BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Konsep Asuhan Keperawatan
2.2.3 Intervensi Keperawatan
2.2.3.1 Diagnosa Pertama :Gangguan eleminasi urin berhubungan dengan obstruksi mekanikal: bekuan darah , oedem.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan pola berkemih klien kembali normal dan jumlah keluaran urin norml tanpa adanya retensi urin.
Kriteria Hasil :
1) Klien dan keluarga klien memahami tentang pentingnya sediaan waktu yang cukup untuk pengosonagan kandung kemih (10 menit).
2) Klien dan keluarga klien melaporkn hasil output urin.
3) Klien mampu mendemosntrasikan ulang cara untuk mnghindari konstipasi.
4) Kandung kemih kosong secara penuh ,tidak ada residu urine >100-200 cc, intake cairan dalam rentang normal, tidak ada spasme bladder , blance cairan seimbang ,bebas dari ISK
Intervensi :
1) Jelaskan pada klien dan keluarga klien tentang pentingnya sediaan waktu yang cukup untuk pengosongankandung kemih (10 menit).
R/Untuk menambah pengetahuan klien dan keluarga klien dan mencegah terjadinya gangguan eleminasi urine
2) Anjurkan klien dan keluarga klien untuk merekam output urin.
R/ Untuk membantu merekam hasil output urine.
3) Ajarkan klien cara-cara untuk menghindari konstipasi atau impaksi tinja.
R/ Menghindari terjadinya pengeluaran tinja bersama urin
4) Pantau asupan dan keluaran urin
R/ Untuk mengetahui perkembangan keseimbangan cairan
5) Pantau tingkat distensi kandung kemih dengan palpasi dan perkusi R/ Memantau apakah ada penimbunan urin di kandung kemih.
6) Memantau penggunaan obat dengan dengan sifat antikolinergik atau property alpha agonis
R/ Untuk mempermudah klien dalam BAK setelah operasi 7) Merujuk ke spesisialis kontinensia kemih
R/Untuk mencegah terjadinya inkontinensia urin.
2.2.3.2 Diagnosa kedua :Nyeri akut berhubungan dengan agent injury fisik ( Insisi Pembedahan).
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan nyeri klien berkurang /terkontrol.
Kriteria Hasil :
1) Klien dan keluarga klien memahmi tentang penyebab nyeri dan cara mengatasi bila timbul rasa nyeri
2) Keluarga klien melaporkan bahwa nye0ri yang dirasakan klien berkurang / terkontrol
3) Klien mampu mendemonstrasikan ulang teknik distraksi dan relaksasi dengan benar
4) TTV dalam batas normal =
TD : Sistole = 100-120 mmhg, Diastole = 60-80 mmhg S = 36,8-37,4 °C, N= 60-80x/menit RR = 18-24x/menit,
skala nyeri berkurang berdasarkan penilaian 0 = tidak nyeri, 1-3 = nyeri ringan, 4-6 = nyeri sedang, 7-9 = nyeri berat, 10 = nyeri sangat berat dan klien tampak rileks serta nyaman, klien akan tidur / istirahat dengan tenang.
Intervensi :
1) Jelaskan kepada klien dan keluarga tentang penyebab nyeri yang timbul pada klien.
R/ Menambah pengetahuan klien dan keluarga klien.
2) Anjurkan penggunaan teknik distraksi dan relaksasi pada klien dan keluarga.
R/ Untuk membantu meningkatkan kenyamaanan klien.
3) Ajarkan teknik ditraksi dan relakssi serta latihan nafas dalam bila nyeri timbul.
R/ Untuk mengurangi rasa nyeri klien.
Observasi tanda-tanda vital:
TD : Sistole = 100-120 mmhg, Diastole = 60-80 mmhg S = 36,8-37,4 °C, N= 60-80x/menit RR = 18-24x/menit
,observasi skala : skala nyeri berkurang berdasarkan penilaian 0 = tidak nyeri, 1-3 = nyeri ringan, 4-6 = nyeri sedang, 7-9 = nyeri berat, 10 = nyeri sangat berat
R/ Untuk mengetahui perkembangan klien
4) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat antispasmodic dan analgesik.
R/ Meningkatkan kenyamanan yang mempengaruhi status psikologi dan meningkatkan status mobilisasi.
2.2.3.3 Diagnosa Ketiga :Resiko infeksi brhubungan dengan kerusakan jaringan sebagai efek sekunder dari prosedur pembedahan.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan klien terbebas dari tanda dan gejala infeksi.
Kriteria Hasil :
1) Klien dan keluarga klien mampu memahami tentang proses penularan penyakit, faktor yang memengaruhi penularan serta penatalaksanaanya.
2) Klien dan keluarga klien melaporkan bahwa klien mau menambah intake cairan
3) Klien menunjukan kemampuannya untuk mencegah timbulnya infeksi.
4) TTV dalam batas normal : TD : Sistole = 100-120 mmhg, Diastole = 60-80 mmhg, S = 36,8-37,4 °C, N= 60-80x/menit RR = 18-24x/menit, klien dapat mencapai waktu penyembuhan, tidak ada tanda-tanda syok dan demam.
