• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tugas Aksi Nyata

Dalam dokumen MODUL IIP PPG edisi revisi 2023 (Halaman 79-95)

Kasus 2. Garis Lurus

B. Tugas Aksi Nyata

memberikan efek positif bagi Anda untuk melakukan pembelajaran yang lebih baik lagi.

TOPIK 7

PEMBELAJARAN PROFETIK 1. PENGANTAR

a. Ruang Lingkup Materi

Materi yang dikaji dalam topik ini yaitu seputar pembelajaran profetik yang dibagi dalam 5 sub bab pembahasan, yaitu:

1) Pengertian Pembelajaran Profetik 2) Metode Pembelajaran Profetik 3) Media Pembelajaran Profetik 4) Model Pembelajaran Profetik

5) Evaluasi dalam Pembelajaran Profetik b. Capaian Pembelajaran

Capaian Pembelajaran (CP) yang hendak dicapai pada topik ini yaitu:

1) Mahasiswa mampu menjelaskan secara konseptual tentang pembelajaran profetik

2) Mahasiswa mampu menganalisis berbagai metode pembelajaran profetik 3) Mahasiswa mampu mengidentifikasi dan memilih media dalam

pembelajaran profetik

4) Mahasiswa mampu menganalisis model-model pembelajaran profetik

5) Mahasiswa mampu menganalisis model evaluasi dalam pembelajaan profetik

2. MULAI DARI DIRI

Selamat datang para mahasiswa di sesi pembelajaran pembelajaran profetik. Pada sesi ini, kita akan mulai dengan refleksi diri terhadap apa yang pernah Anda alami ketika berinteraksi dengan orang lain. Jangan khawatir apa yang Anda jawab adalah jawaban yang terbaik untuk Anda. Tidak ada jawaban salah atau benar, semuanya sama saja. Pertanyaan tersebut anggaplah sebagai pengingat diri. Ketiklah jawaban/respon Anda pada kolom jawaban yang telah disediakan. Jangan lupa selalu tepat waktu dalam mengumpulkan jawaban,

sehingga Anda bisa lebih memahami materi yang akan disampaikan. Selamat merefleksi diri.

Pertanyaan 1:

Apakah Anda pernah mendapatkan pengalaman yang dapat meningkatkan penghayatan terhadap nilai-nilai Islam, pengetahuan ataupun keterampilan yang terpateri dalam jiwa, maupun pikiran sehingga mempengaruhi cara hidup Anda?

Pertanyaan 2:

Jika Anda menjawab pernah, bagaimana cara nilai-nilai itu dapat menyentuh jiwa Anda, mempengaruhi pikiran Anda atau mengubah cara hidup Anda.

Pertanyaan 3:

Coba Anda ceritakan hal-hal apa saja yang dapat membantu mempercepat masuknya nilai-nilai Islam dalam jiwa Anda, atau dapat mempermudah pemahaman Anda atupun menimbulkan rangsangan yang kuat untuk melakukan perubahan

Pertanyaan 4:

Bagimana proses internalisasi terhadap penghayatan nilai, perubahan, pemahaman maupun keterampilan hidup itu terjadi, coba Anda jelaskan tahap- tahapnya.

Pertanyaan 5:

Bagaimana cara Anda membuat keputusan yang bersifat komprehensif dengan melibatkan unsur-unsur nilai, pengetahuan dan keterampilan hidup sehingga bernilai ibadah?

3. EKSPLORASI KONSEP

a. Pengertian Pembelajaran Profetik

Pembelajaran prophetik adalah pembelajaran yang mengajarkan nilai-nilai Islam yang dapat membantu siswa dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan. Pembelajaran profetik bukan saja mengajarkan siswa tentang cara

berpikir, namun juga nilai-nilai religiusitas, seperti kejujuran, kesederhanaan, dan keikhlasan. Pembelajaran profetik digali dari jejak-jejak kehidupan para nabi dan sahabtnya terutama yang tercantum dalam Alquran, hadits Nabi Muhammad SAW dan atsar para sahabat. Pembelajaran profetik dapat diterapkan untuk berbagai disiplin ilmu dengan cara mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam pembelajarannya. Integrasi nilai-nilai Islam dalam pembelajaran yang dimaksudkan dalam hal ini adalah upaya memadukan nilai-nilai Islam dalam proses pembelajaran baik pada ranah strategi pengembangan kurikulum, metode, media, model pembelajaran maupun evaluasinya.

