• Tidak ada hasil yang ditemukan

ELABORASI PEMAHAMAN

Dalam dokumen MODUL IIP PPG edisi revisi 2023 (Halaman 52-59)

B. Pendidikan Multikultural di Muhammadiyah

5. ELABORASI PEMAHAMAN

Silakan untuk menjawab pertanyaan pada aktivitas elaborasi pemahaman sebagaimana tersaji di bawah ini:

1) Pada topik ini, bagian mana yang menurut Anda membuat penasaran?

Mengapa?

2) Apa yang ingin Anda pelajari lebih lanjut? Mengapa?

3) Berdasarkan teori yang disampaikan pada topik ini, strategi apa sajakah yang kira-kira akan Anda terapkan di kelas, jika Anda menjadi guru nanti?

Kami yakin, saat ini Anda sudah mulai tercerahkan namun juga mungkin sekaligus memiliki banyak pertanyaan. Tetaplah semangat, karena semua pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menjadi pemandu dalam perjalanan Anda menuju pemahaman. Silahkan bertanyalah kepada dosen Anda atau diskusikanlah kembali dengan teman Anda jika masih ada yang belum dimengerti dari paparan konsep teori yang tersaji di atas.

TOPIK 5

PROFIL GURU PROFETIK

1. PENGANTAR

A. Ruang Lingkup Materi

Materi yang dikaji dalam topik ini yaitu seputar profil guru profetik yang memiliki ruh keimanan, ibadah, dan akhlak, memiliki niat, motivasi, dan tujuan yang selaras dengan syariat agama.

B. Capaian Pembelajaran

Capaian Pembelajaran (CP) yang hendak dicapai pada topik ini yaitu:

1) Mahasiswa mampu memahami profil guru profetik yang selaras dengan syariat agama;

2) Mahasiswa mampu menganalisa pengaruh iman, ibadah, dan akhlak, serta niat, motivasi, dan tujuan terhadap langkahnya dalam menjalankan tugas di dunia pendidikan.

2. MULAI DARI DIRI

Selamat datang para mahasiswa pada pembelajaran kali ini!

Bagaimana perasaan Anda memasuki pembelajaran ini? Jangan lupa untuk berdoa terlebih dahulu sebelum memulai belajar agar diberikan pemahaman yang utuh. Mari kita jawab beberapa pertanyaan pemantik berikut untuk refleksi diri sebelum memulai belajar.

Ketiklah jawaban/respon Anda pada kolom jawaban yang telah disediakan.

1. Apa yang Anda ketahui dan pahami tentang Guru Profetik dan bagaimana profilnya?

2. Apa relevansi guru profetik dengan konteks penguatan kompetensi guru saat ini?

3. Apakah Anda merasa sudah memiliki karakter seorang guru profetik ? Jika sudah jelaskan indikasinya, dan jika belum jelaskan pula alasannya mengapa.

3. EKSPLORASI KONSEP A. Iman, Ibadah, dan Akhlak

Terdapat tiga hal yang harus ada pada diri seorang pendidik profetik, di mana ketiganya merupakan ruh yang akan menghidupkan setiap elemen di dalam jiwa

dan raga pendidik, memberikan dorongan positif pada setiap tutur dan tindaknya, bahkan sedari alam pikirnya. Tiga hal tersebut yaitu iman, ibadah, dan akhlak.

Guna memahami peran dan fungsi dari setiap aspek tersebut pada diri pendidik, berikut ini akan dielaborasi secara rinci.

1) Iman

Imān berasal dari kata kerja bahasa Arab āmana artinya mempercayai dan membenarkan (

تُمَلِمص

). Iman artinya kepercayaan, menunjukkan ketundukan, dan penerimaan atas syariat/hukum (Abadi, n.d., III, 302). Kata imān juga derifasi dari al-amnu (aman) yang merupakan lawan dari kata al-khauf(takut), demikian pendapat Abu ‘Abdullah al-Halimi, sebagaimana dalam ayat (Al- Baihaqy, 1986, 103).

Maksud dan maknanya yaitu tashdīq (pembenaran) dan taḥqīq (kesadaran dan realisasi, pembuktian). Dalam pandangan Ibnu Taimiyah kataīmānmeliputi makna menetapkan keyakinan (i’timān) dan kepercayaan (amānah) di samping unsur membenarkan (taṣdīq) (Izutsu, 1994). Secara istilah, beberapa ulama menetapkan definisi iman, yaitu

a. Imam al-Baihaqy: iman yaitu pengetahuan dengan hati, pernyataan dengan lidah, dan pengamalan dengan anggota badan (Al-Baihaqy, 1986, 103).

b. Yusuf Qaradhawi: iman yaitu kepercayaan yang meresap ke dalam hati dengan penuh keyakinan, tidak bercampur syak (ragu), serta memberi pengaruh bagi pandangan hidup, tingkah laku, dan perbuatan pemiliknya sehari-hari (Chirzin, 2015).

