BAB III METODOLOGI KASUS
3.8 Etika studi kasus
Etika studi kasus merupakan suatu masalah yang penting dalam melakukan sebuah peneltian, mengingat dalam penelitian kepeawatan berhubungan langsung dengan manusia, maka dari segi etika penelitian harus di perhatikan masalah etika antara lain:
3.8.1. Informed Consent (Persetujuan Menjadi Pasien)
Saat pasien masuk kedalam ruang rawat inap dilkukan pemberian informed consent pada keluarga klien dan keluarga klien bersedia menandatangani informed consent.
3.8.2. Anonymity (Tanpa Nama)
Nama kliern disamarkan dengan inisial dan nomer rekam medis juga sudah diganti dengan mengganti nomimal beberapa digit terakhir dengan inisial xxxx untuk menjaga kerahasiaan klien.
3.8.3. Confidentiality (Kerahasiaan)
Informasi yang diberikan oleh klien dan juga keluarga klien bersifat pribadi. Disini perawat memiliki prinsip bahwa harus merahasiakan semua informasi yang di dapat tentang klien dan tidak boleh menyebarluaskan informasi tersebut (Nursalam, 2016)
56 BAB IV
HASIL STUDI KASUS DAN PEMBAHASAN
4.1 HASIL STUDI KASUS
Studi kasus ini dipilih 1 orang sebagai subjek studi kasus dengan kriteri yang telah ditetapkan yakni pasien diare yang mempunyai masalah pemenuhan kebutuhan nutrisi dan cairan. Subyek studi kasus laki – laki bernama Tn.S berusia 79 tahun, beragama islam, pendidikan terakhir SD, alamat andong boyolali, pekerjaan pegawai swasta, nomer registrasi 2102xxxx dengan diagnosa medis vomitus frequent keluhan utama pasien adalah buang air besar 10 kali dalam sehari diseratai mual dan muntah. Pasien dibawa ke IGD RSUD Simo pada tanggal 21 februari 2021.
Pasien mengatakan pernah dirawat di RS Waras wiris dengan keluhan yang sama. Kemudian dari IGD pasien dipindah ke ruang Cendrawasih, pengkajian yang dilakukan diruang cendrawasih didapatkan hasil kesadaran pasien composmentis, tekanan darah 126/79 mmHg, nadi 107x/menit dengan tidak teratur dan lemah, RR 26x/menit, suhu 37oC, hasil dari balance cairan pasien pada hari selasa, 23 februari 2021 didapatkan hasil -816 cc. Rabu, 24 februari 2021 mendapatkan balance cairan +84 cc. Kamis, 25 februari 2021 mendapatkan balance cairan +534 cc. Konsep diri pada pasien: citra diri pasien, pasien mengatakan lemas dengan kondisi saat ini.
Dalam hal ini dilakukan pengkajian dengan 11 pola gordon : 1) pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan: pasien mengatakan bahwa sehat itu penting dan saat sakit ini pasien selalu menjaga kesehatan dengan cara
mewajibkan untuk tidak terlambat makan dan tidak makan sembarangan.
2) pola nutrisi/metabolik : sebelum sakit pasien makan 3x sehari dengan porsi 1 habis, selama sakit pasien hanya makan 1x sehari dengan 1 porsi tidak habis. pola minum frekuensi sebelum sakit sehari 4-5 gelas perhari, selama sakit hanya 1 gelas perhari. 3) pola eliminasi : sebelum sakit BAB sehari 1x dalam sehari dengan konsistensi lunak berbentuk tanpa keluhan, selama sakit sehari 10 kali dalam sehari dengan konsistensi lunak bahkan cair. 4) pola aktivitas dan latihan : sebelum sakit semuanya mandiri sedangkan selama sakit dibantu dengan orang lain. 5) pola istirahat dan tidur : sebelum sakit jumlah tidur siang tidak ada tidur malam 6 - 7 jam dan perasaan setelah tidur nyaman sedangkan selama sakit, jam tidur siang hari 1-3 jam untuk tidur malam 4 – 6 jam dengan perasaan kuang nyaman karena sering terbangun dan tidak familiar dengan lingkungan tempat tidur.