Nilai-nilai Islam dalam tataran kurikulum sebagai jiwa yang mewarnai cara berpikir dan bertindak. Nilai-nilai tersebut tercermin dalam tataran filosofis maupun strategis melalui pemilihan konteks dan substansi yang sesuai dengan tujuan pendidikan khususnya dalam pembangunan karakter peserta didik. Dalam tataran perangkat pembelajaran nilai-nilai tersebut terintegrasi dengan silabus, RPP (metode belajar yang dipilih, materi yang disajikan, media yang dikembangkan), Lembar Kegiatan Peserta Didik, dan strategi evaluasi yang digunakan. Materi matematika sekolah disajikan dalam bentuk komunikasi dan penalaran logis yang dapat memicu tumbuhnya proses berpikir kritis dan kreatif dalam konteks kehidupan yang dijiwai dengan nilai-nilai Islam. Perjalanan spiritual para nabi, para sahabat, tabiin, tabiit-tabiin, dan orang-orang sholih yang dapat menggugah rohaniah, kita dapat dipilih sebagai konteks untuk mengintegrasikan proses berpikir matematis.

Lebih jauh Konfusius (Ranjani, 2013: 18), mengemukakan langkah-langkah yang diperlukan bagi pengembang kurikulum untuk mendesain struktur kurikulum berbasis nilai, yaitu (1) Artikulasi pernyataan visi dan prinsip-prinsip yang mendasari kurikulum berbasis nilai, (2) Garis besar nilai-nilai karakter untuk diintegrasikan dalam kurikulum, (3) Waktu dan formula rinci tujuan pelajaran tertentu secara terrencana untuk setiap nilai sesuai dengan usia dan kematangan mental peserta didik, (4) Pemilihan kegiatan yang sesuai, baik berupa seminar, kerja lapangan, kelompok - kerja dan proyek-proyek yang diperlukan dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan, (5) Mengintegrasikan nilai dalam setiap subjek berdasarkan pada kebutuhan individu dan masyarakat, (6) Pengorganisasian unit-unit ini bermakna dengan

cara sederhana yang koheren, (7) Menguraikan rencana evaluasi untuk menilai cara di mana nilai-nilai obyektif dicapai, (8) Lingkup yang sedang berlangsung diskusi terbuka dengan stake holder dan masyarakat tentang perbaikan kurikulum berbasis nilai, (9) Memodifikasi dan memperbaiki kurikulum berdasarkan langkah di atas dan finalisasi.

Idealnya kurikulum dan perangkat pembelajaran di sekolah sesuai dengan naskah model pengemabangan kurikulum berbasis Islam. Adapun langkah- langkah untuk mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam kurikulum pendidikan profesi sebagai berikut: (1) Mengartikuliasikan penyataan visi dan misi serta menggarisbawahi prinsip-prinsip kurikulum berbasis nilai-nilai Islam. Visi dan misi harus dirumuskan secara jelas sesuai dengan cita-luhur pendidikan. Visi dan misi perlu di jabarkan ke dalam rumusan tujuan yang lebih spesifik dan juga strategi serta mekanisme pencapaiannya (2) Garis besar nilai-nilai Islam yang diintegrasikan dalam kurikulum. Nilai-nilai Islam yang akan dicapai juga harus dirumuskan secara baik sehingga benar-benar mewujudkan pencapaian visi misi yang telah ditetapkan sebelumnya. (3) Durasi dan formulasi tujuan khusus dan rencana pembelajaran untuk setiap nilai-nilai Islam sesuai dengan tingkat umur dan kedewasaan mental, (4) Pemilihan pengalaman belajar, seminar, kerja lapangan, kelompok kerja, projek yang diperlukan untuk mengukur ketercapaian pengintegrasian nilai-nilai Islam. Usahakan pengalaman belajar yang diambil benar-benar memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik untuk dapat melakukan kreasi dan berpikir tingkat tinggi melalui napas nilai- nilai Islam. (5) Integrasi nilai-nilai Islam untuk setiap peserta didik bergantung dari kebutuhan individu dan masyarakat, (6) Nilai-nilai Islam diorganisasikan dalam unit-unit sederhana yang penuh makna, misalnya mengambil konteks dari Al-Quran, hadits nabi, kisah-kisah teladan dari para sahabat maupun bentuk penugasan yang memungkinkan peserta didik mendapatkan pengalaman spiritual. (7) Garis besar rencana evaluasi untuk mengukur bagaimana cara pencapaian nilai-nilai matematis dan nilai-nilai Islam, (8) Diskusi terbuka dengan orang tua murid dan komunitas pengguna lulusan tentang pengembangan kurikulum, (9) Modifikasi dan improvisasi kurikulum berbasis langkah-langkah diatas dan finalisasi, (10) Workshop pelatihan guru dan orientasi kurikulum berbasis nilai-nilai Islam. Hal ini bertujuan agar kurikulum