Dapat disimpulkan bahwa iman bukan sekadar keyakinan yang diucapkan melalui lisan, melainkan berupa keyakinan yang diucapkan dan bergerak memengaruhi pandangan hidup, memberi efek positif terhadap tingkah laku dan perbuatan secara langsung. Sehingga yang akan terpancar dari seorang yang beriman adalah sikap tulus ikhlas dan amal saleh yang senantiasa dilandasi pandangan dan tujuan hidup yang terhindar dari nafsu dan syahwat (Chirzin, 2015, 24-28).

Iman hendaknya tertanam dalam diri setiap pendidik profetik, menjadi landasan sekaligus motivasi dalam menjalankan profesi sebagai pendidik.

Ketika iman menjadi landasan, maka ia akan menjadi sumber kekuatan pendidik

dalam merasa, mengucap, dan melakukan Tindakan, menjadi sumber semangat untuk senantiasa dalam jalur yang diridhai Allah Swt, karena Allah adalah Tuhan yang ia imani, maka setiap hati lisan dan anggota badannya akan selalu mengikuti arahan, perintah, dan larangan-Nya.

Allah telah menyebutkan di dalam Al-Qur’an mengenai hal tersebut,

Di antara manusia ada yang berkata “kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,” tetapi mereka sebenarnya tidak beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman, tetapi mereka tidaklah menipu kecuali diri mereka sendiri, sedangkan mereka tidak menyadarinya.”(QS. Al-Baqarah/2:

8-9).

Allah bahkan tidak menyebutkan perkara tentang iman di dalam al-Quran kecuali akan mengaitkannya dengan amal shaleh, atau ketakwaan, atau keberserahan diri kepada-Nya, di mana menjadikan hubungan iman dan amal semakin kentara dan tak dapat dikesampingkan satu sama lain. Al-Qur’an pun menyebutkan bahwa tanda kosongnya jiwa seseorang dari aqidah dan keruhnya hati tanpa iman yaitu sikap resesi (penolakan, pengingkaran, dan mundur) untuk melakukan amal-amal shaleh (Al-Ghazali, n.d., 133).

(58) لَومَلْلِلُلَ الِ لًيمَلْ مُيمَمَلَْ لَ لو مٍالَمْالَّْ َومَمَلع لو َومْلِلآ لَْمِلَْ لو مَي مّلِلَْ لو ىلَلعل لأَ يمولُلَلَ الِ لو Dan tidak sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidak (sama) pula orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dengan orang- orang yang berbuat kejahatan. Hanya sedikit sekali yang kamu ambil pelajaran.(QS. Ghafir/40: 58)

Menurut Ibnu Hazm, meningkat dan menurunnya iman juga sangat berkaitan dengan amal. Karena taṣdīq (pembenaran, pengakuan) itu sendiri akan selalu sama dan tetap, sedangkan perbuatan yang merupakan salah satu unsur lain dari iman akan terus berubah baik menumbuh atau pun menyusut (Izutsu, 1994, 204- 205). Seseorang yang telah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dengan sendirinya akan menunjukkan sikap dan perbuatan berupa amal dan ibadah sebagai bentuk penundukkan diri dan isyarat cintanya kepada Allah.

Dalam dunia pendidikan, amal yang dimaksud adalah setiap langkah dan tindakan pendidik saat menjalani profesinya secara optimal, baik di dalam kelas, di Lingkungan sekolah, bahkan di Lingkungan masyarakat. Pendidik akan senantiasa termotivasi untuk mengamalkan yang terbaik karena didasari dan didorong oleh iman kepada Allah Swt. Ketika imannya sedang menurun, maka

kualitas amalnya dalam mendidik besar kemungkinan mengalami penurunan, demikian sebaliknya.

2) Ibadah

Ibadah secara bahasa adalah taat, menurut, mengikuti (al-ṭā’ah), tunduk (al- khuḍū’), hina (al-żullu), pengabdian, dan doa (al-tanassuk). Sedangkan secara istilah menurut ulama tauhid, ibadah adalah meng-Esakan Allah Swt dengan sungguh-sungguh dan merendahkan diri serta menundukkan jiwa setunduk- tunduknya kepada-Nya. Menurut ulama fikih, ibadah adalah semua bentuk pekerjaan yang bertujuan memperoleh keridlaan Allah Swt dan mendambakan pahala dari-Nya di Akhirat. Sedangkan menurut Muhammadiyah, ibadah adalah mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya serta mengamalkan apa saja yang diperkenankan olehnya (HPT, hlm. 276).