6) pola kognitif dan perseptual : sebelum sakit dan selama sakit pasien tidak mempunyai gangguan kognitif perseptual. 7) pola persepsi konsep diri : identitas diri, pasien mengatakan dapat mengenali dirinya sebagai seorang ayah dari 4 orang anak dan seorang kakek dari cucunya. Gambaran diri/citra tubuh : pasien untuk memenuhi kebutuhan aktivitasnya dibantu oleh anaknya.
Ideal diri : pasien mengatakan ingin segera sembuh dan dapat pulang ke rumah. Harga diri : pasien mengatakan merasa malu dengan keadaan ini karena tidak dapat membantu kebutuhan keluarga. Peran diri : pasien mengatakan semoga lekas sembuh dan dapat beraktifitas lagi. 8) pola hubungan peran : sebelum sakit dan selama sakit tidak memiliki gangguan
hubungan peran. 9) pola seksualitas reproduksi : pasien mengatakan hubungan degan istrinya masih harmonis 10) pola manajemen dan mekanisme koping : sebelum sakit dan selama sakit tidak memiliki gangguan manajemen dan mekanisme koping. 11) pola nilai dan keyakinan : selama sakit pasien tetap menjalankan ibadah walaupun ditempat tidur.
Pemeriksaan Head to toe 1) keadaaan umum : kesadaran composmentis.
Tanda-tanda vital, tekanan darah : 126/79 mmHg, nadi frekuensi : 107x/menit, irama teratur, kekuatan lemah. Pernapasan frekuensi : 26x/menit irama : teratur, suhu : 37o C. Pengkajian nyeri: P: pasien mengatakan nyeri ringan karena timbul ketika ditekan, Q: pasien mengatakan seperti ditusuk- tusuk, R: diarea abdomen kiri, S: skala 3, T: nyerinya hilang timbul 2) kepala : bentuk kepala simetris, kulit kepala bersih tidak ada luka, muka simetris, mata simetris, konjungtiva tidak anemis, hidung simetris tidak ada cuping hidung terpasang oksigen nasal kanul 3 ltm, mukosa bibir kering, leher tidak ada pembesaran kelenjar tiroid. Pemeriksaan Head to toe 3) dada : paru – paru inspeksi : bentuk dada simetris. Palpasi : vocal fremitus. Perkusi : terdengar suara sonor. Auskultasi : vasikuler. Jantung : inspeksi : tidak tampak ictus cordis. Palpasi : IC teraba di ICS 5. Perkusi : suara pekak.
Auskultasi : bunyi jantung I dan II murni.
Pemeriksaan Head to toe 4) abdomen : inspeksi : abdomen datar tidak ada luka. Auskultasi: bising usus meningkat 30x/menit. Perkusi : timpani. Palpasi:
terdapat nyeri tekan. 5) pemeriksaan genetalia: terpasang kateter. 6) pemeriksaan rektum: sedikit ada luka karena terlalu serinngnya defekasi 7)
pemeriksaan kulit: kulit tampak kering, tidak elastis, turgor kulit menurun lebih dari 2 detik. 8) Pemeriksaan ekstremitas atas : kekuatan otot 5/5 ROM ka/ki aktif dan normal, tidak ada perubahan bentuk tulang, perabaan akral hangat, piting edema tidak ada. Ekstremitas bawah kekuatan otot 5/5, tidak ada perubahan bentuk tulang, perabaan akral hangat dan tidak terdapat piting edema. 9) Pemeriksaan penunjang laboratorium darah mendapatkan hasil abnormal : hemoglobin 11.8 g/dl, eritrosit 3.85 106/uL, hematokrit 51.5 %, monosit 11.9 %, SGOT 11.2 u/L, SGPT 62.6 u/L, creatinin 1.48 mg/dl.
