• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISLAM DAN ILMU SOSIAL BUDAYA

Dalam dokumen MODUL IIP PPG edisi revisi 2023 (Halaman 73-79)

Kasus 2. Garis Lurus

B. ISLAM DAN ILMU SOSIAL BUDAYA

Menurut perspektif John Haught, dalam memandang hubungan agama dan sains terdapat empat pendekatan, yaitu: konflik, kontras, kontak dan konfirmasi.

Dua yang pertama bersifat dikotomik dan dua yang lainnya bersifat non-dikotomik (Mu’tasim 2007, 6). Sedangkan dalam pandangan Ian G. Barbour hubungan antara ilmu dan agama membentuk 4 pola, yaitu konflik (bertentangan), independensi (masing-masing berdiri sendiri-sendiri), dialog (berkomunikasi) atau integrasi (menyatu dan bersinergi) (Babour 2002, 47). Konflik adalah hubungan yang bertelingkah (conflicting) bahkan bisa bermusuhan (hostile). Independensi berarti

ilmu dan agama berjalan sendiri-sendiri tanpa saling memperdulikan satu sama lain atau pun saling mengganggu. Dialog ialah hubungan yang saling terbuka dan saling menghormati. Integrasi ialah hubungan yang tertumpu pada keyakinan adanya kesamaan dan kesatuan pada ranah kawasan telaah dan tujuan dari keduanya.

Pada era modern ini, muncul para sarjana dari kalangan muslim yang terus memperjuangkan penyatuan antara ilmu dan Islam, di antaranya adalah Syed Muhammad Naquib al-Attas yang menyampaikan konsep ilmu dalam beberapa karyanya antara lain Islam and the Philosophy of Science, Islam and Secularism, The Concept of Education in Islam, Ismail Raji al-Faruqi Faruqi menawarkan penyusunan dan pembangunan ulang sains-sains sastra, sains-sains sosial, dan sains-sain alam dengan memberikan landasan dan konsistensi Islam (Soleh, 2012, 271-288), sehingga disiplin-displin tersebut memunculkan relevansi Islam (Barbour, 2002, xi-xii), Seyyed Hossein Nasr yang menawarkan konsep penggabungan (unity) berbagai sumber pengetahuan (Barbour, 2002, 189-190), Ziauddin Sardar, dan Amin Abdullah dengan paradigma keilmuan integrasi- interkoneksi. Meskipun saat ini Nidhal Guessoum menilai bahwa para pejuang tersebut mengalami jalan buntu, sebagaimana yang dialami oleh Nasr dan al-Faruqi, serta Sardar yang tenggelam dalam perkembangan sains itu sendiri dan saat ini masih terdapat topik-topik penting yang belum tersentuh oleh para pemikir muslim tersebut seperti topik tentang mukjizat, tindakan ilahi, sifat dasar waktu, realitas penciptaan, dan sebagainya (Guessoum 2011, 543).

Dalam rangka menghadirkan ilmu pengetahuan secara komprehensif, relasi agama dan science harus terus dibingkai dalam bentuk “integrasi” yang memungkinkan terjadinya saling mengisi satu sama lain dalam mengarahkan manusia ke arah yang lebih baik. Baik dalam ranah pendidikan (Zakiyah &

Yusriyah, 2020), keagamaan, hukum, dan ranah lainnya. Contoh nyata yang pernah terjadi dalam ranah hukum adalah keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) tentang UU Perkawinan 1974 Pasal 43 ayat 1 pada tanggl 17 Februari 2012 tentang status anak yang di luar perkawinan resmi (Istianah & Rahmatullah, 2021). Ia dapat memiliki hubungan perdata dengan seseorang yang dianggap sebagai ayahnya setelah dibuktikan melalui ilmu pengetahuan dan teknologi atau lainnya yang dapat menunjukkan adanya hubungan dasar antara keduanya. Berdasarkan ketetapan

tersebut maka MK menetapkan bahwa M. Iqbal Ramadlan adalah anak hasil pernikahan sirri almarhum Moerdiono dengan Machica Mochtar berdasarkan pembuktian DNA dan anak tersebut mendapatkan hak keperdataan (Amri, 2012).

Sedangkan semula, berdasarkan tidak adanya catatan pernikahan keduanya baik di Kantor Urusan Agama mau pun Kantor Catatan Sipil, maka Pengadilan Agama Jakarta memutuskan bahwa anak tersebut tidak dapat dinisbahkan kepada ayah biologisnya (almarhum Moerdiono).

Pada era saat ini, ilmu biologi dan kedokteran telah mampu membuktikan melalui tes DNA di mana pada era pra modern hal tersebut belum dapat dilakukan.