dapat dipahami dengan baik oleh guru sehingga secara operasional dapat mengimplementasikannya di lapangan.

Proses pengembangan pembelajaran yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam dimulai dari tataran yang paling dasar yaitu berupa filsafat pendidikan Islam dan ideologi pendidikan Islam. Perangkat pembelajaran diturunkan dari filsafat, ideologi, paradigma, strategi/ pendekaan, model, dan sumber belajar berdasarkan pedoman kurikulum. Secara hierarkis proses pengembangan pembelajaran matematika yang terintegrasi dengan nilai-nilai islam dapat digambarkan dalam diagram berikut:

Gambar 1.Mengembangkan Proses Belajar Mengajar Berbasis Islam

Perangkat pembelajaran yang dimaksud adalah berupa Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) ataupun modul pembelajaran.

Pada penyusunan tujuan pembelajaran, nilai-nilai Islam diintegrasikan dengan komponen kondisi atau kriteria. Komponen kondisi mengarah pada pemilihan metode, media, konteks, maupun pengalaman belajar yang dipilih untuk

mengeksplorasi nilai-nilai Islam sekaligus mengartikulasikan penalaran, komunikasi atau pemecahan masalah kehidupan secara kreatif. Sedangkan komponen kriteria mengarah pada pencapaian target minimal yang ingin dicapai baik kemampuan pengetahuan maupun internalisasi nilai-nilai Islam yang diharapkannya.

b. Metode Pembelajaran Profetik

Metode pembelajaran profetik adalah suatu metode pendidikan yang selalu mengambil inspirasi dari ajaran Nabi Muhammad SAW dalam Al-Qur'an.

Metode ini bertujuan untuk membangun akhlak dan moral serta membentuk karakter peserta didik. Metode ini juga mengajarkan nilai-nilai kenabian yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam implementasinya, metode pembelajaran profetik dapat digali dari ayat-ayat Alquran yang terkait dengan kisah para Nabi dan Rasul serta para sahabat dan ulama yang tertera pada Hadits Nabi dan atsar para sahabatnya.

Berikut ini akan disajikan beberapa kasus dari ayat Alquran, Hadits Nabi SAW dan atsar para sahabat yang berkaitan dengan metode pembelajaran.

Adapun tugas Anda adalah (1) melakukan identifikasi apa nama metodenya, (2) apa nilai-nilai yang dikembangkannya, (3) apa kelebihan dan kekurangan jika diterapkan pada mata pelajaran yang anda tekuni, (4) buatlah contoh penerapan metode ini pada mata pelajaran yang anda tekuni

Kasus 1

Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir”

(QS. Al A’raf: 176).

“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman” (QS. Huud: 120)

 “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal”(QS: Yusuf: 111)

Kasus 2

Untuk mengajar cara berwudlu orang tua yang masih salah wudlunya, Hasan dan dan Husein membuat skenario lomba wudlu dan meminta orang tua

tadi sebagai yuri sedangkan Hasan dan Husein sebagai peserta lomba. Dari peragaan wudlu yang dilakukan oleh Hasan dan Husein akhirnya orang tua itu sadar dan mengatakan bahwa kalian semua wudlunya benar aku yang wudlunya masih salah, terimakasih saya jadi tahu wudlu yang benar.