4.2 GAMBARAN LOKASI PENGAMBILAN DATA
Studi kasus ini telah dilakukan di RSUD Simo Boyolali yang terletak yang terletak di jalan kebon ijo Ds.Simo Kec.Simo Boyolali Jawa Tengah. Fasilitas yang tersedia di RSUD Simo Boyolali adalah rumah sakit tipe D, yang memiliki fasilitas rawat inap, rawat jalan, instalasi gawat darurat, ruang rehabilitasi medik, kamar oprasi, ruang HCU, sanitasi lingkungan, laboratorium, laboratorium gizi, dan radiologi.
Pengelolaan kasus ini penulis mengambil data di ruang cendrawasih RSUD Simo Boyolali selama 2 minggu terhitung dari tanggal 15 februari – 27 februari 2021. Ruang cendrawasih diperuntukan untuk bangsal penyakit dalam yang mana terdapat kasus diare.
4.3 PEMAPARAN FOKUS STUDI 4.3.1 PENGKAJIAN
Setelah dilakukan pengkajian pada pasien diare, penulis telah melakukan pengkajian dan didapatkan hasil data subyektif yaitu
pasien mengatakan pasien mengalami BAB 10x/hari, mual dan muntah ketika makan, pasien mengatakan lemas, terdapat nyeri tekan pada area abdomen kiri, keluarga mengatakan pasien minumnya sedikit dan tidak mau makan. Kemudian dari data obyektifnya pasien nadi 107x/menit, tekanan darah 126/79 mmHg, turgor kulit lebih dari 2 detik, membran mukosa kering, volume urine 500 ml/24 jam, hematokrit meningkat, pasien tampak gelisah, pasien tampak sulit tidur tampak lemas dan lesu.
4.3.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN
Berdasarakan pengkajian yang dilakukan pada pasien diare, penulis melakukan analisa data dan penegakan diagnosa. Didapatkan hasil data subyektif : pasien mengatakan muntah ketika makan dan minum, pasien mengatakan lemas. Data obyektif : nadi 107x/ menit, nadi teraba lemah, tekanan darah 126/79 mmHg, turgor kulit menurun, membran mukosa kering, volume urine menurun 500ml/ 24 jam, hematokrit meningkat 51.5 %. Berdasarkan hasil analisa data dapat ditegakkan diagnosa hivopolemia berhubungan dengan kehilangan cairan aktif dibuktikan dengan frekuensi nadi meningkat, nadi teraba lemah, tekanan darah menurun, tekanan nadi menyempit, turgor kulit menurun, membran mukosa kering, volume urin menurun, hematokrit meningkat (D.0023). Adapun diagnosa lainnya antara alain nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologi dan gangguan pola tidur berhubungan dengan tidak familiar dengan peralatan tidur.
4.3.3 INTERVENSI KEPERAWATAN
Setelah dilakukan tindakan keperrawatan selama 3x24 jam pasien dengan keseimbangan cairan dapat meningkat dengan kriteria hasil:
keseimbangan cairan (L.05020) yaitu dehidrasi menurun, tekanan darah membaik 120/80 mmHg, membran mukosa membaik, mata cekung membaik, turgor kulit membaik. Intervensi keperawatan yang dilakukan adalah standar intervensi keperawatan indonesia (SIKI) meliputi terapi manajemen hipovolemi (I.03116) seperti:
a. Observasi
1) Periksa tanda dan gejala hipovolemi 2) Monitor intake output cairan
b. Terapeutik
1) Hitung kebutuan cairan
2) Berikan asupan cairan oral (ORS dan madu) c. Edukasi
1) Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral d. Kolaborasi
1) Kolaborasi pemberian cairan IV isotonis 2) Kolaborasi pemberian cairan IV hipotonis 4.3.4 IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Setelah menyusun intervensi keperawatan mengenai diagnosa hipovolemi, dilakukan implementasi hari pertama pada tanggal 23 februari 2021 mulai pukul 10.00 WIB yaitu memeriksa tanda dan
gejala hipovolemi, menghitung kebutuhan cairan, memberikan terapi oral rehydration salt dan madu, dan memberikan kolaborasi cairan iv isotonis. Mengkaji kembali respons pasien terhadap pemberian ORS dan madu yang telah diberikan kepada pasien. Terapi ORS dan madu ini diberikan setiap kali pasien mengalami BAB, untuk takaran pemberian terapi ORS dan madu ini sebanyak 200 ml untuk larutan garam untuk dpenganti natrium serta kalium yang hilang dan ditambahkan 5 ml madu untuk pengganti glukosa yang hilang, pada hari pertama ini pasien mengalami diare sebanyak 10 kali untuk pemberian ORS dan madu sebanyak 5 gelas dalam 1 shift dipagi hari untuk siang dan malam dilanjutkan oleh keluarga. Penulis melakukan pengkajian fisik awal pada pasien memeriksa tingkat dehidrasi dan didapatkan turgor kulit kurang dari 2 detik, tekanan darah rendah 126/79 mmHg, mukosa bibir kering, mata cekung. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami dehidrasi ringan – sedang.