Maka ketika para hakim agama bersikukuh kepada kesepakatan para ahli agama (ulama fikih) berdasarkan naskah kitab fikih abad tengah dan mengabaikan bukti ilmiah yang disumbangkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi bahkan tidak memberikan ruang dialog apalagi memanfaatkan hasil temuan ilmu pengetahuan tersebut (Moosa, 2006), sangat tampaklah bahwa paradigma para hakim agama menggunakan konflik dan independensi (Abdullah, 2015). Contoh lainnya yaitu pemikiran tentang konsep akhlak (agama) yang memasuki ranah kesehatan dan kedokteran, yaitu meliputi pengobatan ruh maupun pengobatan jasmani, agama berperan (ḥaḍārah al-naṣṣ) dan berada pada posisi mendasar dari seorang dokter.

Menurut al-Razi, dokter berperan besar dan berada pada posisi sentral dalam proses pengobatan, karena tidak hanya wawasan dokter yang dapat menyelesaikan penyakit pasien, tapi jauh sebelum itu adalah akhlak dokter dan keyakinannya kepada Ilahi. Sehingga dalam hal ini, al-Razi tidak saja melibatkanḥaḍārah al-‘ilm (peradaban ilmu) dan ḥaḍārah al-falsafah (peradaban Filsafat) sebagai kerangka pemikiran, melainkan juga mengintegrasikannya dengan ḥaḍārah al-naṣṣ (peradaban teks agama) (Istianah, 2020).

Sedangkan beberapa contoh integrasi Islam dengan ilmu sosial budaya di antaranya yaitu: 1) dalam ilmu sosiologi, konsep-konsep seperti keadilan sosial, persaudaraan, dan kesetaraan dalam Islam dapat diintegrasikan dalam analisis mengenai ketidaksetaraan sosial, konflik sosial, dan dinamika Masyarakat; 2) dalam ekonomi Islam mencoba menggabungkan prinsip-prinsip ekonomi dalam Islam dengan konsep-konsep ekonomi modern. Ini mencakup aspek-aspek seperti sistem keuangan syariah, distribusi kekayaan yang adil, dan peran filantropi dalam

pengentasan kemiskinan; 3) bidang politik, dalam studi politik, integrasi Islam dapat merujuk pada analisis peran Islam dalam politik, penerapan prinsip-prinsip syariah dalam pemerintahan, dan pengaruh etika Islam dalam proses pengambilan keputusan politik; dan 4) dalam bidang psikologi, mencoba untuk memahami perilaku manusia dan perkembangan psikologis dengan mempertimbangkan nilai- nilai dan ajaran Islam. Hal ini dapat digunakan untuk mengembangkan pemahaman yang lebih dalam tentang aspek-aspek psikologis dalam masyarakat Muslim. Hal tersebut juga dapat dilakukan dalam ranah pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran, budaya madrasah dan pembiasaan secara terstruktur dan terjadwal kepada peserta didik (Wibowo, 2021).

KESIMPULAN

Integrasi Islam dan pengetahuan adalah upaya untuk mengintegrasikan pemahaman atau nilai-nilai Islam dengan ilmu pengetahuan. Integrasi ini bertujuan untuk mengatasi dikotomisasi antara ilmu atau nilai Islam dan ilmu pengetahuan, sehingga keduanya dapat saling melengkapi. Integrasi ini juga mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat, serta bahwa semua pengetahuan dan ilmu pengetahuan berasal dari Allah dan harus digunakan untuk kebaikan dunia dan akhirat.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, A. (2015). Agama, Ilmu Dan Budaya: Membuka Ruang Integrasi Islam dan Ilmu Pengetahuan. Purwokerto.

Amri, A. B. (2012, February 18). Pakar: Putusan MK Terkait Anak di Luar Nikah Dekati Aturan KUH Perdata. Retrieved from Dakwatuna website:

https://www.dakwatuna.com/2012/02/18/18766/pakar-putusan-mk-terkait- anak-di-luar-nikah-dekati-aturan-kuh-perdata/#axzz6POrJRofy

Barbour, I. G. (2002). Juru Bicara Tuhan Antara Sains dan Agama (2nd ed.).

Bandung: Mizan.

Guessoum, N. (2011).Islam dan Sains Modern(Maufur, Ed.). Bandung: Mizan.

Istianah. (2020). Morals of Doctor According to Abū Bakral-Rāzī’s View. Al- Irsyad: Journal of Islamic and Contemporary Issues, 5(1), 244–252.

Retrieved from http://al-

irsyad.kuis.edu.my/index.php/alirsyad/article/view/53

Istianah, I., & Rahmatullah, L. (2021). Abu Bakr Al-Razi di Antara Agama dan Sains.Islamadina: Jurnal Pemikiran Islam,22(2), 209–224.