Kasus 3

“Dari Jabir bin Abdullah, dia berkata: Kebiasaan Rasulullah Saw jika berkhotbah, kedua matanya memerah, suaranya lantang, bagaikan seseorang yang sedang marah. Seolah-olah beliau komandan pasukan yang memperingatkan tentara dengan mengatakan “Musuh akan menyerang kamu pada waktu pagi”, “Musuh akan menyerang kamu pada waktu sore” (HR. Muslim).

“Sesungguhnya lamanya shalat dan pendeknya khotbah seseorang, adalah pertanda kepahamannya (dalam urusan agama). Maka panjangkanlah shalat dan pendekkanlah khotbah!” (HR. Ahmad dan Muslim).

Kasus 4

Saat ummat Islam jumlahnya semakin banyak dengan posisi rumah yang agak berjauhan bagamana cara memanggil untuk shalat jamaah supaya tepat waktu. Sementara Islam tidak boleh mencontoh nasrani atau yahudi dalam panggilan shalatnya. Pada awalnya Rasulullah SAW menyetujui bunyi lonceng sebagai pertanda shalat, namun pada akhirnya beliau tidak menyukai karena lebih mirip pada orang-orang Nasrani. Dijelaskan Abdullah bin Zaid, pada suatu malam ketika ia tidur, tiba-tiba bermimpi bertemu dengan seorang laki-laki yang menggunakan pakaian hijau. Laki- laki itu mengelilinginya dengan membawa lonceng di tangannya. Abdullah bin Zaid lalu menegurnya,"Hai hamba Allah, apakah lonceng ini akan kamu jual?" tanyanya. "Akan kamu pergunakan untuk apa lonceng ini," jawab laki-laki itu. Akan aku pakai untuk memanggil orang untuk shalat," ujar Abdullah. Laki-laki itu terdiam sesaat lalu memberikan saran kepada Abdullah."Maukah engkau aku tunjukkan cara yang lebih baik dari itu?"

tanya laki-laki itu. "Baiklah, tunjukkan kepadaku," jawab Abdullah. Laki- laki itu lantas mengucap azan yang diawali dengan Allahu Akbar dan diakhiri denganLaa Ilaaha Illallah.

Kasus 5

Dari Abu Dzar r.a., sesungguhnya Rasulullah SAW pernah keluar dari rumahnya ketika musim dingin dan daun-daun berguguran. Beliau mengambil setangkai rantin pohon, sehingga daun-daunnya mulai berguguran. Beliau bersabda, “Wahai Abu Dzar!” Abu Dzar menyahut,

“Labbaik ya Rasulullah!” Sabda beliau, “Sesungguhnya seorang muslim yang menunaikan shalatnya semata-mata karena Allah, maka dosa-dosanya akan berguguran darinya sebagaimana daun-daun ini

gugur dari rantingnya.” (Ahmad At-Targhib).

Kasus 6

Dan langit bagaimana ia ditinggikan? (18). Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? (19).

Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan (20). (QS: Al-Ghasiyah : 17-20)

Kasus 7

“Dan (juga) pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan?

(Q.S. Adz-Dzariyat: 21)

Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?(Qs Ar-Rahman 42)

Kasus 8

Katakanlah: "Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)". (Qs Arrum 42)

c. Media Pembelajaran Profetik

Media belajar adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi dalam proses belajar mengajar sehingga dapat merangsang perhatian dan minat siswa untuk belajar. Implementasi media belajar dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar. Pada pemilihan media nilai-nilai Islam dapat diintegrasikan dari pemilihan konteks, gambar, nama, cerita, dan lain sebagainya yang dapat membantu peserta didik mengeksplorasi proses berpikir dan mengekspresikan perasaannya.

Berikut ini disajikan beberapa kasus dari ayat Alquran, Hadits Nabi SAW dan atsar para sahabat yang erkait dengan media pembelajaran. Tugas anda adalah (1) menjelaskan efektifitas penggunaan media tersebut dan (2) mengeksplorasi media yang cocok untuk materi plajaran yang anda tekuni.