Implementasi hari kedua pada tanggal 24 februari 2021 pukul 10.00 WIB yaitu memonitor intake output cairan, memberikan cairan oral ( Oral Rehydration Salt dan madu) untuk takaran pemberian terapi ORS dan madu ini sebanyak 200 ml untuk larutan garam untuk penganti natrium serta kalium yang hilang dan ditambahkan 5 ml madu untuk pengganti glukosa yang hilang, pada hari kedua pasien mengalami diare sebanyak 6 kali dalam sehari untuk terapi ORS dan
madu diberikan sebanyak 3 gelas saat shift pagi dan 3 gelas ketika siang-sore dilanjutkan oleh keluarga, mengkaji kembali respon pasien terhadap efek dari pemberian ORS dan madu terhadap tingkat diare, serta mempertahankan lingkungan yang tenang dan nyaman
Implementasi hari ketiga pada tanggal 25 februari 2021 pukul 08.30 WIB yaitu menganjurkan memperbanyak asupan oral (ORS dan madu) mengkolaborasikan pemberian cairan iv hipertonis, mengajarkan keluarga teknik pemberian dan peracikan cairan oral rehydartion salt dan madu agar terapi dapat diteruskan dirumah. Untuk takaran pemberian terapi ORS dan madu ini sebanyak 200 ml untuk larutan garam untuk penganti natrium serta kalium yang hilang dan ditambahkan 5 ml madu untuk pengganti glukosa yang hilang, pada hari ketiga ini pasien mengalami diare sebanyak 3 kali dalam sehari untuk pemberian ORS dan madu sebanyak 2 gelas shift dipagi hari, dan 1 gelas siang dan malam dilanjutkan oleh keluarga. Kemudian penulis melakukan penelitian akhir dengan memerika kembali tanda – tanda vital pasien dan didapatkan hasil dehidrasi menurun, tekanan darah 130/80 mmHg, membran mukosa lembab, mata cekung membaik, serta turgor kulit kembali dalam 2 detik. Dari hasil tersebut dapat diambil keputusan tingkat dehidrasi pada pasien sudah menurun.
4.3.5 EVALUASI KEPERAWATAN
Pada evaluasi hari pertama 23 februari 2021, masalah hipovolemi berhubungan dengan kehilangan cairan aktif pada pasien belum
teratasi karena dari evaluasi didapatkan respon subyektif pasien yaitu pasien mengatakan mual dan muntah ketika makan dan minum, sedangkan untuk respon obyektif pasien nadi 107x/menit, nadi teraba lemah, tekanan darah 126/79 mmHg, turgor kulit buruk (dehidrasi sedang), membran mukosa kering, mata cekung. Dengan melanjutkan intervensi monitor intake dan output cairan, memberikan cairan oral (ORS dan madu)
Pada evaluasi hari kedua tanggal 24 februari 2021, masalah hipovolemi berhubungan dengan kehilangan cairan aktif pada pasien belum teratasi, dengan respon subyektif pasien yaitu pasien mengatakan masih sedikit merasa mual dan mutah tetapi sudah berkurang, dan respon obyektifnya pasien nadi 88x/menit, tekanan darah 107/98 mmHg, turgor membaik, membran mukosa lembab, mata cekung berkurang. Dengan melanjutkan intervensi menganjurkan memperbanyak asupan oral, mengkolaborasi pemberian cairan iv.
