi pembesaran prostat secara patologis yang paling umum pada pria lansia dan penyebab kedua yang paling sering ditemukan intervensi medis pada pria di atas usia 50 tahun . 2. Penyebab BPH (BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA )
Dengan bertambahnya usia , akan terjadi perubahan keseimbangan hormone testosterone dan esterogen karena produksi hormone testosterone menurun sehingga mengakibatkan prostat membesar.
3. Tanda dan Gejala BPH (BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA )
Kesulitan dalam berkemih, nyeri saat berkemih, rasa tidak puas saat berkemih atau menetesnya pada akhir berkemih, pancaran uri meleha dan terputus-putus dan pada hasil USG Urologi ditemukan prostat membesar.
4. Komplikasi BPH (BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA )
Infeksi saluran kemih, hemoroid atau wasir,hematuria atau kencing berdarah,batu kandung kemih dan gagal ginjal.
5. Perawatan di rumah post operasi TURP BPH (BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA )
1) Batasi aktivitas yang terlalu berat setelah operasi 2) Tidak mengajan saat BAB
3) Tidak merokok 4) Biasakan hidup bersih
5) Makan makanan yang mengandung banyak vitamin dan berserat serta hindari minuman yang beralkohol.
6) Minum 2000-3000 ml/hari
7) BAK saat kandung kemih terasa penuh 8) Rutin minum obat dari rumah sakit 9) Kontrol rutin ke dokter
10) Segera rujuk ke klinik terdekat/ rumah sakit jika menemukan tanda – tanda urin berwarna keruh, berbau busuk dan nyeri saat berkemih, demam dan penurunan jumlah frekuwensi dalam berkemih.
DAFTAR PUSTAKA
Dongoes, E Marlyn ,dkk.2012.Rencana Asuhan Keperawatan.Jakarta:EGC Nurarif & Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan Nanda Nic-Noc. Edisi Revisi Jilid 2. Jogjakarta. Mediaction Jogja Purwanto, Hadi.2016.Keperawatan Medikal Bedah II.Jakarta:Kemenkes RI
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia 2013.
Edukasi
Perawatan saat di rumah pada Pasien post operasi TURP
BPH
Disusun oleh :
Febriany Carla Prameswary Nim: 1710152
PROGRAM DIII AKADEMI KEPERAWTAN KERTA
CENDEKIA SIDOARJO Tahun ajaran 2020
Tahukah Anda Apakah itu BPH????
Benigna Prostat Hiperplasia
(BPH) adalah keadaan kondisi pembesaran prostat secara patologis yang paling umum pada pria lansia dan penyebab kedua yang paling sering ditemukan intervensi medis pada pria di atas usia 50 tahun .
Dengan bertambahnya usia , akan terjadi perubahan keseimbangan hormone testosterone dan esterogen karena produksi hormone testosterone menurun
sehingga mengakibatkan prostat membesar.
Tanda dan gejala
seseorang menderita BPH !!!
1. Kesulitan dalam berkemih 2. Nyeri saat berkemih,
3. Rasa tidak puas saat berkemih atau menetesnya pada akhir berkemih, pancaran uri melemah dan terputus-putus
4. Hasil USG Urologi ditemukan prostat membesar.
AKIBAT LANJUT JIKA TIDAK SEGERA DI TANGANI !!!!