Intervensi :
1) Jelaskan kepada klien dan keluarga klien tentang cara penularan penyakit, factor yang memengaruhi penularannya serta penatalaksanaannya
R/ Untuk meningkatkan pengetahuan klien dan keluarga klien.
2) Anjurkan pada klien untuk intake cairan (2500-3000ml). Sehingga dapat menurunkan potensi infeksi.).
R/ Untuk meningkatkan asupan cairan sehingga menurunkan potensi terjadinya infeksi.
3) Ajarkan kepada klien cara-cara menghindari infeksi.
R/ Membantu klien agar terhindar dari infeksi baik di rumah sakit maupun di rumah.
4) Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan fecal.
R/ Memantau keadaan klien dan perkembanganya.
5) Monitorhitung granulosit , WBC.
R/Memantau jumlah leukosit meningkat/menurun.
6) Observasi Urin : warna, jumlah dan bau.
R/ Mengobservasi pengeluaran klien.
7) Observasi TTV , laporkan jika ada tanda-tanda syok dan demam.
R/ Mengetahui perkembangan klien dan mencegah terjadinya demam dan syok.
8) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotic
R/Pemberian antibiotic untuk mencegah terjadi suati infeksi yang tidak diharapkan.
2.2.3.4 Diagnosa Keempat : Resiko perdarahan berhubungan dengan trauma efek samping pembedahan.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan pada klien tidak terjadi perdarahan.
Kriteria Hasil :
1) Klien memahami penyebab dari perdarahan.
2) Klien melaporkan mau melakukan diet makanan sesuai saran tenaga medis.
3) Klien mengikuti instruksi untuk membatasi aktivitas setelah pembedahan.
4) Tidak ada hematuria dan hematemesis.
5) TTV dalam batas Normal: TD : Sistole = 100-120 mmhg, Diastole = 60- 80 mmhg, S = 36,8-37,4 °C, N= 60-80x/menit RR = 18-24x/menit
6) Hemoglobin dan hematocrit dalam batas normal, plasma, PT,PTT dalam batas normal
Intervensi :
1) Jelaskan pada klien tentang penyebab terjadi perdarahan setelah pembedahan dan tanda-tanda perdarahan.
R/ Menurunkan kecemasan klien dan mengetahui tanda-tanda perdarahan 2) Anjurkan pada klien untuk diet makanan tinggi serat dan rutin minum obat
untuk memudahkan defekasi.
R/Dengan peningkatan tekanan pada fosa prostatic dapat mengendapkan perdarahan.
3) Instruksikan klien untuk membatasi aktivitas
R/Dengan peningkatan tekanan pada fosa prostatic dapat mengendapkan perdarahan.
4) Pantau traksi kateter : catat waktu traksi dipasang dan kapan traksi akan dilepas.
R/Untuk mengurangi resiko perdarahan pada luka insisi pembedahan.
5) Observasi TTV tiap 4 jam, observasi masukan dan haluaran serta warna urin.
R/Traksi kateter menyebabkan pengembangan balon ke sisi fosa prostatic, menurunkan perdarahan, umumnya 3-6 jam stelah pembedahan.
6) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian produk darah (platelet/ fresh frozen plasma).
R/Deteksi awal terhadap komplikasi dengan intervensi yang tepat dan untuk mencegah terjadinya kerusakan jaringan permanen.
2.2.3.5 Diagnosa kelima : Hambatan mobilitas fisik b.d nyeri akut
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan klien dapat beraktivitas
Kriteria Hasil :
1) Klien memahami tujuan dari peningkatan mobilitas.
2) Klien melaporkan mau melakukan mobilisasi sesuai kemampuan.
3) Klien mampu meningkatkan aktivitas fisiknya, mampu mengubah posisi,memenuhi kebutuhan ADL sehari-hari secara mandiri.
4) Tanda vital dalam batas normal:
Tekanan darah : Sistole : 100-120 mmhg ,Diastole : 60-80 mmhg ,nadi : 80 -100x/menit , suhu : 36,4-37,4 °C , RR : 15-24x/menit
Intervensi :
1) Jelaskan tujuan dari meningkatkan mobilitas fisik untuk proses penyembuhan.
R/ Dengan meningkatkan kemampuan mobilitas fisik dapat memperbaiki fungsi otot seperti semula.
2) Motivasi klien untuk berlatih dalam memenuhi kebutuhan ADLs secara mandiri.
R/ Dengan adanya motivasi membuat klien semangat dalam proses penyembuhan dan secara mandiri meningkatkan kemampuan pemenuhan ADLs tanpa bantuan orang lain.
3) Dampingi dan bantu klien dalam mobiliasi dan bantu penuhi kebutuhan ADL klien.
R/ Pendampingan dilakukan untuk membantu klien dalam memenuhi ADLs.
4) Kaji tanda vital klien setelah melakukan latihan.
R/ Memantau perkembangan kondisi klien agar tidak terjadi masalah lain.