Pada evaluasi hari ketiga pada tanggal 25 februari 2021 masalah hipovolemi berhubungan dengan kehilangan cairan aktif pada pasien sudah teratasi, dengan didapatkan respon subyektif yaitu pasien mengatakan mual muntah pasien sudah berkurang. Respon obyektifnya pasien nadi 80x/menit, tekanan darah 130/0 mmHg, turgor elastis, membran mukosa lembab, mata cekung berkurang,
maka didapakan hasil penurunan pada tingkat dehidrasi yang dialami pasien.
4.4 PEMBAHASAN
Hasil studi kasus tentang keseimbangan cairan pada pasien diare diperoleh hasil adanya penurunan tingkat dehidrasi anata sebelum dan sesudah pemberian terapi pemberian oral rehydration salt dan madu. Setelah pemberian terapi ORS dan madu mulai hari pertama sampai hari ketiga tingkat dehidrasi yang dialami pasien mengalami penurunan, yang awalnya tingkat dehidrasi sedang turun menjadi tanpa dehidrasi.
4.4.1 pengkajian
Pengkajian keperawatan tahap awal dari proses keperawatan sistematis dalam pengumpulan data dari erbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien. Pengkajian yang lengkap, dan sistematis sesuai dengan fakta atau kondisi klien yang ada pada klien sangat penting untuk merumuskan suatu diagnosa keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai respon individu (Budiono, 2016)
Setelah dilakukan pengkajian pada pasien diare yang mengalami hipovolemia. Penulis telah melakukan pengkajian dan didapatkan hasil data subyektif yaitu pasien Tn.S mengatakan muntah dan mual ketika makan dan minum, pasien mengatakan lemas. Kemudian dari data obyektifnya turgor kulit pasien tidak elastis, volume urine menurun 500 ml/24 jam, hematokrit meningkat 51,5 %, membran
mukosa kering, nadi teraba lemah, nadi 107x/menit, tekanan darah 126/79 mmHg dengan kategori dehidrasi sedang.
Menurut PPNI (2016) Standar diagnosa keperawatan indonesia.
Definisi dan indikator diagnostik (SDKI) sesuai dengan karakteristik hipovolemi (D.0023) yaitu data subjektif (tidak ada), dan data objektif yaitu frekuensi nadi meningkat, nadi teraba lemah, tekanan darah menurun, tekanan nadi menyempit, turgor kulit menurun, membran mukosa kering, volume urin menurun, hematokrit meningkat.
Dapat disimpulkan bahwa tidak ada kesenjangan antara teori dan kenyataan yang terjafi pada tanda dan gejala diagnosisi keperawatan hipovolemi yang dialami pasien diare dengan hipovolemi. Sering kali dalam diare akut timbul berbagai penyulit, seperti dehidrasi dengan segala akibatnya, gangguan keseimbangan elektrolit, peningkatan volume cairan intravaskular (hipovolemi), dan gangguan keseimbangan asam-basa. Penyulit tersebut akan mengakibatkan pasien yang menderita diare meninggal (Dewi, dkk 2011).
4.4.2 diagnosa keperawatan
berdasarkan hasil pengkajian dan observasi penulis mengangkat diagnosis hipovolemi berhubungan dengan kehilangan cairan aktif yang ditandai dengan frekuensi nadi meningkat, nadi teraba lemah, tekanan darah menurun, tekanan nadi menyempit, turgor kulit menurun, membran mukosa kering, volume urin menurun, hematokrit meningkat. (D.0023) sebagai fokus diagnosis. Diagnosis tersebut
termasuk dalam prioritas diagnosis yang pertama karena mengacu pada teori Hierarki Maslow (2013) yang mengemukakan prioritas pertama fisiologi (oksigenasi, cairan dan elektrolit, nutrisi, integritas kulit dan penyembuhan luka, psikososial, penyakit terminal, dan menjelang ajal), rasa aman dan nyaman, kasih sayang, penghargaan, dan aktualisasi diri. Sehingga diagnosis diare dengan hipovolemi termasuk kedalam kategori kebutuhan fisiologi dalam pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit.