Kasus 1

Dari Abu Dzar r.a., sesungguhnya Rasulullah SAW pernah keluar dari rumahnya ketika musim dingin dan daun-daun berguguran. Beliau mengambil setangkai rantin pohon, sehingga daun-daunnya mulai berguguran. Beliau bersabda, “Wahai Abu Dzar!” Abu Dzar menyahut,

“Labbaik ya Rasulullah!” Sabda beliau, “Sesungguhnya seorang muslim yang menunaikan shalatnya semata-mata karena Allah, maka dosa- dosanya akan berguguran darinya sebagaimana daun-daun ini gugur dari rantingnya.” (Ahmad At-Targhib).

Kasus 2

“Nabi S.a.w membuat gambar persegi empat, lalu menggambar garis panjang di tengah persegi empat tadi dan keluar melewati batas persegi itu. Kemudian beliau juga membuat garis-garis kecil di dalam persegi tadi, di sampingnya: Dan beliau bersabda : “Ini adalah manusia, dan (persegi empat) ini adalah ajal yang mengelilinginya, dan garis (panjang) yang keluar ini, adalah cita-citanya. Dan garis-garis kecil ini adalah penghalang-penghalangnya. Jika tidak (terjebak) dengan (garis) yang ini, maka kena (garis) yang ini. Jika tidak kena (garis) yang itu, maka kena (garis) yang setelahnya. Jika tidak mengenai semua (penghalang) tadi, maka dia pasti tertimpa ketuarentaan.”

Kasus 3

Umar bin khatab Ra, untuk memberikan peringatan kepada Amr bin Ash Gubernur Mesir yang menggusur rumah seorang Yahudi karena akan dijadikan lahan pembangunan masjid. Umar membuat pesan simbolik berupa garis lurus pada sepatah tulang unta dan diberikan kepada Amr bin Ash sebagai Gubernur Mesir. Dengan tulang dan garis lurus itu seakan-akan Umar memberikan falsafah hidup bahwa hidup ini hanya sementara yang akan berakhir menjadi sepotong tulang yang tidak berguna maka berlaku luruslah seperti garis ini apabila tidak mampu berbuat lurus maka pedang ini yang akan meluruskan.

d. Model Pembelajaran Profetik

Model pembelajaran profetik adalah suatu model pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai kenabian dalam Al-Qur'an dan hadis dalam proses pembelajaran. Model ini bertujuan untuk membentuk karakter peserta didik yang berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur. Implementasi model pembelajaran profetik dapat dilakukan melalui beberapa metode, seperti pembelajaran pembiasaan dan kolektif, misi penanaman dan nilai-nilai kenabian kepada siswa dilakukan dalam materi, metode, dan evaluasi pembelajaran. Dalam model pembelajaran profetik, guru berperan sebagai teladan bagi peserta didik dalam mengamalkan nilai-nilai kenabian. Dalam pelaksanaan setiap model diperlukan metode kreatif yang melibatkan peran serta siswa. Marsigit (2014: 69) mengemukakan perlunya tugas kelompok kooperatif, kerja proyek dan pemecahan masalah untuk menumbuhkan sikap percaya diri, keterlibatan dan penguasaan;

proyek otonom, eksplorasi, masalah dan pekerjaan investigasi, untuk menumbuhkan kreativitas siswa, pengarahan diri sendiri dan keterlibatan melalui relevansi pribadi; mengajukan pertanyaan, pedagogi dan model penilaian yang digunakan, berguna untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis. Berikut ini disajikan beberapa ayat atau hadits Nabi SAW yang terkait dengan model model pembelajaran. Tugas anda adalah susunlah sintaks yang sesuai dengan rangkaian aktivitas yang bersesuaian.