Ibadah merupakan sebuah kata yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridhai-Nya dari perkataan dan perbuatan, yang lahir dan batin. Ia mencakup kewajiban-kewajiban dan rukun-rukun ibadah (shalat, puasa, zakat, dll), berbagai macam ibadah sunnah, pergaulan yang baik, seluruh akhlak dan tata krama manusia, dan lain-lain. Ibadah adalah konsep Ilahi untuk mengatur seluruh urusan kehidupan manusia, di mana tidak sekedar shalat, puasa, zakat, haji, umrah, dan sebagainya dari doa-doa dan dzikir-dzikir tanpa memiliki hubungan dengan akhlak dan adab susila, peraturan dan hukum, adat istiadat dan tradisi, dll.

Manusia, terlebih seorang pendidik profetik harus seseorang yang taat melaksanakan ibadah, baik ibadahmahḍah(murni) seperti syahadat, salat, puasa, membayar zakat, berhaji, demikian juga melaksanakan ibadah gairu mahḍah (tidak murni), di antaranya yaitu berbuat baik, mendidik dengan baik, menyampaikan ilmu dengan cara terbaik, dan sebagainya. Kenapa demikian?

Karena ibadah disyariatkan dengan maksud, di antaranya (Al-Qaradhawi, 1996, 94-101):

a. Ibadah merupakan santapan (makanan dan pertumbuhan) rohani manusia.

Manusia memiliki ruh di mana dapat menemukan kehidupan dan kemuliaannya dalam bermunajat (dialog khusyu’) dengan Allah. (QS.

Yunus: 22)

b. Ibadah merupakan jalan kebebasan hakiki dan jalan menuju kemuliaan sesungguhnya, karena ibadah dapat memerdekakan hati dari perbudakan makhluk dan ketundukan kepada selain Allah. (QS. Az-Zumar: 29)

c. Ibadah merupakan ujian Allah yang menempa manusia untuk dapat hidup kekal di akhirat.

d. Ibadah merupakan hak Allah atas hamba-Nya. (QS. al-A’la: 1-5 dan al- Baqarah: 21-22)

e. Mengingatkan manusia tentang kehadiran Allah serta sanksi dan ganjaran dan mengingatkan mereka akan perjalanan hidupnya hingga menemui Allah Swt kelak.

f. Mengingatkan manusia akan sanksi dan ganjaran, cinta serta takut kepada Allah Swt. Manusia adalah makhluk sosial yang kerap bersifat egois, ingin menang sendiri, padahal keadilan harus ditegakkan. Maka Allah Swt menetapkan syariat dan menjelaskan sanksi dan ganjarannya.

g. Ibadah merupakan kebutuhan individu dan masyarakat. Karena tanpa mengingat hal-hal di atas, hidup manusia sebagai individu dan masyarakat akan sangat terganggu dan diliputi rasa tidak aman (Shihab, 2000, 51).

3) Akhlak

Kata akhlak secara bahasa verasal dari bahasa Arab “al-khulk” yang artinya perangai, tabiat. Kata akhlak menurut istilah, yaitu sifat atau perangai seseorang yang telah melekat dan biasanya akan tercermin dari perilaku orang tersebut. Akhlak adalah buah dari keimanan dan keistiqomahan seseorang dalam menjalankan ibadah. Menurut Ibnu Miskawaih, akhlak adalah keadaan jiwa atau sifat seseorang yang mendorong melakukan sesuatu tanpa perlu mempertimbangkannya terlebih dahulu. Maka akhlak menjadi sesuatu yang spontan karena sudah menyatu dalam diri seseorang dan menjadi kebiasaannya.

Agama tidaklah seputar ibadah mahḍah saja, melainkan mencakup akhlak.

Secara tersurat hal tersebut ditegaskan dalam al-Quran, Allah memerintahkan hamba untuk beribadah kepada-Nya, melarang menyekutukan dan dilanjutkan dengan berbuat baik kepada kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga, teman,ibnu sabil, dan hamba sahaya. Dalam surat al-Nisa disebutkan,

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-

kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.”(QS. Al-Nisa’/4: 36)

Akhlak kepada Allah dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk, kepada Tuhan sebagai khalik. Penerapan akhlak seorang hamba kepada Tuhan-Nya akan terlihat dari pengetahuan, perilaku, dan gaya hidup yang dipenuhi dengan kesadaran tauhid kepada Allah Swt.

Sedangkan akhlak kepada Rasulullah, dapat diawali dengan tahap mengenal sosok Rasulullah, mengenal kepribadian, karakter Rasulullah, sikap dan tindak tanduknya. Langkah mendasar tersebut kemudian dilanjutkan dengan langkah lainnya, di antaranya mentaatinya, mencontoh, meneladaninya dan mengikuti sunnahnya, mendahulukan cinta kepadanya dari yang lainnya, menghormati serta memuliakannya, serta membaca shalawat saat menyebut namanya.

Dalam dokumen MODUL IIP PPG edisi revisi 2023 (Halaman 52-59)

Dokumen terkait