Penulis mengangkat diagnosis hipovolemi berhubungan dengan kehilangan cairan aktif didukung dengan data subyektif yaitu pasien Tn.S mengatakan muntah dan mual ketika makan dan minum, pasien mengatakan lemas. Kemudian dari data obyektifnya turgor kulit pasien tidak elastis, volume urine menurun 500 ml/24 jam, hematokrit meningkat 51,5 %, membran mukosa kering, nadi teraba lemah, nadi 107x/menit, RR, tekanan darah 126/79 mmHg, termasuk kategori dehidrasi sedang.
Dari data tersebut muncul masalah keperawatan hipovolemi berhubungan dengan kehilangan cairan aktif. Diagnosa yang muncul pada pasien sesuai dengan batasan karakteristik hipovolemi (D.0023) menurut standar diagnosis keperawatan indonesia (SDKI) 2018 yaitu:
frekuensi nadi meningkat, nadi teraba lemah, tekanan darah menurun, tekanan nadi menyempit, turgor kulit menurun, membran mukosa kering, volume urin menurun, hematokrit meningkat.
Pasien dengan diare yang akut dan tidak segera diobati, biasanya meninggal bukan karena infeksi tetapi karena kehilangan cairan dan elektolit yang sangat banyak (misalnya, sodium, potassium, kalium, basa). Kehilangan cairan secara mendadak dan berleihan dapat mengakibatkan terjadinya syok hipovolemik yang cepat. Kehilangan elektrolit melalui feses potensial mengarah ke hipokalemia dan asidosis metabolik. Pada kasus-kasus yang terlambat meminta pertolongan medis dapat mengakibatkan syok hipovolemik yang terjadi sudah tidak dapat diatasi lagi sehingga menimbulkan komplikasi lain yakni Tubular Nekrosis Akut pada ginjal yang selanjutnya terjadi gagal multi organ (Irianto Koes, 2014). Sehingga untuk penanganan pertama pada pasien dengan diare akut dapat diberikan terapi non farmakologi berupa terapi oral rehydration salt dan madu.
4.4.3 intervensi keperawatan
Setelah pengakkan diagnosis hipovolemi berhubungan dengan kehilangan cairan aktif. Kemudian masuk dalam penyusunan intervensi sesuai dengan teori yang telah disebutkan bahwa intervensi keperawatan diusun dengan SLKI dan SIKI
Tindakan keperawatan dilakukan selama 3x24 jam diharapkan hipovolemi berhubungan dengan kehilangan cairan aktif dapat teratasi dengan kriteria hasil SLKI yaitu keseimbangan cairan (L.05020) : dehidrasi menurun, tekanan darah membaik 120/80 mmHg, denyut
nadi radial membaik, membran mukosa membaik, mata cekung membaik, turgor kulit membaik, asupan cairan meningkat.
Setelah menentukan tujuan dan kriteria hasil yang diharapkan berdsarkan SLKI, kemudian menyusun langkah-langkah tindakan intervensi keperawatan berdasarkan SIKI yaitu manajemen hipovolemi (I.03116) : periksa tanda geala hipovolemi, monitor intake output cairan, hitung kebutuhan cairan, berikan asupan cairan oral (terapi oral rehydration salt dan madu), anjurkan memperbanyak asupan cairan oral, kolaborasi pemberian cairan IV isotonis, dan kolaborasi pemberian cairan IV hipotonis. Pemberian cairan oral berupa ORS dan madu diberikan ketika pasien usai buang air besar.