Kasus 1

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati". Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): "Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera". Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS:. Al- Baqarah 260)

Kasus 2

Nabi Musa As bertanya pada Allah SWT, “Ya Allah kenapa nanti di akhirat tidak semua manusia engkau masukkan ke dalam surgaMu, kenapa hanya orang yang beriman saja? Kenapa orang yang tidak beriman tidak Engkau masukkan kedalam surga juga? Padahal Engkaulah yang menciptakan seluruh manusia, Engkaulah yang mengurus seluruh manusia, Engkaulah yang memberi rizki kepada semua manusia baik yang beriman maupun yang tidak beriman padaMu“. Allah tidak menjawab pertanyaan nabi Musa As melainkan memerintahkannya untuk menanam padi. Jika padi sudah dipanen dan menjadi beras maka ia disuruh untuk kembali lagi menghadap Allah saw. Nabi Musa pun melaksanakan perintah Allah saw, ia menanam padi, mengurusnya, mengairinya, memberi pupuk. Setelah tua, padi tersebut ia panen, kemudian ia mulai memproses sedemikian rupa sehingga ia mendapatkan beras kemudian menyimpan beras tersebut. Menghadaplah Nabi Musa kepada Allah SWT untuk melapor bahwa beliau telah selesai melaksanakan perintah. Berikut ini kira-kira percakapan yang terjadi antara Allah SWT dan Nabi Musa.

Musa : Ya Allah aku telah selesai melaksanakan perintahMu.

Allah : engkau sudah mendapatkan berasnya?

Musa : Sudah

Allah : hanya beras saja yang kau simpan, bagaimana dengan bagian lain dari tanaman padi, batang padi yang kering, daun padi dan sekam, hendak kau kemanakan?

Musa : aku membakarnya karena bagian yang lain tidak berguna

Allah : kenapa kau membakarnya? Padahal engkau yang menanam padi tersebut, engkau yang memeliharanya, setelah dipanen kenapa engkau hanya menyimpan berasnya saja, sementara bagian lain dari tanaman padi tidak kau simpan?

Baru disinilah Nabi Musa As menyadari bahwa pertanyaannya selama ini telah terjawab. Allah menciptakan manusia di muka bumi seperti manusia menanam padi di sawah dan penciptaan manusia dan seluruh alam merupakan kehendaknya. Ia memberi rejeki kepada seluruh manusia dan merawatnya seluruh manusia. Namun hanya manusia yang taat dan beriman kepada Allah saja yang akan Allah masukan ke dalam surga, sedangkan manusia yang mengingkari Allah akan dibakar di neraka. Laksana Musa yang menanam padi, ketika panen tiba maka hanya bagian yang berguna saja, yakni beras yang disimpan, sementara bagian yang lain dibakarnya karena tidak berguna.

e.Evaluasi dalam Pembelajaran Profetik

Dalam pembelajaran profetik, evaluasi merupakan suatu proses yang dilakukan untuk mengevaluasi hasil pembelajaran peserta didik dalam mengaplikasikan nilai-nilai kenabian yang telah dipelajari. Evaluasi dalam pembelajaran profetik tidak hanya dilakukan oleh pendidik, tetapi juga melibatkan seluruh tenaga kependidikan dan orang tua siswa. Evaluasi dalam pembelajaran profetik dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti tes tulis, tes lisan, tugas, dan observasi. Evaluasi juga dapat dilakukan melalui pengamatan terhadap perubahan perilaku peserta didik dalam kehidupan sehari- hari setelah mengikuti pembelajaran. Berikut ini disajikan beberapa kasus evaluasi yang dikutip dari Alquran, dan Hadits Nabi SAW. Tugas anda adalah menjelaskan secara konsepsional teoritis dan praktisnya.

Kasus 1

Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata: Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba- tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata:“Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” lelaki itu berkata,”Engkau benar,” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya. Kemudian ia bertanya lagi:“Beritahukan kepadaku tentang Iman”.

Nabi menjawab,”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya;

kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.” Dia bertanya lagi:

“Beritahukan kepadaku tentang ihsan”.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.” Lelaki itu berkata lagi :

“Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?”

Nabi menjawab,”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.”

Dia pun bertanya lagi : “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!”

Nabi menjawab,”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika

Dalam dokumen MODUL IIP PPG edisi revisi 2023 (Halaman 79-95)

Dokumen terkait