Kusno & Marsigit (2018). Integrasi nilai-nilai spiritual dalam materi relasi. Journal of

Mathematics Education, 4(1), pp. 46-62.

https://jurnalnasional.ump.ac.id/index.php/alphamath/article/view/7354/3151 Kusno (2020). Makalah dipresentasikan dalam Seminar Nasional Matematika dan

Pendidikan Matematika pada tanggal 29 Agustus 2020 di Prodi Pendidikan

Matematika FKIP UMP.

https://drive.google.com/file/d/1rzjtffIX8vCNW_RPL0WV03XwsCLBtAZz/vie w?usp=sharing

Kusno & Ahmad (2021). Matematisasi islam sebuah pembelajaran integrative dengan pendekatan steam. Penerbit RIZQUNA. Jawa Tengah.

https://drive.google.com/file/d/1QmEhiQ5ITJlgxlLdsUpdf3GhPm_wGKUX/vie w?usp=sharing

Kusno (2022). Islamic values-based mathematics learning for secondary schools Indonesian in islamic boarding schools. Journal of Ethnomathematics Volume 1,

No. 1, pp. 15-28,

https://drive.google.com/file/d/1WDKwO4JpD6hQdt_fveGTCMKUDMnbRZQl /view

Moosa, E. (2006). Perjumpaan Sains dan Yurisprudensi: Pelbagai Pandangan tentang Tubuh dalam Etika Islam Modern. In M. I. dan S. N. H. Ted Petters (Ed.), Tuhan, Alam, Manusia: Perspektif Sains dan Agama.

Bandung: PT. Mizan.

Mu’tasim, R. (2007). Keilmuan Integrasi dan Interkoneksi Bidang Agama dan Kealaman. Yogyakarta: Lembaga Penelitian UIN Suka.

Soleh, K. (2012). Wacana Baru Filsafat Islam (2nd ed.; Kamdani, Ed.).

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Wibowo, T. (2021). Konseptualisasi Integrasi Psikologi dan Islam (Psikologi Islam) dalam Pembelajaran Di Madrasah Ibtidaiyah. Jurnal Pendidikan Dasar Dan Keguruan,6(1), 1–13. https://doi.org/10.47435/jpdk.v6i1.582 Zakiyah, Z., & Yusriyah, Y. (2020). Models of Children Character Building at

Aisyiyah Bustanul Athfal Kindergarten. Islam in World Perspectives Symposium,1(1), 197–204. Yogyakarta: Universitas Ahmad Dahlan.

4. RUANG KOLABORASI

Pada ruang kolaborasi kali ini, Anda diminta untuk berdiskusi terlebih dahulu sebelum memasuki pemaparan dan elaborasi konsep dengan dosen Anda. Silahkan berdiskusi selama 40 menit dengan rekan kelompok Anda.

Adapun panduan dalam melakukan diskusi kelompok adalah sebagai berikut:

a. Silahkan membuat 6 kelompok dalam satu kelas. (dalam satu kelompok

terdiri dari 4-5 orang). Anggota kelompok dosen yang akan memilih.

b. Tiap kelompok akan berdiskusi dengan topik yang berbeda-beda. (Satu kelompok satu tema, silahkan bebas pilih tema mana yang asalkan jangan ada yang sama)

c. Waktu yang diperlukan untuk berdiskusi adalah 40 menit.

d. Hasil dari diskusi kelompok, selanjutnya dibuatkan bahan presentasi di kelas, silahkan sekreatif mungkin.

5. DEMONSTRASI KONTEKSTUAL

Setelah menyelesaikan diskusi kelompok, silakan anda mempresentasikan infografis yang sebelumnya sudah anda buat. Adapun tata cara yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:

a. Masing-masing kelompok mempresentasikan infografis yang sudah diselesaikan sebelumnya.

b. Masing-masing kelompok wajib memberikan satu pertanyaan/pernyataan/saran/kritik/sanggahan/lainnya, kepada kelompok lain melalui forum diskusi.

c. Ketua kelompok membagi tugas kepada seluruh anggota kelompok (termasuk dirinya sendiri) secara merata, untuk memberikan tanggapan di forum diskusi.

d. Seluruh mahasiswa menyimak tanggapan kelompok dan mengomunikasikan kembali secara kontinyu terhadap pernyataan, saran, kritik, pertanyaan, sanggahan, dan lain-lain kelompok lainnya.

e. Hasilnya silahkandiunggah dalam LMSsebagai tugas kelompok.

6. AKSI NYATA

Anda telah mempelajari teori tentang bagaimana integrasi Islam dan pengetahuan baik pada ranah integrasi Islam dan sains matematika maupun sosial budaya. Anda boleh merefleksikan tentang apa yang sudah Anda pelajari dan akan Anda lakukan. Semoga pembelajaran tentang topik ini banyak

memberikan efek positif bagi Anda untuk melakukan pembelajaran yang lebih baik lagi.

Dalam dokumen MODUL IIP PPG edisi revisi 2023 (Halaman 73-79)

Dokumen terkait