Intervensi yang disusun telah disesuaikan dengan SIKI (Standar Intervensi Keperawata Indonesia) dengan metode OTEK (Observasi, Terapeutik, Edukasi, Kolaborasi) tujuan dan kriteria hasil disusun berdasarkan SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) dengan memenuhi kriteria SMART (Spesific, Measurable, Achievable, Reasonable, Time).
4.4.4 implementasi keperawatan
Pada fokus diagnosis keperawatan yaitu hipovolemi, penulis melakukan tindakan untuk menurunkan dehidrasi pada tanggal 23-25 Februari 2021 dengan memonitor secara berkala untuk memastikan dehidrasi menurun, tekanan darah membaik 120/80 mmHg, denyut nadi radial membaik, membran mukosa membaik, mata cekung
membaik, turgor kulit membaik, asupan cairan meningkat. Intervensi keperawatan yang berfokus pada pemberian terapi ORS dan madu, sebelum tindakan dilakukan penulis melakukan pengukuran tingkat dehidrasi dengan cara melihat tanda klinis untuk mengetahui tingkat dehidrasi pasien, kemudian menjelaskan prosedur terapi ORS dan madu yang akan dilakukan. Setelah terapi ORS dan madu dilakukan perawat mengevaluasi tanda klinis pasien untuk mengetahui setlah dilakukannya tindakan.
Untuk mencegah terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai dari rumah tangga dengan memberikan ORS osmolaritas rendah, dan bila tidak tersedia berikan cairan rumah tangga seperti air tajin, kuah sayur,air matang. Oralit saat ini yang beredar di pasaran sudah oralit yang baru dengan osmolaritas yang rendah, yang dapat mengurangi rasa mual dan muntah. Oralit merupakan cairan yang terbaik bagi penderita diare untuk mengganti cairan yang hilang. Bila penderita tidak bisa minum harus segera di bawa ke sarana kesehatan untuk mendapat pertolongan cairan melalui infus. Pemberian oralit didasarkan pada derajat dehidrasi (Kemenkes RI, 2011).
Pemberian ORS dan madu yang dilakukan oleh penulis implementasi hari pertama pada tanggal 23 februari 2021 mulai pukul 10.00 WIB yaitu memeriksa tanda dan gejala hipovolemi, menghitung kebutuhan cairan, memberikan terapi oral rehydration salt dan madu, dan memberikan kolaborasi cairan iv isotonis. Mengkaji kembali
respons pasien terhadap pemberian ORS dan madu yang telah diberikan kepada pasien. Terapi ORS dan madu ini diberikan setiap kali pasien mengalami BAB, untuk takaran pemberian terapi ORS dan madu ini sebanyak 200 ml untuk larutan garam untuk dpenganti natrium serta kalium yang hilang dan ditambahkan 5 ml madu untuk pengganti glukosa yang hilang, pada hari pertama ini pasien mengalami diare sebanyak 10 kali untuk pemberian ORS dan madu sebanyak 5 gelas dalam 1 shift dipagi hari untuk siang dan malam dilanjutkan oleh keluarga. Penulis melakukan pengkajian fisik awal pada pasien memeriksa tingkat dehidrasi dan didapatkan turgor kulit kurang dari 2 detik, tekanan darah rendah 126/79 mmHg, mukosa bibir kering, mata cekung. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami dehidrasi ringan – sedang.
Implementasi hari kedua pada tanggal 24 februari 2021 pukul 10.00 WIB yaitu memonitor intake output cairan, memberikan cairan oral ( Oral Rehydration Salt dan madu) untuk takaran pemberian terapi ORS dan madu ini sebanyak 200 ml untuk larutan garam untuk penganti natrium serta kalium yang hilang dan ditambahkan 5 ml madu untuk pengganti glukosa yang hilang, pada hari kedua pasien mengalami diare sebanyak 6 kali dalam sehari untuk terapi ORS dan madu diberikan sebanyak 3 gelas saat shift pagi dan 3 gelas ketika siang-sore dilanjutkan oleh keluarga, mengkaji kembali respon pasien